Teman
Sehati * Best Friend Forever
Manajemen hati (2)
Setelah drama rem blong, akhirnya
mobil yang Ama tumpangi tiba di lokasi raker. Gerbang besar menyambut
kedatangan mereka. Deretan pohon cemara memperkuat suasana. Melintasi gerbang
besar yang terbuka separuh, mobil starlet memasuki area parkir yang langsung
berhadapan dengan taman bunga aneka warna. Beberapa jenis ayunan di setiap
sudutnya tampak melengkapi keindahan. Di sisi kanan dan kiri taman, berjajar
paviliun yang terbuat dari kayu. Di tengahnya terdapat aula yang besar dan
langsung bersisian dengan kolam renang.
“Alhamdulillah, bersyukur selamat tba di sini ya, pak
...” ucap pak Kirno saat pak Pena keluar dari mobil diikuti penumpang lain.
“Bu, Azizah, bu Ana, Bu Wieke dan Ama bagaimana
keadaannya ?” lanjut pak Kirno.
“Alhamdulillah, pak ... Cuma sedikit kaget aja.”
Jawab bu Ana.
“Lumayan lah buat olah raga jantung ...” bu Azizah
berseloroh.
Usai bertegur sapa, rombongan yang
baru saja tiba diarahkan ke pondok masing – masing. Untuk ibu Guru disediakan
pondok sebelah kiri. Ama berjalan beriringan dengan bu Azizah, bu Ana dan bu
Wieke. Ia dan bu Azizah menempati pondok nomor 4. Saat pintu dibuka tampak meja
besar dengan enam kursi menghiasi ruang tamu yang dikelilingi tiga buah pintu. Dua
diantaranya adalah pintu kamar tidur dan
satunya pintu pantri. D setiappintu kamar sudah tertulis nama penghuninya.
“Ama, saya di sini. Kamu di sana sepertinya,? Seru bu
Azizah seraya menunjuk pintu kamar yang terbuat dari kayu jati berukir.
“Baik,bu.” Jawab Ama seraya melangkahkan kakinya
menuju pintu yang di maksud. “Oh rupanya aku sekamar dengan bu ndriyani dan bu
Ratna, asik bisa sekalian konsul Matematika dan Fisika nih, hehehe.” Gumam Ama
dalam hati. Diketuknya pintu perlahan seraya mengucapkan salam.
“Masuk aja.” Terdengar jawaban dari dalam.
“Ma, katanya rem mobil tadi blong ?” tanya bu Ratna
sesaat setelah Ama meletakkan tasnya di atas kasur.
“Iya, bu.” Jawab Ama seraya menjatuhkan tubuhnya di
kursi rias.
“Alhamdulillah tidk terjadi apa – apa. Bsa sampai di
sini dengan selamat ya.” Bu Andriyani yang baru saja keluar dari kmar mandi menimpali.
“Iya, Bu.Alhamdulillah.” jawab Ama seraya mengamati
kedua guru favorit yang ada di hadapannya.
“Masya Allah, ga nyangka kalau mereka sudah beruban.
Jilbab yang mereka kenakan menutupinya, membuat mereka tetap terlihat muda dan
cantik meski nyatanya warna putih keperakan itu sudah mendominasi kepala
mereka.” Gumam Ama dalam hati.
“Sudah mandi dulu sana, sebentar lagi masuk waktu
sholat Maghrib. Kamu bisa pakai air hangat kalau ga tahan dingin.” Seru bu
Ratna.
Ama menganggukkan kepala seraya mengambil perlengkapan
mandinya.
Aula besar yang terletak di tengah
pondokan menjadi pusat kegiatan raker, termasuk untuk sholat dan makan
prasmanan. Acara pembukaan raker secara formal dilakukan usai makan malam.
Agenda pertama adalah penjelasan rangkaian acara raker serta pembagian waktu
tampil tiap bidang termasuk OSIS. Tepat pukul 22.15 acara pembukaan raker
berakhir. Saat hendak bersiap menuju pondoknya, tiba – tiba Arif menghampiri
Ama.
“Assalamu’alaikum Ama.”
“Wa’alaikum salam. Ya ?”
“Alhamdulillah anti selamat sampai sini. Ana dah
mikir yang nggak – nggak saat dengar kabar rem blong tadi.”
“Alhamdulillah. Terima kasih sudah mengkhawatirkan
aku.”
“Untuk jadwal raker besok, kita kebagian presentasi
jam 10. Apa bisa koordinasi dulu sebelum tampil?”
“Kalau lihat jadwal bisa jam tujuhan saat sarapan, sebelum
acara dimulai.”
“Di mana?”
“Kalau di aula terlalu bising karena jamnya sarapan.”
“Bagaimana kalau ana ke pondok anti ? Berkas raker
juga anti yang bawa, kan ?”
“Terus ga sarapan gitu?”
“Nanti ana bawakan sekalian lewat, biar efektif ga
bolak – balik.”
“Hmmmm... aku ambil sendiri aja, bisa ko.”
“Ya udah. Besok ya jam tujuh insya Allah ana ke
pondok anti.”
“Iya. Sekalan baw buku catatan rapat yang kemarin
kamu pinjam ya.”
“Siap. Insya Allah. Sampai bsok. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam ...”
Ama melanjutkan langkahnya menuju
pondokan. Kantuk telah menyapa sejak acara pembukaan dimulai. Matanya kian
tidak besahabat. Dengan sisa tenaga ia paksakan mengajak kakinya melangkah.
Sementara Arif masih berdiri di tempatnya semula. Mengikuti setiap langkah Ama
hingga tak terlihat di balik pintu pondoknya.
Ama, kenapa
kalau bicara sama anti kok bisa lancar ya ? Biasanya ana kaku kalau berhadapan
dengan perempuan. Tapi sama anti, rasanya nyaman sekali. Tidak ragu, khawatir,
takut salah dan seterusnya. Ana tidak pernah merasa sedekat dan seleluasa ini
dengan perempuan sebelumnya. Ama, semoga tidak terjadi apa – apa dengan hati
ana. Ataghfirullah. Oh iya, buku catatan raker milik Ama masih ana pegang. Sepertinya
ada sedikit catatan pribadi miliknya. Maaf Ama, ana tidak sengaja membacanya. Arif
Kabut kian pekat menyelimuti vila
Ciloto malam itu. Setia membalut setiap penghuni villa untuk larut dalam buai
mimpi, hingga dini hari menjelang. Ama yang mulai membiasakan diri untuk
mengerjakan sholat Tahajud di sepertiga malam tampak terjaga kala jarum jam
menunjuk pukul 04.00.
Ingin rasanya terus memejamkan mata dan menenggelamkan
diri dalam kehangatan selimut. Namun ia enggan menyia – nyakan kesempatan untuk
bermesraan dengan Robb yang telah menciptanya. Perlahan ia masuk ke kamar mandi
untuk menyucikan diri. Berusaha tanpa suara, termasuk saat membuka dan menutup
pintu agar tidak mengusik kedua gurunya yang masih terlelap.
Di
gelarnya sajadah di samping meja besar dengan enam kursi yang mengelilingi.
Dimulainya takbir mengawali dialog dengan Sang penguasa yang maha Rahman dan Rahim.
Sejurus kemudian ia tampak hanyut dalam khalwatnya. Keheningan malam membantunya
larut dalam suasana nan syahdu. Kumandang azan Subuh menyudahi rangkaian kemesraannya
bersama Sang Penguasa alam raya. Satu per satu penghuni pondok mulai terbangun
dan mengajaknya untuk menunaikan sholat Subuh berjamaah di aula utama.
Usai sholat dan tilawah, Ama hendak melanjutkan
dzikir sambil menikmati udara segar dan bunga –bunga di taman. Disegerakan
melangkah menuju sebuah ayunan untuk kemudian menghempaskan tubuhnya di sana. Di
rapalnya dzikir Al-Ma’tsurat yang baru separuh dihafal. Alunan ayunan seperti
mengikuti irama dzikirnya. Bunga aneka warna ikut bersenandung gembira, ditingkahi
burung – burung kecil dan beberapa kupu – kupu yang kian menyemarakkan suasana
pagi itu. Hati Ama begitu riang dan sangat menikmati momen yang langka bagi
penduduk ibu kota, hingga ia tidak menyadari kalau sosok Arif tengah menujunya
dan kini telah berdiri di dekat ayunan tempat ia duduk.
Ama tampak terkejut saat tiba –
tiba mendengar salam yang diucapkan Arif. Diperbaikinya cara duduk serta
menghentikan gerakan ayunan.
“Wa’alaikum salam.”
“Lima menit lagi jam tujuh Ama.”
“Masa iya ?”
“Nih” Arif menunjukkan jam tangan berwarna hitam yang
melingkar kokoh di pergelangan tangannya.
“Astaghirullah...”
“Sepertinya anti belum bersiap karena masih asik menikmati
indahnya taman. Kalau anti suka di sini, bagaimana kalau koordinasinya kita
lakukan di sana ?” ujar Arif seraya menunjuk sebuah gazebo di tengah taman
dengan sebuah meja bundar dan dua buah kursi
yang terbuat dari pahatan lingkar pohon utuh.
“Sementara anti membersihkan diri, ana ambilkan
sarapan ya. Kita ketemuan di sana.” Arif melanjutkan, memberikan instruksi yang
entah mengapa hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Ama. Ga biasanya
seorang Ama patuh diberikan instruksi oleh kaum Adam, hellloooo.
Ama bergegas menyeret langkah
menuju pondokan. Diletakkannya tas berisi mukena dan sajadah, lalu mengambil
perlengkapan mandi serta baju ganti. Kedua guru yang juga menghuni kamar tampak
masih asik menikmati pemandangan d sekeliling vila.
Benar juga
kalau ngobrolnya di taman, lebih terbuka dibandingkan di sini. Yang perlu
dibawa tentu saja tas berisi file raker, alat tulis juga. Bismillah. Ama
Kini Ama dan Arif telah berada di
gazebo tepat di tengah taman. Mereka tampak serius membahas persiapan
presentasi sambil sesekali menghabiskan sarapan masing – masing.
Ya, Allah
kenapa jadi kaya kencan begini, ya? Sarapan berdua di tengah taman. So sweet.
Astaghfirullah. Kalau nanti aku menikah enak kalau punya pasangan yang memiliki
visi dan misi yang sama. Jadi ga banyak ribut. Seperti saat ini, kami bisa
bertukar pikiran tanpa melibatkan emosi jiwa, hehehe. Atau ini semua karena
Arif tuh lebih muda usianya dariku ya ? Jadi mudah aja diarahkan. Heran deh,
kenapa banyak cewek- cewek yang suka godain makhluk ini ya? Makannya aja lelet,
ngomongnya luaaaamaaaa amat. Super duper diem. Diem ??? ah tapi ko sekarang dia
banyak ngomong ya ? Ah, dasar anak kecil, hihihihi. Ama
Duh, kenapa tiba – tiba ana jadi merasa berbunga ya ? Bisa mengatur Ama
yang terkenal galak dan disegani cowok – cowok satu sekolah? Ko ada rasa menang
ya ? Apakah ana sedang berlomba? Masya Allah, senyumnya manis. Ternyata dia
tidak segalak yang ana kira. Dia baik, cantik, smart dan sangat bisa
diandalkan. Pantaslah jadi idaman. Arif.
“Jadi, Rif ... ini yang di stabilo adalah anggaran
yang ga bisa dinego.Karena program turunan yang menjadi ciri khas dan
kebanggaan masng – masing kegiatan ekskul.”
“Iya, ana paham. Nanti pas ana maju anti jangan jauh –
jauh ya, bantu jawab kalau ana kurang ide atau kewalahan.”
“InsyaAllah, kan aku di belakangmu mengoperasikan
slide presentasi.”
“Oh iya, benar.”
“Cukup kan koordinasinya? Masih ada waktu untuk
sholat dhuha sebelum rapat dimulai.”
“Cukup, insya Allah. O iya ini buku anti, maaf ana
baca catatan pribadi anti, ga sengaja.”
Ama meraih buku bersampul biru
muda yang diberikan Arif. Itu adalah buku catatan rapat miliknya, yang juga
sesekali ia goreskan rasa dan pikirnya di situ.
“Bagian mana yang kamu baca?”
“Semuanya.”
“Ya sudahlah, mau gimana lagi. Ga usah dipublish,
cukup kamu aja yang tahu.”
Arif mengangguk lalu merapikan berkas yang memenuhi
meja. Sementara Ama yang sudah selesai mengemas perlengkapannya segera berlalu
dengan membawa piring kotor miliknya juga punya Arif.
“Terma kasih sudah membawakan piring sarapan untukku,
sekarang gantian aku yang merapikan piring ini.”
Kembali Arif hanya menatap kepergian Ama dalam diam. Dalam
hati ia mengingat kembali apa yang tertulis di buku Ama.
Cinta Fatimah
ra. dan Ali ra adalah kisah cinta paling romantis. Adakah yang lebih indah dari
kesungguhan menahan rasa dan berdamai dengan cinta ?
Aku takkan membiarkan kaum Adam sakit hati
dengan perasaannya padaku, aku akan memastikan bahwa rasaku hanya untuk mereka
yang serius mengajakku memadu kasih dalam ikatan pernikahan. So, ga usah cape-
cape berusaha menarik hatiku. Cukup bertekad saja lalu jadikan aku sebagai
pendampingmu.