Teman
Sehati * Best Friend Forever
Dilema Ama (2)
Penuh
enggan, Ama meraih tumpukan buku dan membawanya ke atas kasur. Alunan nasyid
masih setia membersamai, tapi kali ini Ama memilih nasyid bertema cinta,
biasanya pilihan Ama selalu pada nasyid yan menghentak, nasyid harokah ia biasa
menyebutnya.
“Ma, masih banyak PRnya ?” ibunda Ama yang masuk ke
dalam kamar dan duduk disisinya.
“Lumayan, bu. Ini baru megang satu, hehehe. Sisanya
masih dalam tas belum dikeluarin.” Jawab Ama menerangkan.
“Tumben ke kamar ga bawain cemilan, bu, hehehe”
lanjutnya.
“Cemilan hari ini kan bubur kacang ijo, tadinya ibu
mau ajak kamu makan bareng.”
“Ayolah....” ajak Ama seraya melingkarkan tangan di
pinggang ibunya.
Tak
lama kemudian, Ama dan ibunya tengah asik menyantap semangkuk bubur kacang ijo
yang masih mengepulkan asap panas.
“Ma”
“ya, bu.”
“Maaf tadi ga sengaja ibu dengar waktu kamu ngangkat
telepon dari Rio. Kamu bilang berkali – kali nggak bisa, emangsi Rio minta
apaan sih?”
Ama menghentikan operasi graham dan serinya.
Diambilnya segelas air putih dan meneguk hingga tersisa setengah.
“Oh, itu. Mmmmh, ka Rio aneh.”
“Aneh gimana?”
“Masa Ama disuruh pura – pura jadi calon istrinya.”
“Hah, ko bisa?”
“Jadi katanya mamanya ka Rio tuh lagi dirawat, kena
serangan jantung. Pas siuman dia minta anak kesayangannya yang ga laku – laku
itu buat bawa calon istri.”
“Trus kamu yang diminta gitu?”
“Uhum.” Ama mengangguk kepala sementara mulutnya
penuh terisi bubur.
“Lah...”
“Nah, aneh kan ?”
“Trus kamu mau ?”
“Ya nggak mau lah. Masa iya pura – pura di hadapan
orang sakit. Kan itu bohong namanya.”
“Kalo ibuya Rio sampai kecewa terus tambah sakit dan akhirnya
lewat, loe bertanggung jawab loh, Ma.” Iba – tiba mas tersayang muncul dengan
semangkuk bubur di tangan.
“Apaan sih, mas? Baru dateng dah nyamber aja kaya
bensin.”
“Dari tadi gue dah denger, cuma tanggung mau ikutan.
Lagian loe cuma nolongin orang gitu aja susah banget. Rio kan ga ngajak kawin,
Ma. Cuma pura – pura jadi calon untuk membuat mamanya senang, dengan harapan
bisa membuat ia sehat kembali. Bukan gitu, bu?”
“Iya sih, tapi kan Ama punya prinsip juga, ga mau
berbohong. Dia kan biasa jujur.” Ibu menengahi.
“Tuh denger.”
“Kalo ga mau bohong ya beneran aja, jadian gitu. Kan
pas toh. Ama ga mau pacaran. Ni ada yang lagi nyari calon istri. Pas mantab
pokoknya, hahahah.”
“Bodo”, jawab Ama kesal.
Dan seperti biasa mereka berdua terlibat perang mulut
yang membuat ibu geleng – geleng kepala.
“Sssst, udah udah. Kalian tu, udah pada gede kelakuan
masih aja kaya anak kecil. Soal ini biar Ama memutuskan. Kan dia bisa sholat
is... isti...”
“Istikhoroh, Bu.”
“Nah, itu. Cuma ya kalau ibu sih setuju dengan pendapat
masmu. Tujuan kita hanya menolong, bukan bohong.”
“Nah, apa kata mas?” ucap kakaknya Ama seraya menepuk
dada yang dibusungkan.
Drama
makan bubur berakhir dengan bahagia, hehehe. Semua kembali ke kamar masing –
masing dengan kegiatan yang berbeda. Tentu saja Ama masih harus menyelesaikan
beberapa PR yang sudah menunggunya. Rasa kantuk kembali menyapa tepat saat Ama
menyelesaikan PR terakhirnya. Tanpa sempat merapikan meja belajar, Ama
terkalahkan oleh kantuk yang menyergap.
***
Ulangan
Fisika di jam pertama membuat seisi kelas dua tiga mengawali pagi dengan wajah
yang serius. Dua pertiga penghuni kelas sudah memenuhi ruangan meski saat itu
jarum jam baru menunjuk pukul enam tiga puluh lima, tersisa sepuluh menit
sebelum bel berbunyi. Ama mempercepat langkah agar segera tiba di kelas.
“E ciye ciye yang baru bulan madu, sekarang berduaan
terus nih”
Terdengar suara sumbang seperti sedang menggoda.
Merasa bukan ditujukan untuknya, Ama tidak menggubris hal itu.
“Ma, ih, sombongnya, mentang – mentang deket Arif.”
Suara sumbang kembali terdengar. Merasa namanya disebut, Ama yang sedang
menaiki tangga menghentikan langkah lalu memutar tubuhnya. Dilihatnya Arif
berjarak tiga anak tangga dengannya. Sementara tepat di bawah tangga ada Tri
yang sedang berdiri dengan mimik menggoda.
Astaghfirullah
ya Allah, bantu Ama.
“Loe ngomong sama gue ?” tanya Ama seraya menuruni
tangga melewati Arif yang juga terdiam menghentikan langkah.
“Ngomong apa barusan ?” sambung Ama saat tepat
berhadapan dengan Tri. Siswa bertubuh gempal yang masih mengumbar mimik
menggoda.
“Ya elah, Ma. Serius amat. Gue kan Cuma nomong fakta
aja. Tuh buktinya masih nempel di mading.” Jawab Tri seraya menunjuk mading
sekolah.
“Ya serius lah. Yang loe sebut tadi sangat tidak
sesuai fakta. Sayang gue ada ulangan jam pertama. Ntar istirahat gue tunggu loe
di kelas.” Ama segera berlalu meninggalkan Tri yang masih terkesima dan terus
saja menggoda. Ia abaikan pendengarannya juga Arif yang hanya mampu menatap.
Pagi – pagi ada aja masalahnya. Aduh pengen
banget rasanya nabokin mulut si Tri. Ya, Alloh, kalau ga ada jilbab ini mungkin
dah habis itu Tri aku tamparin. Astaghfirullah. Tenang Ama, ujian Fisika di
depan mata. Fokus. Ama.
Foto apa sih yang ditunjuk Tri
tadi ? Baru sehari ga masuk sepertinya ketinggalan banyak cerita. Apa sih
maksud ucapan Tri ? Apa turun lagi ya, lihat ada apa di mading. Turun lagi aja
deh. Arif
Arif memutar tubuhnya. Ia kembali menuruni anak
tangga. Masih dilihatnya Tri berdiri d bawah tangga seperti semula.
“Foto apaan sih Tri ?”
“Loe ga tahu ?” tanya ri seraya menarik tangan Arif
menuju mading sekolah.
“Nih lihat deh.”
Arif
memerhatikan foto yang ditunjuk Tri. Lalu berusaha menenangkan diri agar bisa
bereaksi dengan santai.
“Oh, ini kan foto pas raker kemarin. Cepet amat sudah
publish di mading.”
“Iya. Loe sekalian bulan madu sama si Ama yang galak
itu? Keren banget loe. Diem – diem maut, hahahaha.”
“Antum ini ... biasa aja itu, ga ada yang istimewa.
Masa iya bulan madu ngajak rombongan.”
“Ya kali nyambi.”
Sambil berjalan meninggalkan mading, Arif menjelaskan
peristiwa di balik foto yang baru saja mereka lihat bersama. Dihiasi tawa khas
kaum Adam, tidak ada ketegangan, hanya derai tawa.
“Oke deh Arif, ntar istirahat gue ke dua tiga, minta
maaf sama wakilmu yang galaknya ampun – ampun, hehehe.”
“Sip. Assalamu’alaikum.”
Mereka berpisah di lantai dua tepat saat bel masuk
berbunyi. Arif melanjutkan langkahnya memasuki ruang kelas dua tiga sementara
Tri terus menaiki tangga menuju lantai tiga.
Jam
pelajaran Fisika di kelas dua tiga resmi dimulai saat sang Guru membagikan
lembar soal ujian. Sejurus kemudian semua siswa tampak menikmati hidangan pagi
itu. Hening. Sesekali hanya terdengar suara batuk beberapa siswa menggema di
ruang kelas yang luasnya tidak seberapa.
Waktu yang tesedia terasa masiih kurang sepertinya.
Nyaris seisi kelas berteriak saat bel tanda jam pelajaran usai berbunyi.
“Ma”
“Iya, Rif.”
“Tadi ana sudah bicara sedikit sama Tri soal foto di
mading. Sepertinya dia paham kalau kesimpulannya keliru. Dia bilang nanti
istirahat mau ke sini dan minta maaf sama anti.”
“Oh, baguslah kalo dia dah paham.”
“Iya, Alhamdulillah. Anti kenapa ga cerita sama ana
soal foto ini ? Semalam kan ana telepon untuk nanya kabar ?”
“Ya ga merasa perlu aja. Lagian kan kamu masih sakit,
takut jadi pikiran. Dan sekarang kamu juga dah tahu. Ya itu masalah yang akan
kita hadapi sekarang, soal foto.”
“Gitu ya. Insya Allah ana siap menghadapinya. Anti
gimana ?”
“Ya harus siap lah. Mau gimana lagi ?”
“Insya Allah. Bismillah ya. Tapi jangan galak – galak
kaya di tangga tadi, bisa ?”
“Lihat aja nanti, ga janji.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar