Teman
Sehati * Best Friend Forever
Sentuhan petaka
Usai
masa orientasi, kegatan belajar mengajar mulai berjalan dengan normal. Tak
terasa hampir satu bulan Ama resmi menggunakan seragam putih abu. Ia pun mulai
akrab dan terbiasa dengan teman – teman barunya. Saat itu bel tanda jam istirahat dimulai telah berbunyi.
Namun sebagian besar siswa di kelas satu empat masih enggan beranjak. Masing –
masing sibuk dengan obrolan beragam tema.
Ada yang membahas tentang kegiatan ekstra kurikuler
yang akan dipilih. Soal jajanan di kantin, tentang pelajaran Fisika yang baru
saja berakhir. Tentang gebetan, jerawat, angkutan umum dan seterusnya.
Begitupun
dengan Ama yang sedang asik berbincang dengan teman yang duduk peris di kursi
yang ada di hadapannya, Herdianto dan Farid. Plus Ajat yang sedang
mempromosikan kegiatan ekskul pilihannya, ekskul musik. Ada tiga kubu yang
sedang promosi di situ. Herdianto mengususng paskibra, Ajat mengusung musik dan
Farid dengn ROHISnya. Ama menjadi pendengar setia, ia serius memerhatikan tiga
juru kampanye di hadapan. Hingga tiba – tiba Bayu menghampiri lalu duduk di
kursi Tary yang tengah ditinggal penghuninya entah kemana. Bayu duduk persis di
sebelah Ama dan tanpa basa – basi ia meletakkan sepenuh lengannya di atas
tangan Ama yang sedang memeluk meja.
Ama
refleks bangkit, menarik tangannya lalu memelintir pergelangan tangan Bayu hingga
si empunya tangan meringis kesakitan.
“Amaaa sakiiit, aw ampun,” cowok setinggi 170-an
senti itu meringis.
“Ama! Istighar eh”, seru Farid.
“Ama...” seru Ajat dan Herdianto kompak.
Sejurus kemudian seisi kelas menghampiri te ka pe
(hehehehe).
Sadar jadi pusat perhatian Ama melepaskan kuncian
tangannya, lalu menghempaskan tangan Bayu dengan keras.
“Jangan pernah pegang – pegang gue. Ngerti, lo ?”
hardik Ama kepada Bayu.
“Ya ela Ama, gitu doang.” Kilah Bayu
“Gitu doang gitu doang. Lo bisa pegang cewek lain,
tapi gue nggak. Buat gue itu kesalahan dan lo harus minta maaf sama gue.”
Bayu menatap Ama, ada kesal yang
harus ia lampiaskan. Otaknya sibuk menyusun dalil pembelaan diri. Ia nyaris
memberondong Ama dengan peluru kata, tepat saat Ajat yang mulai paham membaca
situasi mendekati Bayu lalu membekap mulutnya dan membisikkan seuatu di telinga
Bayu. Ajat khawatir kalau pembelaan diri Bayu malah akan membuat Ama kembali
naik darah.
“Ya udah gue minta maaf”, akhirnya Bayu mengalah.
Ama
menjatuhkan dirinya ke kursi kayu. Menatap sekeliling seraya mengatur nafas dan
mengendalikan amarahnya. Perlahan penghuni satu empat kembali ke posisi masing
– masing dan kembali larut dalam obrolan. Sebagian meninggalkan kelas, dan
sebagian lagi ada yang diam – diam membahas insiden yang baru saja terjadi dan
sebagian kecil mendatangi Bayu. Tidak ada yang berani menegur Ama. Hanya
Herdianto dan Farid yang berusaha menyabar – nyabari Ama.
“Minum, Ma ... nih.” Seru Farid sambil menyodorkan
segelas air mineral.
“Udah ah, Ma. Serem gue liat lo kaya gitu.” Ucap Herdianto
dengan mimik serius.
Setelah merasa tenang Ama
mendatangi Bayu yang masih meringis memegangi pergelangan tangannya. Melihat
itu, seisi kelas menghentikan obrolan, suasana langsung menjadi hening, rasanya
kalau ada sebuah jarum jatuh akan terdengar saat ia menyentuh lantai. Hanya
terdengar langkah Ama ditingkahi detak jantung dan belasan pasang mata yang
mengawasi.
“Bay”
“Apaan lagi, Ma?”
“Maafin gue. Nih jel anti memar buat tangan lo.”
Kembali Bayu menatap Ama, kemudian mengambil jel yang
disodorkan Ama.
“Gue dimaafin ga?’
“Iye. Sama – sama.”
“ALHAMDULILLAH”, mulut - mulut yang sedari tadi
menahan nafas dan tak henti merapal itighfar, kompak bersyukur.
“Jangan diulang lagi ya. Gue ga suka. Trus balikin
jelnya kalo tangan lo dah ga sakit.” Ama berseru seraya menatap Bayu dan
menunjuk jel yang baru saja ia serahkan.
“Ya elah, Ma ... kirain buat gue, hehehhe” canda Bayu
mencoba mencairkan suasana, yang hanya dibalas seulas senyum oleh Ama.
Begitulah
endingnya. Bersyukur tidak terjadi pertumpahan darah ya, saudara –saudara sekalian.
Di balik peristiwa yang baru saja terjadi, ada rasa terselip di sudut hati Bayu.
Sebuah rasa yang entah dengan cara apa bisa ia ungkapkan.
“Ama ...” mulut Bayu begitu saja memanggil sebuah nama
yang kini memiliki tempat istimewa di satu sudut hatinya. “Masih boleh nyontek
PR kan?”
Yang dipanggil hanya menoleh, lalu tersenyum dan memberikan
jempol kanannya sebagai tanda setuju.
Ada bunga bersemi dalam sebuah hati. Dudududududu, syubidam
dam dam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar