Teman
Sehati * Best Friend Forever
Dunia baru bernama organisasi
Setelah
para peserta di kelompok Ama saling beradu argumentasi, kini saatnya para
panelis memberikan tantangan atau pertanyaan. Kesempatan pertama langsung
diambil oleh pembina OSIS, bapak Sukirno.
“Baik. Saya mau langsung menanggapi saat Ama
menyatakan bahwa pendapatnya salah atau keliru. Seharusnya sebagai seorang
leader atau pemimpin tidak mengakui kesalahannya apalagi di muka umum. Seorang
pemimpin harus bisa menjaga kewibawaan di hadapan orang yang dipimpinnya.
Dengan mengakui kesalahan di muka umum maka ia akan kehilangan pamor, menjatuhkan
harga dirinya serta melemahkan kepercayaan diri para pendukungnya. Seorang
leader harus bisa membela dirinya sendiri atau memanfaatkan segala resources
yang ia miliki untuk menutupi dan tidak mengakui kesalahannya di muka umum.
Semakin baik jika hal itu menjadi rahasianya saja.”
“Terima kasih atas responnya, pak. Selanjutnya kami
persilakan kepada Ama untuk menanggapi pernyataan panelis.” Moderator memberikan
kesempatan kepada Ama.
Dengan
penuh percaya diri Ama yang masih berdiri di podium menatap para panelis juga
hadirin.
“Baik. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.
Pak Kirno yang saya hormati, saya jelas tidak sependapat dengan keberatan yang
bapak sampaikan. Seorang leader, menurut saya, cukup memiliki karakter FAST,
yaitu fathonah, amanah, shidiq dan tabligh. Ketika seorang leader punya
fathonah atau kecerdasan, maka ia akan bisa memilah dan memilih hal yang
terbaik untuk diri juga orang – orang yang dipimpinnya. Perlu digarisbawahi
bapak juga teman – teman semua, untuk diri juga orang – orang yang
dipimpinnya. Ketika seorang leader menyembunyikan kesalahan yang berdampak
luas untuk orang yang dipimpinnya maka hakikatnya ia sedang mengutamakan
kepentingan dirinya di atas kepentingan orang lain. Dan ini bukan menunjukkan
kecerdasan melainkan kelicikan.”
Hadirin
yang sebagian mulai tampak mengantuk terlihat berangsur segar saat menyimak
penjelasan Ama. Sebagian bahkan ada yang bertepuk tangan.
“Kedua, amanah yang berarti bisa bertanggung jawab
dengan beban yang dipikulnya. Hakikat pemimpin itu adalah pelayan, maka amanah
yang diemban seorang pemimpin adalah mengupayakan sekuat tenaga untuk
mengakomodir kepentingan orang yang dipimpin bukan justru sebaliknya,
menggunakan resources untuk mengakali mereka. Itu namanya zholim, pak.”
Prok prok prok, hadirin bertepuk tangan dan mulai memberi
dukungan, sebagian ada yang meneriakkan yel yel laksana di arena pertandingan
badminton.
“RAHMAILA...AMA AMA MA”
“RAHMAILA...AMA AMA MA”
‘Baik hadirin sekalian mohon tenang, kita beri
kesempatan Ama untuk melanjutkan penjelasannya.” Moderator kembali
mempersilakan Ama untuk bicara.
“Baik, saya lanjutkan. Tenang
teman – teman, jangan buat saya grogi dengan yel- yel kalian, heheheh. Saya
lanjutkan ya, yang ketiga Shidiq, atau benar. Seorang leader harus berjalan dan
menjalankan oganisasinya dengan benar, bukan sekehendak hati apalagi untuk
tujuan kepentingan pribadi an sich. Saya teringat akan sebuah hadits bahwa
kejujuran akan mendatangkan kebaikan dan kebaikan akan berbuah surga. Begitupun
sebaliknya, kebohongan akan mendatangkan kerusakan dan kerusakan akan berbuah
neraka. Nah, sebagai seorang muslim mestinya hal ini menjadi pegangan. Bahwa
jangan sampai jabatan sebagai pemimpin malah akhirnya menggiring kita ke dalam
neraka, na’udzubillah. Kalau prinsip saya sih, sejahtera di dunia dan di
akhirat. Nggak apa – apa di dunia sejahtera asal di akhirat bahagia masuk dalam
surga, bukan begitu saudara – saudara?”
Prok prok prok
“WE LOVE AMA, YA YA YA YA YA”
“WE LOVE AMA, YA YA YA YA YA”
Yel yel para hadirin kembali
membahana, suasana kian menghangat dan ceria meski saat itu jarum jam sudah
menunjukkan pukul sepuluh malam. Puluhan pasang mata yang semula tertawan
kantuk kini menjadi seterang mentari pagi. Sementara Ama tampak kian
bersemangat dan sangat menguasai podium. Bahasa tubuhnya terlihat sangat santai
tanpa beban. Seulas senyum selalu menghias wajahnya. Warna suara yang kontras,
meliuk mengajak hadirin untuk setia menangkap setiap kata yang ia lontarkan.
“Oke ya, ini
yang ke empat, Tabligh. Apa itu tabligh ? Tabligh artinya menyampaikan. Seorang
leader harus mampu menyampaikan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya denga
baik, sehingga mudah untuk dipahami.
Utamanya leader harus memiliki hati yang tulus, karena apa yang datang dari hati
akan sampai ke hati. Maka jika seorang leader memliki ketulusan hati, maka
sebesar apapun kesalahan yang ia lakukan dan akui, tidak akan menambah apapun
kecuali respek juga pengakuan dari orang – orang yang dipimpinnya. Karena apa?
Sekali lagi saya sampaikan, karena apa yang datang dari hati akan sampa ke
hati. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di manapun, kapanpun dan untuk
siapapun. Jadi sebagai penutup saya simpulkan bahwa tidak benar apa yang
disampaikan oleh pak Kirno bahwa dengan mengakui kesalahan di muka umum maka
seorang pemimpin akan kehilangan pamor, menjatuhkan harga dirinya serta
melemahkan kepercayaan diri para pendukungnya. Ini hanya semacam pembenaran
untuk menjadi egois dan mempertahankan kekuasaan, semua bermuara pada satu hal yaitu
nafsu kekuasaan. Dengan memiliki FAST, pemimpin akan dicintai oleh orang yang
mereka pimpin, takkan berkurang cintanya hanya karena melakukan kejujuran dan
membela kebenaran juga keadilan. Wallahu’a’lam.”
Nuraini langsung berdiri sesaat setelah Ama
menuntaskan kalimat terakhirnya, ia meneriakkan yel – yel kelompok yang
disambut seluruh hadirin.
Challenger !!!
Yes, we are
Are you ready ?
I I Captain
Go ....!
We are we are
Challenger
We fight we
fight Challenger
We win we win
Challenger
C H A L L E N G
E R ... juara juara OKEEE!!!
Moderator
membarkan hadirn larut sementara dalam euforia. Semua hadirin, mulai dari para
kandidat, panelis, tim penilai juga pengamat tampak terhibur. Setelah beberapa
mennit keriuhan mulai mereda dan moderator mengambil alih acara.
“Baik hadirin sekalian. Terima kasih atas perhatian
dan kerjasamanya. Berhubung jarum jam sudah menunjuk angka sebelas, kita harus
mengakhiri kecerian malam ini karena kita semua perlu beristrahat untuk siap
menghadapi agenda padat yang menunggu esok. Saya kembalikan kepada pembawa
acara untuk menutup acara debat pertama malam ini. Asalamu’alaikum
warohmatullohi wabarokatuh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar