#Part2
Diari Seorang Rahma
Jarum jam sudah menunjuk pukul
20.30. Di hadapanku masih duduk lima siswa kelas 12. Belum terlihat kantuk di
sorot mata mereka, sementara aku sudah mulai ‘low bat’. Wajah mereka masih
seperti matahari pukul delapan pagi. Lima siswa ini berasal dari beberapa
sekolah berbeda tapi punya kesamaan latar belakang, sama – sama dari keluarga
yang tidak biasa.
Satrio, Rio panggilannya anak
sulung dari istri ke dua ayahnya. Ada Irfan, ayahnya menikah lagi saat ia
berusia 10 tahun. Rangga, anak semata wayang yang tinggal bersama nenek.
Mamanya memutuskan berkarir di luar negeri setelah bercerai dengan sang ayah
yang menetap di Bogor. Imam, hidup bersama ibunya setelah ayahnya meninggal
dunia dan ibunya enggan menikah lagi. Dan Yoga yang dibesarkan oleh ibunya
seorang diri, setelah ayahnya pergi bersama perempuan yang baru dikenalnya
beberapa hari di media sosial.
Mengenal latar belakang mereka
saja sudah membuat hatiku bergemuruh. Betapa luka hati lebar menganga di balik
senyum dan tawa mereka, seperti saat ini, hingga mereka perlu meluapkan isi
hati.
“Ka’ semua orang tua egois kali ya?”, tanya Rangga
“Maksudnya gimana, Ga?”
“Iya mentingin diri mereka sendiri. Bu*****t banget
kalo mereka bilang mereka peduli, sayang, cinta sama kita anaknya. Nyatanya?”,
Rangga menjelaskan.
Terbayang saat ia mengatakan kalau
ia merasa malu saat pengambilan rapot. Karena hanya dia yang selalu ditemani
sang nenek. Tidak pernah merasakan mengambil rapot bersamaorang tua sejak dari
bangku SD.
“Iya, ka. Sayangnya cuma topeng, basa – basi.
Jangankan sama kami anaknya, sama pasangannya aja sering nyakitin.” Yoga
menimpali
Aku coba meraba apa yang ia rasakan. Setahun yang
lalu, ayahnya meninggalkan keluarganya tanpa pamit, tanpa kabar, hanya selembar
kertas yang menyatakan talak untuk ibundanya tersayang. Meski ibunya mampu
mencukupi kebutuhan hidup, tapi jelas rasa kecewa karena ditinggalkan membekas
dalam hatinya.
“Iya, betul”, seru Rangga, Irfan dan Rio hampir
bersamaan.
”Wah, kompak nih… Menurut kamu bagaimana, Mam?”
Imam
hanya tersenyum, lalu hening. Sepertinya mencari komentar yang pas untuk
disampaikan. “Hmm,gimana ya Ka? Kalo saya sih agak kurang setuju kalau semua
orang tua dibilang egois. Ya, saya juga ga tahu tepatnya dibilang apa. Yang
pasti, saya tahu ibu saya tidak egois. Sampai hari ini, perhatiannya masih full
untuk saya dan adik saya. Dia belum atau tidak ada rencana untuk menikah lagi
setelah ayah wafat 5 tahun lalu. Padahal yang mencoba mendekati dan mengajaknya
menikah tidak sedikit. Kalian tahu apa yang diberatkan ibuku? Kami, ya saya dan
adik yang diberatkannya.” Imam menutup kata dengan menatapku juga keempat
temannya bergantian.
“Itu kan ibu, Mam, perempuan. Kalo laki – laki, kan
lain lagi ceritanya. Ya ga, Kak?”, tanya Irfan.
“Iya, Fan. Kaya papaku tuh, mama masih hidup aja dia
dah kabur sama cewe lain.” sambut Yoga.
“Tapi ga semua lelaki gitu juga kali, Ga.” sangkal
Rio.
“Aku setia, hehhehe” Lanjutnya.
“Meskipun ayahku punya dua istri, bukan berarti ayah
tidak setia. Ayah itu sangat menyayangi bunda (istri pertama) juga mamaku.
Bahkan kata mama, ayah menikahi bunda itu atas desakan bunda. Selama 15 tahun
menikah mereka belum juga dikaruniai keturunan, ayah setia bersama bunda. Saat
dokter memvonis bahwa sulit bagi bunda untuk hamil, bunda memaksa ayah untuk
menikah lagi dengan mama, pilihan bunda. Bahkan bunda sampai mengancam minta
berpisah jika ayah tidak mengabulkan permintaannya.”
“Bagaimana dengan kamu, Irfan?”,
tanyaku
“Kalo saya nih, ka’, misalnya, moga ga sampe, walau
istri saya nangis – nangis minta saya nikah lagi karena kekurangan yang ada
pada dirinya, saya ga akan mau. Saya tahu, kak, walaupun iya di mulut, tapi
hatinya sedih ka, nangis Bombay gitu. Kaka pasti tahu lah, kaka kan perempuan.
Kaya ummi saya, dimadu …” suaranya yang tadi riang, kini berubah datar.
Aku
tatap wajah Irfan. Terlihat dia sedang mengatur nafas atau menahan agar bening
di matanya tak tumpah.
“Saya ingat, ka’, saat masih SD, abi saya meminta
izin ummi untuk menikahi kerabatnya yang hidup sebatang kara, atas permintaan
nenek. Ummi, seperti kebanyakan perempuan yang terjebak dengan kata ‘sholiha’,
‘taat’, en so on, tidak punya pilihan untuk menolak. Setiap hari ummi mencoba
menutupi matanya yang sembam. Saya tahu, ummi menangis, setiap hari selama satu
tahun. satu tahun, ka’, bayangkan …” Dia akhiri dengan menarik nafas, Kristal
bening kian membendung di matanya.
Ku lirik jam, pukul 21.10.
“Gaes, saya senang sekali dengan diskusi kita saat
ini. Tapi ini sudah larut. office hour di sini sudah berakhir 70 menit yang
lalu. Bisakah kita lanjut lain waktu?”
“Yaaaa….kaka”, jawab mereka kecewa, kompak.
“Kalau saja saya lelaki, saya ajak kalian semua
bermalam di rumah saya untuk menyelesaikan diskusi kita yang hangat ini.
Sepertinya kita harus realistis ya... Atau kalian mau diskusi dengan ka’
Rahman?”
“Lanjut besok aja deh, ka’ kita bikin jadwal konsul
lagi. Kalau sama ka’ Rahman harus review hehehe.” jawab Rio
“Setuju”, jawab Irfan.
“Oke, sebagai penutup diskusi malam ini, boleh kaka
siimpulkan sedikit?”
“Siaap”
“Oke dari pendapat kalian semua, kaka lihat ada satu
persamaan, yaitu bahwa kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya orang tua
kita pikir dan rasa. Sesuatu yang menurut kita egois, belum tentu demikian
maksud mereka. Sebaliknya, semua yang mereka sebut cinta,kasih dan sayang,
belum tentu sesuai dengan apa yang kita rasakan, deal?”
“Deal”
“Kita bahas lagi next session ya gaes, insyaAllah.”
“Semoga,, insya Allah….”
Lima
siswa berjalan, beriring. Beberapa di antara mereka menggoda untuk menjabat
tanganku, lalu tersenyum saat ku balas dengan tangan yang rapat dan seulas
senyum. Ah kalian, andai aku laki – laki, akan ku bawa kalian dalam pelukku, ku
tepuk - tepuk punggungmu agar terbasuh dan luruh luka yang tergores di hatimu.
Ya, Allah … karuniakanlah kedamaian dalam relung hati
mereka. Kuatkan mereka, lindungi mereka. Semoga kalian tetap menjadi laki- laki
yang tangguh dan setia.
***
Dear diary, so difficult ya jadi
orang tua. Aduhai, jadi ga pengen nikah ih, ups, Astaghfirullah. Laki – laki itu
nyebelin. Aneh. Hobi ko ya ngoleksi perempuan, ups astaghfirullah. Sorry, Di,
esmosi jiwa hahaha.
Cewe – cewe itu juga aneh. Mau aja
disakitin. Kamu tahu kan tetangga kita yang di ujung gang itu, Di? Bude Darmi.
Beliau itu dah kaya nggak punya suami. Banting tulang sendiri, untuk menghidupi
keluarganya. Suaminya? Pret. Kerja Cuma buat muasin ego. Bukannya menafkahi
anak istri malah bersenang – senang memenuhi hobi, koleksi istri, arrrgh!
Lagian itu bude Darmi, ngapain maih bertahan coba. Kan rumah tangga itu untuk
sakinah, mawadah wa rohmah (ciyeeee….), tapi kalo nyatanya saling menyakiti
buat apa?
Kalau hanya mereka yang terakiti
sih terserahlah, ra urus. Lah ini, anak –anak jadi korban. Hati mereka terluka,
jiwa mereka terkoyak, hadeeeeeuh. Tapi Di, bude Darmi pernah bilang ke ibu.
Kalau beliau rela bertahan itu karena dia merasa ga punya apa - apa buat bekal
pulang ke kampung akhirat. Beliau bilang, disabari menjalani rumah tangganya
kini dengan harapan Gusti Allah berkenan menerima pengorbanan dan sabarnya dan
membalas dengan surga.
Gimana, Di? Speechless kan?
Jadi
pusing, Di. Aku nanti gimana, ya? Sebelum kenal Islam melalui kajian ROHIS sih,
aku sempat bercita – cita untuk jadi penuntut ilmu aja, ga mau nikah. Tapi di
satu kajian disampaikan kalau nikah itu sunnah Rasulullah, menggenapkan
setengah Dien. Ah, ngapain juga dipikir, kaya dah ada calon aja, hehehehe. Dah
malam, Di. Tidur kuy. si ya. *)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar