Kamis, 30 September 2010

KEPADA SUAMIKU


Bait ini coba aku tulis untuk
kemudian ku biarkan dia
kan membacanya

Bait ini adalah tentang suara
nan hingar dalam nuansa jiwa
tentang sebuah penerimaan jua
harapan atas dia

Dia adalah suamiku yang telah
meminang dengan Hamdalah
bersama tuntunan rahmah

Dia adalah suamiku yang telah
bersaksi dengan nama Illah
dengan wali Rasululloh tercinta
dengan persaksian para malaikatNYA

Dialah suamiku,
yang pertama kali menghampiri diri seraya berkata
semoga Allah memberkahi pertemuan kita

Dialah suami yang slalu siap sedia
membuka dada
Gar dapat berlabuh ini jiwa

Dialah suami yang telah dan selalu
membimbing diri dalam
menata laku jua kalbu

Dia – lah suami yang begitu sabar
menuntun dalam perjalanan
begitu peka dalam memberi nasihat
dalam mengarungi bahtera kehidupan

Dia suami yang akan selalu
aku cinta dan hormati
atas izin Illahi Robbi

Dia suamiku,
yang pandai memuji payah diri meski tak seberapa
Dia juga suamiku,
yang kan marah bila aku mengkhianati diri dan Tuhannya

Dia, suamiku yang slalu bersama
menapaki jalan para syuhada
Dalam rajutan cinta penuh nuansa
tuju cinta hakiki penguasa alam raya

Yaah … dia adalah suamiku
yang menerima aku apa adanya
karena memang aku
begini adanya

Ku katakan padamu duhai suamiku
Betapa hati ini penuh rindu jua malu akan – mu
Dan kini ku tanyakan padamu
tentang rasa hati atas diriku.

(mengenang 9 tahun pernikahanku … Syawal 1422 – Syawal 1431)

Senin, 27 September 2010

BINTANG KECIL


Raja seminar, itulah julukan yang diberikan suamiku. Awal mendapat julukan ini aku merasa biasa dan tidak terlalu menghiraukannya. Tapi, kata – kata suamiku semalam, membuat aku jadi berfikir tentang julukan itu.

“Buat apa keluar – masuk ruang seminar. Tentang anak, tentang pendidikan … Apa hasilnya ? Kamu lihat tuh tiga anak kita. Coba fikirkan dan beritahu aku apa yang bisa aku banggakan dari mereka.”

Sebagai seorang ibu, aku merasa terhina dengan pernyataan dan pertanyaan suamiku. Sejenak aku larut dalam rasa sedih dan sakit dalam dada. Namun sesaat kemudian aku coba tuk memikirkan perkataan suami yang aku hormati itu. Perlahan ku hadirkan satu per satu wajah anak – anakku.

Rissa, sulungku yang sangat mandiri. Sudah bisa melakukan ini dan itu, bahkan di usia 5 tahun ia sudah bisa melakukan istinja sendiri setelah buang air besar. Tidak ada yang membuatku khawatir tentangnya, kecuali kecenderungannya untuk bersikap tidak jujur. Rafli, anak tengah yang lahir prematur. Walau berat badan lahirnya hanya 2 kg, Rafli tumbuh dengan wajar dan sehat. Hanya saja ia terlalu aktif dan usil sehingga tidak sedikit orang tua teman sekelasnya juga para tetangga yang komplain pada kami, orang tuanya. Lalu Rifa, anak bungsuku yang sangat pemalu.

Aku merasa tidak ada yang salah pada anak – anakku. Mereka hanya memerlukan perhatian yang berbeda dari aku ibunya juga dari ayahnya. Karena itu aku memerlukan banyak informasi dan pengetahuan. Karena itu aku banyak memburu seminar – seminar tentang anak dan pendidikan. Karena rasa sayang dan cinta yang besar pada anak – anakku, ku tinggalkan dunia kerja yang begitu mempesona sekaligus menyita sebagian besar hariku. Aku tidak menyalahkan anak – anakku, karena memang demikian adanya. Aku menerima mereka dengan bahagia, sebahagia aku menerima pinangan suamiku, waktu dulu.

Hanya saja suamiku tidak pernah tahu. Ia masih beranggapan bahwa tugasnya sebagai seorang suami adalah menafkahi keluarga. Hanya itu, selebihnya adalah tanggung jawab aku sebagai ibu. Sungguh pemahaman yang keliru, menurutku.

Andai ia mau mengikuti satu saja seminar yang aku tawarkan, atau paling tidak membaca satu buku yang aku beli dan koleksi. Tantangan terbesarku bukan hanya anak – anakku, tapi juga suamiku.

“Ma, pagi – pagi dah murung. Semangat dong.” Tiba – tiba suamiku datang dan membuyarkan semua lamunanku. Sepertinya dia sudah melupakan ucapannya semalam tentang anak – anak kami. Padahal … aku masih berusaha menata hati karena kata – katanya semalam.

“Hayo melamun lagi ...”

Terpaksa ku lempar senyum padanya. Semoga manis.

“ Mas ganggu aja, dah sarapan belum ?” Segera ku alihkan perhatiannya agar tak sempat ia bertanya tentang apa yang sedang ku lamunkan.

“Sudah, Alhamdulillah. Mau berangkat pagi ni. Ada janji sama klien.” ujar suamiku seraya merapihkan dasi yang baru selesai ku pasang.

“OK, ada lagi yang perlu disiapkan, Mas ?”

“Hmm...cukup. Do'akan aku ya … “

“Selalu, Mas”

Ya, aku selalu mendo'akan dirimu untuk lebih mau terlibat dalam mengasuh anak – anak kita. Agar aku tidak mengayuh sendiri. Agar …

“Aku berangkat. Assalamu'alaikum ...” Sebuah kecupan hangat mendarat di keningku.

Ku lepas suamiku dengan seulas senyum, termanis yang sanggup ku hadirkan saat itu. Ku tatap hingga jip hitam itu hilang dari pandanganku.

“Wa'alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh … Tuhan lindungi suamiku dari tipu daya setan serta dunia dan segala isinya ...”

Tiga bintang kecilku masih terlelap … lepas Shubuh mereka tidur lagi, mungkin lelah karena semalam mereka tidur cukup larut. Menunggu papa, kata mereka.

“ Aku mau menunjukkan gambar yang aku buat di sekolah … aku mau papa melihat gambarku. “ Kata Rissa sulungku yang kini sudah kelas 4. Di sekolah ada tugas membuat karya bertema “My Family”. Rissa sangat menyukai gambar yang ia buat karena mendapat nilai tertinggi di kelasnya.

“ Mba, kakak juga mau ikut menunggu papa sambil nonton kartun.” Rafli menimpali sambil membongkar puzzle yang baru saja ku belikan.

“Mah, ade juga mau nunggu papa ya. Ade kan sayang sama papa.”

Ku pandangi wajah mereka satu per satu. Aku bisa merasakan betapa mereka menyayangi papa mereka. Aku juga tahu betapa mereka sangat rindu akan papanya. Aku jadi merasa iba pada mereka. Sedikit sekali kesempatan yang mereka punya untuk bisa bersama – sama dengan orang yang mereka sayangi, papa.

Duhai Rabb, anugerahkalah ilmu kepadaku sehingga aku bisa memahami anak – anakku. Karuniakanlah kelembutan pada suamiku, agar ia mampu menangkap kerinduan anak – anak kami. Rizkikanlah waktu kepada kami agar bisa menikmati kebersamaan dalam indahnya cintaMU.

UQ, 23 Februari 2010

Kamis, 23 September 2010

Sebentuk Cinta


Dear diary, hari ini aku pakai baju pink … seperti hatiku yang juga begitu. Terasa begitu manis dan romantis,

Adalah sebentuk cinta

lama tersimpan dalam dada

Hanya sebentuk cinta

di tinggal sang empunya

Kini hadir kembali ia

menyapa dengan sebentuk cinta.

Di, kenapa ya mesti hadir kembali rasa cinta ini ? Kenapa sih mas Pram mesti kembali hadir dalam hidup aku, padahal aku sudah berusaha menjauh.

Kamu tahu mas Pram khan?

Itu loh … kakak kelasku saat kuliah dulu. Cowok paling tenar seantero kampus. Cowok yang baik banget dan perhatian sama aku.

Karena perhatian dan kasih sayang yang ia berikan, aku sempat berfikir bahwa ia akan menjadi suamiku .. Ge Er ??

Kasihan ya aku. Ternyata mas Pram menikah dengan wanita yang jauh lebih sempurna dari aku yang cuma gadis ndeso.

Sakit hati ?? Ya, ndak lah … Aku berbahagia karena mas Pram ku dapat wanita yang memang layak menjadi pendampingnya. Aku aja yang ke – Ge Er – an, he … he …

Lepas kuliah, aku tinggalkan Yogya juga kenangan ku bersama mas Pram. Aku khawatir akan perasaanku. Aku khawatir tak sanggup melihat kebahagiaan mas Pram ku. Dengan restu orang tuaku, ku tinggalkan Yogya menuju hiruk pikuk kota Jakarta.

Kini, lima tahun berlalu. Hidup seorang diri di kota ini membuat aku mampu tuk melupakan perasaan ku pada mas Pram, sebuah kisah ironi. Bagai pungguk merindukan bulan. Aku yang masih sendiri ( bukan karena mas Pram loh ), kini bisa di bilang mapan. Pekerjaan cukup menyenangkan, tinggal melanjutkan langkah selanjutnya. Amanah ibu dan bapakku … menikah, Di.

Semua tampak lancar, sampai sebulan lalu ada informasi bahwa ada mutasi di lingkup manajemen perusahaan, atasanku dipindah dan akan digantikan dengan orang baru. EGP, emang gue pikirin … yang penting kerja sesuai prosedur peduli amat siapa atasanku.

Ternyata, tidak begitu adanya. Kamu tahu siapa atasan baru ku ?

Seseorang dari masa lalu ku. Mas Pram. Betul, mas Pram atasan baruku. Aduh, Di …. ternyata selama ini aku bekerja di perusahaan yang sama. Hanya saja beda kota. Astaghfirulloh.

Saat aku tahu kalau mas Pram akan jadi atasanku, aku tekadkan dalam hati bahwa tidak akan terjadi apa – apa dengan hatiku. Perasaan yang dulu ada telah tertutup rapat dan tidak akan ku buka lagi. Apalagi aku harus konsentrasi dengan proses ta'arufku. Uups, aku belum kasih tahu kamu ya, Di. Ada balasan proposalku. Kata mba Diana proses bisa dilanjutkan. Pekan depan aku mau ta'arufan, .. good news khan Di ?

Dua pekan lalu, atasan baruku tiba. Mas Pram masih seperti dulu. Penuh kharisma. Aku bersama karyawan lain ikut dalam acara lepas sambut pimpinan baru kami. Acara berlangsung formal, Alhamdulillah ga terjadi apa – apa, Di … Aku ga deg – degan ketemu sama mas Pram, biasa aja.

Eit, tapi tunggu dulu. Usai acara berlangsung, setelah Kami kembali beraktivitas tiba – tiba line telepon di mejaku berbunyi. Dari mas Pram. Aku diminta menghadap ke ruangannya. Pastinya aku harus segera menghadap.

“ Assalamu'alaikum

“ Wa'alaikum salam. Ayu silakan masuk. Duduk Yu. “

Ayu ? Atasan ku yang dulu selalu memanggil kami dengan ibu atau bapak, kenapa beliau panggil aku Ayu ? Khan seharusnya bu Ayu. Tau deh,

“ Iya, Pak. “ Ku jawab seraya menuju tempat duduk yang ditunjuk mas Pram.

“Yu, kamu tampak makin anggun aja.” mas Pram mengawali pembicaraan.

Haa ? Ngga salah denger nih ? Duh, Alloh kuatkan hamba. Jangan biarkan hamba terbawa rasa.

“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu ? Saya masih banyak pekerjaan.” Sekuat hati ku abaikan komentar mas Pram.

“Yu, Yu … kamu kok formal banget sih ? Lupa toh sama aku, mas Pram mu ?”

“ Nda, Pak. Saya … “

Begitulah. Kami bicara panjang lebar. Awalnya tentang pekerjaan. Lalu keluarga mas Pram. Ia telah punya 2 orang balita. Mba Dewi, istrinya, kini tengah hamil tua jadi tidak diajak pindah sampai melahirkan nanti.

“ Yu, kamu ndak usah rikuh gitu sama mas mu. Kalau ada apa – apa kasih tahu aku. Ini nomor PIN BlackBerry aku, kamu add ya … Sudah sekarang kamu boleh kembali ke mejamu. “

“Iya, Pak.” Aku terima begitu saja perintah atasanku itu.

Aduh, Di … sebel .. sebel .. sebeeel ..

Laki – laki tuh memang gitu kali ya. So' care … Ndak mikir apa kalau sikap mereka tuh bisa mengundang aneka rasa. Astaghfirullahal 'azhiim. Ya Allah, bantu hamba untuk bisa menahan rasa itu.

***

Wah, Di … lusa mau ta'arufan, di rumah mba Diana. Aduh... jadi gugup nich. Mau tanya apa aja ya ???

Trus kira – kira dia mau tanya apa sama aku ya ???

Penasaran deh.. Tapi hari ini aku harus minta izin sama mas Pram, agar lusa bisa pulang cepat karena mau langsung ke ruman mba Diana. Moga lancar. Bismillah.

***

“Waduh Yu … sepertinya lusa kamu ndak bisa izin pulang lebih cepat. Lusa akan ada tamu dari rekanan kita untuk membahas capaian target proyek kerjasama kita. Kemungkinan akan sampai sore sekitar pukul 18.00” mas Pram menjelaskan.

Ya Allah … jam 6 sore ??? Perjalanan dari kantor ke rumah mba perlu waktu 2 jam. Aku mau ta'aruf jam 18.30. Pliz dech.

“ Mmh ... tapi Pak semua laporan perkembangan proyek kan sudah selesai saya buat dan sudah Bapak tandatangani. Artinya tanggung jawab saya sudah terpenuhi, Pak. Tentang menemani tamu kan bukan kewajiban saya, Pak. Apalagi asisten Bapak dalam proyek ini kan Pak Akbar. Tolong, Pak … kalau tidak penting saya tidak akan minta izin.” Aku mencoba berargumen.

“ Ya, saya tahu itu. Tapi saya ingin kamu yang menemani saya. Saya harap acara penting kamu bisa menyesuaikan. Oh, ya memang acara apa sih ?” mas Pram bertanya.

Astaghfirullah... kenapa harus aku ???

“Begini Pak … ini semua tentang masa depan saya. Mmmh … Saya akan .. Saya mau bertemu ... saya ...” Ragu untuk meneruskan.

“Apa Yu ?”

“Mmh … saya mau ta'aruf Pak” Jawabku tertunduk malu.

Sejenak suasana menjadi hening. Ku lihat dari sudut mataku sosok mas Pram terpaku di balik meja besarnya, menatapku. Ia menarik nafas panjang kemudian berkata :

“Yu … jadi kamu mau ta'aruf ya ? Kalau begitu baiklah kamu saya izinkan.”

“Terima kasih, Pak ….” Ucapku seraya menatap tak percaya.

Mas Pram tersenyum,

“Senang melihat binar itu di matamu, Yu...”, katanya.

Di, aku tambah deg degan nich, Ga nafsu makan. Rasanya ingin segera esok datang. Tunggu ya, Di … ada message.

Asslamu'alaikum Ayu … sedang apa ? Pasti lagi deg – degan untuk acara besok ya ?

Mas Pram … ngapain lagi nih orang. Ndak jelas. Ya iyalah deg – degan, kaya ndak pernah ngalamin aja.

Wa'alaikum salam Pak. Iya nih deg – degan. Do'akan saya ya Pak … moga semua lancar dan saya bisa mendapatkan pasangan hidup saya untuk menjalankan biduk rumah tangga seperti mas Pram dan mba Dewi.

Ayu … saya senang dengan kebahagiaan kamu. Tapi Ayu, tiba – tiba saya merasa sedih karena saya merasa akan kehilangan kamu. Saya …

Sebenarnya sejak dulu saya menginginkan kamu jadi pendamping hidup saya, tapi takdir menentukan lain. Saya … ah, sudahlah. Selamat bersiap menjelang bahagiamu, Ayu. Aku kan slalu mendo'akanmu. Di dalam hatiku kan slalu ada tempat untukmu, Ayu..

Astaghfirullah. Apa sih maksud mas Pram kirim tulisan begini ? Apakah itu berarti bahwa mas Pram memiliki perasaan yang sama denganku saat kami kuliah dulu ? Kalau memang begitu, kenapa ia lebih memilih mba Dewi bukan aku ? Kenapa harus sekarang ia mengatakannya padaku ? Kenapa ia harus menghadirkan kembali semua rasa yang dengan susah payah telah aku pendam. Jahat.

Ya, Allah … hamba mohon padaMU tuk menguatkan hamba.

Terima kasih atas segala perhatian mas Pram … Semoga kita mampu membingkai segenap rasa yang kita punya dalam cinta pada-NYA.

UQ, 23 Februari 2010

Guru, One Stop Profession

Menjadi guru adalah keseluruhan profesi bagiku. Menjadi dokter, perawat, psikolog, polisi, detektif, jaksa, pembela, hakim, manager, dan aneka profesi lain bagi murid – muridku.

Menjadi dokter atau perawat saat mendengarkan keluh sakit mereka atau membantu mereka minum obat selepas makan siang. Menjadi seorang psikolog saat mendengarkan keluh kesah dan curahan hati mereka tentang banyak hal.

Cerita tentang harapan mereka untuk bisa bermain bersama ayah dan ibu yang selalu sibuk bekerja. Keluhan tentang adik atau kakak mereka yang suka jahil. Atau kisah tentang mereka yang mulai merasa tertarik dengan teman laki – laki atau perempuan. Mencurahkan rasa galau saat bertemu pandang. Rasa rindu, rasa takut kehilangan, dan rasa – rasa yang lain. Protes mereka akan ulah iseng teman sekelas. Atau pandangan sinis teman lain kelas, bahkan cemooh dari kakak kelas. Ah, sungguh banyak yang mereka ceritakan.

Untuk memerankan seorang psikolog yang baik, aku harus bisa menata hatiku agar telinga ini tidak lelah mendengar celoteh puluhan muridku. Di tengah kesibukan mengajar di dalam kelas, di sela – sela tugas koreksi dan tumpukkan laporan penilaian lainnya aku masih harus menyediakan waktu untuk murid – muridku. Yah, untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Ada sedih dan gembira. Juga ada pilu, saat ku dengar kerinduan dari bibir mungil muridku,

“Aku sedih, bu. Saat ini ayah sedang tugas di Surabaya dan Lebaran nanti ayah akan ke pergi ke India, langsung dari Surabaya. Aku kangen sama ayah. Masa Lebaran nanti aku lewati tanpa ayah … hu..hu..hu”.

