Rabu, 02 Desember 2020

 Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Saatnya berpisah

 

                Detik demi detik terus berlari, menit berlalu, hari pun terus berganti. Waktu seolah tak mau berhenti, terus melaju entah apa yang diburu. Perjuangan para siswa di akhir kelas tiga kini tiba ke ujungnya. Setelah sekian lama berjibaku dengan soal dan ujian, kini saatnya lelah mereka terbayar dengan capaian – capaian yang memuaskan.

                Usai perpisahan sekolah, kelas Ama menggelar acara perpisahan kelas di sebuah villa yang terletak di bilangan puncak, Jawa Barat. Enggan Ama menghadiri acara itu namun ia tidak bisa menolak saat Angel, teman sebangkunya menuliskan namanya di daftar peserta.

“Ada, Ahmad, Arif dkk ko, Ama. Mereka kan anak ROHIS, jadi amanlah acara kita nanti”, bujuk Angel saat Ama mengatakan keengganannya.

Ama hanya mampu tersenyum. Rasanya tidak mungkin ia mendebat Angel.

Akhwat yang bisa ikut tuh aku aja sendiri. Ntar di sana ngapain ? Ngobrol sama siapa ? sedangkan Ahmad saat perpisahan sekolah kemarin juga terlihat acuh, sibuk dengan teman – teman seperjuangannya memburu kampus yang sama. Arif ? Dah sejak lepas OSIS kami hampir ga pernah komunikasi. Meskipun sekelas tapi kami terasa sangat jauh. Amal yang biasanya lumayan berisik juga jadi sepi, seperinya fokus dengan rencana kuliah. Apalagi Ismoyo yang super duper cool. Aku akan sendiri di sana, Cuma melihat keramaian tapi tidak hadir di dalamnya. Ah, pasti akan sangat menyebalkan.

 Ama merapikan mejanya, bersiap untuk segera pulang. Ada selembar kertas terselip di mejanya. Kertas dengan warna merah muda yang manis, berhias pita merah yang tampak memesona. Dengan ragu ia mengambilnya lalu membuka kertas itu dan membaca pesan di dalamnya.

Bismillah.

Ama, selamat ya atas prestasi anti.

Afwan ana ga bisa kasih hadiah selain doa, semoga kelak saat kuliah nanti anti bisa terus meraih prestasi gemilang. Doakan ana agar bisa sukses juga. Lancar kuliahnya dan seterusnya hingga ana bisa cepat siap memantaskan diri dan kita bisa merajut kisah seindah cerita cinta Fatimah dan Ali.

Arif.

Pertemuan Kita Di Suatu Hari

Menitiskan Ukhwah Yang Sejati

Bersyukurku Ke Hadrat Ilahi

Di Atas Jalinan Yang Suci

 

Namun Kini Perpisahan Yang Terjadi

Dugaan Yang Menimpa DiriB

ersabarlah Di Atas Suratan

Ku Tetap Pergi Jua


Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku

Dalam Doa Kudusku Sepanjang Waktu

Ya Allah Bantulah Hamba Mu


Mencari Hidayah Daripada Mu

Dalam Mendidikkan Kesabaranku

Ya Allah Tabahkan Hati Hamba Mu

Di Atas Perpisahan Ini


"Teman Betapa Pilunya Hati Menghadapi Perpisahan Ini.Pahit Manis Perjuangan Telah Kita Rasa Bersama. SemogaAllah Meredhai Persahabatan Dan Perpisahan Ini. TeruskanPerjuangan"


Kan Ku Utuskan Salam Ingatanku

Dalam Doa Kudusku Sepanjang Waktu

Ya Allah Bantulah HambaMu


Senyuman Yang Tersirat Di Bibirmu

Menjadi Ingatan Setiap Waktu

Tanda Kemesraan Bersimpul Padu

Kenangku Di Dalam Doamu

Semoga Tuhan Berkatimu

 

Doa perpisahan - Brother

 

Bibir Ama melengkung ke atas usai membaca pesan. Seulas senyum terukir di bibirnya. Ama hanyut dalam rasa hingga tak sadar ada Ahmad yang berdiri tepat di hadapannya.

“Ciyee, ada yang lagi hepi kayanya nih.”

“Ish Ahmad, apaan sih ?” Ama berusaha menyembunyikan semu merah di pipinya.

“Ma, congrats ya. Ga sia – sia ya, jutek sepanjang tahun demi prestasi yang T.O.P.B.G.T.”

“Iya, makasih Ahmad. Kamu juga keren prestasinya, barokallohulakum. Emang aku jutek ya?”

“Nggak ko, kamu baik dan ramah seperti namamu. Ya ampun Ama. Loe tuh ga sadar diri banget. Loe bener – bener berubah setahun ini. Jadi lebih diem. Galak sih nggak, Cuma dingin aja, gue jadi bingung, takut ada salah sama loe.”

“Masa iya ?”

                Bukankah mereka yang berubah ? Ahmad seolah menjauh tak seperti biasa, rajin menyapa dan sesekali menelpon ke rumah. Arif juga setelah lengser seolah tanpa kata. Teman – temanakhwat juga tak seceria biasanya. Hufft, ini sebenarnya siapa yang berubah sih, mereka atau aku ? Hmmm, apa karena perjanjian dengan ka Rio aku jadi berubah ya? Entahlah. Ama.

“Udah deh, Ama, yang penting sekarang loe dah balik normal, hehehe. So, kita bakalan jarang ketemu nih. Jadi sedih, hiks.”

“Ahmad, behave ...”

“Hehehehe, iya iya Ama. Mumpung kamu lagi hepi. Trus kamu jadi ngampus di mana ?”

“As you know, Jakarta. Ke Depok aja ga ada izin.”

“Yang terbaiklah pokoknya. Eh, Ma, hmmm ...” Ahmad menggaruk kepalanya yang kini terlihat plontos.

“Apa?”

“Anu?

“Apa?”

“BFF kan?”

“Ahmad, kamu kenapa sih ?”

“You and me, BFF right ?”

“Yes, insya Allah ...”

“Alhamdulillah. Aku padamu, Ma.”

“What ?”

“Nothing. Just kidding.”

“Well, okay. Dah ya, aku mau pulang.”

“Ikut ga? Sekalian bareng sama anak – anak, mumpung aku bawa roda empat.”

“Ga ah, makasih. Sungkan aku sama mereka.”

“Berarti kalo nggak sama mereka mau, dong ?”

“Ya nggaklah, malah parah berduaan. Ingat ...”

“Yang ketiganya setan, hehehe.”

“Nah, tuh tahu. Ya udah, hati – hati Ahmad. Terima kasih untuk semuanya. You’re my best friend.”

“Okay, you too, see you in pelaminan, eh.”

“Dasar Ahmad”

Masih dengan senyum yang menghias wajah, Ama melangkahkan kaki untuk segera menuju rumah. Hari yang sangat membahagiakan sekaligus menyelipkan rasa sedih di hatinya. Hari ini, terakhir ia bersama dengan teman putih abu. Semua canda, tawa, suka dan duka berakhir di sini. Sekarang semua hanya tinggal kenangan. Selanjutnya mereka akan bersiap menapaki masa depan.

Lambat Ama mengayunkan langkah, seolah enggan mengakhiri semuanya. Disusurinya setiap jengkal sekolah dengan perasaan yang entahlah. Ditatapnya mushola yang bercerita banyak tentang dirinya, ketoprak yang pasti akan selalu dirindunya. Mata Ama kian terasa menghangat, butiran air seolah mendesak untuk merangsek keluar dari dua bola matanya yang indah. Sekretariat ROHIS, saksi bisu derai air mata para akhwat seperjuangan. Ruang OSIS, ah ... oksigen terasa kian menipis. Semua rasa menyesakkan dada. Semua kenangan berloncatan memenuhi pikiran. Duhai Allah, gedung ini seolah menawanku untuk terus berada di sini. Dear sekolah, terima kasih atas kebersamaan yang indah. Dear all, aku pergi.

Saat tiba di rumah Ama menemukan bucket bunga berdampingan dengan sebuah boneka dengan sekotak coklat tergeletak di meja kamarnya.

“Itu tadi ada kurir yang antar, dari pengagum rahasia Ama katanya. Siapa sih, Ma? Sejak kapan kamu punya pengagum rahasia ?” ibu menjelaskan saat Ama menanyakan perihal barang asing di kamarnya.

                Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Ama segera menuju kamar dan meraih kartu ucapan yang melekat di bucket.

Dear calon istri, selamat ya atas kelulusannya. Selamat menempuh status baru sebagai istriku, eh sebagai calon mahasiswa.

Yang selalu merindumu,

Rio*

Dear diary, Alhamdulilah hari ini aku resmi jadi pengangguran, eh pejuang PTN deng, hehehe. Alhamdulillah prestasiku juga membanggakan, mudahan aku bisa diterima di PTN kelak. Hari ini sangat berwarna, Di .. rame rasanya kaya nano – nano. Di, ternyata sedih ya ga jadi anak SMA lagi. Dulu waktu lulus SMP rasanya seneng banget, kenapa sekarang ko ada rasa ga rela gitu ya ?

                O iya, Di. You know what ? banyak yang nembak aku hari ini. Ada yang langsung, ada yang serius ada juga yang sok becanda. And you know ? yang ga aku sangka itu si Arif, ya ampun aku beneran ga nyangka. So sweet banget. Di, aku hepi tapi sekaligus sedih, aku ... ah, entahlah.

Alhamdulillah, terima kasih Allah atas segala karuniaMU hari ini. Bye Di, bentar lagi kita ngampussss.

 

*tbc*

Selasa, 17 November 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Kamu pilih kampus mana ?

 

                Kedatangan Nyonya Wiguna yang adalah mamanya Rio membuat kehidupan Ama berubah. Kedatangan tamu yang tak diduga itu berlanjut dengan kesepakatan antara Rio dengan Ama bahwa Ama akan mengikuti permainan selama membawa pengaruh positif terhadap kesehatan nyonya Wiguna. Permaia selesai jika dokter menyatakan nyonya Wiguna sembuh dari sakitnya.

“Ama, terima kasih kamu mau mengikuti mama untuk menerima cincin dariku.”

“Iya, ka. Semoga dengan ini mama akan jadi bahagia dan kesehatannya bisa pulih kembali. Jadi aku bisa bebas dari semua ini.”

“Maafkan saya telah melibatkan kamu dalam masalah saya.”

“Iya, ka. Tolong penuhi janji kakak untuk tidak masuk dalam kehidupan saya setahun ke depan, karena saya ingin fokus belajar. Kelas 3 ka, waktunya ujian dan menentukan studi selanjutnya.”

“Iya, mama juga sudah tenang setelah cincin yang sengaja ia desain dan dipesan khusus untuk Ama, telah melingkar indah di jarimu. Insya Allah kaka juga akan bertolak ke Bandung satu sampai dua tahun ke depan. Kita saling mendoakan ya, semoga sukses studi kita semuanya.”

“Aamiin. Aku juga doakan semoga ka Rio mendapat kekasih eh calon istri beneran yang sesuai keinginan ka Rio, bukan atas desakan mama.”

Aku ga perlu lagi Ama, kan sudah ada kamu. Kamu ga ngerti ya, kalau aku ini beneran suka sama kamu dan serius ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidup. Semoga cincin itu tetap melingkar di jarimu hingga engkau tahu tentang semua rasaku.

“Ka, halo ?”

“Eh, iya. kalau soal itu ga usah risau. Pilihan mama pasti baik untuk saya. Jadi doanya semoga kita beneran bisa disatukan dalam janji suci suatu hari nanti.”

“Ka’ kita kan sudah pernah bahas hal ini ?”

“Iya saya tahu. Dan endingnya kamu mau menerima cincin itu setelah sholat istikhoroh kan ? Ama, saya memang tidak sholih seperti teman – teman ikhwanmu di ROHIS. Saya jauhlah kalau dibandingkan sama Ahmad, Arif, Is...”

“Cukup, kak. Kita kan sudah sepakat untuk fokus pada kesembuhan mama. Jadi ga usah melebar kemana – mana.”

“Tapi Ama, kamu kan pernah bilang untuk tidak berpacaran, bahwa kamu hanya akan menerima laki – laki yang serius mengajakmu menikah. Dan itu yang telah saya lakukan.”

“Iya tapi ga jual nama mama segala kali, ka.. udah deh, kita tetap pada kesepakatan awal atau kita batalkan saja semuanya.”

“Oh, tidak, jangan Ama ... saya mohon maaf kalau terlalu memaksa. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,”

‘Sama – sama. Ingat ya, kak perjajian kita. Permainan selesai jika dalam setahun ke depan tidak ada hal yang mengganggu kesehatan mama.”

“Oke”

“Assalamu’alaikum”

“Assalamu’alaikum Ama, selamat belajar ya, sukses buatmu. Salam buat ibu.”

Tuuuuut.    

                Usai meletakkan gaganng telepon, Ama segera berlalu menuju kamarya. Di raihnya buku diari yang setia merekam segala cerita dan keluh kesah diri.

Dear diary,

Aku tuh ga nyangka banget bisa terjebak dalam situasi kaya gini. Benarkah apa yang sudah aku lakukan ? Aku ga mau membohongi mama, tapi aku juga ga tega kalau harus menolak permintaannya. Melihat binar di matanya, ah rasanya kejam sekali kalau aku harus menghadirkan kabut di mata renta itu. Kenapa harus aku ?

Ka Rio, kenapa kamu harus menaruh rasa padaku ? Kenapa kau seberani itu ? Kenapa aku tidak menerima ka Rio, Di ? Tell me why ? Bukankah apa yang ka Rio lakukan ga ada yang melanggar prinsipku selama ini ya ? Apakah hati ini sudah terlanjur terisi dan mengharap yang lain ?

Kenapa bukan ka Rio ? Karena dia bukan anak ROHIS ? Bukankah dia sudah mulai rajin ikut halaqah ? Untuk mengimbangi diriku, begitu katanya. Bahkan terakhir aku mulai lihat ada jenggot yang mulai tumbuh di dagunya, menggantikan kumis yang biasanya menghias bibirnya.

Tidakkah hatiku bisa menerima kesungguhan yang ditunjukkan ka Rio ?

Duhai hati, apakah sudah ada yang mengisi setiap sudutmu ? Kamu tahu, Di ? Tiba – tiba aku merasa ga enak sama Ahmad. Melihat kebaikan dan ketulusannya selama ini, aku pernah berjanji untuk menjaga hati ini untuknya, menutup rapat, tidak mengizinkan siapapun untuk masuk hingga Ahmad siap menjadikanku sebagai pendampingnya. Apakah karena itu aku ga bisa menerima kehadiran ka Rio ?

Tapi kenapa saat Arif menyatakan bahwa usai memantaskan diri, pada saatnya nanti, ia akan memintaku untuk menjadi pendampingnya, seperti ada bunga bermekaran di taman hatiku ? Apakah kebersamaanku dengannya mengubah janjiku untuk Ahmad ? Astaghfirullah.

                Oh iya kemarin waktu ngobrol di kelas, Ahmad nanya aku mau pilih kampus mana. Jujur, aku belum punya pilihan. Ibu tidak mengizinkan aku kuliah di luar Jakarta, jadi terbatas sekali pilihannya. Padahal rasanya mau juga ngerasain jadi anak kos.

Teman – teman semua sepertinya sudah punya jurusan yang akan dituju, aku aja yang masih belum jelas. Entah, rasanya sekarang jadi malas untuk memikirkan kuliah, rasanya ingin istirahat saja. Berharap setahun cepat berlalu, kondisi mama baik dan sehat lalu aku bisa meraih kebebasanku lagi, hehehe.

                Ah, sudahlah yang penting berusaha lulus dengan baik dulu. Sudah ada teguran dari wali kelas tentang nilai beberapa mata pelajaran yang sempat turun. Bersyukur amanah di OSIS tinggal beberapa pekan lagi. Lepas LPJ dan serah terima plus pelantikan pengurus baru, selesai sudah semuanya. Selesai ? wah, ga bisa sering – sering ngobrol sama ketua lagi dong. Aduh, ko tiba – tiba jadi merasa kehilangan.

Astaghfirullah. Amaaaaaaaa... jaga hati. Istighfar  

 

Ada puisi nih, simak ya.

SIKSA KARUNIA

 

Tuhanku,

Dalam hening malam aku menghadapMU

Sendu, sunyi sahdu

 

Tuhanku, ada rasa terselip dalam dada

Begitu saja tanpa suara

Rasa yang menggelora namun membekukan jiwa

 

Tuhan, jika rasa ini adalah karunia

Mengapa lebih terasa sebagai siksa

Atau memang apa yang terasa

Bukanlah karunia ?

 

Dah ya, Di ... lanjut ngerjain PR. Thanks and see you.

 

 

Senin, 16 November 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama (3)

 

                Setelah melalui hari yang lumayan melelahkan, akhirnya Ama bisa kembali pulang ke rumah yang menjanjikan kenyamanan. Bayangan untuk segera beristirahat dan bermanja bersama ibunya sudah berlarian dalam pikirnya, membuat ia mempercepat langkah menuju rumah.

“Assalamu’alaikum.” Sesampainya di teras rumah, Ama langsung mengucapkan salam.

“Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh. Nah ini yang ditunggu sudah pulang.” Jawab ibu yang langsung menyambutnya di pintu. Ama yang tengah melepas sepatu tampak heran dengan ucapan ibunya.

“Yang ditunggu ? Siapa, bu ?”

“Udah ayo sini masuk.” Ibu segera menarik tangan Ama untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan tanya dalam diri Ama.

                Keanehan sikap ibu terjawab saat Ama masuk ke dalam rumah. Tampak duduk di ruang tamu ka Rio bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak lain adalah mamanya ka Rio. Dengan canggung Ama mencium punggung tangan perempuan paruh baya di hadapannya, seperti komando ibunya.

“Ama, bu.” Sapanya berusaha mengusir rasa canggung.

Tak disangka, perempuan paruh baya itu meraih kepala Ama dengan kedua tangannya lalu mengecup dahi Ama, membuat Ama semakin salah tingkah. Perempuan paruh baya masih meraih pipi Ama, membuat pandangan mereka bertemu. Tidak ada pilihan bagi Ama kecuali berusaha menghadirkan senyum di bibirnya.

“Cantik ... Rio pandai cari calon istri.” Ucapnya seraya mengelus pipi Ama dengan kedua ibu jari.

What ? Ya Allah, apa ini ? Rio ? Calon istri ? Apakah ini mamanya ka Rio ? Tapi bukankah sedang dirawat, kenapa bisa sampai sini ? Astaghfirullah. Ama.

“Udah, mah ... kasihan Ama jadi bingung.” Ucap ka Rio lembut seraya menarik tangan mamanya yang masih menempel di pipi Ama.

“Oh iya, sampai lupa, maaf Ama, kamu pasti jadi bingung.”

“Iya, ga papa bu. Saya ga enak aja baru pulang sekolah, masih bau keringat, maaf ya.”

Semua yang berada di ruang tamu tertawa ringan, Ama segera duduk di samping ibunya.

                “Saya minta maaf sama Ama karena tanpa konfirmasi langsung datang ke sini.” Ka Rio memulai pembicaraan.

“Jadi semalam, setelah saya perlihatkan foto Ama, sekali lagi saya mohon maaf karena tidak izin mengambil gambar kamu, kondisi mama berangsur membaik sampai akhirnya dokter mengizinkan mama untuk rawat jalan. Dan siang tadi diperbolehkan pulang. Ini kami langsung ke sini dari rumah sakit, mama yang minta.”

Aduh ya Allah ... Ama harus jawab apa ??? Huhuhu mau nangis rasanya ini. Ayolah bu, jangan senyam – senyum ajah.

“Iya, mama minta maaf ya sama mama juga ibu karena mendadak datangnya. Mama Cuma ingin memastikan kalau Rio itu beneran sudah punya calon. Kalau sudah tahu kan enak, betul, bu ?”

“Eh iya, iya, bu ...” ibu menjawab seraya melirik ke arah Ama yang sedang sibuk mengukur lantai.

“Berhubung Ama masih sekolah, Rio juga masih harus menyelesaikan S2, bagaimana kalau kalian tunangan saja dulu ?”

Whaaaaat ???? Demi apa? Astaghfirullah. Aku harus jawab apa ? Jawab iya untuk membuatnya senang dan mengabaikan perasaanku atau jawab tidak untuk memenangkan diriku dan membuatnya sakit lagi ? Ya, Allah ... Astaghfirullah. Teman-temanku, help me. Pupu, Nunun, Zulfa, Ahmad, Amal, Arif ... aku masih mau main, mengejar cita – cita, belum mau terjebak dalam ikatan suci. Ya Allah ampuni Ama, bantu Ama, huhuhuhuhu.

                Melihat Ama kian tertunduk, ibu paham bahwa putrinya sedang dilanda kegalauan.

“Hmmm, mohon maaf sebelumnya, soal tunangan apa tidak terburu – buru ya, bu ? Bagaimana kalau kita serahkan pada anak – anak setelah mereka melakukan sholat istikhoroh, bu ?”

“Ya nggak terburu – buru, bu. Kecuali kalau saya minta mereka menikah sekarang itu baru terburu – buru, iya kan ?”

Ama tersenyum miris mendengar pernyataan calon mertuanya, ingin rasanya ia teriak tapi tak mampu melukai perempuan paruh baya yang sedang tampak bahagia itu. Diliriknya Rio yang tengah menatapnya. Dikirimnya padandangan tajam yang menusuk bersama sebuah pesan ‘how could you’.

                Mengerti dengan tatapan Ama, Rio segera mengendalikan suasana dan membujuk mamanya.

“Ma, kan tadi mama dah janji hanya mau ketemu dengan Ama, ga lebih. Jangan memaksa Ama ya, ma... nanti kalau dia ngambek terus ga mau lagi sama Rio gimana ? Mama juga yang akan menyesal nanti. Ya udah, Ma ... karena sudah sore, Ama juga baru pulang dan perlu istirahat, kita pulang ya. Mama juga kan masih harus banyak istirahat kata dokter.”

“Oh iya iya ... mama kelewat senang soalnya, Rio. Mama suka sekali lihat Ama. Kamu sih diam – diam aja, ga pernah kenalin Ama.”

“Iya, ma ... maafkan Rio. Kita pulang ya.”

 

***

                “Ciyeeeee yang baru disambangi calon mama mertua.”

“Diem ah...” Ama segera meninggalkan kakak kesayangan yang masih bersiap menggoda, namun ibu memberi isyarat agar Ama dibiarkan sendiri dulu.

Masih dengan rasa tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi, Ama masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya masih berusaha mencerna kejadian yang sama sekali tidak ia duga akan terjadi.

“Ma.”

“Ya, bu.”

“Boleh ibu masuk ?”

“Masuk aja.”

Ama menarik tubuhnya untuk duduk di kasur lalu bersandar di dinding kamar. Diterimanya segelas coklat hangat yang dibawa ibu.

“Rasanya seperti mimpi ya.”

“Iya, bu ... mimpi apa ya semalam ?”

“Rio terlihat sangat berbakti pada mamanya, gagah dan enak dilihat.”

Ama melirik ke arah ibunya, lalu bertanya menyelidik, “Jangan bilang kalo ibu tertarik sama ka Rio.”

“Hehehe, hanya menyampaikan apa yang ibu lihat ...”

“Dia itu menyebalkan. Selama ini ga ada teman cowok yang berani main ke rumah tanpa seizin Ama. Lah, dia seenak udel. Teman bukan, tahu – tahu ngajak ibunya ke sini, segala ngajak tunangan lagi.” Cerocos Ama mengeluarkan gundah hatinya.

“Kalau emang jodoh, gimana, hayo ?” tiba – tiba sang kakak idola masuk kedalam kamar dan menyela pembicaraan mereka.

“Nyamber aja sih, kaya bensin.” Dengus Ama.

“Loh, kalau bukan jododh terus apa namanya ?” elak sang kakak

“Sumpah ini cerita cinta yang keren dan unik”, sambungnya lagi.

“Tau ah” seru Ama seraya melemparkan guling ke arah kakaknya.

“Stop pembahasannya sampai di sini, lanjut nanti setelah Ama sholat istikhoroh, sekarang mau mandi dulu.”

Selasa, 01 September 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama (2)

 

                Penuh enggan, Ama meraih tumpukan buku dan membawanya ke atas kasur. Alunan nasyid masih setia membersamai, tapi kali ini Ama memilih nasyid bertema cinta, biasanya pilihan Ama selalu pada nasyid yan menghentak, nasyid harokah ia biasa menyebutnya.

“Ma, masih banyak PRnya ?” ibunda Ama yang masuk ke dalam kamar dan duduk disisinya.

“Lumayan, bu. Ini baru megang satu, hehehe. Sisanya masih dalam tas belum dikeluarin.” Jawab Ama menerangkan.

“Tumben ke kamar ga bawain cemilan, bu, hehehe” lanjutnya.

“Cemilan hari ini kan bubur kacang ijo, tadinya ibu mau ajak kamu makan bareng.”

“Ayolah....” ajak Ama seraya melingkarkan tangan di pinggang ibunya.

                Tak lama kemudian, Ama dan ibunya tengah asik menyantap semangkuk bubur kacang ijo yang masih mengepulkan asap panas.

“Ma”

“ya, bu.”

“Maaf tadi ga sengaja ibu dengar waktu kamu ngangkat telepon dari Rio. Kamu bilang berkali – kali nggak bisa, emangsi Rio minta apaan sih?”

Ama menghentikan operasi graham dan serinya. Diambilnya segelas air putih dan meneguk hingga tersisa setengah.

“Oh, itu. Mmmmh, ka Rio aneh.”

“Aneh gimana?”

“Masa Ama disuruh pura – pura jadi calon istrinya.”

“Hah, ko bisa?”

“Jadi katanya mamanya ka Rio tuh lagi dirawat, kena serangan jantung. Pas siuman dia minta anak kesayangannya yang ga laku – laku itu buat bawa calon istri.”

“Trus kamu yang diminta gitu?”

“Uhum.” Ama mengangguk kepala sementara mulutnya penuh terisi bubur.

“Lah...”

“Nah, aneh kan ?”

“Trus kamu mau ?”

“Ya nggak mau lah. Masa iya pura – pura di hadapan orang sakit. Kan itu bohong namanya.”

“Kalo ibuya Rio sampai kecewa terus tambah sakit dan akhirnya lewat, loe bertanggung jawab loh, Ma.” Iba – tiba mas tersayang muncul dengan semangkuk bubur di tangan.

“Apaan sih, mas? Baru dateng dah nyamber aja kaya bensin.”

“Dari tadi gue dah denger, cuma tanggung mau ikutan. Lagian loe cuma nolongin orang gitu aja susah banget. Rio kan ga ngajak kawin, Ma. Cuma pura – pura jadi calon untuk membuat mamanya senang, dengan harapan bisa membuat ia sehat kembali. Bukan gitu, bu?”

“Iya sih, tapi kan Ama punya prinsip juga, ga mau berbohong. Dia kan biasa jujur.” Ibu menengahi.

“Tuh denger.”

“Kalo ga mau bohong ya beneran aja, jadian gitu. Kan pas toh. Ama ga mau pacaran. Ni ada yang lagi nyari calon istri. Pas mantab pokoknya, hahahah.”

“Bodo”, jawab Ama kesal.

Dan seperti biasa mereka berdua terlibat perang mulut yang membuat ibu geleng – geleng kepala.

“Sssst, udah udah. Kalian tu, udah pada gede kelakuan masih aja kaya anak kecil. Soal ini biar Ama memutuskan. Kan dia bisa sholat is... isti...”

“Istikhoroh, Bu.”

“Nah, itu. Cuma ya kalau ibu sih setuju dengan pendapat masmu. Tujuan kita hanya menolong, bukan bohong.”

“Nah, apa kata mas?” ucap kakaknya Ama seraya menepuk dada yang dibusungkan.

                Drama makan bubur berakhir dengan bahagia, hehehe. Semua kembali ke kamar masing – masing dengan kegiatan yang berbeda. Tentu saja Ama masih harus menyelesaikan beberapa PR yang sudah menunggunya. Rasa kantuk kembali menyapa tepat saat Ama menyelesaikan PR terakhirnya. Tanpa sempat merapikan meja belajar, Ama terkalahkan oleh kantuk yang menyergap.

 

***

                Ulangan Fisika di jam pertama membuat seisi kelas dua tiga mengawali pagi dengan wajah yang serius. Dua pertiga penghuni kelas sudah memenuhi ruangan meski saat itu jarum jam baru menunjuk pukul enam tiga puluh lima, tersisa sepuluh menit sebelum bel berbunyi. Ama mempercepat langkah agar segera tiba di kelas.

“E ciye ciye yang baru bulan madu, sekarang berduaan terus nih”

Terdengar suara sumbang seperti sedang menggoda. Merasa bukan ditujukan untuknya, Ama tidak menggubris hal itu.

“Ma, ih, sombongnya, mentang – mentang deket Arif.” Suara sumbang kembali terdengar. Merasa namanya disebut, Ama yang sedang menaiki tangga menghentikan langkah lalu memutar tubuhnya. Dilihatnya Arif berjarak tiga anak tangga dengannya. Sementara tepat di bawah tangga ada Tri yang sedang berdiri dengan mimik menggoda.

Astaghfirullah ya Allah, bantu Ama.

“Loe ngomong sama gue ?” tanya Ama seraya menuruni tangga melewati Arif yang juga terdiam menghentikan langkah.

“Ngomong apa barusan ?” sambung Ama saat tepat berhadapan dengan Tri. Siswa bertubuh gempal yang masih mengumbar mimik menggoda.

“Ya elah, Ma. Serius amat. Gue kan Cuma nomong fakta aja. Tuh buktinya masih nempel di mading.” Jawab Tri seraya menunjuk mading sekolah.

“Ya serius lah. Yang loe sebut tadi sangat tidak sesuai fakta. Sayang gue ada ulangan jam pertama. Ntar istirahat gue tunggu loe di kelas.” Ama segera berlalu meninggalkan Tri yang masih terkesima dan terus saja menggoda. Ia abaikan pendengarannya juga Arif yang hanya mampu menatap.

                Pagi – pagi ada aja masalahnya. Aduh pengen banget rasanya nabokin mulut si Tri. Ya, Alloh, kalau ga ada jilbab ini mungkin dah habis itu Tri aku tamparin. Astaghfirullah. Tenang Ama, ujian Fisika di depan mata. Fokus. Ama.

                Foto apa sih yang ditunjuk Tri tadi ? Baru sehari ga masuk sepertinya ketinggalan banyak cerita. Apa sih maksud ucapan Tri ? Apa turun lagi ya, lihat ada apa di mading. Turun lagi aja deh. Arif

Arif memutar tubuhnya. Ia kembali menuruni anak tangga. Masih dilihatnya Tri berdiri d bawah tangga seperti semula.

“Foto apaan sih Tri ?”

“Loe ga tahu ?” tanya ri seraya menarik tangan Arif menuju mading sekolah.

“Nih lihat deh.”

                Arif memerhatikan foto yang ditunjuk Tri. Lalu berusaha menenangkan diri agar bisa bereaksi dengan santai.

“Oh, ini kan foto pas raker kemarin. Cepet amat sudah publish di mading.”

“Iya. Loe sekalian bulan madu sama si Ama yang galak itu? Keren banget loe. Diem – diem maut, hahahaha.”

“Antum ini ... biasa aja itu, ga ada yang istimewa. Masa iya bulan madu ngajak rombongan.”

“Ya kali nyambi.”

Sambil berjalan meninggalkan mading, Arif menjelaskan peristiwa di balik foto yang baru saja mereka lihat bersama. Dihiasi tawa khas kaum Adam, tidak ada ketegangan, hanya derai tawa.

“Oke deh Arif, ntar istirahat gue ke dua tiga, minta maaf sama wakilmu yang galaknya ampun – ampun, hehehe.”

“Sip. Assalamu’alaikum.”

Mereka berpisah di lantai dua tepat saat bel masuk berbunyi. Arif melanjutkan langkahnya memasuki ruang kelas dua tiga sementara Tri terus menaiki tangga menuju lantai tiga.

                Jam pelajaran Fisika di kelas dua tiga resmi dimulai saat sang Guru membagikan lembar soal ujian. Sejurus kemudian semua siswa tampak menikmati hidangan pagi itu. Hening. Sesekali hanya terdengar suara batuk beberapa siswa menggema di ruang kelas yang luasnya tidak seberapa.

Waktu yang tesedia terasa masiih kurang sepertinya. Nyaris seisi kelas berteriak saat bel tanda jam pelajaran usai berbunyi.

“Ma”

“Iya, Rif.”

“Tadi ana sudah bicara sedikit sama Tri soal foto di mading. Sepertinya dia paham kalau kesimpulannya keliru. Dia bilang nanti istirahat mau ke sini dan minta maaf sama anti.”

“Oh, baguslah kalo dia dah paham.”

“Iya, Alhamdulillah. Anti kenapa ga cerita sama ana soal foto ini ? Semalam kan ana telepon untuk nanya kabar ?”

“Ya ga merasa perlu aja. Lagian kan kamu masih sakit, takut jadi pikiran. Dan sekarang kamu juga dah tahu. Ya itu masalah yang akan kita hadapi sekarang, soal foto.”

“Gitu ya. Insya Allah ana siap menghadapinya. Anti gimana ?”

“Ya harus siap lah. Mau gimana lagi ?”

“Insya Allah. Bismillah ya. Tapi jangan galak – galak kaya di tangga tadi, bisa ?”

“Lihat aja nanti, ga janji.”

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama

 

                Ama segera berlari dan menutup pintu kamarnya, menghindari kejaran sang kakak yang siap kembali menoyor dirinya. Tak lama berselang adzan maghrib berkumandang. Ama menunaikan sholat Maghrib berjamaah dengan ibunya, sementara kakak dan bapaknya pergi ke mushola yang tak jauh dari rumah. Seperti biasa agenda setelah sholat Maghrib adalah tadarus bersama hingga menjelang Isya dan ditutup dengan sholat berjamaah.

                Setelah menunaikan rangkaian ibadah, Ama melanjutkan kegiatan di kamar, menyelesaikan PR ditemani alunan nasyid kegemaran.

“Ma, ada telepon nih.” Panggil ibunya tepat saat Ama sedang membuka buku tugas Matematika.

“Iya, Bu.” Jawabnya seraya melangkah menuju pesawat telepon.

“Dari Arif”, terang ibu menyerahkan gagang telepon.

“Asalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam, Ama.”

“Iya, Rif, ada apa ?” tanya Ama tanpa basa – basi.

Ama ko ga tanya keadaanku ya? Kan tadi aku ga masuk karena sakit. Masa dia ga kepikiran tanya kabarku sih ?

“Anti apa kabar, Ma?”

“Alhamdulillah ngantuk.”

“Afwan tadi ana sakit jadi ga bisa masuk sekolah.”

“Oh iya ya tadi Ismoyo bilang kamu sakit. Sakit apa sih ? Dah enakan belum ?”

“Alhamdulillah cuma asam lambung aja sedikit naik. Kata dokter kalau malam ini ga ada perubahan besok ana harus dirawat.”

“Syafakallah. Moga ga harus dirawat ya, Rif.”

“Aamiin. Ana mau nitip OSIS kalau sampai ana dirawat ya.”

“Nggak mau.”

“Loh, kok gitu ?”

“Ya nggak mau, karena aku maunya kamu ga dirawat jadi ga usah nitip OSIS. Kan asik kalau sehat.”

“Iya, ana juga maunya gitu. Tapi kan jaga – jaga aja.”

 “Oke bos, siap laksanakan tugas. Btw dah nelpon Nunun ?”

“Belum.”

“Ketua satu ?”

“Belum juga. Emang kenapa mereka ?”

“Ya kali nitipin OSIS juga.”

“Hehehehehe, sama anti aja nitipnya. Ga berani ana nelpon yang lain, takut salah paham.”

“Oh, ya udah. Ada lagi yang mau disampaikan ?”

“Hmmm”

“Klo ga ada jangan dipaksain, soalnya aku mau ngerjain PR yang seabrek.”

“Banyak banget ya PR hari ini ?”

“Lumayan sih. Udah orang sakit mah istirahat aja, ga usah segala mikirin PR. Sembuh nggak makin parah iya. Dah tidur sana dah malam nih. Jangan – jangan belum minum obat lagi.”

Loh, ko kamu tahu, Ma ? Males banget minum obat yang pahit rasanya. Mau makan juga nggak masuk dari tadi. Tapi kalau kamu yang suruh, aku paksakan deh untuk makan dan minum obat.

“Rif?”

“Iya. Belum Ama. Makan juga belum bisa banyak nih.”

“Coba pelan – pelan. Sedikit – dikit ga papa, yang penting ada asupan yang masuk. Obat jangan lewat. Apa perlu aku pelototin nih ?”

Hore ... iya, mau Ama. Mau banget.

“Ga perlu juga sih. InsyaAllah setelah nelpon ana makan dan minum obat. Tapi anti janji nitip OSIS ya.”

“Kan dah ku kateu ...”

“Gitu dong. Ya udah, terima kasih.”

“Sama – sama. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh. Yah, Ama kenapa ditutup, kan aku yang telpon duluan, harusnya aku yang duluan mengakhiri pembicaraan. Terima kasih Ama, setelah dengar suara kamu rasanya sakitku berkurang, mudahan esok bisa sembuh lagi. Aamiin.    

                Saat meletakkan gagang telepon, Ama melihat secarik kertas memo. Rio, penting, telepon balik 08128101373.

Nomor HP ? Tumben ka Rio ninggalin jejak.Oh ya tadi kan mas dah ngasih tahu aku. Oke aku telepon sekarang.

Tuuuuuuuuuuuuuut

“Assalamu’alaikum, Ama.”

“Wa’laikum salam, ka ... Ada apa ya ? Sepertinya penting sekali.”

“Iya, sebentar saya telepon balik ya. Tutup dulu, oke ?”

Sambungan telepon terputus. Ama memenuh pikirannya dengan banyak tanya tentang apa gerangan yang terjadi.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing

“Ya”

“Ama”

“Hadir, ka”

“Maaf buat kamu menunggu dan bertanya – tanya.”

“Iya.”

“Jadi gini. Saya to the point aja ya. Dua hari lalu mama saya kena serangan jantung dan hngga kini masih dirawat di rumah sakit.”

“Iya, lalu?”

“Hmmm... beberpa kali siuman, ada satu pertanyaan yang selalu mama tanya ke saya. Soal calon pendamping hidup.”

“Teruus...?”

“Mama minta saya buat bawa calon saya untuk menjenguknya di rumah sakit. Padahal saya sama sekali belum punya calon.”

“Dan hubungannya dengan Ama ?”

“Saya mau minta tolong sama kamu.”

Hening

“Datanglah ke rumah sakit dan berpura – puralah ... menjadi calon saya.”

“Apa?”

“Saya benar – benar minta tolong Ama. Bantulah saya untuk membuat mama merasa tenang dan dengan itu dia bisa kembali sehat.”

“Tapi, kenapa harus aku? Teman kakak kan banyak, aku nggak bisa, kaka.”

“Teman saya memang banyak, tapi perempuan yang sesuai kriteria mama ga ada. Dan sepertinya kamu memenuhi kriteria mama.”

“Aduh ya ampun, plis deh ka Rio. Jangan posisikan aku seperti ini dong. Aku nggak bisa ka, nggak aku banget gitu loh, aku ...”

“Ama, pliiiiis. Sekali ini aja. Bantu aku buat mama senang dan kembali sehat.”

“Aku ga bi ....”

Tut tut tut. Sambungan telepon kembali terputus, sesaat setelah di ujung telepon terdengar suara seseorang memanggil ka Rio dengan “Tuan Rio”

                Ama bergegas meninggalkan pesawat telepon lalu menuju kamar. Masih bergelayut dalam benaknya soal permintaan Rio terhadap dirinya. Selera mengerjakan soal matematika yang masih setia menunggu seolah lenyap seketika. Dihempaskan tubuhnya ke atas ranjang, masih dengan pikiran yang sama. Satu jam kemudian Rio kembali menghubungi. Diceritakan bahwa tadi suster memanggilnya untuk konsultasi dengan dokter perihal perkembangan kondisi sang mama. Pembicaraan telepon berakhir dengan kegamangan dalam diri Ama. Setelah mengetahui bagaimana kondisi ibunda ka Rio, ia tidak bisa tegas menolak permintaan apalagi mengiyakannya. Ama berada dalam dilema.  

Sabtu, 15 Agustus 2020

 Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Sahabat yang tulus

 

Ama menyudahi pembicaraan telepon yang berlangsung sekitar dua puluh menit itu. Kini ia menekan nomor Ahmad, untuk menunaikan janji menjelaskan perihal foto di mading sekolah. Semoga Ahmad bisa memahami penjelasanku, bismillah.

Tuuuuuuuuuuuuuuuuuut.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam. Eh, Ama, katanya malam. Ini masih sore dah nelpon aja? Kangen pasti ni.”

“Gue lagi ga mood becanda, serius, Mad...”

Gue juga serius Ama. Dari pertama ngeliat lo gue tuh serius banget. Lo aja yang dinginnya kebangetan, ngalahin freezer kang daging.

“Mad”

Iya Ama sayang.

“Iya, Ama, maaf. Serius”

“Lo masih perlu penjelasan gue soal foto tadi ?”

“Iya.”

“Foto pertama yang di ayunan. Kejadiannya, saat itu aku sedang melantunkan dzikir di atas ayunan dan tiba – tiba ketos berdiri di sisi ayunan, dia mau mengingatkan bahwa kami ada meeting lima menit lagi. Saat itu seingatku, aku dalam posisi terkejut dengan kehadirannya, namun yang tercuplik dalam foto terlihat seolah aku dan ketos sedang bercakap – cakap dengan saling memandang.”

Hebat ya ketos ini. Gayanya aja sok kalem di sekolah. Di alam bebas muncul juga kelelakiannya. Modus pake segala ngedeketin ayunan, teriak aja kan bisa, bilang aja mau curi – curi kesempatan. Padahal kan yang mimpi Ama jatuh dari ayunan itu gue, kenapa dia yang praktek?

“Foto satu lagi di gazebo. Itu saat kami sedang koordinasi untuk persiapan presentasi. Karena jadwal padat, terpaksa kami lakukan di waktu sarapan. Dan karena ketos sudah membawakan piring makanku, aku merasa harus membalas dengan membawakan piring kami kembali ke ruang makan. Tapi kesan yang diberikan foto adalah aku seperti sedang “melayani’ sarapan dan kami tampak sedang bercengkrama hangat berhiaskan senyum.”

Kenapa juga si Ama segala mau dibawaiin sarapan ? Kan biasanya lo tuh paling anti nerima bantuan dari orang ? Apa iya semua beda kalau udah berhubungan sama sang Ketos. Apakah hatimu sudah tertawan, Ma?

“Halooooo, Ahmad ....”

“Hadir, Ma....”

“Gue kira lo tidur.”

“Nggak lah, serius gue dengerin lo. Boleh nanya ga, Ma? Tapi lo jangan marah ya”

“Emang lo mau nanya apa ? Kalaupun gue marah kan dah biasa, pake nanya lagi, kaya baru kenal kemarin aja.”

“Bukan gitu, lo kan lagi cape terus ada masalah foto, ya gue takut aje kena smack down macam si Bayu dulu.

“Hehehehe...masih inget aja lo.”

“Inget lah. Rame itu sampe kaka kelas juga tahu kelakuan lo. Ye kan ?”

“Iya sih. Bahkan alumni juga jadi kenal gara – gara peristiwa itu.”

“Alumni ?”

 “Iya, bang Rio yang pelatih taekwondo. Udah ah jadi panjang.Lanjut, lo mau nanya apa?”

Nanya. Enggak. Nanya. Enggak. Nanya. Eng...

“Ahmaaaad!”

“Eh iya, sampe lupa mau nanya apa, segala belok ke Bayu sih. Udah deh, intinya mah gue kenal lo. Gue tahu lo gimana, ketos kaya apa. Jadi gue cuma mau bilang kalo gue percaya sama penjelasan lo. Kalau ada apa – apa di sekolah nanti, gue iap bantuin lo buat ngadepin semua.”

Sorry Ama gue bohong. Banyak banget yang mau gue tanyain soal foto itu. Tapi gue tahu saat ini lo sedang perlu untuk dipercaya bukan diinterogasi. Gue ga mau malah jadi beban buat lo. Gue peduli sama perasaan lo, Ma.

“Gaya lu, Mad.”

“Serius gue ....”

Pake banget Ama .... gue beneran serius bakal jagain lo, belain lo. Ga akan biarin lo sendirian apalagi dalam kondisi duka seperti saat ini.

“Iye gue tahu lo serius.”

“Nah, sukur dah.”

“Mad”

“Ma”

“Makasih lo dah percaya sama gue.”

“Iya sama-sama.”

“Makasih juga lo mau dukung gue. Sejauh ini gue bisa ngerasain kalo lo tuh tulus sama gue. Ya Alloh, Ahmad, gue bersyukur banget punya sahabat kaya lo.”

What ? Fariiiiiiiiid one big step has done. Berhasil Farid. Gila lo bener – bener penasihat yang handal. Ama bilang kalau gue tulus sama dia. Yes!!! Sejauh ini gue berhail Farid, menata hati, menjaga agar rasa ini ga muncul seenak jidat. 

“Ahmad? Lo kenapa sih, ko sering diem gitu ? Ngantuk ?”

“Eh oh, nggak Ama. Maaf, gue Cuma terharu aja denger ucapan lo barusan. Bisa diulang? Ya kali gue ngimpi...”

“Kebiasaan.Ga ada siaran ulang!”

“Ahahahhaa... untung ada rekaman cadangan ini. Sejauh ini gue bisa ngerasain kalo lo tuh tulus sama gue. Ya Alloh, Ahmad, gue bersyukur banget punya sahabat kaya lo. Itu kan yang barusan lo bilang ?”

“Dah tau nanya. Udah ah, bentar lagi Maghrib. Pokoknya makasiiiiiiiih. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikum salam wa rohmatullohi wa barokatuh Ama ...

                Ada bunga yang tiba – tiba memenuhi rongga dada. Semerbak menumbuhkan rasa yang dijaga sepenuh jiwa. Senandung cinta kian membahana, meneriakkan bahagia juga sejumput asa.

“Ma”

“Iya, mas.”

“Tadi waktu kamu sholat Ashar ada telepon dari ... Aduuh siapa ya namanya, ko’ lupa.”

“Laki – laki atau perempuan ?”

“Cowok. Ada tuh nama dan nomor teleponnya mas catat di buku telepon.”

“Emang dia minta di telepon balik ?”

“Ya iya adikku yang lucu, pinter tapi kadang oon ... dikira ninggalin nomor telepon buat koleksi ? Cuma diliatin doang gitu ?” ujar kakak Ama sambil menoyor kepala adik semata wayangnya.

“Hehehehe, kirain.” Jawab Ama lalu melangkah menuju kamarnya.

“Ga ditelepon? Kali ada yang penting.”

“Ntar aja, bentar lagi adzan Maghrib. Makasih kakakku yang sok tenar dan sok pede.” Ama segera berlari dan menutup pintu kamarnya, menghindari kejaran sang kakak yang siap kembali menoyor dirinya.