Kamis, 23 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Dauroh pertama

                Tak terasa genap dua bulan Ama menjalani hari sebagai siswi SMA. Ia sudah mulai terbiasa dengan padatnya jadwal kegiatan belajar di sekolah juga PR yang menumpuk untuk dikerjakan di rumah. Meski hari – hari dipenuhi belajar, belajar dan belajar, Ama tetap merasa bahagia. Apalagi sejak aktif di ekskul ROHIS, ia memiliki banyak teman. Bukan hanya sebatas teman sekelas, tapi juga lintas kelas bahkan lintas angkatan. Ama sangat menikmati hari – harinya.
“Ma, lo ikut dauroh pekan depan ga” Farid mengawali perbincangan.
“Dauroh apaan sih, Rid? Ngapain aja nanti di sana?”
“Kalo kata ka Lutfi, dauroh itu artinya pelatihan ato trening.”
“Emang pelatihan apaan?”
 “Pelatihan jiwa dan raga, mental spiritual, jasmani dan rohani, fisik dan ...”
“Ah so tau lo.” Potong Ama menghentikn Farid yang tengah berapi – api menjelaskan tentang dauroh ROHIS.
“Ish ... yang begini ni, dikasih tahunya susah.” Farid pura – pura merajuk.
“Iya deh sori. Makanya lo jelasin yang bener. Ngapain aja nanti di sana.”
“Ga mau, ngambek gue. Lo tanya aja sama mentornya pas mentoring. Satu yang gue jamin, lo bakal nyesel kalo ga ikutan acara ini. Percaya sama gue.”
“Ah lagu lo. Tengil.” Seru Ama seraya memanyunkan bibirnya lalu beranjak menuju Tari, sahabatnya.
                Setelah sebentar bercakap dengan Tari, Ama menghampiri Yuyun untuk bertanya tentang dauroh.
“Aku juga belum pernah ikut sih, tapi kalau dari penjelasan ketua keputrian kemarin kalau dauroh itu artinya pelatihan. Dan rangkaian acara dauroh pekan depan antara lain ada jurit malam, tracking, games seru, dll. Yang sudah jelas asik sih tempatnya, Ma. Puncak gitu loh. Indah pastinya. Ikutan ya, Ma... biar aku ada temen ngobrol, hehehe.”
“Mau sih, mudah-mudahan orang tuaku kasih izin ya. Soalnya aku ga pernah pergi jauh apalagi nginep tanpa mereka.”
“Aamiin” ucap Yuyun seraya menengadahkan kedua tangannya.
                Seminggu berlalu. Ama dan ratusan anak ROHIS tampak bersiap menunggu keberangkatan menuju Puncak. Lima buah mobil tronton terpakir berjajar di halaman sekolah. Peserta yang kebanyakan anak baru terlihat takjub melihat tronton. Dalam hati mereka merasa tidak yakin bahwa kendaraan ini yang akan mengantar menuju lokasi acara.
“Jadi kita naik ini, Ka?”, tanya peserta ikhwan kepada panitia yang tengah memasukkan perlengkapan ke atas tronton.
“Iya...”
“Wow...”
“Masya Allah...bukan wow” ralat sang kaka panita.
“Eh iya, masya Allah, hehehehe. Maaf kaka. Saya khilaf.” Ujar sang adik kelas seraya kembali ke barisan.
Sementara di barisan akhwat ada yang meminta diantar keluarganya saat melihat tronton di hadapan.
“Kaka, plis, aku ga pernah naik mobil kek gini. Ya ampun kalau aku terlempar gimana ? Aku telepon mamaku aja ya biar dikirim supir buat antar aku. Panita juga bisa ikut mobil aku ko ka, pliiis.” Gadis itu memohon sambil memasang senyum terindah yang bisa ia usahakan.
                Ama tampak tenang memerhatikan sekeliling sambil sesekali membaca aturan dan tata tertib acara.

Tatib Dauroh
1.       Menunjukkan akhlaq terpuji selama acara berlangsung.
2.       Menggunakan bahasa ana untuk saya, antum/anti untuk kamu.
3.       Mengikuti setiap rangkaian acara.
4.       Meminta izin kepada panita saat hendak meninggalkan acara / lokasi kegiatan dauroh
5.       Berbusana Islami / menutup aurat
6.       Tidak diperkenankan berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis) / berikhtilat (berbaur laki – laki dan perempuan).   

Jarum jam di tangan Ama sudah menunjuk tepat angka 4. Panita sudah selesai berkemas dan acara pelepasan oleh kepala sekolah juga baru saja usai dilakukan.
“Assalamu’alaikum ... perhatian kepada seluruh peserta dauroh diminta bersiap untuk naik ke atas tronton sesuai kelompoknya masing - masing.” Terdengar suara panitia melalui pengeras suara.
Semua peserta bergegas menuju tronton. Wajah mereka tampak antusias, meski ada beberapa wajah yang terlihat cemas.
Panitia sigap membantu peserta naik ke atas tronton. Ada juga yang membagikan kantung plastik, persediaan jika ada peserta yang mabuk di perjalanan. Bagi Ama, ini adalah pengalaman yang sangat menarik. Pertama kali dalam hidupnya ia pergi jauh tanpa orang tua, menginap di tempat asing.
Deru mesin tronton bersahutan. Satu per satu mulai melaju meninggalkan halaman sekolah. Penanggung jawab di setiap kendaraan memandu peserta untuk membaca doa. Mereka dengan teliti mengingatkan peserta untuk duduk dengan nyaman dan aman. Semua panita duduk di tepi tronton untuk menjaga keamanan. Memastikan para peserta selamat dan terlindungi. Luar biasa, begitu batin Ama.
Suasana jalan cukup lengang membuat tronton melaju dengan sangat kencang. Hanya suara angin menderu, berkejaran dengan laju barisan tronton. Dalam dua jam saja mereka sudah tiba di lokasi tujuan.
Warna jingga di langit kala itu menyambut kedatangan rangkaian tronton. Udara dingin segera menghampiri para peserta dan panitia. Hamparan hijau terbentang memanjakan mata, membuat mereka terpesona dan hanya memandang sekitar. Panita mengarahkan peserta untuk memasuki penginapan masing – masing sesuai kelompok yang telah ditentukan.
Saat menuju penginapan, Ama melintas di hadapan panitia ikhwan dan akhwat yang sedang berkumpul. Dari kejauhan ia bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Jadi tadi pengurus vila bilang kalau airnya lagi rusak. Jadi untuk malam ini ga ada air. Sedang diusahakan sih katanya.”
“Lalu bagaimana untuk kebutuhan mandi peserta ...?
Demi mendengar itu, hujan pertanyaan tumpah di kepala Ama.
Ha? Ga ada air???
Mandi gimana? Ya, ampun ... aku kan harus mandi, ga biasa kalau ga mandi sore. Aduh, ga mau tahu pokoknya harus mandi, te i te i ka, titik.
Tanpa ragu, Ama mengarahkan kakinya menuju panitia yang tengah berdiskusi. Tas besar yang bergelayut manja di punggungnya sama sekali tidak mengubah derap langkahnya yang gagah bagai perwira.
“Mmmh, Assalamu’alaikum. Maaf ka’ tadi saya dengar katanya ga ada air ya? Aduh ka’ gimana ya, saya tuh ga bisa kalau ga mandi sore ka. Ga biasa. Kulit saya bisa lecet gitu. Apalagi pakai baju ketutup kaya gini, aduh ga kebayang deh kaka. Pokoknya ya ka’ saya mau ada air untuk mandi, gimanapun caranya. Kalau ga ada ya mending saya pulang aja deh.”
                Ya ampun Amaaaaa, terlalu deh. Ga punya perasaan. Heloooo, anak baru bukannya empati malah nyerocos kaya petasan. Dear kaka panita, yang sabar ya. Ama emang suka gitu,huhuhu.
Mba – mba panitia serempak menatap Ama. Mereka tampak takjub, eh terkejut dengan keberanian Ama. Dua dari tiga mba panitia bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa jengkel yang hadir tanpa permisi. Seorang yang tampak gusar segera mendekati Ama, tepat sebelum ia membuka mulut, seorang panita ikhwan yang berkaca mata dan berambut ikal menatap Ama. Ia tersenyum dan menjawab, “InsyaAllah de’ kami akan berusaha mencarikan air untuk kamu mandi.”
“Harus dapat ya, ka” jawab Ama serius.
“Insya Allah.”
Tanpa rasa bersalah dan ragu, Ama mantap berjalan menuju penginapannya. Meninggalkan para panitia yang masih sibuk mencari solusi tentang air. Dasar Ama!
Adzan Mghrib berkumandang. Para peserta dan panitia berwudhu dengan sisa air yang tersedia. Mereka sholat berjamaah di aula utama lalu lanjut dengan dzikir dan doa bersama hingga waktu Isya tiba.
Usai sholat Isya, peserta dan panitia makan malam bersama. Nampan besar sudah beredar. Satu nampan untuk dimakan berempat. Aroma nasi goreng, telur ceplok dan kerupuk bawang segera memenuh ruangan. Semua bersiap untuk menyantap hidangan dengan penuh suka cita, kecuali Ama yang masih menanti air yang dijanjikan panitia.
“Makan dulu ya, de... nanti kalau airnya sudah ada kami infokan.”, mentor Ama tampak berusaha menjelaskan dan menenangkan Ama yang mulai menggaruk bagian tubuhnya yang terasa lengket dan gatal. Kulit Ama memang sensitif. Harus terjaga kebersihan dan kelembabannya agar tidak iritasi. Ia menunjukkan dagunya yang lecet karena iritasi saat peniti yang digunakan untuk jilbabnya menempel di permukaan kulit.
Tak lama setelah acara makan selesai, sekelompok ikhwan mendatangi penginapan Ama membawa dua ember air. Ama melihat para ikhwan itu berkerngat meski cuaca di puncak terasa dingin. Ada bekas merah di tangan mereka, jejak pegangan ember yang digunakan untuk mengangkut air untuk Ama.
Seketika Ama merasa bersalah melihat pemandangan itu. Ia lalu menemui mereka dan mengucapkan terima kasih dan memohon maaf kalau ia sangat merepotkan dan menyebalkan.
“Tidak apa – apa de’, kami paham. Sudah tugas kami membuat kalian merasa nyaman di acara ini. Kami juga mohon maaf atas hal ini.” jawaban yang sukses membuat hati Ama meleleh.
Bulir bening mendesak untuk keluar dari dua matanya. Ama menahan hingga hidungnya memerah. “Iya ka’... terima kasih ...” ucapnya lirih.
“Sudah mandi sana, dihemat airnya ya”, begitu pesan para ikhwan sebelum beranjak pergi.
Meninggalkan hati Ama yang mulai bersemi dalam semai ikatan ukhuwah.
“Ya, Allah, indah sekali rasanya. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan keluarga ini. Izinkan aku untuk senantasa berada di sini, bersama mereka. Izinkan aku mengeja makna ukhuwah bersama mereka, selamanya ...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar