Selasa, 28 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Sidang pacaran

                Usai Jum’atan seperti biasa adalah jadwal kegiatan ekskul di sekolah Ama, termasuk kegiatan ROHIS. Ada yang tidak biasa pada Jum’at kali ini. Para mentor berkumpul dan memanggil sepasang anggota yang diduga berpacaran. Anggota lain diminta bersiaga jika sewaktu – waktu diperlukan untuk memberikan kesaksian. Hanya yang berkepentingan diperbolehkan memasuki ruang sekretariat ROHIS yang kini terasa seperti ruang sidang.
                Hadir di dalam ruang itu mentor sang ikhwan juga mentor sang akhwat, ketua ROHIS, ketua keputrian dan seorang alumni yang merupakan pembina ROHIS. Tentunya juga sepasang terduga.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh.” Sang pembina mengawali acara.
“Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh.” Hadirin serempak menjawab.
 “Baik ikhwan wa akhwat sekalian, mari kita awali pertemuan siang  menjelang sore ini dengan sama – sama mengucapkan basmalah.
“BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM”
“Sebelum ke inti acara, ana hendak menyampaikan bahwa ana, para mentor, juga antum semua adalah keluarga besar di ROHIS ini. Karena kita semua adalah keluarga maka adalah satu hal yang wajar jika kta saling menjaga dan melindungi, juga saing menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sebagaimana firman Allah di QS.Al’Ashr, watawashshoubil haq watawashshoubishshobr. Jadi ana berharap, kita semua yang hadir di sini bisa memaknai pertemuan ini sebagai pertemuan keluarga yang anggotanya saling menyayangi. Bisa diterima?”
“Iya ka,” jawab para hadirin seraya menganggukkan kepala.
“Baik, langsung saja ke inti acara ya. Seperti kita ketahui bersama bahwa acara siang ini bertujuan untuk bertabayun, mengklarifikasi berita tentang kedekatan hubungan antara ukhti N dan akhi R. Di tangan ana ada catatan dari para mentor kalian terkat informasi dan data yang mengarah pada hal tersebut. Pada kesempatan ini, ana ingin mendengarkan langsung penjelasan dari antum berdua. Silakan akhi R atau ukht N untuk menjelaskan.”
                Ukhti N yang sedari awal menundukkan kepala semakin dalam merunduk dalam diam. Akhi R tampak memberanikan diri menjawab pertanyaansang pembina.
“Ana ka’”
“Silakan”
“Jadi apa yang ada di catatan itu benar adanya. Kami memang memiliki hubungan istimewa. Sejak SD kami sudah saling mengenal karena rumah kami berdekatan. Orang tua kami juga saling mengenal. Bahkan ibunda N meminta ana untuk menjaga N. Membersamai saat di sekolah ataupun ketika pulang jika tidak ada yang bisa menjemput N. Ana mohon maaf jika hal ini mengganggu dan merupakan sebuah kesalahan bagi anak ROHIS.”
“Jadi begitu ceritanya. Ukhti N mau menambahkan sesuatu ?”
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
“Para mentor, ada yang mau disampaikan ?”
“Eheemmm. Jadi bagaimana selanjutnya ka ?” Fauzi mentornya R mulai buka suara.
“Apakah akhi R dan ukhti N sudah pernah diberikan materi adab bergaul dalam Islam?” tanya ka’ Addi sang pembina.
Tentu saja pertanyaan itu ditujukan kepada Fauzi dan Dewina yang merupakan mentor dari akhi R dan ukhti N.
“Sudah, ka” jawab Fauzi dan Dewina nyaris bersamaan.
“Apakah antum berdua sudah memahami materi itu ?”, tanya ka’ Addi kepada akhi R dan ukhti N. Lagi – lagi hanya dijawb dengan anggukan kepala.
“Alhamdulillah kalau kalian udah paham. Itu arinya tinggal menjalankan saja. Iya, kan ?” lanjut ka’ Addi.
“Baik, sekarang tinggal kita diskusikan bagaimana supaya kedekatan mereka bisa dikondisikan agar seuai dengan adab bergaul. Bukan begitu ka’ Addi?” Fauzi mengajukan pertanyaan.
“Iya”
“Bagaimana R dan N, apakah kalian sudah tahu bagaimana caanya mengamalkan apa yang kalian pahami tentang adab bergaul dengan lawan jenis ?”, tanya Dewina.
“Insya Allah, ka.” Jawab N.
“Bisa disebutkan contohnya ?” sambung Dewina.
“Jangan berdua – duaan, sebisa mungkin meminimalisir interaksi baik ketemu langsung maupun via telepon, menundukkan pandangan, ka’”
“Ada lagi R ?”, tanya Fauzi
“Kalaupun harus menjaga N saat pulang sekolah, bisa minta ditemani akhwat lain, begitu juga di sekolah, bisa minta tolong ahwat yang sekelas dengan N.”
“Alhamdulillah, sepertiny sudah clear semuanya ya.” Sambung ka Addi.
“Alhamdulillah” seru mereka serempak. Mendung yang sjak tadi menggelayut di wajah R dan N mulai beranjak berganti senyum yang menghangatkan suasana.
“Masih ada yang mau disampaikan lagi ?” tanya ka Addi.
“Cukup, ka.”
“Baik, kita akhiri saja ya pertemuan kali ini. Mari sama - sama kita baca istghfar, hamdalah dan doa kafaratul majlis.” Pungkas ka’ Addi menutup acara.
Usai doa dibacakan dan salam penutup, Fauzi menyalami R lalu memeluknya erat, begitu juga ka’ Addi. Tentu saja di ruang sebelah yang berbataskan lemari, Dewina dan N juga bersalaman dan  berpelukan dalam keharuan.
                Ama dan beberapa akhwat yang siaga di luar ruang sekretariat tampak lega saat menyaksikan pemandangan yang menentramkan ketika R dan N keluar dari ruang ROHIS. Satu kata yang kompak mereka ucapkan, Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar