Selasa, 04 Agustus 2020

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Dunia baru bernama organisasi

 

                Setelah para peserta di kelompok Ama saling beradu argumentasi, kini saatnya para panelis memberikan tantangan atau pertanyaan. Kesempatan pertama langsung diambil oleh pembina OSIS, bapak Sukirno.

“Baik. Saya mau langsung menanggapi saat Ama menyatakan bahwa pendapatnya salah atau keliru. Seharusnya sebagai seorang leader atau pemimpin tidak mengakui kesalahannya apalagi di muka umum. Seorang pemimpin harus bisa menjaga kewibawaan di hadapan orang yang dipimpinnya. Dengan mengakui kesalahan di muka umum maka ia akan kehilangan pamor, menjatuhkan harga dirinya serta melemahkan kepercayaan diri para pendukungnya. Seorang leader harus bisa membela dirinya sendiri atau memanfaatkan segala resources yang ia miliki untuk menutupi dan tidak mengakui kesalahannya di muka umum. Semakin baik jika hal itu menjadi rahasianya saja.”

“Terima kasih atas responnya, pak. Selanjutnya kami persilakan kepada Ama untuk menanggapi pernyataan panelis.” Moderator memberikan kesempatan kepada Ama.

                Dengan penuh percaya diri Ama yang masih berdiri di podium menatap para panelis juga hadirin.

“Baik. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Pak Kirno yang saya hormati, saya jelas tidak sependapat dengan keberatan yang bapak sampaikan. Seorang leader, menurut saya, cukup memiliki karakter FAST, yaitu fathonah, amanah, shidiq dan tabligh. Ketika seorang leader punya fathonah atau kecerdasan, maka ia akan bisa memilah dan memilih hal yang terbaik untuk diri juga orang – orang yang dipimpinnya. Perlu digarisbawahi bapak juga teman – teman semua, untuk diri juga orang – orang yang dipimpinnya. Ketika seorang leader menyembunyikan kesalahan yang berdampak luas untuk orang yang dipimpinnya maka hakikatnya ia sedang mengutamakan kepentingan dirinya di atas kepentingan orang lain. Dan ini bukan menunjukkan kecerdasan melainkan kelicikan.”

                Hadirin yang sebagian mulai tampak mengantuk terlihat berangsur segar saat menyimak penjelasan Ama. Sebagian bahkan ada yang bertepuk tangan.

“Kedua, amanah yang berarti bisa bertanggung jawab dengan beban yang dipikulnya. Hakikat pemimpin itu adalah pelayan, maka amanah yang diemban seorang pemimpin adalah mengupayakan sekuat tenaga untuk mengakomodir kepentingan orang yang dipimpin bukan justru sebaliknya, menggunakan resources untuk mengakali mereka. Itu namanya zholim, pak.”

Prok prok prok, hadirin bertepuk tangan dan mulai memberi dukungan, sebagian ada yang meneriakkan yel yel laksana di arena pertandingan badminton.

“RAHMAILA...AMA AMA MA”

“RAHMAILA...AMA AMA MA”

‘Baik hadirin sekalian mohon tenang, kita beri kesempatan Ama untuk melanjutkan penjelasannya.” Moderator kembali mempersilakan Ama untuk bicara.

“Baik, saya lanjutkan. Tenang teman – teman, jangan buat saya grogi dengan yel- yel kalian, heheheh. Saya lanjutkan ya, yang ketiga Shidiq, atau benar. Seorang leader harus berjalan dan menjalankan oganisasinya dengan benar, bukan sekehendak hati apalagi untuk tujuan kepentingan pribadi an sich. Saya teringat akan sebuah hadits bahwa kejujuran akan mendatangkan kebaikan dan kebaikan akan berbuah surga. Begitupun sebaliknya, kebohongan akan mendatangkan kerusakan dan kerusakan akan berbuah neraka. Nah, sebagai seorang muslim mestinya hal ini menjadi pegangan. Bahwa jangan sampai jabatan sebagai pemimpin malah akhirnya menggiring kita ke dalam neraka, na’udzubillah. Kalau prinsip saya sih, sejahtera di dunia dan di akhirat. Nggak apa – apa di dunia sejahtera asal di akhirat bahagia masuk dalam surga, bukan begitu saudara – saudara?”

Prok prok prok

“WE LOVE AMA, YA YA YA YA YA”

“WE LOVE AMA, YA YA YA YA YA”

Yel yel para hadirin kembali membahana, suasana kian menghangat dan ceria meski saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Puluhan pasang mata yang semula tertawan kantuk kini menjadi seterang mentari pagi. Sementara Ama tampak kian bersemangat dan sangat menguasai podium. Bahasa tubuhnya terlihat sangat santai tanpa beban. Seulas senyum selalu menghias wajahnya. Warna suara yang kontras, meliuk mengajak hadirin untuk setia menangkap setiap kata yang ia lontarkan.

 “Oke ya, ini yang ke empat, Tabligh. Apa itu tabligh ? Tabligh artinya menyampaikan. Seorang leader harus mampu menyampaikan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya denga baik, sehingga mudah untuk  dipahami. Utamanya leader harus memiliki hati yang tulus, karena apa yang datang dari hati akan sampai ke hati. Maka jika seorang leader memliki ketulusan hati, maka sebesar apapun kesalahan yang ia lakukan dan akui, tidak akan menambah apapun kecuali respek juga pengakuan dari orang – orang yang dipimpinnya. Karena apa? Sekali lagi saya sampaikan, karena apa yang datang dari hati akan sampa ke hati. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di manapun, kapanpun dan untuk siapapun. Jadi sebagai penutup saya simpulkan bahwa tidak benar apa yang disampaikan oleh pak Kirno bahwa dengan mengakui kesalahan di muka umum maka seorang pemimpin akan kehilangan pamor, menjatuhkan harga dirinya serta melemahkan kepercayaan diri para pendukungnya. Ini hanya semacam pembenaran untuk menjadi egois dan mempertahankan kekuasaan, semua bermuara pada satu hal yaitu nafsu kekuasaan. Dengan memiliki FAST, pemimpin akan dicintai oleh orang yang mereka pimpin, takkan berkurang cintanya hanya karena melakukan kejujuran dan membela kebenaran juga keadilan. Wallahu’a’lam.”

Nuraini langsung berdiri sesaat setelah Ama menuntaskan kalimat terakhirnya, ia meneriakkan yel – yel kelompok yang disambut seluruh hadirin.

Challenger !!!

Yes, we are

Are you ready ?

I I Captain

Go ....!

We are we are Challenger

We fight we fight Challenger

We win we win Challenger

C H A L L E N G E R ... juara juara OKEEE!!!

                Moderator membarkan hadirn larut sementara dalam euforia. Semua hadirin, mulai dari para kandidat, panelis, tim penilai juga pengamat tampak terhibur. Setelah beberapa mennit keriuhan mulai mereda dan moderator mengambil alih acara.

“Baik hadirin sekalian. Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Berhubung jarum jam sudah menunjuk angka sebelas, kita harus mengakhiri kecerian malam ini karena kita semua perlu beristrahat untuk siap menghadapi agenda padat yang menunggu esok. Saya kembalikan kepada pembawa acara untuk menutup acara debat pertama malam ini. Asalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.”    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar