Istana Cinta Rahwana
Gerimis
di sore hari mengantarkan aroma khasnya. Bau tanah yang tertimpa butiran hujan
menyeruak berlomba memasuki rongga hidung. Suasana ini menghantarku pada memori
itu.
“Jadi kamu lupa bawa undangannya ?”, tanya mas Dani
padaku.
“Sepertinya tertinggal di teras tadi, mas.”, jawabku
cemas.
Sudah
hampir satu jam kami berkendara di jalur puncak yang tampak lengang. Sang surya tampak siap kembali
menuju singgasananya, ditingkahi rintik hujan yang gerimis. Sore itu ada
undangan rekan bisnis mas Dani. Sialnya, surat undangan yang merupakan satu –
satunya petunjuk jalan tertinggal entah di mana. Mas Dani mulai kesal dan
menyalahkanku setelah beberapa kali tidak berhasil menghubungi teman –
temannya.
“Kamu tahu ga Rahmi, kalau acara ini sangat penting
untuk bisnisku, heh?”, suaranya mulai meninggi. Hatiku menciut mendengarnya.
“Jadi istri ga becus. Disuruh bawa
kartu undangan aja ga bisa. Kamu benar – benar tidak berguna. Aku sudah sabar
denganmu Rahmi, meski hingga kini kamu belum juga memberiku keturunan, aku
masih memberimu kesempatan. Tiga tahun sudah aku bersabar Rahmi, tapi
sepertinya sekarang aku tidak bisa memafkan kesalahan kamu. Kalau sampai aku
tidak hadir di acara sore ini, bisnisku bisa terancam dan semua ini karena
kamu.” Mas Dani terus meracau sambil mencari jalan dan tetap berusaha
menghubungi teman – temannya.
Dalam hati aku berteriak memaki
diriku sendiri, sekaligus berharap semoga ada keajaiban, lokasi yang kami tuju
bisa ditemukan. Naas, harapan tak berujung nyata. Hingga adzan Maghrib bertalu,
kami masih menderu di jalan yang syahdu dalam belaian hujan.
Brakk.
Mas Dani memukul kemudi mobil, lalu menghempaskan
tubuhnya ke sandaran kursi. Kedua tangannya menggaruk rambut di kepalanya.
“Aarrgghh … Rahmi, kamu keluar sekarang. Cari jalan
sendiri untuk pulang. Bisa kacau aku melihatmu di situ, membisu, sama sekali
tak membantu.”
“Tap, Mas … ini sudah menjelang malam. A..Aku …”
pintaku penuh harap.
“Masa bodoh.” ia menatapku tanpa belas kasih.
“Aku bilang keluar ya keluar, ga usah batu. Apa mau
aku tabrakkan mobil ini?” suaranya kian liar dilengkapi dengan nafas yang
memburu. Aku paham kalau sudah begini tidak bisa dibantah meski dengan sedikt
penjelasan. Dengan sangat terpaksa dan perasaan terhina, aku putuskan keluar
dari mobil. Mas Dani acuh, ia hanya menatap lurus ke jalan, tanpa suara, tanpa
rasa khawatir padaku sedikitpun.
Mobilnya
melaju begitu saja sesaat setelah ku tutup pintunya. Ya, Allah aku merasa
sangat terhina saat itu. Air mata menganak sungai. Di jalan itu aku tergugu. Astaghfirullah,
hanya kata itu yang menguntai, menemani langkah kaki yang entah kemana akan ku
arahkan. Tertatih ku tuju masjid di sebrang jalan dengan baju yang mulai basah
oleh rintik hujan.
Ku
tumpahkan semua rasa dalam sujud panjang. Mengadukan semua yang ku rasa
padaNya. Larut dalam untaian doa dan air mata hingga adzan Isya menyadarkan
bahwa cukup lama sudah aku duduk menghiba tanpa menghiraukan jamaah yang mulai
berdatangan memenuhi masjid. Usai sholat, kepalaku terasa sangat berat. Perutku
yang sejak tadi belum diisi juga mulai bersenandung mencari perhatian. Segera
berbenah dan bersiap mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Di halaman masjid ada lumayan
banyak jenis makanan yang dijajakan. Hidungku terpikat pada aroma bubur kacang
hijau dan wedang jahe. Sejurus kemudian, aku sudah duduk di kedai menunggu
pesananku dihidangkan. Saat itulah aku baru sadar tentang keberadaan tas yang
biasanya terselempang di bahu.
Ya, Allah,di manakah tas itu? tanyaku dalam hati.
Tertinggal di masjidkah atau … Ya, Allah tas itu tidak terbawa, tertinggal di
mobil, Astaghfirullah. Bagaimana aku membayar pesananku? Tanganku sibuk
memeriksa saku – saku di baju dan berharap dapat menemukan beberapa lembar uang
untuk membayar bubur dan wedang jahe yang terlanjur ku pesan.
Nihil. Tidak ada selembar uangpun
terselip di saku. Jantungku berdegup tanpa irama. Kepala yang sedari tadi terasa
berat kian bertambah gelap. Nafasku juga mulai tersengal, pengap seperti berada
di lorong sempit nan gelap. Aah.
***
“Rahmi, oh syukurlah kamu sudah
siuman.”
Samar terdengar suara yang pernah ku kenal, tapi
rasanya tidak mungkin. Perlahan ku buka mata untuk memastikan. Tampak di
hadapan, seraut wajah dengan senyum yang indah. Wajah yang akrab dan senyum
yang selalu hangat.
“Ka’ Yuwana…”, sapaku lemah.
“Alhamdulillah kamu masih ingat sama saya. Berbaring
saja tidak usah bangun, tubuhmu masih lemah.”
Mataku menyapu sekeliling. Rupanya aku di ruang rawat
sebuah klinik. Jarum infus terpasang di tangan kananku.
“Aku kenapa, ka’?”
“Kata dokter kamu kelelahan, kedinginan juga.”,
jawabnya singkat, masih dengan senyum yang indah.
“Ko’ bisa sampai sini, sama kaka pula?”
Lelaki yang namanya tersimpan rapi
di sudut hati itu meletakkan jarinya di bibir, sebagai tanda bahwa aku tidak
usah banyak tanya dan berfikir.
“Istirahat saja dulu, nanti saya ceritakan semuanya.”
Setelah aku berkeras, akhirnya dia
bercerita juga. Malam itu Ka’ Yuwana baru saja mengantarkan adiknya ke satu villa
di Cipanas. Usai sholat Isya di masjid tempat aku sholat, ia melihat kerumunan
orang di halaman masjid, tepatnya di kedai wedang jahe. Ia mendapati aku tak
sadarkan diri tanpa selembar identitas. Untung saja ka’ Yuwana berhasil
meyakinkan orang – orang itu bahwa ia mengenalku dan segera melarikan aku ke
klinik terdekat.
“Jadi kaka masih menyimpan foto kita berdua?”,
tanyaku tentang bagaimana cara ia meyakinkan orang – orang bahwa ia mengenalku.
“Masih, dan tidak akan penah ku hapus, Rahmi.”
jawabnya lembut bertabur keseriusan yang mantap. Mata kami bertemu beberapa
waktu. Ya, Allah masih ku lihat cinta di sana, adakah ia masih milikku?
Astaghfirullah. Segera ku tundukkan pandangan.
“Jadi, aku minta maaf padamu kalau
aku mengatakan pada orang – orang di kedai juga paramedis di klinik ini kalau
aku… kalau aku adalah suamimu. Maafkan aku.”
Tertegun mendengar penjelasannya. andaikan itu nyata.
Ah, Ka’ Yuwana kamu baru saja mengembalikan rasa dicintai dalam hatiku.
“Mi, kamu ga marah, kan?” tangannya berusaha meraih
wajahku yang tertunduk.
“Maaf, kak, aku sudah menikah.”, berusaha menghindar
namun terlambat, Jemari lembutnya mendarat di dagu dan pipiku, lembut.
“Saya tahu dari cincin di jarimu, karenanya saya
meminta maaf padamu.”
Malam itu aku dijaga penuh oleh ka’
Yu. Ia rela menahan kantuk demi memastikan aku beristirahat dengan cukup seperti
petunjuk dokter. Pagi harinya dokter memeriksa keadaanku.
“Alhamdulillah, pak. Istri bapak sudah pulih, jadi bisa
pulang. Saya sudah resepkan obat untuk istri bapak. Tolong dijaga betul jangan
sampai letih atau stress, bisa mengganggu kehamilannya.”
“Maksud dokter …”, ka’ Yuwana memastikan
“Apa dok, sa..saya hamil, dok?” tanyaku tak percaya
“Iya Bu, positif jalan 4 minggu. Selamat ya, pak.
Semua obat dan vitamin sudah saya minta suster untuk menyiapkan. Saya pamit
dulu, selamat sekali lagi…”
Ka’ Yuwana termangu. Aku larut
dalam sujud penuh kesyukuran.
“Mi, Rahmi …” serunya seraya menepuk bahuku.
“Ayo, saya antar kamu pulang.” ia melanjutkan.
Aku
hanya menuruti perintah ka’ Yuwana untuk berganti pakaian dengan yang baru saja
ia belikan. Bergegas mengikutinya masuk ke dalam mobil berwarna biru. Ya,
Tuhan, bahkan mobilnya adalah warna kesukaanku.
“Kenapa diam ? Ayo masuk.”
Setelah membalas senyumnya aku masuk ke dalam mobil
sepertia yang ia minta.
“Saya sengaja warna kesukaanmu saat beli mobil ini,
ga papa kan?” ka Yuwana mengawali pembicaraan.
“Iya, ka, ga papa.”
Selama perjalanan aku ceritakan
semua tentang pernikahanku dengan mas Dani. Bahwa ayah tidak setuju aku
menunggu ka’ Yuwana yang menghilang tanpa kabar, saat itu datang mas Dani
melamar dengan segenap kemewahan yang menyilaukan mata. Mereka mengabaikan
perasaanku, sama sekali tidak mendengar pendapatku. Sampai di situ aku masih bisa
mengendalikan diri. Namun saat menceritakan kenapa sampai aku seorang diri
tanpa identitas di belantara Puncak pas, pertahanan diriku jebol. Tak kuasa
lagi membendung air mata yang sudah mendorong ke sekian kalinya.
“Maafkan saya Rahmi”, ucapnya lirih. “Saya masih menyimpan
rapi cinta Rahwana. Karena kamu, tidak tergantikan.” lanjutnya.
Mataku
menyapu dashboard, ada sebingkai foto ka’ Yuwana dan aku bertuliskan Rahwana.
“Kamu masih ingat foto itu Rahmi ?”, tanya ka’ Yuwana
saat ia tahu aku sedang memerhatikan foto di dashboard. Aku mengangguk. Foto
yang diambil selepas wisuda Ka’ Yuwana. Kali terakhir kami bersama sebelum ia
menghilang dalam senyap, hanya sebuah pesan “saya akan melanjutkan S2 di
Singapur, kamu tunggu sampai saya kembali.” Oh iya, Rahwana adalah singkatan
Rahmi Yuwana.
“Well,
ingin rasanya saya jadi Rahwana dalam cerita Rama-Shinta. Saya adalah Rahwana
yang akan membahagiakan Shinta, membahagiakan kamu Rahmi.”
“Tidak mungkin, Ka’”
“Dalam statistika selalu ada kemungkinan, Rahmi. Dan saya
akan memperbesar kemungkinan itu.”, ucapnya meyakinkan.
“Saya antar kamu ke rumah suamimu, kalau dia bisa
memerlakukan istrinya dengan baik, maka saya akan merelakanmu. Tapi jika ia
masih merendahkan dan menghinamu, saya yang akan membawamu pulang.”
“Jangan ka’ bisa panjang urusannya.”
Sepertinya
tekadnya sudah bulat. Laju ia larikan mobil biru menuju rumah mas Dani,
suamiku.
“Ka’ aku takut untuk pulang, setidaknya biarkan aku
menelpon dulu supaya tahu bagaimana reaksi mas Dani.” Ia mengangguk dan menepi di
sebuah rumah makan untuk istiraha sekaligus menelpon mas Dani.
“Ini, pakai ponsel saya”, serunya seraya menyerahkan
sebuah ponsel.
Tuuuuut.
Halo… suara
mas Dani terdengar diujung telepon.
Assalamu’alaikum,Mas.
Ini Rahmi. Mas,a…
Buat apa kamu
telepon aku? Aku sudah tidak bisa bersabar denganmu lagi, Rahmi. Kamu pulang
saja ke keluargamu, secepatnya aku urus perceraian kita. Gegara kamu bisnisku
berantakan.
Tapi, Mas …
Tidak ada tapi,
aku sudah bulat. Aku cerai kamu. AKu cerai. Cerai
Mas, dengar aku
dulu …
Tuuuuuut
Mas…Mas
Dani,,huhuuhu, jahat kamu, Mas. Tega
sekali kamu, teriakku dalam hati.
“Kasihan kamu, nak … bahkan ayahmu tidak tahu bahwa
ada sosok mungil di sini”, rengekku seraya mengusap lembut janin dalam perut.
Aku terus meracau hingga hilang kesadaran.
Ka’
Yuwana tepat menangkap tubuhku yang rasanya tidak menjejak lagi di bumi.
“Ya, allah, Rahmi … istighfar Rahmi..istighfar.”
***
Dan
aku masih di sini, berteman gerimis di sore hari juga memori satu tahun yang
lalu. Memori yang pahit karena aku harus kehilangan janin yang baru saja
hadir dalam rahim setelah tiga tahun menanti. Ya, aku masih di sini, di istana cinta Rahwana. Semoga kekal,
untuk selamanya. *)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar