Selasa, 17 November 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Kamu pilih kampus mana ?

 

                Kedatangan Nyonya Wiguna yang adalah mamanya Rio membuat kehidupan Ama berubah. Kedatangan tamu yang tak diduga itu berlanjut dengan kesepakatan antara Rio dengan Ama bahwa Ama akan mengikuti permainan selama membawa pengaruh positif terhadap kesehatan nyonya Wiguna. Permaia selesai jika dokter menyatakan nyonya Wiguna sembuh dari sakitnya.

“Ama, terima kasih kamu mau mengikuti mama untuk menerima cincin dariku.”

“Iya, ka. Semoga dengan ini mama akan jadi bahagia dan kesehatannya bisa pulih kembali. Jadi aku bisa bebas dari semua ini.”

“Maafkan saya telah melibatkan kamu dalam masalah saya.”

“Iya, ka. Tolong penuhi janji kakak untuk tidak masuk dalam kehidupan saya setahun ke depan, karena saya ingin fokus belajar. Kelas 3 ka, waktunya ujian dan menentukan studi selanjutnya.”

“Iya, mama juga sudah tenang setelah cincin yang sengaja ia desain dan dipesan khusus untuk Ama, telah melingkar indah di jarimu. Insya Allah kaka juga akan bertolak ke Bandung satu sampai dua tahun ke depan. Kita saling mendoakan ya, semoga sukses studi kita semuanya.”

“Aamiin. Aku juga doakan semoga ka Rio mendapat kekasih eh calon istri beneran yang sesuai keinginan ka Rio, bukan atas desakan mama.”

Aku ga perlu lagi Ama, kan sudah ada kamu. Kamu ga ngerti ya, kalau aku ini beneran suka sama kamu dan serius ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidup. Semoga cincin itu tetap melingkar di jarimu hingga engkau tahu tentang semua rasaku.

“Ka, halo ?”

“Eh, iya. kalau soal itu ga usah risau. Pilihan mama pasti baik untuk saya. Jadi doanya semoga kita beneran bisa disatukan dalam janji suci suatu hari nanti.”

“Ka’ kita kan sudah pernah bahas hal ini ?”

“Iya saya tahu. Dan endingnya kamu mau menerima cincin itu setelah sholat istikhoroh kan ? Ama, saya memang tidak sholih seperti teman – teman ikhwanmu di ROHIS. Saya jauhlah kalau dibandingkan sama Ahmad, Arif, Is...”

“Cukup, kak. Kita kan sudah sepakat untuk fokus pada kesembuhan mama. Jadi ga usah melebar kemana – mana.”

“Tapi Ama, kamu kan pernah bilang untuk tidak berpacaran, bahwa kamu hanya akan menerima laki – laki yang serius mengajakmu menikah. Dan itu yang telah saya lakukan.”

“Iya tapi ga jual nama mama segala kali, ka.. udah deh, kita tetap pada kesepakatan awal atau kita batalkan saja semuanya.”

“Oh, tidak, jangan Ama ... saya mohon maaf kalau terlalu memaksa. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,”

‘Sama – sama. Ingat ya, kak perjajian kita. Permainan selesai jika dalam setahun ke depan tidak ada hal yang mengganggu kesehatan mama.”

“Oke”

“Assalamu’alaikum”

“Assalamu’alaikum Ama, selamat belajar ya, sukses buatmu. Salam buat ibu.”

Tuuuuut.    

                Usai meletakkan gaganng telepon, Ama segera berlalu menuju kamarya. Di raihnya buku diari yang setia merekam segala cerita dan keluh kesah diri.

Dear diary,

Aku tuh ga nyangka banget bisa terjebak dalam situasi kaya gini. Benarkah apa yang sudah aku lakukan ? Aku ga mau membohongi mama, tapi aku juga ga tega kalau harus menolak permintaannya. Melihat binar di matanya, ah rasanya kejam sekali kalau aku harus menghadirkan kabut di mata renta itu. Kenapa harus aku ?

Ka Rio, kenapa kamu harus menaruh rasa padaku ? Kenapa kau seberani itu ? Kenapa aku tidak menerima ka Rio, Di ? Tell me why ? Bukankah apa yang ka Rio lakukan ga ada yang melanggar prinsipku selama ini ya ? Apakah hati ini sudah terlanjur terisi dan mengharap yang lain ?

Kenapa bukan ka Rio ? Karena dia bukan anak ROHIS ? Bukankah dia sudah mulai rajin ikut halaqah ? Untuk mengimbangi diriku, begitu katanya. Bahkan terakhir aku mulai lihat ada jenggot yang mulai tumbuh di dagunya, menggantikan kumis yang biasanya menghias bibirnya.

Tidakkah hatiku bisa menerima kesungguhan yang ditunjukkan ka Rio ?

Duhai hati, apakah sudah ada yang mengisi setiap sudutmu ? Kamu tahu, Di ? Tiba – tiba aku merasa ga enak sama Ahmad. Melihat kebaikan dan ketulusannya selama ini, aku pernah berjanji untuk menjaga hati ini untuknya, menutup rapat, tidak mengizinkan siapapun untuk masuk hingga Ahmad siap menjadikanku sebagai pendampingnya. Apakah karena itu aku ga bisa menerima kehadiran ka Rio ?

Tapi kenapa saat Arif menyatakan bahwa usai memantaskan diri, pada saatnya nanti, ia akan memintaku untuk menjadi pendampingnya, seperti ada bunga bermekaran di taman hatiku ? Apakah kebersamaanku dengannya mengubah janjiku untuk Ahmad ? Astaghfirullah.

                Oh iya kemarin waktu ngobrol di kelas, Ahmad nanya aku mau pilih kampus mana. Jujur, aku belum punya pilihan. Ibu tidak mengizinkan aku kuliah di luar Jakarta, jadi terbatas sekali pilihannya. Padahal rasanya mau juga ngerasain jadi anak kos.

Teman – teman semua sepertinya sudah punya jurusan yang akan dituju, aku aja yang masih belum jelas. Entah, rasanya sekarang jadi malas untuk memikirkan kuliah, rasanya ingin istirahat saja. Berharap setahun cepat berlalu, kondisi mama baik dan sehat lalu aku bisa meraih kebebasanku lagi, hehehe.

                Ah, sudahlah yang penting berusaha lulus dengan baik dulu. Sudah ada teguran dari wali kelas tentang nilai beberapa mata pelajaran yang sempat turun. Bersyukur amanah di OSIS tinggal beberapa pekan lagi. Lepas LPJ dan serah terima plus pelantikan pengurus baru, selesai sudah semuanya. Selesai ? wah, ga bisa sering – sering ngobrol sama ketua lagi dong. Aduh, ko tiba – tiba jadi merasa kehilangan.

Astaghfirullah. Amaaaaaaaa... jaga hati. Istighfar  

 

Ada puisi nih, simak ya.

SIKSA KARUNIA

 

Tuhanku,

Dalam hening malam aku menghadapMU

Sendu, sunyi sahdu

 

Tuhanku, ada rasa terselip dalam dada

Begitu saja tanpa suara

Rasa yang menggelora namun membekukan jiwa

 

Tuhan, jika rasa ini adalah karunia

Mengapa lebih terasa sebagai siksa

Atau memang apa yang terasa

Bukanlah karunia ?

 

Dah ya, Di ... lanjut ngerjain PR. Thanks and see you.

 

 

Senin, 16 November 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama (3)

 

                Setelah melalui hari yang lumayan melelahkan, akhirnya Ama bisa kembali pulang ke rumah yang menjanjikan kenyamanan. Bayangan untuk segera beristirahat dan bermanja bersama ibunya sudah berlarian dalam pikirnya, membuat ia mempercepat langkah menuju rumah.

“Assalamu’alaikum.” Sesampainya di teras rumah, Ama langsung mengucapkan salam.

“Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh. Nah ini yang ditunggu sudah pulang.” Jawab ibu yang langsung menyambutnya di pintu. Ama yang tengah melepas sepatu tampak heran dengan ucapan ibunya.

“Yang ditunggu ? Siapa, bu ?”

“Udah ayo sini masuk.” Ibu segera menarik tangan Ama untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan tanya dalam diri Ama.

                Keanehan sikap ibu terjawab saat Ama masuk ke dalam rumah. Tampak duduk di ruang tamu ka Rio bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak lain adalah mamanya ka Rio. Dengan canggung Ama mencium punggung tangan perempuan paruh baya di hadapannya, seperti komando ibunya.

“Ama, bu.” Sapanya berusaha mengusir rasa canggung.

Tak disangka, perempuan paruh baya itu meraih kepala Ama dengan kedua tangannya lalu mengecup dahi Ama, membuat Ama semakin salah tingkah. Perempuan paruh baya masih meraih pipi Ama, membuat pandangan mereka bertemu. Tidak ada pilihan bagi Ama kecuali berusaha menghadirkan senyum di bibirnya.

“Cantik ... Rio pandai cari calon istri.” Ucapnya seraya mengelus pipi Ama dengan kedua ibu jari.

What ? Ya Allah, apa ini ? Rio ? Calon istri ? Apakah ini mamanya ka Rio ? Tapi bukankah sedang dirawat, kenapa bisa sampai sini ? Astaghfirullah. Ama.

“Udah, mah ... kasihan Ama jadi bingung.” Ucap ka Rio lembut seraya menarik tangan mamanya yang masih menempel di pipi Ama.

“Oh iya, sampai lupa, maaf Ama, kamu pasti jadi bingung.”

“Iya, ga papa bu. Saya ga enak aja baru pulang sekolah, masih bau keringat, maaf ya.”

Semua yang berada di ruang tamu tertawa ringan, Ama segera duduk di samping ibunya.

                “Saya minta maaf sama Ama karena tanpa konfirmasi langsung datang ke sini.” Ka Rio memulai pembicaraan.

“Jadi semalam, setelah saya perlihatkan foto Ama, sekali lagi saya mohon maaf karena tidak izin mengambil gambar kamu, kondisi mama berangsur membaik sampai akhirnya dokter mengizinkan mama untuk rawat jalan. Dan siang tadi diperbolehkan pulang. Ini kami langsung ke sini dari rumah sakit, mama yang minta.”

Aduh ya Allah ... Ama harus jawab apa ??? Huhuhu mau nangis rasanya ini. Ayolah bu, jangan senyam – senyum ajah.

“Iya, mama minta maaf ya sama mama juga ibu karena mendadak datangnya. Mama Cuma ingin memastikan kalau Rio itu beneran sudah punya calon. Kalau sudah tahu kan enak, betul, bu ?”

“Eh iya, iya, bu ...” ibu menjawab seraya melirik ke arah Ama yang sedang sibuk mengukur lantai.

“Berhubung Ama masih sekolah, Rio juga masih harus menyelesaikan S2, bagaimana kalau kalian tunangan saja dulu ?”

Whaaaaat ???? Demi apa? Astaghfirullah. Aku harus jawab apa ? Jawab iya untuk membuatnya senang dan mengabaikan perasaanku atau jawab tidak untuk memenangkan diriku dan membuatnya sakit lagi ? Ya, Allah ... Astaghfirullah. Teman-temanku, help me. Pupu, Nunun, Zulfa, Ahmad, Amal, Arif ... aku masih mau main, mengejar cita – cita, belum mau terjebak dalam ikatan suci. Ya Allah ampuni Ama, bantu Ama, huhuhuhuhu.

                Melihat Ama kian tertunduk, ibu paham bahwa putrinya sedang dilanda kegalauan.

“Hmmm, mohon maaf sebelumnya, soal tunangan apa tidak terburu – buru ya, bu ? Bagaimana kalau kita serahkan pada anak – anak setelah mereka melakukan sholat istikhoroh, bu ?”

“Ya nggak terburu – buru, bu. Kecuali kalau saya minta mereka menikah sekarang itu baru terburu – buru, iya kan ?”

Ama tersenyum miris mendengar pernyataan calon mertuanya, ingin rasanya ia teriak tapi tak mampu melukai perempuan paruh baya yang sedang tampak bahagia itu. Diliriknya Rio yang tengah menatapnya. Dikirimnya padandangan tajam yang menusuk bersama sebuah pesan ‘how could you’.

                Mengerti dengan tatapan Ama, Rio segera mengendalikan suasana dan membujuk mamanya.

“Ma, kan tadi mama dah janji hanya mau ketemu dengan Ama, ga lebih. Jangan memaksa Ama ya, ma... nanti kalau dia ngambek terus ga mau lagi sama Rio gimana ? Mama juga yang akan menyesal nanti. Ya udah, Ma ... karena sudah sore, Ama juga baru pulang dan perlu istirahat, kita pulang ya. Mama juga kan masih harus banyak istirahat kata dokter.”

“Oh iya iya ... mama kelewat senang soalnya, Rio. Mama suka sekali lihat Ama. Kamu sih diam – diam aja, ga pernah kenalin Ama.”

“Iya, ma ... maafkan Rio. Kita pulang ya.”

 

***

                “Ciyeeeee yang baru disambangi calon mama mertua.”

“Diem ah...” Ama segera meninggalkan kakak kesayangan yang masih bersiap menggoda, namun ibu memberi isyarat agar Ama dibiarkan sendiri dulu.

Masih dengan rasa tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi, Ama masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya masih berusaha mencerna kejadian yang sama sekali tidak ia duga akan terjadi.

“Ma.”

“Ya, bu.”

“Boleh ibu masuk ?”

“Masuk aja.”

Ama menarik tubuhnya untuk duduk di kasur lalu bersandar di dinding kamar. Diterimanya segelas coklat hangat yang dibawa ibu.

“Rasanya seperti mimpi ya.”

“Iya, bu ... mimpi apa ya semalam ?”

“Rio terlihat sangat berbakti pada mamanya, gagah dan enak dilihat.”

Ama melirik ke arah ibunya, lalu bertanya menyelidik, “Jangan bilang kalo ibu tertarik sama ka Rio.”

“Hehehe, hanya menyampaikan apa yang ibu lihat ...”

“Dia itu menyebalkan. Selama ini ga ada teman cowok yang berani main ke rumah tanpa seizin Ama. Lah, dia seenak udel. Teman bukan, tahu – tahu ngajak ibunya ke sini, segala ngajak tunangan lagi.” Cerocos Ama mengeluarkan gundah hatinya.

“Kalau emang jodoh, gimana, hayo ?” tiba – tiba sang kakak idola masuk kedalam kamar dan menyela pembicaraan mereka.

“Nyamber aja sih, kaya bensin.” Dengus Ama.

“Loh, kalau bukan jododh terus apa namanya ?” elak sang kakak

“Sumpah ini cerita cinta yang keren dan unik”, sambungnya lagi.

“Tau ah” seru Ama seraya melemparkan guling ke arah kakaknya.

“Stop pembahasannya sampai di sini, lanjut nanti setelah Ama sholat istikhoroh, sekarang mau mandi dulu.”