Brrrr ... jernih air wudhu dingin terasa di kulitku. Tiap tetesnya membawa kesegaran, membangunkan sampai ke setiap sel tubuhku.
Alhamdulillah, terima kasih Allah atas ni'mat – MU. Tlah Kau ciptakan air jernih yang menyegarkan raga dan pikiranku.
Perlahan ku tuju mihrabku. Ku hadirkan khusyu' sepenuh jiwa. Allaahu Akbar …
Malam itu begitu syahdu. Teringat aku akan ibu dan bapak. Perjuangan dan pengorbanan mereka yang begitu besar untukku. Terbayang jelas payah wajah bapak di bawah teriknya mentari saat mengatur kendaraan yang lalu lalang saat ia bertugas sebagai juru parkir. Panas terik membuat kulit putihnya menjadi legam. Senyum tetap ia hadirkan meski bermandikan peluh atau basah terguyur hujan. Ibuku juga tak kalah keras perjuangannya. Turun naik bus mengambil atau mengantar satu atau dua karung jahitan konveksi.
Cuplikan masa lalu bersama ibu dan bapak terus berputar dalam pikiranku. Kenangan saat – saat yang sangat memprihatinkan. Episode – episode sulit dalam kehidupan keluargaku. Ujian yang datang silih berganti. Saat Bapak dikeluarkan dari pekerjaan dengan tuduhan menggelapkan aset kantor, meski ternyata di lain waktu terbukti bahwa pelakunya adalah atasannya sendiri. Sejak itu hidup jadi terasa sangat sulit. Bapak tidak pernah berhasil mendapat pekerjaan kantoran. Juru parkir akhirnya jadi pilihan. Kepergian kakak dan adikku karena sakit demam berdarah yang hanya mampu diobati ibu dengan air putih yang tiupkan do'a – do'a. Allah, keadaan yang begitu sulit memaksa ibuku untuk turut berkarya, demi menjaga aku katanya. Agar aku bisa makan, bisa diobati bila sakit dan bisa terus melanjutkan sekolah.... Untukku ibu rela bersusah payah memanggul karung besar dengan tubuh mungilnya, naik turun bus setiap pagi, setiap hari.
Duhai Robb, sayangi ibu dan bapak … Terima 'amal sholihnya, ampuni kesalahan mereka, selamatkan hidup mereka yaa Allah. Jadikanlah setiap tetes keringat mereka ampunan-Mu. Setiap tetes air mata mereka kasih sayangMu. Bahagiakan mereka di dunia dan di akhirat. Yaa Ghafururrahim, ampuni hamba bila belum mampu menjadi anak yang berbakti pada mereka. Izinkan hamba membalas setiap kebaikan mereka, Izinkan hamba menadi anak yang berbakti …
Deras bening air mata membasahi wajah dan mukenaku. Aku merasa begitu kecil saat mengingat pengorbanan ibu dan bapakku. Segenap pinta ku panjatkan pada Yang Maha Kuasa. Ku tutup do'a malamku dengan sebuah permintaan tentang keinginan ibu dan bapak. Aku memohon kepada Allah agar meringankan jodohku.
Dalam lantunan ayat suci ku dengar kumandang adzan Shubuh. Ku cukupkan tilawahku dan melanjutkan dengan sholat Shubuh, lengkap dengan Rawatib.
Pagi yang segar.
Agenda pagi mulai dari senam sampai sarapan pagi telah kulakukan. Selanjutnya adalah mandi dan bersiap ke kantor.
“Di, hari yang ku nanti datang juga nih. Tepat pukul 18.30 aku mau ta'arufan. Moga semua berjalan lancar ya, Di. Kamu ikut aku ya, supaya bisa ku sapa dan ku bagi info – info up to date... :)”
“Oh iya, Di … enaknya bawa Atoz atau matic ya ? … Mmmmhh kayanya matic aja ya supaya bisa selap – selip. OK c u, mandi dulu nich.”
Bismillahi tawakaltu Alallah … ku tarik gas motor matic – ku, melaju di pagi yang syahdu menuju kantorku. Tapi syahdu itu segera berlalu. Dikalahkan oleh sesak asap knalpot, teriakan kernet metromini, dan seluruh hiruk pikuk Jakarta di pagi hari.
Biasanya hari Jum'at begini jalanan tidak terlalu ramai seperti pagi ini, tapi hari ini ada apa ya sampai tiga kali lampu merah berganti warna, kendaraan tak bergeming juga, tanyaku dalam hati.
Jarum pendek Gucci kesayanganku menunjuk angka 7, sementara jarum panjangnya menunjuk angka 30, artinya 30 menit lagi waktu yang aku punya untuk tiba di kantorku tepat waktu. Ya, Allah … bantu hamba.
Perlahan kendaraan bergerak maju, dengan sigap dan hati – hati ku pacu matic – ku. Baru saja terjadi kecelakaan. Sebuah motor masuk ke kolong metro mini, entah bagaimana nasib pengemudinya. Aku hanya lihat ada tetesan berwarna merah segar tercecer di sana. Astaghfirullah, Na'udzubillah.
Pukul 07.59 akhirnya aku tiba, Alhamdulillah.
“Ayu, jarang – jarang nih datang mepet begini … dari mana Jeng ?”, Indi rekanku yang bergelar Ratu Telat menyapa. “Tadi di jalan Rasuna Said ada kecelakaan … aku terjebak macet selama hampir setengah jam”. Jawabku seraya melipat jaket yang ku kenakan tadi.
“Syukur ga telat ya, Yu … aku juga nih syukur banget bisa on time, kalau tidak ... waduhhh bisa – bisa menghadap Pa' Faiz lagi nih, ngambil SP .. he..he..he”.
Kami tertawa dan kemudian melangkah menuju lift.
Usai menyapa beberapa rekan, sedikit ha ha hi hi dan berbagi cerita serta sedikit cemilan, aku menuju ruanganku. Alhamdulillah pekerjaan hari ini sepertinya ringan. Sedikit mengedit laporan keuangan dan mencocokkan pekerjaanku dengan rekan kerjaku yang lain. Bismillah semoga ku selesaikan tepat waktu agar lepas Ashar nanti aku bisa melaju.
Sekarang periksa jadual dan buat reminder di handphone. Eh, ada pesan masuk dari siapa ya ?
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Dear Ayu, sebelumnya saya minta maaf kalau pesan ini mengganggu kamu. Ba'da Shubuh ada kabar dari Yogya bahwa istri saya jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan. Sekarang ada di rumah sakit. Paramedis menunggu saya untuk mengambil keputusan terkait istri saya serta bayi dalam kandungannya.
Saya sangat berharap kamu bisa mendampingi pak Akbar sore nanti, karena saya akan terbang ke Yogya, penerbangan pertama pukul 07.50 wib.
Saya tahu ini pilihan berat untuk kamu, tapi saya percaya bahwa kamu akan memutuskan yang terbaik.Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Mas Pram. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun .. Hhhmmmhh, Astaghfirullahal 'azhiim. Di, what should I do ?
Segera ku hubungi mba Diana.
The number you are calling is out off area. Please contact in a few minute ...
Aduh, mba ayo dong aktifkan nomormu. 5 kali ku putar nomor itu, nihil.
Mmmmhhh, atau mungkin mba masih di rumah ya, aku coba telepon ke sana.
Tut … Tut … Tut …
Lama aku menunggu. Tidak ada yang menjawab juga.
Atau, enak tidak ya kalau aku kontak suaminya, mas Heru. Biarin deh dianggap tidak sopan, ini darurat pikirku.
“Assalamu'alaikum”, terdengar suara mas Heru di ujung telepon.
“Wa'alaikum salam. Mas Heru, maaf, ini Ayu”, jawabku ragu.
“Ya nda' papa Yu. Ada apa toh ?”
“Begini, Mas .. saya perlu bicara dengan mba Diana, tapi handphonenya tidak aktif. Padahal penting sekali”, jawabku.
“Oh, ya. Katanya ada meeting sampai siang. Ba'da Zuhur baru bisa aktif lagi katanya. Apa saya bisa bantu, Yu ?”
“Emh, jadi ...”
Aku jelaskan kondisiku di kantor, sekaligus meminta pertimbangan soal rencana ta'aruf sore nanti. Alhamdulillah mas Heru bisa membantu mencari solusi, akhi Bayu (ehm ..) ternyata teman beliau. Sekitar sepuluh menit lagi akan ada kabar darinya.
Ya Allah aku belum sempat meraih pekerjaanku. Pikiranku mendadak penuh, hatiku pun begitu. Mata ini terus saja menatap handphone yang sebenarnya takkan lari ke mana pun. Detak jantung berpacu memburu nafasku. Ah, waktu jadi terasa sangat lama bila menunggu seperti ini.
Tiba – tiba aku teringat mas Pram. Bagaimana keadaan istrinya yang tengah hamil tua itu ? Semoga semua baik – baik saja. Ya, Allah, lindungi keluarga mas Pram.
Kriiing … Kriiing
“Akh Bayu bersedia mengundur acara nanti sore. Ahad ba'da Zuhur beliau kosong, bagaimana ? Apa Ayu bisa ?”
Alhamdulillah … akhirnya beres juga. Ahad ba'da Zuhur di rumah mba Diana. Meski ini berarti menambah lama dag dig dug jantungku, tak apa lah. Ayo kerja kerja … Bismillah.
***
Di, senang bisa kembali bersamamu di kamar ini. Hufff, hari yang menegangkan. Alhamdulillah kerjaanku hari ini lancar. Pembahasan target proyek juga lancar, bahkan mereka terlihat sangat puas. Oh iya aku belum lapor mas Pram soal ini. Tunggu ya, Di.
Segera ku raih si merah kesayanganku.
“Aslm. Alhamdulillah pembahasan capaian target proyek bersama Pak Handoko berjalan lancar, bahkan ia terlihat sangat puas dengan hasil kerja kita, Pak.
Oh iya, bagaimana kabar mba Dewi ? Semoga semua baik – baik saja ya, Pak. Wslm”.
Di, massage sending failed. SMS, BBM … semoga semua baik – baik saja. Di, aku lelah, tidur yu ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar