Kamis, 13 Agustus 2020

 

Teman Sehati * Best Friend Forever

 

Loe baper ke laut aja

 

Pagi itu dengan rasa lelah yang masih mendera, Ama menguatkan dirinya untuk berangkat ke sekolah demi menghindari tertinggal pelajaran. Rasa kantuk juga lelah menguasai tubuh Ama. Wajahnya sangat menunjukkan bahwa dirinya perlu istirahat lebih lama.

“Ma, tadi ga ikut upacara, ke mana ?” tanya Angel aat mendapati teman sebangkunya masuk kelas.

“Ke UKS, izin istirahat.” Jawab Ama seraya menjatuhkan kepalanya ke atas lipatan tangan di atas meja.

“Lo sakit, Ma?” tanya Ahmad yang baru saja masuk kelas.

“Nggak, sedikit lelah aja.” Jawab Ama tetap menahan kepala di atas meja.

“Ni juga ga ada, kemana?” tanya Ahmad kepada Ismoyo seraya menunjuk kursi Arif.

“Tadi pagi sih nelpon, mungkin hari ini ga masuk karena sakit katanya.” Ahmad menganggukkan kepala lalu menuju tempat duduknya.

“Assalamu’alaikum prof ...” sapa Ahmad kepada Amal seraya berjabatan tangan.

“Wa’alaikum salam. Udah ngabsennya ?” goda Amal.

“Hahahhaha...”

                Pelajaran demi pelajaran terus berjalan hingga purna hari itu tertunaikan seluruh kewajiban Ama di sekolah. Tiba saatnya waktu untuk kembali ke rumah. Setelah berpamitan dan beralaman dengan teman sebangkunya,  Ama bergegas meninggalkan ruang kelas. Ia menuruni tangga dengan perlahan lalu menyempatkan diri melihat mading sekolah di dekat gerbang, persis di sebelah kanan tangga yang merupakan akses dari dan atau menuju lantai dua bangunan sekolah. Di kolom info terkini, Ama melihat sederet foto raker sekolah yang baru saja dilaksanakan. Perlahan Ama menyisir foto – foto itu, mencari tahu kenapa saat sholat Zhuhur tadi ketua keputrian ROHIS meminta dirinya untuk ngecek mading sekolah.

Kata Pupu, ada foto ku bersama ketua di sini. Foto yang bisa jadi menimbulkan salah paham. Foto apa ya ? Perasaan ga pernah mita di foto berdua, buat apa coba ? Aduh kan jadi penasaran. Ama    

                Ama terus menyusuri setiap foto yang menceritakan raker, mulai dari keberangkatan, suasana villa indoor dan out door, saat rapat, penutupan juga keliling  kebun teh. Semua tampak normal dan biasa saja sampai mata Ama menangkap dua buah foto dengan latar taman. Foto pertma adalah saat Ama melantunkan dzikir di atas ayunan dan Arif berdiri di sisinya. Ama ingat saat itu dia terkejut dengan kehadirn Arif, namun yang tercuplik dalam foto terlihat seolah mereka sedang bercakap – cakap dengan saling memandang. Foto satu lagi saat mereka membahas program di gazebo. Foto iambil persis saat Ama mengambil piring di hadapan Arif, lagi – lagi kesan yang diberikan foto adalah Ama seperti sedang “melayani’ sarapan dan mereka tampak sedang bercengkrama hangat berhiaskan senyum.

Astaghfirullah. Ini ga seperti kadaan sebenarnya. Iapa sih yang ngambil foto – foto ini ? Ko nggak permisi, ngambil foto sembarangan trus segala dipajang di hadapan publik kaya gini lagi.Ya, ampun. Aku harus segera menjelaskan ini kepada Pupu. Ama.

                Niat Ama untuk segera pulang tiba – tiba hilang. Ia segera menuju sekretariat ROHIS tempat Pupu biasa mampir sebelum meninggalkan sekolah. Mencapai lantai tiga dengan kondisi lelah bukanlah hal yang mudah. Namun Ama mampu melenyapkan lelahnya demi meluruskan perihal foto – foto di masing sekolah. Saat tiba di ruang sekretariat, Ama hanya menemukan pintu yang terkunci, sepertnya Pupu sudah pulang. Ama memutar badannya untuk kembali menuruni tangga dan pulang. Dalam hati ia berencana akan langsung menelpon Pupu saat tiba di rumah nanti.

“Ma! Dari mana ? Bukannya sudah pulang dari tadi ?”

“Eh, Ahmad. Iya, ada yang tertinggal tadi. Kamu ngapain di situ ?”

“Lihat ini.” Ujar Ahmad seraya menunjuk mading sekolah.

Astaghfirullah ... dia pasti lihat foto itu. Ama

“Lo dah lihat belum ? Ada foto berdua sama Arif nih, so sweet banget, so romantic, so...”

“Ahmad.”

“Ups. Maaf ya Ma, becanda ... suer” Ahmad menjawab seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri serta membuat kode sumpah dengan tangan kanannya.

Ya ampun Ama, gue cemburu ... plis dong jelasin ada kejadian apa dalam foto itu. Ama, jangan bilang kalau di sana lo sarpan bareng sama dia. Ngelayanin dia makan huhuhuhu. Ngomong dari hati ke hati di atas ayunan, ohohohoho, noooo Ama tell me tell me.

“Aku lelah, mau pulang. Nanti malam aku telepon untuk menjelaskan soal foto itu. Aku harap kamu nggak berpikiran macam – macam.”

“Siap bos Ama, you can count on me as always.” Jawab Ahmad seraya melakukan sikap hormat seperti prajurit yang sedang berhadapan dengan komandannya.

“Ya, aku tahu kamu bisa diandalkan. I trust you, and I thank you. See you, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam. Ga perlu diantar kan, Ma? Hehehehe.” Ahmad menggoda yang hanya dijawab dengan sorot dingin dari Ama.

Plizzz say yes Ama ... gue anter sampe depan pintu kamar eh rumah lo. Kasih kesempatan lah. Lo itu dalam kondisi lelah, kalau ada apa – apa di jalan gimana ? Aduuuuuh ... hati- hati di jalan, smoga slamat samai tujuan. Fii amanillah.

                Ama memantapkan langkahnya untuk segera tiba d rumah. Bajaj menjadi pilihan tepat untuk memangkas waktu perjalanan. Hanya perlu lima belas menit untuk tiba di rumah. Setelah mengucap salam, meletakkan tas di kamar dan sholat Ashar, Ama segera menghampiri pesawat telepon di ruang keluarga yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.

Tuuuuuuuuuuuuuuuuuut

“Asalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam, Pu.”

“Eh, Ama. Dah di rumah ?”

“Iya, Alhamdulillah. Aku dah lihat mading sekolah.”

“Terus ?”

“Apa yang kamu fikir saat melihat dua fotoku dengan Arif ?”

“Foto itu seolah menceritakan kalau kalian sangat dekat di sana, tak berjarak.”

“Kamu percaya dengan itu ?”

“Nggak.”

“Alhamdulillah, syukurlah. Apa kamu mau tahu cerita yang sebenarnya ?”

“Ama, aku percaya sama kamu. Apalagi Arif ... Tapi kalau kamu mau cerita silakan, barangkali nanti aku bisa bantu meluruskan jika ada teman – teman yang salah paham.”

                Kemudian Ama menceritakan kronologis peristiwa di balik foto. Di ujung telepon Pupup mneyimak dengan sabar dan sesekali menimpali dengan menawab ‘iya’, ‘terus’, dan lainnya.

“Jadi begitu ceritanya, Pu.”

“Iya, Ma. Tapi kamu perlu menyiapkan diri kalau seandainya ada isu miring terkait foto itu. Jangan langsung marah kalau ad yang salah paham, yang sabar ya.”

“Iya, insya Allah. Jazakillah khoir, Pu. Terima kasih sudah mau mendengar dan percaya padaku.”

“Iya, sama – sama. Kita saling menjaga ya ...”

“InsyaAllah. Assalamu’alaikum.”

                Ama menyudahi pembicaraan telepon yang berlangsung sekitar dua puluh menit itu. Kini ia menekan nomor Ahmad, untuk menunaikan janji menjelaskan perihal foto di mading sekolah. Semoga Ahmad bisa memahami penjelasanku, bismillah.

Tuuuuuuuuuuuuuuuuuut.

“Assalamu’alaikum.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar