Teman
Sehati * Best Friend Forever
LDKS
Setelah
masa kampanye usai, tibalah acara yang dinanti yaitu LDKS. Seperti yang
direncanakan, acara puncak dalam rangkaian pemilihan pengurus OSIS ini
dilangungkan di alam terbuka, tepatnya bumi perkemahan Cibubur. Peserta tetap dikelompokkan, namun kali ini
peserta laki – laki dijadikan satu kelompok. Mereka adalah Luluk, Ricky, Arif,
Faqih dan Agus. Ama dan Nunun ada di kelompok yang berbeda.
Penilaian
dimulai dari saat keberangkatan. Biasanya acara sekolah selalu difasilitasi
dengan antar jemput. Namun kali ini, setiap kelompok diharuskan berangkat
sebagai tim dari sekolah menuju lokasi menggunakan kendaraan umum. Mantaplah
panitia, hehehehe.
Usai
apel pelepasan setiap kelompok bergegas membaca petunjuk dan rute menuju lokasi.
Serta berdiskusi tentang medan yang akan mereka lalui. Seperti yang sedang
dilakukan Ama dan kelompoknya.
“Ya elah segala naik angkot ...” ujar Fety
menyuarakan keberatan hatinya.
“Nyampe belum tentu, nyasar dah kebayang ya ?” Atun
menimpali disambut derai tawa teman sekelompok.
“Jadi di antara kita siapa yang pernah ke lokasi
dengan angkutan umum ?” Ama mengajukan pertanyaan yang dijawab dengan saling
tatap antara anggota kelompok.
“Ga ada ya.”
Ama menyimpulkan.
“Kalau menuju lokasi belum pernah naik umum, biasanya
breng rombongan. Tapi kalau sudah sampai lokasi gue paham bener seluk beluk buperta.”
Jawab Nuraini sang pembina Pramuka yang memang kawakan soal buperta.
“Ini kan ada denah,rute dan petunjuk perjalanan.Bisa
lah kita ikutn ini tanpa nyasar, ya kan ?” himbau Murti.
“Insya Allah. Nah, untuk memudahkan komunikasi dan
koordinasi, kita harus pilih ketua kelompok nih. Biar dapat pahala sunnah juga
gitu ...” ujar Ama dengan seulas senyum.
“Maksudnya gimana, Ma?” tanya Fety
“Gini loh Fet, di hadits tuh ada anjuran kalau kita
berjalan berkelompok mekipun hanya berdua mesti ada pemimpinnya. Nah kalau kita
ikutan kan kita bakalan dapat pahala karena menjalankan sunnah Nabi. Dunia
beres, akhirat dapet. Mantap, kan?”
“Oh, gitu.
Baru tahu gue.” Sahut Fety.
“Aku juga belum lama tahu, baca di buku yang ada di
perpustakaan ROHIS.”
“Ya udah, siapa
yang mau jadi ketua kelompok ?” tanya Nur. “Kalau ga ada yang mau, kita undi aja,
gimana?” lanjutnya.
“Ama aja deh” pinta Murti
“Loh, katanya aku jadi jubir, masa rangkap jabatan
sih ? Gimana kalau Nur aja, dia kan yang paham medan di sana.” elak Ama
“Gimana, Nur ?” tanya Atun
“Kita undi aja lah biar adil, hehehe.” Jawab Nur.
“Gmana kalau kita voting aja ? Pakai kertas, ga
langsung. Jadi setiap kita menuliskan nama ketua yang dipilih, boleh menuliskan
nama sendiri. Terus dikumpul dan dihitung suaranya, gimana ?” Murti
menyarankan.
“Oke” anggota kelompok menjawab serempak.
Dan
dimulailah proses pemilihan sederhana di kelompok itu. Ama mengambil selembar
kertas lalu mengguntingnya menjadi beberapa bagian dan memberikan kepada teman –
temannya. Sepuluh menit berselang mereka sudah mendapatkan ketua kelompoknya. Dan
Ama yang terpilih.
“Ini mutlak ya hasilnya, ga bisa bandng gitu ?” tanya
Ama, yang hanya ditanggapi dengan senyum dan kedipan mata teman – teman
sekelompoknya.
“Oke deh girls. Mari kita berdoa dulu, semoga Allah
mudahkan perjalanan kita, selamat sampai tujuan. Bismillahirrohmanirrohiiim,
AlFatihah...”
Keberangkatan
antar kelompok diberi jeda sepuluh menit dengan tujuan tidak ada grup yang
bergabung selama perjalanan. Kelompok Nunun menjadi tim yang mendapat
kesempatan pertama untuk berangkat, sementara kelompok Ama di urutan ketiga dan
kelompok para lelaki di urutan ke empat.
Perjalanan yang menawarkan sensasi baru untuk Ama ini
meninggalkan satu kekhawatiran, mabuk dalam perjalanan. Iya, Ama memiliki
kelemahan saat harus naik angkutan umum. Ia tidak bisa minum antimo karena
harus terjaga selama perjalanan. Berharap resep keluarga yaitu menempelkan
plester kain di area pusar bisa mujarab menghilangkan kekhawatirannya. Semoga.
Satu
per sau tim berdatangan ke lokasi. Kelompok Ama menjadi kelompok yang pertama
kali sampai di pendopo tempat acara LDKS akan dilangsungkan, semua karena Nur
yang sangat ahli memilih jalan dari gerbang utama menuju pendopo. Saat kelompok
lain harus menempuh jalan memutar yang lumayan menguras tenaga, Nur dengan
santai memilih jalan alternatif yang memotong setengah jam perjalanan.Mantap.
Panitia menyambut kedatangan
setiap tim dengan minuman dingin dan sekotak snack. Menunjukkan tenda masing –
masing kelompok dan mempersilakan peserta untuk berbenah dan mengerjakan sholat
Ashar di tengah pendopo.
13.00 – 16.00 :
perjalanan
16.00 – 17.00 :
Sholat Ashar dan persiapan
17.00 – 18.00 :
pembukaan
18.00 – 20.00 :
makan, sholat Maghrib & Isya, acara kelompok – membuat nama dan yel – yel
20.00 – 22.00 :
debat I
Ama
membaca rangkaiann acara saat mengantri mandi.
“Nur, punya contoh yel – yel yang keren ga ? Nanti kita
disuruh bikin yel – yel loh.”
“Iya ya ... nama kelompok kita juga belum ada, Ma.”
“Eh iya ya. Ada usul ?”
“Chalenger” sahut Fety
“Kartini” Murti menambahi
“MANAF – singkatan inisial nma kita.” teriak Atun
dari dalam kamar mandi
“Heyy yang di kamar mandi ga usah ikutan, mandi aja
yang cepet” seru Fety
“Hahahahahha’
Usai
sholat Isya, kini peserta memasuki acara DEBAT I. Kelompok Ama mendapat
kesempatan untuk tampil menyampaikan visi misi setiap anggota yang akan dilanjutkan
dengan pertanyan dari para panelis yang terdiri atas pembina OSIS, mantan Ketua
OSIS periode sebelumnya serta Ketua OSIS yang masih menjabat.
“Baik kepada kelompok tiga kami persilakan.
Sebelumnya silakan perkenalkan nama kelompoknya melalui yel yel. Silakan.”
Murti, Ama, Nur, Atun dan Fety berdiri dan melangkah beriringan
menuju meja yang sudah di sediakan.
Challenger !!!
Yes, we are
Are you ready ?
I I Captain
Go ....!
We are we are
Challenger
We fight we
fight Challenger
We win we win
Challenger
C H A L L E N G
E R ... juara juara OKEEE!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar