Senin, 03 Agustus 2020

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

LDKS

 

                Setelah masa kampanye usai, tibalah acara yang dinanti yaitu LDKS. Seperti yang direncanakan, acara puncak dalam rangkaian pemilihan pengurus OSIS ini dilangungkan di alam terbuka, tepatnya bumi perkemahan Cibubur.  Peserta tetap dikelompokkan, namun kali ini peserta laki – laki dijadikan satu kelompok. Mereka adalah Luluk, Ricky, Arif, Faqih dan Agus. Ama dan Nunun ada di kelompok yang berbeda.

                Penilaian dimulai dari saat keberangkatan. Biasanya acara sekolah selalu difasilitasi dengan antar jemput. Namun kali ini, setiap kelompok diharuskan berangkat sebagai tim dari sekolah menuju lokasi menggunakan kendaraan umum. Mantaplah panitia, hehehehe.

                Usai apel pelepasan setiap kelompok bergegas membaca petunjuk dan rute menuju lokasi. Serta berdiskusi tentang medan yang akan mereka lalui. Seperti yang sedang dilakukan Ama dan kelompoknya.

“Ya elah segala naik angkot ...” ujar Fety menyuarakan keberatan hatinya.

“Nyampe belum tentu, nyasar dah kebayang ya ?” Atun menimpali disambut derai tawa teman sekelompok.

“Jadi di antara kita siapa yang pernah ke lokasi dengan angkutan umum ?” Ama mengajukan pertanyaan yang dijawab dengan saling tatap antara anggota kelompok.

 “Ga ada ya.” Ama menyimpulkan.

“Kalau menuju lokasi belum pernah naik umum, biasanya breng rombongan. Tapi kalau sudah sampai lokasi gue paham bener seluk beluk buperta.” Jawab Nuraini sang pembina Pramuka yang memang kawakan soal buperta.

“Ini kan ada denah,rute dan petunjuk perjalanan.Bisa lah kita ikutn ini tanpa nyasar, ya kan ?” himbau Murti.

“Insya Allah. Nah, untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi, kita harus pilih ketua kelompok nih. Biar dapat pahala sunnah juga gitu ...” ujar Ama dengan seulas senyum.

“Maksudnya gimana, Ma?” tanya Fety

“Gini loh Fet, di hadits tuh ada anjuran kalau kita berjalan berkelompok mekipun hanya berdua mesti ada pemimpinnya. Nah kalau kita ikutan kan kita bakalan dapat pahala karena menjalankan sunnah Nabi. Dunia beres, akhirat dapet. Mantap, kan?”

“Oh,  gitu. Baru tahu gue.” Sahut Fety.

“Aku juga belum lama tahu, baca di buku yang ada di perpustakaan ROHIS.”

 “Ya udah, siapa yang mau jadi ketua kelompok ?” tanya Nur. “Kalau ga ada yang mau, kita undi aja, gimana?” lanjutnya.

“Ama aja deh” pinta Murti

“Loh, katanya aku jadi jubir, masa rangkap jabatan sih ? Gimana kalau Nur aja, dia kan yang paham medan di sana.” elak Ama

“Gimana, Nur ?” tanya Atun

“Kita undi aja lah biar adil, hehehe.” Jawab Nur.

“Gmana kalau kita voting aja ? Pakai kertas, ga langsung. Jadi setiap kita menuliskan nama ketua yang dipilih, boleh menuliskan nama sendiri. Terus dikumpul dan dihitung suaranya, gimana ?” Murti menyarankan.

“Oke” anggota kelompok menjawab serempak.

                Dan dimulailah proses pemilihan sederhana di kelompok itu. Ama mengambil selembar kertas lalu mengguntingnya menjadi beberapa bagian dan memberikan kepada teman – temannya. Sepuluh menit berselang mereka sudah mendapatkan ketua kelompoknya. Dan Ama yang terpilih.

“Ini mutlak ya hasilnya, ga bisa bandng gitu ?” tanya Ama, yang hanya ditanggapi dengan senyum dan kedipan mata teman – teman sekelompoknya.

“Oke deh girls. Mari kita berdoa dulu, semoga Allah mudahkan perjalanan kita, selamat sampai tujuan. Bismillahirrohmanirrohiiim, AlFatihah...”

                Keberangkatan antar kelompok diberi jeda sepuluh menit dengan tujuan tidak ada grup yang bergabung selama perjalanan. Kelompok Nunun menjadi tim yang mendapat kesempatan pertama untuk berangkat, sementara kelompok Ama di urutan ketiga dan kelompok para lelaki di urutan ke empat.

Perjalanan yang menawarkan sensasi baru untuk Ama ini meninggalkan satu kekhawatiran, mabuk dalam perjalanan. Iya, Ama memiliki kelemahan saat harus naik angkutan umum. Ia tidak bisa minum antimo karena harus terjaga selama perjalanan. Berharap resep keluarga yaitu menempelkan plester kain di area pusar bisa mujarab menghilangkan kekhawatirannya. Semoga.

                Satu per sau tim berdatangan ke lokasi. Kelompok Ama menjadi kelompok yang pertama kali sampai di pendopo tempat acara LDKS akan dilangsungkan, semua karena Nur yang sangat ahli memilih jalan dari gerbang utama menuju pendopo. Saat kelompok lain harus menempuh jalan memutar yang lumayan menguras tenaga, Nur dengan santai memilih jalan alternatif yang memotong setengah jam perjalanan.Mantap.

                Panitia menyambut kedatangan setiap tim dengan minuman dingin dan sekotak snack. Menunjukkan tenda masing – masing kelompok dan mempersilakan peserta untuk berbenah dan mengerjakan sholat Ashar di tengah pendopo.

13.00 – 16.00 : perjalanan

16.00 – 17.00 : Sholat Ashar dan persiapan

17.00 – 18.00 : pembukaan

18.00 – 20.00 : makan, sholat Maghrib & Isya, acara kelompok – membuat nama dan yel – yel

20.00 – 22.00 : debat I

                Ama membaca rangkaiann acara saat mengantri mandi.

“Nur, punya contoh yel – yel yang keren ga ? Nanti kita disuruh bikin yel – yel loh.”

“Iya ya ... nama kelompok kita juga belum ada, Ma.”

“Eh iya ya. Ada usul ?”

“Chalenger” sahut Fety

“Kartini” Murti menambahi

“MANAF – singkatan inisial nma kita.” teriak Atun dari dalam kamar mandi

“Heyy yang di kamar mandi ga usah ikutan, mandi aja yang cepet” seru Fety

“Hahahahahha’  

                Usai sholat Isya, kini peserta memasuki acara DEBAT I. Kelompok Ama mendapat kesempatan untuk tampil menyampaikan visi misi setiap anggota yang akan dilanjutkan dengan pertanyan dari para panelis yang terdiri atas pembina OSIS, mantan Ketua OSIS periode sebelumnya serta Ketua OSIS yang masih menjabat.

“Baik kepada kelompok tiga kami persilakan. Sebelumnya silakan perkenalkan nama kelompoknya melalui yel yel. Silakan.”

Murti, Ama, Nur, Atun dan Fety berdiri dan melangkah beriringan menuju meja yang sudah di sediakan.

Challenger !!!

Yes, we are

Are you ready ?

I I Captain

Go ....!

We are we are Challenger

We fight we fight Challenger

We win we win Challenger

C H A L L E N G E R ... juara juara OKEEE!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar