Rabu, 06 November 2019

#Part3

Diari Seorang Rahma

Dear diary, aku masih kepikiran pandawa lima yang konsul hingga larut semalam. Jadi refleksi juga tentang pandanganku terhadap pernikahan. Kalau melihat pernikahan ibu dan bapak, juga beberapa orang yang aku kenal, rasanya ga siap membina rumah tangga, Di.
Kamu tahu kan gimana ibu sama bapak? Dingin. Sama – sama gila kerja. Oke sih sama anak – anak. Perhatian mereka cukup. Bahkan, aku merasa dicintai oleh mereka berdua, ya tentu dengan cara mereka mencinta. Suami istri satu atap tapi kamarnya terpisah. Entah bagaimana cara mereka menahkodai bahtera rumah tangganya. Mungkin pakai telepati, hehehe. Jangankan romantis – romantisan jalan bareng berduaan, lah ngobrol berdua aja juaraaaaaaaaaang. Sekalinya ngobrol ujungnya ribut, pakai nada do tinggi, hadeuh.
Lain lagi rumah tangga kakak semata wayangku. Waktu belum nikah dia itukan sparing tinju aku, hahaha. Pas nikah jadi ayam sayur, takut sama istri. Semua serba diatur istri, bahkan sampai ATM yang pegang istrinya, dia hanya dijatah dua puluh ribu sehari buat bensin, sungguh tragis huhuhuhu. Goodbye deh jatah sabun dan bedak buat aku, jajan buat ibu dan bapak huahahaahhaa. Ssst, astaghfirullah.
Bude Darmi, wanita perkasa yang serba bisa. Dini hari sudah sibuk menyiapkan adonan, menggoreng dan mengemas kue yang akan di titip di kantin sekolah anak – anaknya. Pagi hingga sore kerja di percetakan ibu. Sore belanja, lepas maghrib menemani anak-anaknya mengaji. Ba’da Isya merajang bahan –bahan untuk kue dan baru istirahat jam sebelas malam. Begitu setiap hari, tanpa kenal lelah. Hari Sabtu sore dan Ahad dia pakai untuk mengaji. Tubuhnya yang mungil tidak menghalanginya bersusah payah menafkahi diri juga dua anaknya. Suaminya? Ga usah dibahas, sambit aja pake gentong hehehe.
Siapa lagi ya? Hmmm. Mas Parjo,tetangga gang sebelah itu loh, Di. Dia mah beneran apes, ups, astaghfirullah. Ya, bayangin aja coba, Di. Kerja dari pagi, Maghrib baru pulang, boro – boro bisa istirahat, dia masih harus beli makan untuk sekeluarga karena istrinya ga nyiapin, disuruh isi air ulang, urus ini itu, beli ini itu, aduh duh duh…
Tante Mina yang punya salon itu,punya kekasih gelap. Uwak Poni yang pintu rumahnya terbuka untuk banyak lelaki dan suaminya seolah pura – pura tidak tahu. Astaghfirullah. Ko’ ga ada yang model rumah tangga nabi Ibrahim as dan nabi Muhammad ya? Terlalu sempurnakah sosok itu, Di? Tidak adakah model keluarga yang bisa aku lihat dan jadikan model dalam lingkungan terdekatku? Astaghfirullah. Yang aku lihat model keluarga Fir’aun, nabi Luth as. dan nabi Nuh as. Huhuhuhu, syereeeeeeeeem.
Kamu tahu, Di? Mba Dewi pernah menyampaikan pendapat bunda Aisyah ra. bahwa pernikahan itu sangat pribadi, tergantung pribadi – pribadi yang menjalankannya. Di AlQur’an juga disebutkan bahwa laki – laki yang baik untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Jodoh adalah cermin diri kita. Jadi, kalau kita sudah baik dan terus berusaha menjadi baik, maka kita akan mendapat jodoh yang baik, kan, Di? Gitu kan, ya?
Terus kalau nanti aku dapat suami yang tidak sesuai dengan aku bagaimana ya, Di? Kalau aku sampai mengalami KDRT, atau ditelantarkan seperti Bude Darmi, akankah aku bertahan? Ofcourse not lah ya. Liatin perjuangan bude Darmi aja eneg banget apalagi harus ngalamin sendiri. Sedikit saja aku tersakiti, aku akan tinggalkan dia, ohohohoho. Wait wait, tapi perpisahan itu kan dibenci Allah? Kalau dah gini, ujung-ujungnya pasti haru sabar. Tapi, bukankah sabar itu artinya bertahan, bukan diam? Bertahan dengan setiap takdir yang Allah gariskan. Hmmmh, baru mikirin aja hayati lelah, Di. Ya Allah na’udzubillah. Aku mau punya suami yang taat kan Allah. Lembut, pengertian dan memiliki pribadi,
rumah pribadi
mobil pribadi
hahahahahahahaha, ini mah matre, eits bukan deh, ini kebutuhan hihihihi. Aduh jadi pengen nulis puisi, Di. Untuk suamiku, kelak (ciyeeee).

KEPADA SUAMIKU

Bait ini coba aku tulis untuk
kemudian ku biarkan dia
kan membacanya

Bait ini adalah tentang suara
nan hingar dalam nuansa jiwa
tentang sebuah penerimaan jua
harapan atas dia

Dia adalah suamiku yang telah
meminang dengan Hamdalah
bersama tuntunan rahmah

Dia adalah suamiku yang telah
bersaksi dengan nama Illah
dengan wali Rasululloh tercinta
dengan persaksian para malaikatNYA

Dialah suamiku,
yang pertama kali menghampiri diri seraya berkata
semoga Allah memberkahi pertemuan kita

Dialah suami yang slalu siap sedia
membuka dada
Gar dapat berlabuh ini jiwa

Dialah suami yang telah dan selalu
membimbing diri dalam
menata laku jua kalbu

Dia – lah suami yang begitu sabar
menuntun dalam perjalanan
begitu peka dalam memberi nasihat
dalam mengarungi bahtera kehidupan

Dia suami yang akan selalu
aku cinta dan hormati
atas izin Illahi Robbi

Dia suamiku,
yang pandai memuji payah diri meski tak seberapa
Dia juga suamiku,
yang kan marah bila aku mengkhianati diri dan Tuhannya

Dia, suamiku yang slalu bersama
menapaki jalan para syuhada
Dalam rajutan cinta penuh nuansa
tuju cinta hakiki penguasa alam raya


Yaah … dia adalah suamiku
yang menerima aku apa adanya
karena memang aku
begini adanya

Ku katakan padamu duhai suamiku
Betapa hati ini penuh rindu jua malu akan – mu
Dan kini ku tanyakan padamu
tentang rasa hati atas diriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar