Kamis, 23 Juli 2020

#Part4


Diari Seorang Rahma

Di, masih ingat Ahmad ? Itu loh cowok Jaim yang duduk di bangku yang persis ada di depanku saat kelas 2 SMA dulu. Masa tiba – tiba dia kontak aku, nanya aku dah nikah pa belum. Katanya dah lama dia cari aku terus dia ngajak ketemuan, Di. Gimana ya?
[Ma, gimana Sabtu ini? Jadi bisa ketemuan gak?]
Nah, tuh kan Di, orangnya muncul
[Aku masih ada kelas sampai jam 17.00]
[Ya udah sekallian aku jemput aja, gimana?]
Aduh ni orang maksa …
[Ya, aku tahu kamu ga akan mau jalan berdua sama bukan mahrom. Tenang aja, aku ajak ponakanku, dua orang sekaligus, hehehe]
“Hahaha, lucu deh”. Gumamku dalam hati.
Akhirnya aku dan Ahmad bersepakat untuk ketemu di sebuah kedai yang letaknya tak jauh dari rumah, jadi ga harus dijemput karena aku anak mandiri, bisa pulang pergi sendiri, hihihi.
Menjelang Maghrib aku sudah tiba di rumah. Mandi, sholat lalu bersiap memenuhi janji. Tapi ko tetiba ada yang menggedor. Oh, rupanya jantungku berloncatan, menghentak dada. Oh, ya ampun kenapa jadi gini. Beberapa kali aku bercermin dan menarik nafas perlahan untuk memastikan jantungku bisa santuy, ups.
“Bu, Ama mau ke kedai sebrang jalan, mau nitip dibeliin apa?”, tanyaku seraya mencium takzim tangan ibundaku.
“Nitip mantu aja deh ya, hehehe” jawabnya berseloroh
“Ibu apaan si, segala mantu dititip, ga ada yang jual.” Jawabku sekenanya, mencium tangan bapak yang baru saja datang dari masjid.
“Assalamu’alaikum…” masih terdengar kekehan ibundaku.
Irama kaki dan jantungku sangat tidak selaras. langkah kaki terasa sangat berat, sementara laju jantung seolah ingin keluar dari posisinya. Ya, Robb, apa ini. Bismillah tawakaltu ‘alallah.
Beberapa langkah lagi aku akan tiba di kedai. Rasa dingin mulai menjalar. Rasanya ingin ku putar langkah ini. Namun urung saat Ahmad memanggil dan melambaikan tangannya.
“Ama!”
“Assalamu’alaikum”, sapaku sambil terus menata loncatan dalam dada. Ya Allah, Ahmad terlihat sangat menawan. Aromanya, masih sama saat sekolah dulu. Astaghfirullah, senyumnya. Ah, saatnya menundukkan pandangan, gumamku.
“Ama…kamu cantik sekali.”
“Eits…salamku belum dijawab”
“Oh iya sampai lupa, kamu sih cantik banget. Wa’alaikum salam warahmatullah.” Jawabnya seraya memberi isyarat salam, dua telapak tangannya bertungkup di depan dada. Pandangannya tak lepas dari wajahku, menyisir setiap senti yang ia bisa.
“ehm…”
“Eh, oh, iya tundukkan pandangan ya, Ma. Apa tuh istilahnya, bashar bashar gitu.” gaya kikuk dan salah tingkahnya lucu sekali.
“Ghadul bashar”
“Nah itu. Ghadul bashar.”
“Jadi kita di sini aja nih?” tanyaku memecah kekakuan.
“Ya, enggak lah. Ayo silakan masuk tuan putri, hamba sudah memesan tempat dan makanan pembuka.”
“hum, gombal, ah. Mana ponakanmu?”
“Diajak orang tuanya, batal deh menemani hamba…”
“Ahmad apaan sih, hamba segala. Aku tinggal pulang nih.”
“Eh iya, maaf terbawa suasana. kuylah.”
Ahmad berjalan di depanku, menuju sebuah meja di lantai dua kedai. Tempatnya cukup nyaman, tidak sepi itu yang penting.
“Gini ga khalwat kan, Ma?”, tanyanya setelah menyilakan aku duduk.
Ku tatap wajah lugu di hadapan. Memasikan apakah dia bercanda atau serius.
“Ga khalwat kan, Ma?” Ahmad menggulangi.
“Ya, jelas khalwat Ahmad. Di meja ini kan cuma ada kamu dan aku. Khalwat itu artinya menyepi, berduaan...” jawabku seraya meneguk segelas air putih yang tersedia. Berharap jantung ini bisa tetap terkendali iramanya.
“Hehehehe, berarti aku telah mengajakmu berbuat dosa dong ya. Maaf. Bagaimana caranya supaya bisa jadi pahala kalau kita berduaan? Serius nanya, soalnya dekat kamu tu buat aku merasa bahagia, kaya ada manis – manisnya gitu, hehehehe”
Demi mendengarnya, terpaksa aku berhenti meneguk air menahan agar tdak tersedak dan mempermalukan diri sendiri.
Banyak tanya yang hanya mampu ku teriakkan dalam dada.
O em ji, ni orang asal jeplak beud ya, serius ga sih?
Dia ngerti ga lagi ngomong apa ya ?
Ga lagi panas tinggi kan ya, kali ngigo, eh.
Eh, dia nembak itu ya, kode kode, hadeuh.
“Ma ... Ama ...” panggil Ahmad seraya menjentikkan jarinya.
“Lo sadar, kan? Terpesona sama gue ya?”
“Ish, apaan sih ? Gue tuh Cuma lagi heran, ga ngerti lo ngomong apa.”
“Ah, masa ga ngerti, lo kan juara kelas. Terkenal pandai di seantero sekolah. Nih, gue tegesin ya, gue pengen halalin  lo. Mau ya?”
Praakkk. Ups, sendok yang sedari tadi aku mainkan terjatuh dan menimpa piring berisi banana nugget.
“Untung ga pecah piringnya”
“Ma, ya ampun. Hellloooo. Gue nanya lo malah merhatiin piring, astaghfirullah.”
“Eh, iya ... sorry Ahmad. Aku hmm, aku eh ...”
Aduh ko ya jadi salting macam ikan terdampar di darat. Tarik nafas biar tetap elegan. Bismillah ya Allah tolong Ama.
“Ahmad”
“Iya Rahma ... “
“Kalau kamu serius, datang ke rumah ya. Temui orang tuaku....”
“Siap,sekarang?”
“Iiih nanti, setelah aku sholat istikhoroh. Kamu juga istikhoroh.”
“Siap tuan putri. Aduh senangnya ... jadi sekarang kita jadian ya, Ma?”
“Jadian ? Ya enggaklah. Kita masih seperti biasa, temenan aja. Setelah istikhoroh baru bisa diputuskan akan lanjut atau tidak.”
“What ever lah. Yang penting ada harapan, hehehehe. Ya sudah ayo pesan makanan utamanya. Kamu maih suka nasi goreng sea food ? Aku ikutan ya ...”

***
Begitulah Di, Ahmad nembak aku eh mau melamar aku. Aduh kaya mimpi banget deh rasanya. Kaget, senang, campur aduk. In bneran ga siy, Di ?  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar