Senin, 25 November 2019

Cerita CINTA FITRI

Selalu menyenangkan hadir di acara walimatul ursy teman atau kaka kelas, bisa sekalian reuni gratisan, hehehe. Seperti hari ini, ada walimatul ursy kakak kelas zaman SMA di youth center Jakarta Timur. Sayangnya, aku harus pergi sendiri karena suamiku masih dalam angan, hahaha.
Angkot menjadi pilihan transportasiku menuju lokasi. Baju pink andalan dan rok hitam kesayangan menemani penampilanku. Tentu saja jilbab senada plus sepatu hitam casual, seperti biasa. Tas kecil pengganti ransel melingkar di bahu siap membersamai acara hari itu. Menghadiri akad buat aku mesti hadir sejak pagi, tentu saja dengan catatan sedikit teman yang bisa aku jumpai karena kebanyakan mereka akan datang mendekati jam makan siang.
Janur kuning melengkung indah sedari gerbang tempat acara berlangsung. Hiasan bunga mempercantik suasana. Acara baru saja dimulai saat aku tiba. Wajah sumringah tetamu tampak jelas terpancar. Alhamdulillah akad berjalan lancar dan syahdu, banyak di antara hadirin yang meneteskan air mata haru. Suasana berganti lebih cair saat seorang ustadz menyampaikan khutbah nikah dengan ringan namun tetap sarat makna yang dalam.
Usai memberi ucapan dan doa kepada mempelai, tetamu dpersilakan mencicip hidangan yang disediakan. Begitupun aku. Mencicip eh tepatnya memburu hidangan yang disediakan, hehehe. Plus haha hihi dengan beberapa teman angkatan, adik dan kaka kelas yang hadir di situ. Kemudian beranjak pulang. Di pintu keluar, samar terdengar ada suara memanggilku.
“Fit … Fitri …!!!”
 Aku menoleh dan ku dapati seorang lelaki tengah berlari kecil menuju tempatku berdiri.
“Ka’ Fikri”, gumamku dalam hati. Segera ku putar badan dan mempercepat langkah menuju gerbang untuk selanjutnya menaiki JPO. Namun, mas Fikri yang atlet taekwondo itu lebih gesit. Dalam hitungan detik ia bisa mensejajarkan langkahnya.
                “Assalamu’alaikum Fitri, masih ingat aku, kan?” sapanya dengan ramah mengiringi langkahku melewati pagar utama gedung itu.
“Eh, iya Ka’. Wa’alaikum salam Warohmatullah…”
“Wah, lama tak jumpa, kamu tambah cantik ya. Anggun sekali. Maaf, lama aku tidak menghubungimu. Rencana di Jepang untuk S2 ternyata berlanjut hingga program S3, aku hilang kontakmu dan bersyukur hari ini bisa bertemu di sini. Sungguh aku senang sekali. Bagaimana kalau kita mampir di café sebrang jalan ini, banyak yang perlu dibicarakan…”
***
Masjid sekolah, 5 tahun silam
                Siang ini terasa penat sekali. Masjid menjadi pilihan terbaik untuk menenangkan hati dan pikiran. Setelah berjibaku dengan tumpukan soal bertabur deretan angka dan rumus. Belum lagi beberapa proposal kegiatan OSIS yang berlomba mengejar limit, hufffft.
                Lepas sholat Zuhur, ku biarkan sahabat surgaku kembali ke kelas atau mangkal di kantin berburu menu favorit, tinggalkanku tepekur sendiri. Setelah ku rasa cukup beristirahat, segera ku bergegas mematut diri.
“Maaf, dik. Adik sekolah di sini, ya?” tanya seorang ibu yang tiba-tiba duduk di hadapanku. Wajahnya ayu penuh wibawa, tersenyum dengan lembut. Ku sisir wajahnya, mencoba mengingat apakah aku mengenalnya. Memoriku mengonfirmasi bahwa sosok itu asing, baru saja hadir.
                “Maaf, dik. Adik sekolah di sini, ya?” tanyanya mengulang.
“Iya, bu…” jawabku seraya merapikan posisi duduk setelah memasang kaos kaki andalan dan membalas senyumnya.
“Emm, maaf, dari tadi ibu perhatikan kamu.” ujarnya hati – hati
Mendengar itu, aku bertanya dalam hati, ko’ bisa? ada apa denganku ya?
“Adik mau tidak jadi menantu ibu?”
                Hah? What? Demi apa? Aku tidak menjawab, hanya termangu menatap wajah seseibu di hadapanku.
“Maaf kalau mengejutkan kamu…” Mungkin ia merasa bersalah dengan mimik bingung yang hadir di wajahku.
“Eh oh iya, bu, tidak apa – apa.
                Ya, Allah, apalagi ini. Baru saja sejenak ku lupakan deretan rumus dan angka itu kini hadir yang lain lagi. Ya, ampun, am I that old? Apa ada stempel siap nikah di jidatku ini. Oh no, Astaghfirullah. Baru pekan lalu dua guru kesayanganku tetiba menceritakan padaku tentang sesosok alumni yang atlet taekwondo minta dicarikan jodoh, katanya harus anak ROHIS. But why me? Aku kan cuma penggembira aja di ROHIS, lagian aku juga masih sekolah, hellloooow dan sekarang, Ya, Allah, ampun ini lebih berat dari menghafal rumus dan teori – teori, huhuhuhu.
                “Dik …”
Seseibu yang masih di hadapan itu menepuk bahuku, membuyarkan monolog seru dalam pikiran.
“Eh iya, bu. Ah, Ibu mau minta saya jadi menantu ibu, apa saya ga salah dengar nih, bu? Secara, saya kan masih sekolah, Bu… Baru kelas sebelas. Masih panjang perjalanan, hehehe”, candaku mencoba mencairkan suasana.
Seseibu itu tersenyum, “Ya enggak lah. Justru itu, pas.”
Hmmmm,pas, maksudnya ?
“Pas sampai anak ibu selesai kuliah, dik. Saat ini dia sudah berada di Jepang mau melanjutkan S2, katanya ada beberapa berkas yang tertinggal di sekolah gitu. Anak ibu kan Pelatih ekskul taekwondo di sini, Fikri namanya, kamu kenal?”
My God, O em ji … taekwondo lagi, jangan – jangan ini orang yang sama yang di rekomendasikan guru kesayanganku. 
“Hmmm, kayaknya ga kenal deh, bu … saya jarang main ke ekskul lain soalnya, bu. Terpasung di OSIS dan ROHIS, hehehe. Saya emang gitu orangnya, bu. Jarang main. Teman sekelas aja ga semua saya hafal nama mereka …” hadeeeuh jadi curhat gaes.
Seseibu di hadapanku tertawa renyah, memamerkan deretan gigi serinya yang putih bersih bak bintang iklan pasta gigi yang berseliweran di TV ituh.
“Kamu lucu, nak. Tidak salah Fikri memilih kamu.”
Nah loh. Ini apaan sih, dengusku dalam hati.
Teeeeeeet
Alhamdulillah saved by the bell.
“Ini kartu nama ibu, ibu tunggu jawaban kamu, ya. Kabari telepon atau alamat kamu supaya saya bisa berkunjung untuk silaturahim dengan kedua orang tuamu, ya, terima kasih.”
“Eh, oh, i … iya bu, kembali kasih.” pasrah ku terima begitu saja secarik kartu yang disodorkan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam.”
Berharap ini semua mimpi dan segera terbangun darinya. Berkali ku pukul kecil juga mencubit pipi dan tanganku. Ah, terasa sakit.Ternyata ini nyata, bukan mimpi. It’s real gaes. Robbighfirlii.
“Kenapa Fit, banyak nyamuk ya? Ko’ mukanya ditepok gitu?”, tanya Gisti yang sejak tadi memerhatikanku.
“Hehhehe” hanya ku jawab dengan cengir kuda lantas berlalu menuju tempat duduk. Ku tarik nafas agar apa yang baru saja terjadi bisa menyingkir sejenak dari neurit dan dendron yang akan ku pakai untuk mengorek memori lama dan memasukkan informasi baru.
                Ah, siaaaal, Astaghfirullah. Otakku malah sibuk membahas seseibu yang misterius itu. Ya, Allah, bantu hamba, bismillah.
Usai pelajaran segera ku buru Pak Marwan dan Bu Eli untuk bertanya tentang atlet taekwondo (ehemmm) yang pernah mereka sampaikan. Setelah sebelumnya aku minta izin pada sang ketua OSIS agar aku bisa izin tidak ikut rapat sore itu. Dengan pasang wajah melas, akhirnya sang ketua meloloskan permohonanku, horeeee, eh Alhamdulillah.
 “Jadi, sudah mulai penasaran sama Fikri, ni?” tanya Pak Marwan menggoda.
“Lah gimana ga penasaran, pak, bu … tadi ibunya datang ke masjid, to the point minta saya jadi menantunya. Ajaib banget kan, pak, bu? Entah ngimpi apa saya semalam.”
“Hahahaha” pak Marwan dan bu Eli tertawa nyaris berbarengan.
                Lalu mengalirlah cerita tentang bagaimana sosok Fikri itu mengenal diriku. Kejadiannya tiga bulan lalu, tepatnya saat jam ekskul usai. Seperti biasa, sebagai wakil ketua OSIS, aku bertugas untuk memastikan ekskul yang ada berjalan dengan baik sesuai rencana. Saat melintas di lapangan, tetiba aku disiram air plus tepung plus telor busuk endebra. Belakangan terungkap (ciyeee) kalau aku ini korban salah sasaran. Jadi ada anak kelas sepuluh yang juga bernama Fitri hari itu sedang berulang tahun, nah, teman – temannya menyiapkan surprise yang norak dan kudet menurutku. Dan yang parah, mereka kira Fitri yang di maksud adalah aku, susah juga sih famous (ahahahaha). Dan, kun fa yakun (upsss). Kamu tahulah gimana rasanya saat itu. Bau, kaget, kezel, dan masih banyak lagi.
Ingin teriak memaki rasanya. Tapi tertahan saat ingat kajian sehari sebelumnya di acara keputrian bersama kakak ROHIS yang sholiha. Katanya, “Semua yang menimpa kita itu takdir Allah, semua sempurna, tidak ada yang salah apalagi sia – sia.”
Sabaaaaaar ya, Allah. Saat wajah – wajah melas dari kelas sepuluh, sebelas dan dua belas itu meminta maaf dan menawarkan baju ganti juga jasa antar pulang ke rumah. Akhirnya Fitri yang sedang otw hijrah bisa membalas mereka dengan seulas senyum yang indah di tengah tetesan air, tepung, telur dan kawan – kawannya, membasahi mulai ujung jilbab hingga kaos kaki.
“Iya, qodarullah…” tetap senyum walau hati ini teriak nyaring dan ingin segera mencakar aspal lapangan. Saat itu ka’ Fikri melihat kejadian secara utuh dan dia merekam dalam ingatannya. Sejak saat itu dia rajin mengumpulkan informasi tentangku termasuk stalking di akun media sosial yang ku punya … owh.
“Jadi begitu ceritanya, Fit. Fikri ini benar – benar tersentuh dengan kejadian itu dan bertekad untuk serius sama kamu. Tapi dia tahu kalau kamu tidak mau pacaran, makanya minta tolong kami sekaligus ibunya untuk menyampaikan maksudnya padamu.” terang bu Eli.
“Ooooooh, gitu ya.” jawabku penuh wow. Dalam hati aku mendebat, ada ya orang kaya gitu. Aneh. Lihat orang disiram adonan ultah dia terenyuh, hadeeeeuh. Aya – aya wae, cek urang Sunda mah, hihihi.
“Fit, ciyee senyum – senyum sendiri. Jadi bagaimana?” tanya pak Marwan.
“Saya belum tahu, pak. Mesti lapor ayah dan ibu. Terima kasih informasinya ya, bu, pak. Nomor telepon saya di keep dulu, jangan dikasihkan ke Ka’ Fikri, sampai saya bilang orang tua saya, oke, pak, bu?”
“Siapppp”, jawab mereka kompak.

***
Ku tatap sekilas wajah di hadapanku. Alis tebal, hidung yang proporsional, sepasang gingsul menambah indah senyum seraut wajah itu. Rahangnya yang kokoh, bahu dan lengannya, ah, tak mampu rasanya berlama –lama menatap, tertunduk malu juga akhirnya.
“Fitri …”
“Maaf, ka’ kita bukan mahrom jadi saya tidak bisa memenuhi ajakan kaka untuk ngobrol di café itu.”
“MasyaAllah, keshalihan kamu ini bikin aku makin cinta, eh maaf keceplosan.”
“Jika memang ada yang mau kaka bicarakan, silakan datang ke rumah, seperti janji kaka lima tahun lalu. Terima kasih, saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.”
“Apakah ini artinya iya?”
Ku jawab dengan tatapan dan senyum termanis yang ku punya.
“Alhamdulillah … yesss .. bilang orang tuamu ya, nanti malam aku akan datang bersama orang tuaku untuk melamarmu…”
Lelaki itu tak berhenti menyuarakan bahagianya, tak peduli tatapan orang yang lalu lalang. aku terus melangkah, sayup terdengar “Fitri…tunggu aku cinta” buat senyum enggan pergi dari bibirku. Alhamdulillah. *)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar