Rabu, 12 Agustus 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Bersahabat dengan ikhwan

 

Cinta Fatimah ra. dan Ali ra adalah kisah cinta paling romantis. Adakah yang lebih indah dari kesungguhan menahan rasa dan berdamai dengan cinta ?

 Aku takkan membiarkan kaum Adam sakit hati dengan perasaannya padaku, aku akan memastikan bahwa rasaku hanya untuk mereka yang serius mengajakku memadu kasih dalam ikatan pernikahan. So, ga usah cape - cape berusaha menarik hatiku. Cukup bertekad saja lalu jadikan aku sebagai pendampingmu. Masya Allah, tegas sekali dirimu Ama. Aku jadi ingin menjadi Ali untukmu dan engkau menjadi Fatimah untukku. Ups. Arif.  

                Kegiatan presentasi berjalan lancar. Penampilan Arif yang didampingi Ama mendapat respon positif dari dewan guru terutama para pembina OSIS. Program yang diusulkan hanya mendapat sedikit revisi dari pesera raker. Usai raker, rangkaian acara ditutup dengan berwisata besama ke kebun teh yang letaknya tak jauh dari villa.

“Wah, Ama akhirnya kamu ikutan pakai jilbab seperti yang lain.” apa pak Tono saat Ama tengah asik menikmati suasana kebun teh.

“Iya, pak. Alhamdulillah.”

“Jangan jadikan jilbab kamu hanya topeng kaya kebanyakan yang saya lihat di kebun raya ya.”

“Maksudnya gimana, pak ?”

“Iya, saya sering lihat orang di kebun raya itu, yang berjilbab melepaskan jilbabnya untuk dijadikan alas duduk, lalu asik dan sibuk bercumbu di atas hamparan jilbab bersama kekasihnya.”

Demi mendengarnya Ama menghempas nafas kasar lalu mendengus.

“Maaf ya, pak. Saya tidak seperti yang bapak sebutkan. Bukan karena bapak melihat hal itu di kebun raya lalu menganggap semua yang berjilbab sama seperti itu. Saya tersinggung dengan ucapan bapak.”

                Ama memalingkan tubuh kemudian beranjak menjauh. Meninggalkan pak Tono yang tampak masih ingin berbincang dengannya.

“Ama, tunggu, Bukan begitu maksud saya.”

“Lalu apa maksud bapak?”

“Maksud saya, saya berharap kamu tidak seperti mereka. Lag pula saya lihat ko bagaimana interaksi kamu dengan Arif selama raker di sini. Meskipun harus berduaan tapi kalian tetap bisa menjaga jarak dan berinteraksi dengan sopan. Saya percaya sama kamu.” Pungka pak Tono.

“Oh, terima kasih atas keperayaan bapak. Maaf saya salah paham tadi.”

“Oh iya, Ama, saya sih percaya kalau kamu ga ada apa – apa sama Arif. Tapi, bagaimana kalau sebaliknya, Arif yang ada apa – apa sama kamu.”

“Ah, bapak ini. Ada – ada saja. Ya mana mungkinlah. Dia itu banyak yang mengidolakan, bapak. Apalah saya buat dia ? Bisa mendampingi dia di OSIS aja saya udah seneng banget, pak. Di kelas duduk juga deketan. Itu sudah cukup buat saya. Ga usah mengharap lebih lah, sakit kalau ga kesampean, pak ... hehehehe ”

“Kamu itu ga percaya sama orang tua. Bapak ini laki – laki, sudah berpengalaman soal beginian mah. Kemarin saat kalian sedang sarapan berdua di gazebo, bapak lihat pandangan Arif ke kamu itu berbeda, penuh makna loh.”

“Masa iya ... Saya aja ga lihat apa – apa, ga ngerasa apa – apa juga, pak. Biasa aja semuanya itu. Lagian ya, pak ...kemarin itu kami bukan sekedar sarapan, tepatnya membahas bahan presentasi sambil sarapan, gitu.”

“Percaya deh sama bapak, kalau Arif itu menaruh hati padamu. Udah terima aja, kalian serasi ko.”

“Bapak ini ngelantur. Udah ah, urusan anak – anak jangan dituain, pak, hehheehehe”

“Coba kamu pikir Ama, dia itu kan kaku sama perempuan. Kalau ada pilihan lari dia akan ambil itu daripada harus berdekatan dengan perempuan. Tapi bagaimana sikapnya terhadap kamu ? Kalau kamu sedikiiiiiit saja lebih peka, pasti kamu bisa menyadari kekuatan perasaannya padamu, suit suit.”

“Apaan sih bapak ini. Udah ah saya mau kembali ke villa. Jangan bikin gosip ya, pak.”

                Ama terpaksa menyudahi obrolannya dengan pak ono. Ia hanya tidak ingin hati dan fikirannya terpengaruh oleh ucapan dan penilaian pak Tono atas dirinya dan Arif. Meski matanya masih ingin bermanja dengan hamparan kebun teh namun tekadnya untuk kembali ke villa sudah bulat. Diayunkan kakinya dengan riang. Sementara di radius 100 meter darinya tampak Arif membersamai langkah Ama. Anti mau kemana Ama ? Kembali ke villa seorang diri ? Hey, jaraknya lumayan jauh dari sini. Melintas perkebunan dan jalanan yang cukup sunyi. Ana tidak mau terjadi sesuatu apapun denganmu. Harus ana pastikan bahwa anti bisa sampai di villa dengan selamat. Semoga anti tidak menyadari keberadaan ana. Arif

Alhamdulillah bisa menyusuri perkebunan ini seorang diri. Meski sedikit iseng juga sih.Ko rasanya ada yang mengikuti aku ya ? Tdak ada siapa – siapa di sekitarku. Hmm mungkin Cuma perasaanku saja. Sepertinya sambil bersenandung asyik juga nih. Ama

 

                Suasana pagi makin berseri – seri

                Bila matahari mulai menjenguk diri

Terlukis keindahan dalam keharmonian

Terpamer kekuasaan ArRahman

                Burung – burung berkicau dicelah pohon hijau

                Meneteslah embun dari ujung dedaun

                Lembut bayu menyapa bagai membelai jiwa

Menggilas dosa – dosa yang tersisa

 

Ridholah aku hanya padaMU

Dan kurniaan kehidupan Robbani

Ridholah aku hanya padaMU

Dan limpahan ni’mat di bumi ini

               

                Keindahan alam keindahan Islam

Kemanisan iman ni’mat yang disyukurkan

                Persada kecintaan takwa jadi hiasan

                Biarpun kehinaan di mata insan

 

                Segala kepedihan jadi rencah perjuangan

                Itulah sunnatulloh dari zaman Rsululloh

Biarpun tumpah air mata dan darah

Tak peduli demi cinta Illahi

 

Ridholah aku hanya padaMU

Dan kurniaan kehidupan Robbani

Ridholah aku hanya padaMU

Dan limpahan ni’mat di bumi ini

 

                Wahai teman – teman majulah ke hadapan

                Islam takkan kalah begitu janji Alloh

Kemenangan milik kita

Syahid adalah cita  syahid adalah cita

    

Ridholah aku hanya padaMU

Dan kurniaan kehidupan Robbani

Ridholah aku hanya padaMU

Dan limpahan ni’mat di bumi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar