Teman
Sehati * Best Friend Forever
Loe baper ke laut aja
Pagi itu dengan rasa lelah yang
masih mendera, Ama menguatkan dirinya untuk berangkat ke sekolah demi
menghindari tertinggal pelajaran. Rasa kantuk juga lelah menguasai tubuh Ama.
Wajahnya sangat menunjukkan bahwa dirinya perlu istirahat lebih lama.
“Ma, tadi ga ikut upacara, ke mana ?” tanya Angel aat
mendapati teman sebangkunya masuk kelas.
“Ke UKS, izin istirahat.” Jawab Ama seraya
menjatuhkan kepalanya ke atas lipatan tangan di atas meja.
“Lo sakit, Ma?” tanya Ahmad yang baru saja masuk
kelas.
“Nggak, sedikit lelah aja.” Jawab Ama tetap menahan
kepala di atas meja.
“Ni juga ga ada, kemana?” tanya Ahmad kepada Ismoyo
seraya menunjuk kursi Arif.
“Tadi pagi sih nelpon, mungkin hari ini ga masuk
karena sakit katanya.” Ahmad menganggukkan kepala lalu menuju tempat duduknya.
“Assalamu’alaikum prof ...” sapa Ahmad kepada Amal
seraya berjabatan tangan.
“Wa’alaikum salam. Udah ngabsennya ?” goda Amal.
“Hahahhaha...”
Pelajaran
demi pelajaran terus berjalan hingga purna hari itu tertunaikan seluruh kewajiban
Ama di sekolah. Tiba saatnya waktu untuk kembali ke rumah. Setelah berpamitan
dan beralaman dengan teman sebangkunya, Ama
bergegas meninggalkan ruang kelas. Ia menuruni tangga dengan perlahan lalu menyempatkan
diri melihat mading sekolah di dekat gerbang, persis di sebelah kanan tangga yang
merupakan akses dari dan atau menuju lantai dua bangunan sekolah. Di kolom info
terkini, Ama melihat sederet foto raker sekolah yang baru saja dilaksanakan.
Perlahan Ama menyisir foto – foto itu, mencari tahu kenapa saat sholat Zhuhur
tadi ketua keputrian ROHIS meminta dirinya untuk ngecek mading sekolah.
Kata Pupu, ada
foto ku bersama ketua di sini. Foto yang bisa jadi menimbulkan salah paham.
Foto apa ya ? Perasaan ga pernah mita di foto berdua, buat apa coba ? Aduh kan
jadi penasaran. Ama
Ama
terus menyusuri setiap foto yang menceritakan raker, mulai dari keberangkatan,
suasana villa indoor dan out door, saat rapat, penutupan juga keliling kebun teh. Semua tampak normal dan biasa saja
sampai mata Ama menangkap dua buah foto dengan latar taman. Foto pertma adalah
saat Ama melantunkan dzikir di atas ayunan dan Arif berdiri di sisinya. Ama
ingat saat itu dia terkejut dengan kehadirn Arif, namun yang tercuplik dalam
foto terlihat seolah mereka sedang bercakap – cakap dengan saling memandang.
Foto satu lagi saat mereka membahas program di gazebo. Foto iambil persis saat
Ama mengambil piring di hadapan Arif, lagi – lagi kesan yang diberikan foto
adalah Ama seperti sedang “melayani’ sarapan dan mereka tampak sedang bercengkrama
hangat berhiaskan senyum.
Astaghfirullah.
Ini ga seperti kadaan sebenarnya. Iapa sih yang ngambil foto – foto ini ? Ko nggak
permisi, ngambil foto sembarangan trus segala dipajang di hadapan publik kaya
gini lagi.Ya, ampun. Aku harus segera menjelaskan ini kepada Pupu. Ama.
Niat
Ama untuk segera pulang tiba – tiba hilang. Ia segera menuju sekretariat ROHIS
tempat Pupu biasa mampir sebelum meninggalkan sekolah. Mencapai lantai tiga
dengan kondisi lelah bukanlah hal yang mudah. Namun Ama mampu melenyapkan lelahnya
demi meluruskan perihal foto – foto di masing sekolah. Saat tiba di ruang
sekretariat, Ama hanya menemukan pintu yang terkunci, sepertnya Pupu sudah
pulang. Ama memutar badannya untuk kembali menuruni tangga dan pulang. Dalam
hati ia berencana akan langsung menelpon Pupu saat tiba di rumah nanti.
“Ma! Dari mana ? Bukannya sudah pulang dari tadi ?”
“Eh, Ahmad. Iya, ada yang tertinggal tadi. Kamu
ngapain di situ ?”
“Lihat ini.” Ujar Ahmad seraya menunjuk mading
sekolah.
Astaghfirullah
... dia pasti lihat foto itu. Ama
“Lo dah lihat belum ? Ada foto berdua sama Arif nih, so
sweet banget, so romantic, so...”
“Ahmad.”
“Ups. Maaf ya Ma, becanda ... suer” Ahmad menjawab
seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri serta membuat kode sumpah dengan
tangan kanannya.
Ya ampun Ama,
gue cemburu ... plis dong jelasin ada kejadian apa dalam foto itu. Ama, jangan
bilang kalau di sana lo sarpan bareng sama dia. Ngelayanin dia makan huhuhuhu. Ngomong
dari hati ke hati di atas ayunan, ohohohoho, noooo Ama tell me tell me.
“Aku lelah, mau pulang. Nanti malam aku telepon untuk
menjelaskan soal foto itu. Aku harap kamu nggak berpikiran macam – macam.”
“Siap bos Ama, you can count on me as always.” Jawab Ahmad
seraya melakukan sikap hormat seperti prajurit yang sedang berhadapan dengan
komandannya.
“Ya, aku tahu kamu bisa diandalkan. I trust you, and
I thank you. See you, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Ga perlu diantar kan, Ma? Hehehehe.”
Ahmad menggoda yang hanya dijawab dengan sorot dingin dari Ama.
Plizzz say yes
Ama ... gue anter sampe depan pintu kamar eh rumah lo. Kasih kesempatan lah. Lo
itu dalam kondisi lelah, kalau ada apa – apa di jalan gimana ? Aduuuuuh ...
hati- hati di jalan, smoga slamat samai tujuan. Fii amanillah.
Ama
memantapkan langkahnya untuk segera tiba d rumah. Bajaj menjadi pilihan tepat
untuk memangkas waktu perjalanan. Hanya perlu lima belas menit untuk tiba di rumah.
Setelah mengucap salam, meletakkan tas di kamar dan sholat Ashar, Ama segera
menghampiri pesawat telepon di ruang keluarga yang letaknya bersebelahan dengan
kamarnya.
Tuuuuuuuuuuuuuuuuuut
“Asalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, Pu.”
“Eh, Ama. Dah di rumah ?”
“Iya, Alhamdulillah. Aku dah lihat mading sekolah.”
“Terus ?”
“Apa yang kamu fikir saat melihat dua fotoku dengan
Arif ?”
“Foto itu seolah menceritakan kalau kalian sangat
dekat di sana, tak berjarak.”
“Kamu percaya dengan itu ?”
“Nggak.”
“Alhamdulillah, syukurlah. Apa kamu mau tahu cerita
yang sebenarnya ?”
“Ama, aku percaya sama kamu. Apalagi Arif ... Tapi
kalau kamu mau cerita silakan, barangkali nanti aku bisa bantu meluruskan jika
ada teman – teman yang salah paham.”
Kemudian
Ama menceritakan kronologis peristiwa di balik foto. Di ujung telepon Pupup
mneyimak dengan sabar dan sesekali menimpali dengan menawab ‘iya’, ‘terus’, dan
lainnya.
“Jadi begitu ceritanya, Pu.”
“Iya, Ma. Tapi kamu perlu menyiapkan diri kalau
seandainya ada isu miring terkait foto itu. Jangan langsung marah kalau ad yang
salah paham, yang sabar ya.”
“Iya, insya Allah. Jazakillah khoir, Pu. Terima kasih
sudah mau mendengar dan percaya padaku.”
“Iya, sama – sama. Kita saling menjaga ya ...”
“InsyaAllah. Assalamu’alaikum.”
Ama
menyudahi pembicaraan telepon yang berlangsung sekitar dua puluh menit itu. Kini
ia menekan nomor Ahmad, untuk menunaikan janji menjelaskan perihal foto di mading
sekolah. Semoga Ahmad bisa memahami penjelasanku, bismillah.
Tuuuuuuuuuuuuuuuuuut.
“Assalamu’alaikum.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar