Selasa, 28 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Halaqah cinta

                Menghadiri agenda mentoring seperti menjadi kewajiban bagi Ama. Ia merasa menemukan oase di padang gersang. Banyak pertanyaan yang selama ini bergelayut dalam hati dan pikirannya serta hanya sebatas mengisi rongga dada, seperti mendapatkan celah untuk disalurkan. Ama yang punya banyak tanya akan selalu bersemangat untuk menghadiri kegiatan ROHIS terutama agenda mentoring.
                Setelah enam bulan mengikuti mentoring, kini para anggota halaqah cinta itu kian saling mengenal satu sama lain. Ada Zulfa, yang tegas dan irit bicara. Sari yang pandai dan cepat menghafal. Octia yang kalem. Eva dan Rahmi yang selalu nempel macam perangko. Erma yang rendah hati. Icha yang ceria. Nunun yang anggun dan sangat perhatian. Pupu yang cantik juga bijak bestari. Haryani yang imut dan menggemaskan. Rini yang  gaul. Ada Ita yang kaleeeeeeeem bagai putri keraton juga Yuyun yang selembut kapas. Ada Euis yang supeer duper cuek, juga Deni yang manja. Dan tentu saja ada Ama yang penuh rasa ingin tahu. Karakter yang lengkap dan sukses memebuat mba Erna sang pembina sering merasa pusing tujuh keliling dengan tingkah mereka.
                Keakraban terasa kian bertambah saat mereka berepakat untuk melangsungkan halaqah cinta dari rumah ke rumah secara bergilir. Dengan begitu, mereka bisa saling mengenal keluarga masing – masing. Seperti saat ini, halaqah akan berlangsung di rumah mba Erna di Rawamangun, di bilangan Timur kota Jakarta. Satu per satu peserta berdatangan. Hampir semua peserta hadir tepat waktu, mengingat ada konsekuensi bagi yang datang terlambat. Kali itu, Ama datang 5 menit sebelum acara dimulai. Tepat jam 10 pembawa acara mulai membuka acara dan membacakan rangkaian kegiatan. Dilanjutkan dengan tilawah secara bergantian, lalu kultum dan menyetorkan hafalan Qur’an atau hafalan hadits bagi yang sedang berhalangan. Setelah semua rangkaian acara dilalui, tibalah waktu mba Erna untuk menyampaikan taujih.
...
Ba’da tahmid dan sholawat.
“Masih ada tiga orang yang belum hadir ya ?” tanya mba Erna
“Iya, mba. Eva, Rahmi dan Euis yang belum hadir.” Nunun sang sekretaris halaqah menjawab dengan lugas.
“Ada kabar dari mereka, Nun ?” Mba Erna melanjutkan tanya. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Nunun.
“Yang lain apa ada yang tahu kabar yang belum hadir ?”
Hening. Beberapa yang hadir tampak saling berpandangan. Sepertinya tidak ada seorangpun yang mengetahui kabar teman – teman mereka yang belum hadir.
“Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan saja ya. Hari ini materinya tentang adab berpakaian untuk muslimah.”
                Mendengar judul materi yang akan disampaikan Mba Erna, di kepala Ama hadir bayangan dirinya yang belum menutup aurat dengan sempurna. Ia masih menghadiri halaqah dengan kemeja panjang yang dipadukan dengan celana kulot panjang. Sementara untuk penutup kepala ia hanya mengenakan selembar kerudung yang hanya dipakai saat halaqah, dan dibuka kembali saat perjalanan menuju rumahnya. Di kelompok itu, semua peserta sudah mengenakan jilbab lebar. Deni, Eva dan Rahmi yang jilbabnya masih pendek. Sementara Ama, sama sekali belum berjilbab. Ia masih membiarkan rambutnya terbuka, bahkan ia juga masih mengikuti kelas renang di sekolah. Astaghfirullah Ama ... hayu atuh taubat.
                Usai menyampaikan taujih, Mba Erna mengembalikan acara kepada MC untuk memandu tanya jawab. Biasanya Ama menjadi yang pertama bertanya, tapi kali ini ia hanya merunduk. Membayangkan betapa bahagianya jika ia bisa mengikuti jejak teman - teman halaqahnya untuk menutup aurat dengan sempurna. Ia berusaha melera kerinduannya untuk bisa memakai jilbab.
“Ma, ga nanya?”, ujar Pupu seraya mendaratkan sikunya di lenngan Ama.
Yang ditanya hanya menggeleng tak bersemangat.
“Tumben ?” tanya Sari.
Dijawab dengan senyuman oleh Ama.
“Ama...”
“Iya, mba ...”
“Jadi kapan nih rencananya mau mulai berjilbab?”
“Insya Allah secepatnya, mba. Ini masih nabung  buat beli seragam, jilbab dan pernak – pernik lainnya. Doain ya semoga bisa narik arisan, hehehe,”
 “Kalau kamu mau pakai secepatnya, pekan depan juga bisa, Ma. Kan kami bisa bantuin kamu menyiapkan segala sesuatunya ?”, Zulfa berkomentar.
“Eh iya sih, tapi terima kasih. Aku ingin melakukannya sendiri, supaya lebih berasa perjuangannya. Bukannya menolak rezeki, tapi aku ga biasa meminta bantuan.” Jawab Ama.
“Ya, biasain lah. Kita kan keluarga, sudah sewajarnya saling membantu, ya, kan teman – teman ?” Yuyun menimpali.
“Iyaaaa” jawab mereka kompak.
“Terima kasih teman – teman. Tapi aku berharap kalian bisa memahami keinginanku. Doa – doa yang kalian panjatkan saja sudah cukup buatku. Insya Allah, paling lama saat kenaikan kelas nanti aku akan mulai berjilbab. Doain yaaaa....”
“Aamiin. Insya Allah...” serempak semua mengaminkan.
                “Assalamu’alaikum ...” terdengar suara Euis beberapa saat sebelum MC mengakhiri acara. Tanpa ragu Euis memasuki ruangan setelah dipersilakan tentunya. Sambl senyam senyum ia duduk di tempat yang sudah disediakan.
“Mmmmmh, maaf ya Mba Erna, teman – teman ... Is telat, tadi ketiduran.” Ucapnya seraya menutupi wajah dengan ujung jilbab yang ia kenakan. Tingkahnya membuat emua yang hadir tersenyum penuh kegemasan.
“Bangun tidur ya, Is. Itu loh jilbabnya sampe kebalik gitu ...”
Grrrrrrr. Suasana halaqah mendadak ramai, menahan tawa melihat tingkah seorang saudari yang baru saja hadir.
“Sudah sudah sudah ... mari kita akhri dengan istighfar, hamdalah, doa robithoh dan kafaratul majlis. Sekian wasalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barakatuh.”


Teman Sehati * Best Friend Forever

Sidang pacaran

                Usai Jum’atan seperti biasa adalah jadwal kegiatan ekskul di sekolah Ama, termasuk kegiatan ROHIS. Ada yang tidak biasa pada Jum’at kali ini. Para mentor berkumpul dan memanggil sepasang anggota yang diduga berpacaran. Anggota lain diminta bersiaga jika sewaktu – waktu diperlukan untuk memberikan kesaksian. Hanya yang berkepentingan diperbolehkan memasuki ruang sekretariat ROHIS yang kini terasa seperti ruang sidang.
                Hadir di dalam ruang itu mentor sang ikhwan juga mentor sang akhwat, ketua ROHIS, ketua keputrian dan seorang alumni yang merupakan pembina ROHIS. Tentunya juga sepasang terduga.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh.” Sang pembina mengawali acara.
“Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh.” Hadirin serempak menjawab.
 “Baik ikhwan wa akhwat sekalian, mari kita awali pertemuan siang  menjelang sore ini dengan sama – sama mengucapkan basmalah.
“BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM”
“Sebelum ke inti acara, ana hendak menyampaikan bahwa ana, para mentor, juga antum semua adalah keluarga besar di ROHIS ini. Karena kita semua adalah keluarga maka adalah satu hal yang wajar jika kta saling menjaga dan melindungi, juga saing menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sebagaimana firman Allah di QS.Al’Ashr, watawashshoubil haq watawashshoubishshobr. Jadi ana berharap, kita semua yang hadir di sini bisa memaknai pertemuan ini sebagai pertemuan keluarga yang anggotanya saling menyayangi. Bisa diterima?”
“Iya ka,” jawab para hadirin seraya menganggukkan kepala.
“Baik, langsung saja ke inti acara ya. Seperti kita ketahui bersama bahwa acara siang ini bertujuan untuk bertabayun, mengklarifikasi berita tentang kedekatan hubungan antara ukhti N dan akhi R. Di tangan ana ada catatan dari para mentor kalian terkat informasi dan data yang mengarah pada hal tersebut. Pada kesempatan ini, ana ingin mendengarkan langsung penjelasan dari antum berdua. Silakan akhi R atau ukht N untuk menjelaskan.”
                Ukhti N yang sedari awal menundukkan kepala semakin dalam merunduk dalam diam. Akhi R tampak memberanikan diri menjawab pertanyaansang pembina.
“Ana ka’”
“Silakan”
“Jadi apa yang ada di catatan itu benar adanya. Kami memang memiliki hubungan istimewa. Sejak SD kami sudah saling mengenal karena rumah kami berdekatan. Orang tua kami juga saling mengenal. Bahkan ibunda N meminta ana untuk menjaga N. Membersamai saat di sekolah ataupun ketika pulang jika tidak ada yang bisa menjemput N. Ana mohon maaf jika hal ini mengganggu dan merupakan sebuah kesalahan bagi anak ROHIS.”
“Jadi begitu ceritanya. Ukhti N mau menambahkan sesuatu ?”
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
“Para mentor, ada yang mau disampaikan ?”
“Eheemmm. Jadi bagaimana selanjutnya ka ?” Fauzi mentornya R mulai buka suara.
“Apakah akhi R dan ukhti N sudah pernah diberikan materi adab bergaul dalam Islam?” tanya ka’ Addi sang pembina.
Tentu saja pertanyaan itu ditujukan kepada Fauzi dan Dewina yang merupakan mentor dari akhi R dan ukhti N.
“Sudah, ka” jawab Fauzi dan Dewina nyaris bersamaan.
“Apakah antum berdua sudah memahami materi itu ?”, tanya ka’ Addi kepada akhi R dan ukhti N. Lagi – lagi hanya dijawb dengan anggukan kepala.
“Alhamdulillah kalau kalian udah paham. Itu arinya tinggal menjalankan saja. Iya, kan ?” lanjut ka’ Addi.
“Baik, sekarang tinggal kita diskusikan bagaimana supaya kedekatan mereka bisa dikondisikan agar seuai dengan adab bergaul. Bukan begitu ka’ Addi?” Fauzi mengajukan pertanyaan.
“Iya”
“Bagaimana R dan N, apakah kalian sudah tahu bagaimana caanya mengamalkan apa yang kalian pahami tentang adab bergaul dengan lawan jenis ?”, tanya Dewina.
“Insya Allah, ka.” Jawab N.
“Bisa disebutkan contohnya ?” sambung Dewina.
“Jangan berdua – duaan, sebisa mungkin meminimalisir interaksi baik ketemu langsung maupun via telepon, menundukkan pandangan, ka’”
“Ada lagi R ?”, tanya Fauzi
“Kalaupun harus menjaga N saat pulang sekolah, bisa minta ditemani akhwat lain, begitu juga di sekolah, bisa minta tolong ahwat yang sekelas dengan N.”
“Alhamdulillah, sepertiny sudah clear semuanya ya.” Sambung ka Addi.
“Alhamdulillah” seru mereka serempak. Mendung yang sjak tadi menggelayut di wajah R dan N mulai beranjak berganti senyum yang menghangatkan suasana.
“Masih ada yang mau disampaikan lagi ?” tanya ka Addi.
“Cukup, ka.”
“Baik, kita akhiri saja ya pertemuan kali ini. Mari sama - sama kita baca istghfar, hamdalah dan doa kafaratul majlis.” Pungkas ka’ Addi menutup acara.
Usai doa dibacakan dan salam penutup, Fauzi menyalami R lalu memeluknya erat, begitu juga ka’ Addi. Tentu saja di ruang sebelah yang berbataskan lemari, Dewina dan N juga bersalaman dan  berpelukan dalam keharuan.
                Ama dan beberapa akhwat yang siaga di luar ruang sekretariat tampak lega saat menyaksikan pemandangan yang menentramkan ketika R dan N keluar dari ruang ROHIS. Satu kata yang kompak mereka ucapkan, Alhamdulillah.

Senin, 27 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever
Ada yang TTM

                Sepekan sudah acara dauroh berlalu, namun keceriaannya masih diperbincangkan para peserta. Rangkaian acara yang ditata apik serta kepedulian dan kasih sayang para panitia menjadi topik yang hangat dan terus dibicarakan.

Dari awal keberangkatan aja sudah bikin takjub. Naik tronton, pengalaman pertama yang ga akan terlupakan.

Kakak – kakaknya kerenz abizzz.

Pertolongan llah terasa dekat banget, hehehehe. Pas sampe villa air tiris,  Alhamdulillah setelah doa bersama air mengalir kembali ... Alhamdulillah.

Teman – temannya oke juga, alim sih tapi gokil abizz, hihhihihi

Yang seru pas waktu makan. Senampan berempat sampai berlima cuy, sepiring berdua mah kalah romantis, hehehehe.

Saluuuuut sama tim dapur. Pagi, siang, sore, malam masaaaaaak terus, ga kenal waktu. Kaya punya kekuaan super gitu.

Menunya sederhana, tapi rasanya tiada tara. Apalagi plus susu hangat coklat di pagi hari dan wedangan di malam hari... yummy, jadi pengen dauroh tiap hari, bisa ga ya?

Tafakur alam ba’da Shubuh itu sesuatu banget. Berasa dekat dengan Allah Sang Maha Pencipta. Terima kasih panitia untuk rangkaian acara yang luar biasa, Alhamdulillah. Semangat teruuuuuus menebar cahaya Islam di muka bumi, khuusnya untuk kami.

Pas Qiyamul Lail, suara imamnya merduuuuu. Suasana jadi semakin syahdu, tak terasa air mata ikut melaju. Surga nerka berasa di depan mata.Ya, Allah ...
Seru banget saat kita main perang Badar yaaa.... Saking fokus mecahin balon di kaki orang, balon di kaki sendiri ga diperhatiin. Ada juga yang malah fokus nyelametin balon di kaki sampe ga maju – maju buat nyerang, hahahaha.

Pas sesi muhasabah itu looooh, hiks. Kebayang kan ngapain aja selama ini hdup di dunia ? Gimana coba mempertanggungjawabkan di akhirat kelak ? Akankah merasi nikmat atau siksa kubur ? huhuhuhu.
  
Pokoknya akan selalu ikutan cara ROHIS yng kerenz abizzzz. Dapet sholehnya, dapet serunya. ROHIS ... gue banget deh.

Semoga kakak-kakak selalu sehat, sabar dan dalam lindungan Allah. Semangat mendampingi kita ya kaka ...

                Ama, Yuyun, Pupu, Zulfa dan beberapa akhwat tampak senyum simpul di depan mading mushola. Mereka sedang membaca tulisan kesan dan pesan para peserta dauroh.
“Alhamdulillah, aku dibolehkan orang tuaku ikut acara ini ...” ucap Ama penuh syukur.
“Iya, Alhamdulillah.” Jawab Yuyun.
“Bisa nyesel parah kalo ga ikutan.” Tambah Ama seraya tersenyum.
“Berartibelum rezeki kalau begitu, mah. Insya Allah taat sama orang tua ga akan bikin nyesel, Ma.” Pupu menimpali.
“Iya juga ya, hehehehe.” Ama membenarkan.
“Sebentar lagi bel masuk, ayo kita balik.” Ajak Zulfa.
“Okeee” jawab para akhwat nyaris serempak.
                Sepanjang perjalanan menuju kelas, mereka masih asik membahas acara dauroh. Terlalu asik hingga tak sadar kalau ada seorang teman yang melipir lalu berbincang dengan seorang ikhwan di sudut mushola. Ama yang hendak menghampiri terpaksa mengurungkan niat karena bel tanda masuk sudah memanggil.

***

Sore hari, usai mandi dan gosok gigi, Ama mengistrahatkan dirinya sejenak. Dipilihnya sofa kesayangan untuk merebahkan diri. Jemarinya asik menekan remote control mencari saluran televisi kesayangan.
Kriiiiiiiiiiiiiinggggg.
Tetiba suara telepon berdering menyela suasana santai Ama.
“Assalamu’alaikum, Ma.”
“Wa’alaikum salam, Pu. Tumben nelepon, ada apakah ?”
“Hmmmm, langsung aja nih ya. Tadi kamu llihat Nurul, kan ?”
“Lihat, kan sama – sama kita tadi.” Jawab Ama polos. Dia mengigat episode di sudut Mushola lepas Zhuhur tadi.
“Aku sedang konfirmasi aja. Kali penlihatanku salah.”
“Maksudnya gimana?”
“Iya, tadi aku lihat Nurul kholwat sama Ikhwan kelasku. Bukan sekali ini sih aku lihatnya. Sering lhat mereka pulang berdua juga malahan. Barusan aku tanya teman – teman. Zulfa, Ita, Yani, Yuyun, Ita. Mereka juga sama seperti ku. Melihat keakraban yang tidak semestinya itu.”
“Ya, aku juga sih suka lihat pas jam istirahat mereka suka ngobrol, atau jalan berduaan dari atau menuju kantin.”
“Terus?”
“Ya, gimana ya. Aku cuma bisa lihat aja. Mau nanya ko rasanya ga pantas gitu. Aku kan baru aja ikutan ROHIS. Ngaji juga baru bener. Rambut juga masih terbuka.Rsanya kok ya ga pantes aja negur dia yang jilbanya lebar dan ngajinya dah lama.”
“Baiknya gimana ya?”
“Ya, ditegur aja sama pihak berwenang, hehehe.”
“Kita laporin ke menornya gitu?”
“Ya, jangan langsung laporin juga. Tanya aja apakah mentornya tahu situasi begini ? Kalau langsung lapor ko rasanya kita pengaduan banget ya. Bukannya terkesan upaya saling menjaga dan menasehati malah lebih tampak jadi memata-matai. Gitu sih menurutku.Tapi ga tahu ya gimana baiknya menurut para senior. Hehehe.”
“Oke deh, Ama. Terima kasih masukannya ya. Senang bisa diskusi dengan mu. Oh iya,selamat ya dah lancar ber- aku kamu, lu gue nya mulai ga terlihat lagi.” Goda Pupu diujungtelepon.
“Iya, Alhamdulillah, ketulran viru baik ini. Tapi untuk ana anti aku ga sanggup ya. Terlalu masya Allah untuk aku yang asaghfirullah...”
“Hahahahahha....”
Untaian tawa menutup komunikasi via telepon antara Ama dan Pupu. Sore yang indah.
“Saatnya membaca dzikir AlMa’tsurat”, gumam Ama dalam hati.

Sabtu, 25 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Mengisi kultum

                Episode pengantaran air menjadi penutup hari yang manis buat Ama. Malam itu ia tidur berselimut rasa cinta, damai dan kesyukuran. Tidak dihiraukan candaan teman sekamarnya tentang heroiknya para ikhwan pengantar air, juga betapa beruntungnya Ama berani bicara langsung dan mendapat pelayanan dari para ikhwan yang ternyata adalah para alumni. Ya, mereka adalah kakak kelas yang sudah lulus SMA dan sekarang berstatus mahasiswa dan masih memiliki kepedulian pada adik kelas semacam Ama. Upss sepertinya ada yang cemburu nih sama Ama ...
                Kabut merambat turun, kian lama kian pekat membersamai gulita malam. Awan berarak sesekali menyelimuti rembulan yang memantulkan sinar nan lembut. Suasana penginapan tempat dauroh dilaksanakan tampak mulai lengang. Peserta mulai terbuai mimpi, tmpak beberapa panita yang tetap terjaga dan sesekali berpatroli guna menjaga keamanan lokasi.
Dari balik jendela Ahmad mengamati situasi di dalam ruangan. Hanya satu tujuan, memandang pujaan hatinya dari kejauhan. “Ama, senyummu. Bagaimana mungkin aku terus menahan diri untuk tidak menunjukkan perasaanku sementara aku lihat laki – laki lain begitu leluasa untuk berinteraksi denganmu ? Apakah kamu yakin bahwa merka tidak menaruh rasa padamu, atau sebaliknya kamu yang jatuh hati pada mereka ? Kalau sampai begitu, bagaimana aku bisa memperjuangkan rasa ini...?” tanya Ahmad yang hanya mampu ia teriakkan dalam hati. Ia terus memerhatikan gerak – gerik Ama yang tampak serius meski sesekali tampak senyuman menghias wajahnya.  Di dalam sana, bersama dua orang teman wanita dan beberapa pria. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Beberapa saat kemudian, Ama dan teman wanitanya meninggalkan ruangan. Lalu menuju taman yang terletak di belakang.
“Kami duluan ya, Ma, dah ngantuk soalnya. Jangan lama – lama sendirian di taman.”
“Beres.” Jawab Ama singkat lalu menyeret kakinya menuju sebuah ayunan yang terbut dari ban bekas. Tanpa ragu ia segera duduk dan berayun di sana.
Senyum tipis tampak menghiasi bibirnya, ia tampak sangat menikmati sentuhan angin di wajahnya.”
“Bahagianya kalau aku bisa mengayunmu, Ma” bisik Ahmad dalam hati.
“Kamu ko kaya anak kecil banget sih, gemesinnn. Tapi galaknya ya ampuuuun.” Masih dengan hatinya Ahmad berdiskusi, tak terasa senyum simpul hadir di wajahnya melihat tingkah Ama yang sangat kekanakan.
                Saat Ama tengah menikmati ayunan serta sentuhan angin yang lembut, Ahmad mendengar suara dari arah taman dan ia melihat tali ayunan mulai putus dan tak lama.
Brug
Aaaaa
Demi melihat pujaan hatnya terjatuh, Ahmad lupa kalau poisinya sedang mengintai. Ia segera berlari menuju Ama.
“Amaaa...!!!”, di pegangnya tali ayunan yang putus lalu berlutut untuk melihat kondisi Ama.
“Kamu ga papa?” tanyanya khawatir.
“Jangan sentuh aku” Ama mencegah. Ahmad segera menarik tangannya.
”Oke, tapi aku mau memastikan kalau kamu baik –baik saja.”
Ama mengangkat wajahnya lalu menatap Ahmad. Yang ditatap salah tingkah. Deru dalam dadanya kian hingar. Irama jantung kian tak terkendali, berloncatan entah sampai kapan. Hanya nafas yang perlahan bisa ia kendalikan.
“Kamu ga papa, kan?”, akhirnya ada kata yang berhasil meluncur.
“Sedikit sakit, banyakan kagetnya. Tapi aku ga papa. Lagian ngapain kamu di sini ? Aku kira aku hanya berteman sepi.”
Ahmad makin salah tingkah. Hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, serta mengacak rambut landaknya.
“Aku bantu berdiri ya,”
“Ga usah bisa sendiri.”
“Oke.”
“Ahmad...”
“Iya, Ama ...”
“Aku tahu kamu punya rasa untukku.”
What did she say? What??? Bisa diulang??? Demi apaaaa???? Seketika bunga – bunga di taman bermigrasi ke hati Ahmad, memenuhi, menghiasi serta menaburkan harum nan semerbak. Andaikan ini adegan film kartun, pasti mata Ahmad berubah bentuk jadi hati yang kelap – kelip, hehehe.
“Tapi aku bukan tipe orang yang mudah menerima dan membalas rasa. Jaga jarak denganku, biarkan semuanya tetap asing hingga kelak sang waktu membuka hatiku. Kalu memang kita berjodoh, Allah pasti menyatukan kita. Saat ini aku hanya menginginkan persahabatan yang tulus, tanpa buaian asmara.”
“Tapi Ama”
“Buat aku, asmara bukan untuk diobral, tapi dijaga agar kelak ia bersemi indah pada waktunya dengan cara halal yang diridhoi oleh Allah juga kedua orang tua. Aku ga mau buang waktu menangani perasaan yang terlarang.”
                Bunga – bunga indah yang baru saja bermekaran di taman hati Ahmad seketika layu dan memudarkan keindahannya. Jantung yang sedari tadi berloncatan riang gembira penuh suka cita, kini perlahan berdegup.
“Tapi Ama, apakah ini berarti kamu juga punya perasaan yang sama untukku?”
Hening
Disemainya lagi bunga – bunga dalam hati, berharap kan kembali bersemi.
“Jawab, Ama... aku menunggu.”
Ama hanya memberikan sebuah senyuman, wajahnya perlahan kian jauh dan terus menjauh.  Ahmad berusaha menggapai Ama dengan kedua tangannya namun Ama terlalu jauh.
Ahmad berusaha untuk berdiri namun kakinya terasa seperti menghujam bumi.
“Amaaa...”
                Ahmad merasa pukulan kecil mendarat di pipinya berkali – kali.
“Mad, Ahmad ...”
Perlahan dibuka matanya. Syauty tampak sedang menepuk – nepuk pipinya.
”Bangun, Mad ... mimpi apa sih samapai terak gitu. Seru kayanya.”
Ahmad menatap sekeliling seraya mengusap kedua matanya. Lalu terenyum.
“Jiiiah dia malah senyum. Dah bangun yu’ panitia sudah mengingatkan untuk bersiap qiyamul lail.”
                Rupanya Ahmad baru saja bermimpi. Mimpi yang indah hingga membuat senyum bertahan lama di bibirnya, seolah enggan untuk pergi.
“Ama, jadi kamu memintaku untuk menunggu sang waktu ? Fine, saat ini aku akan berusaha menjadi sahabatmu. Duhai hati bekerja samalah denganku. Biarkan aku bersahabat dengan Ama, oke?”
“Ya ampuuuun masih senyam senyum, ayo bangun .... Mimpi apa pula kau ini ? Subuh nanti kau giliran kultum, sudah dapat bahannya belum ha?” seru Syauty seraya melempar bantal ke arah Ahmad.
“Udah dong, tenang...” jawab Ahmad tangkas menangkap bantal.
Kemudan mereka membangunkan teman kelompoknya untuk bersiap melaksanakan qiyamul lail lalu tilawah hingga Subuh, lanjut sholat, dzikir dan kultum. Kali ini Ahmad yang bertugas mengisi kultum.  
A’udzu billahi minasysyaithonirrojiim
Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaikum warohmatullhi wa barokatuh
Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aalihi washohbihi ajma’in. Amma ba’du
Teman – teman sekalian, pada kesempatan kultum kali ini saya akan menyampaikan tema bersaudara karena Allah.
...
Jadi, teman – teman semua kita semua di sini bersudara. Mari kita menjalin cinta dalam balutan ukhuwah yang indah. Ana uhibbukum fillah.
Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh.

“Ana uhibbuki fillah, Ama ...” gumam Ahmad dalam hati selepas menutup kultumnya dengan salam.
“Masya Allah akhi, dalam sekali kultum yang antum bawakan. Pasti dari hati yang dalam nih.” Puji ka Lutfi sang ketua ROHIS untuk Ahmad.
“Ah, kaka bisa aja. Jadi malu saya.”
“Iya, beneran akh. Kan sudah lazim bahwa apa yang dari hat akan sampai ke hati ...”
Ahmad tersenyum mendengar pujian itu. Dalam hati ia membenarkan bahwa memang kultum yang disampaikan tadi adalah benar – benar berasl dari hati. Khususnya ditujukan untuk hati Ama, hehehee.

Kamis, 23 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Dauroh pertama

                Tak terasa genap dua bulan Ama menjalani hari sebagai siswi SMA. Ia sudah mulai terbiasa dengan padatnya jadwal kegiatan belajar di sekolah juga PR yang menumpuk untuk dikerjakan di rumah. Meski hari – hari dipenuhi belajar, belajar dan belajar, Ama tetap merasa bahagia. Apalagi sejak aktif di ekskul ROHIS, ia memiliki banyak teman. Bukan hanya sebatas teman sekelas, tapi juga lintas kelas bahkan lintas angkatan. Ama sangat menikmati hari – harinya.
“Ma, lo ikut dauroh pekan depan ga” Farid mengawali perbincangan.
“Dauroh apaan sih, Rid? Ngapain aja nanti di sana?”
“Kalo kata ka Lutfi, dauroh itu artinya pelatihan ato trening.”
“Emang pelatihan apaan?”
 “Pelatihan jiwa dan raga, mental spiritual, jasmani dan rohani, fisik dan ...”
“Ah so tau lo.” Potong Ama menghentikn Farid yang tengah berapi – api menjelaskan tentang dauroh ROHIS.
“Ish ... yang begini ni, dikasih tahunya susah.” Farid pura – pura merajuk.
“Iya deh sori. Makanya lo jelasin yang bener. Ngapain aja nanti di sana.”
“Ga mau, ngambek gue. Lo tanya aja sama mentornya pas mentoring. Satu yang gue jamin, lo bakal nyesel kalo ga ikutan acara ini. Percaya sama gue.”
“Ah lagu lo. Tengil.” Seru Ama seraya memanyunkan bibirnya lalu beranjak menuju Tari, sahabatnya.
                Setelah sebentar bercakap dengan Tari, Ama menghampiri Yuyun untuk bertanya tentang dauroh.
“Aku juga belum pernah ikut sih, tapi kalau dari penjelasan ketua keputrian kemarin kalau dauroh itu artinya pelatihan. Dan rangkaian acara dauroh pekan depan antara lain ada jurit malam, tracking, games seru, dll. Yang sudah jelas asik sih tempatnya, Ma. Puncak gitu loh. Indah pastinya. Ikutan ya, Ma... biar aku ada temen ngobrol, hehehe.”
“Mau sih, mudah-mudahan orang tuaku kasih izin ya. Soalnya aku ga pernah pergi jauh apalagi nginep tanpa mereka.”
“Aamiin” ucap Yuyun seraya menengadahkan kedua tangannya.
                Seminggu berlalu. Ama dan ratusan anak ROHIS tampak bersiap menunggu keberangkatan menuju Puncak. Lima buah mobil tronton terpakir berjajar di halaman sekolah. Peserta yang kebanyakan anak baru terlihat takjub melihat tronton. Dalam hati mereka merasa tidak yakin bahwa kendaraan ini yang akan mengantar menuju lokasi acara.
“Jadi kita naik ini, Ka?”, tanya peserta ikhwan kepada panitia yang tengah memasukkan perlengkapan ke atas tronton.
“Iya...”
“Wow...”
“Masya Allah...bukan wow” ralat sang kaka panita.
“Eh iya, masya Allah, hehehehe. Maaf kaka. Saya khilaf.” Ujar sang adik kelas seraya kembali ke barisan.
Sementara di barisan akhwat ada yang meminta diantar keluarganya saat melihat tronton di hadapan.
“Kaka, plis, aku ga pernah naik mobil kek gini. Ya ampun kalau aku terlempar gimana ? Aku telepon mamaku aja ya biar dikirim supir buat antar aku. Panita juga bisa ikut mobil aku ko ka, pliiis.” Gadis itu memohon sambil memasang senyum terindah yang bisa ia usahakan.
                Ama tampak tenang memerhatikan sekeliling sambil sesekali membaca aturan dan tata tertib acara.

Tatib Dauroh
1.       Menunjukkan akhlaq terpuji selama acara berlangsung.
2.       Menggunakan bahasa ana untuk saya, antum/anti untuk kamu.
3.       Mengikuti setiap rangkaian acara.
4.       Meminta izin kepada panita saat hendak meninggalkan acara / lokasi kegiatan dauroh
5.       Berbusana Islami / menutup aurat
6.       Tidak diperkenankan berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis) / berikhtilat (berbaur laki – laki dan perempuan).   

Jarum jam di tangan Ama sudah menunjuk tepat angka 4. Panita sudah selesai berkemas dan acara pelepasan oleh kepala sekolah juga baru saja usai dilakukan.
“Assalamu’alaikum ... perhatian kepada seluruh peserta dauroh diminta bersiap untuk naik ke atas tronton sesuai kelompoknya masing - masing.” Terdengar suara panitia melalui pengeras suara.
Semua peserta bergegas menuju tronton. Wajah mereka tampak antusias, meski ada beberapa wajah yang terlihat cemas.
Panitia sigap membantu peserta naik ke atas tronton. Ada juga yang membagikan kantung plastik, persediaan jika ada peserta yang mabuk di perjalanan. Bagi Ama, ini adalah pengalaman yang sangat menarik. Pertama kali dalam hidupnya ia pergi jauh tanpa orang tua, menginap di tempat asing.
Deru mesin tronton bersahutan. Satu per satu mulai melaju meninggalkan halaman sekolah. Penanggung jawab di setiap kendaraan memandu peserta untuk membaca doa. Mereka dengan teliti mengingatkan peserta untuk duduk dengan nyaman dan aman. Semua panita duduk di tepi tronton untuk menjaga keamanan. Memastikan para peserta selamat dan terlindungi. Luar biasa, begitu batin Ama.
Suasana jalan cukup lengang membuat tronton melaju dengan sangat kencang. Hanya suara angin menderu, berkejaran dengan laju barisan tronton. Dalam dua jam saja mereka sudah tiba di lokasi tujuan.
Warna jingga di langit kala itu menyambut kedatangan rangkaian tronton. Udara dingin segera menghampiri para peserta dan panitia. Hamparan hijau terbentang memanjakan mata, membuat mereka terpesona dan hanya memandang sekitar. Panita mengarahkan peserta untuk memasuki penginapan masing – masing sesuai kelompok yang telah ditentukan.
Saat menuju penginapan, Ama melintas di hadapan panitia ikhwan dan akhwat yang sedang berkumpul. Dari kejauhan ia bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Jadi tadi pengurus vila bilang kalau airnya lagi rusak. Jadi untuk malam ini ga ada air. Sedang diusahakan sih katanya.”
“Lalu bagaimana untuk kebutuhan mandi peserta ...?
Demi mendengar itu, hujan pertanyaan tumpah di kepala Ama.
Ha? Ga ada air???
Mandi gimana? Ya, ampun ... aku kan harus mandi, ga biasa kalau ga mandi sore. Aduh, ga mau tahu pokoknya harus mandi, te i te i ka, titik.
Tanpa ragu, Ama mengarahkan kakinya menuju panitia yang tengah berdiskusi. Tas besar yang bergelayut manja di punggungnya sama sekali tidak mengubah derap langkahnya yang gagah bagai perwira.
“Mmmh, Assalamu’alaikum. Maaf ka’ tadi saya dengar katanya ga ada air ya? Aduh ka’ gimana ya, saya tuh ga bisa kalau ga mandi sore ka. Ga biasa. Kulit saya bisa lecet gitu. Apalagi pakai baju ketutup kaya gini, aduh ga kebayang deh kaka. Pokoknya ya ka’ saya mau ada air untuk mandi, gimanapun caranya. Kalau ga ada ya mending saya pulang aja deh.”
                Ya ampun Amaaaaa, terlalu deh. Ga punya perasaan. Heloooo, anak baru bukannya empati malah nyerocos kaya petasan. Dear kaka panita, yang sabar ya. Ama emang suka gitu,huhuhu.
Mba – mba panitia serempak menatap Ama. Mereka tampak takjub, eh terkejut dengan keberanian Ama. Dua dari tiga mba panitia bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa jengkel yang hadir tanpa permisi. Seorang yang tampak gusar segera mendekati Ama, tepat sebelum ia membuka mulut, seorang panita ikhwan yang berkaca mata dan berambut ikal menatap Ama. Ia tersenyum dan menjawab, “InsyaAllah de’ kami akan berusaha mencarikan air untuk kamu mandi.”
“Harus dapat ya, ka” jawab Ama serius.
“Insya Allah.”
Tanpa rasa bersalah dan ragu, Ama mantap berjalan menuju penginapannya. Meninggalkan para panitia yang masih sibuk mencari solusi tentang air. Dasar Ama!
Adzan Mghrib berkumandang. Para peserta dan panitia berwudhu dengan sisa air yang tersedia. Mereka sholat berjamaah di aula utama lalu lanjut dengan dzikir dan doa bersama hingga waktu Isya tiba.
Usai sholat Isya, peserta dan panitia makan malam bersama. Nampan besar sudah beredar. Satu nampan untuk dimakan berempat. Aroma nasi goreng, telur ceplok dan kerupuk bawang segera memenuh ruangan. Semua bersiap untuk menyantap hidangan dengan penuh suka cita, kecuali Ama yang masih menanti air yang dijanjikan panitia.
“Makan dulu ya, de... nanti kalau airnya sudah ada kami infokan.”, mentor Ama tampak berusaha menjelaskan dan menenangkan Ama yang mulai menggaruk bagian tubuhnya yang terasa lengket dan gatal. Kulit Ama memang sensitif. Harus terjaga kebersihan dan kelembabannya agar tidak iritasi. Ia menunjukkan dagunya yang lecet karena iritasi saat peniti yang digunakan untuk jilbabnya menempel di permukaan kulit.
Tak lama setelah acara makan selesai, sekelompok ikhwan mendatangi penginapan Ama membawa dua ember air. Ama melihat para ikhwan itu berkerngat meski cuaca di puncak terasa dingin. Ada bekas merah di tangan mereka, jejak pegangan ember yang digunakan untuk mengangkut air untuk Ama.
Seketika Ama merasa bersalah melihat pemandangan itu. Ia lalu menemui mereka dan mengucapkan terima kasih dan memohon maaf kalau ia sangat merepotkan dan menyebalkan.
“Tidak apa – apa de’, kami paham. Sudah tugas kami membuat kalian merasa nyaman di acara ini. Kami juga mohon maaf atas hal ini.” jawaban yang sukses membuat hati Ama meleleh.
Bulir bening mendesak untuk keluar dari dua matanya. Ama menahan hingga hidungnya memerah. “Iya ka’... terima kasih ...” ucapnya lirih.
“Sudah mandi sana, dihemat airnya ya”, begitu pesan para ikhwan sebelum beranjak pergi.
Meninggalkan hati Ama yang mulai bersemi dalam semai ikatan ukhuwah.
“Ya, Allah, indah sekali rasanya. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan keluarga ini. Izinkan aku untuk senantasa berada di sini, bersama mereka. Izinkan aku mengeja makna ukhuwah bersama mereka, selamanya ...”

#Part4


Diari Seorang Rahma

Di, masih ingat Ahmad ? Itu loh cowok Jaim yang duduk di bangku yang persis ada di depanku saat kelas 2 SMA dulu. Masa tiba – tiba dia kontak aku, nanya aku dah nikah pa belum. Katanya dah lama dia cari aku terus dia ngajak ketemuan, Di. Gimana ya?
[Ma, gimana Sabtu ini? Jadi bisa ketemuan gak?]
Nah, tuh kan Di, orangnya muncul
[Aku masih ada kelas sampai jam 17.00]
[Ya udah sekallian aku jemput aja, gimana?]
Aduh ni orang maksa …
[Ya, aku tahu kamu ga akan mau jalan berdua sama bukan mahrom. Tenang aja, aku ajak ponakanku, dua orang sekaligus, hehehe]
“Hahaha, lucu deh”. Gumamku dalam hati.
Akhirnya aku dan Ahmad bersepakat untuk ketemu di sebuah kedai yang letaknya tak jauh dari rumah, jadi ga harus dijemput karena aku anak mandiri, bisa pulang pergi sendiri, hihihi.
Menjelang Maghrib aku sudah tiba di rumah. Mandi, sholat lalu bersiap memenuhi janji. Tapi ko tetiba ada yang menggedor. Oh, rupanya jantungku berloncatan, menghentak dada. Oh, ya ampun kenapa jadi gini. Beberapa kali aku bercermin dan menarik nafas perlahan untuk memastikan jantungku bisa santuy, ups.
“Bu, Ama mau ke kedai sebrang jalan, mau nitip dibeliin apa?”, tanyaku seraya mencium takzim tangan ibundaku.
“Nitip mantu aja deh ya, hehehe” jawabnya berseloroh
“Ibu apaan si, segala mantu dititip, ga ada yang jual.” Jawabku sekenanya, mencium tangan bapak yang baru saja datang dari masjid.
“Assalamu’alaikum…” masih terdengar kekehan ibundaku.
Irama kaki dan jantungku sangat tidak selaras. langkah kaki terasa sangat berat, sementara laju jantung seolah ingin keluar dari posisinya. Ya, Robb, apa ini. Bismillah tawakaltu ‘alallah.
Beberapa langkah lagi aku akan tiba di kedai. Rasa dingin mulai menjalar. Rasanya ingin ku putar langkah ini. Namun urung saat Ahmad memanggil dan melambaikan tangannya.
“Ama!”
“Assalamu’alaikum”, sapaku sambil terus menata loncatan dalam dada. Ya Allah, Ahmad terlihat sangat menawan. Aromanya, masih sama saat sekolah dulu. Astaghfirullah, senyumnya. Ah, saatnya menundukkan pandangan, gumamku.
“Ama…kamu cantik sekali.”
“Eits…salamku belum dijawab”
“Oh iya sampai lupa, kamu sih cantik banget. Wa’alaikum salam warahmatullah.” Jawabnya seraya memberi isyarat salam, dua telapak tangannya bertungkup di depan dada. Pandangannya tak lepas dari wajahku, menyisir setiap senti yang ia bisa.
“ehm…”
“Eh, oh, iya tundukkan pandangan ya, Ma. Apa tuh istilahnya, bashar bashar gitu.” gaya kikuk dan salah tingkahnya lucu sekali.
“Ghadul bashar”
“Nah itu. Ghadul bashar.”
“Jadi kita di sini aja nih?” tanyaku memecah kekakuan.
“Ya, enggak lah. Ayo silakan masuk tuan putri, hamba sudah memesan tempat dan makanan pembuka.”
“hum, gombal, ah. Mana ponakanmu?”
“Diajak orang tuanya, batal deh menemani hamba…”
“Ahmad apaan sih, hamba segala. Aku tinggal pulang nih.”
“Eh iya, maaf terbawa suasana. kuylah.”
Ahmad berjalan di depanku, menuju sebuah meja di lantai dua kedai. Tempatnya cukup nyaman, tidak sepi itu yang penting.
“Gini ga khalwat kan, Ma?”, tanyanya setelah menyilakan aku duduk.
Ku tatap wajah lugu di hadapan. Memasikan apakah dia bercanda atau serius.
“Ga khalwat kan, Ma?” Ahmad menggulangi.
“Ya, jelas khalwat Ahmad. Di meja ini kan cuma ada kamu dan aku. Khalwat itu artinya menyepi, berduaan...” jawabku seraya meneguk segelas air putih yang tersedia. Berharap jantung ini bisa tetap terkendali iramanya.
“Hehehehe, berarti aku telah mengajakmu berbuat dosa dong ya. Maaf. Bagaimana caranya supaya bisa jadi pahala kalau kita berduaan? Serius nanya, soalnya dekat kamu tu buat aku merasa bahagia, kaya ada manis – manisnya gitu, hehehehe”
Demi mendengarnya, terpaksa aku berhenti meneguk air menahan agar tdak tersedak dan mempermalukan diri sendiri.
Banyak tanya yang hanya mampu ku teriakkan dalam dada.
O em ji, ni orang asal jeplak beud ya, serius ga sih?
Dia ngerti ga lagi ngomong apa ya ?
Ga lagi panas tinggi kan ya, kali ngigo, eh.
Eh, dia nembak itu ya, kode kode, hadeuh.
“Ma ... Ama ...” panggil Ahmad seraya menjentikkan jarinya.
“Lo sadar, kan? Terpesona sama gue ya?”
“Ish, apaan sih ? Gue tuh Cuma lagi heran, ga ngerti lo ngomong apa.”
“Ah, masa ga ngerti, lo kan juara kelas. Terkenal pandai di seantero sekolah. Nih, gue tegesin ya, gue pengen halalin  lo. Mau ya?”
Praakkk. Ups, sendok yang sedari tadi aku mainkan terjatuh dan menimpa piring berisi banana nugget.
“Untung ga pecah piringnya”
“Ma, ya ampun. Hellloooo. Gue nanya lo malah merhatiin piring, astaghfirullah.”
“Eh, iya ... sorry Ahmad. Aku hmm, aku eh ...”
Aduh ko ya jadi salting macam ikan terdampar di darat. Tarik nafas biar tetap elegan. Bismillah ya Allah tolong Ama.
“Ahmad”
“Iya Rahma ... “
“Kalau kamu serius, datang ke rumah ya. Temui orang tuaku....”
“Siap,sekarang?”
“Iiih nanti, setelah aku sholat istikhoroh. Kamu juga istikhoroh.”
“Siap tuan putri. Aduh senangnya ... jadi sekarang kita jadian ya, Ma?”
“Jadian ? Ya enggaklah. Kita masih seperti biasa, temenan aja. Setelah istikhoroh baru bisa diputuskan akan lanjut atau tidak.”
“What ever lah. Yang penting ada harapan, hehehehe. Ya sudah ayo pesan makanan utamanya. Kamu maih suka nasi goreng sea food ? Aku ikutan ya ...”

***
Begitulah Di, Ahmad nembak aku eh mau melamar aku. Aduh kaya mimpi banget deh rasanya. Kaget, senang, campur aduk. In bneran ga siy, Di ?