Selasa, 01 September 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama (2)

 

                Penuh enggan, Ama meraih tumpukan buku dan membawanya ke atas kasur. Alunan nasyid masih setia membersamai, tapi kali ini Ama memilih nasyid bertema cinta, biasanya pilihan Ama selalu pada nasyid yan menghentak, nasyid harokah ia biasa menyebutnya.

“Ma, masih banyak PRnya ?” ibunda Ama yang masuk ke dalam kamar dan duduk disisinya.

“Lumayan, bu. Ini baru megang satu, hehehe. Sisanya masih dalam tas belum dikeluarin.” Jawab Ama menerangkan.

“Tumben ke kamar ga bawain cemilan, bu, hehehe” lanjutnya.

“Cemilan hari ini kan bubur kacang ijo, tadinya ibu mau ajak kamu makan bareng.”

“Ayolah....” ajak Ama seraya melingkarkan tangan di pinggang ibunya.

                Tak lama kemudian, Ama dan ibunya tengah asik menyantap semangkuk bubur kacang ijo yang masih mengepulkan asap panas.

“Ma”

“ya, bu.”

“Maaf tadi ga sengaja ibu dengar waktu kamu ngangkat telepon dari Rio. Kamu bilang berkali – kali nggak bisa, emangsi Rio minta apaan sih?”

Ama menghentikan operasi graham dan serinya. Diambilnya segelas air putih dan meneguk hingga tersisa setengah.

“Oh, itu. Mmmmh, ka Rio aneh.”

“Aneh gimana?”

“Masa Ama disuruh pura – pura jadi calon istrinya.”

“Hah, ko bisa?”

“Jadi katanya mamanya ka Rio tuh lagi dirawat, kena serangan jantung. Pas siuman dia minta anak kesayangannya yang ga laku – laku itu buat bawa calon istri.”

“Trus kamu yang diminta gitu?”

“Uhum.” Ama mengangguk kepala sementara mulutnya penuh terisi bubur.

“Lah...”

“Nah, aneh kan ?”

“Trus kamu mau ?”

“Ya nggak mau lah. Masa iya pura – pura di hadapan orang sakit. Kan itu bohong namanya.”

“Kalo ibuya Rio sampai kecewa terus tambah sakit dan akhirnya lewat, loe bertanggung jawab loh, Ma.” Iba – tiba mas tersayang muncul dengan semangkuk bubur di tangan.

“Apaan sih, mas? Baru dateng dah nyamber aja kaya bensin.”

“Dari tadi gue dah denger, cuma tanggung mau ikutan. Lagian loe cuma nolongin orang gitu aja susah banget. Rio kan ga ngajak kawin, Ma. Cuma pura – pura jadi calon untuk membuat mamanya senang, dengan harapan bisa membuat ia sehat kembali. Bukan gitu, bu?”

“Iya sih, tapi kan Ama punya prinsip juga, ga mau berbohong. Dia kan biasa jujur.” Ibu menengahi.

“Tuh denger.”

“Kalo ga mau bohong ya beneran aja, jadian gitu. Kan pas toh. Ama ga mau pacaran. Ni ada yang lagi nyari calon istri. Pas mantab pokoknya, hahahah.”

“Bodo”, jawab Ama kesal.

Dan seperti biasa mereka berdua terlibat perang mulut yang membuat ibu geleng – geleng kepala.

“Sssst, udah udah. Kalian tu, udah pada gede kelakuan masih aja kaya anak kecil. Soal ini biar Ama memutuskan. Kan dia bisa sholat is... isti...”

“Istikhoroh, Bu.”

“Nah, itu. Cuma ya kalau ibu sih setuju dengan pendapat masmu. Tujuan kita hanya menolong, bukan bohong.”

“Nah, apa kata mas?” ucap kakaknya Ama seraya menepuk dada yang dibusungkan.

                Drama makan bubur berakhir dengan bahagia, hehehe. Semua kembali ke kamar masing – masing dengan kegiatan yang berbeda. Tentu saja Ama masih harus menyelesaikan beberapa PR yang sudah menunggunya. Rasa kantuk kembali menyapa tepat saat Ama menyelesaikan PR terakhirnya. Tanpa sempat merapikan meja belajar, Ama terkalahkan oleh kantuk yang menyergap.

 

***

                Ulangan Fisika di jam pertama membuat seisi kelas dua tiga mengawali pagi dengan wajah yang serius. Dua pertiga penghuni kelas sudah memenuhi ruangan meski saat itu jarum jam baru menunjuk pukul enam tiga puluh lima, tersisa sepuluh menit sebelum bel berbunyi. Ama mempercepat langkah agar segera tiba di kelas.

“E ciye ciye yang baru bulan madu, sekarang berduaan terus nih”

Terdengar suara sumbang seperti sedang menggoda. Merasa bukan ditujukan untuknya, Ama tidak menggubris hal itu.

“Ma, ih, sombongnya, mentang – mentang deket Arif.” Suara sumbang kembali terdengar. Merasa namanya disebut, Ama yang sedang menaiki tangga menghentikan langkah lalu memutar tubuhnya. Dilihatnya Arif berjarak tiga anak tangga dengannya. Sementara tepat di bawah tangga ada Tri yang sedang berdiri dengan mimik menggoda.

Astaghfirullah ya Allah, bantu Ama.

“Loe ngomong sama gue ?” tanya Ama seraya menuruni tangga melewati Arif yang juga terdiam menghentikan langkah.

“Ngomong apa barusan ?” sambung Ama saat tepat berhadapan dengan Tri. Siswa bertubuh gempal yang masih mengumbar mimik menggoda.

“Ya elah, Ma. Serius amat. Gue kan Cuma nomong fakta aja. Tuh buktinya masih nempel di mading.” Jawab Tri seraya menunjuk mading sekolah.

“Ya serius lah. Yang loe sebut tadi sangat tidak sesuai fakta. Sayang gue ada ulangan jam pertama. Ntar istirahat gue tunggu loe di kelas.” Ama segera berlalu meninggalkan Tri yang masih terkesima dan terus saja menggoda. Ia abaikan pendengarannya juga Arif yang hanya mampu menatap.

                Pagi – pagi ada aja masalahnya. Aduh pengen banget rasanya nabokin mulut si Tri. Ya, Alloh, kalau ga ada jilbab ini mungkin dah habis itu Tri aku tamparin. Astaghfirullah. Tenang Ama, ujian Fisika di depan mata. Fokus. Ama.

                Foto apa sih yang ditunjuk Tri tadi ? Baru sehari ga masuk sepertinya ketinggalan banyak cerita. Apa sih maksud ucapan Tri ? Apa turun lagi ya, lihat ada apa di mading. Turun lagi aja deh. Arif

Arif memutar tubuhnya. Ia kembali menuruni anak tangga. Masih dilihatnya Tri berdiri d bawah tangga seperti semula.

“Foto apaan sih Tri ?”

“Loe ga tahu ?” tanya ri seraya menarik tangan Arif menuju mading sekolah.

“Nih lihat deh.”

                Arif memerhatikan foto yang ditunjuk Tri. Lalu berusaha menenangkan diri agar bisa bereaksi dengan santai.

“Oh, ini kan foto pas raker kemarin. Cepet amat sudah publish di mading.”

“Iya. Loe sekalian bulan madu sama si Ama yang galak itu? Keren banget loe. Diem – diem maut, hahahaha.”

“Antum ini ... biasa aja itu, ga ada yang istimewa. Masa iya bulan madu ngajak rombongan.”

“Ya kali nyambi.”

Sambil berjalan meninggalkan mading, Arif menjelaskan peristiwa di balik foto yang baru saja mereka lihat bersama. Dihiasi tawa khas kaum Adam, tidak ada ketegangan, hanya derai tawa.

“Oke deh Arif, ntar istirahat gue ke dua tiga, minta maaf sama wakilmu yang galaknya ampun – ampun, hehehe.”

“Sip. Assalamu’alaikum.”

Mereka berpisah di lantai dua tepat saat bel masuk berbunyi. Arif melanjutkan langkahnya memasuki ruang kelas dua tiga sementara Tri terus menaiki tangga menuju lantai tiga.

                Jam pelajaran Fisika di kelas dua tiga resmi dimulai saat sang Guru membagikan lembar soal ujian. Sejurus kemudian semua siswa tampak menikmati hidangan pagi itu. Hening. Sesekali hanya terdengar suara batuk beberapa siswa menggema di ruang kelas yang luasnya tidak seberapa.

Waktu yang tesedia terasa masiih kurang sepertinya. Nyaris seisi kelas berteriak saat bel tanda jam pelajaran usai berbunyi.

“Ma”

“Iya, Rif.”

“Tadi ana sudah bicara sedikit sama Tri soal foto di mading. Sepertinya dia paham kalau kesimpulannya keliru. Dia bilang nanti istirahat mau ke sini dan minta maaf sama anti.”

“Oh, baguslah kalo dia dah paham.”

“Iya, Alhamdulillah. Anti kenapa ga cerita sama ana soal foto ini ? Semalam kan ana telepon untuk nanya kabar ?”

“Ya ga merasa perlu aja. Lagian kan kamu masih sakit, takut jadi pikiran. Dan sekarang kamu juga dah tahu. Ya itu masalah yang akan kita hadapi sekarang, soal foto.”

“Gitu ya. Insya Allah ana siap menghadapinya. Anti gimana ?”

“Ya harus siap lah. Mau gimana lagi ?”

“Insya Allah. Bismillah ya. Tapi jangan galak – galak kaya di tangga tadi, bisa ?”

“Lihat aja nanti, ga janji.”

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dilema Ama

 

                Ama segera berlari dan menutup pintu kamarnya, menghindari kejaran sang kakak yang siap kembali menoyor dirinya. Tak lama berselang adzan maghrib berkumandang. Ama menunaikan sholat Maghrib berjamaah dengan ibunya, sementara kakak dan bapaknya pergi ke mushola yang tak jauh dari rumah. Seperti biasa agenda setelah sholat Maghrib adalah tadarus bersama hingga menjelang Isya dan ditutup dengan sholat berjamaah.

                Setelah menunaikan rangkaian ibadah, Ama melanjutkan kegiatan di kamar, menyelesaikan PR ditemani alunan nasyid kegemaran.

“Ma, ada telepon nih.” Panggil ibunya tepat saat Ama sedang membuka buku tugas Matematika.

“Iya, Bu.” Jawabnya seraya melangkah menuju pesawat telepon.

“Dari Arif”, terang ibu menyerahkan gagang telepon.

“Asalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam, Ama.”

“Iya, Rif, ada apa ?” tanya Ama tanpa basa – basi.

Ama ko ga tanya keadaanku ya? Kan tadi aku ga masuk karena sakit. Masa dia ga kepikiran tanya kabarku sih ?

“Anti apa kabar, Ma?”

“Alhamdulillah ngantuk.”

“Afwan tadi ana sakit jadi ga bisa masuk sekolah.”

“Oh iya ya tadi Ismoyo bilang kamu sakit. Sakit apa sih ? Dah enakan belum ?”

“Alhamdulillah cuma asam lambung aja sedikit naik. Kata dokter kalau malam ini ga ada perubahan besok ana harus dirawat.”

“Syafakallah. Moga ga harus dirawat ya, Rif.”

“Aamiin. Ana mau nitip OSIS kalau sampai ana dirawat ya.”

“Nggak mau.”

“Loh, kok gitu ?”

“Ya nggak mau, karena aku maunya kamu ga dirawat jadi ga usah nitip OSIS. Kan asik kalau sehat.”

“Iya, ana juga maunya gitu. Tapi kan jaga – jaga aja.”

 “Oke bos, siap laksanakan tugas. Btw dah nelpon Nunun ?”

“Belum.”

“Ketua satu ?”

“Belum juga. Emang kenapa mereka ?”

“Ya kali nitipin OSIS juga.”

“Hehehehehe, sama anti aja nitipnya. Ga berani ana nelpon yang lain, takut salah paham.”

“Oh, ya udah. Ada lagi yang mau disampaikan ?”

“Hmmm”

“Klo ga ada jangan dipaksain, soalnya aku mau ngerjain PR yang seabrek.”

“Banyak banget ya PR hari ini ?”

“Lumayan sih. Udah orang sakit mah istirahat aja, ga usah segala mikirin PR. Sembuh nggak makin parah iya. Dah tidur sana dah malam nih. Jangan – jangan belum minum obat lagi.”

Loh, ko kamu tahu, Ma ? Males banget minum obat yang pahit rasanya. Mau makan juga nggak masuk dari tadi. Tapi kalau kamu yang suruh, aku paksakan deh untuk makan dan minum obat.

“Rif?”

“Iya. Belum Ama. Makan juga belum bisa banyak nih.”

“Coba pelan – pelan. Sedikit – dikit ga papa, yang penting ada asupan yang masuk. Obat jangan lewat. Apa perlu aku pelototin nih ?”

Hore ... iya, mau Ama. Mau banget.

“Ga perlu juga sih. InsyaAllah setelah nelpon ana makan dan minum obat. Tapi anti janji nitip OSIS ya.”

“Kan dah ku kateu ...”

“Gitu dong. Ya udah, terima kasih.”

“Sama – sama. Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh. Yah, Ama kenapa ditutup, kan aku yang telpon duluan, harusnya aku yang duluan mengakhiri pembicaraan. Terima kasih Ama, setelah dengar suara kamu rasanya sakitku berkurang, mudahan esok bisa sembuh lagi. Aamiin.    

                Saat meletakkan gagang telepon, Ama melihat secarik kertas memo. Rio, penting, telepon balik 08128101373.

Nomor HP ? Tumben ka Rio ninggalin jejak.Oh ya tadi kan mas dah ngasih tahu aku. Oke aku telepon sekarang.

Tuuuuuuuuuuuuuut

“Assalamu’alaikum, Ama.”

“Wa’laikum salam, ka ... Ada apa ya ? Sepertinya penting sekali.”

“Iya, sebentar saya telepon balik ya. Tutup dulu, oke ?”

Sambungan telepon terputus. Ama memenuh pikirannya dengan banyak tanya tentang apa gerangan yang terjadi.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing

“Ya”

“Ama”

“Hadir, ka”

“Maaf buat kamu menunggu dan bertanya – tanya.”

“Iya.”

“Jadi gini. Saya to the point aja ya. Dua hari lalu mama saya kena serangan jantung dan hngga kini masih dirawat di rumah sakit.”

“Iya, lalu?”

“Hmmm... beberpa kali siuman, ada satu pertanyaan yang selalu mama tanya ke saya. Soal calon pendamping hidup.”

“Teruus...?”

“Mama minta saya buat bawa calon saya untuk menjenguknya di rumah sakit. Padahal saya sama sekali belum punya calon.”

“Dan hubungannya dengan Ama ?”

“Saya mau minta tolong sama kamu.”

Hening

“Datanglah ke rumah sakit dan berpura – puralah ... menjadi calon saya.”

“Apa?”

“Saya benar – benar minta tolong Ama. Bantulah saya untuk membuat mama merasa tenang dan dengan itu dia bisa kembali sehat.”

“Tapi, kenapa harus aku? Teman kakak kan banyak, aku nggak bisa, kaka.”

“Teman saya memang banyak, tapi perempuan yang sesuai kriteria mama ga ada. Dan sepertinya kamu memenuhi kriteria mama.”

“Aduh ya ampun, plis deh ka Rio. Jangan posisikan aku seperti ini dong. Aku nggak bisa ka, nggak aku banget gitu loh, aku ...”

“Ama, pliiiiis. Sekali ini aja. Bantu aku buat mama senang dan kembali sehat.”

“Aku ga bi ....”

Tut tut tut. Sambungan telepon kembali terputus, sesaat setelah di ujung telepon terdengar suara seseorang memanggil ka Rio dengan “Tuan Rio”

                Ama bergegas meninggalkan pesawat telepon lalu menuju kamar. Masih bergelayut dalam benaknya soal permintaan Rio terhadap dirinya. Selera mengerjakan soal matematika yang masih setia menunggu seolah lenyap seketika. Dihempaskan tubuhnya ke atas ranjang, masih dengan pikiran yang sama. Satu jam kemudian Rio kembali menghubungi. Diceritakan bahwa tadi suster memanggilnya untuk konsultasi dengan dokter perihal perkembangan kondisi sang mama. Pembicaraan telepon berakhir dengan kegamangan dalam diri Ama. Setelah mengetahui bagaimana kondisi ibunda ka Rio, ia tidak bisa tegas menolak permintaan apalagi mengiyakannya. Ama berada dalam dilema.