Rabu, 25 Maret 2020


*Catatan perjalanan 19

Anak – anak, selamanya jadi anak orang tuanya. Seberapa gagahnya mereka, seberapa berpengaruhnya mereka di luar rumah, saat pulang ke rumah orang tuanya, mereka adalah anak – anak yang lucu an menggemaskan. Anak – anak yang senang berada dalam pelukan orang tuanya, bermanja dan bersenda gurau dengannya. Maka pastikan rumah kita menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk anak – anak. Agar mereka selu punya tempat untuk pulang, mengumpulkan lagi energi untuk menjalani hari.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 18

Saat melihat anak atau pasangan kita marah lalu menangis atau tantrum, jangan diabaikan apalagi ikutan marah. Segera buang egoisme, harga diri yang tidak pada tempatnya. Raih / rengkuh anak / pasangan dalam pelukan. Sediakan dada dan bahu untuknya menangis, sediakan telinga untuk mendengar amuknya, sediakan hati untuk meredam amarahnya. Peluk ia hingga ia menyerah dan terkulai dalam hangat pelukan.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 17

Kenapa pelakor jadi booming ? Terus, semua salah pelakor? Sebagai pecinta keadilan, rasanya ko agak mengganjal jika semua kebehatan hanya dilimpahkan pada sosok pelakor. Bukannya membela, tapi apa iya semua hanya salah si pelakor ?
Bagaimana dengan laki – laki beristri yang membangun hubungan dengan wanita yang disebut pelakor? Bukankah laki – laki ini juga memiliki andil ? Ga mungkin kan hubungan yang ada hanya bertepuk sebelah tangan ?
Lalu apa kabar wanita yang menyebut suaminya tergoda pelakor ? Apakah dia benar – benar bersih dan tak bersalah.
Come on. Kata pak Cahyadi yang konsultan pernikahann itu, ga ada pelakor atau pebinor, yang ada hanya hubungan yang kering antara pasutri. Kalo menurut aku, ya semuanya salah dan punya andil masing – masing. Jadi, stop blamming, no playing victim. Muhasabah, introspeksi, evaluasi trus tobat dan perbaiki diri, jangan bikin dosa baru lagi.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 16

Pernikahan menurut bunda Aisyah ra. adalah masalah yang sangat unik dan tergantung pribadi – pribadi  yang menjalankan. Mungkin demikian halnya dengan perceraian, sangat tergantung pada pribadi yang memutuskannya. Ada shohabiyah yang mengajukan khulu’ karena tidak sanggup untuk bersyukur dengan kondisi suaminya. Ada juga yang tetap setia menjanda, agar kelak di surga bisa bersama lelaki yang pernah menjadi suaminya, lelaki yang menceraikannya karena rasa cemburu yang besar.
Yang mengagumkan, di zaman itu, apapun keputusan yang diambil, selama tujuannya karena Allah maka akan direstui tanpa dibully, hihihihi.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 15

Asertif, adalah bersikap tegas. Mengusung kenyataan dan kebenaran bukan kerancuan perasaan. Memiliki sikap asertif dalam menjalin hubungan adalah sangat penting, agar hubungan terbina dalam suasana yang sehat dan membangun, bukan penuh rasa bersalah dan toxic.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 14

Anakku, harga diri seorang lelaki saat menjadi suami ada pada kemampuannya menafkahi keluarga. Jika kelak engkau sudah maksimal berusaha dan belum mampu mencukupi nafkah keluargamu, mintalah kerelaan istrimu. Jika ia tidak rela dengan ketidakmampuanmu, kembalikanlah ia kepada orang tuanya dengan cara yang baik. Jangan kau paksa ia menerima keadaanmu dan hidup bersamamu dalam kepayahan.
Anakku, keutamaan seorang istri adalah ketaatannya pada suami. Maka pilihlah suami yang layak mendapatkan setia dan taatmu.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 13

Selain menjadi juara kelas, aku juga terbiasa menjadi ketua kelas saat di SD, menjadi pengurus kelas di SMP dan menjadi pengurus organisasi sekolah saat SMA dan kuliah. Organisasi dan kepemimpinan seolah menjadi bagian akrab dalam hidupku. Meski aslinya ku pendiam, entah bagaimana bisa terpilih jadi ketua kelas saat sekolah dasar.
Yang ku tahu, aku hanya tak sanggup melihat dan membiarkan teman – teman yang mengalami kesulitan, baik dalam hal pelajaran ataupun soal pertemanan. Saat ibu atau bapak guru meminta bantuan mencatat di papan tulis, aku selalu melakukan dengan senang hati. Saat itu aku merasa bisa menulis dengan cepat sehingga tidak akan ketinggalan catatan. Kasihan kalau temanku yang harus menulis di papan tulis, karena mereka bisa tertinggal mencatat.
Begitu juga saat ada teman yang dijahili, aku akan terpanggil untuk menghentikan, meski tanpa diminta. Apalagi kalau cowok – cowok usil sedang menjalankan aksi, jiwa pahlawanku meronta, hahaha. Adu mulut sampai adu jotos sering aku lakoni kala SD, hihihi.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 12

Sejak sekolah dasar, aku biasa mendapat peringkat 3 besar di sekolah. Bahkan sejak kelas 3 SD aku langganan jadi juara kelas hingga SMA. Semua didapat tidak begitu saja. Bukan karena kepandaianku yang melebihi teman – teman, melainkan karena aku punya ibu yang luar biasa.

Beliau mengajari aku juga semua anaknya semampu yang ia bisa. Yang paling berkesan buatku adalah beliau tidak pernah memaksa aku harus dapat nilai atau prestasi terbaik. Ibu hanya meminta aku melakukan yang terbaik yang aku bisa. Dan yang utama, beliau tidak pernah luput untuk mendoakan keberhasilan dan kebahagiaanku.

Beliau benar – benar berusaha sekuat tenaga agar aku bisa fokus sekolah dan belajar. Bahkan sekedar membantu pekerjaan di dapur saja beliau sering melarang, hehehe akhirnya saat nikah lumayan gagap untuk urusan masak – memasak. Bersyukur banyak warteg bertebaran, eh.

Merasa mendapat dukungan penuh maka aku tidak mau menyia-nyiakannya. Berusaha sekuat tenaga adalah tekadku. Tidak mengeluh saat melihat teman – teman bisa ikut kursus dan aneka bimbel sementara aku hanya cukup belajar sendiri. Masa sekolah itu fokusku memang belajar di majlis ilmu, baik di sekolah, madrasah, majlis atau masjid. Bermain dan menonton TV hanya selingan setelah pekerjaan sekolah selesai dikerjakan. Terima kasih ibu.   

#aJourneyToFourty

Selasa, 10 Maret 2020


*Catatan perjalanan 11

Tentang skin care dan make up.
Melihat saudara sepupu yang menginap di rumah dengan ritual menjelang tidurnya dengan pembersih, penyegar dan teman – temannya. Pun demikian saat hendak pergi dengan ritual alas bedak, lipstick, pensil alis, blush on, dst. Satu komentarku saat itu, ribet amat jadi cewek ya.
“Nanti kalau kamu dah besar juga kaya gini, belum aja sekarang mah.” Jawab sepupu saat itu.
“Ga akan, saya mah simpel aja hehehe.”, jawabku saat itu.

Dan saat SMA sampai kuliah hanya memakai bedak saja, sesekali (kalau lagi rajin) memakai pencuci wajah 😊 Meski ibuku sering komen untuk dandan, tapi aku tidak pernah tergerak untuk memakai lipstick, pensil alis, foundation, dll. Entahlah, aku cuma berpikir kalau kaum lelaki bisa bebas tampil dengan wajah polos, kenapa kita kaum wanita harus direpotkan dengan make up untuk bisa tampil cantik dan percaya diri ?

Aku hanya merasa tidak perlu menyembunyikan wajah asliku di balik balutan make up, apalagi yang tebal. Sekedar memulas bedak bayi saja sudah cukup membuat aku kerepotan dengan tatapan dan perhatian kaum adam, apalagi dengan make up hahaha. Nanti sajalah kalau suamiku yang meminta. Dan ternyata, suamiku tidak suka melihat aku berdandan, natural saja, Alhamdulillah.
Jadi, hingga menjelang 40 kini, aku cukup memulas wajahku dengan bedak dan sedikit lip balm demi menjaga bibirku tidak kering. Tentu saja rajin mencuci wajah sebelum tidur, pokoknya no ribet lah, hehehe.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 10

“Apakamu tidak menghargai jerih payah ayah?”
“Ayah sudah bekerja keras untuk memberimu makan dan tempat tinggal juga pakaian yang layak, lalu seperti ini balasan kamu ?

Aku menduga apa yang ada dalam pikiran anak itu,
“Kalau ga mau susah, ga usah punya anak.”
“Siapa suruh kamu punya anak ?
Lagian emang tugas orang tua kan mencukupi kebutuhan anaknya ? Udah ah ga usah lebay!”
Upps

Para orang tua, seringkali lupa bahwa tugas mereka adalah menjaga amanah dari Sang Maha Pencipta. Apa yang mereka berikan kepada anak mereka hakikatnya adalah rezeki dari Allah SWT, bukan semata karena hasil jerih payah mereka. Kita tentu sering mendengar dialog di tengah masyarakat saat ada orang yang menitipkan sejumlah uang untuk anak kerabatnya, “Buat anak- anak, bukan buat orang tuanya…”
Alhasil, banyak dari orang tua yang tergelincir untuk menegasikan Allah dalam hal rezeki untuk anak – anak mereka. Akhirnya muncullah pamrih, minta balas jasa dan seterusnya.Kalau sudah begini, apa lagi yang tersisa dari amal yang akan dibawa menghadap Allah kelak ? Puaskah jika semua balasan disegerakan di dunia dan menggigit jari saat di akhirat kelak ? Na’udzubillah.


#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 9

Ada yang menggelitik hati dan pikirku saat mendengar celoteh ibu – ibu arisan soal anak.
“Anak situ sepasang ya, impas bearti. Kalau saya perempuan semua ni, ga balik modal deh…”
“Apalagi ibu A, anaknya banyak, menang banyak deh.”

Serius aku ga paham dengan apa yang dicelotehkan itu. Impas, balik modal, untung rugi, menang banyak? Apa hubungannya dengan jenis kelamin anak ? Hummm, agak terbelakang kalo urusan begini, ahay.

Menurut pendapatku ya, anak itu amanah dari Allah. Baik laki – laki maupun perempuan semua sudah diatur rezekinya masing – masing. Tugas kita adalah menjaga amanah itu sebaik yang kita mampu, agar fitrahnya tetap terjaga.

Memberi pakaian, tempat tinggal, makanan yang halal dan baik, pendidikan yang baik, lingkungan yang baik, dst. Setelah semua upaya kebaikan dilakukan dengan sepenuh daya dan usaha, maka selesai tugas kita. Jangan kemudian mengungkit pemberian kita dan menuntut balas budi dari anak – anak yang dibesarkan.

Adalah harapan semua orang tua untuk memiliki anak yang berbakti. Yang akan menjamin kedua orang tuanya di usia senja. Tapi Leha, ga semua harapan jadi nyata J
Ada kalanya kondisi anak tidak memungkinkan untuk membalas kebaikan orang tuanya karena kehidupan mereka yang sempit, bukan karena tidak mau. Lantas, akankah kita sematkan anak durhaka pada kondisi demikian ? Akankah kita merasa rugi telah membesarkan anak seperti ini ? Jangan, sekali – kali jangan. Setelah berusaha, saatnya untuk bertawakal. Inilah pentingnya kita menjaga keikhlashan dalam beramal, termasuk saat membesarkan anak – anak.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 8

Ada dua hal yang selalu kupesankan pada teman – teman yang meminta nasihat tentang pernikahan. Yang pertama adalah komunikasi dan kedua adalah kemaun untuk terus belajar sepanjang hayat.
Kenapa komunikasi ? karena ini adalah bentuk hubungan yang paling dominan di antara insan. Betapa sering masalah rumah tangga menjadi kian besar dan berujung pada perceraian karena komunikasi yang tidak lancar.
Kita tentu tahu kisah fenomenal dalam film Si Doel. Bagaimana konflik bermula dalam bahtera rumah tangga yangn nyaris sempurna milik Doel dan Sarah. Adalah Doel yang menutupi kedekatannya dengan Zenab dan memantik api cemburu dalm diri Sarah hingga akhirnya ia memutuskan pergi ke Belanda.

Itu kan dalm film yang memang sengaja dibuat konflik supaya menarik. Tapi kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari film itu.
Pertama, soal ketidakterbukaan Doel ketika menjalin hubungan dengan Zenab. Seharusnya, jika memang ia tulus, ada adab yang harus diperhatikan. Berterusterang pada Sarah, melibatkannya dengan meminta pendapat / pandangannya tentang sejauh mana mereka harus terlibat dalam masalah Zenab atau tidak usah sama sekali. Yang pasti Doel melakukan pelanggaran.
Kedua, kepergian Sarah ke Belanda. Seharusnya sebelum memutuskan pergi, Sarah menjalin komunikasi dulu dengan Doel perihal kedekatannya dengan Zenab, agar jelas duduk perkaranya. Setelah itu baru ambil keputusan. Bukan langsung pergi, apalagi sampai Belanda. Hadeuh, mahal ongkosnya …

Selain komunikasi, kemauan untuk terus belajar juga penting. Kenapa ? Karena …
Selazimnya orang menikah itu diibaratkan sedang mengarungi samudera dalam bahtera rumah tangga, eaaaa. Kebayang kan ? Biasa hidup di daratan tiba – tiba menjelajah samudera. Biasa melihat komunitas  darat, lalu harus terbiasa dengan sapaan angin laut, riak dan gelombang, aneka ikan dan ragam komunitas laut lainnya. Kalau tidak siap dengan ilmu, bisa dipastikan akan mengalami keterkejutan di setiap jengkal perjalanan. Lalu muncul ketidaknyamanan, membandingkan daratan dan laotan lalu berujung pada keputusan untuk menyudahi pelayaran. Hiks.

Apa yang akan dipelajari tentang kehidupan pernikahan ? So many many many many J
Zemangaaaaaaaaat!

#aJourneyToFourty