Teman
Sehati * Best Friend Forever
Dilema Ama (3)
Setelah
melalui hari yang lumayan melelahkan, akhirnya Ama bisa kembali pulang ke rumah
yang menjanjikan kenyamanan. Bayangan untuk segera beristirahat dan bermanja
bersama ibunya sudah berlarian dalam pikirnya, membuat ia mempercepat langkah
menuju rumah.
“Assalamu’alaikum.” Sesampainya di teras rumah, Ama
langsung mengucapkan salam.
“Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh. Nah
ini yang ditunggu sudah pulang.” Jawab ibu yang langsung menyambutnya di pintu.
Ama yang tengah melepas sepatu tampak heran dengan ucapan ibunya.
“Yang ditunggu ? Siapa, bu ?”
“Udah ayo sini masuk.” Ibu segera menarik tangan Ama
untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan tanya dalam diri Ama.
Keanehan
sikap ibu terjawab saat Ama masuk ke dalam rumah. Tampak duduk di ruang tamu ka
Rio bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak lain adalah mamanya ka Rio.
Dengan canggung Ama mencium punggung tangan perempuan paruh baya di hadapannya,
seperti komando ibunya.
“Ama, bu.” Sapanya berusaha mengusir rasa canggung.
Tak disangka, perempuan paruh baya itu meraih kepala
Ama dengan kedua tangannya lalu mengecup dahi Ama, membuat Ama semakin salah
tingkah. Perempuan paruh baya masih meraih pipi Ama, membuat pandangan mereka
bertemu. Tidak ada pilihan bagi Ama kecuali berusaha menghadirkan senyum di
bibirnya.
“Cantik ... Rio pandai cari calon istri.” Ucapnya seraya
mengelus pipi Ama dengan kedua ibu jari.
What ? Ya
Allah, apa ini ? Rio ? Calon istri ? Apakah ini mamanya ka Rio ? Tapi bukankah
sedang dirawat, kenapa bisa sampai sini ? Astaghfirullah. Ama.
“Udah, mah ... kasihan Ama jadi bingung.” Ucap ka Rio
lembut seraya menarik tangan mamanya yang masih menempel di pipi Ama.
“Oh iya, sampai lupa, maaf Ama, kamu pasti jadi
bingung.”
“Iya, ga papa bu. Saya ga enak aja baru pulang
sekolah, masih bau keringat, maaf ya.”
Semua yang berada di ruang tamu tertawa ringan, Ama
segera duduk di samping ibunya.
“Saya
minta maaf sama Ama karena tanpa konfirmasi langsung datang ke sini.” Ka Rio
memulai pembicaraan.
“Jadi semalam, setelah saya perlihatkan foto Ama,
sekali lagi saya mohon maaf karena tidak izin mengambil gambar kamu, kondisi
mama berangsur membaik sampai akhirnya dokter mengizinkan mama untuk rawat
jalan. Dan siang tadi diperbolehkan pulang. Ini kami langsung ke sini dari
rumah sakit, mama yang minta.”
Aduh ya Allah
... Ama harus jawab apa ??? Huhuhu mau nangis rasanya ini. Ayolah bu, jangan
senyam – senyum ajah.
“Iya, mama minta maaf ya sama mama juga ibu karena
mendadak datangnya. Mama Cuma ingin memastikan kalau Rio itu beneran sudah
punya calon. Kalau sudah tahu kan enak, betul, bu ?”
“Eh iya, iya, bu ...” ibu menjawab seraya melirik ke
arah Ama yang sedang sibuk mengukur lantai.
“Berhubung Ama masih sekolah, Rio juga masih harus
menyelesaikan S2, bagaimana kalau kalian tunangan saja dulu ?”
Whaaaaat ????
Demi apa? Astaghfirullah. Aku harus jawab apa ? Jawab iya untuk membuatnya
senang dan mengabaikan perasaanku atau jawab tidak untuk memenangkan diriku dan
membuatnya sakit lagi ? Ya, Allah ... Astaghfirullah. Teman-temanku, help me.
Pupu, Nunun, Zulfa, Ahmad, Amal, Arif ... aku masih mau main, mengejar cita –
cita, belum mau terjebak dalam ikatan suci. Ya Allah ampuni Ama, bantu Ama,
huhuhuhuhu.
Melihat
Ama kian tertunduk, ibu paham bahwa putrinya sedang dilanda kegalauan.
“Hmmm, mohon maaf sebelumnya, soal tunangan apa tidak
terburu – buru ya, bu ? Bagaimana kalau kita serahkan pada anak – anak setelah
mereka melakukan sholat istikhoroh, bu ?”
“Ya nggak terburu – buru, bu. Kecuali kalau saya
minta mereka menikah sekarang itu baru terburu – buru, iya kan ?”
Ama tersenyum miris mendengar pernyataan calon
mertuanya, ingin rasanya ia teriak tapi tak mampu melukai perempuan paruh baya
yang sedang tampak bahagia itu. Diliriknya Rio yang tengah menatapnya. Dikirimnya
padandangan tajam yang menusuk bersama sebuah pesan ‘how could you’.
Mengerti
dengan tatapan Ama, Rio segera mengendalikan suasana dan membujuk mamanya.
“Ma, kan tadi mama dah janji hanya mau ketemu dengan
Ama, ga lebih. Jangan memaksa Ama ya, ma... nanti kalau dia ngambek terus ga
mau lagi sama Rio gimana ? Mama juga yang akan menyesal nanti. Ya udah, Ma ...
karena sudah sore, Ama juga baru pulang dan perlu istirahat, kita pulang ya.
Mama juga kan masih harus banyak istirahat kata dokter.”
“Oh iya iya ... mama kelewat senang soalnya, Rio. Mama
suka sekali lihat Ama. Kamu sih diam – diam aja, ga pernah kenalin Ama.”
“Iya, ma ... maafkan Rio. Kita pulang ya.”
***
“Ciyeeeee
yang baru disambangi calon mama mertua.”
“Diem ah...” Ama segera meninggalkan kakak kesayangan
yang masih bersiap menggoda, namun ibu memberi isyarat agar Ama dibiarkan
sendiri dulu.
Masih dengan rasa tidak percaya akan apa yang baru
saja terjadi, Ama masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya
masih berusaha mencerna kejadian yang sama sekali tidak ia duga akan terjadi.
“Ma.”
“Ya, bu.”
“Boleh ibu masuk ?”
“Masuk aja.”
Ama menarik tubuhnya untuk duduk
di kasur lalu bersandar di dinding kamar. Diterimanya segelas coklat hangat
yang dibawa ibu.
“Rasanya seperti mimpi ya.”
“Iya, bu ... mimpi apa ya semalam ?”
“Rio terlihat sangat berbakti pada mamanya, gagah dan
enak dilihat.”
Ama melirik ke arah ibunya, lalu bertanya menyelidik,
“Jangan bilang kalo ibu tertarik sama ka Rio.”
“Hehehe, hanya menyampaikan apa yang ibu lihat ...”
“Dia itu menyebalkan. Selama ini ga ada teman cowok
yang berani main ke rumah tanpa seizin Ama. Lah, dia seenak udel. Teman bukan,
tahu – tahu ngajak ibunya ke sini, segala ngajak tunangan lagi.” Cerocos Ama
mengeluarkan gundah hatinya.
“Kalau emang jodoh, gimana, hayo ?” tiba – tiba sang
kakak idola masuk kedalam kamar dan menyela pembicaraan mereka.
“Nyamber aja sih, kaya bensin.” Dengus Ama.
“Loh, kalau bukan jododh terus apa namanya ?” elak
sang kakak
“Sumpah ini cerita cinta yang keren dan unik”,
sambungnya lagi.
“Tau ah” seru Ama seraya melemparkan guling ke arah
kakaknya.
“Stop pembahasannya sampai di sini, lanjut nanti
setelah Ama sholat istikhoroh, sekarang mau mandi dulu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar