Teman
Sehati * Best Friend Forever
Perkenalan
Hari
ini seluruh siswa baru diminta hadir ke sekolah untuk mengikuti brifing guna
persiapan masa orientasi. Usai mengikuti apel di lapangan sekolah, semua siswa
baru menuju kelasnya masing – masing. Di sana telah menanti kakak pengurus OSIS
yang menjadi pendamping kelas mereka.
“Baik semuanya, Assalamu’alaikum, perkenalkan saya
Fadli yang akan mendampingi kalian selama masa orientasi selama 3 hari mulai
hari Senin hingga Rabu ya. Kalian bisa panggil saya ka Fadli. Oke, sekarng kita
kenalan ya. Caranya begini. Kaka akan memberikan spidol kepada teman kalian
yang ada di depan ini. Lalu dia, siapa nama kamu ?”
“Woro, ka”
“DanKamu?”, tanya ka Fadli kepada siswi yang duduk di
sebelah Woro.
“Ima ka”
“Iya, lalu Woro akan menerimanya sambil berkata : Saya
Woro, saya terima spidol ini dari ka Fadli. Selanjutnya saya serahkan spidol in
kepada teman sebelah saya, Ima. Begitu seterusnya. Paham ya ?”
Seisi kelas mulai tampak gelisah.
“Ga enak yang belakang dong, ka ?” tanya Farid
“Iya, ka. Banyak banget yang disebutnya.”, Bayu menimpali.
“Ya, itu sudah resiko. Tapi tenang aja, kita bermain
per baris ya, jadi ga terlalu banyak. Siap ya ...”
“Okeee” jawab
mereka serentak. Permainanpun dimulai.
Semua bersiap untuk bermain.
Menyimak nama teman – temannya dan memerhatikan ke mana arah spidol ditujukan.
Kurang lebih 20 menit permainan berlangsung dengan seru, lalu berlanjut dengan sesi
penugasan dan tanya jawab.
“Oke semuanya, perhatikan ya, di sini sudah tertulis barang
- barang yang harus kalian bawa untuk hari Senin. Silakan dicatat.” Seru ka Fadli
seraya memperlihatkan tulisan di white board.
1.
Putih
abu – abu, sepatu htam, dasi, topi
2.
Baju hitam
lengan panjang
3.
Bawa bekal
makan siang
4.
ATK
5.
Baju
olah raga
Kumpul & absen maksimal pukul 06.00 +
kumpulkan teka – teki :
a. Pipa rapat
b. Buah upacara
c. Buah lewat
d. Permen jorok
e. Pisang 1 sisir
f.
Minum di
puncak
g. Snack planet
Berkali – kali Ama mengernyitkan
dahi. Ia mencoba mencerna teka – teki yang diberikan. “Teka – teki macam apa ini?”,
rutuknya dalam hati. Ditengoknya Tary yang tampak santuy memecahkan teka –
teki.
“Tar”
“Hmmmh”
“Lo tahu jawabannya?”
“Nggak”
“Trus lo lagi nulis apaan ?”
Tari mengarahkan pandangannya ke arah Ama lalu setengah
berbisik ia menjawab, “gue lagi mengabadikan pemandangan indah.”
Ama segera merebut buku Tary. “Gila lu”
“Ya,ampun Ama ... lo ga tertarik apa lihat ka Fadli.
Hidungnya ya ampun. Suaranya aduuuh...
“Bodo. Ayo jawab teka – tekinya. Itu dah ada yang
selesai kayanya.”
“Ya elah Ama, gitu doang. Nih gue dah jawab tiga. Sisanya
lo yang jawab ya.
a. Pipa rapat
(Fullo)
b. Buah upacara (Apel)
c. Buah lewat (Mangga)
“Barengan lah satu nomor lagi ...”
d. Permen jorok (pemen kaki)
e. Pisang 1 sisir (pisang + sisir@1)
f.
Minum di
puncak (teh pucuk)
“Snack planet nih. Apaan ya ? Tary ya ampuuun lo
dengerin gue ga sih ? Hadeeeeuh.” Ama menempelkan bukunya ke wajah Tary yang
tengah asik menyisir wajah ka Fadli.
“Eh, oh ... hehehehe. Apa ya ? Makanan kucing kali
ya.”
“Ya kali kita disuruh makan snack kucing. Tadi kan
petunjuknya ini bisa dimakan manusia.”
“Sori gue ga fokus, Ma.”
“Ya iyalah, fokus lu sama idungnya ka Fadli aja sih. Dasar
...”
“Nah, gue tahu ... yuhu, itu snack yang bisa dimakan
adek gue. French fries, gambarnya kan planet tuh.”
“Oh iya, pinter.”
“Makasih. Ini kayanya karena ka Fadli deh otak gue
jadi encer kek gini.”
“Ah, lebay lu. Dah selesai nih, kita ke ruang foto
yu.”
“Lo aje duluan, gue mau nanya ka Fadli dulu, kali aja
dapat bonus nomor telepon doi, hihihi.”
“Modus lu. Ya udah gue duluan.”
Ama bergegas menuju ruang foto
meninggalkan Tary yang sibuk tebar pesona di depan ka Fadli. Ruang foto yang di
maksud cukup dekat dari kelas Ama. Dari kejauhan sudah tampak barisan yang
cukup panjang. Ama melihat sekelompok hijaber berkerumun, tampak sedang
membahas masalah serius. Posisi Ama berdiri memungkinkan ia mendengar
percakapan para hijaber yang berjumlah sekitar lima orang itu.
“Anti bagaimana ukhty, sudah foto belum?”
“Ana masih ragu kalau harus membuka kerudung dan memperlihatkan
telinga ana.”
“Iya ya, masa aturannya begtu sih, aneh.”
“Oh,
jadi mereka ga boleh pakai kerudung toh. Ko’ kayanya ga adil ya. Masa iya cuma
untuk foto mereka harus buka kerudung ? ”, Ama bergumam dalam hati...
“Ehem...eh, hmmm, Assalamu’alaikum ...” sapa Ama
memberanikan diri.
“Wa’alaikum salam wa rohmatullah wa barokatuh...”
jawab para hijaber kompak.
“Engngng, kenalin gue Ama. Maaf tadi ga sengaja
nguping, hehehe.” Ama salah tingkah.
“Pupu”, jawab hijaber yang beralis tebal dan senyum
yang indah.
“Nunun”, jawab satunya dengan kalem.
“Ani”, menjawab dengan malu – malu.
“Yuyun”, hijaber yang tampak sangat ramah.
“Zulfa”, menjawab dengan sangat anggun.
Ow ow ow ... Ama berasa adem melihat senyum ramah
mereka. Berasa dalam cooler, pikirnya. Nyess.
“Tadi gue denger kalian ga bisa foto kalo ga
kelihatan kuping ya?”
“Iya” jawab Nunun.
“Kenapa ga maksa ?”
“Maksudnya ?”, tanya Zulfa
“Ya, maksa foto tetep pake jilbab.”
“Kalau ga boleh ?” sanggah Ani
“Ya, namanya juga maksa, harus boleh lah. Kalau perlu
panggil ortu, panggil aja sekalian.” Jelas Ama bersemangat..
Para hijaber saling memandang lalu memutuskan
untuk tetap berjilbab saat foto. Ama sengaja ikut mengantri bersama mereka,
kalau – kalau mereka perlu bantuan, hehehe. Dasar sok jagoan. Kayanya Ama lupa
pesan bapaknya, untuk tidak mencampuri urusan orang.
Dugaan Ama benar. Sang fotografer
menolak memfoto mereka dengan jilbab. Mereka harus menghadap bagian kesiswaan
untuk mendapatkan rekomendasi. Sementara Ama telah selesai difoto.
“Ama ... fotografernya minta surat rekomendasi dari
kesiswaan baru kita difoto.” Keluh Pupu.
“Ya udah, ayo ke sana. Biar jelas apa alasannya harus
buka jlbab segala.”
“Ayo, maksudnya kamu ikut???” tanya Yuyun
“Iya. Kenapa ? Ga boleh karena aku ga berjilbab kaya
kalian?”, tanya Ama.
“Emmmh, enggak, bukan gitu.” Yuyun merasa bersalah
“Maksudnya, kami heran kenapa kamu mau bantu kami,
padahal kan kamu dah foto tadi?”, jelas Zulfa. “Oh, itu karena aku ga suka aja
lihat ketidakadilan di depan mata. Ya udah kita berangkat sekarang aja, jangan
buang waktu.”
Di ruang kesiswaan, mereka
diceramahi oleh pembina OSIS, eh tepatnya dihakimi. Bayangkan, mereka anak baru
yang imut – imut itu ga cuma menghadapi satu guru, tapi tiga sekaligus, ajib.
“Kalian perlu tahu ya, ini sekolah negeri. Bukan
sekolah agama. Kalau mau pake baju begini masuk sekolah agama aja sana.”
“Kami punya aturan sendiri. Dari dulu, untuk foto rapot
dan buku induk itu lengkap mengambil wajah termasuk telinga dan leher siswa, sebaga
identitas.”
“Ini lagi yang ga pake jlbab, kenapa ikutan menghadap
segala?”
Merasa disindir, Ama mencari asal
suara. Ia melihat bapak Guru berbadan tegap dengan rambut plontos. Ama menarik
nafas lalu mulai bicara.
“Apakah kami sudah boleh bicara dan menjawab
pertanyaan bapak dan ibu guru sekalian ?”, sekuat mungkin ia menata bicaranya
agar terdengar sopan dan tidak terdengar menantang.
“Silakan.
Sudah hampir tiga puluh menit kami bicara sekarang gilirn kalian.” Jawab si
bapak plontos.
“Baik, terima kasih. Bapak ibu yang saya hormati,
pertama – tama saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada
kami untuk menyampaikan keluhan. Kedua, soal jilbab itu kan bagian dari
pengamalan sila pertama dalam Pancasila, KeTuhanan Yang Maha Esa. Apa iya
sekolah melarang siswanya menjalankan nilai – nilai Pancasila? Kedua, maaf nih,
bapak ibu guru, berhubung ujian kelulusan SMP belum terlalu lama, saya masih
ingat betul isi UUD. Ada pasal khusus yang menjamin kemerdekaan setiap pemeluk
agama untuk beribadah dan mengamalkan ajaran agamanya masing – masing. Tidak
usah saya sebukan pasalnya tentu bapa dan ibu guru sekalian lebih paham dari
kami – kami yang masih bertatus pelajar ini. Ketiga, apa iya kalau tetap
berjilbab mereka jadi tidak dikenali identitasnya ? Saya saja yang barusan
kenal mereka, sudah bisa membedakan mana yang bernama Pupu, Nunun, Zulfa, Yuyun
dan Ani. Jadi, kami mohon bapak ibu sekalian bersedia kiranya memenuhi
permintaan kami.” Papar Ama penuh percaya diri.
Prok prok prok.
Tepat setelah Ama mengakhiri pidatonya (ciyeeee)
seorang lelaki berwibawa memasuki ruangan dan memberikan standing applause untuk
Ama.
“Bapak ...” seru ketiga orang Guru yang sedari tadi
mendengarkan Ama setengah hati.
“Cukup. Saya sudah mendengar anak ini bicara. Bagus
kita mendapatkan siswa yang cerdas dan berkarakter. Pak Miwar, segera buatkan
surat rekomendasi untuk anak – anak ini dan sekaligus aturan foto yang
mewajibkan buka jilbab, saya cabut.” Seru pak Rohim yang ternyata adalah kepala
sekolah kami.
“Alhamdulillah ....” ucap kami merasa lega.
“Terima kasih, pak.” Seru para hijaber kompak seraya
menelungkupkan tangan sebagai tanda ucapan terima kasih. Sementara Ama kadung
meraih tangan sang kepsek untuk salim padanya.
Dengan rona ceria, mereka
meninggalkan ruang sidang eh ruang kesiswaan langsung menuju tempat foto.
“Ama, terima kasih ya. Kamu keren banget, masya
Allah.”
“Ah, Pupu. Kalian yang hebat, gue jadi malu. Terima
kasih juga sudah mau gue recokin, hehehe. Ya udah kalian foto sana. Gue mau
balik ke kelas.”
“Anti kelas berapa, Ama?”, tanya Ani
“satu empat”
“Wah sekelas dong kita”, ujar Yuyun berbinar.
“Masa iya ?”
“Iya, tadi ana duduk di baris ke tiga, pojok kanan.”
“Oke, sampai jumpa...”
“Assalamu’alaikum Ama ...”
“Wa’alaikum salam.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar