Selasa, 23 Juni 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Sentuhan petaka

                Usai masa orientasi, kegatan belajar mengajar mulai berjalan dengan normal. Tak terasa hampir satu bulan Ama resmi menggunakan seragam putih abu. Ia pun mulai akrab dan terbiasa dengan teman – teman barunya. Saat itu  bel tanda jam istirahat dimulai telah berbunyi. Namun sebagian besar siswa di kelas satu empat masih enggan beranjak. Masing – masing sibuk dengan obrolan beragam tema.
Ada yang membahas tentang kegiatan ekstra kurikuler yang akan dipilih. Soal jajanan di kantin, tentang pelajaran Fisika yang baru saja berakhir. Tentang gebetan, jerawat, angkutan umum dan seterusnya.
                Begitupun dengan Ama yang sedang asik berbincang dengan teman yang duduk peris di kursi yang ada di hadapannya, Herdianto dan Farid. Plus Ajat yang sedang mempromosikan kegiatan ekskul pilihannya, ekskul musik. Ada tiga kubu yang sedang promosi di situ. Herdianto mengususng paskibra, Ajat mengusung musik dan Farid dengn ROHISnya. Ama menjadi pendengar setia, ia serius memerhatikan tiga juru kampanye di hadapan. Hingga tiba – tiba Bayu menghampiri lalu duduk di kursi Tary yang tengah ditinggal penghuninya entah kemana. Bayu duduk persis di sebelah Ama dan tanpa basa – basi ia meletakkan sepenuh lengannya di atas tangan Ama yang sedang memeluk meja.
                Ama refleks bangkit, menarik tangannya lalu memelintir pergelangan tangan Bayu hingga si empunya tangan meringis kesakitan.
“Amaaa sakiiit, aw ampun,” cowok setinggi 170-an senti itu meringis.
“Ama! Istighar eh”, seru Farid.
“Ama...” seru Ajat dan Herdianto kompak.
Sejurus kemudian seisi kelas menghampiri te ka pe (hehehehe).        
Sadar jadi pusat perhatian Ama melepaskan kuncian tangannya, lalu menghempaskan tangan Bayu dengan keras.
“Jangan pernah pegang – pegang gue. Ngerti, lo ?” hardik Ama kepada Bayu.
“Ya ela Ama, gitu doang.” Kilah Bayu
“Gitu doang gitu doang. Lo bisa pegang cewek lain, tapi gue nggak. Buat gue itu kesalahan dan lo harus minta maaf sama gue.”
Bayu menatap Ama, ada kesal yang harus ia lampiaskan. Otaknya sibuk menyusun dalil pembelaan diri. Ia nyaris memberondong Ama dengan peluru kata, tepat saat Ajat yang mulai paham membaca situasi mendekati Bayu lalu membekap mulutnya dan membisikkan seuatu di telinga Bayu. Ajat khawatir kalau pembelaan diri Bayu malah akan membuat Ama kembali naik darah.
“Ya udah gue minta maaf”, akhirnya Bayu mengalah.
                Ama menjatuhkan dirinya ke kursi kayu. Menatap sekeliling seraya mengatur nafas dan mengendalikan amarahnya. Perlahan penghuni satu empat kembali ke posisi masing – masing dan kembali larut dalam obrolan. Sebagian meninggalkan kelas, dan sebagian lagi ada yang diam – diam membahas insiden yang baru saja terjadi dan sebagian kecil mendatangi Bayu. Tidak ada yang berani menegur Ama. Hanya Herdianto dan Farid yang berusaha menyabar – nyabari Ama.
“Minum, Ma ... nih.” Seru Farid sambil menyodorkan segelas air mineral.
“Udah ah, Ma. Serem gue liat lo kaya gitu.” Ucap Herdianto dengan mimik serius.
Setelah merasa tenang Ama mendatangi Bayu yang masih meringis memegangi pergelangan tangannya. Melihat itu, seisi kelas menghentikan obrolan, suasana langsung menjadi hening, rasanya kalau ada sebuah jarum jatuh akan terdengar saat ia menyentuh lantai. Hanya terdengar langkah Ama ditingkahi detak jantung dan belasan pasang mata yang mengawasi.
“Bay”
“Apaan lagi, Ma?”
“Maafin gue. Nih jel anti memar buat tangan lo.”
Kembali Bayu menatap Ama, kemudian mengambil jel yang disodorkan Ama.
“Gue dimaafin ga?’
“Iye. Sama – sama.”
“ALHAMDULILLAH”, mulut - mulut yang sedari tadi menahan nafas dan tak henti merapal itighfar, kompak bersyukur.
“Jangan diulang lagi ya. Gue ga suka. Trus balikin jelnya kalo tangan lo dah ga sakit.” Ama berseru seraya menatap Bayu dan menunjuk jel yang baru saja ia serahkan.
“Ya elah, Ma ... kirain buat gue, hehehhe” canda Bayu mencoba mencairkan suasana, yang hanya dibalas seulas senyum oleh Ama.
                Begitulah endingnya. Bersyukur tidak terjadi pertumpahan darah ya, saudara –saudara sekalian. Di balik peristiwa yang baru saja terjadi, ada rasa terselip di sudut hati Bayu. Sebuah rasa yang entah dengan cara apa bisa ia ungkapkan.
“Ama ...” mulut Bayu begitu saja memanggil sebuah nama yang kini memiliki tempat istimewa di satu sudut hatinya. “Masih boleh nyontek PR kan?”
Yang dipanggil hanya menoleh, lalu tersenyum dan memberikan jempol kanannya sebagai tanda setuju.
Ada bunga bersemi dalam sebuah hati. Dudududududu, syubidam dam dam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar