Teman
Sehati * Best Friend Forever
Ikhwan ganteng
Seperti
biasa, malam itu Ama berbaringsantai di kamarnya. Berteman suara penyiar radio
Ama benar – benar tampak menikmati suasana. Dibacanya selembar kertas di
tangannya. Formulir pendaftaran ROHIS. Tanda tangan persetujuan dari bapaknya
sudah didapat. Semua item sudah terisi. Menyisakan duackolom saja. Ya masih ada
dua pertanyaan yang belum dijawab oleh Ama.
Pertanyaan
pertama, dari mana kamu mengenal ROHIS dan kenapa kamu memilih ROHIS ?
Pertanyaan
kedua, apa harapanmu bergabung dengan ekskul ROHIS ?
Di
kepalanya berputar lagi penjelasan Farid tentang ROHIS. “Aha”, pekiknya. Ia
lalu bangkit dan menyambar pulpen kemudian menuliskan jawabannya.
Dari mana kamu
mengenal ROHIS dan kenapa kamu memilih ROHIS ?
Dari teman
sekelas. Programnya keren.
“Eh, ko tiba – tiba aku ingat kata – kata ka Rio ya, masuk
ROHIS pilihan bagus biar kamu jadi istri sholiha, ya kali aku tulis jawabannya
begitu.” Gumam Ama.
“Jadi apa ya jawabannya, hmmm.”
Apa harapanmu
bergabung dengan ekskul ROHIS ?
Menambah
wawasan dan pertemanan.
Ama tersenyum puas melihat jawabannya. Dimasukkannya
kertas itu dalam sebuah amplop coklat. Tak lupa ia menempelkan fotonya di tempat
tersedia. Ucapan Ahmad tengiang di telinganya, Kalau buat saya ukuran 3R juga cukup buat di dompet.
“Ahmad, sebaiknya kamu tetap menjadi orang asing saat
ini. Agar kelak aku bisa dengan mudah menerima perasaanmu.” Ama menghela
nafasnya. Ada desir hangat menyelinap dalam dadanya. Deir yang benar – benar menghangatkan.
Kembali
Ama membaringkan tubuhnya. Celoteh sang penyar radio mengantarkan cuplikan
obrolannya dengan Farid siang tadi.
“Emang ada apa
aja di ROHIS ?”
“Ada banyak
cowok ganteng, hahaha.”
“Lu bener Farid. Banyak bener cowok ganteng di ROHIS.
Mungkin karena mereka rajin wudhu kali ya. Ya ampun, wajahnya bercahaya. Banyak
mas Irin di ROHIS, hihihihi. Lo pasti ga tahu Farid kalau gue suka liatn cowok –
cowok, eh ikhwan di ROHIS. Mereka kan so handsome, tapi bukan itu yang bikin
gue tertarik. Melainkan style mereka yang cool abiz. Gilaaaaa... mereka bisa
ngomong sambil nunduk. Padahal kan kebanyakan mata cowok tuh jelalatan kalo
liat cewek. Tapi mereka lebih tertarik liatin sederet ubin sekolah yang ga
selalu kinclong dan mengabaikan cewek bening di hadapan. Justru yang begitu kan
yang bikin penasaran, bikin pengen cari perhatian sama mereka. Ga kaya Ahmad
yang baru kenal dah sok akrab. Eh,, tapi dia kan calon ikhwan dan aku calon
akhwat, ehemmm.”
Ama terus membatin dan memutar
rekaman dalam memorinya. Ternyata ia punya kebiasan berdiri di depan teras kelasnya,
mengamati apa saja yang bisa terlihat. Siswa yang bermain di lapangan, yang
sedang hilir mudik menuju dan dari kantin, termasuk cara anak ROHIS bercakap –
cakap dengan sesamanya.
Biasanya
mereka (anak ROHIS) berbicara dengan bergerombol, jarang ada ikhwan dan akhwat
yang ngobrol berduaan saja. Mereka dekat tapi tidak saling menatap. Sama – sama
menghadap ke arah lapangan, atau saling menyamping. Entah bagaimana bisa bicara
tanpa menatap dalam suasana istirahat yang pasti ramai dengan riuh rendah suara
para siswa.
Meski
ada senyum dan tawa kecil, biasanya mereka hanya bicara sebentar saja. Yang
pasti menarik perhatian Ama adalah polah para ikhwan yang kharismatik. Bicara
seperlunya, menjaga pandangan, menghormati perempuan plus penampilannya yang
klimis, berjenggot tipis. Ah, sudahlah. Tidak salah kalau Farid menyebut banyak
cowok ganteng di ROHIS.
Jaminan
ketulusan dalam hubungan pertemanan di ROHIS sangat menjanjikan. Selain ikhwan
yang tampan, simpatik juga kharismatik, para akhwat juga tak kalah memesona.
Jilbab lebar yang menebar pesona keanggunan selalu menarik perhatian Ama. Sudah
lama Ama berfikir tentang mukena saat sholat dan pakaian terbuka yang iasa
dikenakan wanita muslimah.
Banyak pertanyaan yang selama ini hanya berputar di
kepalanya.
Kenapa saat sholat kita wajib menutup aurat pakai mukena,
tapi dalam keseharian bebas terbuka ?
Apakah mukena, kerudung, baju tertutup hanya wajib
dikenakan saat beribadah (sholat atau mengaji?)
Bagaimana sebenarnya aturan berpakaian bagi muslimah
dalam Islam ?
“Kayanya bener gue harus masuk ROHIS. Mudah – mudahan
pertanyaan gue bisa terjawab. Kata Farid kan kakak – kakak ROHIS sangat
menerima para junior. Jadi gue bisa bebas nanya tanpa khawatir dimarahi,
dianggap lancang, tdak punya adab dan seterusnya.” Mantap Ama memutuskan.
Kantuk
mulai menyergap. Ama melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jarum
pendek jam berbentuk hati berwarna biru muda itu sudah menunjuk angka sembilan
sementara jarum panjangnya menunjuk angka enam. “Wah tidak terasa. Sudah lewat
tiga puluh menit dari jadwal istirahatku. Pantesan ini radio udah sepi.” Ama
berdialektika. Gegara fokus dengan ketampanan para ikhwan serta aneka daya
tarik yang ada di ROHIS ia sampai tidak sadar kalau siaran radio favoritnya
sudah berakhir. Dimatikannya radio juga lampu kamar.Kemudan beranjak ke
peraduan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Have a nice dream Ama,
jangan lupa berdoa.
Sementara
di sudut sebuah kamar, ada Ahmad yang tengah mencatat semua informasi yang
disampaikan Farid tentang jurus jitu meraih hati Ama.
Ia tampak tersenyum puas menilik catatan yang baru
saja diselesaikannya.
“Makasih banyak Farid. Mulai hari ini perjalanan cinta
di mulai. Hehehehe. Dear Ama, aku akan berusaha menjadi asing buatmu, agar
suatu saat nanti kamu siap menerima semua rasaku. Ya, Allah jadikanlah ia
tempatku berlabuh. Aamiin.”
Diletakkannya
buku catatan bersampul motif batik itu dalam tumpukkan buku yang tersusun rapi.
Kemudian bersiap dengan ritual sebelum tidurnya. Sikat ggi, wudhu dan tak lupa,
berpamitan pada ayah bundanya dengan mencium tangan mereka.