Sabtu, 25 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Mengisi kultum

                Episode pengantaran air menjadi penutup hari yang manis buat Ama. Malam itu ia tidur berselimut rasa cinta, damai dan kesyukuran. Tidak dihiraukan candaan teman sekamarnya tentang heroiknya para ikhwan pengantar air, juga betapa beruntungnya Ama berani bicara langsung dan mendapat pelayanan dari para ikhwan yang ternyata adalah para alumni. Ya, mereka adalah kakak kelas yang sudah lulus SMA dan sekarang berstatus mahasiswa dan masih memiliki kepedulian pada adik kelas semacam Ama. Upss sepertinya ada yang cemburu nih sama Ama ...
                Kabut merambat turun, kian lama kian pekat membersamai gulita malam. Awan berarak sesekali menyelimuti rembulan yang memantulkan sinar nan lembut. Suasana penginapan tempat dauroh dilaksanakan tampak mulai lengang. Peserta mulai terbuai mimpi, tmpak beberapa panita yang tetap terjaga dan sesekali berpatroli guna menjaga keamanan lokasi.
Dari balik jendela Ahmad mengamati situasi di dalam ruangan. Hanya satu tujuan, memandang pujaan hatinya dari kejauhan. “Ama, senyummu. Bagaimana mungkin aku terus menahan diri untuk tidak menunjukkan perasaanku sementara aku lihat laki – laki lain begitu leluasa untuk berinteraksi denganmu ? Apakah kamu yakin bahwa merka tidak menaruh rasa padamu, atau sebaliknya kamu yang jatuh hati pada mereka ? Kalau sampai begitu, bagaimana aku bisa memperjuangkan rasa ini...?” tanya Ahmad yang hanya mampu ia teriakkan dalam hati. Ia terus memerhatikan gerak – gerik Ama yang tampak serius meski sesekali tampak senyuman menghias wajahnya.  Di dalam sana, bersama dua orang teman wanita dan beberapa pria. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Beberapa saat kemudian, Ama dan teman wanitanya meninggalkan ruangan. Lalu menuju taman yang terletak di belakang.
“Kami duluan ya, Ma, dah ngantuk soalnya. Jangan lama – lama sendirian di taman.”
“Beres.” Jawab Ama singkat lalu menyeret kakinya menuju sebuah ayunan yang terbut dari ban bekas. Tanpa ragu ia segera duduk dan berayun di sana.
Senyum tipis tampak menghiasi bibirnya, ia tampak sangat menikmati sentuhan angin di wajahnya.”
“Bahagianya kalau aku bisa mengayunmu, Ma” bisik Ahmad dalam hati.
“Kamu ko kaya anak kecil banget sih, gemesinnn. Tapi galaknya ya ampuuuun.” Masih dengan hatinya Ahmad berdiskusi, tak terasa senyum simpul hadir di wajahnya melihat tingkah Ama yang sangat kekanakan.
                Saat Ama tengah menikmati ayunan serta sentuhan angin yang lembut, Ahmad mendengar suara dari arah taman dan ia melihat tali ayunan mulai putus dan tak lama.
Brug
Aaaaa
Demi melihat pujaan hatnya terjatuh, Ahmad lupa kalau poisinya sedang mengintai. Ia segera berlari menuju Ama.
“Amaaa...!!!”, di pegangnya tali ayunan yang putus lalu berlutut untuk melihat kondisi Ama.
“Kamu ga papa?” tanyanya khawatir.
“Jangan sentuh aku” Ama mencegah. Ahmad segera menarik tangannya.
”Oke, tapi aku mau memastikan kalau kamu baik –baik saja.”
Ama mengangkat wajahnya lalu menatap Ahmad. Yang ditatap salah tingkah. Deru dalam dadanya kian hingar. Irama jantung kian tak terkendali, berloncatan entah sampai kapan. Hanya nafas yang perlahan bisa ia kendalikan.
“Kamu ga papa, kan?”, akhirnya ada kata yang berhasil meluncur.
“Sedikit sakit, banyakan kagetnya. Tapi aku ga papa. Lagian ngapain kamu di sini ? Aku kira aku hanya berteman sepi.”
Ahmad makin salah tingkah. Hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, serta mengacak rambut landaknya.
“Aku bantu berdiri ya,”
“Ga usah bisa sendiri.”
“Oke.”
“Ahmad...”
“Iya, Ama ...”
“Aku tahu kamu punya rasa untukku.”
What did she say? What??? Bisa diulang??? Demi apaaaa???? Seketika bunga – bunga di taman bermigrasi ke hati Ahmad, memenuhi, menghiasi serta menaburkan harum nan semerbak. Andaikan ini adegan film kartun, pasti mata Ahmad berubah bentuk jadi hati yang kelap – kelip, hehehe.
“Tapi aku bukan tipe orang yang mudah menerima dan membalas rasa. Jaga jarak denganku, biarkan semuanya tetap asing hingga kelak sang waktu membuka hatiku. Kalu memang kita berjodoh, Allah pasti menyatukan kita. Saat ini aku hanya menginginkan persahabatan yang tulus, tanpa buaian asmara.”
“Tapi Ama”
“Buat aku, asmara bukan untuk diobral, tapi dijaga agar kelak ia bersemi indah pada waktunya dengan cara halal yang diridhoi oleh Allah juga kedua orang tua. Aku ga mau buang waktu menangani perasaan yang terlarang.”
                Bunga – bunga indah yang baru saja bermekaran di taman hati Ahmad seketika layu dan memudarkan keindahannya. Jantung yang sedari tadi berloncatan riang gembira penuh suka cita, kini perlahan berdegup.
“Tapi Ama, apakah ini berarti kamu juga punya perasaan yang sama untukku?”
Hening
Disemainya lagi bunga – bunga dalam hati, berharap kan kembali bersemi.
“Jawab, Ama... aku menunggu.”
Ama hanya memberikan sebuah senyuman, wajahnya perlahan kian jauh dan terus menjauh.  Ahmad berusaha menggapai Ama dengan kedua tangannya namun Ama terlalu jauh.
Ahmad berusaha untuk berdiri namun kakinya terasa seperti menghujam bumi.
“Amaaa...”
                Ahmad merasa pukulan kecil mendarat di pipinya berkali – kali.
“Mad, Ahmad ...”
Perlahan dibuka matanya. Syauty tampak sedang menepuk – nepuk pipinya.
”Bangun, Mad ... mimpi apa sih samapai terak gitu. Seru kayanya.”
Ahmad menatap sekeliling seraya mengusap kedua matanya. Lalu terenyum.
“Jiiiah dia malah senyum. Dah bangun yu’ panitia sudah mengingatkan untuk bersiap qiyamul lail.”
                Rupanya Ahmad baru saja bermimpi. Mimpi yang indah hingga membuat senyum bertahan lama di bibirnya, seolah enggan untuk pergi.
“Ama, jadi kamu memintaku untuk menunggu sang waktu ? Fine, saat ini aku akan berusaha menjadi sahabatmu. Duhai hati bekerja samalah denganku. Biarkan aku bersahabat dengan Ama, oke?”
“Ya ampuuuun masih senyam senyum, ayo bangun .... Mimpi apa pula kau ini ? Subuh nanti kau giliran kultum, sudah dapat bahannya belum ha?” seru Syauty seraya melempar bantal ke arah Ahmad.
“Udah dong, tenang...” jawab Ahmad tangkas menangkap bantal.
Kemudan mereka membangunkan teman kelompoknya untuk bersiap melaksanakan qiyamul lail lalu tilawah hingga Subuh, lanjut sholat, dzikir dan kultum. Kali ini Ahmad yang bertugas mengisi kultum.  
A’udzu billahi minasysyaithonirrojiim
Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaikum warohmatullhi wa barokatuh
Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aalihi washohbihi ajma’in. Amma ba’du
Teman – teman sekalian, pada kesempatan kultum kali ini saya akan menyampaikan tema bersaudara karena Allah.
...
Jadi, teman – teman semua kita semua di sini bersudara. Mari kita menjalin cinta dalam balutan ukhuwah yang indah. Ana uhibbukum fillah.
Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh.

“Ana uhibbuki fillah, Ama ...” gumam Ahmad dalam hati selepas menutup kultumnya dengan salam.
“Masya Allah akhi, dalam sekali kultum yang antum bawakan. Pasti dari hati yang dalam nih.” Puji ka Lutfi sang ketua ROHIS untuk Ahmad.
“Ah, kaka bisa aja. Jadi malu saya.”
“Iya, beneran akh. Kan sudah lazim bahwa apa yang dari hat akan sampai ke hati ...”
Ahmad tersenyum mendengar pujian itu. Dalam hati ia membenarkan bahwa memang kultum yang disampaikan tadi adalah benar – benar berasl dari hati. Khususnya ditujukan untuk hati Ama, hehehee.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar