Jumat, 28 Februari 2020

*Catatan perjalanan 1

Pernah ga kepikiran tentang kenapa Rasulullah saw tidak meninggalkan sebuah kenangan pada umat muslim selayaknya agama lain yang dengan bebas mengekspresikan bentuk tuhan dan pembawa agama mereka ?
Mungkin karena Rasulullah saw tidak mau dikultuskan, Rasulullah tidak mau dipuja, Rasulullah saw tidak mau diberhalakan.

Anas bin Malik menuturkan, “Ada beberapa orang memanggil Rasulullah sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami.
Rasulullah segera menyanggahnya seraya berkata, ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka (jika) kamu mengangkat kedudukanku jauh melebihi kedudukam yang dianugerahkan Allah kepadaku’.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa’i).

Ada sebagian orang yang menyanjung Rasulullah secara berlebihan, sampai-sampai ia meyakini bahwa Rasulullah mengetahui hal gaib atau meyakini bahwa beliau memiliki hak untuk memberikan manfaat dan menurunkan mudharat, bahwa beliau dapat mengabulkan segala permintaan dan menyembuhkan segala penyakit. Allah ‘Azza wa Jalla menyanggah keyakinan seperti itu, dalam firman-Nya:
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf Ayat 188)

Kita juga tentu tahu bagaimana umat dan pengikut Nabi Isa as. menganggap utusan Allah itu sebagai Tuhan karena mu’jizatnya yang super.
Seringkali karena keawaman, kedangkalan pemahaman, memperturutkan hawa nafsu dan keengganan untuk menggunakan akal yang dikaruniakan oleh Allah swt, manusia terjebak pada kebenaran yang tak berdasar, semu bagai fatamorgana. Nau’dzubillah min dzalik.


#aJourneyToFourty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar