Rabu, 02 Desember 2020

 Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Saatnya berpisah

 

                Detik demi detik terus berlari, menit berlalu, hari pun terus berganti. Waktu seolah tak mau berhenti, terus melaju entah apa yang diburu. Perjuangan para siswa di akhir kelas tiga kini tiba ke ujungnya. Setelah sekian lama berjibaku dengan soal dan ujian, kini saatnya lelah mereka terbayar dengan capaian – capaian yang memuaskan.

                Usai perpisahan sekolah, kelas Ama menggelar acara perpisahan kelas di sebuah villa yang terletak di bilangan puncak, Jawa Barat. Enggan Ama menghadiri acara itu namun ia tidak bisa menolak saat Angel, teman sebangkunya menuliskan namanya di daftar peserta.

“Ada, Ahmad, Arif dkk ko, Ama. Mereka kan anak ROHIS, jadi amanlah acara kita nanti”, bujuk Angel saat Ama mengatakan keengganannya.

Ama hanya mampu tersenyum. Rasanya tidak mungkin ia mendebat Angel.

Akhwat yang bisa ikut tuh aku aja sendiri. Ntar di sana ngapain ? Ngobrol sama siapa ? sedangkan Ahmad saat perpisahan sekolah kemarin juga terlihat acuh, sibuk dengan teman – teman seperjuangannya memburu kampus yang sama. Arif ? Dah sejak lepas OSIS kami hampir ga pernah komunikasi. Meskipun sekelas tapi kami terasa sangat jauh. Amal yang biasanya lumayan berisik juga jadi sepi, seperinya fokus dengan rencana kuliah. Apalagi Ismoyo yang super duper cool. Aku akan sendiri di sana, Cuma melihat keramaian tapi tidak hadir di dalamnya. Ah, pasti akan sangat menyebalkan.

 Ama merapikan mejanya, bersiap untuk segera pulang. Ada selembar kertas terselip di mejanya. Kertas dengan warna merah muda yang manis, berhias pita merah yang tampak memesona. Dengan ragu ia mengambilnya lalu membuka kertas itu dan membaca pesan di dalamnya.

Bismillah.

Ama, selamat ya atas prestasi anti.

Afwan ana ga bisa kasih hadiah selain doa, semoga kelak saat kuliah nanti anti bisa terus meraih prestasi gemilang. Doakan ana agar bisa sukses juga. Lancar kuliahnya dan seterusnya hingga ana bisa cepat siap memantaskan diri dan kita bisa merajut kisah seindah cerita cinta Fatimah dan Ali.

Arif.

Pertemuan Kita Di Suatu Hari

Menitiskan Ukhwah Yang Sejati

Bersyukurku Ke Hadrat Ilahi

Di Atas Jalinan Yang Suci

 

Namun Kini Perpisahan Yang Terjadi

Dugaan Yang Menimpa DiriB

ersabarlah Di Atas Suratan

Ku Tetap Pergi Jua


Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku

Dalam Doa Kudusku Sepanjang Waktu

Ya Allah Bantulah Hamba Mu


Mencari Hidayah Daripada Mu

Dalam Mendidikkan Kesabaranku

Ya Allah Tabahkan Hati Hamba Mu

Di Atas Perpisahan Ini


"Teman Betapa Pilunya Hati Menghadapi Perpisahan Ini.Pahit Manis Perjuangan Telah Kita Rasa Bersama. SemogaAllah Meredhai Persahabatan Dan Perpisahan Ini. TeruskanPerjuangan"


Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku

Dalam Doa Kudusku Sepanjang Waktu

Ya Allah Bantulah HambaMu


Senyuman Yang Tersirat Di Bibirmu

Menjadi Ingatan Setiap Waktu

Tanda Kemesraan Bersimpul Padu

Kenangku Di Dalam Doamu

Semoga Tuhan Berkatimu

 

Doa perpisahan - Brother

 

Bibir Ama melengkung ke atas usai membaca pesan. Seulas senyum terukir di bibirnya. Ama hanyut dalam rasa hingga tak sadar ada Ahmad yang berdiri tepat di hadapannya.

“Ciyee, ada yang lagi hepi kayanya nih.”

“Ish Ahmad, apaan sih ?” Ama berusaha menyembunyikan semu merah di pipinya.

“Ma, congrats ya. Ga sia – sia ya, jutek sepanjang tahun demi prestasi yang T.O.P.B.G.T.”

“Iya, makasih Ahmad. Kamu juga keren prestasinya, barokallohulakum. Emang aku jutek ya?”

“Nggak ko, kamu baik dan ramah seperti namamu. Ya ampun Ama. Loe tuh ga sadar diri banget. Loe bener – bener berubah setahun ini. Jadi lebih diem. Galak sih nggak, Cuma dingin aja, gue jadi bingung, takut ada salah sama loe.”

“Masa iya ?”

                Bukankah mereka yang berubah ? Ahmad seolah menjauh tak seperti biasa, rajin menyapa dan sesekali menelpon ke rumah. Arif juga setelah lengser seolah tanpa kata. Teman – temanakhwat juga tak seceria biasanya. Hufft, ini sebenarnya siapa yang berubah sih, mereka atau aku ? Hmmm, apa karena perjanjian dengan ka Rio aku jadi berubah ya? Entahlah. Ama.

“Udah deh, Ama, yang penting sekarang loe dah balik normal, hehehe. So, kita bakalan jarang ketemu nih. Jadi sedih, hiks.”

“Ahmad, behave ...”

“Hehehehe, iya iya Ama. Mumpung kamu lagi hepi. Trus kamu jadi ngampus di mana ?”

“As you know, Jakarta. Ke Depok aja ga ada izin.”

“Yang terbaiklah pokoknya. Eh, Ma, hmmm ...” Ahmad menggaruk kepalanya yang kini terlihat plontos.

“Apa?”

“Anu?

“Apa?”

“BFF kan?”

“Ahmad, kamu kenapa sih ?”

“You and me, BFF right ?”

“Yes, insya Allah ...”

“Alhamdulillah. Aku padamu, Ma.”

“What ?”

“Nothing. Just kidding.”

“Well, okay. Dah ya, aku mau pulang.”

“Ikut ga? Sekalian bareng sama anak – anak, mumpung aku bawa roda empat.”

“Ga ah, makasih. Sungkan aku sama mereka.”

“Berarti kalo nggak sama mereka mau, dong ?”

“Ya nggaklah, malah parah berduaan. Ingat ...”

“Yang ketiganya setan, hehehe.”

“Nah, tuh tahu. Ya udah, hati – hati Ahmad. Terima kasih untuk semuanya. You’re my best friend.”

“Okay, you too, see you in pelaminan, eh.”

“Dasar Ahmad”

Masih dengan senyum yang menghias wajah, Ama melangkahkan kaki untuk segera menuju rumah. Hari yang sangat membahagiakan sekaligus menyelipkan rasa sedih di hatinya. Hari ini, terakhir ia bersama dengan teman putih abu. Semua canda, tawa, suka dan duka berakhir di sini. Sekarang semua hanya tinggal kenangan. Selanjutnya mereka akan bersiap menapaki masa depan.

Lambat Ama mengayunkan langkah, seolah enggan mengakhiri semuanya. Disusurinya setiap jengkal sekolah dengan perasaan yang entahlah. Ditatapnya mushola yang bercerita banyak tentang dirinya, ketoprak yang pasti akan selalu dirindunya. Mata Ama kian terasa menghangat, butiran air seolah mendesak untuk merangsek keluar dari dua bola matanya yang indah. Sekretariat ROHIS, saksi bisu derai air mata para akhwat seperjuangan. Ruang OSIS, ah ... oksigen terasa kian menipis. Semua rasa menyesakkan dada. Semua kenangan berloncatan memenuhi pikiran. Duhai Allah, gedung ini seolah menawanku untuk terus berada di sini. Dear sekolah, terima kasih atas kebersamaan yang indah. Dear all, aku pergi.

Saat tiba di rumah Ama menemukan bucket bunga berdampingan dengan sebuah boneka dengan sekotak coklat tergeletak di meja kamarnya.

“Itu tadi ada kurir yang antar, dari pengagum rahasia Ama katanya. Siapa sih, Ma? Sejak kapan kamu punya pengagum rahasia ?” ibu menjelaskan saat Ama menanyakan perihal barang asing di kamarnya.

                Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Ama segera menuju kamar dan meraih kartu ucapan yang melekat di bucket.

Dear calon istri, selamat ya atas kelulusannya. Selamat menempuh status baru sebagai istriku, eh sebagai calon mahasiswa.

Yang selalu merindumu,

Rio*

Dear diary, Alhamdulilah hari ini aku resmi jadi pengangguran, eh pejuang PTN deng, hehehe. Alhamdulillah prestasiku juga membanggakan, mudahan aku bisa diterima di PTN kelak. Hari ini sangat berwarna, Di .. rame rasanya kaya nano – nano. Di, ternyata sedih ya ga jadi anak SMA lagi. Dulu waktu lulus SMP rasanya seneng banget, kenapa sekarang ko ada rasa ga rela gitu ya ?

                O iya, Di. You know what ? banyak yang nembak aku hari ini. Ada yang langsung, ada yang serius ada juga yang sok becanda. And you know ? yang ga aku sangka itu si Arif, ya ampun aku beneran ga nyangka. So sweet banget. Di, aku hepi tapi sekaligus sedih, aku ... ah, entahlah.

Alhamdulillah, terima kasih Allah atas segala karuniaMU hari ini. Bye Di, bentar lagi kita ngampussss.

 

*tbc*