Jumat, 08 November 2019

Istana Cinta Rahwana
                Gerimis di sore hari mengantarkan aroma khasnya. Bau tanah yang tertimpa butiran hujan menyeruak berlomba memasuki rongga hidung. Suasana ini menghantarku pada memori itu.
“Jadi kamu lupa bawa undangannya ?”, tanya mas Dani padaku.
“Sepertinya tertinggal di teras tadi, mas.”, jawabku cemas.
                Sudah hampir satu jam kami berkendara di jalur puncak yang tampak  lengang. Sang surya tampak siap kembali menuju singgasananya, ditingkahi rintik hujan yang gerimis. Sore itu ada undangan rekan bisnis mas Dani. Sialnya, surat undangan yang merupakan satu – satunya petunjuk jalan tertinggal entah di mana. Mas Dani mulai kesal dan menyalahkanku setelah beberapa kali tidak berhasil menghubungi teman – temannya.
“Kamu tahu ga Rahmi, kalau acara ini sangat penting untuk bisnisku, heh?”, suaranya mulai meninggi. Hatiku menciut mendengarnya.
“Jadi istri ga becus. Disuruh bawa kartu undangan aja ga bisa. Kamu benar – benar tidak berguna. Aku sudah sabar denganmu Rahmi, meski hingga kini kamu belum juga memberiku keturunan, aku masih memberimu kesempatan. Tiga tahun sudah aku bersabar Rahmi, tapi sepertinya sekarang aku tidak bisa memafkan kesalahan kamu. Kalau sampai aku tidak hadir di acara sore ini, bisnisku bisa terancam dan semua ini karena kamu.” Mas Dani terus meracau sambil mencari jalan dan tetap berusaha menghubungi teman – temannya.
Dalam hati aku berteriak memaki diriku sendiri, sekaligus berharap semoga ada keajaiban, lokasi yang kami tuju bisa ditemukan. Naas, harapan tak berujung nyata. Hingga adzan Maghrib bertalu, kami masih menderu di jalan yang syahdu dalam belaian hujan.
Brakk.
Mas Dani memukul kemudi mobil, lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Kedua tangannya menggaruk rambut di kepalanya.
“Aarrgghh … Rahmi, kamu keluar sekarang. Cari jalan sendiri untuk pulang. Bisa kacau aku melihatmu di situ, membisu, sama sekali tak membantu.”
“Tap, Mas … ini sudah menjelang malam. A..Aku …” pintaku penuh harap.
“Masa bodoh.” ia menatapku tanpa belas kasih.
“Aku bilang keluar ya keluar, ga usah batu. Apa mau aku tabrakkan mobil ini?” suaranya kian liar dilengkapi dengan nafas yang memburu. Aku paham kalau sudah begini tidak bisa dibantah meski dengan sedikt penjelasan. Dengan sangat terpaksa dan perasaan terhina, aku putuskan keluar dari mobil. Mas Dani acuh, ia hanya menatap lurus ke jalan, tanpa suara, tanpa rasa khawatir padaku sedikitpun.
                Mobilnya melaju begitu saja sesaat setelah ku tutup pintunya. Ya, Allah aku merasa sangat terhina saat itu. Air mata menganak sungai. Di jalan itu aku tergugu. Astaghfirullah, hanya kata itu yang menguntai, menemani langkah kaki yang entah kemana akan ku arahkan. Tertatih ku tuju masjid di sebrang jalan dengan baju yang mulai basah oleh rintik hujan.
                Ku tumpahkan semua rasa dalam sujud panjang. Mengadukan semua yang ku rasa padaNya. Larut dalam untaian doa dan air mata hingga adzan Isya menyadarkan bahwa cukup lama sudah aku duduk menghiba tanpa menghiraukan jamaah yang mulai berdatangan memenuhi masjid. Usai sholat, kepalaku terasa sangat berat. Perutku yang sejak tadi belum diisi juga mulai bersenandung mencari perhatian. Segera berbenah dan bersiap mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Di halaman masjid ada lumayan banyak jenis makanan yang dijajakan. Hidungku terpikat pada aroma bubur kacang hijau dan wedang jahe. Sejurus kemudian, aku sudah duduk di kedai menunggu pesananku dihidangkan. Saat itulah aku baru sadar tentang keberadaan tas yang biasanya terselempang di bahu.
Ya, Allah,di manakah tas itu? tanyaku dalam hati. Tertinggal di masjidkah atau … Ya, Allah tas itu tidak terbawa, tertinggal di mobil, Astaghfirullah. Bagaimana aku membayar pesananku? Tanganku sibuk memeriksa saku – saku di baju dan berharap dapat menemukan beberapa lembar uang untuk membayar bubur dan wedang jahe yang terlanjur ku pesan.
Nihil. Tidak ada selembar uangpun terselip di saku. Jantungku berdegup tanpa irama. Kepala yang sedari tadi terasa berat kian bertambah gelap. Nafasku juga mulai tersengal, pengap seperti berada di lorong sempit nan gelap. Aah.
***
“Rahmi, oh syukurlah kamu sudah siuman.”
Samar terdengar suara yang pernah ku kenal, tapi rasanya tidak mungkin. Perlahan ku buka mata untuk memastikan. Tampak di hadapan, seraut wajah dengan senyum yang indah. Wajah yang akrab dan senyum yang selalu hangat.
“Ka’ Yuwana…”, sapaku lemah.
“Alhamdulillah kamu masih ingat sama saya. Berbaring saja tidak usah bangun, tubuhmu masih lemah.”
Mataku menyapu sekeliling. Rupanya aku di ruang rawat sebuah klinik. Jarum infus terpasang di tangan kananku.
“Aku kenapa, ka’?”
“Kata dokter kamu kelelahan, kedinginan juga.”, jawabnya singkat, masih dengan senyum yang indah.
“Ko’ bisa sampai sini, sama kaka pula?”
Lelaki yang namanya tersimpan rapi di sudut hati itu meletakkan jarinya di bibir, sebagai tanda bahwa aku tidak usah banyak tanya dan berfikir.
“Istirahat saja dulu, nanti saya ceritakan semuanya.”
Setelah aku berkeras, akhirnya dia bercerita juga. Malam itu Ka’ Yuwana baru saja mengantarkan adiknya ke satu villa di Cipanas. Usai sholat Isya di masjid tempat aku sholat, ia melihat kerumunan orang di halaman masjid, tepatnya di kedai wedang jahe. Ia mendapati aku tak sadarkan diri tanpa selembar identitas. Untung saja ka’ Yuwana berhasil meyakinkan orang – orang itu bahwa ia mengenalku dan segera melarikan aku ke klinik terdekat.
“Jadi kaka masih menyimpan foto kita berdua?”, tanyaku tentang bagaimana cara ia meyakinkan orang – orang bahwa ia mengenalku.
“Masih, dan tidak akan penah ku hapus, Rahmi.” jawabnya lembut bertabur keseriusan yang mantap. Mata kami bertemu beberapa waktu. Ya, Allah masih ku lihat cinta di sana, adakah ia masih milikku? Astaghfirullah. Segera ku tundukkan pandangan.
“Jadi, aku minta maaf padamu kalau aku mengatakan pada orang – orang di kedai juga paramedis di klinik ini kalau aku… kalau aku adalah suamimu. Maafkan aku.”
Tertegun mendengar penjelasannya. andaikan itu nyata. Ah, Ka’ Yuwana kamu baru saja mengembalikan rasa dicintai dalam hatiku.
“Mi, kamu ga marah, kan?” tangannya berusaha meraih wajahku yang tertunduk.
“Maaf, kak, aku sudah menikah.”, berusaha menghindar namun terlambat, Jemari lembutnya mendarat di dagu dan pipiku, lembut.
“Saya tahu dari cincin di jarimu, karenanya saya meminta maaf padamu.”
Malam itu aku dijaga penuh oleh ka’ Yu. Ia rela menahan kantuk demi memastikan aku beristirahat dengan cukup seperti petunjuk dokter. Pagi harinya dokter memeriksa keadaanku.
“Alhamdulillah, pak. Istri bapak sudah pulih, jadi bisa pulang. Saya sudah resepkan obat untuk istri bapak. Tolong dijaga betul jangan sampai letih atau stress, bisa mengganggu kehamilannya.”
“Maksud dokter …”, ka’ Yuwana memastikan
“Apa dok, sa..saya hamil, dok?” tanyaku tak percaya
“Iya Bu, positif jalan 4 minggu. Selamat ya, pak. Semua obat dan vitamin sudah saya minta suster untuk menyiapkan. Saya pamit dulu, selamat sekali lagi…”
Ka’ Yuwana termangu. Aku larut dalam sujud penuh kesyukuran.
“Mi, Rahmi …” serunya seraya menepuk bahuku.
“Ayo, saya antar kamu pulang.” ia melanjutkan.
                Aku hanya menuruti perintah ka’ Yuwana untuk berganti pakaian dengan yang baru saja ia belikan. Bergegas mengikutinya masuk ke dalam mobil berwarna biru. Ya, Tuhan, bahkan mobilnya adalah warna kesukaanku.
“Kenapa diam ? Ayo masuk.”
Setelah membalas senyumnya aku masuk ke dalam mobil sepertia yang ia minta.
“Saya sengaja warna kesukaanmu saat beli mobil ini, ga papa kan?” ka Yuwana mengawali pembicaraan.
“Iya, ka, ga papa.”
                Selama perjalanan aku ceritakan semua tentang pernikahanku dengan mas Dani. Bahwa ayah tidak setuju aku menunggu ka’ Yuwana yang menghilang tanpa kabar, saat itu datang mas Dani melamar dengan segenap kemewahan yang menyilaukan mata. Mereka mengabaikan perasaanku, sama sekali tidak mendengar pendapatku. Sampai di situ aku masih bisa mengendalikan diri. Namun saat menceritakan kenapa sampai aku seorang diri tanpa identitas di belantara Puncak pas, pertahanan diriku jebol. Tak kuasa lagi membendung air mata yang sudah mendorong ke sekian kalinya.
“Maafkan saya Rahmi”, ucapnya lirih. “Saya masih menyimpan rapi cinta Rahwana. Karena kamu, tidak tergantikan.” lanjutnya.
                Mataku menyapu dashboard, ada sebingkai foto ka’ Yuwana dan aku bertuliskan Rahwana.
“Kamu masih ingat foto itu Rahmi ?”, tanya ka’ Yuwana saat ia tahu aku sedang memerhatikan foto di dashboard. Aku mengangguk. Foto yang diambil selepas wisuda Ka’ Yuwana. Kali terakhir kami bersama sebelum ia menghilang dalam senyap, hanya sebuah pesan “saya akan melanjutkan S2 di Singapur, kamu tunggu sampai saya kembali.” Oh iya, Rahwana adalah singkatan Rahmi Yuwana.
                “Well, ingin rasanya saya jadi Rahwana dalam cerita Rama-Shinta. Saya adalah Rahwana yang akan membahagiakan Shinta, membahagiakan kamu Rahmi.”
“Tidak mungkin, Ka’”
“Dalam statistika selalu ada kemungkinan, Rahmi. Dan saya akan memperbesar kemungkinan itu.”, ucapnya meyakinkan.
“Saya antar kamu ke rumah suamimu, kalau dia bisa memerlakukan istrinya dengan baik, maka saya akan merelakanmu. Tapi jika ia masih merendahkan dan menghinamu, saya yang akan membawamu pulang.”
“Jangan ka’ bisa panjang urusannya.”
                Sepertinya tekadnya sudah bulat. Laju ia larikan mobil biru menuju rumah mas Dani, suamiku.
“Ka’ aku takut untuk pulang, setidaknya biarkan aku menelpon dulu supaya tahu bagaimana reaksi mas Dani.” Ia mengangguk dan menepi di sebuah rumah makan untuk istiraha sekaligus menelpon mas Dani.
“Ini, pakai ponsel saya”, serunya seraya menyerahkan sebuah ponsel.
Tuuuuut.
Halo… suara mas Dani terdengar diujung telepon.
Assalamu’alaikum,Mas. Ini Rahmi. Mas,a
Buat apa kamu telepon aku? Aku sudah tidak bisa bersabar denganmu lagi, Rahmi. Kamu pulang saja ke keluargamu, secepatnya aku urus perceraian kita. Gegara kamu bisnisku berantakan.
Tapi, Mas …
Tidak ada tapi, aku sudah bulat. Aku cerai kamu. AKu cerai. Cerai
Mas, dengar aku dulu  …
Tuuuuuut
Mas…Mas Dani,,huhuuhu, jahat kamu, Mas. Tega sekali kamu, teriakku dalam hati.
“Kasihan kamu, nak … bahkan ayahmu tidak tahu bahwa ada sosok mungil di sini”, rengekku seraya mengusap lembut janin dalam perut. Aku terus meracau hingga hilang kesadaran.
                Ka’ Yuwana tepat menangkap tubuhku yang rasanya tidak menjejak lagi di bumi.
“Ya, allah, Rahmi … istighfar Rahmi..istighfar.”

***

                Dan aku masih di sini, berteman gerimis di sore hari juga memori satu tahun yang lalu. Memori yang pahit karena aku harus kehilangan janin yang baru saja hadir dalam rahim setelah tiga tahun menanti. Ya, aku masih di sini, di istana cinta Rahwana. Semoga kekal, untuk selamanya. *) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar