Cerita CINTA FITRI
Selalu menyenangkan hadir di acara
walimatul ursy teman atau kaka kelas, bisa sekalian reuni gratisan, hehehe.
Seperti hari ini, ada walimatul ursy kakak kelas zaman SMA di youth center
Jakarta Timur. Sayangnya, aku harus pergi sendiri karena suamiku masih dalam
angan, hahaha.
Angkot menjadi pilihan
transportasiku menuju lokasi. Baju pink andalan dan rok hitam kesayangan
menemani penampilanku. Tentu saja jilbab senada plus sepatu hitam casual,
seperti biasa. Tas kecil pengganti ransel melingkar di bahu siap membersamai
acara hari itu. Menghadiri akad buat aku mesti hadir sejak pagi, tentu saja
dengan catatan sedikit teman yang bisa aku jumpai karena kebanyakan mereka akan
datang mendekati jam makan siang.
Janur kuning melengkung indah
sedari gerbang tempat acara berlangsung. Hiasan bunga mempercantik suasana.
Acara baru saja dimulai saat aku tiba. Wajah sumringah tetamu tampak jelas
terpancar. Alhamdulillah akad berjalan lancar dan syahdu, banyak di antara
hadirin yang meneteskan air mata haru. Suasana berganti lebih cair saat seorang
ustadz menyampaikan khutbah nikah dengan ringan namun tetap sarat makna yang
dalam.
Usai memberi ucapan dan doa kepada
mempelai, tetamu dpersilakan mencicip hidangan yang disediakan. Begitupun aku.
Mencicip eh tepatnya memburu hidangan yang disediakan, hehehe. Plus haha hihi
dengan beberapa teman angkatan, adik dan kaka kelas yang hadir di situ.
Kemudian beranjak pulang. Di pintu keluar, samar terdengar ada suara
memanggilku.
“Fit … Fitri …!!!”
Aku menoleh
dan ku dapati seorang lelaki tengah berlari kecil menuju tempatku berdiri.
“Ka’ Fikri”, gumamku dalam hati. Segera ku putar
badan dan mempercepat langkah menuju gerbang untuk selanjutnya menaiki JPO.
Namun, mas Fikri yang atlet taekwondo itu lebih gesit. Dalam hitungan detik ia
bisa mensejajarkan langkahnya.
“Assalamu’alaikum
Fitri, masih ingat aku, kan?” sapanya dengan ramah mengiringi langkahku
melewati pagar utama gedung itu.
“Eh, iya Ka’. Wa’alaikum salam Warohmatullah…”
“Wah, lama tak jumpa, kamu tambah cantik ya. Anggun
sekali. Maaf, lama aku tidak menghubungimu. Rencana di Jepang untuk S2 ternyata
berlanjut hingga program S3, aku hilang kontakmu dan bersyukur hari ini bisa
bertemu di sini. Sungguh aku senang sekali. Bagaimana kalau kita mampir di café
sebrang jalan ini, banyak yang perlu dibicarakan…”
***
Masjid sekolah, 5 tahun silam
Siang
ini terasa penat sekali. Masjid menjadi pilihan terbaik untuk menenangkan hati
dan pikiran. Setelah berjibaku dengan tumpukan soal bertabur deretan angka dan
rumus. Belum lagi beberapa proposal kegiatan OSIS yang berlomba mengejar limit,
hufffft.
Lepas
sholat Zuhur, ku biarkan sahabat surgaku kembali ke kelas atau mangkal di
kantin berburu menu favorit, tinggalkanku tepekur sendiri. Setelah ku rasa
cukup beristirahat, segera ku bergegas mematut diri.
“Maaf, dik. Adik sekolah di sini, ya?” tanya seorang
ibu yang tiba-tiba duduk di hadapanku. Wajahnya ayu penuh wibawa, tersenyum
dengan lembut. Ku sisir wajahnya, mencoba mengingat apakah aku mengenalnya.
Memoriku mengonfirmasi bahwa sosok itu asing, baru saja hadir.
“Maaf,
dik. Adik sekolah di sini, ya?” tanyanya mengulang.
“Iya, bu…” jawabku seraya merapikan posisi duduk
setelah memasang kaos kaki andalan dan membalas senyumnya.
“Emm, maaf, dari tadi ibu perhatikan kamu.” ujarnya
hati – hati
Mendengar itu, aku bertanya dalam hati, ko’ bisa? ada
apa denganku ya?
“Adik mau tidak jadi menantu ibu?”
Hah?
What? Demi apa? Aku tidak menjawab, hanya termangu menatap wajah seseibu di
hadapanku.
“Maaf kalau mengejutkan kamu…” Mungkin ia merasa
bersalah dengan mimik bingung yang hadir di wajahku.
“Eh oh iya, bu, tidak apa – apa.
Ya,
Allah, apalagi ini. Baru saja sejenak ku lupakan deretan rumus dan angka itu
kini hadir yang lain lagi. Ya, ampun, am I that old? Apa ada stempel siap nikah
di jidatku ini. Oh no, Astaghfirullah. Baru pekan lalu dua guru kesayanganku
tetiba menceritakan padaku tentang sesosok alumni yang atlet taekwondo minta
dicarikan jodoh, katanya harus anak ROHIS. But why me? Aku kan cuma penggembira
aja di ROHIS, lagian aku juga masih sekolah, hellloooow dan sekarang, Ya,
Allah, ampun ini lebih berat dari menghafal rumus dan teori – teori, huhuhuhu.
“Dik
…”
Seseibu yang masih di hadapan itu menepuk bahuku,
membuyarkan monolog seru dalam pikiran.
“Eh iya, bu. Ah, Ibu mau minta saya jadi menantu ibu,
apa saya ga salah dengar nih, bu? Secara, saya kan masih sekolah, Bu… Baru
kelas sebelas. Masih panjang perjalanan, hehehe”, candaku mencoba mencairkan
suasana.
Seseibu itu tersenyum, “Ya enggak lah. Justru itu,
pas.”
Hmmmm,pas, maksudnya ?
“Pas sampai anak ibu selesai kuliah, dik. Saat ini
dia sudah berada di Jepang mau melanjutkan S2, katanya ada beberapa berkas yang
tertinggal di sekolah gitu. Anak ibu kan Pelatih ekskul taekwondo di sini,
Fikri namanya, kamu kenal?”
My God, O em ji … taekwondo lagi,
jangan – jangan ini orang yang sama yang di rekomendasikan guru kesayanganku.
“Hmmm, kayaknya ga kenal deh, bu … saya jarang main
ke ekskul lain soalnya, bu. Terpasung di OSIS dan ROHIS, hehehe. Saya emang
gitu orangnya, bu. Jarang main. Teman sekelas aja ga semua saya hafal nama
mereka …” hadeeeuh jadi curhat gaes.
Seseibu di hadapanku tertawa
renyah, memamerkan deretan gigi serinya yang putih bersih bak bintang iklan
pasta gigi yang berseliweran di TV ituh.
“Kamu lucu, nak. Tidak salah Fikri memilih kamu.”
Nah loh. Ini apaan sih, dengusku dalam hati.
Teeeeeeet
Alhamdulillah saved by the bell.
“Ini kartu nama ibu, ibu tunggu jawaban kamu, ya.
Kabari telepon atau alamat kamu supaya saya bisa berkunjung untuk silaturahim
dengan kedua orang tuamu, ya, terima kasih.”
“Eh, oh, i … iya bu, kembali kasih.” pasrah ku terima
begitu saja secarik kartu yang disodorkan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam.”
Berharap ini semua mimpi dan
segera terbangun darinya. Berkali ku pukul kecil juga mencubit pipi dan
tanganku. Ah, terasa sakit.Ternyata ini nyata, bukan mimpi. It’s real gaes.
Robbighfirlii.
“Kenapa Fit, banyak nyamuk ya? Ko’ mukanya ditepok
gitu?”, tanya Gisti yang sejak tadi memerhatikanku.
“Hehhehe” hanya ku jawab dengan cengir kuda lantas
berlalu menuju tempat duduk. Ku tarik nafas agar apa yang baru saja terjadi
bisa menyingkir sejenak dari neurit dan dendron yang akan ku pakai untuk mengorek
memori lama dan memasukkan informasi baru.
Ah,
siaaaal, Astaghfirullah. Otakku malah sibuk membahas seseibu yang misterius
itu. Ya, Allah, bantu hamba, bismillah.
Usai pelajaran segera ku buru Pak Marwan dan Bu Eli
untuk bertanya tentang atlet taekwondo (ehemmm) yang pernah mereka sampaikan.
Setelah sebelumnya aku minta izin pada sang ketua OSIS agar aku bisa izin tidak
ikut rapat sore itu. Dengan pasang wajah melas, akhirnya sang ketua meloloskan
permohonanku, horeeee, eh Alhamdulillah.
“Jadi, sudah mulai penasaran sama Fikri, ni?”
tanya Pak Marwan menggoda.
“Lah gimana ga penasaran, pak, bu … tadi ibunya
datang ke masjid, to the point minta saya jadi menantunya. Ajaib banget kan,
pak, bu? Entah ngimpi apa saya semalam.”
“Hahahaha” pak Marwan dan bu Eli tertawa nyaris
berbarengan.
Lalu
mengalirlah cerita tentang bagaimana sosok Fikri itu mengenal diriku.
Kejadiannya tiga bulan lalu, tepatnya saat jam ekskul usai. Seperti biasa,
sebagai wakil ketua OSIS, aku bertugas untuk memastikan ekskul yang ada
berjalan dengan baik sesuai rencana. Saat melintas di lapangan, tetiba aku
disiram air plus tepung plus telor busuk endebra. Belakangan terungkap (ciyeee)
kalau aku ini korban salah sasaran. Jadi ada anak kelas sepuluh yang juga
bernama Fitri hari itu sedang berulang tahun, nah, teman – temannya menyiapkan
surprise yang norak dan kudet menurutku. Dan yang parah, mereka kira Fitri yang
di maksud adalah aku, susah juga sih famous (ahahahaha). Dan, kun fa yakun
(upsss). Kamu tahulah gimana rasanya saat itu. Bau, kaget, kezel, dan masih
banyak lagi.
Ingin teriak memaki rasanya. Tapi
tertahan saat ingat kajian sehari sebelumnya di acara keputrian bersama kakak
ROHIS yang sholiha. Katanya, “Semua yang menimpa kita itu takdir Allah, semua
sempurna, tidak ada yang salah apalagi sia – sia.”
Sabaaaaaar ya, Allah. Saat wajah – wajah melas dari
kelas sepuluh, sebelas dan dua belas itu meminta maaf dan menawarkan baju ganti
juga jasa antar pulang ke rumah. Akhirnya Fitri yang sedang otw hijrah bisa
membalas mereka dengan seulas senyum yang indah di tengah tetesan air, tepung,
telur dan kawan – kawannya, membasahi mulai ujung jilbab hingga kaos kaki.
“Iya, qodarullah…” tetap senyum walau hati ini teriak
nyaring dan ingin segera mencakar aspal lapangan. Saat itu ka’ Fikri melihat
kejadian secara utuh dan dia merekam dalam ingatannya. Sejak saat itu dia rajin
mengumpulkan informasi tentangku termasuk stalking di akun media sosial yang ku
punya … owh.
“Jadi begitu ceritanya, Fit. Fikri
ini benar – benar tersentuh dengan kejadian itu dan bertekad untuk serius sama
kamu. Tapi dia tahu kalau kamu tidak mau pacaran, makanya minta tolong kami
sekaligus ibunya untuk menyampaikan maksudnya padamu.” terang bu Eli.
“Ooooooh, gitu ya.” jawabku penuh
wow. Dalam hati aku mendebat, ada ya orang kaya gitu. Aneh. Lihat orang disiram
adonan ultah dia terenyuh, hadeeeeuh. Aya – aya wae, cek urang Sunda mah,
hihihi.
“Fit, ciyee senyum – senyum sendiri. Jadi bagaimana?”
tanya pak Marwan.
“Saya belum tahu, pak. Mesti lapor ayah dan ibu.
Terima kasih informasinya ya, bu, pak. Nomor telepon saya di keep dulu, jangan
dikasihkan ke Ka’ Fikri, sampai saya bilang orang tua saya, oke, pak, bu?”
“Siapppp”, jawab mereka kompak.
***
Ku tatap sekilas wajah di
hadapanku. Alis tebal, hidung yang proporsional, sepasang gingsul menambah
indah senyum seraut wajah itu. Rahangnya yang kokoh, bahu dan lengannya, ah,
tak mampu rasanya berlama –lama menatap, tertunduk malu juga akhirnya.
“Fitri …”
“Maaf, ka’ kita bukan mahrom jadi saya tidak bisa
memenuhi ajakan kaka untuk ngobrol di café itu.”
“MasyaAllah, keshalihan kamu ini bikin aku makin
cinta, eh maaf keceplosan.”
“Jika memang ada yang mau kaka bicarakan, silakan
datang ke rumah, seperti janji kaka lima tahun lalu. Terima kasih, saya pamit
dulu. Assalamu’alaikum.”
“Apakah ini artinya iya?”
Ku jawab dengan tatapan dan senyum termanis yang ku
punya.
“Alhamdulillah … yesss .. bilang orang tuamu ya,
nanti malam aku akan datang bersama orang tuaku untuk melamarmu…”
Lelaki itu tak berhenti menyuarakan bahagianya, tak
peduli tatapan orang yang lalu lalang. aku terus melangkah, sayup terdengar “Fitri…tunggu
aku cinta” buat senyum enggan pergi dari bibirku. Alhamdulillah. *)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar