Sabtu, 01 Agustus 2020

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Berhijrah

 

                Musim libur telah tiba. Biasanya Ama dan keluarga akan menghabiskan masa liburan sekolah di kampung halaman ibunya. Berbeda dengan liburan kali ini, Ama memilih ikut acara Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), satu dari sekian kegitan ekstra kurikuler di sekolahnya. Rencananya ia akan belajar melakukan penelitian di wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Lagi – lagi ini agenda outing pertama kali yang Ama ikuti.

“Seriusan mau ikut, Ma?” tanya Nunun memastikan kesunguhan Ama kala itu.

“InsyaAllah, Nun. Kamu kut juga, kan ?”

“Iya, insyaAllah. Tapi ini beda dengan dauroh kemarin loh. Nanti kita kan tidur dalam tenda, bukan penginapan yang nyaman.”

“Iya, panitia sudah menjelaskan  smua. Termasuk kemungkinan kita akan manghadapi keterbatasan sumber air.”

“Dah siap kan kalau harus ga mandi ?” goda Nunun.

“iap komandn, hehehe” jawab Ama mantap.

                Dan di sinilah Ama sekarang. Menunggu keberangkatan, lagi – lagi menggunakan tronton untuk mengangkut mereka menuju lokasi acara. Sesekali Ama melihat bayangannya dalam cermin. Memastikan kalau tidak ada yang kurang dari penampilannya kali ini. Sementara di kejauhan tampak sepasang mata memerhatikan gerak gerik Ama. Seulas senyum mewarnai hati yang gempita.

Ya, Allah ... jilbab putih itu semakin membuatnya terlihat anggun dan mempesona. Ingin rasanya menghampiri dia lalu menyampaikan doa langsung di hadapannya. Duh gusti nu Agung, kapan diriku bisa menyatakan rasa ini ? Kua ya Allah, kuat. Duhai hat, bekerja samalah denganku. Ayo Ahmad kamu pasti bisa.

“Ama ? Masya Allah, beneran ini Ama?” suara yang sangat dikenal menghentikan aktivitas Ama mematut diri di depan cermin.

“Eh, Nunun. Alhamdulillah akhirnya datang juga. Iya, ini aku, Ama.”

Nunun menyorot setiap senti sosok di hadapannya. Dari ujung jilbab yang membalut, menutup ikal mayang rambut yang biasa tergerai berhiaskan bandana bermotif bunga. Kacamata yang bertengger di hidung yang tak mancung, melindungi dua bola mata yang selalu ceria penuh tanya. Diraihnya dua tangan Ama masih dengan terpana, lalu membawanya dalam dekapan.

“Alhamdulillah, Ama. Selamat datang saudariku. You’re so beautifull. Cantik banget.”

Bisik Nunun di telinga Ama. Bulir bening yang sedari tadi tertahan di bola matanya akhirnya meluncur dan mendarat di jilbab putih Ama. Dipeluknya erat sahabat yang senantiasa ia bawa dalam doa di sujud panjangnya, seraya melantunkan tasbih dan tahmid tanpa jeda.

                Usai meluapkan rasa, Nunun melepaskan dekapan. Di raihnya seraut wajah di hadapan dengan kedua tangan lalu mendaratkan kecupan hangat di pipi kanan dan kiri Ama. Mendapat perlakuan yang super hangat membuat hati Ama dipenuhi rasa bahagia. Sinar mentari kian menghangatkan keadaan.

“Moga istiqomah ya.”

“Aamiin, Insya Allah. Saling mendoakan ya.”

“Ayo kita bergegas, panitia sudah memanggil.”

“Oke.”

                Masih dalam balutan haru dan bahagia, Ama, Nunun juga para peserta bergegas menuju tronton yang akan membawa mereka ke lokasi tujuan. Ama yang mengenakan rok panjang untuk pertama kali dalam hidupnya tampak berjalan dengan kaku dan terbatas. Biasanya ia berlari atau berjalan dengan langkah panjang, kini geraknya terbatasi oleh rok yang ia kenakan.

“Hadeuh ... pantesan para akhwt jalannya lelet ya, Nun ... repot juga pakai rok panjang ternyata, hihihi. Basanya kan aku pakai celana panjang jadi leluasa bergerak.”

“Hehehehe, ya ga juga sih, Ma. Kan sekrang banyak model rok yang longgar.”

“Iya sih, nanti lah beli yang model lebar. Sekarang mah seadanya dulu ya.”

“Iya, syukurin aja dulu, ntar kan Allah tambah nikmatnya”

“Siip. Btw ntar pas naik itu kan agak tinggi ya, apa boleh aku angkat rok? Pakai dalaman celana panjang kok, aman.”

“Boleh, sekarang juga boleh diangkat dikit macam Cinderella gitu, hihihi.”

”Nggak ah, malu. Ntar pada ngeliatin lagi, Cinderellanya masih berdebu...”

Derai tawa mewarnai langkah mereka.

                Sementara di kejauhan, sepasang mata yang masih setia mengikuti Ama tampak sangat bahagia menikmati setiap ekspresi senyum dan tawa milik Ama. Sesekali ia tersenyum simpul menyaksikan Ama yang tampak kesulitan berjalan dengan rok panjangnya.

“Selamat belajar jadi perempuan yang anggun ya, pujaan hatiku. Pelan – pelan jalannya jangan kaya jagoan ... hehehe” ujarnya terkekeh kecil.

“Mad, ngapain masih di sini ? Ga jadi ikutan ke Sukabumi ?” Suara bariton mengejutkan Ahmad yang sedang sibuk dengan pikirannya.

“Eh pak Syaiful ... jadi dong, pak. Ini sudah siap.” Jawab Ahmad seraya menunjukkan ranselnya.

“Ayolah berangkat.”

“Siap, pak.”

                Jumlah peserta yang hanya puluhan mampu ditampung dalam satu tronton. Sebuah mobil berkapsitas tujuh penumpang tampak mengiringi. Di dalamnya berisi para panitia acara dan tentunya pak Syaiful selakku pembina KIR. Di dalam tronton, speserta laki – laki dan erempuan duduk bersebrangan. Dibatasi tumpukan tas dan barang – barang keperluan acara milik panitia. Ahmad sibuk menata hati dan mejaga agar matanya tidak lari ke beberapa baris di hadapan, tempat di mana Ama dan Nunun duduk bersisian. Disisirnya tumpukan ransel aneka jenis dan warna untuk menyibukkan dirinya. Berusaha membuk obrolan dengan teman yang duduk di kanan dan kirinya juga menjadi pilihan sambil sesekali curi – curi pandang ke gadis idaman. Sementara sang pujaan sibuk memelototi buku di hadapan, seperti biasa.

“Ama pake jilbab ya sekarang ?” tanya Syauty kepada Ahmad

“Iya, seperti yang lo lihat.”

“Sejak kapan ?” tanya Rifgun.

“Ga tahu. Lo tanya aja orangnya.”

“Ogah, syerem. Bukan dijawab yang ada malah dipelototin ampe matanya yang belo itu maksimal pengen lompat keluar, hahahaha”

“Pengalaman ya, Rif?” tanya Syauty yang dijawab derai tawa Ahmad dan Rifgun.

“Btw itu pakai kaca mata sekarang, tambah kelihatan pinter aje.” Sambung Syauty.

“Juga manis ya ...” imbuh Ahmad.

“Ahmad, katanya jaga pandangan, nyatanya .... hayoooo.” Goda Rifgun.

“Tapi emang bener siiiy, Mad.” Ucap Syauty seraya melirik Ahmad.

 “Astghfirullah, udah ah, kita bahas yang lain aja.” Ahmad berupaya mengalihkan pembicaraan agar hatinya tidak terbuai dan terbaca oleh dua sahabat usil di dekatnya.

                Begitulah suasana di dalam tronton. Meriah dengan aneka polah. Ada yang tertawa bahagia, terlibat dalam diskusi yang serius atau sekedar haha hihi. Ada yang terbang ke alam mimpi, membaca, dan seterusnya. Deru angin berlomba dengan raungan tronton. Berpacu membunuh jarak antara Jakarta dan Sukabumi. Semua tampak asik menikmati perjalanan dengan gaya pilihan masing – masing. Smpai jumpa Jakarta, sukabumi, we’re comiiiiiing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar