Senin, 22 Juni 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever
   
Perkenalan
               
                Hari ini seluruh siswa baru diminta hadir ke sekolah untuk mengikuti brifing guna persiapan masa orientasi. Usai mengikuti apel di lapangan sekolah, semua siswa baru menuju kelasnya masing – masing. Di sana telah menanti kakak pengurus OSIS yang menjadi pendamping kelas mereka.
“Baik semuanya, Assalamu’alaikum, perkenalkan saya Fadli yang akan mendampingi kalian selama masa orientasi selama 3 hari mulai hari Senin hingga Rabu ya. Kalian bisa panggil saya ka Fadli. Oke, sekarng kita kenalan ya. Caranya begini. Kaka akan memberikan spidol kepada teman kalian yang ada di depan ini. Lalu dia, siapa nama kamu ?”
“Woro, ka”
“DanKamu?”, tanya ka Fadli kepada siswi yang duduk di sebelah Woro.  
“Ima ka”
“Iya, lalu Woro akan menerimanya sambil berkata : Saya Woro, saya terima spidol ini dari ka Fadli. Selanjutnya saya serahkan spidol in kepada teman sebelah saya, Ima. Begitu seterusnya. Paham ya ?”
Seisi kelas mulai tampak gelisah.
“Ga enak yang belakang dong, ka ?” tanya Farid
“Iya, ka. Banyak banget yang disebutnya.”, Bayu menimpali.
“Ya, itu sudah resiko. Tapi tenang aja, kita bermain per baris ya, jadi ga terlalu banyak. Siap ya ...”
 “Okeee” jawab mereka serentak. Permainanpun dimulai.
Semua bersiap untuk bermain. Menyimak nama teman – temannya dan memerhatikan ke mana arah spidol ditujukan. Kurang lebih 20 menit permainan berlangsung dengan seru, lalu berlanjut dengan sesi penugasan dan tanya jawab.
“Oke semuanya, perhatikan ya, di sini sudah tertulis barang - barang yang harus kalian bawa untuk hari Senin. Silakan dicatat.” Seru ka Fadli seraya memperlihatkan tulisan di white board.
1.       Putih abu – abu, sepatu htam, dasi, topi
2.       Baju hitam lengan panjang
3.       Bawa bekal makan siang
4.       ATK
5.       Baju olah raga
Kumpul & absen maksimal pukul 06.00 + kumpulkan teka – teki :
a.       Pipa rapat
b.       Buah upacara
c.       Buah lewat
d.       Permen jorok
e.       Pisang 1 sisir
f.        Minum di puncak
g.       Snack planet
Berkali – kali Ama mengernyitkan dahi. Ia mencoba mencerna teka – teki yang diberikan. “Teka – teki macam apa ini?”, rutuknya dalam hati. Ditengoknya Tary yang tampak santuy memecahkan teka – teki.
“Tar”
“Hmmmh”
“Lo tahu jawabannya?”
“Nggak”
“Trus lo lagi nulis apaan ?”
Tari mengarahkan pandangannya ke arah Ama lalu setengah berbisik ia menjawab, “gue lagi mengabadikan pemandangan indah.”
Ama segera merebut buku Tary. “Gila lu”
“Ya,ampun Ama ... lo ga tertarik apa lihat ka Fadli. Hidungnya ya ampun. Suaranya aduuuh...
“Bodo. Ayo jawab teka – tekinya. Itu dah ada yang selesai kayanya.”
“Ya elah Ama, gitu doang. Nih gue dah jawab tiga. Sisanya lo yang jawab ya.
a.        Pipa rapat (Fullo)
b.       Buah upacara (Apel)
c.       Buah lewat (Mangga)
“Barengan lah satu nomor lagi ...”
d.       Permen jorok (pemen kaki)
e.       Pisang 1 sisir (pisang + sisir@1)
f.        Minum di puncak (teh pucuk)
“Snack planet nih. Apaan ya ? Tary ya ampuuun lo dengerin gue ga sih ? Hadeeeeuh.” Ama menempelkan bukunya ke wajah Tary yang tengah asik menyisir wajah ka Fadli.
“Eh, oh ... hehehehe. Apa ya ? Makanan kucing kali ya.”
“Ya kali kita disuruh makan snack kucing. Tadi kan petunjuknya ini bisa dimakan manusia.”
“Sori gue ga fokus, Ma.”
“Ya iyalah, fokus lu sama idungnya ka Fadli aja sih. Dasar ...”
“Nah, gue tahu ... yuhu, itu snack yang bisa dimakan adek gue. French fries, gambarnya kan planet tuh.”
“Oh iya, pinter.”
“Makasih. Ini kayanya karena ka Fadli deh otak gue jadi encer kek gini.”

“Ah, lebay lu. Dah selesai nih, kita ke ruang foto yu.”
“Lo aje duluan, gue mau nanya ka Fadli dulu, kali aja dapat bonus nomor telepon doi, hihihi.”
“Modus lu. Ya udah gue duluan.”
Ama bergegas menuju ruang foto meninggalkan Tary yang sibuk tebar pesona di depan ka Fadli. Ruang foto yang di maksud cukup dekat dari kelas Ama. Dari kejauhan sudah tampak barisan yang cukup panjang. Ama melihat sekelompok hijaber berkerumun, tampak sedang membahas masalah serius. Posisi Ama berdiri memungkinkan ia mendengar percakapan para hijaber yang berjumlah sekitar lima orang itu.
“Anti bagaimana ukhty, sudah foto belum?”
“Ana masih ragu kalau harus membuka kerudung dan memperlihatkan telinga ana.”
“Iya ya, masa aturannya begtu sih, aneh.”
  “Oh, jadi mereka ga boleh pakai kerudung toh. Ko’ kayanya ga adil ya. Masa iya cuma untuk foto mereka harus buka kerudung ? ”, Ama bergumam dalam hati...
“Ehem...eh, hmmm, Assalamu’alaikum ...” sapa Ama memberanikan diri.
“Wa’alaikum salam wa rohmatullah wa barokatuh...” jawab para hijaber kompak.
“Engngng, kenalin gue Ama. Maaf tadi ga sengaja nguping, hehehe.” Ama salah tingkah.
“Pupu”, jawab hijaber yang beralis tebal dan senyum yang indah.
“Nunun”, jawab satunya dengan kalem.
“Ani”, menjawab dengan malu – malu.
“Yuyun”, hijaber yang tampak sangat ramah.
“Zulfa”, menjawab dengan sangat anggun.
Ow ow ow ... Ama berasa adem melihat senyum ramah mereka. Berasa dalam cooler, pikirnya. Nyess.
“Tadi gue denger kalian ga bisa foto kalo ga kelihatan kuping ya?”
“Iya” jawab Nunun.
“Kenapa ga maksa ?”
“Maksudnya ?”, tanya Zulfa
“Ya, maksa foto tetep pake jilbab.”
“Kalau ga boleh ?” sanggah Ani
“Ya, namanya juga maksa, harus boleh lah. Kalau perlu panggil ortu, panggil aja sekalian.” Jelas Ama bersemangat..
 Para hijaber saling memandang lalu memutuskan untuk tetap berjilbab saat foto. Ama sengaja ikut mengantri bersama mereka, kalau – kalau mereka perlu bantuan, hehehe. Dasar sok jagoan. Kayanya Ama lupa pesan bapaknya, untuk tidak mencampuri urusan orang.
Dugaan Ama benar. Sang fotografer menolak memfoto mereka dengan jilbab. Mereka harus menghadap bagian kesiswaan untuk mendapatkan rekomendasi. Sementara Ama telah selesai difoto.
“Ama ... fotografernya minta surat rekomendasi dari kesiswaan baru kita difoto.” Keluh Pupu.
“Ya udah, ayo ke sana. Biar jelas apa alasannya harus buka jlbab segala.”
“Ayo, maksudnya kamu ikut???” tanya Yuyun
“Iya. Kenapa ? Ga boleh karena aku ga berjilbab kaya kalian?”, tanya Ama.
“Emmmh, enggak, bukan gitu.” Yuyun merasa bersalah
“Maksudnya, kami heran kenapa kamu mau bantu kami, padahal kan kamu dah foto tadi?”, jelas Zulfa. “Oh, itu karena aku ga suka aja lihat ketidakadilan di depan mata. Ya udah kita berangkat sekarang aja, jangan buang waktu.”
Di ruang kesiswaan, mereka diceramahi oleh pembina OSIS, eh tepatnya dihakimi. Bayangkan, mereka anak baru yang imut – imut itu ga cuma menghadapi satu guru, tapi tiga sekaligus, ajib.
“Kalian perlu tahu ya, ini sekolah negeri. Bukan sekolah agama. Kalau mau pake baju begini masuk sekolah agama aja sana.”
“Kami punya aturan sendiri. Dari dulu, untuk foto rapot dan buku induk itu lengkap mengambil wajah termasuk telinga dan leher siswa, sebaga identitas.”
“Ini lagi yang ga pake jlbab, kenapa ikutan menghadap segala?”
Merasa disindir, Ama mencari asal suara. Ia melihat bapak Guru berbadan tegap dengan rambut plontos. Ama menarik nafas lalu mulai bicara.
“Apakah kami sudah boleh bicara dan menjawab pertanyaan bapak dan ibu guru sekalian ?”, sekuat mungkin ia menata bicaranya agar terdengar sopan dan tidak terdengar menantang.
 “Silakan. Sudah hampir tiga puluh menit kami bicara sekarang gilirn kalian.” Jawab si bapak plontos.
“Baik, terima kasih. Bapak ibu yang saya hormati, pertama – tama saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menyampaikan keluhan. Kedua, soal jilbab itu kan bagian dari pengamalan sila pertama dalam Pancasila, KeTuhanan Yang Maha Esa. Apa iya sekolah melarang siswanya menjalankan nilai – nilai Pancasila? Kedua, maaf nih, bapak ibu guru, berhubung ujian kelulusan SMP belum terlalu lama, saya masih ingat betul isi UUD. Ada pasal khusus yang menjamin kemerdekaan setiap pemeluk agama untuk beribadah dan mengamalkan ajaran agamanya masing – masing. Tidak usah saya sebukan pasalnya tentu bapa dan ibu guru sekalian lebih paham dari kami – kami yang masih bertatus pelajar ini. Ketiga, apa iya kalau tetap berjilbab mereka jadi tidak dikenali identitasnya ? Saya saja yang barusan kenal mereka, sudah bisa membedakan mana yang bernama Pupu, Nunun, Zulfa, Yuyun dan Ani. Jadi, kami mohon bapak ibu sekalian bersedia kiranya memenuhi permintaan kami.” Papar Ama penuh percaya diri.
Prok prok prok.
Tepat setelah Ama mengakhiri pidatonya (ciyeeee) seorang lelaki berwibawa memasuki ruangan dan memberikan standing applause untuk Ama.
“Bapak ...” seru ketiga orang Guru yang sedari tadi mendengarkan Ama setengah hati.
“Cukup. Saya sudah mendengar anak ini bicara. Bagus kita mendapatkan siswa yang cerdas dan berkarakter. Pak Miwar, segera buatkan surat rekomendasi untuk anak – anak ini dan sekaligus aturan foto yang mewajibkan buka jilbab, saya cabut.” Seru pak Rohim yang ternyata adalah kepala sekolah kami.
“Alhamdulillah ....” ucap kami merasa lega.
“Terima kasih, pak.” Seru para hijaber kompak seraya menelungkupkan tangan sebagai tanda ucapan terima kasih. Sementara Ama kadung meraih tangan sang kepsek untuk salim padanya.
Dengan rona ceria, mereka meninggalkan ruang sidang eh ruang kesiswaan langsung menuju tempat foto.
“Ama, terima kasih ya. Kamu keren banget, masya Allah.”
“Ah, Pupu. Kalian yang hebat, gue jadi malu. Terima kasih juga sudah mau gue recokin, hehehe. Ya udah kalian foto sana. Gue mau balik ke kelas.”
“Anti kelas berapa, Ama?”, tanya Ani
“satu empat”
“Wah sekelas dong kita”, ujar Yuyun berbinar.
“Masa iya ?”
“Iya, tadi ana duduk di baris ke tiga, pojok kanan.”
“Oke, sampai jumpa...”
“Assalamu’alaikum Ama ...”
“Wa’alaikum salam.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar