Sabtu pagi. Alhamdulillah libur, waktunya memanjakan diri. Istirahat di rumah saja, mengembalikan kesegaran setelah penat hari kemarin. Biar saja lampu depan ku biarkan menyala, agar tidak ada yang mengganggu. Amunisi di kulkas masih cukup banyak untuk menemani santai hari ini. Niikmaat.
Ku nikmati segelas susu hangat dan beberapa potong roti. Selintas terbayang acara esok. Aku yang malu - malu, dengan daftar pertanyaan di tangan, akh Bayu yang juga ragu – ragu. Ditemani mba Diana dan suaminya … aduh, apa yang akan terjadi besok ya ? Hmm, tak sabar rasanya.
Tiba – tiba si merah memanggil.
Ada pesan masuk. Upps, ada beberapa misscall, dari mas Pram.
“Ayu … sedang sibuk ya ? Tadi aku telepon beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
Alhamdulillah bayiku lahir dengan selamat, perempuan, cantik seperti ibunya. Tapi …
Do'akan mba Dewi, semoga Allah memberi tempat terbaik di sisi-Nya.”
“ Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun...” Segera ku tekan tuts nomor mas Pram. Aku ingin langsung mengucapkan rasa turut berduka. Mas Pram menjelaskan semuanya.
Paramedis tidak bisa menunggu mas Pram tiba di RS. Mertuanya yang menandatangani semua berkas RS untuk melakukan tindakan penyelamatan. Mba Dewi berhasil melahirkan putrinya dengan selamat, namun ia tak mampu bertahan karena terlalu banyak kehilangan darah. Mba Dewi menghembuskan nafas terakhir tepat saat mas Pram tiba.
Pilu. Merasa hanyut dalam kisah mas Pram. Kristal bening itu jatuh begitu saja. Meluncur deras di pipi. Segera ku berwudhu'. Ku lantunkan do'a sepanjang yang aku bisa untuk mba Dewi, mas Pram, anak – anaknya dan seluruh keluarganya.
***
Ahad pagi. Sesuai rencana, hari ini aku akan menuntaskan agenda yang sempat tertunda. Dengan riang ku tarik gas matic-ku, meluncur menuju bilangan utara Jakarta.
Lumayan, jalan sedikit lengang syukurku dalam hati. Ditemani senandung Qur'an kesayangan, perjalanan saat itu terasa sangat menyenangkan.
Dari spion terlihat sebuah mobil melaju kencang sekitar 200 meter di belakang, tanpa lampu sen. Spontan aku mengambil sedikit ke kiri, untuk memberi jalan pada mobil berkecepatan tinggi itu. Ups, nyaris menyenggol knalpot mobil di depan. Belum lagi selesai bersyukur, terlihat kembali mobil berwarna silver itu tiba – tiba berada persis di belakangku, sepertinya pengemudi mobil itu tidak stabil, karena mobil berjalan tak terarah, ke kanan, kiri, kecepatan tetap tinggi.
Aku mulai panik karena tinggal beberapa meter mobil itu akan menabrakku, sementara mobil di depan tidak memberi jalan, aku terjepit. Ya, Allah … selamatkan hamba.
Perempatan, lampu merah oh, tolong lampu hijau tetaplah kau di sana.
Lampu merah datang menghentikan laju matic – ku. Aku tahu harus berhenti, namun mobil yang ada di belakang memaksa untuk tetap melaju, ku tarik pol gas matic – ku, Bismillah, Allahu Akbar.
Ternyata laju mobil di belakangku semakin menggila, dan menabrakku dengan sangat keras. Matic – ku terdorong, aku lepas kontrol. Terhempas. Sempat terlihat matic-ku terguling laksana adegan motor – motor jatuh ala motor GP, setelah itu terasa sakit teramat sangat. Gelap.
***
Perlahan ku coba membuka mata yang seperti enggan digerakkan. Semua putih. Aroma yang sama sekali jauh dari menyenangkan itu kini lekat memenuhi rongga hidung dan paruku.
“Yu … sadar toh hu .. hu …, Ayu..”
Sayup ku dengar suara yang sangat akrab. Ibu, mungkinkah itu ibuku, aku tidak bisa menggerakkan leher untuk mencari sumber suara itu, akhh, sakit sekali … Astaghfirullahal ' azhiim.
“Bu...” Serak ku panggil ibuku.
“Yu, Alhamdulillah … “ segera wajah teduh yang sangat cemas itu hadir di depanku. Ya, benar, itu ibu. Lalu Bapak juga dating menghampiri. Loh, bagaimana mungkin mereka bisa tiba secepat itu. Mereka dari Yogya.
Beberapa orang perawat datang memeriksa keadaanku. Setelah beberapa saat mereka menyatakan kondisiku bagus, dan bisa dipindah ke ruang rawat.
Dengan segera ibu mendekapku. Wajahnya menyiratkan lega teramat sangat, seperti menemukan kembali barang berharga yang nyaris hilang. Lalu meluncurlah cerita ibu.
Ternyata aku baru sadar dari koma selama 2 hari. Musibah itu membuat aku tak sadar selama 2 hari. Ya, Allah …
Polisi menemukan alamat dan nomor telepon ibu dalam dompetku, kemudian menghubungi mereka dan memintanya untuk segera menemuiku di rumah sakit.
“Ibu dan bapak bingung, Yu. Kami ndak tahu Jakarta. Untung saja kami bertemu nak Pram di bandara. Dari bandara kami bertiga langsung ke sini, Yu. Menungguimu sejak Ahad sore”, ibu menjelaskan
Allah.. Ahad sore ???
Bagaimana acara Ahad siangku ? Oh, kepalaku terasa sakit.
“Handphone, mana handphone Ayu, bu ?” , teriakku sambil meraih sekelilingku.
“Maaf Ayu, handphone dan motormu rusak berat, saya turut prihatin dengan keadaanmu”, mas Pram menjelaskan.
“Oh, bapak ?”, tanyaku terkejut. Ternyata ada mas Pram.
“Iya, Yu … dari Ahad sore nak Pram turut menemani kami di sini menungguimu, siang beliau ke kantor, malam ke sini lagi. Kami sangat terbantu dengan adanya mas Pram di sini.”, bapakku menjelaskan.
“Oh, … maaf sudah merepotkan pak Pram”, seruku.
Mba Diana … aku harus menelpon mba Diana.
“Bu, boleh Ayu pinjam handphone ibu ?”
Segera ibu menyodorkan handphone miliknya. Sejurus kemudian.
“Assalamu'alaikum ...”
“Wa'alaikum salam Wr. Wb. Mba Diana … ini Ayu”
“Ayu, Alhamdulillah … ke mana saja ? Tiga hari menghilang. Yu, kamu di mana ?”
Mba Diana memburuku dengan pertanyaan. Banyak … hingga kepalaku pusing. Ku tuntaskan penjelasan tentang musibah yang menimpaku tepat sesaat sebelum perawat datang untuk memindahkanku ke ruang rawat.
Sepekan berlalu. Aku masih di sini. Di rumah sakit beserta aroma khasnya. Menurut dokter, aku bisa pulang sekitar satu atau dua hari lagi. Alhamdulillah. Badanku mulai terasa pulih. Hanya saja leher ini masih kaku untuk digerakkan.
Selama sepekan banyak teman kantor yang datang silih berganti menjenguk. Ibu – ibu yang aku ajari membaca Iqro' pun tak ketinggalan. Terasa benar arti kedatangan mereka, perhatian mereka. Yang pasti, hampir setiap hari mas Pram menjengukku. Kadang menggantikan ibu atau bapak yang lelah. Duh, aku pasti sangat menyusahkan mereka.
Sehari sebelum aku keluar dari rumah sakit, mba Diana dan suaminya serta seorang lelaki yang samar ku kenal dating menjenguk. Lengkap. Ada ibu, bapak, juga mas Pram.
Ibu dan Bapak menyambut mereka kemudian menjelaskan keadaanku, sementara mas Pram tetap menunggu di luar ruangan.
“Syukurnya ada nak Pram yang selalu mendampingi kami. Meskipun baru saja ditinggal istri, beliau sigap menolong kami. Sebagai orang tua, kami berhutang budi pada nak Pram. Kami juga ridho kalau pada akhirnya anak kami bersanding dengan nak Pram, apalagi mereka sudah saling kenal dan pernah dekat saat kuliah dulu”. Ibuku bertutur dengan polosnya.
Apa ? Degg … komentar ibu membuat jantungku serasa lepas dari tempatnya. Lemas terasa, sampai ke ujung kaki. Tak bisa ku bayangkan wajahku saat itu. Ku tatap ibu, mba Diana dan lelaki yang samar ku kenal itu bergantian. Ada mimik yang ku baca di sana. Mba Diana tampak terkejut, dan lelaki itu speechless.
Aku bingung. Kepalaku terasa berat. Nafas mulai memburu dan terus memburu. Tiba – tiba aku tak kuasa menahannya. Aku berteriak
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaak”
Bruugg.
Terkaget aku dalam lelap. Syukurlah ini hanya mimpi. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar