Teman
Sehati * Best Friend Forever
Dauroh pertama
Tak
terasa genap dua bulan Ama menjalani hari sebagai siswi SMA. Ia sudah mulai
terbiasa dengan padatnya jadwal kegiatan belajar di sekolah juga PR yang
menumpuk untuk dikerjakan di rumah. Meski hari – hari dipenuhi belajar, belajar
dan belajar, Ama tetap merasa bahagia. Apalagi sejak aktif di ekskul ROHIS, ia
memiliki banyak teman. Bukan hanya sebatas teman sekelas, tapi juga lintas kelas
bahkan lintas angkatan. Ama sangat menikmati hari – harinya.
“Ma, lo ikut dauroh pekan depan
ga” Farid mengawali perbincangan.
“Dauroh apaan sih, Rid? Ngapain aja nanti di sana?”
“Kalo kata ka Lutfi, dauroh itu artinya pelatihan ato
trening.”
“Emang pelatihan apaan?”
“Pelatihan
jiwa dan raga, mental spiritual, jasmani dan rohani, fisik dan ...”
“Ah so tau lo.” Potong Ama menghentikn Farid yang tengah
berapi – api menjelaskan tentang dauroh ROHIS.
“Ish ... yang begini ni, dikasih tahunya susah.”
Farid pura – pura merajuk.
“Iya deh sori. Makanya lo jelasin yang bener. Ngapain
aja nanti di sana.”
“Ga mau, ngambek gue. Lo tanya aja sama mentornya pas
mentoring. Satu yang gue jamin, lo bakal nyesel kalo ga ikutan acara ini.
Percaya sama gue.”
“Ah lagu lo. Tengil.” Seru Ama seraya memanyunkan
bibirnya lalu beranjak menuju Tari, sahabatnya.
Setelah
sebentar bercakap dengan Tari, Ama menghampiri Yuyun untuk bertanya tentang
dauroh.
“Aku juga belum pernah ikut sih, tapi kalau dari
penjelasan ketua keputrian kemarin kalau dauroh itu artinya pelatihan. Dan
rangkaian acara dauroh pekan depan antara lain ada jurit malam, tracking, games
seru, dll. Yang sudah jelas asik sih tempatnya, Ma. Puncak gitu loh. Indah
pastinya. Ikutan ya, Ma... biar aku ada temen ngobrol, hehehe.”
“Mau sih, mudah-mudahan orang tuaku kasih izin ya.
Soalnya aku ga pernah pergi jauh apalagi nginep tanpa mereka.”
“Aamiin” ucap Yuyun seraya menengadahkan kedua tangannya.
Seminggu
berlalu. Ama dan ratusan anak ROHIS tampak bersiap menunggu keberangkatan
menuju Puncak. Lima buah mobil tronton terpakir berjajar di halaman sekolah.
Peserta yang kebanyakan anak baru terlihat takjub melihat tronton. Dalam hati
mereka merasa tidak yakin bahwa kendaraan ini yang akan mengantar menuju lokasi
acara.
“Jadi kita naik ini, Ka?”, tanya peserta ikhwan
kepada panitia yang tengah memasukkan perlengkapan ke atas tronton.
“Iya...”
“Wow...”
“Masya Allah...bukan wow” ralat sang kaka panita.
“Eh iya, masya Allah, hehehehe. Maaf kaka. Saya khilaf.”
Ujar sang adik kelas seraya kembali ke barisan.
Sementara di barisan akhwat ada
yang meminta diantar keluarganya saat melihat tronton di hadapan.
“Kaka, plis, aku ga pernah naik mobil kek gini. Ya
ampun kalau aku terlempar gimana ? Aku telepon mamaku aja ya biar dikirim supir
buat antar aku. Panita juga bisa ikut mobil aku ko ka, pliiis.” Gadis itu
memohon sambil memasang senyum terindah yang bisa ia usahakan.
Ama
tampak tenang memerhatikan sekeliling sambil sesekali membaca aturan dan tata
tertib acara.
Tatib Dauroh
1.
Menunjukkan
akhlaq terpuji selama acara berlangsung.
2.
Menggunakan
bahasa ana untuk saya, antum/anti untuk kamu.
3.
Mengikuti
setiap rangkaian acara.
4.
Meminta
izin kepada panita saat hendak meninggalkan acara / lokasi kegiatan dauroh
5.
Berbusana
Islami / menutup aurat
6.
Tidak
diperkenankan berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis) / berikhtilat (berbaur
laki – laki dan perempuan).
Jarum jam di tangan Ama sudah
menunjuk tepat angka 4. Panita sudah selesai berkemas dan acara pelepasan oleh
kepala sekolah juga baru saja usai dilakukan.
“Assalamu’alaikum ... perhatian kepada seluruh
peserta dauroh diminta bersiap untuk naik ke atas tronton sesuai kelompoknya masing
- masing.” Terdengar suara panitia melalui pengeras suara.
Semua peserta bergegas menuju tronton. Wajah mereka
tampak antusias, meski ada beberapa wajah yang terlihat cemas.
Panitia sigap membantu peserta naik ke atas tronton.
Ada juga yang membagikan kantung plastik, persediaan jika ada peserta yang
mabuk di perjalanan. Bagi Ama, ini adalah pengalaman yang sangat menarik.
Pertama kali dalam hidupnya ia pergi jauh tanpa orang tua, menginap di tempat
asing.
Deru mesin tronton bersahutan.
Satu per satu mulai melaju meninggalkan halaman sekolah. Penanggung jawab di
setiap kendaraan memandu peserta untuk membaca doa. Mereka dengan teliti mengingatkan
peserta untuk duduk dengan nyaman dan aman. Semua panita duduk di tepi tronton
untuk menjaga keamanan. Memastikan para peserta selamat dan terlindungi. Luar
biasa, begitu batin Ama.
Suasana jalan cukup lengang
membuat tronton melaju dengan sangat kencang. Hanya suara angin menderu,
berkejaran dengan laju barisan tronton. Dalam dua jam saja mereka sudah tiba di
lokasi tujuan.
Warna jingga di langit kala itu
menyambut kedatangan rangkaian tronton. Udara dingin segera menghampiri para
peserta dan panitia. Hamparan hijau terbentang memanjakan mata, membuat mereka
terpesona dan hanya memandang sekitar. Panita mengarahkan peserta untuk
memasuki penginapan masing – masing sesuai kelompok yang telah ditentukan.
Saat menuju penginapan, Ama
melintas di hadapan panitia ikhwan dan akhwat yang sedang berkumpul. Dari
kejauhan ia bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Jadi tadi pengurus vila bilang kalau airnya lagi
rusak. Jadi untuk malam ini ga ada air. Sedang diusahakan sih katanya.”
“Lalu bagaimana untuk kebutuhan mandi peserta ...?
Demi mendengar itu, hujan pertanyaan tumpah di kepala
Ama.
Ha? Ga ada air???
Mandi gimana? Ya, ampun ... aku kan harus mandi, ga
biasa kalau ga mandi sore. Aduh, ga mau tahu pokoknya harus mandi, te i te i
ka, titik.
Tanpa ragu, Ama mengarahkan
kakinya menuju panitia yang tengah berdiskusi. Tas besar yang bergelayut manja
di punggungnya sama sekali tidak mengubah derap langkahnya yang gagah bagai
perwira.
“Mmmh, Assalamu’alaikum. Maaf ka’ tadi saya dengar
katanya ga ada air ya? Aduh ka’ gimana ya, saya tuh ga bisa kalau ga mandi sore
ka. Ga biasa. Kulit saya bisa lecet gitu. Apalagi pakai baju ketutup kaya gini,
aduh ga kebayang deh kaka. Pokoknya ya ka’ saya mau ada air untuk mandi, gimanapun
caranya. Kalau ga ada ya mending saya pulang aja deh.”
Ya
ampun Amaaaaa, terlalu deh. Ga punya perasaan. Heloooo, anak baru bukannya
empati malah nyerocos kaya petasan. Dear kaka panita, yang sabar ya. Ama emang
suka gitu,huhuhu.
Mba – mba panitia serempak menatap Ama. Mereka tampak
takjub, eh terkejut dengan keberanian Ama. Dua dari tiga mba panitia bahkan tidak
bisa menyembunyikan rasa jengkel yang hadir tanpa permisi. Seorang yang tampak
gusar segera mendekati Ama, tepat sebelum ia membuka mulut, seorang panita ikhwan
yang berkaca mata dan berambut ikal menatap Ama. Ia tersenyum dan menjawab, “InsyaAllah
de’ kami akan berusaha mencarikan air untuk kamu mandi.”
“Harus dapat ya, ka” jawab Ama serius.
“Insya Allah.”
Tanpa rasa bersalah dan ragu, Ama mantap berjalan
menuju penginapannya. Meninggalkan para panitia yang masih sibuk mencari solusi
tentang air. Dasar Ama!
Adzan Mghrib berkumandang. Para
peserta dan panitia berwudhu dengan sisa air yang tersedia. Mereka sholat
berjamaah di aula utama lalu lanjut dengan dzikir dan doa bersama hingga waktu Isya
tiba.
Usai sholat Isya, peserta dan
panitia makan malam bersama. Nampan besar sudah beredar. Satu nampan untuk
dimakan berempat. Aroma nasi goreng, telur ceplok dan kerupuk bawang segera
memenuh ruangan. Semua bersiap untuk menyantap hidangan dengan penuh suka cita,
kecuali Ama yang masih menanti air yang dijanjikan panitia.
“Makan dulu ya, de... nanti kalau airnya sudah ada
kami infokan.”, mentor Ama tampak berusaha menjelaskan dan menenangkan Ama yang
mulai menggaruk bagian tubuhnya yang terasa lengket dan gatal. Kulit Ama memang
sensitif. Harus terjaga kebersihan dan kelembabannya agar tidak iritasi. Ia
menunjukkan dagunya yang lecet karena iritasi saat peniti yang digunakan untuk
jilbabnya menempel di permukaan kulit.
Tak lama setelah acara makan
selesai, sekelompok ikhwan mendatangi penginapan Ama membawa dua ember air. Ama
melihat para ikhwan itu berkerngat meski cuaca di puncak terasa dingin. Ada
bekas merah di tangan mereka, jejak pegangan ember yang digunakan untuk
mengangkut air untuk Ama.
Seketika Ama merasa bersalah melihat pemandangan itu.
Ia lalu menemui mereka dan mengucapkan terima kasih dan memohon maaf kalau ia
sangat merepotkan dan menyebalkan.
“Tidak apa – apa de’, kami paham. Sudah tugas kami
membuat kalian merasa nyaman di acara ini. Kami juga mohon maaf atas hal ini.”
jawaban yang sukses membuat hati Ama meleleh.
Bulir bening mendesak untuk keluar dari dua matanya. Ama
menahan hingga hidungnya memerah. “Iya ka’... terima kasih ...” ucapnya lirih.
“Sudah mandi sana, dihemat airnya ya”, begitu pesan
para ikhwan sebelum beranjak pergi.
Meninggalkan hati Ama yang mulai bersemi dalam semai
ikatan ukhuwah.
“Ya, Allah, indah sekali rasanya. Terima kasih sudah
mempertemukan aku dengan keluarga ini. Izinkan aku untuk senantasa berada di
sini, bersama mereka. Izinkan aku mengeja makna ukhuwah bersama mereka,
selamanya ...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar