Rabu, 25 Maret 2020


*Catatan perjalanan 12

Sejak sekolah dasar, aku biasa mendapat peringkat 3 besar di sekolah. Bahkan sejak kelas 3 SD aku langganan jadi juara kelas hingga SMA. Semua didapat tidak begitu saja. Bukan karena kepandaianku yang melebihi teman – teman, melainkan karena aku punya ibu yang luar biasa.

Beliau mengajari aku juga semua anaknya semampu yang ia bisa. Yang paling berkesan buatku adalah beliau tidak pernah memaksa aku harus dapat nilai atau prestasi terbaik. Ibu hanya meminta aku melakukan yang terbaik yang aku bisa. Dan yang utama, beliau tidak pernah luput untuk mendoakan keberhasilan dan kebahagiaanku.

Beliau benar – benar berusaha sekuat tenaga agar aku bisa fokus sekolah dan belajar. Bahkan sekedar membantu pekerjaan di dapur saja beliau sering melarang, hehehe akhirnya saat nikah lumayan gagap untuk urusan masak – memasak. Bersyukur banyak warteg bertebaran, eh.

Merasa mendapat dukungan penuh maka aku tidak mau menyia-nyiakannya. Berusaha sekuat tenaga adalah tekadku. Tidak mengeluh saat melihat teman – teman bisa ikut kursus dan aneka bimbel sementara aku hanya cukup belajar sendiri. Masa sekolah itu fokusku memang belajar di majlis ilmu, baik di sekolah, madrasah, majlis atau masjid. Bermain dan menonton TV hanya selingan setelah pekerjaan sekolah selesai dikerjakan. Terima kasih ibu.   

#aJourneyToFourty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar