“Kami ingatkan kepada seluruh kaum muslimin, lima menit lagi kita akan memasuki waktu imsak. Untuk para teteh di kos-an sebelah, bangun teh, sahur!”
Sementara di kos-an yang di maksud Aa marbot masih senyap. Tak tampak tanda – tanda kegaduhan sahur. Semua masih berselimut setelah jadual Qiyamul Lail terlalu pagi (karena ada yang salah nyetel weker, jam 01.00 dini hari doi sudah meraung – raung). Walhasil, agenda tilawah berganti dengan rebah berjamaah.
“Hooaaaahhhmmmm” Rina memaksa untuk membuka matanya yang terasa sangat rapat. Tiba – tiba dua bola indahnya membesar, melihat jam yang kini menunjuk pukul 03.55.
“Anii… teh Aniii bangun. Imsak lima menit lagi. Sekarang giliran teteh menyiapkan menu sahur kita2 penghuni kos ini… “
Merasa ada yang memanggil, Ani terkesiap. Badannya langsung tegak, berdiri bagai serdadu siap melaju. Entah sudah baca do’a bangun tidur atau belum.
“Eh oh mmh, sahur, siap, masak, tunggu aku kan siapkan semuanya” Dengan sigap Ani menuruni anak tangga menuju dapur, sementara penghuni lain yang berjumlah lima dara imut bersiap menuju meja makan, menyiapkan ini itu, menata meja, membuat air,dan lainnya, meski ada yang masih sempat ngupil. Semua serba cepat. Bukan karena mereka yang gesit, tapi lebih karena waktu yang terus berlari dan mereka harus mengejarnya.
Akhirnya tepat tujuh menit sebelum adzan Shubuh berkumandang, makanan siap di meja makan. Hebat. Memang Ani tiada duanya soal masak – memasak. Aksinya di dapur juga sangat mengesankan, bak koki profesional, mantab. Tapi masih kalah dengan aksinya di depan makanan, super mantabs. Hehehe.
Tanpa komando, enam dara serentak melahap hidangan lezat di depan mereka. Air liur sudah lebih dulu membanjir membayangkan makanan super lezat karya cheft Ani.
Dan …
Rara menghentikan operasi geraham dan serinya. Keningnya mengkerut seperti tengah memikirkan sesuatu. Ya, sesuatu di mulutnya, di tengah operasi seri dan gerahamnya. Ragu ia melihat kawan – kawannya. Tiba – tiba,
Huueeks.
Lagi – lagi tanpa komando para dara memuntahkan makanan mereka. Semua menatap kompak. Satu arah. Cheft Ani yang cengar – cengir memelas.
“Ani Soy, kenapa rasanya aneh gini. Asem – asem gimana gitu. Pake aroma tambahan lagi. Resep baru ya? Mita bertanya. Namun yang ditanya malah bersegera menuju dapur dan kembali dengan dua buah botol berisi cairan berwarna kuning.
Seketika para dara penghuni kos-an di samping Mushola itu menjatuhkan tubuh mereka ke sandaran kursi makan. “Oh No” seru mereka.
Masih dengan wajah memelas, cheft Ani meminta maaf pada rekan – rekan sekaligus pecinta masakannya.
“Well, I’m sorry ukhti semua. Hmmh, nampaknya saat masak tadi aku keliru. Bukan minyak yang ku tuang tapi malah cairan pembersih lantai ini. Maaf, karena terburu mengejar waktu aku jadi kurang memperhatikan dua botol yang letaknya berdampingan ini…”
Dan adzan Shubuh pun berkumandang. Para dara harus puas dengan menu sahur segelas susu sereal dan air putih. Beruntung Ani Soy melakukan kesalahan itu di bulan yang penuh ampunan. Sebab kalau tidak puasa, pastinya ia akan menerima hukuman tersadis. Dikelitiki atau dicueki seharian.