Teman
Sehati * Best Friend Forever
Bersahabat dengan ikhwan
Cinta Fatimah ra. dan Ali ra adalah kisah cinta paling romantis. Adakah
yang lebih indah dari kesungguhan menahan rasa dan berdamai dengan cinta ?
Aku takkan membiarkan kaum Adam sakit hati
dengan perasaannya padaku, aku akan memastikan bahwa rasaku hanya untuk mereka
yang serius mengajakku memadu kasih dalam ikatan pernikahan. So, ga usah cape -
cape berusaha menarik hatiku. Cukup bertekad saja lalu jadikan aku sebagai
pendampingmu. Masya Allah, tegas sekali dirimu Ama. Aku jadi ingin menjadi Ali
untukmu dan engkau menjadi Fatimah untukku. Ups. Arif.
Kegiatan
presentasi berjalan lancar. Penampilan Arif yang didampingi Ama mendapat respon
positif dari dewan guru terutama para pembina OSIS. Program yang diusulkan
hanya mendapat sedikit revisi dari pesera raker. Usai raker, rangkaian acara
ditutup dengan berwisata besama ke kebun teh yang letaknya tak jauh dari villa.
“Wah, Ama akhirnya kamu ikutan pakai jilbab seperti
yang lain.” apa pak Tono saat Ama tengah asik menikmati suasana kebun teh.
“Iya, pak. Alhamdulillah.”
“Jangan jadikan jilbab kamu hanya topeng kaya
kebanyakan yang saya lihat di kebun raya ya.”
“Maksudnya gimana, pak ?”
“Iya, saya sering lihat orang di kebun raya itu, yang
berjilbab melepaskan jilbabnya untuk dijadikan alas duduk, lalu asik dan sibuk
bercumbu di atas hamparan jilbab bersama kekasihnya.”
Demi mendengarnya Ama menghempas nafas kasar lalu
mendengus.
“Maaf ya, pak. Saya tidak seperti yang bapak sebutkan.
Bukan karena bapak melihat hal itu di kebun raya lalu menganggap semua yang
berjilbab sama seperti itu. Saya tersinggung dengan ucapan bapak.”
Ama
memalingkan tubuh kemudian beranjak menjauh. Meninggalkan pak Tono yang tampak
masih ingin berbincang dengannya.
“Ama, tunggu, Bukan begitu maksud saya.”
“Lalu apa maksud bapak?”
“Maksud saya, saya berharap kamu tidak seperti
mereka. Lag pula saya lihat ko bagaimana interaksi kamu dengan Arif selama
raker di sini. Meskipun harus berduaan tapi kalian tetap bisa menjaga jarak dan
berinteraksi dengan sopan. Saya percaya sama kamu.” Pungka pak Tono.
“Oh, terima kasih atas keperayaan bapak. Maaf saya
salah paham tadi.”
“Oh iya, Ama, saya sih percaya kalau kamu ga ada apa –
apa sama Arif. Tapi, bagaimana kalau sebaliknya, Arif yang ada apa – apa sama kamu.”
“Ah, bapak ini. Ada – ada saja. Ya mana mungkinlah.
Dia itu banyak yang mengidolakan, bapak. Apalah saya buat dia ? Bisa
mendampingi dia di OSIS aja saya udah seneng banget, pak. Di kelas duduk juga
deketan. Itu sudah cukup buat saya. Ga usah mengharap lebih lah, sakit kalau ga
kesampean, pak ... hehehehe ”
“Kamu itu ga percaya sama orang tua. Bapak ini laki –
laki, sudah berpengalaman soal beginian mah. Kemarin saat kalian sedang sarapan
berdua di gazebo, bapak lihat pandangan Arif ke kamu itu berbeda, penuh makna
loh.”
“Masa iya ... Saya aja ga lihat apa – apa, ga ngerasa
apa – apa juga, pak. Biasa aja semuanya itu. Lagian ya, pak ...kemarin itu kami
bukan sekedar sarapan, tepatnya membahas bahan presentasi sambil sarapan, gitu.”
“Percaya deh sama bapak, kalau Arif itu menaruh hati
padamu. Udah terima aja, kalian serasi ko.”
“Bapak ini ngelantur. Udah ah, urusan anak – anak jangan
dituain, pak, hehheehehe”
“Coba kamu pikir Ama, dia itu kan kaku sama
perempuan. Kalau ada pilihan lari dia akan ambil itu daripada harus berdekatan
dengan perempuan. Tapi bagaimana sikapnya terhadap kamu ? Kalau kamu sedikiiiiiit
saja lebih peka, pasti kamu bisa menyadari kekuatan perasaannya padamu, suit
suit.”
“Apaan sih bapak ini. Udah ah saya mau kembali ke
villa. Jangan bikin gosip ya, pak.”
Ama
terpaksa menyudahi obrolannya dengan pak ono. Ia hanya tidak ingin hati dan
fikirannya terpengaruh oleh ucapan dan penilaian pak Tono atas dirinya dan
Arif. Meski matanya masih ingin bermanja dengan hamparan kebun teh namun
tekadnya untuk kembali ke villa sudah bulat. Diayunkan kakinya dengan riang.
Sementara di radius 100 meter darinya tampak Arif membersamai langkah Ama. Anti mau kemana Ama ? Kembali ke villa seorang
diri ? Hey, jaraknya lumayan jauh dari sini. Melintas perkebunan dan jalanan
yang cukup sunyi. Ana tidak mau terjadi sesuatu apapun denganmu. Harus ana pastikan
bahwa anti bisa sampai di villa dengan selamat. Semoga anti tidak menyadari
keberadaan ana. Arif
Alhamdulillah
bisa menyusuri perkebunan ini seorang diri. Meski sedikit iseng juga sih.Ko
rasanya ada yang mengikuti aku ya ? Tdak ada siapa – siapa di sekitarku. Hmm
mungkin Cuma perasaanku saja. Sepertinya sambil bersenandung asyik juga nih.
Ama
Suasana pagi makin berseri – seri
Bila matahari mulai menjenguk
diri
Terlukis keindahan dalam keharmonian
Terpamer kekuasaan ArRahman
Burung – burung berkicau dicelah
pohon hijau
Meneteslah embun dari ujung
dedaun
Lembut bayu menyapa bagai
membelai jiwa
Menggilas dosa – dosa yang tersisa
Ridholah aku hanya padaMU
Dan kurniaan kehidupan Robbani
Ridholah aku hanya padaMU
Dan limpahan ni’mat di bumi ini
Keindahan alam keindahan Islam
Kemanisan iman ni’mat yang disyukurkan
Persada kecintaan takwa jadi
hiasan
Biarpun kehinaan di mata insan
Segala kepedihan jadi rencah
perjuangan
Itulah sunnatulloh dari zaman
Rsululloh
Biarpun tumpah air mata dan darah
Tak peduli demi cinta Illahi
Ridholah aku hanya padaMU
Dan kurniaan kehidupan Robbani
Ridholah aku hanya padaMU
Dan limpahan ni’mat di bumi ini
Wahai teman – teman majulah ke
hadapan
Islam takkan kalah begitu janji
Alloh
Kemenangan milik kita
Syahid adalah cita syahid adalah
cita
Ridholah aku hanya padaMU
Dan kurniaan kehidupan Robbani
Ridholah aku hanya padaMU
Dan limpahan ni’mat di bumi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar