Senin, 25 November 2019

Cerita CINTA FITRI

Selalu menyenangkan hadir di acara walimatul ursy teman atau kaka kelas, bisa sekalian reuni gratisan, hehehe. Seperti hari ini, ada walimatul ursy kakak kelas zaman SMA di youth center Jakarta Timur. Sayangnya, aku harus pergi sendiri karena suamiku masih dalam angan, hahaha.
Angkot menjadi pilihan transportasiku menuju lokasi. Baju pink andalan dan rok hitam kesayangan menemani penampilanku. Tentu saja jilbab senada plus sepatu hitam casual, seperti biasa. Tas kecil pengganti ransel melingkar di bahu siap membersamai acara hari itu. Menghadiri akad buat aku mesti hadir sejak pagi, tentu saja dengan catatan sedikit teman yang bisa aku jumpai karena kebanyakan mereka akan datang mendekati jam makan siang.
Janur kuning melengkung indah sedari gerbang tempat acara berlangsung. Hiasan bunga mempercantik suasana. Acara baru saja dimulai saat aku tiba. Wajah sumringah tetamu tampak jelas terpancar. Alhamdulillah akad berjalan lancar dan syahdu, banyak di antara hadirin yang meneteskan air mata haru. Suasana berganti lebih cair saat seorang ustadz menyampaikan khutbah nikah dengan ringan namun tetap sarat makna yang dalam.
Usai memberi ucapan dan doa kepada mempelai, tetamu dpersilakan mencicip hidangan yang disediakan. Begitupun aku. Mencicip eh tepatnya memburu hidangan yang disediakan, hehehe. Plus haha hihi dengan beberapa teman angkatan, adik dan kaka kelas yang hadir di situ. Kemudian beranjak pulang. Di pintu keluar, samar terdengar ada suara memanggilku.
“Fit … Fitri …!!!”
 Aku menoleh dan ku dapati seorang lelaki tengah berlari kecil menuju tempatku berdiri.
“Ka’ Fikri”, gumamku dalam hati. Segera ku putar badan dan mempercepat langkah menuju gerbang untuk selanjutnya menaiki JPO. Namun, mas Fikri yang atlet taekwondo itu lebih gesit. Dalam hitungan detik ia bisa mensejajarkan langkahnya.
                “Assalamu’alaikum Fitri, masih ingat aku, kan?” sapanya dengan ramah mengiringi langkahku melewati pagar utama gedung itu.
“Eh, iya Ka’. Wa’alaikum salam Warohmatullah…”
“Wah, lama tak jumpa, kamu tambah cantik ya. Anggun sekali. Maaf, lama aku tidak menghubungimu. Rencana di Jepang untuk S2 ternyata berlanjut hingga program S3, aku hilang kontakmu dan bersyukur hari ini bisa bertemu di sini. Sungguh aku senang sekali. Bagaimana kalau kita mampir di café sebrang jalan ini, banyak yang perlu dibicarakan…”
***
Masjid sekolah, 5 tahun silam
                Siang ini terasa penat sekali. Masjid menjadi pilihan terbaik untuk menenangkan hati dan pikiran. Setelah berjibaku dengan tumpukan soal bertabur deretan angka dan rumus. Belum lagi beberapa proposal kegiatan OSIS yang berlomba mengejar limit, hufffft.
                Lepas sholat Zuhur, ku biarkan sahabat surgaku kembali ke kelas atau mangkal di kantin berburu menu favorit, tinggalkanku tepekur sendiri. Setelah ku rasa cukup beristirahat, segera ku bergegas mematut diri.
“Maaf, dik. Adik sekolah di sini, ya?” tanya seorang ibu yang tiba-tiba duduk di hadapanku. Wajahnya ayu penuh wibawa, tersenyum dengan lembut. Ku sisir wajahnya, mencoba mengingat apakah aku mengenalnya. Memoriku mengonfirmasi bahwa sosok itu asing, baru saja hadir.
                “Maaf, dik. Adik sekolah di sini, ya?” tanyanya mengulang.
“Iya, bu…” jawabku seraya merapikan posisi duduk setelah memasang kaos kaki andalan dan membalas senyumnya.
“Emm, maaf, dari tadi ibu perhatikan kamu.” ujarnya hati – hati
Mendengar itu, aku bertanya dalam hati, ko’ bisa? ada apa denganku ya?
“Adik mau tidak jadi menantu ibu?”
                Hah? What? Demi apa? Aku tidak menjawab, hanya termangu menatap wajah seseibu di hadapanku.
“Maaf kalau mengejutkan kamu…” Mungkin ia merasa bersalah dengan mimik bingung yang hadir di wajahku.
“Eh oh iya, bu, tidak apa – apa.
                Ya, Allah, apalagi ini. Baru saja sejenak ku lupakan deretan rumus dan angka itu kini hadir yang lain lagi. Ya, ampun, am I that old? Apa ada stempel siap nikah di jidatku ini. Oh no, Astaghfirullah. Baru pekan lalu dua guru kesayanganku tetiba menceritakan padaku tentang sesosok alumni yang atlet taekwondo minta dicarikan jodoh, katanya harus anak ROHIS. But why me? Aku kan cuma penggembira aja di ROHIS, lagian aku juga masih sekolah, hellloooow dan sekarang, Ya, Allah, ampun ini lebih berat dari menghafal rumus dan teori – teori, huhuhuhu.
                “Dik …”
Seseibu yang masih di hadapan itu menepuk bahuku, membuyarkan monolog seru dalam pikiran.
“Eh iya, bu. Ah, Ibu mau minta saya jadi menantu ibu, apa saya ga salah dengar nih, bu? Secara, saya kan masih sekolah, Bu… Baru kelas sebelas. Masih panjang perjalanan, hehehe”, candaku mencoba mencairkan suasana.
Seseibu itu tersenyum, “Ya enggak lah. Justru itu, pas.”
Hmmmm,pas, maksudnya ?
“Pas sampai anak ibu selesai kuliah, dik. Saat ini dia sudah berada di Jepang mau melanjutkan S2, katanya ada beberapa berkas yang tertinggal di sekolah gitu. Anak ibu kan Pelatih ekskul taekwondo di sini, Fikri namanya, kamu kenal?”
My God, O em ji … taekwondo lagi, jangan – jangan ini orang yang sama yang di rekomendasikan guru kesayanganku. 
“Hmmm, kayaknya ga kenal deh, bu … saya jarang main ke ekskul lain soalnya, bu. Terpasung di OSIS dan ROHIS, hehehe. Saya emang gitu orangnya, bu. Jarang main. Teman sekelas aja ga semua saya hafal nama mereka …” hadeeeuh jadi curhat gaes.
Seseibu di hadapanku tertawa renyah, memamerkan deretan gigi serinya yang putih bersih bak bintang iklan pasta gigi yang berseliweran di TV ituh.
“Kamu lucu, nak. Tidak salah Fikri memilih kamu.”
Nah loh. Ini apaan sih, dengusku dalam hati.
Teeeeeeet
Alhamdulillah saved by the bell.
“Ini kartu nama ibu, ibu tunggu jawaban kamu, ya. Kabari telepon atau alamat kamu supaya saya bisa berkunjung untuk silaturahim dengan kedua orang tuamu, ya, terima kasih.”
“Eh, oh, i … iya bu, kembali kasih.” pasrah ku terima begitu saja secarik kartu yang disodorkan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam.”
Berharap ini semua mimpi dan segera terbangun darinya. Berkali ku pukul kecil juga mencubit pipi dan tanganku. Ah, terasa sakit.Ternyata ini nyata, bukan mimpi. It’s real gaes. Robbighfirlii.
“Kenapa Fit, banyak nyamuk ya? Ko’ mukanya ditepok gitu?”, tanya Gisti yang sejak tadi memerhatikanku.
“Hehhehe” hanya ku jawab dengan cengir kuda lantas berlalu menuju tempat duduk. Ku tarik nafas agar apa yang baru saja terjadi bisa menyingkir sejenak dari neurit dan dendron yang akan ku pakai untuk mengorek memori lama dan memasukkan informasi baru.
                Ah, siaaaal, Astaghfirullah. Otakku malah sibuk membahas seseibu yang misterius itu. Ya, Allah, bantu hamba, bismillah.
Usai pelajaran segera ku buru Pak Marwan dan Bu Eli untuk bertanya tentang atlet taekwondo (ehemmm) yang pernah mereka sampaikan. Setelah sebelumnya aku minta izin pada sang ketua OSIS agar aku bisa izin tidak ikut rapat sore itu. Dengan pasang wajah melas, akhirnya sang ketua meloloskan permohonanku, horeeee, eh Alhamdulillah.
 “Jadi, sudah mulai penasaran sama Fikri, ni?” tanya Pak Marwan menggoda.
“Lah gimana ga penasaran, pak, bu … tadi ibunya datang ke masjid, to the point minta saya jadi menantunya. Ajaib banget kan, pak, bu? Entah ngimpi apa saya semalam.”
“Hahahaha” pak Marwan dan bu Eli tertawa nyaris berbarengan.
                Lalu mengalirlah cerita tentang bagaimana sosok Fikri itu mengenal diriku. Kejadiannya tiga bulan lalu, tepatnya saat jam ekskul usai. Seperti biasa, sebagai wakil ketua OSIS, aku bertugas untuk memastikan ekskul yang ada berjalan dengan baik sesuai rencana. Saat melintas di lapangan, tetiba aku disiram air plus tepung plus telor busuk endebra. Belakangan terungkap (ciyeee) kalau aku ini korban salah sasaran. Jadi ada anak kelas sepuluh yang juga bernama Fitri hari itu sedang berulang tahun, nah, teman – temannya menyiapkan surprise yang norak dan kudet menurutku. Dan yang parah, mereka kira Fitri yang di maksud adalah aku, susah juga sih famous (ahahahaha). Dan, kun fa yakun (upsss). Kamu tahulah gimana rasanya saat itu. Bau, kaget, kezel, dan masih banyak lagi.
Ingin teriak memaki rasanya. Tapi tertahan saat ingat kajian sehari sebelumnya di acara keputrian bersama kakak ROHIS yang sholiha. Katanya, “Semua yang menimpa kita itu takdir Allah, semua sempurna, tidak ada yang salah apalagi sia – sia.”
Sabaaaaaar ya, Allah. Saat wajah – wajah melas dari kelas sepuluh, sebelas dan dua belas itu meminta maaf dan menawarkan baju ganti juga jasa antar pulang ke rumah. Akhirnya Fitri yang sedang otw hijrah bisa membalas mereka dengan seulas senyum yang indah di tengah tetesan air, tepung, telur dan kawan – kawannya, membasahi mulai ujung jilbab hingga kaos kaki.
“Iya, qodarullah…” tetap senyum walau hati ini teriak nyaring dan ingin segera mencakar aspal lapangan. Saat itu ka’ Fikri melihat kejadian secara utuh dan dia merekam dalam ingatannya. Sejak saat itu dia rajin mengumpulkan informasi tentangku termasuk stalking di akun media sosial yang ku punya … owh.
“Jadi begitu ceritanya, Fit. Fikri ini benar – benar tersentuh dengan kejadian itu dan bertekad untuk serius sama kamu. Tapi dia tahu kalau kamu tidak mau pacaran, makanya minta tolong kami sekaligus ibunya untuk menyampaikan maksudnya padamu.” terang bu Eli.
“Ooooooh, gitu ya.” jawabku penuh wow. Dalam hati aku mendebat, ada ya orang kaya gitu. Aneh. Lihat orang disiram adonan ultah dia terenyuh, hadeeeeuh. Aya – aya wae, cek urang Sunda mah, hihihi.
“Fit, ciyee senyum – senyum sendiri. Jadi bagaimana?” tanya pak Marwan.
“Saya belum tahu, pak. Mesti lapor ayah dan ibu. Terima kasih informasinya ya, bu, pak. Nomor telepon saya di keep dulu, jangan dikasihkan ke Ka’ Fikri, sampai saya bilang orang tua saya, oke, pak, bu?”
“Siapppp”, jawab mereka kompak.

***
Ku tatap sekilas wajah di hadapanku. Alis tebal, hidung yang proporsional, sepasang gingsul menambah indah senyum seraut wajah itu. Rahangnya yang kokoh, bahu dan lengannya, ah, tak mampu rasanya berlama –lama menatap, tertunduk malu juga akhirnya.
“Fitri …”
“Maaf, ka’ kita bukan mahrom jadi saya tidak bisa memenuhi ajakan kaka untuk ngobrol di café itu.”
“MasyaAllah, keshalihan kamu ini bikin aku makin cinta, eh maaf keceplosan.”
“Jika memang ada yang mau kaka bicarakan, silakan datang ke rumah, seperti janji kaka lima tahun lalu. Terima kasih, saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.”
“Apakah ini artinya iya?”
Ku jawab dengan tatapan dan senyum termanis yang ku punya.
“Alhamdulillah … yesss .. bilang orang tuamu ya, nanti malam aku akan datang bersama orang tuaku untuk melamarmu…”
Lelaki itu tak berhenti menyuarakan bahagianya, tak peduli tatapan orang yang lalu lalang. aku terus melangkah, sayup terdengar “Fitri…tunggu aku cinta” buat senyum enggan pergi dari bibirku. Alhamdulillah. *)



Jumat, 08 November 2019

Istana Cinta Rahwana
                Gerimis di sore hari mengantarkan aroma khasnya. Bau tanah yang tertimpa butiran hujan menyeruak berlomba memasuki rongga hidung. Suasana ini menghantarku pada memori itu.
“Jadi kamu lupa bawa undangannya ?”, tanya mas Dani padaku.
“Sepertinya tertinggal di teras tadi, mas.”, jawabku cemas.
                Sudah hampir satu jam kami berkendara di jalur puncak yang tampak  lengang. Sang surya tampak siap kembali menuju singgasananya, ditingkahi rintik hujan yang gerimis. Sore itu ada undangan rekan bisnis mas Dani. Sialnya, surat undangan yang merupakan satu – satunya petunjuk jalan tertinggal entah di mana. Mas Dani mulai kesal dan menyalahkanku setelah beberapa kali tidak berhasil menghubungi teman – temannya.
“Kamu tahu ga Rahmi, kalau acara ini sangat penting untuk bisnisku, heh?”, suaranya mulai meninggi. Hatiku menciut mendengarnya.
“Jadi istri ga becus. Disuruh bawa kartu undangan aja ga bisa. Kamu benar – benar tidak berguna. Aku sudah sabar denganmu Rahmi, meski hingga kini kamu belum juga memberiku keturunan, aku masih memberimu kesempatan. Tiga tahun sudah aku bersabar Rahmi, tapi sepertinya sekarang aku tidak bisa memafkan kesalahan kamu. Kalau sampai aku tidak hadir di acara sore ini, bisnisku bisa terancam dan semua ini karena kamu.” Mas Dani terus meracau sambil mencari jalan dan tetap berusaha menghubungi teman – temannya.
Dalam hati aku berteriak memaki diriku sendiri, sekaligus berharap semoga ada keajaiban, lokasi yang kami tuju bisa ditemukan. Naas, harapan tak berujung nyata. Hingga adzan Maghrib bertalu, kami masih menderu di jalan yang syahdu dalam belaian hujan.
Brakk.
Mas Dani memukul kemudi mobil, lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Kedua tangannya menggaruk rambut di kepalanya.
“Aarrgghh … Rahmi, kamu keluar sekarang. Cari jalan sendiri untuk pulang. Bisa kacau aku melihatmu di situ, membisu, sama sekali tak membantu.”
“Tap, Mas … ini sudah menjelang malam. A..Aku …” pintaku penuh harap.
“Masa bodoh.” ia menatapku tanpa belas kasih.
“Aku bilang keluar ya keluar, ga usah batu. Apa mau aku tabrakkan mobil ini?” suaranya kian liar dilengkapi dengan nafas yang memburu. Aku paham kalau sudah begini tidak bisa dibantah meski dengan sedikt penjelasan. Dengan sangat terpaksa dan perasaan terhina, aku putuskan keluar dari mobil. Mas Dani acuh, ia hanya menatap lurus ke jalan, tanpa suara, tanpa rasa khawatir padaku sedikitpun.
                Mobilnya melaju begitu saja sesaat setelah ku tutup pintunya. Ya, Allah aku merasa sangat terhina saat itu. Air mata menganak sungai. Di jalan itu aku tergugu. Astaghfirullah, hanya kata itu yang menguntai, menemani langkah kaki yang entah kemana akan ku arahkan. Tertatih ku tuju masjid di sebrang jalan dengan baju yang mulai basah oleh rintik hujan.
                Ku tumpahkan semua rasa dalam sujud panjang. Mengadukan semua yang ku rasa padaNya. Larut dalam untaian doa dan air mata hingga adzan Isya menyadarkan bahwa cukup lama sudah aku duduk menghiba tanpa menghiraukan jamaah yang mulai berdatangan memenuhi masjid. Usai sholat, kepalaku terasa sangat berat. Perutku yang sejak tadi belum diisi juga mulai bersenandung mencari perhatian. Segera berbenah dan bersiap mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Di halaman masjid ada lumayan banyak jenis makanan yang dijajakan. Hidungku terpikat pada aroma bubur kacang hijau dan wedang jahe. Sejurus kemudian, aku sudah duduk di kedai menunggu pesananku dihidangkan. Saat itulah aku baru sadar tentang keberadaan tas yang biasanya terselempang di bahu.
Ya, Allah,di manakah tas itu? tanyaku dalam hati. Tertinggal di masjidkah atau … Ya, Allah tas itu tidak terbawa, tertinggal di mobil, Astaghfirullah. Bagaimana aku membayar pesananku? Tanganku sibuk memeriksa saku – saku di baju dan berharap dapat menemukan beberapa lembar uang untuk membayar bubur dan wedang jahe yang terlanjur ku pesan.
Nihil. Tidak ada selembar uangpun terselip di saku. Jantungku berdegup tanpa irama. Kepala yang sedari tadi terasa berat kian bertambah gelap. Nafasku juga mulai tersengal, pengap seperti berada di lorong sempit nan gelap. Aah.
***
“Rahmi, oh syukurlah kamu sudah siuman.”
Samar terdengar suara yang pernah ku kenal, tapi rasanya tidak mungkin. Perlahan ku buka mata untuk memastikan. Tampak di hadapan, seraut wajah dengan senyum yang indah. Wajah yang akrab dan senyum yang selalu hangat.
“Ka’ Yuwana…”, sapaku lemah.
“Alhamdulillah kamu masih ingat sama saya. Berbaring saja tidak usah bangun, tubuhmu masih lemah.”
Mataku menyapu sekeliling. Rupanya aku di ruang rawat sebuah klinik. Jarum infus terpasang di tangan kananku.
“Aku kenapa, ka’?”
“Kata dokter kamu kelelahan, kedinginan juga.”, jawabnya singkat, masih dengan senyum yang indah.
“Ko’ bisa sampai sini, sama kaka pula?”
Lelaki yang namanya tersimpan rapi di sudut hati itu meletakkan jarinya di bibir, sebagai tanda bahwa aku tidak usah banyak tanya dan berfikir.
“Istirahat saja dulu, nanti saya ceritakan semuanya.”
Setelah aku berkeras, akhirnya dia bercerita juga. Malam itu Ka’ Yuwana baru saja mengantarkan adiknya ke satu villa di Cipanas. Usai sholat Isya di masjid tempat aku sholat, ia melihat kerumunan orang di halaman masjid, tepatnya di kedai wedang jahe. Ia mendapati aku tak sadarkan diri tanpa selembar identitas. Untung saja ka’ Yuwana berhasil meyakinkan orang – orang itu bahwa ia mengenalku dan segera melarikan aku ke klinik terdekat.
“Jadi kaka masih menyimpan foto kita berdua?”, tanyaku tentang bagaimana cara ia meyakinkan orang – orang bahwa ia mengenalku.
“Masih, dan tidak akan penah ku hapus, Rahmi.” jawabnya lembut bertabur keseriusan yang mantap. Mata kami bertemu beberapa waktu. Ya, Allah masih ku lihat cinta di sana, adakah ia masih milikku? Astaghfirullah. Segera ku tundukkan pandangan.
“Jadi, aku minta maaf padamu kalau aku mengatakan pada orang – orang di kedai juga paramedis di klinik ini kalau aku… kalau aku adalah suamimu. Maafkan aku.”
Tertegun mendengar penjelasannya. andaikan itu nyata. Ah, Ka’ Yuwana kamu baru saja mengembalikan rasa dicintai dalam hatiku.
“Mi, kamu ga marah, kan?” tangannya berusaha meraih wajahku yang tertunduk.
“Maaf, kak, aku sudah menikah.”, berusaha menghindar namun terlambat, Jemari lembutnya mendarat di dagu dan pipiku, lembut.
“Saya tahu dari cincin di jarimu, karenanya saya meminta maaf padamu.”
Malam itu aku dijaga penuh oleh ka’ Yu. Ia rela menahan kantuk demi memastikan aku beristirahat dengan cukup seperti petunjuk dokter. Pagi harinya dokter memeriksa keadaanku.
“Alhamdulillah, pak. Istri bapak sudah pulih, jadi bisa pulang. Saya sudah resepkan obat untuk istri bapak. Tolong dijaga betul jangan sampai letih atau stress, bisa mengganggu kehamilannya.”
“Maksud dokter …”, ka’ Yuwana memastikan
“Apa dok, sa..saya hamil, dok?” tanyaku tak percaya
“Iya Bu, positif jalan 4 minggu. Selamat ya, pak. Semua obat dan vitamin sudah saya minta suster untuk menyiapkan. Saya pamit dulu, selamat sekali lagi…”
Ka’ Yuwana termangu. Aku larut dalam sujud penuh kesyukuran.
“Mi, Rahmi …” serunya seraya menepuk bahuku.
“Ayo, saya antar kamu pulang.” ia melanjutkan.
                Aku hanya menuruti perintah ka’ Yuwana untuk berganti pakaian dengan yang baru saja ia belikan. Bergegas mengikutinya masuk ke dalam mobil berwarna biru. Ya, Tuhan, bahkan mobilnya adalah warna kesukaanku.
“Kenapa diam ? Ayo masuk.”
Setelah membalas senyumnya aku masuk ke dalam mobil sepertia yang ia minta.
“Saya sengaja warna kesukaanmu saat beli mobil ini, ga papa kan?” ka Yuwana mengawali pembicaraan.
“Iya, ka, ga papa.”
                Selama perjalanan aku ceritakan semua tentang pernikahanku dengan mas Dani. Bahwa ayah tidak setuju aku menunggu ka’ Yuwana yang menghilang tanpa kabar, saat itu datang mas Dani melamar dengan segenap kemewahan yang menyilaukan mata. Mereka mengabaikan perasaanku, sama sekali tidak mendengar pendapatku. Sampai di situ aku masih bisa mengendalikan diri. Namun saat menceritakan kenapa sampai aku seorang diri tanpa identitas di belantara Puncak pas, pertahanan diriku jebol. Tak kuasa lagi membendung air mata yang sudah mendorong ke sekian kalinya.
“Maafkan saya Rahmi”, ucapnya lirih. “Saya masih menyimpan rapi cinta Rahwana. Karena kamu, tidak tergantikan.” lanjutnya.
                Mataku menyapu dashboard, ada sebingkai foto ka’ Yuwana dan aku bertuliskan Rahwana.
“Kamu masih ingat foto itu Rahmi ?”, tanya ka’ Yuwana saat ia tahu aku sedang memerhatikan foto di dashboard. Aku mengangguk. Foto yang diambil selepas wisuda Ka’ Yuwana. Kali terakhir kami bersama sebelum ia menghilang dalam senyap, hanya sebuah pesan “saya akan melanjutkan S2 di Singapur, kamu tunggu sampai saya kembali.” Oh iya, Rahwana adalah singkatan Rahmi Yuwana.
                “Well, ingin rasanya saya jadi Rahwana dalam cerita Rama-Shinta. Saya adalah Rahwana yang akan membahagiakan Shinta, membahagiakan kamu Rahmi.”
“Tidak mungkin, Ka’”
“Dalam statistika selalu ada kemungkinan, Rahmi. Dan saya akan memperbesar kemungkinan itu.”, ucapnya meyakinkan.
“Saya antar kamu ke rumah suamimu, kalau dia bisa memerlakukan istrinya dengan baik, maka saya akan merelakanmu. Tapi jika ia masih merendahkan dan menghinamu, saya yang akan membawamu pulang.”
“Jangan ka’ bisa panjang urusannya.”
                Sepertinya tekadnya sudah bulat. Laju ia larikan mobil biru menuju rumah mas Dani, suamiku.
“Ka’ aku takut untuk pulang, setidaknya biarkan aku menelpon dulu supaya tahu bagaimana reaksi mas Dani.” Ia mengangguk dan menepi di sebuah rumah makan untuk istiraha sekaligus menelpon mas Dani.
“Ini, pakai ponsel saya”, serunya seraya menyerahkan sebuah ponsel.
Tuuuuut.
Halo… suara mas Dani terdengar diujung telepon.
Assalamu’alaikum,Mas. Ini Rahmi. Mas,a
Buat apa kamu telepon aku? Aku sudah tidak bisa bersabar denganmu lagi, Rahmi. Kamu pulang saja ke keluargamu, secepatnya aku urus perceraian kita. Gegara kamu bisnisku berantakan.
Tapi, Mas …
Tidak ada tapi, aku sudah bulat. Aku cerai kamu. AKu cerai. Cerai
Mas, dengar aku dulu  …
Tuuuuuut
Mas…Mas Dani,,huhuuhu, jahat kamu, Mas. Tega sekali kamu, teriakku dalam hati.
“Kasihan kamu, nak … bahkan ayahmu tidak tahu bahwa ada sosok mungil di sini”, rengekku seraya mengusap lembut janin dalam perut. Aku terus meracau hingga hilang kesadaran.
                Ka’ Yuwana tepat menangkap tubuhku yang rasanya tidak menjejak lagi di bumi.
“Ya, allah, Rahmi … istighfar Rahmi..istighfar.”

***

                Dan aku masih di sini, berteman gerimis di sore hari juga memori satu tahun yang lalu. Memori yang pahit karena aku harus kehilangan janin yang baru saja hadir dalam rahim setelah tiga tahun menanti. Ya, aku masih di sini, di istana cinta Rahwana. Semoga kekal, untuk selamanya. *) 

Kamis, 07 November 2019

ARJUNANYA SHINTA

                Desir angin membelai rambut ikal milik lelaki di hadapanku. Hembusannya juga memainkan ujung jilbab yang ku kenakan. Jilbab biru pupus yang mewakili perasaanku saat ini, penuh sendu.
“Aku rasa aku butuh waktu untuk menjernihkan fikiran, mas.” pintaku pada mas Arjuna.
“Tidak bisakah kau melakukannya bersamaku, di sini?” tanyanya sambil menyisir wajahku.
“Aku perlu waktu menyendiri, mas. Aku ingin meyakinkan diri, sekaligus memberi kesempatan padamu untuk membuktikan diri.” pungkasku seraya menundukkan wajah dan melepas nafas yang terasa kian berat.
Dua tangan mas Arjuna meraih wajahku, memaksa pandangan kami bertemu. Mata itu, ah bening di dua bola mataku kian menebal. Aku harus kuat. Harus bisa tenang menyampaikan isi hati pada belaian jiwa yang telah ku bersamai selama lima belas tahun.
“Mas, aku merasa tidak pantas mendampingimu. Aku tidak sesholiha yang kau sematkan padaku. Aku …” sial, akhirnya Kristal bening itu meluncur begitu saja. Mas Arjuna hendak membawaku dalam peluknya namun aku menolak. Aku masih harus berucap.
“Mas, semua orang yang mengenalmu entah kawan lama atau baru, mereka selalu menilai kamu orang yang baik, menyenangkan dan penuh kesan that you’re a perfect one. Tampan rupawan, the family man, … how lucky I am for having you as my husband.”
“Aku senang dengan penilaian mereka terhadapmu. Hanya saja aku sering bertanya dalam hati, kenapa aku tidak punya penilaian yang sama dengan mereka? Aku sering merasa bahwa kamu itu sangat menyebalkan. Mereka sangat welcome denganmu, tapi aku …”
“Itu karena mereka hanya mengenalku sedikit, sayang. Hanya lihat permukaan, hanya tahu topengku saja.” terang mas Arjuna dengan masih menatapku iba.
“Mas, aku rasa hati dan pikiranku penuh. Penuh dengan janji – janjimu yang hingga kini tidak terbukti. Penuh dengan mimpi – mimpi yang hanya sampai di angan. Mas, aku bosan menjadi perempuan yang kuat dan baik – baik saja. I’m not okay. Aku ingin seperti kebanyakan perempuan, layaknya keinginan para istri, menerima nafkah dari suaminya.” susah payah ku tuntaskan kalimat itu sebelum Kristal bening menderas.
Sejurus kemudian berputar dalam benakku. Sepuluh tahun lalu, Mas Arjuna memutuskan untuk berwirausaha. Pesangon dari kantor dijadikan modal. Menggandeng beberapa relasi dari beragam profesi. Saat itu, mas Arjuna mengatakan padaku nahwa jika bisnisnya lancar, kami bisa naik haji sebagai hadiah pernikahan. Berbungalah hati kami saat itu. Namun harapan tinggal harapan. Usaha itu justru drop tepat saat akan dipanen. Satu relasi bertindak di luar kesepakatan dan menyebabkan kebangkrutan. Jangankan untung apalagi pergi haji, seluruh modal mas Arjuna amblas tiada sisa. Hanya sesak terasa menghimpit dada.
Episode baru dalam rumah tangga mulai kami jalani. Tidak mudah, sangat tidak mudah. Pendapatan keluarga hanya mengandalkan honorku menulis dan mengajar kelas menulis di beberapa tempat. Tak seberapa, hanya cukup menyangga kebutuhan harian keluarga kecil kami. Saat itu Siena, buah hati kami baru berusia 3 tahun.
Mas Arjuna masih belum bisa menerima kegagalan usahanya. Dia sangat ingin mengajakku pergi haji. Setiap hari lebih banyak diisi dengan tidur dan main games. Harapanku bahwa mas Arjuna bisa membantu pekerjaan domestik tidak pernah jadi kenyataan.  Hampir enam bulan mas Arjuna begitu. Sampai ia kembali bersemangat saat orang tuanya memberikan sejumlah uang untuk memulai usaha baru. Kala itu dia memilih membuka warnet yang tengah digandrungi dan jadi trend.
Tiga bulan berlalu, usaha warnet mas Arjuna kian berkembang. Mas Arjuna memintaku untuk fokus mengurus rumah dan anak juga janin yang saat itu hadir dalam rahimku, buah cinta kami yang kedua. Itu artinya aku harus memutus hubungan dengan penerbit yang selama ini jadi langganan juga beberapa kontrak mengajar di beberapa tempat. Ya, Allah, berat rasanya, tapi aku tidak punya pilihan selain taat. Meski coba aku sampaikan argumentasi perihal keberatanku, semuanya mentah dan tertolak. Meski ragu, akhirnya ku patuhi juga perintah suamiku itu.
Persis tujuh hari pasca kelahiran buah hati kami yang kedua, mas Arjuna resmi menutup warnetnya yang sepi pengunjung, terkalahkan oleh HP android yang menjamur tak terbendung. Begitulah usaha, tak selamanya sesuai dan menjanjikan. Aku kembali dihadapkan pada situasi di mana aku wajib berpenghasilan, sementara kondisiku baru saja melahirkan, Subhanallah. Hanya Seina dan Said, bayi kecil yang jadi amanah, buatku menguatkan diri menghadapi semua. Bersyukur penerbit yang pernah aku tinggalkan dulu masih berkenan menerima tulisanku kembali.
Sejak itu, mas Arjuna kembali mencoba berbagai usaha. Membuka servis elektronik, jual beli burung kicau, budidaya papaya California, ternak ayam dan bebek, dan entah apa lagi. Aku hanya bisa menyertai dengan doa. Ada rasa khawatir mengiringi, yang harus aku usir dengan kesibukan domestik, mengurus anak dan mencari penghasilan untuk membiayai diri dan dua buah hati, juga mas Arjuna. Entah sudah berapa lama aku lupa rasanya mendapat “uang belanja” dari sosok bernama suami.
“Shinta …” suara mas Arjuna membuyarkan lamunanku. Ku arahkan pandang ke wajahnya. Tersirat penuh tanya di sana, tapi rasa yang aku cari tak ada di sana. Aku harap ada rasa bersalah di sana, tapi matanya tidak mengatakan itu.
“Mas, ingatkah saat ada rekan usahamu yang datang ke rumah menagih modal yang katanya ia berikan untukmu. Ia tagih ke aku padahal ia tahu bahwa aku sama sekali tidak mencampuri bisnis kalian. Ia mengintimidasi aku, bahkan ia menagih hutangmu di akun media sosial aku. Media sosial yang aku gunakan sebagai brand kepenulisan, membangun image sebagai penulis, profesi aku, mas.”
Saat itu, dua puluh hari setelah Said lahir, datang dua orang perempuan kawan sekolah suamiku di SMP dulu. Mau menarik modal mereka bilang, dengan secarik kertas yang perlu ditandatangani RT setempat. Saat itu, rasa sakit pasca operasi Caesar masih sesekali terasa, mas Arjuna sedang ke luar kota mengurus kebun dan ternaknya. Penjelasanku tidak diterima oleh kedua perempuan itu. Demi menjaga nama baik suami, ku relakan beberapa juta untuk mengganti modal mereka. Beberapa juta yang aku sisihkan dari hadiah tetamu yang menjenguk Said, niatnya akan aku gunakan untuk aqiqah Said saat aku sudah benar – benar pulih nanti.  
Mas Arjuna menatapku nanar. Ditariknya tangan yang sejak tadi ia letakkan di pipiku. “Mas masih ingat, aku terpaksa menjual rumah pemberian orangtuaku demi menutupi hutang mas ? Saat itu kita sepakat bahwa hasil penjualan rumah akan dipakai untuk membayar hutang, membeli rumah baru yang lebih mungil juga untuk modal usahamu, mas.  Lalu apa yang kamu lakukan mas, ingatkah ?”
Ingatan itu hadir kembali. Saat sibuk mendampingi ibu yang terpukul ldengan kepergian ayah menghadap Sang Kholiq, saat akan membayar tagihan rumah sakit, ku dapati angka nol di rekeningku. Padahal seharusnya ada sejumlah dana untuk rumah yang akan aku dan Mas Arjuna beli. Shocked, rasa lemas menjalar ke seluruh sendi dalam diri. Bersyukur saat itu kakak iparku sedang lurus hatinya hingga membolehkan mas Iwan, kakakku, menanggung seluruh biaya perawatan ibu di rumah sakit.
Tenyata mas Arjuna memakai uang itu untuk modal usaha bersama teman yang baru ia  kenal, satu berasal dari Bandung Jawa Barat dan satu lagi di bilangan Cibubur, Jakarta Timur.
“Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu, mas?” sejenak aku memberi jeda, berharap ada jawaban dari mas Arjuna. Hanya detik jam dinding yang menjawab.
“Aku merasa dikhianati mas. Kamu selingkuh … bukan urusan wanita lain, tapi soal uang yang akan kita gunakan untuk membeli rumah. Kamu melanggar kesepakatan yang kita buat. Dan ini bukan yang pertama.” seketika aku mendapatkan kekuatan untuk terus berucap dan mencecar mas Arjuna. Tidak aku pedulikan lagi tatapan mas Arjuna. Sepertinya dua mataku kini mulai menajam.
“Masih ingat mobil butut yang kamu beli dengan uangku?”
“Sepeda lipat yang berjuta itu, yang katamu akan kau pakai untuk bekerja sementara motormu akan disewakan untuk menambah penghasilan?”
“Blackberry yang fenomenal pada masanya?”
“Barang – barang branded yang kau belikan untuk aku dan Seina, yang katamu layak untuk kami padahal aku menolaknya karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Sebenarnya itu untuk kami atau sekedar memuaskan nafsu dan egomu saja?”
                Aku kian meradang tak terbendung. Apa yang selama ini menggumpal dalam dada seolah mendapatkan jalan keluarnya. Tidak sedetikpun aku beri ia kesempatan untuk berkata.
“Mas, aku merasa belum bisa mencontoh bunda Khadijah ra. yang rela mendukung perjuangan Rasulullah segenap hati, setulus jiwa.”
“Berat, mas.”
“Aku berfikir bahwa rasa berat ini yang menjadi penghalang suksesmu. Iya, aku yang menghalangi suksesmu. Karena aku tidak mampu bersyukur. Aku tidak mampu mensyukuri dirimu, mas. Aku tidak bisa menerima sebagaimana mereka mengagumimu. Padahal orang – orang bilang kamu itu hebat, bisa memasak untuk anak dan istri, mau mengajak anak – anak bermain, you’re the real hero. Tapi, maaf, Mas …” Butir Kristal bening kembali membendung di kedua mataku.
“Maaf, aku tidak bisa merasakan kebaikan itu lagi. Hatiku seperti membeku. Aku tidak ingin menjadi penghalang suksesmu, mas. Aku perlu waktu, seperti yang tadi aku sampaikan. Waktu untuk menjernihkan hati dan fikiran sekaligus kesempatan buatmu untuk membuktikan diri.”
                Masih ku tatap wajah nanar tanpa kata itu. Lalu ku raih tangannya,
“Izinkan aku untuk pulang ke rumah ibu. Aku tidak akan menuntut cerai, hanya ingin kamu memampukan diri seperti layaknya seorang suami, menafkahi istrinya. Tapi jika kamu tidak berkenan dengan pintaku ini, aku tidak keberatan jika harus mundur.”
                Mas Arjuna meraih kedua tanganku, lalu bersimpuh di hadapanku. “Jangan, Shinta. Kamu tidak tergantikan. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tanpamu, ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku tanpamu. Kamu lihat usahaku sebentar lagi akan…”
“Mas, cukup.” Ku letakkan jariku di bibirnya, agar ia berhenti dan tidak meneruskan janji yang sudah tak ingin aku dengar lagi.
“Mas, aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya perlu waktu untuk menginsyafi semua. Aku takut semua ini terjadi karena salahku. Aku akan belajar untuk ridho atas segala ketentuan Allah, Tuhan kita. Belajar menerimamu kembali juga bersyukur atas semua yang terjadi. Aku mohon, mengertilah, Mas…” pintaku seraya mencium kedua tangannya. Tak ada lagi kata yang mampu terucap, hanya air mata yang berpadu dalam pelukan. Kian menderas, membasah hingga ke relung kalbu. *)

Rabu, 06 November 2019

#Part3

Diari Seorang Rahma

Dear diary, aku masih kepikiran pandawa lima yang konsul hingga larut semalam. Jadi refleksi juga tentang pandanganku terhadap pernikahan. Kalau melihat pernikahan ibu dan bapak, juga beberapa orang yang aku kenal, rasanya ga siap membina rumah tangga, Di.
Kamu tahu kan gimana ibu sama bapak? Dingin. Sama – sama gila kerja. Oke sih sama anak – anak. Perhatian mereka cukup. Bahkan, aku merasa dicintai oleh mereka berdua, ya tentu dengan cara mereka mencinta. Suami istri satu atap tapi kamarnya terpisah. Entah bagaimana cara mereka menahkodai bahtera rumah tangganya. Mungkin pakai telepati, hehehe. Jangankan romantis – romantisan jalan bareng berduaan, lah ngobrol berdua aja juaraaaaaaaaaang. Sekalinya ngobrol ujungnya ribut, pakai nada do tinggi, hadeuh.
Lain lagi rumah tangga kakak semata wayangku. Waktu belum nikah dia itukan sparing tinju aku, hahaha. Pas nikah jadi ayam sayur, takut sama istri. Semua serba diatur istri, bahkan sampai ATM yang pegang istrinya, dia hanya dijatah dua puluh ribu sehari buat bensin, sungguh tragis huhuhuhu. Goodbye deh jatah sabun dan bedak buat aku, jajan buat ibu dan bapak huahahaahhaa. Ssst, astaghfirullah.
Bude Darmi, wanita perkasa yang serba bisa. Dini hari sudah sibuk menyiapkan adonan, menggoreng dan mengemas kue yang akan di titip di kantin sekolah anak – anaknya. Pagi hingga sore kerja di percetakan ibu. Sore belanja, lepas maghrib menemani anak-anaknya mengaji. Ba’da Isya merajang bahan –bahan untuk kue dan baru istirahat jam sebelas malam. Begitu setiap hari, tanpa kenal lelah. Hari Sabtu sore dan Ahad dia pakai untuk mengaji. Tubuhnya yang mungil tidak menghalanginya bersusah payah menafkahi diri juga dua anaknya. Suaminya? Ga usah dibahas, sambit aja pake gentong hehehe.
Siapa lagi ya? Hmmm. Mas Parjo,tetangga gang sebelah itu loh, Di. Dia mah beneran apes, ups, astaghfirullah. Ya, bayangin aja coba, Di. Kerja dari pagi, Maghrib baru pulang, boro – boro bisa istirahat, dia masih harus beli makan untuk sekeluarga karena istrinya ga nyiapin, disuruh isi air ulang, urus ini itu, beli ini itu, aduh duh duh…
Tante Mina yang punya salon itu,punya kekasih gelap. Uwak Poni yang pintu rumahnya terbuka untuk banyak lelaki dan suaminya seolah pura – pura tidak tahu. Astaghfirullah. Ko’ ga ada yang model rumah tangga nabi Ibrahim as dan nabi Muhammad ya? Terlalu sempurnakah sosok itu, Di? Tidak adakah model keluarga yang bisa aku lihat dan jadikan model dalam lingkungan terdekatku? Astaghfirullah. Yang aku lihat model keluarga Fir’aun, nabi Luth as. dan nabi Nuh as. Huhuhuhu, syereeeeeeeeem.
Kamu tahu, Di? Mba Dewi pernah menyampaikan pendapat bunda Aisyah ra. bahwa pernikahan itu sangat pribadi, tergantung pribadi – pribadi yang menjalankannya. Di AlQur’an juga disebutkan bahwa laki – laki yang baik untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Jodoh adalah cermin diri kita. Jadi, kalau kita sudah baik dan terus berusaha menjadi baik, maka kita akan mendapat jodoh yang baik, kan, Di? Gitu kan, ya?
Terus kalau nanti aku dapat suami yang tidak sesuai dengan aku bagaimana ya, Di? Kalau aku sampai mengalami KDRT, atau ditelantarkan seperti Bude Darmi, akankah aku bertahan? Ofcourse not lah ya. Liatin perjuangan bude Darmi aja eneg banget apalagi harus ngalamin sendiri. Sedikit saja aku tersakiti, aku akan tinggalkan dia, ohohohoho. Wait wait, tapi perpisahan itu kan dibenci Allah? Kalau dah gini, ujung-ujungnya pasti haru sabar. Tapi, bukankah sabar itu artinya bertahan, bukan diam? Bertahan dengan setiap takdir yang Allah gariskan. Hmmmh, baru mikirin aja hayati lelah, Di. Ya Allah na’udzubillah. Aku mau punya suami yang taat kan Allah. Lembut, pengertian dan memiliki pribadi,
rumah pribadi
mobil pribadi
hahahahahahahaha, ini mah matre, eits bukan deh, ini kebutuhan hihihihi. Aduh jadi pengen nulis puisi, Di. Untuk suamiku, kelak (ciyeeee).

KEPADA SUAMIKU

Bait ini coba aku tulis untuk
kemudian ku biarkan dia
kan membacanya

Bait ini adalah tentang suara
nan hingar dalam nuansa jiwa
tentang sebuah penerimaan jua
harapan atas dia

Dia adalah suamiku yang telah
meminang dengan Hamdalah
bersama tuntunan rahmah

Dia adalah suamiku yang telah
bersaksi dengan nama Illah
dengan wali Rasululloh tercinta
dengan persaksian para malaikatNYA

Dialah suamiku,
yang pertama kali menghampiri diri seraya berkata
semoga Allah memberkahi pertemuan kita

Dialah suami yang slalu siap sedia
membuka dada
Gar dapat berlabuh ini jiwa

Dialah suami yang telah dan selalu
membimbing diri dalam
menata laku jua kalbu

Dia – lah suami yang begitu sabar
menuntun dalam perjalanan
begitu peka dalam memberi nasihat
dalam mengarungi bahtera kehidupan

Dia suami yang akan selalu
aku cinta dan hormati
atas izin Illahi Robbi

Dia suamiku,
yang pandai memuji payah diri meski tak seberapa
Dia juga suamiku,
yang kan marah bila aku mengkhianati diri dan Tuhannya

Dia, suamiku yang slalu bersama
menapaki jalan para syuhada
Dalam rajutan cinta penuh nuansa
tuju cinta hakiki penguasa alam raya


Yaah … dia adalah suamiku
yang menerima aku apa adanya
karena memang aku
begini adanya

Ku katakan padamu duhai suamiku
Betapa hati ini penuh rindu jua malu akan – mu
Dan kini ku tanyakan padamu
tentang rasa hati atas diriku.

Minggu, 03 November 2019

#Part2
Diari Seorang Rahma

Jarum jam sudah menunjuk pukul 20.30. Di hadapanku masih duduk lima siswa kelas 12. Belum terlihat kantuk di sorot mata mereka, sementara aku sudah mulai ‘low bat’. Wajah mereka masih seperti matahari pukul delapan pagi. Lima siswa ini berasal dari beberapa sekolah berbeda tapi punya kesamaan latar belakang, sama – sama dari keluarga yang tidak biasa.
Satrio, Rio panggilannya anak sulung dari istri ke dua ayahnya. Ada Irfan, ayahnya menikah lagi saat ia berusia 10 tahun. Rangga, anak semata wayang yang tinggal bersama nenek. Mamanya memutuskan berkarir di luar negeri setelah bercerai dengan sang ayah yang menetap di Bogor. Imam, hidup bersama ibunya setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya enggan menikah lagi. Dan Yoga yang dibesarkan oleh ibunya seorang diri, setelah ayahnya pergi bersama perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari di media sosial.
Mengenal latar belakang mereka saja sudah membuat hatiku bergemuruh. Betapa luka hati lebar menganga di balik senyum dan tawa mereka, seperti saat ini, hingga mereka perlu meluapkan isi hati.
“Ka’ semua orang tua egois kali ya?”, tanya Rangga
“Maksudnya gimana, Ga?”
“Iya mentingin diri mereka sendiri. Bu*****t banget kalo mereka bilang mereka peduli, sayang, cinta sama kita anaknya. Nyatanya?”, Rangga menjelaskan.
Terbayang saat ia mengatakan kalau ia merasa malu saat pengambilan rapot. Karena hanya dia yang selalu ditemani sang nenek. Tidak pernah merasakan mengambil rapot bersamaorang tua sejak dari bangku SD.
“Iya, ka. Sayangnya cuma topeng, basa – basi. Jangankan sama kami anaknya, sama pasangannya aja sering nyakitin.” Yoga menimpali
Aku coba meraba apa yang ia rasakan. Setahun yang lalu, ayahnya meninggalkan keluarganya tanpa pamit, tanpa kabar, hanya selembar kertas yang menyatakan talak untuk ibundanya tersayang. Meski ibunya mampu mencukupi kebutuhan hidup, tapi jelas rasa kecewa karena ditinggalkan membekas dalam hatinya.
“Iya, betul”, seru Rangga, Irfan dan Rio hampir bersamaan.
”Wah, kompak nih… Menurut kamu bagaimana, Mam?”
                Imam hanya tersenyum, lalu hening. Sepertinya mencari komentar yang pas untuk disampaikan. “Hmm,gimana ya Ka? Kalo saya sih agak kurang setuju kalau semua orang tua dibilang egois. Ya, saya juga ga tahu tepatnya dibilang apa. Yang pasti, saya tahu ibu saya tidak egois. Sampai hari ini, perhatiannya masih full untuk saya dan adik saya. Dia belum atau tidak ada rencana untuk menikah lagi setelah ayah wafat 5 tahun lalu. Padahal yang mencoba mendekati dan mengajaknya menikah tidak sedikit. Kalian tahu apa yang diberatkan ibuku? Kami, ya saya dan adik yang diberatkannya.” Imam menutup kata dengan menatapku juga keempat temannya bergantian.
“Itu kan ibu, Mam, perempuan. Kalo laki – laki, kan lain lagi ceritanya. Ya ga, Kak?”, tanya Irfan.
“Iya, Fan. Kaya papaku tuh, mama masih hidup aja dia dah kabur sama cewe lain.” sambut Yoga.
“Tapi ga semua lelaki gitu juga kali, Ga.” sangkal Rio.
“Aku setia, hehhehe” Lanjutnya.
“Meskipun ayahku punya dua istri, bukan berarti ayah tidak setia. Ayah itu sangat menyayangi bunda (istri pertama) juga mamaku. Bahkan kata mama, ayah menikahi bunda itu atas desakan bunda. Selama 15 tahun menikah mereka belum juga dikaruniai keturunan, ayah setia bersama bunda. Saat dokter memvonis bahwa sulit bagi bunda untuk hamil, bunda memaksa ayah untuk menikah lagi dengan mama, pilihan bunda. Bahkan bunda sampai mengancam minta berpisah jika ayah tidak mengabulkan permintaannya.”
“Bagaimana dengan kamu, Irfan?”, tanyaku
“Kalo saya nih, ka’, misalnya, moga ga sampe, walau istri saya nangis – nangis minta saya nikah lagi karena kekurangan yang ada pada dirinya, saya ga akan mau. Saya tahu, kak, walaupun iya di mulut, tapi hatinya sedih ka, nangis Bombay gitu. Kaka pasti tahu lah, kaka kan perempuan. Kaya ummi saya, dimadu …” suaranya yang tadi riang, kini berubah datar.
                Aku tatap wajah Irfan. Terlihat dia sedang mengatur nafas atau menahan agar bening di matanya tak tumpah.
“Saya ingat, ka’, saat masih SD, abi saya meminta izin ummi untuk menikahi kerabatnya yang hidup sebatang kara, atas permintaan nenek. Ummi, seperti kebanyakan perempuan yang terjebak dengan kata ‘sholiha’, ‘taat’, en so on, tidak punya pilihan untuk menolak. Setiap hari ummi mencoba menutupi matanya yang sembam. Saya tahu, ummi menangis, setiap hari selama satu tahun. satu tahun, ka’, bayangkan …” Dia akhiri dengan menarik nafas, Kristal bening kian membendung di matanya.  
Ku lirik jam, pukul 21.10.
“Gaes, saya senang sekali dengan diskusi kita saat ini. Tapi ini sudah larut. office hour di sini sudah berakhir 70 menit yang lalu. Bisakah kita lanjut lain waktu?”
“Yaaaa….kaka”, jawab mereka kecewa, kompak.
“Kalau saja saya lelaki, saya ajak kalian semua bermalam di rumah saya untuk menyelesaikan diskusi kita yang hangat ini. Sepertinya kita harus realistis ya... Atau kalian mau diskusi dengan ka’ Rahman?”
“Lanjut besok aja deh, ka’ kita bikin jadwal konsul lagi. Kalau sama ka’ Rahman harus review hehehe.” jawab Rio
“Setuju”, jawab Irfan.
“Oke, sebagai penutup diskusi malam ini, boleh kaka siimpulkan sedikit?”
“Siaap”
“Oke dari pendapat kalian semua, kaka lihat ada satu persamaan, yaitu bahwa kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya orang tua kita pikir dan rasa. Sesuatu yang menurut kita egois, belum tentu demikian maksud mereka. Sebaliknya, semua yang mereka sebut cinta,kasih dan sayang, belum tentu sesuai dengan apa yang kita rasakan, deal?”
“Deal”
“Kita bahas lagi next session ya gaes, insyaAllah.”
“Semoga,, insya Allah….”
                Lima siswa berjalan, beriring. Beberapa di antara mereka menggoda untuk menjabat tanganku, lalu tersenyum saat ku balas dengan tangan yang rapat dan seulas senyum. Ah kalian, andai aku laki – laki, akan ku bawa kalian dalam pelukku, ku tepuk - tepuk punggungmu agar terbasuh dan luruh luka yang tergores di hatimu.
Ya, Allah … karuniakanlah kedamaian dalam relung hati mereka. Kuatkan mereka, lindungi mereka. Semoga kalian tetap menjadi laki- laki yang tangguh dan setia.

***
Dear diary, so difficult ya jadi orang tua. Aduhai, jadi ga pengen nikah ih, ups, Astaghfirullah. Laki – laki itu nyebelin. Aneh. Hobi ko ya ngoleksi perempuan, ups astaghfirullah. Sorry, Di, esmosi jiwa hahaha.
Cewe – cewe itu juga aneh. Mau aja disakitin. Kamu tahu kan tetangga kita yang di ujung gang itu, Di? Bude Darmi. Beliau itu dah kaya nggak punya suami. Banting tulang sendiri, untuk menghidupi keluarganya. Suaminya? Pret. Kerja Cuma buat muasin ego. Bukannya menafkahi anak istri malah bersenang – senang memenuhi hobi, koleksi istri, arrrgh! Lagian itu bude Darmi, ngapain maih bertahan coba. Kan rumah tangga itu untuk sakinah, mawadah wa rohmah (ciyeeee….), tapi kalo nyatanya saling menyakiti buat apa?
Kalau hanya mereka yang terakiti sih terserahlah, ra urus. Lah ini, anak –anak jadi korban. Hati mereka terluka, jiwa mereka terkoyak, hadeeeeeuh. Tapi Di, bude Darmi pernah bilang ke ibu. Kalau beliau rela bertahan itu karena dia merasa ga punya apa - apa buat bekal pulang ke kampung akhirat. Beliau bilang, disabari menjalani rumah tangganya kini dengan harapan Gusti Allah berkenan menerima pengorbanan dan sabarnya dan membalas dengan surga.
Gimana, Di? Speechless kan?

                Jadi pusing, Di. Aku nanti gimana, ya? Sebelum kenal Islam melalui kajian ROHIS sih, aku sempat bercita – cita untuk jadi penuntut ilmu aja, ga mau nikah. Tapi di satu kajian disampaikan kalau nikah itu sunnah Rasulullah, menggenapkan setengah Dien. Ah, ngapain juga dipikir, kaya dah ada calon aja, hehehehe. Dah malam, Di. Tidur kuy. si ya. *)

Jumat, 01 November 2019

Diari Seorang Rahma

‘Ka, ada waktu ga sore ini? Mau konsul” seraut wajah dengan senyum yang indah bertanya padaku setelah menempelkan jemari tangan kananku di pipinya.
“Bisa. jam istirahat ya?” jawabku singkat, dibalas dengan anggukan kepala plus senyum yang masih indah.
                Namaku Rahma. Baru satu semester bergabung di bimbingan belajar yang bernuansa Islam ini. Selain mengajar di kelas, tugasku juga memberikan layanan konsultasi kepada siswa, mulai masalah belajar, masalah pribadi sampai masalah keluarga mereka. Sebagai fresh graduate, tentu saja ini pekerjaan yang sangat menantang.
Sebagai alumni fakultas ilmu pendidikan, aku hanya perlu waktu sebentar untuk menguasai teknik mengajar di tempat ini. Namun untuk sesi konsultasi, rasanya aku perlu waktu belajar yang cukup lama, hehehe. Bayangkan, satu semester mengajar, aku dah dapat banyak kasus dari siswa di sini. Masalahnya beyond imagination, kadang eh seringkali lebih drama dari sinetron azab,hahaha. Seperti kasus Leni, siswi kelas 9 yang janjian konsul sore ini.
 “Gimana, Len?” tanyaku setelah menyilakan Leni duduk.
“Ka’, salah ga sih kalau aku cari tahu tentang jati diri aku ?”
“Cari tahu tentang jati diri seperti apa yang kamu maksud?”
“Iya,jadi gini, ka’ Aku kan lahir bulan Juni, nah ortu aku nikah bulan Februari di tahun yang sama aku lahir. Masa iya aku cuma 4 bulan ada dalam kandungan Mama. Ya kali premature, ka”, wajahnya tampak serius dan menegang. Lekuk alisnya penuh siaga, tatap matanya menyelidik.
“Kamu dah tanya Mama ?”
Yang ditanya hanya menganggukkan kepala.
“Trus…?”
Leni menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, “ga ada jawaban, ka’. Ayah, nenek, semua yang aku tanya hanya diam, be te ga sih ka?”
                Aku condongkan tubuh ke arah Leni dan sedikit berbisik, “Apa jawaban yang kamu harapkan dari mereka?”
“Aku ingin kejujuran. Mereka menjawab apa adanya. Aku bukan anak kecil, aku perlu tahu tentang diriku. Ga salah kan, ka’?”
Aku menggelengkan kepala,
“Menurut kamu, jawaban jujur versi mereka itu seperti apa?”
Leni merapikan posisi duduk, matanya menerawang, mencoba mencari jawaban di sela eternit. Kristal bening menggenang di dua bola matanya, dan segera menganak sungai di pipinya dan kian menderas, bahunya mulai bergoncang.
                Pemandangan ini ke sekian kali aku jumpai. Mengundang perih di cuping hidung dan panas di kedua mata. Tanpa menunggu waktu ku raih Leni dalam dekapan. “It’s okay, Len. Menangislah…” bisikku.
“Aku ki..ra. Ja ..wa.. bannya .. ma ..ma  em..bi..e ka’ huhuhuuhu”, Leni berusaha menjawab disela tangisnya.
“a..ku a..nak ha..ram ka….”
Leni terhanyut dalam tangis. Ia baru bisa mengendalikan diri tepat sesaat sebelum bel tanda istirahat usai berbunyi.
“Makasih ka’ dah mau dengerin aku. Rasanya lega.”
“iya, sama – sama sayang. Bismillah ya, kakak percaya kamu tahu bagaimana harus bersikap selanjutnya.”, jawabku seraya mengusap kepalanya yang terbalut jilbab. Setelah membasuh wajah dan mengeringkannya dengan beberapa lembar tissue, ia kembali ke kelas. Begitupun dengan aku yang mesti bergegas masuk kelas selanjutnya.

***
Dear diary, seringkali orang tua bertindak angkuh. Menyembunyikan kebenaran tanpa alasan yang rasional tentang apa dan bagaimana kisah anak – anak mereka. Alasannya demi kebaikan dan masa depan. Kenyataannya, anak – anak malah tersiksa dan terus bertanya tentang diri mereka sendiri.
Leni, siswi yang cerdas serta baik menurutku. Beberapa bulan sebelum dia mulai konsul, pernah tertangkap tangan membawa dan menghisap vape di lokasi bimbingan belajar. Alasannya mengusir suntuk, ikutan teman.
Di ruang konsul baru aku pahami apa yang menyebabkan ia sampai melakukan suatu hal yang sama sekali bukan dirinya. Kecewa pada sikap orang tua yang cenderung menutupi dan menyalahkan saat ia bertanya tentang kebenaran akan jati dirinya. Pertanyaan – pertanyaan yang hanya akan dijawab dengan nasehat bahkan ancaman,
“Sudahlah, tugasmu kan belajar, ga usah urusi masa lalu.”
“Ngapain sih nanya – nanya mulu, apa untungnya buat kamu?”
“Maksud kamu apa tanya – tanya begitu? Mau nuduh kami ga bener? Len,kami ini orang tuamu, ga mungkin nyakitin kamu. Kami Cuma ingin yang tebaik buat kamu, mengertilah…”
Ya, ya, ya, orang tua memang selalu minta untuk dimengerti tanpa mau mengerti sosok anak di hadapan mereka. Hey orang tua, yang lebih dewasa itu kalian, bukan kami yang anak – anak. Seharusnya kalian lebih mampu untuk mengerti, bukan sebaliknya, minta dimengerti!”
Di, moga kelak saat aku jadi orang tua, aku bisa lebih memahami anak – anakku ya…. (Kejauhan mikirin anak, jodoh aja belum kelihatan, uhuy,hihihi)

Dear Leni,moga Allah mendamaikan hatimu dengan kasih dan sayangNya. Big hug ;-)