Rabu, 30 Oktober 2019

SAHABATKU JODOHKU

“Apa,Wir ? Coba ulang apa yang kamu katakan tadi.”
Gadis berkaca mata itu menatapku, menunggu jawaban.
“Wira…” kembali ia memanggil.
“Iya aku cemburu. Cem… bu… ru…  ce e ce em b u bu er u. Cemburu. Puas ?”, jawabku masih membalas tatapnya.
“Ish yang bener aja. Masa kamu cemburu sama Suma. Dia kan Cuma tanya aja sama aku. Lagian kita kan sahabatan dari es de, masa iya pake cemburuan segala sih, Wir? …”
                Ku alihkan pandang sejenak, lalu kembali menatap gadis yang masih bertahan dengan segenap argumentasinya. 
“Kamu itu ga peka, Ra. Ga pernah peka. Aku juga ga ngerti ya kamu itu pura – pura ga tahu apa emang beneran ga peka, ya?”
“Tunggu tunggu tunggu. Ini maksudnya gimana sih ?” Gadis berkaca mata itu mencoba mencerna apa yang baru saja ku katakan. Diajaknya aku untuk duduk di bawah pohon untuk melanjutkan penjelasan.
“Tenang, bro. Kalem. Kamu jangan ngegas dong, jelaskan pelan pelan ya.” pintanya sambil menyunggingkan sebuah senyum yang selalu indah buatku.
                “Ra”, sapaku sambil berusaha melambatkan laju jantung serta nafas yang memburu.
“Iyes”, masih dengan senyum di bibirnya.
“Iya kita sahabatan dari es de sampai sekarang kuliah. Tapi masa sih kamu ga pernah tahu perasaanku ?”
Rara, gadis berkaca mata yang super cuek itu merapikan kacamatanya yang tidak berantakan.
“Tapi emang kamu itu ga peka sih.”
                Aku sebutkan tentang beberapa cowok yang hilir mudik cari perhatian dan tebar pesona pada Rara. Ada Herman yang rajin bawain sarapan buat Rara. Amran yang selalu pinjam buku catatan Rara. ada Andro, kaka kelas yang super duper caper. Datang ke acara jurusan Cuma buat bilang, “Saya sudah tahu Rara akan jadi peserta terbaik maka saya hadir untuk menyaksikan penobatannya.” Ada juga Agus yang ga pernah absen nelponin Rara tiap hari. Ian, Eman, Heru, Bayu, … o em ji banyaknya.
“Ya ampun Wira, gitu aja diambil hati. Itu mah biasa aja kali. Oh iya kamu belum sebut Yahya, dia rajin puji baju apa aja yang aku pakai dia akan bilang : ’cantiknya’”, ringan dia menjawab tanpa memerdulikan segores luka hadir di hati.
Rara. Aku mengenalnya sejak kelas 5 SD. Saat itu aku baru pindah dari Sumatera. Ayah pindah tugas ke Jakarta dan membawa seluruh keluarga ikut serta. Sebagai pendatang, tentu saja aku perlu banyak informasi dari teman yang bisa diandalkan, dan Rara orangnya.  Bukan hanya sekelas, rumah kami hanya berjarak beberapa blok saja.
Masih teringat, saat kelas 5 Rara menjadi ketua kelas. Dia sangat melindungiku dari godaan teman – teman lelaki juga perempuan, maklum lah wajahku sejak kecil sudah sangat imut dan menggemaskan, mirip Syahrul Gunawan yang baby face itu lah kurang lebih (ups). Yang menggembirakan adalah saat wali kelas 6 menjodohkan aku dengan Rara, tapi dia cuek aja.
Rara itu juara kelas, kecerdasanku hanya bisa menyainginya di peringkat tiga, padahal di Sumatera sana, aku yang terbaik di kelas. Tapi tenang saja, di SMP prestasi kami seimbang. Sesekali aku menang, banyak kali Rara yang menang, hehehe. Setiap kelulusan, aku berharap bisa terus satu sekolah dengan Rara, dan taraaa bahkan sampai kuliah aku juga satu kampus sama dia. Cuma beda jurusan. Aku ambil ilmu murni, dia ambil ilmu kependidikan.
“Wir… hey Wira, ngelamun sih.”  Tetiba Rara membuyarkan lamunanku.
“Eh, oh, iya, sampai mana tadi ?”
“Cemburu”
“Iya, aku cemburu. Aku memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat.” Kembali ku tatap wajahnya, mencoba mencari apa jawabnya.
“Maksud kamu…” hanya mata yang bicara, seolah kata tertahan di kelunya lisan.
“Maksud aku, aku cinta kamu. Dan aku ingin kamu menjadi pendampingku, menjadi ibu dari anak- aanakku kelak.” Entah keberanian dari mana yang hadir, hingga aku bisa mengucap dengan lancar tentang rasa yang sekian lama terpendam.
    Rara menghempas tubuhnya ke batang pohon yang daunnya melindungi kami sedari tadi. Hanya diam tanpa kata.
“So, Ra, will you?”
“Emangnya kamu mau punya istri kekanakan kaya aku ?”, jawabnya dengan masih menatap hijau rerumputan.
“Ga bisa masak, ga bisa nyuci, hobinya berantakin rumah, bawel, urakan, cuek, ga bisa dandan, ga…”
Dia hentikan ucapannya tepat saat sekepal rumput yang aku lempar mendarat di bahunya.
“Woy, gue ga nyari pembokat. Aku tuh ngajak kamu jadi istriku, aku ga lagi nyari asiten rumah tangga…”
Tak  ada kata, hanya tatapan.
“Pulang ah, dah sore. Kayanya loe kesambet.”
                “Ra, kamu boleh anggap aku ga serius. Tapi aku serius. Akhir pekan aku akan datang menghadap orang tuamu, tapi kalau kamu bilang yes sekarang, aku akan langsung datang bersama orang tuaku untuk melamarmu. Ra … Rara…!”
Penjelasanku yang lebih mirip sales promotion itu tak mampu menghentikan langkah Rara. Begitu tiba di parkiran, begitu saja ia hinggap di matic kesayangannya dan meluncur bagai pesawat tempur.
Ah, Rara.

***

[P] Rara …
[Kamu dah sadar lom, Wir ? Apa masih kesambet?]
Ya, ampun dia masih kira semua perasaanku hanya bercanda.
Ada dua hal yang serius dan bercandanya dihitung serius, harusnya kamu yang dah gabung halaqoh di masjid tahu itu
Beberapa menit berlalu, taka da jawaban dari Rara.
Mataku tak bisa beralih dari ponsel dalam genggaman, berharap ada balasan dari Rara. Putaran jarum jam terasa sangat lambat, hanya degup dalam dada yang terasa kian melompat.
Satu jam berlalu.
Tuuut…
“Ya, Wir”, suara Rara di ujung telepon.
“Assalamu’alaikum, Ra.”
“Wa’alaikum salam.”
“Ra, aku ga kesambet. Aku sadar pake banget.”
“Ini, ko bisa jadi gini sih, Wir?”
“Bisa, Ra. Namanya juga perasaan, ga bisa dicegah.”
“Ga masuk akal.”
“Ya, emang begitu, seperti katamu, ga masuk akal.”
“Aneh”
“Emang iya.”
Hening.
“Ra, ngomong dong, jangan diam aja. Apakah kamu punya perasaan yang sama denganku?”
“Aku harus jawab apa, Wir? Kalau jawab nggak kamu pasti kecewa, kalau jawab iya aku juga ga tahu. Aku ragu dengan apa yang selama ini aku rasakan …”
“Jujur aja dengan perasaanmu, Ra. Aku siap ko sekalipun jawaban kamu nggak.”
“Hmmm. Apa yang buat kamu suka padaku ?”
“Suka??? Bukan suka, tapi cinta, Ra. Kamu itu lucu, smart, gemesin meski sering jengkelin. Aku tanpamu bagai sayur tanpa garam. Bagai malam tanpa gemintang. Laksana kemarau yang merindu hujan, aku …”
“Gombal”
“Tapi suka kan, hehehe”
“Sok tahu…”
“Ya udah, terima ya… biar akhir pekan ini aku bisa lamar kamu.”
“Secepat itukah?”
“Iya. Nanti kamu berubah pikiran. Atau keburu ada yang datang melamar, gimana, hayo.”
“Aku mau istikharah dulu. Kamu juga ya.”
“Siap tuan putri…”
“Eits … no gombal. Assalamu’alaikum.”
Ku bawa ponsel dalam pelukan. Sujud syukur, meski Rara belum pasti akan menerima lamaranku. Tapi atas apa yang ku rasa saat ini, sepertinya aku perlu mengungkapkannnya dalam sujud kesyukuran.
“Ya, Allah semoga dia adalah jodohku. Aamiin.”


SIKSA KARUNIA

Tuhanku,
Dalam hening malam aku menghadapMu
Sendu, sunyi syahdu

Tuhanku. adarasa terselip dalam dada
begitu saja tanpa suara
Rasa yang menggelora namun membekukan jiwa

Tuhan, jika rasa ini adalah karunia
Mengapa lebih terasa sebagai siksa
Atau memang apa yang terasa

Bukanlah karunia ?
DOA SAHABAT

Dalam diam, ku coba merajut doa
pada Yang Maha Kuasa
Agar engkau sahabatku, slalu gembira dan bahagia
dan takkan pernah lupa
pada persahabatan milik kita
sekarang dan selamanya

Agar engkau sahabatku
slalu dalam lindunganNya
Dalam setiap helaan nafas yang terhempas
Dalam setiap langkah yang terderap

Gar engkau sahabatku
Slalu dalam penjagaanNya
Agar engkau tahu
Bahwa di manapun berada
Kita di bawah langit yang Satu

dan menatap bintang yang sama.

Jumat, 18 Oktober 2019

Semu Sejati  Cinta

Baru saja kau kirimkan cerita
Tentang cinta Zainab putri baginda
Cinta yang sempurna
Tanpa cela

Bersama cerita itu
Kau titipkan rasa padaku
Rasa yang buat aku tergugu
dan termangu

Apa yang kau ingin aku lakukan ?
Menerima rasamu lalu membiarkan
Ia tumbuh dan bersemi
Di setiap sudut hati

Apa yang kau harapkan ?
Membalas semua yang kau rasakan,
Dengan melodi yang hanya bisa berdendang dalam hati
Karena untuk menyuarakannya tak mungkin lagi.

Apa yang kau pikirkan ?
Hanya menitip rasa
Lalu abai kan
Yang hadir dalam hampa

Cerita cinta sang putri baginda
adalah sejatinya cinta
Lalu bagaimana dengan rasa di antara kita

Sejatikah atau hanya semu belaka.
Semilir Rasa

Dalam hingar tetiba  ada semilir rasa
Lembut tertambat saat mengalir kata
Cinta yang terbata dieja
Perlahan mendapat singgasananya

Duhai kamu, teganya
Menebar rasa yang tak kan bisa
Kita biarkan menjadi raja
Bertahta dengan kuasanya.

Hei kamu, jika ratusan purnama terlalui
Dengan rasa yang tersembunyi
Mengapa kini,
Kau biarkan rasa itu menghantui  

Duhai kamu, sungguh aku tidak tahu
kan apa yang kamu mau
Hanya mendengar rasamu
Atau menyambutnya sepenuh kalbu.

Duhai kamu, Iya kamu
Andai kamu tahu betapa berat hariku
Mengeja namamu

hampir di setiap waktu .

Rabu, 16 Oktober 2019

SEJATI CINTA (5)

Detak jam dinding membersamaiku di ruang bernuansa merah jambu, warna favorit Asri. Ku pandang lekat wajah di hadapanku. Belasan tahun berbilang membuat wajah itu semakin ayu. Garis wajah yang tegas tidak mampu menyembunyikan kekanakanmu, Sri, gumamku.
“Tuh kaan tutup pulpen aku hilang, kamu sih.”, kamu merajuk, dua bibirmu mengerucut.
“Besok – besok beli sendiri, ga usah pinjam lagi.”
            Ah, layar itu terkembang lagi. Memutar episode demi episode saat aku mulai mengenalmu. Akrab dan semakin dekat.
“Sri, pulang sekolah ada waktu ga?”
“Ada. Kenapa? Ada rapat OSIS ya?”
“Nggak. Aku mau curhat.”
“Oh, oke, di kelas aja ya ntar pulang sekolah.”  
Sri, andai kamu tahu. Apa yang ku keluhkan padamu kala itu hanya karanganku saja. Bahwa sebenarnya aku sedang menahan dirimu untuk terus bersamaku. Bahwa sebenarnya cerita yang aku sampaikan itu adalah perasaanku sesungguhnya padamu. Kasus – kasus juga nama – nama yang aku sebut itu hanya rekaan, supaya aku tahu bagaimana reaksimu
Sri, aku sempat kesal sama kamu. Sejak kamu putuskan untuk memakai kerudung itu, kamu jadi tidak mau bersentuhan lagi, bukan mahrom katamu. Padahal aku sangat ingin menyentuhmu untuk menyampaikan perasaan yang tak terucap. Saat bicara pun kamu sudah tidak menatap lagi. Beruntung sekali jajaran ubin atau langit – langit kelas berhias debu mendapat perhatian dan tatapanmu. Kurang tampankah aku, pikirku kala itu.
Tapi kini aku bersyukur dan berterima kasih padamu. Kamu berjasa mendekatkan aku pada Islam. Kamu ga pernah lelah menjawab tanya dan mengingatkanku untuk sholat, mengaji, jaga pandangan. Seringkali kamu itu lebih cerewet dari kakak – kakakku. Hehehe.
Kamu tahu Sri, aku sering menelponmu menanyakan ini dan itu terkait pelaksanaan program dan lainnya.Itu sebenarnya hanyalah caraku untuk bisa mendengar suaramu. Aku rindu. Apalagi saat kamu memarahi aku, ngangenin.
Oh iya, kamu masih ingat kan kalau kamu sering banget marahin aku.
“Kalau ga mau jadi pusat perhatian tuh ya ga usah tebar pesona! Jangan mau dikasih hadiah sama member SFC. Terus itu surat – surat mereka coba dibalas, jangan digantung, PHP!”, Serumu setengah berteriak seraya menghempaskan beberapa amplop berwarna biru muda dan pink serta beberapa kotak coklat.
“Kamu tahu ga sih, ngeliat kamu aja udah bikin cewe – cewe itu baper, sampaikan dong sikapmu dengan tegas. Atau jangan – jangan kamu menikmati semuanya, iya kan ? Ngaku…”, kejarmu tanpa jeda.
Aku hanya bisa mengiyakan dan menikmati setiap kata yang kamu lontarkan. Di saat semua orang terasa begitu mengistimewakan aku, tapi kamu bisa menganggap aku biasa saja, bukan apa – apa. Kamu begitu leluasa untuk mengkritik, mencanda bahkan memarahi aku. Itu yang aku suka, Sri. Kamu membangkitkan semangatku untuk mengejar, bukan dikejar. Katamu waktu itu, lelaki adalah pemburu alami dan kamu tidak pernah mau jadi buruan liar mereka. Kamu masih ingat itu, Sri?
Sri, aku tidak akan lelah untuk terus bercerita di sampingmu, seperti saat ini. Sebulan sudah janji suci itu ku ucapkan di hadapan kedua orang tuamu. Kita menikah di ruang ini. Ruang yang sengaja aku siapkan sesuai arahan dokter. Dengan beragam pertimbangan, akhirnya paramedis mengizinkan perawatanmu dilakukan di rumah, agar kedua orang tuamu bisa turut membersamai, melewati detik demi detik bersamamu. Hari ini, beberapa bulan sudah musibah itu berlalu, namun kau masih belum sadarkan diri. Sri, aku takkan lelah. Aku percaya suatu saat nanti kan ku lihat lagi binar indah di matamu.
Tak terasa jarum jam kini telah menunjuk pukul 22.00. Kantuk mulai menyergap, ku rebahkan kepala di atas pembaringan, di sisimu. Jemariku erat menggenggam jemarimu. Selamat tidur, Sri. Kalau aku tertidur nanti, bangunkan untuk tahajud ya, aku yakin suatu saat nanti kita akan bisa melakukan sholat bersama. I love you Sweety.
“Ya Allah izinkan hamba mengimaminya”, pintaku dalam hati.
Samar terasa gerak lembut di jemari. Kelopak mataku enggan digerakkan, berat rasanya untuk sekedar membuatnya terbuka sesaat. Ku lihat dinding, jam 03.30. Kembali aku merasakan gerak lembut yang sangat lemah, perlahan mengusap punggung tangan. Segera ku alihkan pandang.
“Demi Allah, Sri, kamu bisa menggerakkan tangan?”, aku terkaget, ada rasa bahagia menyelinap, hangat memenuhi dada. Ku raih jemari itu dalam peluk.
“Sri, terima kasih kamu sudah membangunkan aku. Kita sholat tahajud ya”, perlahan ku berbisik di telinganya, penuh haru.
Aku terhanyut dalam untaian doa dan munajat. Rasa syukur panjang terlantunkan. Setiap bacaan dan gerakan terasa sangat syahdu dan menghanyutkan. Sepertinya tahajud malam ini paling nikmat terasa, enggan untuk menyudahinya dengan segera. Lepas sholat, ku raih mushaf untuk kemudian membacanya disisi Asri, seperti biasa.
Rupanya kejutan dari Allah terus berlanjut. Ba’da Shubuh, saat aku ingin menunjukkan pada ibu dan bapak perihal perkembangan Asri, nyatanya Asri telah bisa membuka matanya. Masya Allah.
Ibu dan Bapak menangis haru. Seketika ibu memeluk Asri, lisannya tak lepas memuji Allah. Pun dengan Bapak yang hanya bisa menyaksikan semua dari kursi roda. Sementara aku, terhanyut dalam sujud kesyukuran.
“Alhamdulillah, Ya, Allah…”, bisikku lirih.
            Perawat yang membantu menjaga Asri segera menghubungi Rumah Sakit untuk mengabarkan perkembangan Asri. Beberapa jam kemudian tim paramedis tiba di rumah untuk melakukan pemeriksaan. Kata dokter, jika kondisi Asri terus membaik dalam sepekan ini, bisa dipastikan ia akan pulih seperti sedia kala.
“Insya Allah”, batinku menimpali.
            Hatiku kini seperti musim semi. Indah semerbak ditumbuhi aneka bunga. Asri terus menunjukkan perkembangan positif dari hari ke hari. Sepertinya, ia mendengar semua yang ku ceritakan saat koma. Ia tidak menolak saat ku sentuh, mungkin ia mengerti bahwa saat ini aku adalah suaminya bukan sekedar Syarief yang hanya teman SMAnya. Komunikasi bisa dilakukan melalui kedip mata dan sentuhan jemari. Itu saja sudah membuat kami, aku terutama, merasa sangat bahagia. Setelah enam purnama, akhirnya bisa juga ku pandangi binar itu.
            Pagi itu, kami tengah sibuk untuk menyiapkan acara syukuran, mengundang ibu – ibu pengajian di sekitar rumah juga beberapa orang janda dan anak yatim untuk bersama – sama mendoakan kesembuhan Asri. Suasana tampak riang, aura bahagia menghinggapi setiap hati di sini. Seperti biasa tim paramedis datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.
“Dok, perhatikan monitor, tekanan darah dan detak jantung pasien terlihat melemah.”, seru perawat berhati – hati.
Sejurus kemudian mereka tampak serius memerhatikan kondisi Asri, memeriksa aneka selang yang menempel di tubuhnya.
“Pak Syarief”, dokter menyapaku.
“Ada tanda tidak baik. Sepertinya istri Anda tidak akan bertahan. Mohon ditalkinkan syahadat di telinganya. Ibu Bapak, mohon bersabar, serahkan semua pada Allah. Yang kuat ya, Pak, Bu. Pak Syarief, saya yakin Anda tegar untuk melalui ini.”
            Demi Allah. Astaghfirullah. Apa yang baru saja ku dengar terasa bagai besi baja yang keras menghantam kepalaku. Sakit. Terasa kosong. Air mata, nafas dan detak jantung berlomba menderu. Tertatih ku dekati juwitaku. Ku kecup keningnya dan ku bisikkan asma Allah di telinganya. Matanya, aku tidak sanggup menatap. Ia seolah berkata terima kasih untuk setia.
Ibu terisak seraya memeluknya erat. Sementara Bapak menangis tergugu.
            Detak jantung Asri tampak kian lemah di monitor.

“Asri, aku ikhlas. Aku ridho. Allah akan memberi tempat terbaik untukmu, tempat yang indah, tempat kita akan bersama kelak. Di jannahNya. InsyaAllah.”, tangisku pecah. Air mataku jatuh tepat di pipinya. Ya Allah, ikhlaskan hamba. ***)

Senin, 14 Oktober 2019

SEJATI CINTA (4)

Genap sepekan aku menginap di Rumah sakit ini bersama Asri yang masih belum sadarkan diri. Balutan putih di kepala yang setia menemani hariku, sejak kemarin sore sudah tak ada lagi. Dokter mengizinkan aku untuk meninggalkan ruang perawatan pagi ini. Alhamdulillah.
Teringat aku akan janji pada bang Kelana. janji untuk segera menghubunginya begitu aku dinyatakan pulih oleh dokter. Ya, sekarang saatnya tiba.
Tuuuut
“Assalamu’alaikum.”, terdengar suara di ujung telepon, terdengar berat dan parau.
“Assalamu’alaikum, Bang. Ini Syarief.”
“Iya.”
“Saya sudah siap untuk bicara, Bang.”
“Oke. Siang ini di taman tempat terakhir kau bertemu Asri.”
“Baik, Bang”, jawabku dalam hati, sesaat setelah terdengar suara tuuuut di ujung telepon.
Segera ku kemas barang dan bergegas menuju hotel di sebrang rumah sakit ini. Setelah panjang berdiskusi dengan Ambu juga Abah, akhirnya aku mendapat lampu hijau untuk tinggal di sana selama Asri belum sadarkan diri. Alhamdulillah Allah mudahkan lisan ini untuk menjawab semua kekhawatiran dan keberatan Ambu dan Abah. Tekadku sudah bulat, menemani Asri dalam komanya, hingga ia pulih. Kondisi orang tua Asri tidak memungkinkan mereka untuk mendampingi putri semata wayangnya. Bang Kelana juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Sementara aku bisa fleksibel memantau bisnisku dari hotel, sesekali menghadiri rapat jika diperlukan.

***
Gerombolan awan nan kelabu menahan terik sang mentari siang ini. Syukurlah, gumamku dalam hati. Degup jantung dan hembusan nafas berpadu, mengalun melodi. Seolah memberi penghiburan dan menenangkan hati dan pikiranku yang melesat enggan menunggu.  Ayunan langkah kaki mengantarku pada bangku taman yang sudah separuh terisi sosok yang belum lama aku kenal.
“Assalamu’alaikum, Bang”, pelan ku sapa sosok itu.
“Wa’alaikum salam.”, terdengar jawaban dari suara yang berat.
Sejurus kemudian, kami larut dalam pembicaraan yang selama ini tertunda. Dialog antara dua hati yang sama mencintakan Asri.
“Jadi Abang ada di sini sore itu?”, tanyaku memastikan setelah Kelana bertanya tentang seberapa besar rasa cintaku, pada Asri.
Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan..”, Dia mengulangi ucapanku kala itu.
“Katakan Syarief, bagaimana kau bisa sangat yakin saat mengatakan itu ?”, lanjutnya seraya menjatuhkan pandangnya tepat di bola mataku.
Ku alihkan pandang ke barisan bunga yang tertata rapi, indah, simetris dan serasi dengan bantalan ban yang dikreasikan sangat artistik. Layar pikirku membentang, tergambar di sana secuplik peristiwa.
“Rief, aku ga bisa terima ini”, seru gadis berkerudung putih dengan sorot mata yang teduh sekaligus tajam. Menatapku tanpa jeda.
“Kenapa sih, Sri? Kamu menolak pemberianku, selalu. Ini kan hanya pulpen dan teman – temannya, masa kamu ga mau terima? Hadiah ulang tahun, dari aku.”, jawabku dengan memberondong tanya padanya.
“Rief, kamu sudah tahu jawabannya. Bahwa ..”, seru si gadis yang telah merajai hatiku kini.
“Bahwa kamu tidak mau merasa berhutang budi? Bahwa kamu tidak mau merasa sungkan saat suatu hari nanti harus memutuskan menerima atau menolak perasaan istimewa yang mungkin akan hadir di antara kita? Bahwa kamu ingin selalu menjadi orang yang merdeka tanpa terbelenggu jasa?”, buruku seraya mencari jawab di dua bola matanya yang kini berkaca mata.
“Ya,kamu benar. Bagus kalau kamu masih ingat semua itu. Nih, ambil”, Juwita itu menyerahkan sekotak berwarna pink ke genggamanku.
“Sri, ayolah. Aku kenal kamu dari dulu, dari sebelum kamu pakai kerudung itu. Dari kamu cantik sampai sekarang makin cantik, please … take this. It’s nothing.”
“Gombal. Sorry,I can’t. Bukan hanya terhadapmu. Ini prinsip, aku tidak menerima pemberian dari laki – laki yang bukan mahramku, kecuali sampai satu saat nanti aku sudah bersama pendamping hidupku yang sejati.”, begitu saja dia tinggalkan aku yang masih ingin memuntahkan rentetan kata.
“Dasar Asri mata empat!”, teriakku mengumpat seraya memasang wajah jengkel, hanya berbalas kepal tangan yang dipukulkan ke udara. Pintaku kala itu, semoga aku kelak yang akan menjadi pendamping hidupnya yang sejati. Semoga.
“Syarief …”
 Ah, suara nan berat itu menggulung layar pikiran yang baru saja terbentang.
“Iya, bang. Jadi kenapa saya bisa yakin, sangat yakin bahkan. Itu karena saya tahu bagaimana Asri. Dia itu sangat mudah memberi, tapi sangat sulit untuk menerima pemberian, apalagi dari laki – laki, pantang itu buat dia. Ga’ mau berhutang budi, gitu katanya. Nah, saat Abang hadir dengan segala bantuan dan perhatian ketika ia ditimpa musibah…”, suaraku tercekat di tenggorokan. Ada rasa bersalah menyelinap di relung hatiku.
            Terbayang kepingan hati wanita pujaanku saat sahabatku membatalkan pernikahan mereka ketika mendekati hari H. Sakit membayangkan bagaimana ia berjuang melawan semua cibiran, perih saat berusaha percaya bahwa semua ia lakukan demi menguatkan kedua orang tuanya yang juga tersakiti, bahkan hingga saat ini membekas pada guratan miring di wajah bapak, serta kursi roda yang setia mendampinginya. Rasa bersalah hadir, merangsek dan menusuk hingga ke pori – pori kulit.
Dalam ku hirup udara taman, seperti hendak memasukkan semuanya ke rongga paruku.
“Saat itu Asri tidak punya pilihan kecuali menerima uluran tanganmu, Bang.” pelan ku lanjutkan penjelasanku.
“Lalu saat Abang sampaikan maksud untuk serius padanya, Asri hanya punya jawaban iya.”, pungkasku.
            Wajah lelaki itu datar, tanpa ekspresi. Aku sulit untuk menterjemahkan apakah penerimaan atau ketidaksetujuan yang hadir di situ.
“Jadi, kamu fikir kamu bisa membuat ia bahagia ?”, tanyanya memecah kebekuan.
“Entah, Bang. Saya hanya merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat bagi saya untuk menebus masa lalu. Seharusnya saya berani memperjuangkan hatinya, bukan tenggelam dengan rasa malu dan takut ditinggal.”
“Bang, kemarin dokter yang menangani Asri bilang bahwa perhatian dan cinta bisa membantu kesembuhan pasien koma. Bisikan cinta, sentuhan kasih bisa diberikan pada pasien meski ia tidak bisa merespon.”
“Lalu?”
“Bang, izinkan saya untuk menikahi Asri sekarang, supaya saya bisa merawat Asri.”, setengah meminta aku menatapnya, penuh harap. Kelana menatapku kemudian melepaskan pandang ke langit. Berkali ia lakukan, seolah menutupi badai yang berkecamuk di hatinya.
“Bang, saat nanti Asri pulih, saya janji akan menyerahkannya kembali.”,
Entah apa yang baru saja ku katakan, yang pasti aku hanya ingin meyakinkan Kelana.
   “Apa maksudmu? Kau kira Asri itu barang yang bisa seenaknya dipindahtangankan?”
“Maaf, Bang, bukan begitu maksud saya”.
“Dengar Syarief, matamu bercerita banyak tentang rasamu pada Asri. Aku rela melepasnya. Tapi ingat, jika sekali kau sakiti dia, kau akan langsung berhadapan denganku, ingat itu.”

Demi mendengar itu, aku berhambur dalam pelukan Kelana. Aku tahu ia lelaki yang lembut di balik wajahnya yang tegas. Di telinganya aku berbisik, “Saya janji, Bang. Terima kasih.” Lama ku jabat erat tangannya, meluapkan rasa syukur yang menjalar hangat ke seluruh tubuhku. Terima kasih Kelana, Alhamdulillah.*)

Sabtu, 12 Oktober 2019

SEJATI CINTA (3)

“Suster, maaf saya mau tanya soal pasien yang dirawat karena kecelakaan, kejadiannya petang ini.”, tanyaku dengan paduan deru jantung dan nafas yang tersengal.
“Atas nama siapa, pak ?”
“Asri Lestari”
“Pasien atas nama nona Asri Lestari benar ada dirawat di sini, pak. Saat ini masih di ruang ICU dalam keadaan tak sadarkan diri. Bapak dari pihak keluargakah?”
“Iya, eh, bukan. Maksud saya, saya temannya. Apa saya boleh melihatnya, Sus?”
“Maaf bapak, sesuai prosedur, yang boleh melihat pasien saat ini hanya pihak keluarga saja. Sebaiknya bapak membantu kami menghubungi keluarga nona Asri, itu akan jauh lebih membantu. Tidak ditemukan identitas Nona Asri selain pin nama yang tertempel di bajunya, pihak kepolisian masih mencari tahu, pak.”
“Baik, saya mengerti. Terima kasih.”
            Meski merasa tidak puas, aku terima juga saran dari suster. Setelah mendapat informasi yang cukup lengkap tentang Asri dan kecelakaan lalu lintas yang menimpanya, ku putuskan untuk kembali ke rumah Asri. Menyampaikan semua informasi yang baru saja ku dapat.
Sepanjang perjalanan aku berusaha mengorek kemampuan berbahasaku. Mencoba menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan berita ini kepada Ibu dan Bapak. Sedih, marah, kesal, rasa tidak berdaya bercampur aduk dalam hatiku. Ya, Tuhan, lancarkan lisanku, lapangkan dadaku. Aamiin.
Pukul 23.30
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, Nak Lana. Asri belum ketemu, ya?”
“Sudah, Bu. Alhamdulillah. Boleh saya duduk, Bu ? Agak panjang ceritanya.”
“Eh, oh, iya, silakan. Mari duduk. Maafkan Ibu sampai lupa mengajakmu duduk…”
“Iya, bu. Tidak apa – apa, saya paham. Sebelum saya lanjutkan, saya minta Ibu dan Bapak menguatkan diri dan sabar, ya.”
“Ini ada apa sih sebenarnya?”
“Ibu janji dulu, yang sabar.”
“Iya, ibu janji. Insya Allah.”
            Ku perhatikan seksama wajah renta di hadapanku. Ah, tak sanggup rasanya membayangkan bagaimana respon mereka nanti. Ya, Allah, bantu hamba.
“Jadi begini, Bu, Pak. Asri mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil yang dikendarai Syarief ditabrak dari belakang.”
“Astaghfirullah, Asri…”, Kristal bening mulai membendung di pelupuk mata ibu yang menua. Bapak terlihat sangat cemas.
            Setelah merapikan posisi duduk, aku kuatkan diri untuk melanjutkan bercerita.
“Jadi, supir ugal – ugalan yang menabrak itu tewas di lokasi kecelakaan.”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun”, ujar Ibu dan Bapak hampir bersamaan.
“Keadaan Asri dan Syarief bagaimana, Nak?”, tanya bapak dengan suara yang sedikit berat.
“Dari keterangan perawat di sana, menurut informasi dokter yang menangani Syarief tidak ada luka serius yang dialami Syarief. Ada trauma ringan di kepalanya serta memar di beberapa bagian tubuh, lengan dan kakinya. Sementara Asri,
“Bagaimana Asri, Nak ?”, ibu memotong dengan suara tercekat dan bergetar.
“Asri masih belum sadarkan diri sejak kecelakaan terjadi, Bu, Pak. Maafkan saya.” Hampir tak kuasa aku selesaikan cerita itu, berat rasanya. Mataku kian terasa perih dan tak sanggup melihat Kristal bening membanjiri wajah Ibu dan sedih yang teramat yang berpadu dengan sisa stroke di wajah bapak.
“Insya Allah besok pagi – pagi sekali saya antar Ibu dan Bapak ke Rumah Sakit, ya. Sekarang istirahat dulu. Saya sudah selesaikan masalah administrasi di sana dan menitipkan nomor telepon saya juga nomor Ibu dan Bapak untukmengabarkan keadaan Asri, jika ada hal mendesak yang perlu kita ketahui.”
“Baik, Nak. Te..rima ka..sihhhh...” Ibu tidak bisa melanjutkan ucapannya, kesedihan sudah menguasai.
“Saya pamit, Bu, Pak.Assalamu’alaikum.”
Tuntas sudah ku ceritakan semua informasi tentang Asri kepada Ibu dan Bapak. Harusnya hati ini terasa lega. Namun tidak begitu adanya. Hati dan pikiranku terus bertanya tentang Asri.
Tepat pukul 02.00 aku tiba di rumah. Sunyi. Sepi. Sebelum tidur, aku sempatkan menghadap Robb-ku, memohon kesembuhan dan perlindungan untuk Asri.
Malam yang sangat melelahkan.
            Usai Shubuh di masjid, aku bergegas pulang untuk kemudian menjemput Ibu dan Bapak menuju rumah sakit, meninggalkan kajian Shubuh yang rutin di sana. Bismillah tawakaltu ‘alallah.
Pukul 06.30
Perlahan ku damping ibu menyusuri lorong rumah sakit seraya mendorong bapak di kursi roda. Beberapa saat kemudian tibalah kami di ruang yang kami tuju. Dari jendela bening berukuran 3 x 2 meter itu kami melihat Asri tergeletak dengan beberapa selang di tubuhnya. Detak jantunya dipantau monitor di samping tempat ia berbaring, samar terdengar suara pip pip pip.
Tetes air mata membasahi wajah bapak, wajah yang mengguratkan kerasnya perjalanan hidup. Ibu tergugu, aku tepat menyangga kala ibu tak kuasa menumpu berat tubuhnya, limbung.
“Ya, Allah, Bu. Istighfar. Ayo duduk di sini dulu.”
Ibu terduduk lemah di bangku, Bapak sibuk menenangkan Ibu, memijit tangannya dan melafadzkan Istighfar. Aku hanya mampu menangis dalam hati, moga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran pada mereka.
Sejurus kemudian dari kejauhan, aku melihat sosok berkotak merah dengan balutan perban di kepala. Selang infus yang menempel di tangan tampak sedikit membatasi gerak langkahnya. Sepasang paruh baya berpenampilan elegan berjalan mengiringi, sesekali membantu ia berjalan. Syarief. Ingin rasanya segera ku hampiri ia dan meluapkan rasa kesal padanya. Namun ku urungkan demi menjaga perasaan Ibu Bapak juga sepasang paruh baya itu.
Mereka berhenti tepat di tempat semula kami berdiri. Di tatapnya Asri lekat.
“Itu Asri, Bu, Bah. Belum sadarkan diri sejak kemarin. Kasihan Asri, ini semua salah Dede. Ambu, Abah, tolong segera kabari keluarga Asri. Tolong jemput mereka kesini, ya.”, pintanya sangat berharap. Pandangannya tetap diarahkan pada Asri.
“Iya, De, akan kami lakukan. Sekarang Dede kembali ke kamar rawat ya, supaya kami tenang meninggalkan kamu bersama perawat di sana.”, seru sang Abah dengan suaranya yang penuh kharisma.
“Maaf Abah, Dede akan terus di sini menunggu Asri siuman. Nanti kalau orang tuanya sudah datang baru De kembali ke kamar. Ya, Ambu ya … Dede mohon, please.”
“Ya sudah, nanti Ambu minta tolong perawat untuk bisa mengawasi kamu di sini. Ayo Abah.”, seru sang Ambu dengan sangat lembut.
Awalnya aku berniat untuk mencegah sepasang paruh baya itu untuk pergi mencari orang tua Asri. Namun urung ku lakukan. Aku ingin segera bisa bicara empat mata dengan Syarief. Setelah meminta izin pada ibu dan Bapak, bergegas ku hampiri Syarief yang masih terpaku memandangi Asri yang masih terbaring.
“Assalamu’alaikum”, sapaku.
“Wa’alaikum salam.”, Syarief menjawab serta menatapku heran. Ia melihat lekat wajahku, seolah ingin memastikan bahwa ia pernah mengenalku sebelumnya.
“Saya Kelana, ini kali pertama kita bertemu.”, jawabku tegas.
“Oh, saya Syarief, Bang.”, jawabnya seraya mengulurkan tangan berselang infus.
Ku jabat perlahan tangan itu sambil menata hati dan kata agar jangan sampai keluar sikap kasarku padanya.
“Jadi, abang ini Kelana yang dua bulan lagi akan melamar dan menikahi Asri ?”, dia melanjutkan dengan suara yang dibuat tegar.
Hmm, jadi Asri sudah menceritakan rencana kami.
“Rencananya begitu sebelum kamu hadir.”, jawabku seraya tajam menusuk dua bola matanya. Dua mata itu membulat, meraba maksud perkataanku barusan.
“Maksudnya, Bang ?”

“Syarief, kita harus bicara. Serius. Kamu lihat di bangku sana? Ada Ibu dan Bapaknya Asri, aku tidak ingin pembicaraan kita memperkeruh suasana. Kondisimu juga masih perlu perawatan. Sekarang kamu temui Ibu dan Bapak, minta maaf pada mereka. Tapi sebelumnya hubungi orang tuamu agar tidak usah pergi ke rumah Asri.”, begitu saja lisanku menderas memberikan instruksi yang langsung dilakukan oleh Syarief. *)

Jumat, 11 Oktober 2019

SEJATI CINTA (2)

Perlahan kami beranjak meninggalkan taman yang kian ramai pengunjung. Semburat jingga mulai hadir di langit. Awan kelabu berarak melukis nuansa sendu, seolah mewakili hatiku. Syarief menghentikan langkah di sisi mobil silver yang tampak gagah dan terawat.  Lembut ia membukakan pintu mobil dan mempersilakanku. Aku hanya memandang dan membuka sendiri pintu tengah.
“Loh, ko di belakang duduknya?”
“Kalau ga boleh, aku pulang sendiri aja.”
“Oke Tuan Puteri”, jawabnya sigap dengan seulas senyum getir.
 Sepanjang perjalanan aku hanya menikmati alunan murottal yang diputar Syarief. Ia terpaksa bertahan dalam hening setelah usahanya mengajak bicara kandas. Beberapa kali ku dapati ia mencuri pandang melalui spion.
“Lihat jalan, jaga pandangan”, terpaksa aku menegurnya setelah beberapa kali ia nyaris menyeruduk trotoar.
“Iya, maaf Tuan Puteri”, jawabnya lembut.
“Namaku Asri, bukan Tuan Puteri.”
“Kalau Asri duduknya di depan, bukan di belakang.”
“Terserahlah. Sedikit lagi kita sampai, pastikan aman dan selamat sampai tujuan.”
“InsyaAllah tuan puteri. Saya lapar Tuan Puteri, bisakah menepi untuk makan sebentar?”
“Modus. Jalan terus atau saya pulang sendiri.”
“Wah gagal saya. Tuan Puteri masih galak seperti dulu ya.”  
Ku biarkan saja Syarief berceloteh seoramng diri. Buatku yang terpenting aku bisa segera tiba dan istirahat untuk melepas penat hari ini. Awan kelabu kian memekat, memenjara sang surya yang sebentar lagi akan tenggelam. Ku lepaskan pandang menyusuri trotoar yang kini tampak kian rapi tertata, memanjakan para pejalan kaki. Tetiba dari spion aku lihat sebuah mobil berwarna putih tampak melaju sangat kencang. Sepertinya Syarief tidak menyadarinya.
“Rief … kamu lihat mobil putih itu. Sepertinya ada yang tidak beres. Lajunya sangat kencang dan tampak oleng.”
“Astaghfirullah. Kamu benar, Sri. Mobil itu bisa membahayakan kita. Mana di depan padat sekali, aku tidak bisa menghindar kalau mobil itu tetap melaju begitu.”
“Rief, Astaghfirullah…Aaaaa”
Brug.
Aku hanya mampu mendengar sirine di kejauhan. Seketika semua menjadi gelap. Tak mampu merasa kecuali sakit yang teramat. Ah, mungkinkah aku sudah mati?

  ***

“Aku minta maaf, Sri. Aku tidak bisa melepasmu lagi. Aku akan memperbaiki kesalahanku di masa lalu, aku akan memperjuangkanmu. Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan, iya, kan ? Sri, jangan tipu dirimu. Izinkan aku, tolong izinkan aku bahagia bersamamu. Aku yakin kita akan bahagia bersama, seperti dulu.”
Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan, iya, kan ?
Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan.
Apa benar Asri hanya merasa sungkan padaku ?
Benarkah ia tidak bahagia bersamaku ?
Benarkah ?
Jarum pendek arlojiku menunjuk angka 6. Sudah lebih empat puluh menit aku terduduk di sini. Merenungi apa yang baru saja ku dengar dan saksikan.
Pria berkotak merah itu, siapa dia ? Sorot matanya kuat berkata bahwa ia sangat mencinta Asri. Aku harus bertemu dengannya. Tapi bagaimana ?
Asri. Seharusnya dia sudah tiba di rumah saat ini. Aku akan menuju ke rumahnya sekarang.

            ***

“Loh, nak Lana sendiri aja? Asrinya mana?”, tanya ibu padaku.
“Asri belum sampai rumah, Bu ? Tadi saya tidak jemput Asri. Katanya dia mau ada pertemuan dengan kawan SMAnya dulu.”
“Oh iya, tadi ada izin sama ibu. Pulang kerja mau ketemu Syarief katanya, tapi Asri bilang sebentar saja. Maghrib insyaAllah sudah di rumah.”
Oh, jadi pria itu bernama Syarief, gumamku dalam hati.
 “Sekarang sudah lepas Isya, Asri belum ada kabar.” Suara ibu terdengar mulai panik.
“Saya coba hubungi Asri ya, bu. Sebentar, ibu tenang dulu ya.”
Tut Tut Tut
Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif
“Sepertinya Handphone Asri tidak bisa dihubungi, mungkin lowbat, Bu. Apa ibu punya nomor Syarief yang bisa dihubungi?”
“Tidak ada, Nak.” Mendung mulai menggelayuti wajah itu.
“Ibu yang tenang, saya akan mencarinya, bu. Saya pamit dulu. Assalamu ‘alaikum.”
            Bersyukur hari ini aku bawa kesayanganku sehingga mudah dan lincah, terbebas dari kemacetan. Dua kali menyusuri jalan menuju taman juga tempat Asri bekerja. Nihil. Tidak ada Asri di sana.
Apa yang harus aku lakukan ?
Mau mencari kemana, hubungi siapa ?
Ku lirik arlojiku. Sepuluh menit sudah lewat jam Sembilan. Ya Allah, aku harus sholat Isya dulu.
            Dingin air wudhu membasuh wajahku. Segar rasanya. urat dan syaraf yang sejak tadi terasa kencang kini mulai mengendur seiring basuhan air wudhu. Inilah saat – saat yang sangat aku nikmati, Bismillah.
Lepas sholat aku sempatkan beristirahat sejenak, duduk di selasar Masjid. Menatap kendaraan lalu lalang di jalan seraya melangitkan doa,  semoga aku bisa menemukan Asri.
Sayup terdengar pembicaraan marbot masjid tentang peristiwa tabrakan sore tadi. Ada tiga orang korbannya, satu tewas di lokasi, dua lagi dibawa ke rumah sakit terdekat, satu di antaranya perempuan berhijab, pingsan saat dikeluarkan dari mobil yang ditumpanginya.
            Dengan Serta merta aku hampiri pak marbot dan menyela pembicaraannya.
“Maaf, pak, apakah bapak menyaksikan langsung peristiwa tadi?”
“Iya, bang. Tadi saya mau siap Maghriban.”
“Apa bapak melihat wajah para korban?”
“Iya, terutama yang perempuan. Saya lihat betul bagaimana dia dikeluarkan dari mobilnya dan dimasukkan ke dalam ambulance.”
Segera ku buka HP dan mencari gambar Asri.
“Apakah seperti ini wajahnya, pak?”, tanyaku berharap, semoga bukan pintaku.
“Bener, bang. Ini dia orangnya…”
            Astaghfirullah. Lututku terasa lepas dari tempatnya. Jantungku berderap sangat cepat. Asri.

Setelah mengucapkan terima kasih atas keterangan pak Marbot yang aku lupa menanyakan siapa namanya, segera ku pacu roda dua menuju rumah sakit yang disebut. Ya, Allah, semoga tidak terjadi sesuatu yang serius dengan Asri. Syarief, kalau sampai ini semua karena salahmu, aku akan menghajarmu!