Senin, 10 Agustus 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Manajemen hati

 

                Usai sudah rangkaian pemilihan pengurus OSIS di sekolah Ama. Di akhir acara, komposisi BPH alias badan pengurus harian OSIS periode baru diumumkan.

Ketua OSIS : Mohamad Arif

Wakil ketua 1 : Rezka Zakia

Wakil ketua 2 : Rahmaila Ismail

Sekretaris umum : Ricky

Sekretaris 1 : Nunun Fatmawati

Sekretaris 2 : Fety Fatimah

Bendahara 1 : Agustina Utin

Bendahara 2 : Atun Hasanah

                Dalam acara LDKS yang berlangsung selama tiga hari dua malam itu Ama terpilih menjadi peserta terbaik putri dan Arif peserta terbaik putra. Acara debat yang sangat diminati peserta selalu memunculkan Arif dan Ama sebagai dua kubu yang saling bersebrangan. Ama dengan gaya frontal tanpa basa – basinya versus Arif dengan segala kesantunan dan kebijakannya. Dua karakter yang sangat kontras, betul - betul mewarnai kegiatan LDKS saat itu. Hingga akhirnya hampir semua peserta sepakat bahwa Ama dan Arif adalah pasangan yang ideal untuk menahkodai OSIS selanjutnya, bahkan para pembina menggoda mereka untuk melanjutkan hingga berlayar dalam bahtera rumah tangga kelak. Uhuk uhuk, Ahmad, where are you ?

                LDKS kali ini seolah membawa kemenangan untuk semua pihak. Kebahagiaan memenuh hati para panitia, pembina juga tentunya para peserta. Saatnya kembali kepada realita kehidupan.

“Ma, gue denger lo sama Arif jadi peserta terbaik LDKS ya?” Ahmad melontarkan tanya sesaat setelah Bu Lena menyudahi pelajaran Biologi.

“Wah cepat sekali berita itu tersebar ya.” Ama merespon.

“Berita apa sih ?” Angel menimpali.

“LDKS” sahut Ahmad.

“Oh, iya ada bintang LDKS di kelas kita. Sejoli banget lah pokoknya, mantabs” seru Angel seraya memberikan dua jempolnya.

“Apaan sih ...” Ama tampak risih.

“Iya nih Angel. Gue percaya sama Ama, kalau mereka bakal temenan aja.” Ucap Ahmad. Diikuti dengan rapalan doa dalam hati agar apa yang ia sebutkan barusan menjadi nyata adanya. Ya, ia memang berharap bahwa tidak akan terjadi apa – apa antara Ama dengan Arif. Mereka hanya sekedar ketua dan wakil ketua saja di OSIS.

                Sepekan setelah pemilihan, pengurus OSIS yang baru terpilih akan menjalani prosesi pengukuhan. Setelah itu mereka baru dinyatakan resmi dan bisa menjalanksn tugas sesuai program yang direncanakan. Dan tugas pertama mereka diawali dengan keberangkatan sang ketua beserta wakilnya dalam acara rapat sekolah yang bertempat di villa Ciloto, Puncak Jawa Barat.

“What, Ama ? Jadi kamu yang  akan mendampingi ketua OSIS berangkat ke puncak?” tanya Ahmad menyelidik.

“Iya. Harusnya wakil satu yang berangkat tapi ga dapat izin dari orang tua, maka aku yang gantiin.” Jawab Ama datar.

Ya elah, Ma... flat banget sih. Ga ngerasa apa ya kalau diri ini pengeeeeeeeeeeeeeeeeeen banget larang kamu. Bahaya, Ma. Aduh. Cuma kalian berdua yang berstatus sebagai siswa. Yang lain itu dewan guru dan staf sekolah. Kamu yakin ga akan terjadi apa – apa? Ama, please... bacalah hatiku. Ahmad.

Apaan sih Ahmad. Segala nanya soal raker ke puncak. Lagian ko dia tahu aja sih update OSIS. Heh, dasar anak gaul, mata dan kupingnya di mana – mana. Tahu aja berita terkini. Ups, kecuali satu deh waktu dia gagal cabut dan ketangkep basah sama guru BK, hahahaha. Kayanya Ahmad beneran care sama aku sih. Sikapnya yang suka tebar pesona cenderung ngobral dan PHP mulai berkurang. Mungkin karena dia juga ikut mentoring ROHIS. Tenang aja Ahmad, kekhawatiranmu tentang rasaku pada Arif tidak akan menjadi nyata. Aku, Ama, saat ini hanya menjanjikan persahabatan dengan kalian kaum Adam, hehehehe. Ama    

                Sepekan sebelum acara raker Ama dan Arif sibuk menyiapkan berkas – berkas yang diperlukan, tentu saja hal itu membuat komunikasi mereka berdu lebih intens. Bersyukur mereka satu kelas duduk berdekatan, sangat memudahkan. Demi menyaksikan kedekatan Ama dan Arif, Ahmad memosisikan diri sebagai supporting system untuk Ama, seperti saat itu ketika ia menawarkan jasa pengetikan rencana anggaran kegiatan OSIS dan kegiatan ekstra kurikuler.

“Serius, Mad ?”

“Ya elah Ama...dua rius.”

“Oh, Alhamdulillah kalau gitu, soalnya aku perlu cepat. Besok bisa diserahkan ke pembina. Kan lusa kami dah berangkat.   

“Oh iya, ntar di sana nginep di vila atau pakai tenda ? Gue ada tuh di rumah, tenda kecil, muat untuk tga sampai empat orang lah.”

“Di vila dong Ahmad. Katanya sih yang punya vila masih keluarga seorang guru di sini.”

“O ya udah. Kalau ada yang bisa gue bantu lagi kabari aja ya.”

“Insya Allah cukup itu. Makasih banyak loh sebelumnya, beruntung banget punya temen yang bisa diandalkan kaya dirimu.”  

“Iya” Ahmad menjawab singkat. Ada rasa hangat menjalar saat mendengar kata – kata Ama. Dan seulas senyum dari Ama membuatnya ingin menghentikan sang waktu agar ia bisa terus menikmati senyum yang selalu ia rindukan.

What did you say Ama ? Beruntung banget punya temen yang bisa diandalkan kaya dirimu. Akhirnya kamu merasa beruntung sudah memiliki aku, walaupun hanya sebatas sahabat. Pokoknya kamu ga kan menyesal kalau mengizinkan aku menjadi tempat untuk berlabuh.  Terima kasih atas bahagia yang kau tebar Ama, rasanya sangat indah. Ahmad 

Ya, Allah terima kasih atas sahabat baik hati yang Kau kirimkan untukku. Ahmad ... thank you so much. Moga kita bias terus bersahabat ya. Ama.

                Akhirnya waktu yang dinanti telah tiba. Setelah sholat Jum’at rombongan peserta raker bertolak menuju Puncak, Jawa Barat. Arif ikut mobil bapak – bapak guru sementara Ama ikut rombongan pengurus koperasi. Mobil starlet metalik yang dikemudikan oleh Bapak Supena itu membawa empat penumpang : Bu Wieke pembina OSIS, bu Azizah dan bu Ana bendahara koperasi, juga Ama.

“Bu, saya mohon izin tidur di mobil ya. Karena mabuk perjalanan saya harus minum anti mabuk bu.” Ama meminta izin kepada pembinanya.

“Masa kamu mabuk sih, Ma?” Tanya bu Wieke tidak percaya.

“Iya, bu...beneran. Boleh ya, bu...” pinta Ama.

“Tidur lah.”

“Makasi ibuuu.”

                Sebentar saja Ama terjaga dan sesekali menimpali obrolan para guru di dalam mobil. Saat memasuki tol jagorawi, ia tak kuasa menahan kantuk dan tertidur. Saat kembali terjaga ia dapati pemandangan yang indah terpampang di kanan dan kiri jalan. Kebun teh luas terbentang. Udara sejuk menyusup membelai setiap senti kulitnya. Brrr. Ama masih enggan membuka kelopak mata. Jadilah ia tersadar tanpa disadari penumpang lain dalam mobil. Saat itu samar ia mendengar gurunya sedang berdiskusi soal bagi hasil di koperasi, tentang guru – guru yang berebut ingin masuk ke jajaran BPH koperasi dan seterusnya. Mau tidak mau terpaksa Ama harus mendengar perpolitikan di sekolah, hihihi. Ia terus berusaha memejamkan mata agar para guru tidak terganggu obrolan hangatnya. Sampai saat pak Supena memekik khawatir,

“Subhananllah, bu ... remnya ga bisa ini. Blong. Waduh, mana di depan ada turunan.”

“Ah, yang bener, pak?” bu Azizah memastikan.

“Beneran, bu ...”

                Jalan di Puncak memang berkelok, menanjak dan menurun. Tak sedikit mobil yang menepi dengan mengeluarkan uap atau mengeluarkan bau terbakar yang menyengat. Seperti mobil yang ditumpangi Ama kini, mulai mengeluarkan bau terbakar yang menyengat.

“Pak kita menepi aja, kalau bisa di bngkel depan itu.” Ujar bu Wieke.

“Iya, bu. Saya usahakan sampai ke sana. Bismillah.”

Kelopak mata Ama yang semula enggan terbuka, seketika tampak penuh terbuka. Ama melihat lurus ke depan, beberapa saat lagi mobil memasuki area turunan yang cukup curam. Beryukur pak Supena handal mengemudi, persis sebelum jalan menurun, ia berhasil membelokkan mobil masuk ke dalam bengkel yang terletak di kiri jalan.

“Alhamdulillah.” Seisi mobil kompak bersyukur.

“Sudah jam lima ya, bu. Kita belum sholat Ashar.” Ucap Ama.

“Iya. Yo kita cari tempat sholat.” Bu Wieke menyahut.

“Saya sholat di sini saja ya” seru pak Pena seraya menunjuk ruang kecil di samping bengkel.

“Iya, pak.Kami kan perlu ke toilet, jadi mau cari mushola aja. Ga mungkin juga kan Ama berwudhu di sini.” Seru bu Wieke seraya menunjuk keran air yang terletak di samping bengkel.

“Kami sedang libur...” ucap bu Azizah dan bu Ana hampr bersamaan.

                Perjalanan mencari mushola dimulai. Ama mengikuti langkah bu Wieke. Tanpa ragu bu Wieke menggamit tangan Ama seolah sedang menuntun anaknya sendiri. Setelah berjalan sekitar lima menit tibalah mereka di sebuah mushola yang terkunci.

“Terkunci, Ma ...”

“Gapapa di teras aja bu. Yang penting kita bisa akses toilet, ya kan ?”

“Iya. Kamu jadi imam ya.?

“Ko saya, bu ? Kan ibu gurunya.”

“Tapi kamu yang duluan belajar Islam. Nih, lihat baju saya, rambut masih terbuka. Dah kamu jadi imam, saya makmum.”

“Baik, bu ...” dalam hati Ama merasa bangga dengan sikap gurunya yang terbuka dan tidak ‘mentang – mentang’ jadi guru.

                Setelah drama rem blong, akhirnya mobil yang Ama tumpangi tiba di lokasi raker. Gerbang besar menyambut kedatangan mereka. Deretan pohon cemara memperkuat suasana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar