Teman Sehati * Best Friend Forever
Saatnya berpisah
Detik
demi detik terus berlari, menit berlalu, hari pun terus berganti. Waktu seolah
tak mau berhenti, terus melaju entah apa yang diburu. Perjuangan para siswa di
akhir kelas tiga kini tiba ke ujungnya. Setelah sekian lama berjibaku dengan
soal dan ujian, kini saatnya lelah mereka terbayar dengan capaian – capaian
yang memuaskan.
Usai
perpisahan sekolah, kelas Ama menggelar acara perpisahan kelas di sebuah villa
yang terletak di bilangan puncak, Jawa Barat. Enggan Ama menghadiri acara itu
namun ia tidak bisa menolak saat Angel, teman sebangkunya menuliskan namanya di
daftar peserta.
“Ada, Ahmad, Arif dkk ko, Ama. Mereka kan anak ROHIS,
jadi amanlah acara kita nanti”, bujuk Angel saat Ama mengatakan keengganannya.
Ama hanya mampu tersenyum. Rasanya tidak mungkin ia
mendebat Angel.
Akhwat yang bisa ikut tuh aku aja sendiri. Ntar di sana ngapain ?
Ngobrol sama siapa ? sedangkan Ahmad saat perpisahan sekolah kemarin juga
terlihat acuh, sibuk dengan teman – teman seperjuangannya memburu kampus yang
sama. Arif ? Dah sejak lepas OSIS kami hampir ga pernah komunikasi. Meskipun
sekelas tapi kami terasa sangat jauh. Amal yang biasanya lumayan berisik juga
jadi sepi, seperinya fokus dengan rencana kuliah. Apalagi Ismoyo yang super
duper cool. Aku akan sendiri di sana, Cuma melihat keramaian tapi tidak hadir di
dalamnya. Ah, pasti akan sangat menyebalkan.
Ama merapikan mejanya,
bersiap untuk segera pulang. Ada selembar kertas terselip di mejanya. Kertas
dengan warna merah muda yang manis, berhias pita merah yang tampak memesona.
Dengan ragu ia mengambilnya lalu membuka kertas itu dan membaca pesan di
dalamnya.
Bismillah.
Ama, selamat ya
atas prestasi anti.
Afwan ana ga
bisa kasih hadiah selain doa, semoga kelak saat kuliah nanti anti bisa terus
meraih prestasi gemilang. Doakan ana agar bisa sukses juga. Lancar kuliahnya
dan seterusnya hingga ana bisa cepat siap memantaskan diri dan kita bisa
merajut kisah seindah cerita cinta Fatimah dan Ali.
Arif.
Pertemuan
Kita Di Suatu Hari
Menitiskan
Ukhwah Yang Sejati
Bersyukurku
Ke Hadrat Ilahi
Di Atas
Jalinan Yang Suci
Namun Kini Perpisahan Yang Terjadi
Dugaan
Yang Menimpa DiriB
ersabarlah
Di Atas Suratan
Ku Tetap
Pergi Jua
Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku
Dalam Doa
Kudusku Sepanjang Waktu
Ya Allah
Bantulah Hamba Mu
Mencari Hidayah Daripada Mu
Dalam
Mendidikkan Kesabaranku
Ya Allah
Tabahkan Hati Hamba Mu
Di Atas
Perpisahan Ini
"Teman Betapa Pilunya Hati Menghadapi
Perpisahan Ini.Pahit Manis Perjuangan Telah Kita Rasa Bersama. SemogaAllah Meredhai
Persahabatan Dan Perpisahan Ini. TeruskanPerjuangan"
Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku
Dalam Doa
Kudusku Sepanjang Waktu
Ya Allah
Bantulah HambaMu
Senyuman Yang Tersirat Di Bibirmu
Menjadi
Ingatan Setiap Waktu
Tanda
Kemesraan Bersimpul Padu
Kenangku
Di Dalam Doamu
Semoga Tuhan
Berkatimu
Doa perpisahan
- Brother
Bibir Ama melengkung ke atas usai
membaca pesan. Seulas senyum terukir di bibirnya. Ama hanyut dalam rasa hingga
tak sadar ada Ahmad yang berdiri tepat di hadapannya.
“Ciyee, ada yang lagi hepi kayanya nih.”
“Ish Ahmad, apaan sih ?” Ama berusaha menyembunyikan
semu merah di pipinya.
“Ma, congrats ya. Ga sia – sia ya, jutek sepanjang
tahun demi prestasi yang T.O.P.B.G.T.”
“Iya, makasih Ahmad. Kamu juga keren prestasinya,
barokallohulakum. Emang aku jutek ya?”
“Nggak ko, kamu baik dan ramah seperti namamu. Ya
ampun Ama. Loe tuh ga sadar diri banget. Loe bener – bener berubah setahun ini.
Jadi lebih diem. Galak sih nggak, Cuma dingin aja, gue jadi bingung, takut ada
salah sama loe.”
“Masa iya ?”
Bukankah mereka yang berubah ? Ahmad seolah
menjauh tak seperti biasa, rajin menyapa dan sesekali menelpon ke rumah. Arif
juga setelah lengser seolah tanpa kata. Teman – temanakhwat juga tak seceria
biasanya. Hufft, ini sebenarnya siapa yang berubah sih, mereka atau aku ? Hmmm,
apa karena perjanjian dengan ka Rio aku jadi berubah ya? Entahlah. Ama.
“Udah deh, Ama, yang penting
sekarang loe dah balik normal, hehehe. So, kita bakalan jarang ketemu nih. Jadi
sedih, hiks.”
“Ahmad, behave ...”
“Hehehehe, iya iya Ama. Mumpung kamu lagi hepi. Trus
kamu jadi ngampus di mana ?”
“As you know, Jakarta. Ke Depok aja ga ada izin.”
“Yang terbaiklah pokoknya. Eh, Ma, hmmm ...” Ahmad
menggaruk kepalanya yang kini terlihat plontos.
“Apa?”
“Anu?
“Apa?”
“BFF kan?”
“Ahmad, kamu kenapa sih ?”
“You and me, BFF right ?”
“Yes, insya Allah ...”
“Alhamdulillah. Aku padamu, Ma.”
“What ?”
“Nothing. Just kidding.”
“Well, okay. Dah ya, aku mau pulang.”
“Ikut ga? Sekalian bareng sama anak – anak, mumpung
aku bawa roda empat.”
“Ga ah, makasih. Sungkan aku sama mereka.”
“Berarti kalo nggak sama mereka mau, dong ?”
“Ya nggaklah, malah parah berduaan. Ingat ...”
“Yang ketiganya setan, hehehe.”
“Nah, tuh tahu. Ya udah, hati – hati Ahmad. Terima kasih
untuk semuanya. You’re my best friend.”
“Okay, you too, see you in pelaminan, eh.”
“Dasar Ahmad”
Masih dengan senyum yang menghias
wajah, Ama melangkahkan kaki untuk segera menuju rumah. Hari yang sangat
membahagiakan sekaligus menyelipkan rasa sedih di hatinya. Hari ini, terakhir
ia bersama dengan teman putih abu. Semua canda, tawa, suka dan duka berakhir di
sini. Sekarang semua hanya tinggal kenangan. Selanjutnya mereka akan bersiap
menapaki masa depan.
Lambat Ama mengayunkan langkah,
seolah enggan mengakhiri semuanya. Disusurinya setiap jengkal sekolah dengan
perasaan yang entahlah. Ditatapnya mushola yang bercerita banyak tentang
dirinya, ketoprak yang pasti akan selalu dirindunya. Mata Ama kian terasa
menghangat, butiran air seolah mendesak untuk merangsek keluar dari dua bola
matanya yang indah. Sekretariat ROHIS, saksi bisu derai air mata para akhwat
seperjuangan. Ruang OSIS, ah ... oksigen terasa kian menipis. Semua rasa
menyesakkan dada. Semua kenangan berloncatan memenuhi pikiran. Duhai Allah,
gedung ini seolah menawanku untuk terus berada di sini. Dear sekolah, terima
kasih atas kebersamaan yang indah. Dear all, aku pergi.
Saat tiba di rumah Ama menemukan
bucket bunga berdampingan dengan sebuah boneka dengan sekotak coklat tergeletak
di meja kamarnya.
“Itu tadi ada kurir yang antar, dari pengagum rahasia
Ama katanya. Siapa sih, Ma? Sejak kapan kamu punya pengagum rahasia ?” ibu
menjelaskan saat Ama menanyakan perihal barang asing di kamarnya.
Tanpa
menjawab pertanyaan ibunya, Ama segera menuju kamar dan meraih kartu ucapan
yang melekat di bucket.
Dear calon
istri, selamat ya atas kelulusannya. Selamat menempuh status baru sebagai
istriku, eh sebagai calon mahasiswa.
Yang selalu
merindumu,
Rio*
Dear diary, Alhamdulilah hari ini aku resmi jadi pengangguran, eh
pejuang PTN deng, hehehe. Alhamdulillah prestasiku juga membanggakan, mudahan
aku bisa diterima di PTN kelak. Hari ini sangat berwarna, Di .. rame rasanya
kaya nano – nano. Di, ternyata sedih ya ga jadi anak SMA lagi. Dulu waktu lulus
SMP rasanya seneng banget, kenapa sekarang ko ada rasa ga rela gitu ya ?
O iya, Di. You know what ?
banyak yang nembak aku hari ini. Ada yang langsung, ada yang serius ada juga
yang sok becanda. And you know ? yang ga aku sangka itu si Arif, ya ampun aku
beneran ga nyangka. So sweet banget. Di, aku hepi tapi sekaligus sedih, aku ...
ah, entahlah.
Alhamdulillah,
terima kasih Allah atas segala karuniaMU hari ini. Bye Di, bentar lagi kita
ngampussss.