Basah hati ini. “Nak … semoga Allah memberi kekuatan padamu untuk melewati semua ini. Do'akan yang terbaik untuk ayah mu. Semoga Allah memberi yang terbaik untuk kamu sekeluarga”. Hanya itu yang mampu ku katakan seraya memeluknya erat serta menghapus bening yang membasahi wajahnya.

Dengan menjadi guru, aku bisa berperan sebagai penegak hukum. Menjadi polisi saat menginterogasi mereka yang tertangkap tangan melakukan kenakalan seperti mengambil barang milik teman, menyembunyikan sepatu, buku, dan lain – lain. Menjadi detektif saat memecahkan kasus misterius yang tidak ketahuan siapa pelakunya. Menjadi jaksa saat menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran yang sudah mereka lakukan. Menjadi pembela di kala tuntutan orang tua sangat berlebihan dan menjadi hakim saat memutuskan solusi permasalahan yang tidak melulu soal akademis.

Berperan sebagai manager saat mengelola mereka di dalam kelas, luar kelas bahkan saat membantu mendisiplinkan mereka tentang kebiasaan saat di dalam rumah, melalui sebuah lembar kontrol.

Menjadi guru, sungguh sebuah profesi all in one, setidaknya itu yang aku rasakan. Melibatkan segenap akal, jiwa, raga jua rasa. Sungguh berat sekaligus indah. Banyak sekali modal yang harus ku miliki, terutama modal keberanian untuk terus mau belajar, belajar dan belajar.

Banyak hal yang perlu dan harus aku pelajari. Secara pribadi, aku perlu memiliki pribadi seorang guru yang layak untuk digugu dan ditiru. Tetap bisa tersenyum ceria di hadapan murid – muridku walau masalahku juga menggunung, tumpukan pakaian kotor serta setrikaan yang menumpuk karena ditinggal pergi oleh pembantu. Harus selalu prima meski asap dapur kian kabur. Perlu tetap mempesona walau lelah terasa mendera.

Lalu dengan ketrampilan mengajarku, wawasan keilmuanku. Ah, sungguh banyak yang terus harus aku pelajari. Zaman kian bertambah canggih, tantangan murid – muridku di masa yang akan datang kian besar dan banyak. Mereka bukan hanya bersaing dengan rekan – rekan satu negara, melainkan juga di seluruh dunia. Sangat egois kalau aku hanya membekali mereka dengan pengetahuanku yang apa adanya.

Aku harus banyak merogoh kocek untuk mendatangkan om internet ke rumahku, agar aku tidak ketinggalan berita. Bisa terus mengupdate informasi tentang dunia kerjaku. Berhubungan dengan teman seprofesi di kota lain agar bisa banyak berbagi. Supaya aku tidak seperti katak dalam tempurung. Atau hanya sekedar memeriksa komunikasi para muridku di dunia maya.

Selanjutnya tentang pemahamanku pada anak – anak didikku. Memahami pribadi mereka, keinginan – keinginan mereka, kebutuhan mereka serta segala sesuatu tentang bagaimana mereka belajar, berteman dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sangat naif kalau aku merasa puas dengan bekal pengetahuan yang ku dapat saat kuliah dulu. Nyatanya, aplikasi pengajaran di lapangan tidak selalu sama dengan teori yang banyak dirumuskan buku – buku atau diktat saat kuliah dulu.

Ibuku yang bijak itu pernah berpesan padaku, “Anak – anak zaman sekarang tidak seperti zaman ibu kecil dulu. Mereka serba lebih. Lebih banyak tanya, lebih banyak melawan, lebih kurang sopannya, dan lebih – lebih yang lain. Kalau kamu mau jadi Guru, kamu harus banyak belajar, yaa … Jangan menyerah bila bertemu anak yang sulit. Kenali secara dekat murid – muridmu maka mereka akan mendekat padamu sehingga kamu mudah mendidik mereka. Terima mereka, bawa mereka dalam do'a – do'amu. Serahkan permasalahan mereka pada Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahuwata'ala ”.

Terima kasih ibu. Nasihat itu sangat membekas dalam hatiku.

Soal cara mengajar. Aku ingat waktu sekolah dulu beberapa kebiasaan guruku yang biasa menjadi bahan ejekan teman – teman. Ada guru yang sangat text book. Ada yang selalu berdehem setiap hendak bicara. Ada yang suaranya sangat pelan, hingga kami yang duduk di bangku depan hanya mendengar samar, jadi wajar kalau ada seorang temanku yang sampai terlelap. Ada yang selalu memberi tugas merangkum di setiap pelajaran, jadi kata – kata yang keluar darinya hanya beberapa saja seperti : “ ayo sekarang buka buku halaman … dirangkum sampai halaman … Latihannya buat PR ya “. Syukur siswa di kelas IPA tidak banyak yang berubah haluan menjadi seniman karena terlalu sering menulis … membuat rangkuman.

Tentunya aku ingin menjadi guru yang terbaik untuk murid – muridku. Dan aku tahu butuh banyak tekad juga pengorbanan untuk mencapainya. Ya, Allah, kuatkan tekad hamba sehingga tak mudah patah. Aamiin.

Teruntuk para pejuang pendidikan ...

Terus semangat hingga akhir perjuangan.

Bogor, 13 November 2009

Sri Rahmaila

Selasa, 21 September 2010

KALA SEMUA LELAP


Di penghujung malam kini aku

kembali datang mengetuk pintu-MU

hingga datang terdengar

sahutan biduk hingar


Lambat terayun langkah ini

tuju Engkau ILLAHI

Dingin segar air terasa

menusuk hingga jiwa


Sujud demi sujud telah aku selesaikan

hingga sampai aku pada akhir perjumpaan

dengan-MU Robbi


Di akhir ini aku ingin sampaikan

Semua cerita diri yang Engkau pasti

tahu sudah,


Saat ini sekian puluh tahun lalu

telah sempurna Engkau cipta aku

tuk kemudian lahirkan aku lalui rahim

seorang ibu, dengan takzim


Telah banyak sudah aku rasakan

kurnia - MU wahai ROHMAN

namun cuma nista jua keluhan

yang mampu ku berikan


Saat ini penuh aku dalam sadar

kan kuasa jua kecintaan milik - Mu RAHMAN

Saat ini kecil aku terasa nian

hanya ampunan-Mu ku harapkan Yaa Ghofar


Kini tiada guna bila

lagi kuratapi segala cela dan dosa

aku tahu bahwa Engkau Maha

Kuasa tuk mengahpus segala


Namun, malu aku rasakan

tuk meratap dan menghiba 'kan ampunan

hanya hening terdengar

bergemul degap jantung samar


ALLAH, sesungguhnya aku

sangat butuh akan diri-MU

karena itu aku ...

harap sudi maaf-MU, untukku.


(4Apr00)

Gajah, Keledai, Dan Manusia


Penulis : Tom MC Ifle

Tahukah Anda, binatang apa yang paling kuat ingatannya? Jawabnya adalah gajah! Ada idiom, "You have a memory like an elephant". Karena gajah tidak pernah lupa.

Menurut scientist, gajah memiliki kemampuan untuk mengingat segala-galanya. Ia ingat saat sejak bayi apapun yang ia lalui, di mana lokasi makanan, di mana keluarga terdekatnya, bahkan lokasi sungai yang paling dekat. Di banyak kebudayaan seperti Asia - India, China, Persia - gajah adalah lambang wisdom.

Berat otak gajah 5 kilogram, paling berat di antara makhluk darat yang hidup saat ini. Otak gajah memiliki kemampuan unik: ia bisa memancarkan kesedihan, membuat musik, menciptakan seni, bermain dan menggunakan alat-alat, memiliki belas kasihan, dan kesadaran diri. Meskipun besar, gajah bisa berenang nonstop selama 6 jam sepanjang 50 kilometer.

Otak Besar, Masalah Besar

Masalahnya, mereka (gajah) tidak dapat memilih memory yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Jika gajah dapat mengendalikan pikirannya, ja bisa menjadi penguasa hutan yang sangat kuat dan powerful.

Di sebuah arena sirkus ada satu hal yang mengejutkan, gajah tidak membutuhkan kandang. Mungkin kita dapat mengurung singa, beruang, dan harimau tapi tidak pernah ada kandang untuk gajah.

Lalu bagaimana cara menahan makhluk yang sangat kuat ini dari niatan melarikan diri?

Ini dia, yang mereka lakukan hanya mengikatkan seutas tali (atau rantai tipis) ke kaki gajah dan mengikatnya ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah ketika gajah masih bayi. Sekali kakinya sudah terikat, maka ia tidak akan mencoba melarikan diri lagi.

Sekarang, apakah Anda pikir gajah yang memiliki kekuatan besar tersebut tidak mampu menghancurkan rantai atau tali tersebut bila dia mau? Tentu saja bisa dan mampu, bahkan bisa menumbangkan sebuah pohon. Tapi mengapa dia tidak memutuskan tali tipis yang melingkar dikakinya?

Para pawang membiarkan gajah-gajah tersebut memiliki keyakinan bahwa dia tak bisa memutuskan tali tersebut. Keadaan ini berlangsung sejak kecil, yaitu dengan cara ketika seekor bayi gajah lahir dan masih terlalu lemah untuk berjalan bahkan berdiri, mereka (para pawang) mengikat kaki gajah kecil itu ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Dan dapat dipastikan ketika bayi gajah tersebut mencoba berlari menuju induknya, ia tidak dapat memutuskan tali tersebut.

Pernah ada cerita seekor gajah yang mati terbakar dengan ikatan rantai kecil di kakinya. Suatu ketika ada pertunjukan sirkus di suatu kota, tiba-tiba gedung sirkus itu terjadi kebakaran. Hewan-hewan di dalam mulai berlarian. Nah ada seekor gajah yang kakinya diikat dengan rantai kecil. Ketika api makin membesar, sang gajah pun tetap berada di dalam gedung itu dan akhirnya ia mati terbakar.

Lawannya Gajah

Ada binatang lain yang sangat bertolak belakang dengan gajah, yaitu keledai. Bedanya jika gajah adalah binatang yang tidak dapat men-delete memory, keledai adalah binatang yang tidak dapat menyimpan memory.

Manusia

Nah, manusia bukan gajah dan bukan keledai. Kita bisa mengingat dan memilih untuk melupakan. Sayangnya, kita seringkali salah memilih. Kita memilih untuk mengingat kegagalan, kesedihan, dan kekecewaan kita dan melupakan kemenangan, kesuksesan, keberanian, kebahagiaan, kemampuan yang telah diakumulasi selama hidup.

Tips saya hari ini, jangan menjadi gajah, jangan jadi keledai, tapi jadilah manusia yang tercerahkan. Pilih untuk mengingat kebaikan, bukan keburukan. Catat semua kebaikan dalam hati setiap orang dan lupakan kekhilafan mereka. Bersyukur dan fokus pada kebaikan...

Be Enlightened!

MOTIVASI
Motivasi Minggu Ini

‎Sebenarnya hidup ini lentur. Kalau kita terlalu "serius", maka hidup kita menjadi seperti "robot", kaku & keras. Sebaliknya kalau kita terlalu "santai", maka hidup kita akan kurang bernilai. Maka, kita harus pandai mengaturnya sehingga kehidupan bisa berjalan dengan seimbang. Juga, bisa menikmati hidup penuh kesuksesan & kebahagiaan.

Untuk mendapatkan motivasi setiap hari, mari bergabung di Facebook Andrie Wongso (GRATIS) atau, ikut SMS motivasi (ada biaya - kurang lebih Rp1.000).