Minggu, 02 Agustus 2020

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Naik kelas

 

                Masa libur usai sudah. Kini waktunya kembali ke sekolah, naik kelas tentu saja. Hari pertama di awal tahun ajaran baru membuat Ama merasa bersemangat. Dengan penampilan baru, ia siap menjalani tahun kedua di SMA yang penuh cerita dan cinta.

                Saat daftar ulang para siswa sudah diinformasikan tentang perubahan komposisi siswa dalam kelas. Siswa dikelompokkan berdasarkan prestasi. Dan khusus peringkat satu sampai empat disediakan kelas khusus. Kelas unggulan namanya. Memiliki kelebihan dalam hal jumlah jam belajar yang lebih banyak dari kelas reguler. Awalnya Ama merasa berat jika harus masuk kelas itu. Selain karena prestasinya di semester dua kemarin turun, ia juga merasa khawatir tidak sanggup kalau harus belajar di sekolah seharian penuh seperti para pekerja. Belum lagi soal ketatnya persaingan belajar di sana. Kelas basa saja sudah menyita wktu, apalagi kelas unggulan ... kapan bisa main, begitu pikirnya. Namun keengganan itu hanya mampu ia teriakkan dalam hati.

                Tibalah hari pertama kembali ke sekolah. Kalau tahun lalu Ama menempati kelas di sayap kiri dari tangga lantai dua, kini kelasnya berada di sayap kanan tangga di lantai dua. Kelas dua tiga. Penuh semangat ma memasuki ruang kelanya. Ternyata banyak anak ROHIS yang ia kenal ada di kelas itu. Ada Haryani, Pupu, Nunun, Ana, Zulfa, Sari dan masih banyak lagi. Alhamdulillah feel at home, batin Ama bersorak sorai.

Ketika memasuki kelas, teman -  teman yang mengenali Ama segera menghampiri dan mengucapkan selamat atas jilbab yang ia kenakan. Doa – doa pun dipanjatkan untuk keistiqomahan Ama.

                Bel tanda pelajaran akan dimulai telah berbunyi menghentikan keriuhan suasana dalam kelas baru.  Semua siswa menuju lapangan upacara untuk melaksanakan upacara bendera. Tak perlu waktu lama untuk menertibkan para siswa, upacara pun dimulai dan berlangsung dengan hikmat. Usai upacara, semua siswa kembali ke kelas masing – masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

                Pelajaran pertama di kelas Ama adalah pelajaran Kimia berama ibu Nurmismai yang adalah wali kelas di kelas dua tiga. Sepert biasa di awal tatap muka guuru – guru akan menyampaikan aturan kelas mereka seperti penugasan, penilaian, buku yang digunakan, dan seterusnya. Sebagai walikelas, bu Mai, panggilan kesayangan sang wali kelas mengatur posisi duduk siswa sekaligus membentuk kepenguruan. Semua iswa diminta berdiri di depan kelas. Bu Mai mengundi nama siswa dan posisi duduknya satu per atu sampai semua sisw mendapatkan tempat. Harapan Ama untuk memilih tempat duduk kandas. Padahal ia sudah merencanakan untuk duduk bergerombol dengan para jilbaber dan jauh dari teman laki – laki. Nyatanya, bu Mai mengatur duduk selang seling laki – laki dan perempuan, bar tidak ngobrol, begitu alasannya.

                Kursi dan meja di kelas tersusun atas empat banjar dan enam baris ke belakang. Setiap meja dipasangkan dengan dua kursi, total tersedia 24 meja dan 48 kursi. Meja pojok paling kanan ditempati siswa, meja sampingnya siswi, begitu seterusnya.  Satu per satu akhwat sudah mendapatkan tempat duduk, tersisa Ama seorang. “Ya, ga jadi duduk sama seorang di antara para akhwat”, begitu batin Ama sedikit kecewa.

“Rahmaila Ismail”

“Angela Valanda”

Suara bu Mai memanggil seraya menunjuk sebuah meja di sebelah kanan baris ke dua.

Ama dan Angel segera menuju tempat yang dimaksud wali kelas mereka. Angel memilih kursi yang merapat ke dinding, biar bisa tidur katanya. Sementara Ama menempati kursi di sisi Angel. Tersedia empat kurs kosong di depan dan belakang meja Ama dan Angel. Masih ada Ahmad, Amal, Arif dan Ismoyo yang belum mendapat tempat duduk. Bu Mai menawarkan empat siswa itu untuk memilih tempatnya masing – masing, namun mereka meminta wali kelasnya untuk melanjutkan pengundian agar sama dengan teman – teman lain. Hasilnya, Arif dan Ismoyo menempati meja di depan Ama dan Angel, Amal dan Ahmad di belakangnya.

                Jam pelajaran yang tersisa dimanfaatkan para siswa untuk saling menyapa dan berkenalan dengan teman sebangku masing – masing.

“Gue Angel, lo?”

“Ama.”

“Anak ROHIS ya ?”

“Iya. Kamu ?”

“Gue paskib, kadang ikutan nge cheer juga.”

“Oh...asik ya, sibuk banget dong.”

“Biasa lah. Kayanya gue bakalan mati gaya duduk di sini”

“Ko’ bisa?”

“Lo anak ROHIS. Di belakang gue tuh si Ahmad anak ROHIS juga, Amal juga kayanya. Tahu yang depan, belum kenal.”

“Semoga kita bisa berteman ya ...”

“Ga yakin sih gue. Secara ya kita kan punya nilai yang beda jauh.”

“Dalam hal?”

“Lihat baju lo. Lihat baju gue. Lo juga pasti ga pacaran kan ? Mana asik gue ngobrol di sini.”

“Ya kita jalanin aja dulu. Yang gue tahu si Ahmad itu meskipun anak ROHIS juga gaul ko. Nah lo kan sekelas sama dia dulu.”

“Eh lo kenal Ahmad rupanya. Iya sih, dia juga asik ko, suka tebar pesona juga hahahhaa.”

“Nah tu tahu. Gue juga bisa ber elo gue kalo itu lebih asik buat lo ngomong.”

“Oke Ama, moga kita bisa berteman. Tapi kalo lo dah nyaman pake aku kamu, ga usah maksain juga sih ngomong lo gue, hehehehe.”

“Siaaaap Angel.”

 “Eh, Ma, boleh nanya ?”

“Boleh lah.”

“Sejak kapan lo pake jilbab, Ma?”

“Baru, lburan kemarin.”

“oh...”

“Kenapa?Culun ya gue ?”

“Nggak ko ...”

                “Angel, ketemu lagi ya kita.” Ahmad menyapa.

“Iya, bosen gue, sempit amat dunia ketemu lo lagi di sini.”

“Suka gitu. Eh, Ama, Alhamdulillah kita sekelas ya... seneng deh.”

“Iya, Alhamdulillah.”

“Kenalin nih Amal, calon profesor. Keren banget loh dia waktu acara KIR kemarin tu.Ya, kan, Ma?”

“Masa?”, tanya Angel.

“Jangan dengerin, Ahmad berlebihan.” Jawab Amal.

“Nah kalau yang duduk di depan itu Arif dan Ismoyo calon ketua OSIS dan ROHIS...” Ahmad melanjutkan perkenalan.

“Apa sih, Ahmad ?” sanggah Arif dan Ismoyo hampir bersamaan.

“Ya ga percaya sih. Lihat aja nanti. Gue kan dah curi dengar waktu para senior sedang rembukan di sekretariat.” Bantah Ahmad penuh keyakinan.

“Kebiasaan Ahmad ni, sok tahu. Orang gue yang mau nyalon jadi ketos juga hehehehe...” timpal Angel berseloroh.

“Lihat aja nanti, kita buktikan ya.” Pungkas Ahmad masih dengan penuh rasa percaya diri, diringi tatapan lima pasang mata yang mergukn dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar