Teman
Sehati * Best Friend Forever
Bersahabat dengan ikhwan (2)
Siang
itu usai menunaikan sholat Zuhur, rombongan raker beranjak meninggalkan villa.
Seperti saat berangkat, Ama kembali menumpang mobil starlet yang disupiri oleh
pak Pena. “Bagaimana Ama, apa minum obat anti mabuk lagi ?” goda bu Wieke
“Sudah bu, tadi, tinggal tunggu pulasnya.”
“Ma..”
“Iya bu Ana.”
“Kamu dan Arif tu terlihat cocok banget deh, apa ga
kepikiran jalan bareng gitu ?”
“Maksudnya gimana bu ? Ga ngerti saya, he.”
“Pacaran, ma.” Celetuk bu Azizah diiringi tawa guru
lain.
“Nggak lah, bu ... Saya ga kenal kamus pacaran.”
“Ko gitu ? Itu kan biasa buat kalian, apalagi anak
SMA yang sebentar lagi punya KTP, ya kan ?”
“Biasa bukan berarti harus kan, bu ?”
“Iya sih. Tapi kenapa ? Apalagi kami lihat kalian
berdua itu pas. Ya kan bu, pak ?” Bu Ana meminta perestujuan rekan – rekannya.
Dan semua komak menganggukkan kepala tanda setuju.
Ya, Allah
kenapa belum tidur juga sih gue. Jadi dtanya-tanya gini kan. Jadi curhat gue
entar. Ya elah. Jawab apa coba, mana mereka kompak bener lagi. Ribet deh. Ga
pernh lihat cowok dan cewek bersahabat kali ya jadi bawaannya kalau ada sepasang
manuia dekat itu harus pakai rasa cinta. Oh, pliz.
“Kenapa coba, Ma ?”
“Bisa panjang ini penjelasannya, bu, pak.” Ama
berusaha menghindar.
“Ga papa,in baru mau masuk tol. Masih ada satu jam
setengah perjalanan. Kita punya cukup banyak waktu Ama. Santai saja.” Pak Pena
menjelaskan.
“Waaa, saya ga jadi tidur dong, nih...”
“Nikmati perjalananlah sesekalli.” Jawab bu Wieke. “Ayo
dijawab.” Ia melanjutkan.
“Wah, berasa jadi terdakwa saya... hehehhe. Oke,
bapak ibu, jadi kenapa saya ga kenal kamus pacaran?”
“Pertama,
teman – teman yang saya kenal dekat dan berpacaran itu punya beberapa kerugian.
Antara lain rugi waktu, karena harus nganterin ceweknya kesana kemari dia jadi
ga punya banyak waktu buat belajar, pretasi jadi menurun dan dimarahi orang
tua, bahkan ada yang akhirnya jatah uang sakunya di kurangi. Beuh rugi bertubi –
tubi itu namanya. Lalu rugi perasaan, teruama buat teman – teman cewek yang
saya kenal. Mereka jadi sering ga mood. Lagi kangen males belajar, lagi sebel
juga gtu. Ga diapelin marah, ga diajak jalan langsung bad mood, etc. Nggak banget
deh buat saya mah.”
“Kedua,
ada yang lebih menyenangkan dari sekedar berpacaran. Apa itu ? Persahabatan.
Bukan rumah sakit yang dirawamangun ya bapak ibu, hihihi. Tapi persahabatan
dalam makna sebenarnya. Berpacaran cenderung membuat orang tampil dengan
topeng. Menyembunyikan keburukan demi menarik perhatian pacarnya. Sementara
bersahabat membuat kita bebas menampakkan diri kita apa adanya. Tidak ada
tuntutan, yang ada hanya saling pengertian. Menerima sahabat kita dengan segala
kekurangan dan kelebihannya. Tulus dalam memberi serta jujur dalam menerima.
Tidak ada paksaan, semua berjalan atas kesukarelaan.”
“Ketiga,
pacaran seperti menghalalkan orang – orang yang menjalaninya untuk melakukan
hal – hal yang sebenarnya dilarang agama juga norma sosial, misalnya berpelukan
atau bahkan maaf, berciuman. Ga sedikit mereka yang pacaran akhirnya terjerumus
free sex, na’udzubillah. Pacaran juga seperti mengikat meski sebenarnya tidak
ada ikatan sama sekali. Ga bebas bergaul karena dilarang sama pacar, dicemburui
dan seterusnya. Hadeuh, padahal kan kita perlu banyak kenalan untuk relasi,
iyakan ?”
“Keempat,
ini yang paling penting. Bahwa agama kita yaitu Islam sama sekali tidak
mengenal istilah pacaran. Adab bergaul dengan lawan jenis saja diatur sedemikian
rupa. Indah, sangat indah bahkan.”
“Masuk akal sih, apa yang kamu sampaikan. Lalu
bagaimana kamu memilih laki – laki yang kelak akan menjadi imm dalam bahtera
rumah tangga ?” tanya bu Azizah
“Mudah aja sih itu, Bu. Kita kan diberi kelelusaan
untuk menentukan jodoh kita sendiri. Ga pacaran bukan berarti saya ga gaul
apalagi menutup diri. Kalau sudah waktunya, ada banyak cara Allah untuk
mempertemukan kita dengan jodoh kita.”
“Suit suit .... Tapi gimana kalau Arif tu jodoh kamu,
Ma?”
“Ya ampun bu Ana,Arif lagi aja huhuhuhu....”
“Hahahahaha” para guru serempak menertawakan Ama.
“Sejauh ini saya dan Arif bersahabat, bu,pak. Tidak
lebih.”
“Baiklah Ama. Sahabat untuk hari ini dan kekasih
untuk masa depan, hehehhe” Pak Pena terkekeh.
“Aduh ya ampun ... ini saya berasa ko Arif punya
banyak sekali pendukung ya ? Luar biasa.”
“Grrrrr” kembali para guru berderai tawa.
Diskusi
yang hangat dan penuh ceria mewarnai perjalanan kali itu. Ama akhirnya tertidur
saat mobil memasuki separuh perjalanan dalam tol Jagorawi. Guru – guru juga
tampak menikmati perjalanan dengan pikiran masing –masing. Mungkn mereka sedang
mencerna pejelasan Ama tentang mengapa tidak pacaran. Good job Ama.
Hari
beranjak senja saat Ama tiba di rumah. Ia segera membersihkan diri, sholat
maghrib bersama ibunya, lalu makan bersama plus berbgi cerita tentang
pengalamannya selama raker dan tentu saja memberkan buah tangan berup stroberi
dan moci yang banyak dijajakan di kebon teh juga sepanjang jalan raya puncak. Usai
sholat Isya, Ama memutuskan untuk membongkar isi tas yang ia bawa saat raker.
Selesai merapikan buku pelajaran yang akan dibawa esok, Ama terlelap meski saat
itu jarum jam bru menunjuk angka delapan. Sepertinya ia kelelahan.
Pagi
itu dengan rasa lelah yang masih mendera, Ama menguatkan dirinya untuk berangkat
ke sekolah demi menghindari tertinggal pelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar