Jumat, 26 Juni 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Ikhwan ganteng

                Seperti biasa, malam itu Ama berbaringsantai di kamarnya. Berteman suara penyiar radio Ama benar – benar tampak menikmati suasana. Dibacanya selembar kertas di tangannya. Formulir pendaftaran ROHIS. Tanda tangan persetujuan dari bapaknya sudah didapat. Semua item sudah terisi. Menyisakan duackolom saja. Ya masih ada dua pertanyaan yang belum dijawab oleh Ama.
Pertanyaan pertama, dari mana kamu mengenal ROHIS dan kenapa kamu memilih ROHIS ?
Pertanyaan kedua, apa harapanmu bergabung dengan ekskul ROHIS ?
                Di kepalanya berputar lagi penjelasan Farid tentang ROHIS. “Aha”, pekiknya. Ia lalu bangkit dan menyambar pulpen kemudian menuliskan jawabannya.
Dari mana kamu mengenal ROHIS dan kenapa kamu memilih ROHIS ?
Dari teman sekelas. Programnya keren.
“Eh, ko tiba – tiba aku ingat kata – kata ka Rio ya, masuk ROHIS pilihan bagus biar kamu jadi istri sholiha, ya kali aku tulis jawabannya begitu.” Gumam Ama.
“Jadi apa ya jawabannya, hmmm.”
Apa harapanmu bergabung dengan ekskul ROHIS ?
Menambah wawasan dan pertemanan.
Ama tersenyum puas melihat jawabannya. Dimasukkannya kertas itu dalam sebuah amplop coklat. Tak lupa ia menempelkan fotonya di tempat tersedia. Ucapan Ahmad tengiang di telinganya, Kalau buat saya ukuran 3R juga cukup buat di dompet.
“Ahmad, sebaiknya kamu tetap menjadi orang asing saat ini. Agar kelak aku bisa dengan mudah menerima perasaanmu.” Ama menghela nafasnya. Ada desir hangat menyelinap dalam dadanya. Deir yang benar – benar menghangatkan.
                Kembali Ama membaringkan tubuhnya. Celoteh sang penyar radio mengantarkan cuplikan obrolannya dengan Farid siang tadi.
“Emang ada apa aja di ROHIS ?”
“Ada banyak cowok ganteng, hahaha.”
“Lu bener Farid. Banyak bener cowok ganteng di ROHIS. Mungkin karena mereka rajin wudhu kali ya. Ya ampun, wajahnya bercahaya. Banyak mas Irin di ROHIS, hihihihi. Lo pasti ga tahu Farid kalau gue suka liatn cowok – cowok, eh ikhwan di ROHIS. Mereka kan so handsome, tapi bukan itu yang bikin gue tertarik. Melainkan style mereka yang cool abiz. Gilaaaaa... mereka bisa ngomong sambil nunduk. Padahal kan kebanyakan mata cowok tuh jelalatan kalo liat cewek. Tapi mereka lebih tertarik liatin sederet ubin sekolah yang ga selalu kinclong dan mengabaikan cewek bening di hadapan. Justru yang begitu kan yang bikin penasaran, bikin pengen cari perhatian sama mereka. Ga kaya Ahmad yang baru kenal dah sok akrab. Eh,, tapi dia kan calon ikhwan dan aku calon akhwat, ehemmm.”
Ama terus membatin dan memutar rekaman dalam memorinya. Ternyata ia punya kebiasan berdiri di depan teras kelasnya, mengamati apa saja yang bisa terlihat. Siswa yang bermain di lapangan, yang sedang hilir mudik menuju dan dari kantin, termasuk cara anak ROHIS bercakap – cakap dengan sesamanya.
                Biasanya mereka (anak ROHIS) berbicara dengan bergerombol, jarang ada ikhwan dan akhwat yang ngobrol berduaan saja. Mereka dekat tapi tidak saling menatap. Sama – sama menghadap ke arah lapangan, atau saling menyamping. Entah bagaimana bisa bicara tanpa menatap dalam suasana istirahat yang pasti ramai dengan riuh rendah suara para siswa.
                Meski ada senyum dan tawa kecil, biasanya mereka hanya bicara sebentar saja. Yang pasti menarik perhatian Ama adalah polah para ikhwan yang kharismatik. Bicara seperlunya, menjaga pandangan, menghormati perempuan plus penampilannya yang klimis, berjenggot tipis. Ah, sudahlah. Tidak salah kalau Farid menyebut banyak cowok ganteng di ROHIS.
                Jaminan ketulusan dalam hubungan pertemanan di ROHIS sangat menjanjikan. Selain ikhwan yang tampan, simpatik juga kharismatik, para akhwat juga tak kalah memesona. Jilbab lebar yang menebar pesona keanggunan selalu menarik perhatian Ama. Sudah lama Ama berfikir tentang mukena saat sholat dan pakaian terbuka yang iasa dikenakan wanita muslimah.
Banyak pertanyaan yang selama ini hanya berputar di kepalanya.
Kenapa saat sholat kita wajib menutup aurat pakai mukena, tapi dalam keseharian bebas terbuka ?
Apakah mukena, kerudung, baju tertutup hanya wajib dikenakan saat beribadah (sholat atau mengaji?)
Bagaimana sebenarnya aturan berpakaian bagi muslimah dalam Islam ?
“Kayanya bener gue harus masuk ROHIS. Mudah – mudahan pertanyaan gue bisa terjawab. Kata Farid kan kakak – kakak ROHIS sangat menerima para junior. Jadi gue bisa bebas nanya tanpa khawatir dimarahi, dianggap lancang, tdak punya adab dan seterusnya.” Mantap Ama memutuskan.
                Kantuk mulai menyergap. Ama melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jarum pendek jam berbentuk hati berwarna biru muda itu sudah menunjuk angka sembilan sementara jarum panjangnya menunjuk angka enam. “Wah tidak terasa. Sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal istirahatku. Pantesan ini radio udah sepi.” Ama berdialektika. Gegara fokus dengan ketampanan para ikhwan serta aneka daya tarik yang ada di ROHIS ia sampai tidak sadar kalau siaran radio favoritnya sudah berakhir. Dimatikannya radio juga lampu kamar.Kemudan beranjak ke peraduan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Have a nice dream Ama, jangan lupa berdoa.
                Sementara di sudut sebuah kamar, ada Ahmad yang tengah mencatat semua informasi yang disampaikan Farid tentang jurus jitu meraih hati Ama.
Ia tampak tersenyum puas menilik catatan yang baru saja diselesaikannya.
“Makasih banyak Farid. Mulai hari ini perjalanan cinta di mulai. Hehehehe. Dear Ama, aku akan berusaha menjadi asing buatmu, agar suatu saat nanti kamu siap menerima semua rasaku. Ya, Allah jadikanlah ia tempatku berlabuh. Aamiin.”  
 Diletakkannya buku catatan bersampul motif batik itu dalam tumpukkan buku yang tersusun rapi. Kemudian bersiap dengan ritual sebelum tidurnya. Sikat ggi, wudhu dan tak lupa, berpamitan pada ayah bundanya dengan mencium tangan mereka.


Teman Sehati * Best Friend Forever

Ada apa di ROHIS ?
        Pekan ini adalah batas terakhir bagi para siswa baru untuk menentukan pilihan ekskulnya. Ama belum menjatuhkan pilihan, ia masih menimbang. Ada beberapa ekskul yang ia minati. Ekskul beladiri sudah terdiskualifikasi karena Ama tidak mendapat izin dari bapaknya. Paskibra ? Meski tinggi badannya memenuh syarat, tapi Ama enggan berjemur di lapangan saat berlatih, apalagi sampai menjadi pusat perhatian saat nantinya menjadi petugas upacara. PMR ? Sejak mendapat informasi tentang survival di mana para peserta harus memakan cacing tanah, Ama bulat mengurungkan niatnya. KIR ?  ROHIS ?
“Rid”
“Ya”
“Lo kenapa milih ROHIS ?”
“Karena di ROHIS santai. Ga ada senioritas. Adik – adik yang baru gabung dilayani dengan sepenuh hati.”
“Masa iya ?”
 “Hu umh.”
“Emang ada apa aja di ROHIS ?”
“Ada banyak cowok ganteng, hahaha.”
“Serius ih” sentak Ama seraya menendang kursi tempat Farid duduk.
“Pis Ma, pis ... jadi di ROHS itu ada banyak kegiatan. Ada rujak party, ice cream party, ada ...”
“Kok party mulu, kapan seriusnya?”
“Dengerin dulu makanya jangan asal motong. Lanjut kaga ni?”
“Iya iya, sorry. Lanjut lah ...”
“Jadi di ROHIS itu ada program pekanan, bulanan dan tahunan. Pekanan ada mentoring, keputrian. Nanti yang ngajar tuh kakak alumni yang pada kuliah baik di PTN atau di PTS. Asik kan kita bisa banyak nanya, soal kiat sukses belajar di sini, info guru killer, pinjam buku, nanya dunia kampus, de el el. Nah tiap bulan tuh suka ada pelatihan atau seminar pengembangan diri. Yang tahunan itu ada program PHBI alias Perayaan Hari Besar Islam. Ada rihlah, dauroh, tafakur alam ke puncak dan masih banyak lagi.”
“Keren ya.”
“Banget. Biar lo ikutan keren kaya gue, gabung aja di ROHIS hehehe.”
“Gue percaya kalau ROHIS keren, tapi kalo elu... pret.”
“Lo ma gitu deh, sekali – kali apa nyenengin temen, bilang iya gitu.”
“Lah gua mah sesuai fakta aja, ga mau menipu.”
“Ya udah, jadi gimana ?”
“Lo punya formulirnya ga?”
“Nggak, ntar gue minta sama Ahmad.”
“Ahmad 1-7?”
“Iya. Kenal lo?”
“Emang kenapa ada sama dia formulirnya?”
“Kan dia dimintain tolong buat jadi perwakilan anak baru. Kalo lo dah kenal ya bisa langsung aja ke Ahmad.”
“Lo aja deh yang minta ntar gue yang ngisi.”
“Oke bos.”
        Saat jam istirahat tiba, Farid segera meluncur menuju kelas Ahmad. Tiba – tiba Ama teringat akan Yuyun yang adalah teman sekelasnya. “Dia kan hijaber, pasti ikut ROHIS. Kenapa ga nanya dia aja ya. Segala Farid diandelin. Dasar Ama dudul.” Segera Ama menghampiri Yuyun dan mengutarakan maksudnya. Namun sayang, Yuyun dipaksa ikut ekskul pramuka oleh kedua orang tuanya. Ya, sudahlah.
        Lima menit menjelang istirahat berakhir, Farid muncul diiringi Ahmad. Mereka langsung menuju kursi Ama.
“Assalamu’alaikum Ama ...” sapa Ahmad ramah
“Wa’alaikum salam. Mana formulirnya ?” jawab Ama to the point.
“Ini, bos.” Sigap Farid menyerahkan formulir yang diminta Ama.
“Alhamdulillah kamu ikut gabung. Dijamin bahagia selamanya deh. Jadi formulirnya diisi lengkap, jangan lupa tanda tangan orang tua dan pas foto berwarna ukuran 3x4 berwarna 1 lembar. Kalau buat saya ukuran 3R juga cukup buat di dompet.” Ahmad menjelaskan.
“Terima kasih.” Ama hanya menatap ke arah Ahmad tanpa merespon sedikitpun penjelasan yang diberikan. Lalu sibuk mengisi formulir tanpa memedulikan keberadaan Ahmad.
“Oke, karena sebentar lagi bel akan berbunyi, saya pamit dulu ya. Farid, titip jagain Ama ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Jawab Farid dan Ama kompak, hanya saja Farid menjawab dengan lisan sementara Ama menjawab dengan hati, ehh.
        “Ma, lu ga jawab salam si Ahmad “
“Jawab”
“Masa”
“Dalam hati.”
“Astaghfirullah.”
“Kenapa lu istghfar ? Salah gue ?”
“Kaga. Lu mah bener always, sumpah.”
“Nah, tu tau. Ya udah jangan ganggu gue ngisi formulir ntar keburu bel.”
        Ama tampak serius menulis. Farid berlalu ke luar kelas, menuju tempat sampah untuk membuang sampah bekas kemasan snack yang telah habis dimakannya.
“Rid”, panggil Ahmad yang ternyata masih berdiri di depan pintu kelasnya.
“Eh lu masih di sini ?”
“Iya. Gue mau minta nomor teleponnya Ama. Ngingetin die buat bawa formulir besok.”
“Udah lo ga usah cari penyakit. Dia ga suka cowok yang agresif. Kalo lo beneran naksir si Ama ntar gue ajarin jurusnye.”
“Ah sok tahu lo.”
“Ih ya udah kalo ga percaya. Kebanyakan bohong si lu jadi susah percaya sama orang. Hehehe.”
“Ye udeh kasih tau gue lo. Ntar pulang sekolah.
“E buset gesit amat lo. Besok aja sambil lo traktirin gue di kantin.”
“Ntar pulang sekolah, gue traktir lo somay di belakang Mitra.”
“Aseeek. Gitu dong. Deal”
        Bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Ahmad segera menuju kelasnya dengan semanngat 45, sementara Farid memasuki kelas dengan wajah sumringah, membayangkan somay idola yang sebentar lagi akan mampir di lidahnya. Somay ... I’m coming yuhuuuu.”
Usai bel pulang berbunyi, seluruh siswa berhamburan. Demkian halnya dengan Farid. Ia segera menuju gerbang sekolah menunggu Ahmad.
“Jadi, Mad?”
“Ayo...”
Kemudian mereka berjalan seiringan menuju warung somay idaman. Tanpa disadari, ada sepasang mata yang mengawasi gerak – gerik mereka.
“Awas kamu Farid kalau sampai memberikan nomorku pada Ahmad”, gumam Ama dalam hati.
“Oke jadi gimana caranya gue bisa meraih hatnya Ama ?”
“Seeet to the point amat lu ya, kaga pake prolog. Belom juga dateng tuh somay.”
“Sambil nunggu. Dari pada bengong, ye kan ?”
“Jadi gini, Ama itu anaknya kaku. Tegas cenderung galak, tapi kalu dah deket beda banget. Dia baik, perhatian, lucu dan pinternya itu loh, ngangenin, hehe.”
“Jangan bilang kalo lo naksir dia juga.”
“Mana berani gue. Tahu diri gue juga. Lagian enakan jadi temennya dia daripada demenan.”
“Ko gitu ?”
“Lah die tuh kaya macan. Bisa ngendus mana laki – laki yang tulus berteman mana yang modus. Yang ketahuan demen langsung di aumin, bagus kagak dicakar - cakar, hahahaha.”
Pesanan mereka datang. Dua porsi somay plus soda gembira dan jus mangga. Tanpa menunggu lama, Farid langsung menyambar pesanannya...
“Jangan lupa baca doa...” Ahmad mengingatkan.
“Tenang, khatam gue.” Jawab Farid setelah menelan kunyahan perdananya.
“Lanjut”
“Nah lo tahu ga si Bayu ? Dia pe de banget megang – megang tangannya si Ama. Otomatis dipiting tuh anak. Gue aje ngeri liatnye.”
“Emang Bayu suka juga ?”
“Ga tahu. Nggak lah, kan die punya demenan anak 1-8. Tami kalo ga salah namanya. Napa ? Et dah babang Amad cemburu ya ?” goda Farid seraya menyedot soda gembiranya.
“Nggak. Mau tau aja.”
“Nah abis kejadian itu, bang Rio yang pelatih ekskul taekwondo nelponin Ama.”
“Ngapain?”
“Minta maaf atas nama Bayu, katanya sih. Kan si Bayu murid die dari sejak SMP.”
“Oh gitu. Tapi menurut gue sih itu modus doang.”
“Persis. Orang gue suka liat doi ngawasin Ama. Dari tatapannya aje gue paham kalau itu mengandung rasa.”
“Uhuk uhuk uhuk...” Ahmad tersedak saat meminum jus mangganya.
“Sabar, Mad. Nyebut ... nih minum dulu.” Farid menyodorkan ar mineral. “Romannya ada yang serius nih. Serius mendamba cintanya, ciyeee....”
Ahmad tersenyum menatap Farid. Sekuat tenaga ia berusaha meredam dentuman dalam dadanya. Iya, setiap mendengar atau menyebut nama Ama, jantungnya jadi tak beraturan, jadi lebih hingar dari biasanya.
“Makanya lu bantuin gue.”
“Dah siap lo dengerin jurus meluluhkan hati Ama?”
“Siap gue. Siap lahir batin, beneran ...”
“Hahahhaa, gila, belum apa – apa dah lahir batin aje lo.”
“Hahahahahaha” keduanya tertawa kompak.

Obrolan serius terus berlanjut hingga tetes terakhir minuman masing- masing. Usai membersihkan seporsi somay, mereka sepakat untuk menyudahi obrolan dan bersiap kembali ke rumah masing – masing dengan angkutan umum yang selalu setia menanti.  

Kamis, 25 Juni 2020


*Catatan perjalanan 22

Setiap orang adalah pemeran utama dalam hidupnya. Menggantungkan diri atau mengandalkan orang lain hanya menghamburkan kesempatan yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Bertindak atas nama diri dan bertanggung jawablah.

#aJourneyToFourty




*Catatan perjalanan 23

Dalam setiap masalah yang mlibatkan dua orang atau lebih bisa dipastikan bahwa semua yang terlibat memiliki andil meski dengan porsi kesalahan yang berbeda. Tidak ada yang 100% benar dan tidak ada yang 100% salah. Kesadaran akan hal ini sangat penting sehingga kita tidak terjebak untuk saling menyalahkan, tapi fokus mencari solusi dan bertanggung jawab sesuai porsi kesalahan masing –masing.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 24

Tuhan, jika rasaku pada Shinta terlarang, mengapa kau bangun megah istana cinta di hatiku, Rahwana.
Kutipan yang sukses menarik perhatianku. Dan tulisan panjang mengajakku mengenal sisi lain sosok Rahwana yang selama ini ku kenal sebagai tokoh antagonis yang jahat tanpa rasa.
Tulisan itu menceritakan bagaimana Rahwana memerlakukan Shinta dengan penuh rasa.  
#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 25

Melibatkan perasaan dalam mengambil keputusan seringkali menghadirkan kekecewaan. Pun hanya mengandalkan pikiran hanya akan mengundang hidup yang gersang laksana padang tandus di musim kemarau. Lalu bagaimana seharusnya menyikapi masalah dan mengambil keputusan ? Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Semua dari allah dan kembalikan pada Allah, no baper, jelas kan ?

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 21

Di banyak lagu tentang cinta sudah bisa dipastikan akn bersanding dengan pengorbanan, kesetiaan dan juga pengkhanatan.
Sangat heroik mendengar beberapa syair tentang cinta, seperti :
Andai dipisah laut dan pantai, tak akan goyah gelora cinta
Demi cintaku padamu, ke gurun ku ikut denganmu biarpun harus berkorban jiwa dan raga...
Ahay...
Bagaimana dengan realita ?
Apakah bekerja demi menafkahi pujaan hati akan dilakoni sepenuh hati atau hanya sekedarnya saja ?
Apakah membantu pasangan yang belum mampu menafkahi dengan layak masih bisa jadi kebanggaan dan atau pilihan ?
Saat mendapati kekurangan pasangan, masihkah bertekad untuk terus membersamai ?
Ah, ternyata seringkali yang heroik diceritakan dalam syair itu hanya bentuk sederhana dalam hal nyata.

#aJourneyToFourty


*Catatan perjalanan 20

Kalau dipikir, garing juga sih kayanya ya. Hidup cuma di seputaran sekolah (kampus) – rumah aja, monoton. Beneran ga ada ketertarikan dengan cowok – cowok yang bertebaran di muka bumi? Ssssst, ya pasti ada dong, tapi semua under control, hehhehe. Sebatas tertarik lalu sudah, lewat dan terlupakan, tidak dipupuk dan dipelihara rasanya. Soalnya berat, biar orang lain aja yang merasakan. Aku mah cukup berat dengan ujian kalkulus kala itu, hiks. Urusan cinta, jodoh dan teman - temannya semua diserahkan kepada Allah. Saat itu aku yakin bahwa Allah sudah mengatur dan menyiapkan semua, aku tinggal menjalankan saja. Aku cuma merasa perlu taat, karena Allah tidak akan pernah menyia –nyiakan hambaNya yang taat. Selesai.

#aJourneyToFourty


Teman Sehati * Best Friend Forever

Pilih ekskul apa?

                Sebulan sudah berlalu dari insiden di kelas Ama. Sejak saat itu, semua teman sekelasnya paham bahwa Ama hanya menginginkan pertemanan, tidak meyukai sentuhan fisik secara sengaja dari makhluk bernama laki – laki. Banyak bunga yang layu sebelum berkembang saat menghadapi kenyataan itu, namun tak sedikit yang mulai menyusun strategi dan ada juga yang tetap melangsungkan agresi. Nekat.
                Sepekan setelah insiden, Ama mendapat telepon dari Rio yang adalah pelatih taekwondo di sekolahnya. Ia mengenalkan diri sebagai pelatih Bayu sedari zaman SMP dan mengaku mendapat nomor Ama dari Bayu. Otomatis Rio mengetahui kejadian Ama memelintir lengan Bayu. Hampir setiap pekan Rio menelpon Ama, dan ini adalah kali ketiga.   
“Jadi mau ikut ekskul apa ?”, tanya suara bass di ujung telepon
“ROHIS mungkin”, jawab Ama singkat.
“Kenapa nggak taekwondo aja ?”
“Kenapa harus taekwondo ?”
“Biar saya bisa latih kamu lah”
“Gimana – gimana maksudnya ?” Ama mendengus kesal.
“Becanda, Ma. Anak ROHIS yang saya kenal itu kurus – kurus, mungkin karena sering puasa Senin-Kamis, hehehe. Kamu kan udah lumayan kurus, kalau ikutan ntar tambah kurus.”
“Peduli banget jadi orang. Lagian tahu saya kurus dari mana ? Kita kan belum pernah bertemu ?”, jawab Ama dengan nada kesal. 
“Mudah saja. Saya kan sering melatih taekwondo ke sekolah. Hari Jum’at dan Sabtu saya ke sana. Tipe kamu iiu mudah dikenali, bahkan hanya mendengar cerita Bayu aja saya sudah tahu seperti apa kamu.” Jelas Rio dengan bangga.
“Ngeri banget ya, kaya dukun. Atau ka Rio memata – matai saya ya?” selidik Ama.
“Hehehehe. Nyelidik sih nggak, cuma cari tahu aja. Kamu suka menghabiskan waktu di teras kelasmu kan ? Melihat ke arah lapangan tapi tidak jelas mencari atau melihat siapa. Merenung sendiri sambil ngemil atau sekedar memegang tiang besi, ya kan ?”
“Oh, terserah deh. O iya sudah sepuluh menit nih, ka. Ka Rio kan sudah tahu jawaban saya, teleponnya juga mau dipake sama kaka saya. Jadi udah dulu ya, ka’. Assalamu’alaikum” Ama semena – semena, memutus sambungan telepon tanpa basa basi, tanpa perasaan. Ya, begitulah Ama.
Baru saja Ama berdiri meninggalkan kursi telepon dan hendak menuju kamarnya, dering telepon kembali terdngar.
“Ma, angkat telepon sekalian.” Seru kakaknya.
“Lo aja deh, Mas. Ntar si Rio lagi, males gue.”
“Ka Rio. Sopan dikit sama yang tua – an, ehem. Udah angkat cepetan” Goda kaka semata wayangnya.
Dengan malas akhirnya Ama kembali duduk dan mengangkat telepon.”
“Ya, halo.”
“Ama, ini saya lagi.”
“Ya ampun ka Rio. Mau nanya apalagi sih ?”
“Ga papa, Cuma mau bilang  masuk ROHIS pilihan bagus biar kamu jadi istri sholiha.”
“Jauh amat mikirnya.”
“Harus. Karena saya calon imam, jadi harus jauh berpikiran ke depan.”
“Ga nanya tuh.”
“Ngasih tahu. Kan asik kalau punya calon istri sholiha.”
“Maksudnya ?”
“Ga ada maksud apa – apa. Udah ya, slamat istrahat Ama. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Dasar sableng.” Gumam Ama sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Kriiiiiiinggggg
“Bodo, pokoknya gue ga mau ngangkat lagi. Gue mau ngerjain Pe Er.” Teriak Ama dari dalam kamar.
“Halo, Ama? Dari siapa ? Oh Tary, sebentar ya.”
Tiba – tiba Ama sudah berada di kursi telepon dan menyambar gagang telepon di tangan kakaknya.
“Katanya mau ngerjain Pe Er, alamat gosip ini mah.” Seru kakaknya kembali menggoda. Di balas dengan juluran lidah oleh Ama.
Pembicaran telepon itu berlangsung selama dua puluh menit tentang banyak hal. Mulai dari membahas Pe Er untuk besok, hingga keusilan saudara mereka masing – masing. Begitulah mereka. Seharian bersama di sekolah sepertinya belum cukup bagi keduanya.
                Usai menelpon, Ama tidak segera beranjak seperti biasa. Ia masih duduk dan menyandarkan kepalanya di dinding yang menempel dengan kursi telepon.
“Napa lo, Ma?” tanya kakaknya seraya mengunyah keripik singkong.
“Ga papa, Mas.” Beranjak ikut mengambil keripik dari kakaknya.
“Eh, Rio itu siapa ?”
“Pelatih taekwondo.”
“Kakak kelas?”
“Alumni”
“Alumni ? Ko bisa kenal ?”
“Ya, maklum namanya juga artis, terkenal lah hahahaha.”
“Serius ih.”
                Ama tidak dapat menghindar. Ia terpaksa menceritakan insiden dengan Bayu. Kakaknya mendengarkan dengan seksama sambil berlomba menghabiskan keripik di piring yang ia pegang.
“Kayanya Rio serius naksir lo ya, Ma.”
“Sok tahu.”
“Ya udah jelas Ama. Buat apa dia repot – repot nelponin elu. Segala ngasih tahu rahasia bahwa akan lanjut S2 di Bandung, bla bla bla. Dan yang terakhir barusan, apa dia bilang ?”
“Harus. Karena saya calon imam, jadi harus jauh berpikiran ke depan. Kan asik kalau punya calon istri sholiha.” Ama menirukan ucapan Rio di telepon tadi.
“Nah nah itu kode dodol.”
“Masa iya?”
“Lo tuh bego dah kalo urusan beginian, gue jagonya. Lu mah cuma jago di akademis doang, payah.”
Ama mengerucutkan bibirnya.
“Saran gue nih, kakak lo yang ketampanannya menyaingi artis paling keren se-Indonesia Raya  hehehehe ... kalo lu terima telpon si Rio artinya lu kasih dia harapan. Kalo lu ga mau, blang ke dia kaga usah nelpon lagi.”
“Iya.”
“Saran gue, lu terima aje si Rio. Keren kan. Jago taekwondo, terdidik pula.”
“Ga ah, gue mau fokus belajar, biar ibu sama bapak senang dan ga nyesel punya anak. Cukup lu aja yang kerjaannya bolak balik soal asmara  hahahahaha. Gue mah mau nunggu pangeran yang khusus datang melamar ...”
“Pangeran kodok. Udah ni bawa piring kotor ke dapur, cuci sekalian.”

Selasa, 23 Juni 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Sentuhan petaka

                Usai masa orientasi, kegatan belajar mengajar mulai berjalan dengan normal. Tak terasa hampir satu bulan Ama resmi menggunakan seragam putih abu. Ia pun mulai akrab dan terbiasa dengan teman – teman barunya. Saat itu  bel tanda jam istirahat dimulai telah berbunyi. Namun sebagian besar siswa di kelas satu empat masih enggan beranjak. Masing – masing sibuk dengan obrolan beragam tema.
Ada yang membahas tentang kegiatan ekstra kurikuler yang akan dipilih. Soal jajanan di kantin, tentang pelajaran Fisika yang baru saja berakhir. Tentang gebetan, jerawat, angkutan umum dan seterusnya.
                Begitupun dengan Ama yang sedang asik berbincang dengan teman yang duduk peris di kursi yang ada di hadapannya, Herdianto dan Farid. Plus Ajat yang sedang mempromosikan kegiatan ekskul pilihannya, ekskul musik. Ada tiga kubu yang sedang promosi di situ. Herdianto mengususng paskibra, Ajat mengusung musik dan Farid dengn ROHISnya. Ama menjadi pendengar setia, ia serius memerhatikan tiga juru kampanye di hadapan. Hingga tiba – tiba Bayu menghampiri lalu duduk di kursi Tary yang tengah ditinggal penghuninya entah kemana. Bayu duduk persis di sebelah Ama dan tanpa basa – basi ia meletakkan sepenuh lengannya di atas tangan Ama yang sedang memeluk meja.
                Ama refleks bangkit, menarik tangannya lalu memelintir pergelangan tangan Bayu hingga si empunya tangan meringis kesakitan.
“Amaaa sakiiit, aw ampun,” cowok setinggi 170-an senti itu meringis.
“Ama! Istighar eh”, seru Farid.
“Ama...” seru Ajat dan Herdianto kompak.
Sejurus kemudian seisi kelas menghampiri te ka pe (hehehehe).        
Sadar jadi pusat perhatian Ama melepaskan kuncian tangannya, lalu menghempaskan tangan Bayu dengan keras.
“Jangan pernah pegang – pegang gue. Ngerti, lo ?” hardik Ama kepada Bayu.
“Ya ela Ama, gitu doang.” Kilah Bayu
“Gitu doang gitu doang. Lo bisa pegang cewek lain, tapi gue nggak. Buat gue itu kesalahan dan lo harus minta maaf sama gue.”
Bayu menatap Ama, ada kesal yang harus ia lampiaskan. Otaknya sibuk menyusun dalil pembelaan diri. Ia nyaris memberondong Ama dengan peluru kata, tepat saat Ajat yang mulai paham membaca situasi mendekati Bayu lalu membekap mulutnya dan membisikkan seuatu di telinga Bayu. Ajat khawatir kalau pembelaan diri Bayu malah akan membuat Ama kembali naik darah.
“Ya udah gue minta maaf”, akhirnya Bayu mengalah.
                Ama menjatuhkan dirinya ke kursi kayu. Menatap sekeliling seraya mengatur nafas dan mengendalikan amarahnya. Perlahan penghuni satu empat kembali ke posisi masing – masing dan kembali larut dalam obrolan. Sebagian meninggalkan kelas, dan sebagian lagi ada yang diam – diam membahas insiden yang baru saja terjadi dan sebagian kecil mendatangi Bayu. Tidak ada yang berani menegur Ama. Hanya Herdianto dan Farid yang berusaha menyabar – nyabari Ama.
“Minum, Ma ... nih.” Seru Farid sambil menyodorkan segelas air mineral.
“Udah ah, Ma. Serem gue liat lo kaya gitu.” Ucap Herdianto dengan mimik serius.
Setelah merasa tenang Ama mendatangi Bayu yang masih meringis memegangi pergelangan tangannya. Melihat itu, seisi kelas menghentikan obrolan, suasana langsung menjadi hening, rasanya kalau ada sebuah jarum jatuh akan terdengar saat ia menyentuh lantai. Hanya terdengar langkah Ama ditingkahi detak jantung dan belasan pasang mata yang mengawasi.
“Bay”
“Apaan lagi, Ma?”
“Maafin gue. Nih jel anti memar buat tangan lo.”
Kembali Bayu menatap Ama, kemudian mengambil jel yang disodorkan Ama.
“Gue dimaafin ga?’
“Iye. Sama – sama.”
“ALHAMDULILLAH”, mulut - mulut yang sedari tadi menahan nafas dan tak henti merapal itighfar, kompak bersyukur.
“Jangan diulang lagi ya. Gue ga suka. Trus balikin jelnya kalo tangan lo dah ga sakit.” Ama berseru seraya menatap Bayu dan menunjuk jel yang baru saja ia serahkan.
“Ya elah, Ma ... kirain buat gue, hehehhe” canda Bayu mencoba mencairkan suasana, yang hanya dibalas seulas senyum oleh Ama.
                Begitulah endingnya. Bersyukur tidak terjadi pertumpahan darah ya, saudara –saudara sekalian. Di balik peristiwa yang baru saja terjadi, ada rasa terselip di sudut hati Bayu. Sebuah rasa yang entah dengan cara apa bisa ia ungkapkan.
“Ama ...” mulut Bayu begitu saja memanggil sebuah nama yang kini memiliki tempat istimewa di satu sudut hatinya. “Masih boleh nyontek PR kan?”
Yang dipanggil hanya menoleh, lalu tersenyum dan memberikan jempol kanannya sebagai tanda setuju.
Ada bunga bersemi dalam sebuah hati. Dudududududu, syubidam dam dam.


Teman Sehati * Best Friend Forever

Mencari Mushola

                Allohu Akbar llohu Akbar ...!
Kumandang adzan Zuhur bertalu mengiringi langkah Ama menuju kelasnya. Bergegas Ama menaiki tangga. Tiba di lantai dua, ia mengambil arah kiri dengan setengah berlari. Matanya menuju ke arah pintu kelas satu empat yang sudah terlihat. Sayangnya ia tidak menyadari kalau pintu satu kelas yang tengah dilaluinya terbuka dari dalam kelas dan seseorang keluar tepat saat ia melangkah, daaaan
BRAKKK
“Astaghfirullah. Aduh sakit jidat gue”
“Eh, aduh, maaf ya, gue ngga sengaja. Elo sih lagian jalan ga lihat – lihat.”, seru seorang siswa berkaca mata yang baru saja keluar dari kelas.
“E buset ko jadi gue yang salah sih... Lu tuh bukannya minta maaf malah ngajak ribut. Untung dah adzan Zuhur, kalo nggak gue panjangin nih urusan”, seru Ama seraya menabrak bahu si cowok dengan sengaja kemudian berlalu menuju kelasnya yang hanya berjarak beberapa langkah. Tinggallah Syauty, cowok yang barusan disenggol Ama termangu seorang diri. Mungkin sedang meresapi alunan suara adzan yang masih berkumandang sambil memulihkan kesadaran setelah ditabrak barusan, hehehe.
                “Ga jadi foto, Ma?”, tanya Tary saat melihat Ama masuk kelas.
“Udah kelar. Sholat yu”
“Makan dulu lah, laper gue.”
“Males ah. Sakit jidat gue nih.”
“Ow em ji, ko bisa ada telor puyuh di jidat lo.”
“Iya, kena pintu di kelas sebelah. Gue mau sholat trus langsung pulang. Lu kalo mau makan dulu, ke kantin sendiri ya, gue balik duluan.”
“Iye deh. Btw lo tahu di mana musholanya ?”
“Belum. Lo ?”
“Ehm ... makanya gaul. Itu fungsinya deketin ka Fadli, bisa tanya – tanya di mana mushola...”
“Serah lo. Sekarang cepet kasih tahu di mana Mushollanya.” perintah Ama memotong Tary yang masih ingin menceritakan pengalamannya.
“Oke. Jadi lo bisa turun lewat tangga yang arah kantin. Cuma ntar dari tangga lo langsung belok kiri, kalo kanan berarti lo mau nemenin gue makan ye kan ye kan ...”
“Gue duluan. Assalamu’alaikum.”
“Dasar Ama. Wa’alaikum salam. Bae – bae nyasar hehehe”
                Ama bergegas keluar kelasnya lalu menyusuri kelas demi kelas hingga sampai di tangga menuju kantn. Gesit ia menuruni tangga lalu mengambil arah kiri sesuai petunjuk Tary. Ama mengikuti jalan tanpa petunjuk arah itu. Ia mulai ragu saat menemui pintu kayu kecil berlapis seng. Dalam hati ia bertanya, apa iya ini arah menuju mushola ? Masa sempit jalannya ? Pintunya juga sangat tidak meyakinkan. Ama menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang yang juga hendak menuju Mushola. Nihil. Setengah ragu ia memutuskan untuk mendorong pintu kayu berlapis seng itu perlahan dan pada saat bersamaan pintu juga ditarik dari arah berlawanan hingga tubuh Ama ikut tertarik. Ama terkejut lalu segera melepas pegangan tangannya.
“Oh, maaf ya, dek ...” sapa seseorang di balik pintu dengan seulas senyum menghias wajahnya.
Ama tertegun. Ia seperti mengenal sosok itu.
“De... kamu ga papa kan? Ada yang terluka ? sosok itu menyapa lagi. Senyum di bibirnya telah berganti raut khawatir.
“Eh oh emmh ... ga papa, kaka. Saya mau nyari mushola.” Jawab Ama menyembunyikan debaran dalam dadanya yang mirip debur ombak saat pasang. Ohohoho jantungku tolong bekerja samalah, pekik Ama dalam hati.
“Oh, dari sini kamu bisa langsung mengikuti jalan setapak hehehe, sampe deh ke mushola tujuan. Silakan.” Sosok di balik pintu memberi jalan untuk Ama.
“Eng, ya makasih kaka. Permisi ...” Entah kenapa Ama tiba-tiba merasa begitu malu. Pipinya mungkin sudah bersemu merah. Sesegera mungkin ia langkahkan kakinya namun hatiya enggan melangkah, ia menjerit memanggil sosok itu untuk menemani langkahnya, ups.
                Sepertinya nyeri di dahi sudah tidak lagi dirasakan Ama. Ia tengah memikirkan sesosok di balik pintu yang tadi ditemuinya. Sambil melipat mukena dan sajadah, Ama bertanya – tanya gerangan siapa dia. Rasa-rasanya tidak asing, seperti pernah bertemu.
“Aha!!! Mas Irinnn!!! Pekiknya dalam hati. Mas Irin versi anak SMA, hehehe. Mirip sangat, cuma beda di rambut aja. Astaghfirullah. Amaaaa....ingat ya fokus belajar. Ef-o-ka-u-es.
                Alih – alih bergegas pulang, Ama justru berlama – lama di mushola. Ia tertarik melihat - lihat mading musholla. Ada beberapa arikel dan foto terpampang di situ.
“O...jadi si kaka itu ketua ROHIS, Lutfi ya, namanya. Hmm Ka Lutfi, hehehe...” celoteh Ama riang dalam hati. Saat asik mengamati foto – foto, Ama tergoda oleh harum ketoprak. Ia mencari dari mana harum itu berasal. Dilihatnya sebuah adegan fenomenal, saat beberapa hijaber sedang mengambil ketoprak melalui celah pagar mushola. Menarik, pikir Ama. Rupanya dari sini sumber bau harumnya.
“Pak, satu ya.”, tanpa ragu Ama berteriak memesan ketoprak seraya memberi isyarat dengan jari telunjuknya.
Semua yang ada di mushola kompak mengarahkan pandangan kepada Ama, membuat gadis yang seringkali urakan ini kembali merona.
“Eh, maaf semuanya ...” seru Ama seraya mundur dan merasa ingin masuk ke dalam tumpukan mukena yang sepertinya hendak dicuci.
                “Siswi baru ya?” sapa seorang hijaber, sepertinya kaka kelas Ama.
“Iya, ka. Maaf saya berisik...hehehe”
“Ga papa. Namanya juga belum tahu ya, kan? Sini duduk bareng kami...”
Malu – malu Ama duduk bersama para hijaber itu. Mereka belum memulai makan, menunggu pesanan Ama datang. Sambil menunggu ketoprak, mereka berkenalan dan para kakak kelas itu menceritakan tentang adab di mushola ini secara bergantian.
Noted ya Ama ya, cateeet, jangan sampe bikin malu again!
Manggil tukang ketoprak cukup ketok pagar.
Mau bicara sama ikhwan di balik dinding, manggilnya ? pukul (pelan-pelan) tiang hijab, sambil ucap salam, 3x aja.
Kalo ngomong sama ikhwan harus nunduk, jaga pandangan alias gadul ...ehmm gadul apa yak? Gadul basor? Auk ah, besok- besok aja nanya lagi, sekarang mah iya aja biar cepet huhuhu.
Lewat depan mushola ga usah clingak clinguk, langsung aja masuk area akhwat.
Jangan centil buka – buka hijab untuk cari tahu siapa yang lagi ngobrol
And so on
And so on
And so on.
Alhamdulillah ketoprak tiba sebelum Ama kehilangan selera makan.

***
                Acara makan selesai dengan bahagia. Ama ditraktir ... horeee rezeki anak sholihah. Saat hendak pulang pun ia bertemu sahabatnya yang baru saja selesai menunaikan sholat.
“Ama, gue kira lo dah pulang dari tadi.”
“Kaga. Kan gue peduli sama lo. Ntar lo diculik gimana hayoo.”
“Pret ah. Let’s go. Be te we tadi lu lama amat pas foto. Gue aje cuman sepuluh menit dah sama antri. Lu foto di London ampe berjam – jam ?”
“Hahaha. Gue mampir dulu naik Gondola.” Jawab Ama asal.
‘Laga lu” seru Tary seraya mendorong bahu Ama. Begitulah kalau dua sahabat itu bersama, sangat kompak dan romantis, hihihi.
Sepanjang perjalanan menuju jalan raya, Ama menceritakan petualangannya tanpa Tary. Mulai dari pertemuan dengan para hijaber, kejedot pintu sampai pertemuan tak terencana dengan mas Irin kawe, hehehe. Tary tak hanya menjadi pendengar setia, sesekali ia menimpali dan menertawakan Ama.
“Parah lo, Ma. Untung kepseknya baik... Trus tu siapa yang bikin telor puyuh mendarat di jidaat lo?”
“Entah, ga sempet kenalan gue.”
“Emang lo serius mikirin mas Irin?”
“Ya kagak lah. Orangnya juga dah balik mondok. Tahu sampe kapan. Gue Cuma suka liatin dia aja kok. Alim banget. Zaman sekarang kan susah yang kaya gitu. Nah , gue pengen punya imam kaya gitu, bawa selamet dunia akhirat.”
“Berarti sekarang demenan lo sang ketua ROHIS dong? Siapa namanya Lutfi?”
“Ya jelas bukan dong ... tahu diri gue mah. Lo ga lihat mba – mba berjilbab di mushola tadi? Cantik – cantik, anggun, sholiha ... lah gue. Udah ah.”
“Masa seorang Ama yang beraninya kaya singa tiba – tiba melempem kaya kerupuk ga laku sih ?”
“Tar, lo masih inget kan omongan gue?”
“Soal apa?”
“Kalo gue pengen nikah sama orang yang ga pernah gue kenal sebelumnya. Orang asing yang memang sengaja datang meminta gue untuk jadi pendampingnya...”
“Iya inget. Itu kenapa kan lo selalu bikin garis buat temen-temen cowok yang merapat. Kalau mau berteman dan bersahabat silakan, yang mau suka –sukaan ...silakan ....keluar dari hidup gue hahahaha.”
“Nah ... itu prinsip gue.”
“Kali berubah pas SMA”
“Nggak, belom niat gue.”
“Gue takut kalo lo beneran dapet orang asing...”
“Ye bagus kan, bisa keluar negeri.”
“Maksud gue bukan itu, tapi alien, makhluk asing hahahaha.”
“Hahahaha”   
Tak terasa mereka sudah berada dalam mikrolet yang siap mengantar pulang. Gelak tawa mewarnai perjalanan hingga tiba saatnya Tary turun mendahului Ama.
“Gue duluan. Lo yang bayar ongkosnya ya.”
“Beres. Hati – hati lo.”

Senin, 22 Juni 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever
   
Perkenalan
               
                Hari ini seluruh siswa baru diminta hadir ke sekolah untuk mengikuti brifing guna persiapan masa orientasi. Usai mengikuti apel di lapangan sekolah, semua siswa baru menuju kelasnya masing – masing. Di sana telah menanti kakak pengurus OSIS yang menjadi pendamping kelas mereka.
“Baik semuanya, Assalamu’alaikum, perkenalkan saya Fadli yang akan mendampingi kalian selama masa orientasi selama 3 hari mulai hari Senin hingga Rabu ya. Kalian bisa panggil saya ka Fadli. Oke, sekarng kita kenalan ya. Caranya begini. Kaka akan memberikan spidol kepada teman kalian yang ada di depan ini. Lalu dia, siapa nama kamu ?”
“Woro, ka”
“DanKamu?”, tanya ka Fadli kepada siswi yang duduk di sebelah Woro.  
“Ima ka”
“Iya, lalu Woro akan menerimanya sambil berkata : Saya Woro, saya terima spidol ini dari ka Fadli. Selanjutnya saya serahkan spidol in kepada teman sebelah saya, Ima. Begitu seterusnya. Paham ya ?”
Seisi kelas mulai tampak gelisah.
“Ga enak yang belakang dong, ka ?” tanya Farid
“Iya, ka. Banyak banget yang disebutnya.”, Bayu menimpali.
“Ya, itu sudah resiko. Tapi tenang aja, kita bermain per baris ya, jadi ga terlalu banyak. Siap ya ...”
 “Okeee” jawab mereka serentak. Permainanpun dimulai.
Semua bersiap untuk bermain. Menyimak nama teman – temannya dan memerhatikan ke mana arah spidol ditujukan. Kurang lebih 20 menit permainan berlangsung dengan seru, lalu berlanjut dengan sesi penugasan dan tanya jawab.
“Oke semuanya, perhatikan ya, di sini sudah tertulis barang - barang yang harus kalian bawa untuk hari Senin. Silakan dicatat.” Seru ka Fadli seraya memperlihatkan tulisan di white board.
1.       Putih abu – abu, sepatu htam, dasi, topi
2.       Baju hitam lengan panjang
3.       Bawa bekal makan siang
4.       ATK
5.       Baju olah raga
Kumpul & absen maksimal pukul 06.00 + kumpulkan teka – teki :
a.       Pipa rapat
b.       Buah upacara
c.       Buah lewat
d.       Permen jorok
e.       Pisang 1 sisir
f.        Minum di puncak
g.       Snack planet
Berkali – kali Ama mengernyitkan dahi. Ia mencoba mencerna teka – teki yang diberikan. “Teka – teki macam apa ini?”, rutuknya dalam hati. Ditengoknya Tary yang tampak santuy memecahkan teka – teki.
“Tar”
“Hmmmh”
“Lo tahu jawabannya?”
“Nggak”
“Trus lo lagi nulis apaan ?”
Tari mengarahkan pandangannya ke arah Ama lalu setengah berbisik ia menjawab, “gue lagi mengabadikan pemandangan indah.”
Ama segera merebut buku Tary. “Gila lu”
“Ya,ampun Ama ... lo ga tertarik apa lihat ka Fadli. Hidungnya ya ampun. Suaranya aduuuh...
“Bodo. Ayo jawab teka – tekinya. Itu dah ada yang selesai kayanya.”
“Ya elah Ama, gitu doang. Nih gue dah jawab tiga. Sisanya lo yang jawab ya.
a.        Pipa rapat (Fullo)
b.       Buah upacara (Apel)
c.       Buah lewat (Mangga)
“Barengan lah satu nomor lagi ...”
d.       Permen jorok (pemen kaki)
e.       Pisang 1 sisir (pisang + sisir@1)
f.        Minum di puncak (teh pucuk)
“Snack planet nih. Apaan ya ? Tary ya ampuuun lo dengerin gue ga sih ? Hadeeeeuh.” Ama menempelkan bukunya ke wajah Tary yang tengah asik menyisir wajah ka Fadli.
“Eh, oh ... hehehehe. Apa ya ? Makanan kucing kali ya.”
“Ya kali kita disuruh makan snack kucing. Tadi kan petunjuknya ini bisa dimakan manusia.”
“Sori gue ga fokus, Ma.”
“Ya iyalah, fokus lu sama idungnya ka Fadli aja sih. Dasar ...”
“Nah, gue tahu ... yuhu, itu snack yang bisa dimakan adek gue. French fries, gambarnya kan planet tuh.”
“Oh iya, pinter.”
“Makasih. Ini kayanya karena ka Fadli deh otak gue jadi encer kek gini.”

“Ah, lebay lu. Dah selesai nih, kita ke ruang foto yu.”
“Lo aje duluan, gue mau nanya ka Fadli dulu, kali aja dapat bonus nomor telepon doi, hihihi.”
“Modus lu. Ya udah gue duluan.”
Ama bergegas menuju ruang foto meninggalkan Tary yang sibuk tebar pesona di depan ka Fadli. Ruang foto yang di maksud cukup dekat dari kelas Ama. Dari kejauhan sudah tampak barisan yang cukup panjang. Ama melihat sekelompok hijaber berkerumun, tampak sedang membahas masalah serius. Posisi Ama berdiri memungkinkan ia mendengar percakapan para hijaber yang berjumlah sekitar lima orang itu.
“Anti bagaimana ukhty, sudah foto belum?”
“Ana masih ragu kalau harus membuka kerudung dan memperlihatkan telinga ana.”
“Iya ya, masa aturannya begtu sih, aneh.”
  “Oh, jadi mereka ga boleh pakai kerudung toh. Ko’ kayanya ga adil ya. Masa iya cuma untuk foto mereka harus buka kerudung ? ”, Ama bergumam dalam hati...
“Ehem...eh, hmmm, Assalamu’alaikum ...” sapa Ama memberanikan diri.
“Wa’alaikum salam wa rohmatullah wa barokatuh...” jawab para hijaber kompak.
“Engngng, kenalin gue Ama. Maaf tadi ga sengaja nguping, hehehe.” Ama salah tingkah.
“Pupu”, jawab hijaber yang beralis tebal dan senyum yang indah.
“Nunun”, jawab satunya dengan kalem.
“Ani”, menjawab dengan malu – malu.
“Yuyun”, hijaber yang tampak sangat ramah.
“Zulfa”, menjawab dengan sangat anggun.
Ow ow ow ... Ama berasa adem melihat senyum ramah mereka. Berasa dalam cooler, pikirnya. Nyess.
“Tadi gue denger kalian ga bisa foto kalo ga kelihatan kuping ya?”
“Iya” jawab Nunun.
“Kenapa ga maksa ?”
“Maksudnya ?”, tanya Zulfa
“Ya, maksa foto tetep pake jilbab.”
“Kalau ga boleh ?” sanggah Ani
“Ya, namanya juga maksa, harus boleh lah. Kalau perlu panggil ortu, panggil aja sekalian.” Jelas Ama bersemangat..
 Para hijaber saling memandang lalu memutuskan untuk tetap berjilbab saat foto. Ama sengaja ikut mengantri bersama mereka, kalau – kalau mereka perlu bantuan, hehehe. Dasar sok jagoan. Kayanya Ama lupa pesan bapaknya, untuk tidak mencampuri urusan orang.
Dugaan Ama benar. Sang fotografer menolak memfoto mereka dengan jilbab. Mereka harus menghadap bagian kesiswaan untuk mendapatkan rekomendasi. Sementara Ama telah selesai difoto.
“Ama ... fotografernya minta surat rekomendasi dari kesiswaan baru kita difoto.” Keluh Pupu.
“Ya udah, ayo ke sana. Biar jelas apa alasannya harus buka jlbab segala.”
“Ayo, maksudnya kamu ikut???” tanya Yuyun
“Iya. Kenapa ? Ga boleh karena aku ga berjilbab kaya kalian?”, tanya Ama.
“Emmmh, enggak, bukan gitu.” Yuyun merasa bersalah
“Maksudnya, kami heran kenapa kamu mau bantu kami, padahal kan kamu dah foto tadi?”, jelas Zulfa. “Oh, itu karena aku ga suka aja lihat ketidakadilan di depan mata. Ya udah kita berangkat sekarang aja, jangan buang waktu.”
Di ruang kesiswaan, mereka diceramahi oleh pembina OSIS, eh tepatnya dihakimi. Bayangkan, mereka anak baru yang imut – imut itu ga cuma menghadapi satu guru, tapi tiga sekaligus, ajib.
“Kalian perlu tahu ya, ini sekolah negeri. Bukan sekolah agama. Kalau mau pake baju begini masuk sekolah agama aja sana.”
“Kami punya aturan sendiri. Dari dulu, untuk foto rapot dan buku induk itu lengkap mengambil wajah termasuk telinga dan leher siswa, sebaga identitas.”
“Ini lagi yang ga pake jlbab, kenapa ikutan menghadap segala?”
Merasa disindir, Ama mencari asal suara. Ia melihat bapak Guru berbadan tegap dengan rambut plontos. Ama menarik nafas lalu mulai bicara.
“Apakah kami sudah boleh bicara dan menjawab pertanyaan bapak dan ibu guru sekalian ?”, sekuat mungkin ia menata bicaranya agar terdengar sopan dan tidak terdengar menantang.
 “Silakan. Sudah hampir tiga puluh menit kami bicara sekarang gilirn kalian.” Jawab si bapak plontos.
“Baik, terima kasih. Bapak ibu yang saya hormati, pertama – tama saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menyampaikan keluhan. Kedua, soal jilbab itu kan bagian dari pengamalan sila pertama dalam Pancasila, KeTuhanan Yang Maha Esa. Apa iya sekolah melarang siswanya menjalankan nilai – nilai Pancasila? Kedua, maaf nih, bapak ibu guru, berhubung ujian kelulusan SMP belum terlalu lama, saya masih ingat betul isi UUD. Ada pasal khusus yang menjamin kemerdekaan setiap pemeluk agama untuk beribadah dan mengamalkan ajaran agamanya masing – masing. Tidak usah saya sebukan pasalnya tentu bapa dan ibu guru sekalian lebih paham dari kami – kami yang masih bertatus pelajar ini. Ketiga, apa iya kalau tetap berjilbab mereka jadi tidak dikenali identitasnya ? Saya saja yang barusan kenal mereka, sudah bisa membedakan mana yang bernama Pupu, Nunun, Zulfa, Yuyun dan Ani. Jadi, kami mohon bapak ibu sekalian bersedia kiranya memenuhi permintaan kami.” Papar Ama penuh percaya diri.
Prok prok prok.
Tepat setelah Ama mengakhiri pidatonya (ciyeeee) seorang lelaki berwibawa memasuki ruangan dan memberikan standing applause untuk Ama.
“Bapak ...” seru ketiga orang Guru yang sedari tadi mendengarkan Ama setengah hati.
“Cukup. Saya sudah mendengar anak ini bicara. Bagus kita mendapatkan siswa yang cerdas dan berkarakter. Pak Miwar, segera buatkan surat rekomendasi untuk anak – anak ini dan sekaligus aturan foto yang mewajibkan buka jilbab, saya cabut.” Seru pak Rohim yang ternyata adalah kepala sekolah kami.
“Alhamdulillah ....” ucap kami merasa lega.
“Terima kasih, pak.” Seru para hijaber kompak seraya menelungkupkan tangan sebagai tanda ucapan terima kasih. Sementara Ama kadung meraih tangan sang kepsek untuk salim padanya.
Dengan rona ceria, mereka meninggalkan ruang sidang eh ruang kesiswaan langsung menuju tempat foto.
“Ama, terima kasih ya. Kamu keren banget, masya Allah.”
“Ah, Pupu. Kalian yang hebat, gue jadi malu. Terima kasih juga sudah mau gue recokin, hehehe. Ya udah kalian foto sana. Gue mau balik ke kelas.”
“Anti kelas berapa, Ama?”, tanya Ani
“satu empat”
“Wah sekelas dong kita”, ujar Yuyun berbinar.
“Masa iya ?”
“Iya, tadi ana duduk di baris ke tiga, pojok kanan.”
“Oke, sampai jumpa...”
“Assalamu’alaikum Ama ...”
“Wa’alaikum salam.”