Minggu, 03 November 2019

#Part2
Diari Seorang Rahma

Jarum jam sudah menunjuk pukul 20.30. Di hadapanku masih duduk lima siswa kelas 12. Belum terlihat kantuk di sorot mata mereka, sementara aku sudah mulai ‘low bat’. Wajah mereka masih seperti matahari pukul delapan pagi. Lima siswa ini berasal dari beberapa sekolah berbeda tapi punya kesamaan latar belakang, sama – sama dari keluarga yang tidak biasa.
Satrio, Rio panggilannya anak sulung dari istri ke dua ayahnya. Ada Irfan, ayahnya menikah lagi saat ia berusia 10 tahun. Rangga, anak semata wayang yang tinggal bersama nenek. Mamanya memutuskan berkarir di luar negeri setelah bercerai dengan sang ayah yang menetap di Bogor. Imam, hidup bersama ibunya setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya enggan menikah lagi. Dan Yoga yang dibesarkan oleh ibunya seorang diri, setelah ayahnya pergi bersama perempuan yang baru dikenalnya beberapa hari di media sosial.
Mengenal latar belakang mereka saja sudah membuat hatiku bergemuruh. Betapa luka hati lebar menganga di balik senyum dan tawa mereka, seperti saat ini, hingga mereka perlu meluapkan isi hati.
“Ka’ semua orang tua egois kali ya?”, tanya Rangga
“Maksudnya gimana, Ga?”
“Iya mentingin diri mereka sendiri. Bu*****t banget kalo mereka bilang mereka peduli, sayang, cinta sama kita anaknya. Nyatanya?”, Rangga menjelaskan.
Terbayang saat ia mengatakan kalau ia merasa malu saat pengambilan rapot. Karena hanya dia yang selalu ditemani sang nenek. Tidak pernah merasakan mengambil rapot bersamaorang tua sejak dari bangku SD.
“Iya, ka. Sayangnya cuma topeng, basa – basi. Jangankan sama kami anaknya, sama pasangannya aja sering nyakitin.” Yoga menimpali
Aku coba meraba apa yang ia rasakan. Setahun yang lalu, ayahnya meninggalkan keluarganya tanpa pamit, tanpa kabar, hanya selembar kertas yang menyatakan talak untuk ibundanya tersayang. Meski ibunya mampu mencukupi kebutuhan hidup, tapi jelas rasa kecewa karena ditinggalkan membekas dalam hatinya.
“Iya, betul”, seru Rangga, Irfan dan Rio hampir bersamaan.
”Wah, kompak nih… Menurut kamu bagaimana, Mam?”
                Imam hanya tersenyum, lalu hening. Sepertinya mencari komentar yang pas untuk disampaikan. “Hmm,gimana ya Ka? Kalo saya sih agak kurang setuju kalau semua orang tua dibilang egois. Ya, saya juga ga tahu tepatnya dibilang apa. Yang pasti, saya tahu ibu saya tidak egois. Sampai hari ini, perhatiannya masih full untuk saya dan adik saya. Dia belum atau tidak ada rencana untuk menikah lagi setelah ayah wafat 5 tahun lalu. Padahal yang mencoba mendekati dan mengajaknya menikah tidak sedikit. Kalian tahu apa yang diberatkan ibuku? Kami, ya saya dan adik yang diberatkannya.” Imam menutup kata dengan menatapku juga keempat temannya bergantian.
“Itu kan ibu, Mam, perempuan. Kalo laki – laki, kan lain lagi ceritanya. Ya ga, Kak?”, tanya Irfan.
“Iya, Fan. Kaya papaku tuh, mama masih hidup aja dia dah kabur sama cewe lain.” sambut Yoga.
“Tapi ga semua lelaki gitu juga kali, Ga.” sangkal Rio.
“Aku setia, hehhehe” Lanjutnya.
“Meskipun ayahku punya dua istri, bukan berarti ayah tidak setia. Ayah itu sangat menyayangi bunda (istri pertama) juga mamaku. Bahkan kata mama, ayah menikahi bunda itu atas desakan bunda. Selama 15 tahun menikah mereka belum juga dikaruniai keturunan, ayah setia bersama bunda. Saat dokter memvonis bahwa sulit bagi bunda untuk hamil, bunda memaksa ayah untuk menikah lagi dengan mama, pilihan bunda. Bahkan bunda sampai mengancam minta berpisah jika ayah tidak mengabulkan permintaannya.”
“Bagaimana dengan kamu, Irfan?”, tanyaku
“Kalo saya nih, ka’, misalnya, moga ga sampe, walau istri saya nangis – nangis minta saya nikah lagi karena kekurangan yang ada pada dirinya, saya ga akan mau. Saya tahu, kak, walaupun iya di mulut, tapi hatinya sedih ka, nangis Bombay gitu. Kaka pasti tahu lah, kaka kan perempuan. Kaya ummi saya, dimadu …” suaranya yang tadi riang, kini berubah datar.
                Aku tatap wajah Irfan. Terlihat dia sedang mengatur nafas atau menahan agar bening di matanya tak tumpah.
“Saya ingat, ka’, saat masih SD, abi saya meminta izin ummi untuk menikahi kerabatnya yang hidup sebatang kara, atas permintaan nenek. Ummi, seperti kebanyakan perempuan yang terjebak dengan kata ‘sholiha’, ‘taat’, en so on, tidak punya pilihan untuk menolak. Setiap hari ummi mencoba menutupi matanya yang sembam. Saya tahu, ummi menangis, setiap hari selama satu tahun. satu tahun, ka’, bayangkan …” Dia akhiri dengan menarik nafas, Kristal bening kian membendung di matanya.  
Ku lirik jam, pukul 21.10.
“Gaes, saya senang sekali dengan diskusi kita saat ini. Tapi ini sudah larut. office hour di sini sudah berakhir 70 menit yang lalu. Bisakah kita lanjut lain waktu?”
“Yaaaa….kaka”, jawab mereka kecewa, kompak.
“Kalau saja saya lelaki, saya ajak kalian semua bermalam di rumah saya untuk menyelesaikan diskusi kita yang hangat ini. Sepertinya kita harus realistis ya... Atau kalian mau diskusi dengan ka’ Rahman?”
“Lanjut besok aja deh, ka’ kita bikin jadwal konsul lagi. Kalau sama ka’ Rahman harus review hehehe.” jawab Rio
“Setuju”, jawab Irfan.
“Oke, sebagai penutup diskusi malam ini, boleh kaka siimpulkan sedikit?”
“Siaap”
“Oke dari pendapat kalian semua, kaka lihat ada satu persamaan, yaitu bahwa kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya orang tua kita pikir dan rasa. Sesuatu yang menurut kita egois, belum tentu demikian maksud mereka. Sebaliknya, semua yang mereka sebut cinta,kasih dan sayang, belum tentu sesuai dengan apa yang kita rasakan, deal?”
“Deal”
“Kita bahas lagi next session ya gaes, insyaAllah.”
“Semoga,, insya Allah….”
                Lima siswa berjalan, beriring. Beberapa di antara mereka menggoda untuk menjabat tanganku, lalu tersenyum saat ku balas dengan tangan yang rapat dan seulas senyum. Ah kalian, andai aku laki – laki, akan ku bawa kalian dalam pelukku, ku tepuk - tepuk punggungmu agar terbasuh dan luruh luka yang tergores di hatimu.
Ya, Allah … karuniakanlah kedamaian dalam relung hati mereka. Kuatkan mereka, lindungi mereka. Semoga kalian tetap menjadi laki- laki yang tangguh dan setia.

***
Dear diary, so difficult ya jadi orang tua. Aduhai, jadi ga pengen nikah ih, ups, Astaghfirullah. Laki – laki itu nyebelin. Aneh. Hobi ko ya ngoleksi perempuan, ups astaghfirullah. Sorry, Di, esmosi jiwa hahaha.
Cewe – cewe itu juga aneh. Mau aja disakitin. Kamu tahu kan tetangga kita yang di ujung gang itu, Di? Bude Darmi. Beliau itu dah kaya nggak punya suami. Banting tulang sendiri, untuk menghidupi keluarganya. Suaminya? Pret. Kerja Cuma buat muasin ego. Bukannya menafkahi anak istri malah bersenang – senang memenuhi hobi, koleksi istri, arrrgh! Lagian itu bude Darmi, ngapain maih bertahan coba. Kan rumah tangga itu untuk sakinah, mawadah wa rohmah (ciyeeee….), tapi kalo nyatanya saling menyakiti buat apa?
Kalau hanya mereka yang terakiti sih terserahlah, ra urus. Lah ini, anak –anak jadi korban. Hati mereka terluka, jiwa mereka terkoyak, hadeeeeeuh. Tapi Di, bude Darmi pernah bilang ke ibu. Kalau beliau rela bertahan itu karena dia merasa ga punya apa - apa buat bekal pulang ke kampung akhirat. Beliau bilang, disabari menjalani rumah tangganya kini dengan harapan Gusti Allah berkenan menerima pengorbanan dan sabarnya dan membalas dengan surga.
Gimana, Di? Speechless kan?

                Jadi pusing, Di. Aku nanti gimana, ya? Sebelum kenal Islam melalui kajian ROHIS sih, aku sempat bercita – cita untuk jadi penuntut ilmu aja, ga mau nikah. Tapi di satu kajian disampaikan kalau nikah itu sunnah Rasulullah, menggenapkan setengah Dien. Ah, ngapain juga dipikir, kaya dah ada calon aja, hehehehe. Dah malam, Di. Tidur kuy. si ya. *)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar