Teman
Sehati * Best Friend Forever
Sidang pacaran
Usai
Jum’atan seperti biasa adalah jadwal kegiatan ekskul di sekolah Ama, termasuk
kegiatan ROHIS. Ada yang tidak biasa pada Jum’at kali ini. Para mentor
berkumpul dan memanggil sepasang anggota yang diduga berpacaran. Anggota lain
diminta bersiaga jika sewaktu – waktu diperlukan untuk memberikan kesaksian.
Hanya yang berkepentingan diperbolehkan memasuki ruang sekretariat ROHIS yang
kini terasa seperti ruang sidang.
Hadir
di dalam ruang itu mentor sang ikhwan juga mentor sang akhwat, ketua ROHIS,
ketua keputrian dan seorang alumni yang merupakan pembina ROHIS. Tentunya juga
sepasang terduga.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh.” Sang pembina
mengawali acara.
“Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh.” Hadirin
serempak menjawab.
“Baik ikhwan
wa akhwat sekalian, mari kita awali pertemuan siang menjelang sore ini dengan sama – sama mengucapkan
basmalah.
“BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM”
“Sebelum ke inti acara, ana hendak menyampaikan bahwa
ana, para mentor, juga antum semua adalah keluarga besar di ROHIS ini. Karena
kita semua adalah keluarga maka adalah satu hal yang wajar jika kta saling
menjaga dan melindungi, juga saing menasehati dalam kebenaran dan kesabaran
sebagaimana firman Allah di QS.Al’Ashr, watawashshoubil
haq watawashshoubishshobr. Jadi ana berharap, kita semua yang hadir di sini
bisa memaknai pertemuan ini sebagai pertemuan keluarga yang anggotanya saling
menyayangi. Bisa diterima?”
“Iya ka,” jawab para hadirin seraya menganggukkan
kepala.
“Baik, langsung saja ke inti acara ya. Seperti kita
ketahui bersama bahwa acara siang ini bertujuan untuk bertabayun, mengklarifikasi
berita tentang kedekatan hubungan antara ukhti N dan akhi R. Di tangan ana ada
catatan dari para mentor kalian terkat informasi dan data yang mengarah pada
hal tersebut. Pada kesempatan ini, ana ingin mendengarkan langsung penjelasan
dari antum berdua. Silakan akhi R atau ukht N untuk menjelaskan.”
Ukhti
N yang sedari awal menundukkan kepala semakin dalam merunduk dalam diam. Akhi R
tampak memberanikan diri menjawab pertanyaansang pembina.
“Ana ka’”
“Silakan”
“Jadi apa yang ada di catatan itu benar adanya. Kami
memang memiliki hubungan istimewa. Sejak SD kami sudah saling mengenal karena
rumah kami berdekatan. Orang tua kami juga saling mengenal. Bahkan ibunda N
meminta ana untuk menjaga N. Membersamai saat di sekolah ataupun ketika pulang
jika tidak ada yang bisa menjemput N. Ana mohon maaf jika hal ini mengganggu dan
merupakan sebuah kesalahan bagi anak ROHIS.”
“Jadi begitu ceritanya. Ukhti N mau menambahkan
sesuatu ?”
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
“Para mentor, ada yang mau disampaikan ?”
“Eheemmm. Jadi bagaimana selanjutnya ka ?” Fauzi
mentornya R mulai buka suara.
“Apakah akhi R dan ukhti N sudah pernah diberikan
materi adab bergaul dalam Islam?” tanya ka’ Addi sang pembina.
Tentu saja pertanyaan itu ditujukan kepada Fauzi dan
Dewina yang merupakan mentor dari akhi R dan ukhti N.
“Sudah, ka” jawab Fauzi dan Dewina nyaris bersamaan.
“Apakah antum berdua sudah memahami materi itu ?”, tanya
ka’ Addi kepada akhi R dan ukhti N. Lagi – lagi hanya dijawb dengan anggukan
kepala.
“Alhamdulillah kalau kalian udah paham. Itu arinya
tinggal menjalankan saja. Iya, kan ?” lanjut ka’ Addi.
“Baik, sekarang tinggal kita diskusikan bagaimana
supaya kedekatan mereka bisa dikondisikan agar seuai dengan adab bergaul. Bukan
begitu ka’ Addi?” Fauzi mengajukan pertanyaan.
“Iya”
“Bagaimana R dan N, apakah kalian sudah tahu
bagaimana caanya mengamalkan apa yang kalian pahami tentang adab bergaul dengan
lawan jenis ?”, tanya Dewina.
“Insya Allah, ka.” Jawab N.
“Bisa disebutkan contohnya ?” sambung Dewina.
“Jangan berdua – duaan, sebisa mungkin meminimalisir
interaksi baik ketemu langsung maupun via telepon, menundukkan pandangan, ka’”
“Ada lagi R ?”, tanya Fauzi
“Kalaupun harus menjaga N saat pulang sekolah, bisa
minta ditemani akhwat lain, begitu juga di sekolah, bisa minta tolong ahwat
yang sekelas dengan N.”
“Alhamdulillah, sepertiny sudah clear semuanya ya.” Sambung
ka Addi.
“Alhamdulillah” seru mereka serempak. Mendung yang
sjak tadi menggelayut di wajah R dan N mulai beranjak berganti senyum yang
menghangatkan suasana.
“Masih ada yang mau disampaikan lagi ?” tanya ka
Addi.
“Cukup, ka.”
“Baik, kita akhiri saja ya pertemuan kali ini. Mari sama
- sama kita baca istghfar, hamdalah dan doa kafaratul majlis.” Pungkas ka’ Addi
menutup acara.
Usai doa dibacakan dan salam penutup, Fauzi menyalami
R lalu memeluknya erat, begitu juga ka’ Addi. Tentu saja di ruang sebelah yang
berbataskan lemari, Dewina dan N juga bersalaman dan berpelukan dalam keharuan.
Ama
dan beberapa akhwat yang siaga di luar ruang sekretariat tampak lega saat
menyaksikan pemandangan yang menentramkan ketika R dan N keluar dari ruang
ROHIS. Satu kata yang kompak mereka ucapkan, Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar