Teman
Sehati * Best Friend Forever
Naik kelas
Masa
libur usai sudah. Kini waktunya kembali ke sekolah, naik kelas tentu saja. Hari
pertama di awal tahun ajaran baru membuat Ama merasa bersemangat. Dengan
penampilan baru, ia siap menjalani tahun kedua di SMA yang penuh cerita dan
cinta.
Saat
daftar ulang para siswa sudah diinformasikan tentang perubahan komposisi siswa
dalam kelas. Siswa dikelompokkan berdasarkan prestasi. Dan khusus peringkat satu
sampai empat disediakan kelas khusus. Kelas unggulan namanya. Memiliki
kelebihan dalam hal jumlah jam belajar yang lebih banyak dari kelas reguler.
Awalnya Ama merasa berat jika harus masuk kelas itu. Selain karena prestasinya
di semester dua kemarin turun, ia juga merasa khawatir tidak sanggup kalau
harus belajar di sekolah seharian penuh seperti para pekerja. Belum lagi soal
ketatnya persaingan belajar di sana. Kelas basa saja sudah menyita wktu,
apalagi kelas unggulan ... kapan bisa main, begitu pikirnya. Namun keengganan
itu hanya mampu ia teriakkan dalam hati.
Tibalah
hari pertama kembali ke sekolah. Kalau tahun lalu Ama menempati kelas di sayap
kiri dari tangga lantai dua, kini kelasnya berada di sayap kanan tangga di
lantai dua. Kelas dua tiga. Penuh semangat ma memasuki ruang kelanya. Ternyata
banyak anak ROHIS yang ia kenal ada di kelas itu. Ada Haryani, Pupu, Nunun,
Ana, Zulfa, Sari dan masih banyak lagi. Alhamdulillah feel at home, batin Ama
bersorak sorai.
Ketika memasuki kelas, teman - teman yang mengenali Ama segera menghampiri
dan mengucapkan selamat atas jilbab yang ia kenakan. Doa – doa pun dipanjatkan
untuk keistiqomahan Ama.
Bel
tanda pelajaran akan dimulai telah berbunyi menghentikan keriuhan suasana dalam
kelas baru. Semua siswa menuju lapangan
upacara untuk melaksanakan upacara bendera. Tak perlu waktu lama untuk
menertibkan para siswa, upacara pun dimulai dan berlangsung dengan hikmat. Usai
upacara, semua siswa kembali ke kelas masing – masing untuk mengikuti pelajaran
selanjutnya.
Pelajaran
pertama di kelas Ama adalah pelajaran Kimia berama ibu Nurmismai yang adalah
wali kelas di kelas dua tiga. Sepert biasa di awal tatap muka guuru – guru akan
menyampaikan aturan kelas mereka seperti penugasan, penilaian, buku yang
digunakan, dan seterusnya. Sebagai walikelas, bu Mai, panggilan kesayangan sang
wali kelas mengatur posisi duduk siswa sekaligus membentuk kepenguruan. Semua
iswa diminta berdiri di depan kelas. Bu Mai mengundi nama siswa dan posisi
duduknya satu per atu sampai semua sisw mendapatkan tempat. Harapan Ama untuk
memilih tempat duduk kandas. Padahal ia sudah merencanakan untuk duduk
bergerombol dengan para jilbaber dan jauh dari teman laki – laki. Nyatanya, bu
Mai mengatur duduk selang seling laki – laki dan perempuan, bar tidak ngobrol,
begitu alasannya.
Kursi
dan meja di kelas tersusun atas empat banjar dan enam baris ke belakang. Setiap
meja dipasangkan dengan dua kursi, total tersedia 24 meja dan 48 kursi. Meja
pojok paling kanan ditempati siswa, meja sampingnya siswi, begitu
seterusnya. Satu per satu akhwat sudah
mendapatkan tempat duduk, tersisa Ama seorang. “Ya, ga jadi duduk sama seorang
di antara para akhwat”, begitu batin Ama sedikit kecewa.
“Rahmaila Ismail”
“Angela Valanda”
Suara bu Mai memanggil seraya menunjuk sebuah meja di
sebelah kanan baris ke dua.
Ama dan Angel segera menuju tempat yang dimaksud wali
kelas mereka. Angel memilih kursi yang merapat ke dinding, biar bisa tidur
katanya. Sementara Ama menempati kursi di sisi Angel. Tersedia empat kurs
kosong di depan dan belakang meja Ama dan Angel. Masih ada Ahmad, Amal, Arif
dan Ismoyo yang belum mendapat tempat duduk. Bu Mai menawarkan empat siswa itu
untuk memilih tempatnya masing – masing, namun mereka meminta wali kelasnya
untuk melanjutkan pengundian agar sama dengan teman – teman lain. Hasilnya,
Arif dan Ismoyo menempati meja di depan Ama dan Angel, Amal dan Ahmad di
belakangnya.
Jam
pelajaran yang tersisa dimanfaatkan para siswa untuk saling menyapa dan
berkenalan dengan teman sebangku masing – masing.
“Gue Angel, lo?”
“Ama.”
“Anak ROHIS ya ?”
“Iya. Kamu ?”
“Gue paskib, kadang ikutan nge cheer juga.”
“Oh...asik ya, sibuk banget dong.”
“Biasa lah. Kayanya gue bakalan mati gaya duduk di
sini”
“Ko’ bisa?”
“Lo anak ROHIS. Di belakang gue tuh si Ahmad anak
ROHIS juga, Amal juga kayanya. Tahu yang depan, belum kenal.”
“Semoga kita bisa berteman ya ...”
“Ga yakin sih gue. Secara ya kita kan punya nilai
yang beda jauh.”
“Dalam hal?”
“Lihat baju lo. Lihat baju gue. Lo juga pasti ga
pacaran kan ? Mana asik gue ngobrol di sini.”
“Ya kita jalanin aja dulu. Yang gue tahu si Ahmad itu
meskipun anak ROHIS juga gaul ko. Nah lo kan sekelas sama dia dulu.”
“Eh lo kenal Ahmad rupanya. Iya sih, dia juga asik ko,
suka tebar pesona juga hahahhaa.”
“Nah tu tahu. Gue juga bisa ber elo gue kalo itu lebih
asik buat lo ngomong.”
“Oke Ama, moga kita bisa berteman. Tapi kalo lo dah
nyaman pake aku kamu, ga usah maksain juga sih ngomong lo gue, hehehehe.”
“Siaaaap Angel.”
“Eh, Ma, boleh
nanya ?”
“Boleh lah.”
“Sejak kapan lo pake jilbab, Ma?”
“Baru, lburan kemarin.”
“oh...”
“Kenapa?Culun ya gue ?”
“Nggak ko ...”
“Angel,
ketemu lagi ya kita.” Ahmad menyapa.
“Iya, bosen gue, sempit amat dunia ketemu lo lagi di
sini.”
“Suka gitu. Eh, Ama, Alhamdulillah kita sekelas ya...
seneng deh.”
“Iya, Alhamdulillah.”
“Kenalin nih Amal, calon profesor. Keren banget loh
dia waktu acara KIR kemarin tu.Ya, kan, Ma?”
“Masa?”, tanya Angel.
“Jangan dengerin, Ahmad berlebihan.” Jawab Amal.
“Nah kalau yang duduk di depan itu Arif dan Ismoyo
calon ketua OSIS dan ROHIS...” Ahmad melanjutkan perkenalan.
“Apa sih, Ahmad ?” sanggah Arif dan Ismoyo hampir
bersamaan.
“Ya ga percaya sih. Lihat aja nanti. Gue kan dah curi
dengar waktu para senior sedang rembukan di sekretariat.” Bantah Ahmad penuh
keyakinan.
“Kebiasaan Ahmad ni, sok tahu. Orang gue yang mau
nyalon jadi ketos juga hehehehe...” timpal Angel berseloroh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar