SAHABATKU
JODOHKU
“Apa,Wir ? Coba ulang apa yang
kamu katakan tadi.”
Gadis berkaca mata itu menatapku, menunggu jawaban.
“Wira…” kembali ia memanggil.
“Iya aku cemburu. Cem… bu… ru… ce e ce em b u bu er u. Cemburu. Puas ?”,
jawabku masih membalas tatapnya.
“Ish yang bener aja. Masa kamu cemburu sama Suma. Dia
kan Cuma tanya aja sama aku. Lagian kita kan sahabatan dari es de, masa iya
pake cemburuan segala sih, Wir? …”
Ku
alihkan pandang sejenak, lalu kembali menatap gadis yang masih bertahan dengan
segenap argumentasinya.
“Kamu itu ga peka, Ra. Ga pernah peka. Aku juga ga
ngerti ya kamu itu pura – pura ga tahu apa emang beneran ga peka, ya?”
“Tunggu tunggu tunggu. Ini maksudnya gimana sih ?”
Gadis berkaca mata itu mencoba mencerna apa yang baru saja ku katakan.
Diajaknya aku untuk duduk di bawah pohon untuk melanjutkan penjelasan.
“Tenang, bro. Kalem. Kamu jangan ngegas dong,
jelaskan pelan pelan ya.” pintanya sambil menyunggingkan sebuah senyum yang
selalu indah buatku.
“Ra”,
sapaku sambil berusaha melambatkan laju jantung serta nafas yang memburu.
“Iyes”, masih dengan senyum di bibirnya.
“Iya kita sahabatan dari es de sampai sekarang
kuliah. Tapi masa sih kamu ga pernah tahu perasaanku ?”
Rara, gadis berkaca mata yang super cuek itu
merapikan kacamatanya yang tidak berantakan.
“Tapi emang kamu itu ga peka sih.”
Aku
sebutkan tentang beberapa cowok yang hilir mudik cari perhatian dan tebar
pesona pada Rara. Ada Herman yang rajin bawain sarapan buat Rara. Amran yang
selalu pinjam buku catatan Rara. ada Andro, kaka kelas yang super duper caper.
Datang ke acara jurusan Cuma buat bilang, “Saya sudah tahu Rara akan jadi
peserta terbaik maka saya hadir untuk menyaksikan penobatannya.” Ada juga Agus
yang ga pernah absen nelponin Rara tiap hari. Ian, Eman, Heru, Bayu, … o em ji
banyaknya.
“Ya ampun Wira, gitu aja diambil
hati. Itu mah biasa aja kali. Oh iya kamu belum sebut Yahya, dia rajin puji
baju apa aja yang aku pakai dia akan bilang : ’cantiknya’”, ringan dia menjawab
tanpa memerdulikan segores luka hadir di hati.
Rara. Aku mengenalnya sejak kelas
5 SD. Saat itu aku baru pindah dari Sumatera. Ayah pindah tugas ke Jakarta dan
membawa seluruh keluarga ikut serta. Sebagai pendatang, tentu saja aku perlu
banyak informasi dari teman yang bisa diandalkan, dan Rara orangnya. Bukan hanya sekelas, rumah kami hanya berjarak
beberapa blok saja.
Masih teringat, saat kelas 5 Rara
menjadi ketua kelas. Dia sangat melindungiku dari godaan teman – teman lelaki juga
perempuan, maklum lah wajahku sejak kecil sudah sangat imut dan menggemaskan,
mirip Syahrul Gunawan yang baby face itu lah kurang lebih (ups). Yang
menggembirakan adalah saat wali kelas 6 menjodohkan aku dengan Rara, tapi dia
cuek aja.
Rara itu juara kelas, kecerdasanku
hanya bisa menyainginya di peringkat tiga, padahal di Sumatera sana, aku yang
terbaik di kelas. Tapi tenang saja, di SMP prestasi kami seimbang. Sesekali aku
menang, banyak kali Rara yang menang, hehehe. Setiap kelulusan, aku berharap
bisa terus satu sekolah dengan Rara, dan taraaa bahkan sampai kuliah aku juga
satu kampus sama dia. Cuma beda jurusan. Aku ambil ilmu murni, dia ambil ilmu
kependidikan.
“Wir… hey Wira, ngelamun
sih.” Tetiba Rara membuyarkan lamunanku.
“Eh, oh, iya, sampai mana tadi ?”
“Cemburu”
“Iya, aku cemburu. Aku memiliki perasaan yang lebih
dari sekedar sahabat.” Kembali ku tatap wajahnya, mencoba mencari apa jawabnya.
“Maksud kamu…” hanya mata yang bicara, seolah kata
tertahan di kelunya lisan.
“Maksud aku, aku cinta kamu. Dan aku ingin kamu
menjadi pendampingku, menjadi ibu dari anak- aanakku kelak.” Entah keberanian
dari mana yang hadir, hingga aku bisa mengucap dengan lancar tentang rasa yang sekian
lama terpendam.
Rara
menghempas tubuhnya ke batang pohon yang daunnya melindungi kami sedari tadi.
Hanya diam tanpa kata.
“So, Ra, will you?”
“Emangnya kamu mau punya istri kekanakan kaya aku ?”,
jawabnya dengan masih menatap hijau rerumputan.
“Ga bisa masak, ga bisa nyuci, hobinya berantakin
rumah, bawel, urakan, cuek, ga bisa dandan, ga…”
Dia hentikan ucapannya tepat saat sekepal rumput yang
aku lempar mendarat di bahunya.
“Woy, gue ga nyari pembokat. Aku tuh ngajak kamu jadi
istriku, aku ga lagi nyari asiten rumah tangga…”
Tak ada kata,
hanya tatapan.
“Pulang ah, dah sore. Kayanya loe kesambet.”
“Ra,
kamu boleh anggap aku ga serius. Tapi aku serius. Akhir pekan aku akan datang
menghadap orang tuamu, tapi kalau kamu bilang yes sekarang, aku akan langsung
datang bersama orang tuaku untuk melamarmu. Ra … Rara…!”
Penjelasanku yang lebih mirip sales promotion itu tak
mampu menghentikan langkah Rara. Begitu tiba di parkiran, begitu saja ia
hinggap di matic kesayangannya dan meluncur bagai pesawat tempur.
Ah, Rara.
***
[P] Rara …
[Kamu dah sadar lom, Wir ? Apa masih kesambet?]
Ya, ampun dia masih kira semua perasaanku hanya
bercanda.
Ada dua hal
yang serius dan bercandanya dihitung serius, harusnya kamu yang dah gabung
halaqoh di masjid tahu itu
Beberapa menit berlalu, taka da jawaban dari Rara.
Mataku tak bisa beralih dari ponsel dalam genggaman,
berharap ada balasan dari Rara. Putaran jarum jam terasa sangat lambat, hanya
degup dalam dada yang terasa kian melompat.
Satu jam berlalu.
Tuuut…
“Ya, Wir”, suara Rara di ujung telepon.
“Assalamu’alaikum, Ra.”
“Wa’alaikum salam.”
“Ra, aku ga kesambet. Aku sadar pake banget.”
“Ini, ko bisa jadi gini sih, Wir?”
“Bisa, Ra. Namanya juga perasaan, ga bisa dicegah.”
“Ga masuk akal.”
“Ya, emang begitu, seperti katamu, ga masuk akal.”
“Aneh”
“Emang iya.”
Hening.
“Ra, ngomong dong, jangan diam aja. Apakah kamu punya
perasaan yang sama denganku?”
“Aku harus jawab apa, Wir? Kalau jawab nggak kamu
pasti kecewa, kalau jawab iya aku juga ga tahu. Aku ragu dengan apa yang selama
ini aku rasakan …”
“Jujur aja dengan perasaanmu, Ra. Aku siap ko
sekalipun jawaban kamu nggak.”
“Hmmm. Apa yang buat kamu suka padaku ?”
“Suka??? Bukan suka, tapi cinta, Ra. Kamu itu lucu,
smart, gemesin meski sering jengkelin. Aku tanpamu bagai sayur tanpa garam.
Bagai malam tanpa gemintang. Laksana kemarau yang merindu hujan, aku …”
“Gombal”
“Tapi suka kan, hehehe”
“Sok tahu…”
“Ya udah, terima ya… biar akhir pekan ini aku bisa
lamar kamu.”
“Secepat itukah?”
“Iya. Nanti kamu berubah pikiran. Atau keburu ada
yang datang melamar, gimana, hayo.”
“Aku mau istikharah dulu. Kamu juga ya.”
“Siap tuan putri…”
“Eits … no gombal. Assalamu’alaikum.”
Ku bawa ponsel dalam pelukan.
Sujud syukur, meski Rara belum pasti akan menerima lamaranku. Tapi atas apa
yang ku rasa saat ini, sepertinya aku perlu mengungkapkannnya dalam sujud
kesyukuran.
“Ya, Allah semoga dia adalah jodohku. Aamiin.”