Senin, 16 November 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama (3)

 

                Setelah melalui hari yang lumayan melelahkan, akhirnya Ama bisa kembali pulang ke rumah yang menjanjikan kenyamanan. Bayangan untuk segera beristirahat dan bermanja bersama ibunya sudah berlarian dalam pikirnya, membuat ia mempercepat langkah menuju rumah.

“Assalamu’alaikum.” Sesampainya di teras rumah, Ama langsung mengucapkan salam.

“Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh. Nah ini yang ditunggu sudah pulang.” Jawab ibu yang langsung menyambutnya di pintu. Ama yang tengah melepas sepatu tampak heran dengan ucapan ibunya.

“Yang ditunggu ? Siapa, bu ?”

“Udah ayo sini masuk.” Ibu segera menarik tangan Ama untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan tanya dalam diri Ama.

                Keanehan sikap ibu terjawab saat Ama masuk ke dalam rumah. Tampak duduk di ruang tamu ka Rio bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak lain adalah mamanya ka Rio. Dengan canggung Ama mencium punggung tangan perempuan paruh baya di hadapannya, seperti komando ibunya.

“Ama, bu.” Sapanya berusaha mengusir rasa canggung.

Tak disangka, perempuan paruh baya itu meraih kepala Ama dengan kedua tangannya lalu mengecup dahi Ama, membuat Ama semakin salah tingkah. Perempuan paruh baya masih meraih pipi Ama, membuat pandangan mereka bertemu. Tidak ada pilihan bagi Ama kecuali berusaha menghadirkan senyum di bibirnya.

“Cantik ... Rio pandai cari calon istri.” Ucapnya seraya mengelus pipi Ama dengan kedua ibu jari.

What ? Ya Allah, apa ini ? Rio ? Calon istri ? Apakah ini mamanya ka Rio ? Tapi bukankah sedang dirawat, kenapa bisa sampai sini ? Astaghfirullah. Ama.

“Udah, mah ... kasihan Ama jadi bingung.” Ucap ka Rio lembut seraya menarik tangan mamanya yang masih menempel di pipi Ama.

“Oh iya, sampai lupa, maaf Ama, kamu pasti jadi bingung.”

“Iya, ga papa bu. Saya ga enak aja baru pulang sekolah, masih bau keringat, maaf ya.”

Semua yang berada di ruang tamu tertawa ringan, Ama segera duduk di samping ibunya.

                “Saya minta maaf sama Ama karena tanpa konfirmasi langsung datang ke sini.” Ka Rio memulai pembicaraan.

“Jadi semalam, setelah saya perlihatkan foto Ama, sekali lagi saya mohon maaf karena tidak izin mengambil gambar kamu, kondisi mama berangsur membaik sampai akhirnya dokter mengizinkan mama untuk rawat jalan. Dan siang tadi diperbolehkan pulang. Ini kami langsung ke sini dari rumah sakit, mama yang minta.”

Aduh ya Allah ... Ama harus jawab apa ??? Huhuhu mau nangis rasanya ini. Ayolah bu, jangan senyam – senyum ajah.

“Iya, mama minta maaf ya sama mama juga ibu karena mendadak datangnya. Mama Cuma ingin memastikan kalau Rio itu beneran sudah punya calon. Kalau sudah tahu kan enak, betul, bu ?”

“Eh iya, iya, bu ...” ibu menjawab seraya melirik ke arah Ama yang sedang sibuk mengukur lantai.

“Berhubung Ama masih sekolah, Rio juga masih harus menyelesaikan S2, bagaimana kalau kalian tunangan saja dulu ?”

Whaaaaat ???? Demi apa? Astaghfirullah. Aku harus jawab apa ? Jawab iya untuk membuatnya senang dan mengabaikan perasaanku atau jawab tidak untuk memenangkan diriku dan membuatnya sakit lagi ? Ya, Allah ... Astaghfirullah. Teman-temanku, help me. Pupu, Nunun, Zulfa, Ahmad, Amal, Arif ... aku masih mau main, mengejar cita – cita, belum mau terjebak dalam ikatan suci. Ya Allah ampuni Ama, bantu Ama, huhuhuhuhu.

                Melihat Ama kian tertunduk, ibu paham bahwa putrinya sedang dilanda kegalauan.

“Hmmm, mohon maaf sebelumnya, soal tunangan apa tidak terburu – buru ya, bu ? Bagaimana kalau kita serahkan pada anak – anak setelah mereka melakukan sholat istikhoroh, bu ?”

“Ya nggak terburu – buru, bu. Kecuali kalau saya minta mereka menikah sekarang itu baru terburu – buru, iya kan ?”

Ama tersenyum miris mendengar pernyataan calon mertuanya, ingin rasanya ia teriak tapi tak mampu melukai perempuan paruh baya yang sedang tampak bahagia itu. Diliriknya Rio yang tengah menatapnya. Dikirimnya padandangan tajam yang menusuk bersama sebuah pesan ‘how could you’.

                Mengerti dengan tatapan Ama, Rio segera mengendalikan suasana dan membujuk mamanya.

“Ma, kan tadi mama dah janji hanya mau ketemu dengan Ama, ga lebih. Jangan memaksa Ama ya, ma... nanti kalau dia ngambek terus ga mau lagi sama Rio gimana ? Mama juga yang akan menyesal nanti. Ya udah, Ma ... karena sudah sore, Ama juga baru pulang dan perlu istirahat, kita pulang ya. Mama juga kan masih harus banyak istirahat kata dokter.”

“Oh iya iya ... mama kelewat senang soalnya, Rio. Mama suka sekali lihat Ama. Kamu sih diam – diam aja, ga pernah kenalin Ama.”

“Iya, ma ... maafkan Rio. Kita pulang ya.”

 

***

                “Ciyeeeee yang baru disambangi calon mama mertua.”

“Diem ah...” Ama segera meninggalkan kakak kesayangan yang masih bersiap menggoda, namun ibu memberi isyarat agar Ama dibiarkan sendiri dulu.

Masih dengan rasa tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi, Ama masuk ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya masih berusaha mencerna kejadian yang sama sekali tidak ia duga akan terjadi.

“Ma.”

“Ya, bu.”

“Boleh ibu masuk ?”

“Masuk aja.”

Ama menarik tubuhnya untuk duduk di kasur lalu bersandar di dinding kamar. Diterimanya segelas coklat hangat yang dibawa ibu.

“Rasanya seperti mimpi ya.”

“Iya, bu ... mimpi apa ya semalam ?”

“Rio terlihat sangat berbakti pada mamanya, gagah dan enak dilihat.”

Ama melirik ke arah ibunya, lalu bertanya menyelidik, “Jangan bilang kalo ibu tertarik sama ka Rio.”

“Hehehe, hanya menyampaikan apa yang ibu lihat ...”

“Dia itu menyebalkan. Selama ini ga ada teman cowok yang berani main ke rumah tanpa seizin Ama. Lah, dia seenak udel. Teman bukan, tahu – tahu ngajak ibunya ke sini, segala ngajak tunangan lagi.” Cerocos Ama mengeluarkan gundah hatinya.

“Kalau emang jodoh, gimana, hayo ?” tiba – tiba sang kakak idola masuk kedalam kamar dan menyela pembicaraan mereka.

“Nyamber aja sih, kaya bensin.” Dengus Ama.

“Loh, kalau bukan jododh terus apa namanya ?” elak sang kakak

“Sumpah ini cerita cinta yang keren dan unik”, sambungnya lagi.

“Tau ah” seru Ama seraya melemparkan guling ke arah kakaknya.

“Stop pembahasannya sampai di sini, lanjut nanti setelah Ama sholat istikhoroh, sekarang mau mandi dulu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar