Teman
Sehati * Best Friend Forever
Manajemen hati
Usai
sudah rangkaian pemilihan pengurus OSIS di sekolah Ama. Di akhir acara,
komposisi BPH alias badan pengurus harian OSIS periode baru diumumkan.
Ketua OSIS :
Mohamad Arif
Wakil ketua 1 :
Rezka Zakia
Wakil ketua 2 :
Rahmaila Ismail
Sekretaris umum
: Ricky
Sekretaris 1 :
Nunun Fatmawati
Sekretaris 2 : Fety
Fatimah
Bendahara 1 :
Agustina Utin
Bendahara 2 : Atun
Hasanah
Dalam acara LDKS yang berlangsung
selama tiga hari dua malam itu Ama terpilih menjadi peserta terbaik putri dan
Arif peserta terbaik putra. Acara debat yang sangat diminati peserta selalu
memunculkan Arif dan Ama sebagai dua kubu yang saling bersebrangan. Ama dengan
gaya frontal tanpa basa – basinya versus Arif dengan segala kesantunan dan
kebijakannya. Dua karakter yang sangat kontras, betul - betul mewarnai kegiatan
LDKS saat itu. Hingga akhirnya hampir semua peserta sepakat bahwa Ama dan Arif
adalah pasangan yang ideal untuk menahkodai OSIS selanjutnya, bahkan para
pembina menggoda mereka untuk melanjutkan hingga berlayar dalam bahtera rumah
tangga kelak. Uhuk uhuk, Ahmad, where are you ?
LDKS
kali ini seolah membawa kemenangan untuk semua pihak. Kebahagiaan memenuh hati
para panitia, pembina juga tentunya para peserta. Saatnya kembali kepada
realita kehidupan.
“Ma, gue denger lo sama Arif jadi peserta terbaik
LDKS ya?” Ahmad melontarkan tanya sesaat setelah Bu Lena menyudahi pelajaran
Biologi.
“Wah cepat sekali berita itu tersebar ya.” Ama
merespon.
“Berita apa sih ?” Angel menimpali.
“LDKS” sahut Ahmad.
“Oh, iya ada bintang LDKS di kelas kita. Sejoli
banget lah pokoknya, mantabs” seru Angel seraya memberikan dua jempolnya.
“Apaan sih ...” Ama tampak risih.
“Iya nih Angel. Gue percaya sama Ama, kalau mereka
bakal temenan aja.” Ucap Ahmad. Diikuti dengan rapalan doa dalam hati agar apa
yang ia sebutkan barusan menjadi nyata adanya. Ya, ia memang berharap bahwa
tidak akan terjadi apa – apa antara Ama dengan Arif. Mereka hanya sekedar ketua
dan wakil ketua saja di OSIS.
Sepekan
setelah pemilihan, pengurus OSIS yang baru terpilih akan menjalani prosesi
pengukuhan. Setelah itu mereka baru dinyatakan resmi dan bisa menjalanksn tugas
sesuai program yang direncanakan. Dan tugas pertama mereka diawali dengan
keberangkatan sang ketua beserta wakilnya dalam acara rapat sekolah yang
bertempat di villa Ciloto, Puncak Jawa Barat.
“What, Ama ? Jadi kamu yang akan mendampingi ketua OSIS berangkat ke
puncak?” tanya Ahmad menyelidik.
“Iya. Harusnya wakil satu yang berangkat tapi ga dapat
izin dari orang tua, maka aku yang gantiin.” Jawab Ama datar.
Ya elah, Ma...
flat banget sih. Ga ngerasa apa ya kalau diri ini pengeeeeeeeeeeeeeeeeeen
banget larang kamu. Bahaya, Ma. Aduh. Cuma kalian berdua yang berstatus sebagai
siswa. Yang lain itu dewan guru dan staf sekolah. Kamu yakin ga akan terjadi
apa – apa? Ama, please... bacalah hatiku. Ahmad.
Apaan sih
Ahmad. Segala nanya soal raker ke puncak. Lagian ko dia tahu aja sih update
OSIS. Heh, dasar anak gaul, mata dan kupingnya di mana – mana. Tahu aja berita
terkini. Ups, kecuali satu deh waktu dia gagal cabut dan ketangkep basah sama
guru BK, hahahaha. Kayanya Ahmad beneran care sama aku sih. Sikapnya yang suka
tebar pesona cenderung ngobral dan PHP mulai berkurang. Mungkin karena dia juga
ikut mentoring ROHIS. Tenang aja Ahmad, kekhawatiranmu tentang rasaku pada Arif
tidak akan menjadi nyata. Aku, Ama, saat ini hanya menjanjikan persahabatan
dengan kalian kaum Adam, hehehehe. Ama
Sepekan
sebelum acara raker Ama dan Arif sibuk menyiapkan berkas – berkas yang
diperlukan, tentu saja hal itu membuat komunikasi mereka berdu lebih intens.
Bersyukur mereka satu kelas duduk berdekatan, sangat memudahkan. Demi
menyaksikan kedekatan Ama dan Arif, Ahmad memosisikan diri sebagai supporting system untuk Ama, seperti
saat itu ketika ia menawarkan jasa pengetikan rencana anggaran kegiatan OSIS
dan kegiatan ekstra kurikuler.
“Serius, Mad ?”
“Ya elah Ama...dua rius.”
“Oh, Alhamdulillah kalau gitu, soalnya aku perlu
cepat. Besok bisa diserahkan ke pembina. Kan lusa kami dah berangkat.
“Oh iya, ntar di sana nginep di vila atau pakai tenda
? Gue ada tuh di rumah, tenda kecil, muat untuk tga sampai empat orang lah.”
“Di vila dong Ahmad. Katanya sih yang punya vila
masih keluarga seorang guru di sini.”
“O ya udah. Kalau ada yang bisa gue bantu lagi kabari
aja ya.”
“Insya Allah cukup itu. Makasih banyak loh
sebelumnya, beruntung banget punya temen yang bisa diandalkan kaya dirimu.”
“Iya” Ahmad menjawab singkat. Ada rasa hangat
menjalar saat mendengar kata – kata Ama. Dan seulas senyum dari Ama membuatnya
ingin menghentikan sang waktu agar ia bisa terus menikmati senyum yang selalu
ia rindukan.
What did you
say Ama ? Beruntung banget punya temen yang bisa diandalkan kaya dirimu.
Akhirnya kamu merasa beruntung sudah memiliki aku, walaupun hanya sebatas
sahabat. Pokoknya kamu ga kan menyesal kalau mengizinkan aku menjadi tempat
untuk berlabuh. Terima kasih atas
bahagia yang kau tebar Ama, rasanya sangat indah. Ahmad
Ya, Allah
terima kasih atas sahabat baik hati yang Kau kirimkan untukku. Ahmad ... thank
you so much. Moga kita bias terus bersahabat ya. Ama.
Akhirnya
waktu yang dinanti telah tiba. Setelah sholat Jum’at rombongan peserta raker
bertolak menuju Puncak, Jawa Barat. Arif ikut mobil bapak – bapak guru
sementara Ama ikut rombongan pengurus koperasi. Mobil starlet metalik yang
dikemudikan oleh Bapak Supena itu membawa empat penumpang : Bu Wieke pembina
OSIS, bu Azizah dan bu Ana bendahara koperasi, juga Ama.
“Bu, saya mohon izin tidur di mobil ya. Karena mabuk
perjalanan saya harus minum anti mabuk bu.” Ama meminta izin kepada pembinanya.
“Masa kamu mabuk sih, Ma?” Tanya bu Wieke tidak
percaya.
“Iya, bu...beneran. Boleh ya, bu...” pinta Ama.
“Tidur lah.”
“Makasi ibuuu.”
Sebentar
saja Ama terjaga dan sesekali menimpali obrolan para guru di dalam mobil. Saat
memasuki tol jagorawi, ia tak kuasa menahan kantuk dan tertidur. Saat kembali
terjaga ia dapati pemandangan yang indah terpampang di kanan dan kiri jalan.
Kebun teh luas terbentang. Udara sejuk menyusup membelai setiap senti kulitnya.
Brrr. Ama masih enggan membuka kelopak mata. Jadilah ia tersadar tanpa disadari
penumpang lain dalam mobil. Saat itu samar ia mendengar gurunya sedang
berdiskusi soal bagi hasil di koperasi, tentang guru – guru yang berebut ingin
masuk ke jajaran BPH koperasi dan seterusnya. Mau tidak mau terpaksa Ama harus
mendengar perpolitikan di sekolah, hihihi. Ia terus berusaha memejamkan mata
agar para guru tidak terganggu obrolan hangatnya. Sampai saat pak Supena
memekik khawatir,
“Subhananllah, bu ... remnya ga bisa ini. Blong.
Waduh, mana di depan ada turunan.”
“Ah, yang bener, pak?” bu Azizah memastikan.
“Beneran, bu ...”
Jalan
di Puncak memang berkelok, menanjak dan menurun. Tak sedikit mobil yang menepi
dengan mengeluarkan uap atau mengeluarkan bau terbakar yang menyengat. Seperti
mobil yang ditumpangi Ama kini, mulai mengeluarkan bau terbakar yang menyengat.
“Pak kita menepi aja, kalau bisa di bngkel depan
itu.” Ujar bu Wieke.
“Iya, bu. Saya usahakan sampai ke sana. Bismillah.”
Kelopak mata Ama yang semula enggan terbuka, seketika
tampak penuh terbuka. Ama melihat lurus ke depan, beberapa saat lagi mobil
memasuki area turunan yang cukup curam. Beryukur pak Supena handal mengemudi,
persis sebelum jalan menurun, ia berhasil membelokkan mobil masuk ke dalam
bengkel yang terletak di kiri jalan.
“Alhamdulillah.” Seisi mobil kompak bersyukur.
“Sudah jam lima ya, bu. Kita belum sholat Ashar.”
Ucap Ama.
“Iya. Yo kita cari tempat sholat.” Bu Wieke menyahut.
“Saya sholat di sini saja ya” seru pak Pena seraya
menunjuk ruang kecil di samping bengkel.
“Iya, pak.Kami kan perlu ke toilet, jadi mau cari
mushola aja. Ga mungkin juga kan Ama berwudhu di sini.” Seru bu Wieke seraya
menunjuk keran air yang terletak di samping bengkel.
“Kami sedang libur...” ucap bu Azizah dan bu Ana
hampr bersamaan.
Perjalanan
mencari mushola dimulai. Ama mengikuti langkah bu Wieke. Tanpa ragu bu Wieke menggamit
tangan Ama seolah sedang menuntun anaknya sendiri. Setelah berjalan sekitar
lima menit tibalah mereka di sebuah mushola yang terkunci.
“Terkunci, Ma ...”
“Gapapa di teras aja bu. Yang penting kita bisa akses
toilet, ya kan ?”
“Iya. Kamu jadi imam ya.?
“Ko saya, bu ? Kan ibu gurunya.”
“Tapi kamu yang duluan belajar Islam. Nih, lihat baju
saya, rambut masih terbuka. Dah kamu jadi imam, saya makmum.”
“Baik, bu ...” dalam hati Ama merasa bangga dengan
sikap gurunya yang terbuka dan tidak ‘mentang – mentang’ jadi guru.
Setelah
drama rem blong, akhirnya mobil yang Ama tumpangi tiba di lokasi raker. Gerbang
besar menyambut kedatangan mereka. Deretan pohon cemara memperkuat suasana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar