Rabu, 12 Agustus 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Bersahabat dengan ikhwan (2)

 

                Siang itu usai menunaikan sholat Zuhur, rombongan raker beranjak meninggalkan villa. Seperti saat berangkat, Ama kembali menumpang mobil starlet yang disupiri oleh pak Pena. “Bagaimana Ama, apa minum obat anti mabuk lagi ?” goda bu Wieke

“Sudah bu, tadi, tinggal tunggu pulasnya.”

“Ma..”

“Iya bu Ana.”

“Kamu dan Arif tu terlihat cocok banget deh, apa ga kepikiran jalan bareng gitu ?”

“Maksudnya gimana bu ? Ga ngerti saya, he.”

“Pacaran, ma.” Celetuk bu Azizah diiringi tawa guru lain.

“Nggak lah, bu ... Saya ga kenal kamus pacaran.”

“Ko gitu ? Itu kan biasa buat kalian, apalagi anak SMA yang sebentar lagi punya KTP, ya kan ?”

“Biasa bukan berarti harus kan, bu ?”

“Iya sih. Tapi kenapa ? Apalagi kami lihat kalian berdua itu pas. Ya kan bu, pak ?” Bu Ana meminta perestujuan rekan – rekannya. Dan semua komak menganggukkan kepala tanda setuju.

Ya, Allah kenapa belum tidur juga sih gue. Jadi dtanya-tanya gini kan. Jadi curhat gue entar. Ya elah. Jawab apa coba, mana mereka kompak bener lagi. Ribet deh. Ga pernh lihat cowok dan cewek bersahabat kali ya jadi bawaannya kalau ada sepasang manuia dekat itu harus pakai rasa cinta. Oh, pliz.

“Kenapa coba, Ma ?”

“Bisa panjang ini penjelasannya, bu, pak.” Ama berusaha menghindar.

“Ga papa,in baru mau masuk tol. Masih ada satu jam setengah perjalanan. Kita punya cukup banyak waktu Ama. Santai saja.” Pak Pena menjelaskan.

“Waaa, saya ga jadi tidur dong, nih...”

“Nikmati perjalananlah sesekalli.” Jawab bu Wieke. “Ayo dijawab.” Ia melanjutkan.

“Wah, berasa jadi terdakwa saya... hehehhe. Oke, bapak ibu, jadi kenapa saya ga kenal kamus pacaran?”

                “Pertama, teman – teman yang saya kenal dekat dan berpacaran itu punya beberapa kerugian. Antara lain rugi waktu, karena harus nganterin ceweknya kesana kemari dia jadi ga punya banyak waktu buat belajar, pretasi jadi menurun dan dimarahi orang tua, bahkan ada yang akhirnya jatah uang sakunya di kurangi. Beuh rugi bertubi – tubi itu namanya. Lalu rugi perasaan, teruama buat teman – teman cewek yang saya kenal. Mereka jadi sering ga mood. Lagi kangen males belajar, lagi sebel juga gtu. Ga diapelin marah, ga diajak jalan langsung bad mood, etc. Nggak banget deh buat saya mah.”

                “Kedua, ada yang lebih menyenangkan dari sekedar berpacaran. Apa itu ? Persahabatan. Bukan rumah sakit yang dirawamangun ya bapak ibu, hihihi. Tapi persahabatan dalam makna sebenarnya. Berpacaran cenderung membuat orang tampil dengan topeng. Menyembunyikan keburukan demi menarik perhatian pacarnya. Sementara bersahabat membuat kita bebas menampakkan diri kita apa adanya. Tidak ada tuntutan, yang ada hanya saling pengertian. Menerima sahabat kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tulus dalam memberi serta jujur dalam menerima. Tidak ada paksaan, semua berjalan atas kesukarelaan.”

                “Ketiga, pacaran seperti menghalalkan orang – orang yang menjalaninya untuk melakukan hal – hal yang sebenarnya dilarang agama juga norma sosial, misalnya berpelukan atau bahkan maaf, berciuman. Ga sedikit mereka yang pacaran akhirnya terjerumus free sex, na’udzubillah. Pacaran juga seperti mengikat meski sebenarnya tidak ada ikatan sama sekali. Ga bebas bergaul karena dilarang sama pacar, dicemburui dan seterusnya. Hadeuh, padahal kan kita perlu banyak kenalan untuk relasi, iyakan ?”

                “Keempat, ini yang paling penting. Bahwa agama kita yaitu Islam sama sekali tidak mengenal istilah pacaran. Adab bergaul dengan lawan jenis saja diatur sedemikian rupa. Indah, sangat indah bahkan.”

“Masuk akal sih, apa yang kamu sampaikan. Lalu bagaimana kamu memilih laki – laki yang kelak akan menjadi imm dalam bahtera rumah tangga ?” tanya bu Azizah

“Mudah aja sih itu, Bu. Kita kan diberi kelelusaan untuk menentukan jodoh kita sendiri. Ga pacaran bukan berarti saya ga gaul apalagi menutup diri. Kalau sudah waktunya, ada banyak cara Allah untuk mempertemukan kita dengan jodoh kita.”

“Suit suit .... Tapi gimana kalau Arif tu jodoh kamu, Ma?”

“Ya ampun bu Ana,Arif lagi aja huhuhuhu....”

“Hahahahaha” para guru serempak menertawakan Ama.

“Sejauh ini saya dan Arif bersahabat, bu,pak. Tidak lebih.”

“Baiklah Ama. Sahabat untuk hari ini dan kekasih untuk masa depan, hehehhe” Pak Pena terkekeh.

“Aduh ya ampun ... ini saya berasa ko Arif punya banyak sekali pendukung ya ? Luar biasa.”

“Grrrrr” kembali para guru berderai tawa.

                Diskusi yang hangat dan penuh ceria mewarnai perjalanan kali itu. Ama akhirnya tertidur saat mobil memasuki separuh perjalanan dalam tol Jagorawi. Guru – guru juga tampak menikmati perjalanan dengan pikiran masing –masing. Mungkn mereka sedang mencerna pejelasan Ama tentang mengapa tidak pacaran. Good job Ama.

                Hari beranjak senja saat Ama tiba di rumah. Ia segera membersihkan diri, sholat maghrib bersama ibunya, lalu makan bersama plus berbgi cerita tentang pengalamannya selama raker dan tentu saja memberkan buah tangan berup stroberi dan moci yang banyak dijajakan di kebon teh juga sepanjang jalan raya puncak. Usai sholat Isya, Ama memutuskan untuk membongkar isi tas yang ia bawa saat raker. Selesai merapikan buku pelajaran yang akan dibawa esok, Ama terlelap meski saat itu jarum jam bru menunjuk angka delapan.  Sepertinya ia kelelahan.

                Pagi itu dengan rasa lelah yang masih mendera, Ama menguatkan dirinya untuk berangkat ke sekolah demi menghindari tertinggal pelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar