*Catatan
perjalanan 1
Pernah ga kepikiran
tentang kenapa Rasulullah saw tidak meninggalkan sebuah kenangan pada umat
muslim selayaknya agama lain yang dengan bebas mengekspresikan bentuk tuhan dan
pembawa agama mereka ?
Mungkin karena
Rasulullah saw tidak mau dikultuskan, Rasulullah tidak mau dipuja, Rasulullah
saw tidak mau diberhalakan.
Anas bin Malik
menuturkan, “Ada beberapa orang memanggil Rasulullah sambil berkata, ‘Wahai
Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara
kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami.
Rasulullah
segera menyanggahnya seraya berkata, ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya
saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah
dan Rasul-Nya. Aku tidak suka (jika) kamu mengangkat kedudukanku jauh melebihi
kedudukam yang dianugerahkan Allah kepadaku’.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa’i).
Ada sebagian
orang yang menyanjung Rasulullah secara berlebihan, sampai-sampai ia meyakini
bahwa Rasulullah mengetahui hal gaib atau meyakini bahwa beliau memiliki hak
untuk memberikan manfaat dan menurunkan mudharat, bahwa beliau dapat
mengabulkan segala permintaan dan menyembuhkan segala penyakit. Allah ‘Azza wa
Jalla menyanggah keyakinan seperti itu, dalam firman-Nya:
Katakanlah:
“Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang
ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf Ayat 188)
Kita juga
tentu tahu bagaimana umat dan pengikut Nabi Isa as. menganggap utusan Allah itu
sebagai Tuhan karena mu’jizatnya yang super.
Seringkali
karena keawaman, kedangkalan pemahaman, memperturutkan hawa nafsu dan
keengganan untuk menggunakan akal yang dikaruniakan oleh Allah swt, manusia
terjebak pada kebenaran yang tak berdasar, semu bagai fatamorgana. Nau’dzubillah
min dzalik.
#aJourneyToFourty
Tidak ada komentar:
Posting Komentar