*Catatan
perjalanan 7
Seingatku, aku tidak pernah terlalu percaya pada
orang, apalagi sampai mengandalkan orang lain. Kenapa ?
Begini ceritanya
Satu ketika selesai atletik di stadion olah raga, aku
pulang bersama seorang teman setelah memastikan ia memahami arah pulang. Dengan
sepenuh keyakinan, ia menyatakan bahwa ia sangat hafal dan paham harus naik
angkot yang mana. Nyatanya kami naik angkot dengan arah yang salah. Setelah
lama berkeliling supir menyuruh kami turun sementara tempat itu bukan tujuan
kami. Karena ongkos yang tersisa hanya cukup untuk sekali perjalanan, aku
menolak untuk turun, begitu juga temanku. Akhirnya sang supir bersungut – sungut
merutuki kami yang tidak tahu diri. Bersyukur kami tidak diturunkan di tengah
jalan. Tidak apa menyabari diri mendengarkan celoteh tak bersahabat dari pak
supir.
Tidak ada kata maaf dari temanku yang telah membuat
kami tersesat. Aku menatapnya, tepatnya memelototinya guna meminta
pertanggungjawaban. Terpaksa harus menikmati perjalanan 3x lebih lama dari yang
seharusnya, gegara aku percaya pada orang yang sok tahu. Dan yang bersangkutan
tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku hanya bisa memaki dalam hati, berteriak
sendiri menghalau deru debu yang memenuhi jalan. Saat itu kutanamkan dalam hati
bahwa cukup sudah percaya pada orang yang salah, takkan ku biarkan hal bodoh
seperti ini terulang lagi.
Sejak kejadian itu, aku benar – benar mengandalkan
diriku saja. Mencoba bertanya dan mengumpulkan informasi tentang suatu tempat
jika aku harus pergi ke tempat yang baru. Mulai memilih siapa yang pantas
dipercaya dan mana yang tidak. Alhasil aku mulai pilah pilih teman. Hanya yang
amanah dan bertanggungjawab saja yang rela aku bersamai, berlama – lama
dengannya. Sementara yang lalai dan abai hanya sekedar kenal saja. Enggan
rasanya jika harus menderita karena kelalaian orang.
Di sini juga aku mulai mengenal istilah bisa
memaafkan tapi bekas luka akan sulit membuatku lupa. Apa akibatnya ? Orang –
orang yang pernah berbuat salah akan dimaafkan dan tetap aku temani, hanya saja
kesalahannya tidak bisa dilupakan, selalu menjadi catatan yang membatasi.
Hasilnya, semasa SMA dan kuliah, yang sangat intens menemani curhatan dan
celotehanku adalah ibu juga buku diari. Selesai.
#aJourneyToFourty