Diari Seorang Rahma
Di, masih ingat Ahmad
? Itu loh cowok Jaim yang duduk di bangku yang persis ada di depanku saat kelas
2 SMA dulu. Masa tiba – tiba dia kontak aku, nanya aku dah nikah pa belum.
Katanya dah lama dia cari aku terus dia ngajak ketemuan, Di. Gimana ya?
[Ma, gimana Sabtu ini? Jadi bisa
ketemuan gak?]
Nah, tuh kan Di, orangnya muncul
[Aku masih ada kelas sampai jam 17.00]
[Ya udah sekallian aku jemput aja,
gimana?]
Aduh ni orang maksa …
[Ya, aku tahu kamu ga akan mau jalan
berdua sama bukan mahrom. Tenang aja, aku ajak ponakanku, dua orang sekaligus,
hehehe]
“Hahaha, lucu deh”. Gumamku dalam
hati.
Akhirnya aku dan Ahmad bersepakat
untuk ketemu di sebuah kedai yang letaknya tak jauh dari rumah, jadi ga harus
dijemput karena aku anak mandiri, bisa pulang pergi sendiri, hihihi.
Menjelang Maghrib
aku sudah tiba di rumah. Mandi, sholat lalu bersiap memenuhi janji. Tapi ko
tetiba ada yang menggedor. Oh, rupanya jantungku berloncatan, menghentak dada.
Oh, ya ampun kenapa jadi gini. Beberapa kali aku bercermin dan menarik nafas
perlahan untuk memastikan jantungku bisa santuy, ups.
“Bu, Ama mau ke
kedai sebrang jalan, mau nitip dibeliin apa?”, tanyaku seraya mencium takzim
tangan ibundaku.
“Nitip mantu aja deh ya, hehehe”
jawabnya berseloroh
“Ibu apaan si, segala mantu dititip,
ga ada yang jual.” Jawabku sekenanya, mencium tangan bapak yang baru saja
datang dari masjid.
“Assalamu’alaikum…” masih terdengar
kekehan ibundaku.
Irama kaki dan
jantungku sangat tidak selaras. langkah kaki terasa sangat berat, sementara
laju jantung seolah ingin keluar dari posisinya. Ya, Robb, apa ini. Bismillah
tawakaltu ‘alallah.
Beberapa langkah lagi aku akan tiba
di kedai. Rasa dingin mulai menjalar. Rasanya ingin ku putar langkah ini. Namun
urung saat Ahmad memanggil dan melambaikan tangannya.
“Ama!”
“Assalamu’alaikum”, sapaku sambil
terus menata loncatan dalam dada. Ya Allah, Ahmad terlihat sangat menawan.
Aromanya, masih sama saat sekolah dulu. Astaghfirullah, senyumnya. Ah, saatnya
menundukkan pandangan, gumamku.
“Ama…kamu cantik sekali.”
“Eits…salamku belum dijawab”
“Oh iya sampai lupa, kamu sih cantik
banget. Wa’alaikum salam warahmatullah.” Jawabnya seraya memberi isyarat salam,
dua telapak tangannya bertungkup di depan dada. Pandangannya tak lepas dari
wajahku, menyisir setiap senti yang ia bisa.
“ehm…”
“Eh, oh, iya tundukkan pandangan ya,
Ma. Apa tuh istilahnya, bashar bashar gitu.” gaya kikuk dan salah tingkahnya
lucu sekali.
“Ghadul bashar”
“Nah itu. Ghadul bashar.”
“Jadi kita di sini aja nih?” tanyaku
memecah kekakuan.
“Ya, enggak lah. Ayo silakan masuk
tuan putri, hamba sudah memesan tempat dan makanan pembuka.”
“hum, gombal, ah. Mana ponakanmu?”
“Diajak orang tuanya, batal deh
menemani hamba…”
“Ahmad apaan sih, hamba segala. Aku
tinggal pulang nih.”
“Eh iya, maaf terbawa suasana.
kuylah.”
Ahmad berjalan di
depanku, menuju sebuah meja di lantai dua kedai. Tempatnya cukup nyaman, tidak
sepi itu yang penting.
“Gini ga khalwat kan, Ma?”, tanyanya
setelah menyilakan aku duduk.
Ku tatap wajah
lugu di hadapan. Memasikan apakah dia bercanda atau serius.
“Ga khalwat kan,
Ma?” Ahmad menggulangi.
“Ya, jelas khalwat
Ahmad. Di meja ini kan cuma ada kamu dan aku. Khalwat itu artinya menyepi,
berduaan...” jawabku seraya meneguk segelas air putih yang tersedia. Berharap jantung
ini bisa tetap terkendali iramanya.
“Hehehehe, berarti
aku telah mengajakmu berbuat dosa dong ya. Maaf. Bagaimana caranya supaya bisa
jadi pahala kalau kita berduaan? Serius nanya, soalnya dekat kamu tu buat aku
merasa bahagia, kaya ada manis – manisnya gitu, hehehehe”
Demi mendengarnya,
terpaksa aku berhenti meneguk air menahan agar tdak tersedak dan mempermalukan
diri sendiri.
Banyak tanya yang hanya mampu ku teriakkan dalam dada.
O em ji, ni orang
asal jeplak beud ya, serius ga sih?
Dia ngerti ga lagi
ngomong apa ya ?
Ga lagi panas tinggi
kan ya, kali ngigo, eh.
Eh, dia nembak itu
ya, kode kode, hadeuh.
“Ma ... Ama ...”
panggil Ahmad seraya menjentikkan jarinya.
“Lo sadar, kan?
Terpesona sama gue ya?”
“Ish, apaan sih ?
Gue tuh Cuma lagi heran, ga ngerti lo ngomong apa.”
“Ah, masa ga ngerti,
lo kan juara kelas. Terkenal pandai di seantero sekolah. Nih, gue tegesin ya,
gue pengen halalin lo. Mau ya?”
Praakkk. Ups,
sendok yang sedari tadi aku mainkan terjatuh dan menimpa piring berisi banana
nugget.
“Untung ga pecah
piringnya”
“Ma, ya ampun.
Hellloooo. Gue nanya lo malah merhatiin piring, astaghfirullah.”
“Eh, iya ... sorry
Ahmad. Aku hmm, aku eh ...”
Aduh ko ya jadi
salting macam ikan terdampar di darat. Tarik nafas biar tetap elegan. Bismillah
ya Allah tolong Ama.
“Ahmad”
“Iya Rahma ... “
“Kalau kamu
serius, datang ke rumah ya. Temui orang tuaku....”
“Siap,sekarang?”
“Iiih nanti,
setelah aku sholat istikhoroh. Kamu juga istikhoroh.”
“Siap tuan putri.
Aduh senangnya ... jadi sekarang kita jadian ya, Ma?”
“Jadian ? Ya
enggaklah. Kita masih seperti biasa, temenan aja. Setelah istikhoroh baru bisa
diputuskan akan lanjut atau tidak.”
“What ever lah.
Yang penting ada harapan, hehehehe. Ya sudah ayo pesan makanan utamanya. Kamu
maih suka nasi goreng sea food ? Aku ikutan ya ...”
***
Begitulah Di, Ahmad nembak aku eh mau melamar aku. Aduh kaya mimpi banget
deh rasanya. Kaget, senang, campur aduk. In bneran ga siy, Di ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar