Selasa, 01 September 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama

 

                Ama segera berlari dan menutup pintu kamarnya, menghindari kejaran sang kakak yang siap kembali menoyor dirinya. Tak lama berselang adzan maghrib berkumandang. Ama menunaikan sholat Maghrib berjamaah dengan ibunya, sementara kakak dan bapaknya pergi ke mushola yang tak jauh dari rumah. Seperti biasa agenda setelah sholat Maghrib adalah tadarus bersama hingga menjelang Isya dan ditutup dengan sholat berjamaah.

                Setelah menunaikan rangkaian ibadah, Ama melanjutkan kegiatan di kamar, menyelesaikan PR ditemani alunan nasyid kegemaran.

“Ma, ada telepon nih.” Panggil ibunya tepat saat Ama sedang membuka buku tugas Matematika.

“Iya, Bu.” Jawabnya seraya melangkah menuju pesawat telepon.

“Dari Arif”, terang ibu menyerahkan gagang telepon.

“Asalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam, Ama.”

“Iya, Rif, ada apa ?” tanya Ama tanpa basa – basi.

Ama ko ga tanya keadaanku ya? Kan tadi aku ga masuk karena sakit. Masa dia ga kepikiran tanya kabarku sih ?

“Anti apa kabar, Ma?”

“Alhamdulillah ngantuk.”

“Afwan tadi ana sakit jadi ga bisa masuk sekolah.”

“Oh iya ya tadi Ismoyo bilang kamu sakit. Sakit apa sih ? Dah enakan belum ?”

“Alhamdulillah cuma asam lambung aja sedikit naik. Kata dokter kalau malam ini ga ada perubahan besok ana harus dirawat.”

“Syafakallah. Moga ga harus dirawat ya, Rif.”

“Aamiin. Ana mau nitip OSIS kalau sampai ana dirawat ya.”

“Nggak mau.”

“Loh, kok gitu ?”

“Ya nggak mau, karena aku maunya kamu ga dirawat jadi ga usah nitip OSIS. Kan asik kalau sehat.”

“Iya, ana juga maunya gitu. Tapi kan jaga – jaga aja.”

 “Oke bos, siap laksanakan tugas. Btw dah nelpon Nunun ?”

“Belum.”

“Ketua satu ?”

“Belum juga. Emang kenapa mereka ?”

“Ya kali nitipin OSIS juga.”

“Hehehehehe, sama anti aja nitipnya. Ga berani ana nelpon yang lain, takut salah paham.”

“Oh, ya udah. Ada lagi yang mau disampaikan ?”

“Hmmm”

“Klo ga ada jangan dipaksain, soalnya aku mau ngerjain PR yang seabrek.”

“Banyak banget ya PR hari ini ?”

“Lumayan sih. Udah orang sakit mah istirahat aja, ga usah segala mikirin PR. Sembuh nggak makin parah iya. Dah tidur sana dah malam nih. Jangan – jangan belum minum obat lagi.”

Loh, ko kamu tahu, Ma ? Males banget minum obat yang pahit rasanya. Mau makan juga nggak masuk dari tadi. Tapi kalau kamu yang suruh, aku paksakan deh untuk makan dan minum obat.

“Rif?”

“Iya. Belum Ama. Makan juga belum bisa banyak nih.”

“Coba pelan – pelan. Sedikit – dikit ga papa, yang penting ada asupan yang masuk. Obat jangan lewat. Apa perlu aku pelototin nih ?”

Hore ... iya, mau Ama. Mau banget.

“Ga perlu juga sih. InsyaAllah setelah nelpon ana makan dan minum obat. Tapi anti janji nitip OSIS ya.”

“Kan dah ku kateu ...”

“Gitu dong. Ya udah, terima kasih.”

“Sama – sama. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh. Yah, Ama kenapa ditutup, kan aku yang telpon duluan, harusnya aku yang duluan mengakhiri pembicaraan. Terima kasih Ama, setelah dengar suara kamu rasanya sakitku berkurang, mudahan esok bisa sembuh lagi. Aamiin.    

                Saat meletakkan gagang telepon, Ama melihat secarik kertas memo. Rio, penting, telepon balik 08128101373.

Nomor HP ? Tumben ka Rio ninggalin jejak.Oh ya tadi kan mas dah ngasih tahu aku. Oke aku telepon sekarang.

Tuuuuuuuuuuuuuut

“Assalamu’alaikum, Ama.”

“Wa’laikum salam, ka ... Ada apa ya ? Sepertinya penting sekali.”

“Iya, sebentar saya telepon balik ya. Tutup dulu, oke ?”

Sambungan telepon terputus. Ama memenuh pikirannya dengan banyak tanya tentang apa gerangan yang terjadi.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing

“Ya”

“Ama”

“Hadir, ka”

“Maaf buat kamu menunggu dan bertanya – tanya.”

“Iya.”

“Jadi gini. Saya to the point aja ya. Dua hari lalu mama saya kena serangan jantung dan hngga kini masih dirawat di rumah sakit.”

“Iya, lalu?”

“Hmmm... beberpa kali siuman, ada satu pertanyaan yang selalu mama tanya ke saya. Soal calon pendamping hidup.”

“Teruus...?”

“Mama minta saya buat bawa calon saya untuk menjenguknya di rumah sakit. Padahal saya sama sekali belum punya calon.”

“Dan hubungannya dengan Ama ?”

“Saya mau minta tolong sama kamu.”

Hening

“Datanglah ke rumah sakit dan berpura – puralah ... menjadi calon saya.”

“Apa?”

“Saya benar – benar minta tolong Ama. Bantulah saya untuk membuat mama merasa tenang dan dengan itu dia bisa kembali sehat.”

“Tapi, kenapa harus aku? Teman kakak kan banyak, aku nggak bisa, kaka.”

“Teman saya memang banyak, tapi perempuan yang sesuai kriteria mama ga ada. Dan sepertinya kamu memenuhi kriteria mama.”

“Aduh ya ampun, plis deh ka Rio. Jangan posisikan aku seperti ini dong. Aku nggak bisa ka, nggak aku banget gitu loh, aku ...”

“Ama, pliiiiis. Sekali ini aja. Bantu aku buat mama senang dan kembali sehat.”

“Aku ga bi ....”

Tut tut tut. Sambungan telepon kembali terputus, sesaat setelah di ujung telepon terdengar suara seseorang memanggil ka Rio dengan “Tuan Rio”

                Ama bergegas meninggalkan pesawat telepon lalu menuju kamar. Masih bergelayut dalam benaknya soal permintaan Rio terhadap dirinya. Selera mengerjakan soal matematika yang masih setia menunggu seolah lenyap seketika. Dihempaskan tubuhnya ke atas ranjang, masih dengan pikiran yang sama. Satu jam kemudian Rio kembali menghubungi. Diceritakan bahwa tadi suster memanggilnya untuk konsultasi dengan dokter perihal perkembangan kondisi sang mama. Pembicaraan telepon berakhir dengan kegamangan dalam diri Ama. Setelah mengetahui bagaimana kondisi ibunda ka Rio, ia tidak bisa tegas menolak permintaan apalagi mengiyakannya. Ama berada dalam dilema.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar