Rabu, 23 Februari 2011

SMS dan Sekotak Coklat

Coklat berkata kepada wafer,
"Kita ini beruntung tercipta manis. Sehingga banyak orang yang suka pada kita."
Wafer menjawab,
"Jangan gila dong.Kamu nyangka kita ini yang paling manis ? Tidak sadarkah kamu kalo yang baca sms ini lebih manis dari kita. Tuh kan dia tersenyum. Coba lihat, manis sekali kan senyumannya...."

Hmmh ... sms ngaco lagi. Siapa sih nih orang ? So' kenal banget deh!

"Kenapa sih lo, Da? sewot sendirian?"
Rima yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya yang manyun tidak karuan itu melontarkan tanya.

Yang ditanya hanya melirik, tanpa jawaban. Diam dan ngeloyor menuju pintu kelas.

"Hilda ... lo tuh denger ga sih pertanyaan guwe?"
"Soal SMS aneh itu lagi ya ?"
"Orang itu masih suka kirim - kirim SMS yang SKSD itu ke elo?"

Rima segera beranjak mengejar Hilda yang terus berjalan tanpa memperdulikan serbuan pertanyaannya.

"Hilda...."
Setengah teriak Rima memanggil nama temannya yang super cuek itu. Mengundang tatapan penuh tanya dari siswa lain yang sedang berjalan di koridor sekolah.

"Aduh Rima ... what's wrong with you???"
"Gue tuh denger, denger banget pertanyaan - pertanyaan lo. Tapi please deh, guwe lagi BT sama SMS yang barusan guwe terima. SMS aneh dari orang yang aneh....."

Panjang lebar Hilda menjelaskan perasaannya pada sohib kentalnya itu. Aneh juga kalau lihat mereka, ngomong berdua pake urat alias teriak - teriak, terdengar sampai jauh seperti Bengawan Solo.

Memang sebulan terakhir ini Hilda sering mendapat SMS dari nomor yang tidak dikenalnya. Awalnya telepon nyasar, trus berlanjut dengan SMS - SMS aneh.

"Malam manis ... dah mau tidur belum?"

"Pagi cantik, dah sarapan?"

"Dah siang nih... makan siang dulu yu"

"Ada puisi manis nih untuk gadis semanis kamu..."

Waduh, sepertinya yang kirim SMS tuh SKSD bin sotoy. Dia ga tau aja kalau Hilda tuh super cuek sama perhatian - perhatian dari cowo'. Bukannya menarik simpati malah bikin si cewe tomboy tuh jadi BT dan antipati. Dasar...

***

Setelah makan dan minum di kantin, wajah judes Hilda mulai berubah. Mulai bisa sedikit senyum pada sohibnya, Rima.
"Jadi gimana nih, Ma? Enaknya diapain tuh orang ya? Lagian ngapain sih dia kirim - kirim SMS segala? 3x sehari kaya minum obat aja. Apa jangan - jangan dia jatuh hati sama suaraku yang indah ini ya, ehm..."
Rima melotot dan memanyunkan bibirnya seraya mencubit pinggang Hilda.
"What???"

"Pis..pis. OK serius sekarang "
"Ehm jadi begini ya, menurut pendapat saya sebagai ahli"
Rima menjawab dengan bergaya formal, berdiri tegak dengan gaya seperti profesional.
"Alah, gaya lo, Ma... udah ah serius nih. Apa yang perlu gue lakukan buat tuh cowo aneh?"

Rima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membiarkan Hilda menunggu. Tepat sebelum kesabaran HIlda habis, dia berkata:
"Gimana kalau kita semprot tuh cowo. Lo telpon dia trus lo maki - maki deh. Eh, tunggu jangan dimaki. Lo kasih tau aja ke dia kalo lo tuh keberatan dengan SMS - SMS basi yang dia kirim"
Hilda merenung sejenak, "Kalo nelpon mahal, cing. SMS aje ye?"
"OK, yu' mari"

Kemudian dua sahabat itu menuju sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang. Mereka tampak serius meyusun kata - kata yang akan dikirim melalui SMS untuk si cowo' aneh.

Eh. maaf ya, gw ga suka loe kirim - kirim SMS ke gw. Dah isinya basi banget lagi. Loe tuh ga punya kerjaan banget sih. Dah ga pernah gue bales, masih aja kirim - kirim SMS. Loe ngerti ga, kalo gw ga suka? Awas kalo masih kirim - kirim SMS, gw laporin polisi baru nyaho loe.

Sesaat setelah mengklik tombol sent, seorang cowo mendekati mereka, lalu memberikan sekotak coklat dan berlalu begitu saja.

"Tumben Sigit kasih kita coklat, kenapa tuh anak?
Rima mengernyitkan dahi sambil menatap Sigit yang terus berlalu meninggalkan mereka.

Sementara Hilda dengan tergesa membuka amplop berwarna biru yang bertuliskan namanya.
Sejurus kemudian dia membaca tulisan di secarik kertas

Terima kasih sudah mau jadi teman ku. Sudah mau membaca SMS dariku. Ini pesan terakhirku, karena jika kotak ini sudah sampai padamu berarti aku sudah pergi meninggalkan dunia ini.

Seketika Hilda memeluk Rima dengan tangis yang sesenggukan. Dan akhirnya menjadi paduan tangis ketika Rima mebaca secarik kertas yang terjatuh di samping Hilda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar