ARJUNANYA
SHINTA
Desir
angin membelai rambut ikal milik lelaki di hadapanku. Hembusannya juga
memainkan ujung jilbab yang ku kenakan. Jilbab biru pupus yang mewakili
perasaanku saat ini, penuh sendu.
“Aku rasa aku butuh waktu untuk menjernihkan fikiran,
mas.” pintaku pada mas Arjuna.
“Tidak bisakah kau melakukannya bersamaku, di sini?”
tanyanya sambil menyisir wajahku.
“Aku perlu waktu menyendiri, mas. Aku ingin
meyakinkan diri, sekaligus memberi kesempatan padamu untuk membuktikan diri.”
pungkasku seraya menundukkan wajah dan melepas nafas yang terasa kian berat.
Dua tangan mas Arjuna meraih
wajahku, memaksa pandangan kami bertemu. Mata itu, ah bening di dua bola mataku
kian menebal. Aku harus kuat. Harus bisa tenang menyampaikan isi hati pada
belaian jiwa yang telah ku bersamai selama lima belas tahun.
“Mas, aku merasa tidak pantas mendampingimu. Aku
tidak sesholiha yang kau sematkan padaku. Aku …” sial, akhirnya Kristal bening
itu meluncur begitu saja. Mas Arjuna hendak membawaku dalam peluknya namun aku
menolak. Aku masih harus berucap.
“Mas, semua orang yang mengenalmu
entah kawan lama atau baru, mereka selalu menilai kamu orang yang baik,
menyenangkan dan penuh kesan that you’re a perfect one. Tampan rupawan, the
family man, … how lucky I am for having you as my husband.”
“Aku senang dengan penilaian
mereka terhadapmu. Hanya saja aku sering bertanya dalam hati, kenapa aku tidak
punya penilaian yang sama dengan mereka? Aku sering merasa bahwa kamu itu
sangat menyebalkan. Mereka sangat welcome denganmu, tapi aku …”
“Itu karena mereka hanya
mengenalku sedikit, sayang. Hanya lihat permukaan, hanya tahu topengku saja.”
terang mas Arjuna dengan masih menatapku iba.
“Mas, aku rasa hati dan pikiranku
penuh. Penuh dengan janji – janjimu yang hingga kini tidak terbukti. Penuh
dengan mimpi – mimpi yang hanya sampai di angan. Mas, aku bosan menjadi
perempuan yang kuat dan baik – baik saja. I’m not okay. Aku ingin seperti
kebanyakan perempuan, layaknya keinginan para istri, menerima nafkah dari
suaminya.” susah payah ku tuntaskan kalimat itu sebelum Kristal bening
menderas.
Sejurus kemudian berputar dalam
benakku. Sepuluh tahun lalu, Mas Arjuna memutuskan untuk berwirausaha. Pesangon
dari kantor dijadikan modal. Menggandeng beberapa relasi dari beragam profesi.
Saat itu, mas Arjuna mengatakan padaku nahwa jika bisnisnya lancar, kami bisa
naik haji sebagai hadiah pernikahan. Berbungalah hati kami saat itu. Namun
harapan tinggal harapan. Usaha itu justru drop tepat saat akan dipanen. Satu
relasi bertindak di luar kesepakatan dan menyebabkan kebangkrutan. Jangankan
untung apalagi pergi haji, seluruh modal mas Arjuna amblas tiada sisa. Hanya
sesak terasa menghimpit dada.
Episode baru dalam rumah tangga
mulai kami jalani. Tidak mudah, sangat tidak mudah. Pendapatan keluarga hanya
mengandalkan honorku menulis dan mengajar kelas menulis di beberapa tempat. Tak
seberapa, hanya cukup menyangga kebutuhan harian keluarga kecil kami. Saat itu
Siena, buah hati kami baru berusia 3 tahun.
Mas Arjuna masih belum bisa
menerima kegagalan usahanya. Dia sangat ingin mengajakku pergi haji. Setiap
hari lebih banyak diisi dengan tidur dan main games. Harapanku bahwa mas Arjuna
bisa membantu pekerjaan domestik tidak pernah jadi kenyataan. Hampir enam bulan mas Arjuna begitu. Sampai ia
kembali bersemangat saat orang tuanya memberikan sejumlah uang untuk memulai
usaha baru. Kala itu dia memilih membuka warnet yang tengah digandrungi dan
jadi trend.
Tiga bulan berlalu, usaha warnet
mas Arjuna kian berkembang. Mas Arjuna memintaku untuk fokus mengurus rumah dan
anak juga janin yang saat itu hadir dalam rahimku, buah cinta kami yang kedua.
Itu artinya aku harus memutus hubungan dengan penerbit yang selama ini jadi
langganan juga beberapa kontrak mengajar di beberapa tempat. Ya, Allah, berat
rasanya, tapi aku tidak punya pilihan selain taat. Meski coba aku sampaikan
argumentasi perihal keberatanku, semuanya mentah dan tertolak. Meski ragu,
akhirnya ku patuhi juga perintah suamiku itu.
Persis tujuh hari pasca kelahiran
buah hati kami yang kedua, mas Arjuna resmi menutup warnetnya yang sepi
pengunjung, terkalahkan oleh HP android yang menjamur tak terbendung. Begitulah
usaha, tak selamanya sesuai dan menjanjikan. Aku kembali dihadapkan pada
situasi di mana aku wajib berpenghasilan, sementara kondisiku baru saja
melahirkan, Subhanallah. Hanya Seina dan Said, bayi kecil yang jadi amanah,
buatku menguatkan diri menghadapi semua. Bersyukur penerbit yang pernah aku
tinggalkan dulu masih berkenan menerima tulisanku kembali.
Sejak itu, mas Arjuna kembali
mencoba berbagai usaha. Membuka servis elektronik, jual beli burung kicau,
budidaya papaya California, ternak ayam dan bebek, dan entah apa lagi. Aku
hanya bisa menyertai dengan doa. Ada rasa khawatir mengiringi, yang harus aku
usir dengan kesibukan domestik, mengurus anak dan mencari penghasilan untuk
membiayai diri dan dua buah hati, juga mas Arjuna. Entah sudah berapa lama aku
lupa rasanya mendapat “uang belanja” dari sosok bernama suami.
“Shinta …” suara mas Arjuna
membuyarkan lamunanku. Ku arahkan pandang ke wajahnya. Tersirat penuh tanya di
sana, tapi rasa yang aku cari tak ada di sana. Aku harap ada rasa bersalah di
sana, tapi matanya tidak mengatakan itu.
“Mas, ingatkah saat ada rekan
usahamu yang datang ke rumah menagih modal yang katanya ia berikan untukmu. Ia
tagih ke aku padahal ia tahu bahwa aku sama sekali tidak mencampuri bisnis
kalian. Ia mengintimidasi aku, bahkan ia menagih hutangmu di akun media sosial
aku. Media sosial yang aku gunakan sebagai brand kepenulisan, membangun image
sebagai penulis, profesi aku, mas.”
Saat itu, dua puluh hari setelah
Said lahir, datang dua orang perempuan kawan sekolah suamiku di SMP dulu. Mau
menarik modal mereka bilang, dengan secarik kertas yang perlu ditandatangani RT
setempat. Saat itu, rasa sakit pasca operasi Caesar masih sesekali terasa, mas
Arjuna sedang ke luar kota mengurus kebun dan ternaknya. Penjelasanku tidak
diterima oleh kedua perempuan itu. Demi menjaga nama baik suami, ku relakan
beberapa juta untuk mengganti modal mereka. Beberapa juta yang aku sisihkan
dari hadiah tetamu yang menjenguk Said, niatnya akan aku gunakan untuk aqiqah
Said saat aku sudah benar – benar pulih nanti.
Mas Arjuna menatapku nanar.
Ditariknya tangan yang sejak tadi ia letakkan di pipiku. “Mas masih ingat, aku
terpaksa menjual rumah pemberian orangtuaku demi menutupi hutang mas ? Saat itu
kita sepakat bahwa hasil penjualan rumah akan dipakai untuk membayar hutang,
membeli rumah baru yang lebih mungil juga untuk modal usahamu, mas. Lalu apa yang kamu lakukan mas, ingatkah ?”
Ingatan itu hadir kembali. Saat
sibuk mendampingi ibu yang terpukul ldengan kepergian ayah menghadap Sang
Kholiq, saat akan membayar tagihan rumah sakit, ku dapati angka nol di
rekeningku. Padahal seharusnya ada sejumlah dana untuk rumah yang akan aku dan
Mas Arjuna beli. Shocked, rasa lemas menjalar ke seluruh sendi dalam diri.
Bersyukur saat itu kakak iparku sedang lurus hatinya hingga membolehkan mas
Iwan, kakakku, menanggung seluruh biaya perawatan ibu di rumah sakit.
Tenyata mas Arjuna memakai uang
itu untuk modal usaha bersama teman yang baru ia kenal, satu berasal dari Bandung Jawa Barat
dan satu lagi di bilangan Cibubur, Jakarta Timur.
“Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu, mas?”
sejenak aku memberi jeda, berharap ada jawaban dari mas Arjuna. Hanya detik jam
dinding yang menjawab.
“Aku merasa dikhianati mas. Kamu selingkuh … bukan
urusan wanita lain, tapi soal uang yang akan kita gunakan untuk membeli rumah.
Kamu melanggar kesepakatan yang kita buat. Dan ini bukan yang pertama.”
seketika aku mendapatkan kekuatan untuk terus berucap dan mencecar mas Arjuna.
Tidak aku pedulikan lagi tatapan mas Arjuna. Sepertinya dua mataku kini mulai
menajam.
“Masih ingat mobil butut yang kamu
beli dengan uangku?”
“Sepeda lipat yang berjuta itu, yang katamu akan kau
pakai untuk bekerja sementara motormu akan disewakan untuk menambah
penghasilan?”
“Blackberry yang fenomenal pada masanya?”
“Barang – barang branded yang kau belikan untuk aku
dan Seina, yang katamu layak untuk kami padahal aku menolaknya karena tidak
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Sebenarnya itu untuk kami atau
sekedar memuaskan nafsu dan egomu saja?”
Aku
kian meradang tak terbendung. Apa yang selama ini menggumpal dalam dada seolah
mendapatkan jalan keluarnya. Tidak sedetikpun aku beri ia kesempatan untuk
berkata.
“Mas, aku merasa belum bisa mencontoh bunda Khadijah
ra. yang rela mendukung perjuangan Rasulullah segenap hati, setulus jiwa.”
“Berat, mas.”
“Aku berfikir bahwa rasa berat ini yang menjadi
penghalang suksesmu. Iya, aku yang menghalangi suksesmu. Karena aku tidak mampu
bersyukur. Aku tidak mampu mensyukuri dirimu, mas. Aku tidak bisa menerima
sebagaimana mereka mengagumimu. Padahal orang – orang bilang kamu itu hebat,
bisa memasak untuk anak dan istri, mau mengajak anak – anak bermain, you’re the
real hero. Tapi, maaf, Mas …” Butir Kristal bening kembali membendung di kedua
mataku.
“Maaf, aku tidak bisa merasakan kebaikan itu lagi.
Hatiku seperti membeku. Aku tidak ingin menjadi penghalang suksesmu, mas. Aku
perlu waktu, seperti yang tadi aku sampaikan. Waktu untuk menjernihkan hati dan
fikiran sekaligus kesempatan buatmu untuk membuktikan diri.”
Masih
ku tatap wajah nanar tanpa kata itu. Lalu ku raih tangannya,
“Izinkan aku untuk pulang ke rumah ibu. Aku tidak
akan menuntut cerai, hanya ingin kamu memampukan diri seperti layaknya seorang
suami, menafkahi istrinya. Tapi jika kamu tidak berkenan dengan pintaku ini,
aku tidak keberatan jika harus mundur.”
Mas
Arjuna meraih kedua tanganku, lalu bersimpuh di hadapanku. “Jangan, Shinta.
Kamu tidak tergantikan. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tanpamu, ah, aku
tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku tanpamu. Kamu lihat usahaku
sebentar lagi akan…”
“Mas, cukup.” Ku letakkan jariku di bibirnya, agar ia
berhenti dan tidak meneruskan janji yang sudah tak ingin aku dengar lagi.
“Mas, aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya perlu
waktu untuk menginsyafi semua. Aku takut semua ini terjadi karena salahku. Aku
akan belajar untuk ridho atas segala ketentuan Allah, Tuhan kita. Belajar
menerimamu kembali juga bersyukur atas semua yang terjadi. Aku mohon,
mengertilah, Mas…” pintaku seraya mencium kedua tangannya. Tak ada lagi kata
yang mampu terucap, hanya air mata yang berpadu dalam pelukan. Kian menderas,
membasah hingga ke relung kalbu. *)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar