Rabu, 16 Oktober 2019

SEJATI CINTA (5)

Detak jam dinding membersamaiku di ruang bernuansa merah jambu, warna favorit Asri. Ku pandang lekat wajah di hadapanku. Belasan tahun berbilang membuat wajah itu semakin ayu. Garis wajah yang tegas tidak mampu menyembunyikan kekanakanmu, Sri, gumamku.
“Tuh kaan tutup pulpen aku hilang, kamu sih.”, kamu merajuk, dua bibirmu mengerucut.
“Besok – besok beli sendiri, ga usah pinjam lagi.”
            Ah, layar itu terkembang lagi. Memutar episode demi episode saat aku mulai mengenalmu. Akrab dan semakin dekat.
“Sri, pulang sekolah ada waktu ga?”
“Ada. Kenapa? Ada rapat OSIS ya?”
“Nggak. Aku mau curhat.”
“Oh, oke, di kelas aja ya ntar pulang sekolah.”  
Sri, andai kamu tahu. Apa yang ku keluhkan padamu kala itu hanya karanganku saja. Bahwa sebenarnya aku sedang menahan dirimu untuk terus bersamaku. Bahwa sebenarnya cerita yang aku sampaikan itu adalah perasaanku sesungguhnya padamu. Kasus – kasus juga nama – nama yang aku sebut itu hanya rekaan, supaya aku tahu bagaimana reaksimu
Sri, aku sempat kesal sama kamu. Sejak kamu putuskan untuk memakai kerudung itu, kamu jadi tidak mau bersentuhan lagi, bukan mahrom katamu. Padahal aku sangat ingin menyentuhmu untuk menyampaikan perasaan yang tak terucap. Saat bicara pun kamu sudah tidak menatap lagi. Beruntung sekali jajaran ubin atau langit – langit kelas berhias debu mendapat perhatian dan tatapanmu. Kurang tampankah aku, pikirku kala itu.
Tapi kini aku bersyukur dan berterima kasih padamu. Kamu berjasa mendekatkan aku pada Islam. Kamu ga pernah lelah menjawab tanya dan mengingatkanku untuk sholat, mengaji, jaga pandangan. Seringkali kamu itu lebih cerewet dari kakak – kakakku. Hehehe.
Kamu tahu Sri, aku sering menelponmu menanyakan ini dan itu terkait pelaksanaan program dan lainnya.Itu sebenarnya hanyalah caraku untuk bisa mendengar suaramu. Aku rindu. Apalagi saat kamu memarahi aku, ngangenin.
Oh iya, kamu masih ingat kan kalau kamu sering banget marahin aku.
“Kalau ga mau jadi pusat perhatian tuh ya ga usah tebar pesona! Jangan mau dikasih hadiah sama member SFC. Terus itu surat – surat mereka coba dibalas, jangan digantung, PHP!”, Serumu setengah berteriak seraya menghempaskan beberapa amplop berwarna biru muda dan pink serta beberapa kotak coklat.
“Kamu tahu ga sih, ngeliat kamu aja udah bikin cewe – cewe itu baper, sampaikan dong sikapmu dengan tegas. Atau jangan – jangan kamu menikmati semuanya, iya kan ? Ngaku…”, kejarmu tanpa jeda.
Aku hanya bisa mengiyakan dan menikmati setiap kata yang kamu lontarkan. Di saat semua orang terasa begitu mengistimewakan aku, tapi kamu bisa menganggap aku biasa saja, bukan apa – apa. Kamu begitu leluasa untuk mengkritik, mencanda bahkan memarahi aku. Itu yang aku suka, Sri. Kamu membangkitkan semangatku untuk mengejar, bukan dikejar. Katamu waktu itu, lelaki adalah pemburu alami dan kamu tidak pernah mau jadi buruan liar mereka. Kamu masih ingat itu, Sri?
Sri, aku tidak akan lelah untuk terus bercerita di sampingmu, seperti saat ini. Sebulan sudah janji suci itu ku ucapkan di hadapan kedua orang tuamu. Kita menikah di ruang ini. Ruang yang sengaja aku siapkan sesuai arahan dokter. Dengan beragam pertimbangan, akhirnya paramedis mengizinkan perawatanmu dilakukan di rumah, agar kedua orang tuamu bisa turut membersamai, melewati detik demi detik bersamamu. Hari ini, beberapa bulan sudah musibah itu berlalu, namun kau masih belum sadarkan diri. Sri, aku takkan lelah. Aku percaya suatu saat nanti kan ku lihat lagi binar indah di matamu.
Tak terasa jarum jam kini telah menunjuk pukul 22.00. Kantuk mulai menyergap, ku rebahkan kepala di atas pembaringan, di sisimu. Jemariku erat menggenggam jemarimu. Selamat tidur, Sri. Kalau aku tertidur nanti, bangunkan untuk tahajud ya, aku yakin suatu saat nanti kita akan bisa melakukan sholat bersama. I love you Sweety.
“Ya Allah izinkan hamba mengimaminya”, pintaku dalam hati.
Samar terasa gerak lembut di jemari. Kelopak mataku enggan digerakkan, berat rasanya untuk sekedar membuatnya terbuka sesaat. Ku lihat dinding, jam 03.30. Kembali aku merasakan gerak lembut yang sangat lemah, perlahan mengusap punggung tangan. Segera ku alihkan pandang.
“Demi Allah, Sri, kamu bisa menggerakkan tangan?”, aku terkaget, ada rasa bahagia menyelinap, hangat memenuhi dada. Ku raih jemari itu dalam peluk.
“Sri, terima kasih kamu sudah membangunkan aku. Kita sholat tahajud ya”, perlahan ku berbisik di telinganya, penuh haru.
Aku terhanyut dalam untaian doa dan munajat. Rasa syukur panjang terlantunkan. Setiap bacaan dan gerakan terasa sangat syahdu dan menghanyutkan. Sepertinya tahajud malam ini paling nikmat terasa, enggan untuk menyudahinya dengan segera. Lepas sholat, ku raih mushaf untuk kemudian membacanya disisi Asri, seperti biasa.
Rupanya kejutan dari Allah terus berlanjut. Ba’da Shubuh, saat aku ingin menunjukkan pada ibu dan bapak perihal perkembangan Asri, nyatanya Asri telah bisa membuka matanya. Masya Allah.
Ibu dan Bapak menangis haru. Seketika ibu memeluk Asri, lisannya tak lepas memuji Allah. Pun dengan Bapak yang hanya bisa menyaksikan semua dari kursi roda. Sementara aku, terhanyut dalam sujud kesyukuran.
“Alhamdulillah, Ya, Allah…”, bisikku lirih.
            Perawat yang membantu menjaga Asri segera menghubungi Rumah Sakit untuk mengabarkan perkembangan Asri. Beberapa jam kemudian tim paramedis tiba di rumah untuk melakukan pemeriksaan. Kata dokter, jika kondisi Asri terus membaik dalam sepekan ini, bisa dipastikan ia akan pulih seperti sedia kala.
“Insya Allah”, batinku menimpali.
            Hatiku kini seperti musim semi. Indah semerbak ditumbuhi aneka bunga. Asri terus menunjukkan perkembangan positif dari hari ke hari. Sepertinya, ia mendengar semua yang ku ceritakan saat koma. Ia tidak menolak saat ku sentuh, mungkin ia mengerti bahwa saat ini aku adalah suaminya bukan sekedar Syarief yang hanya teman SMAnya. Komunikasi bisa dilakukan melalui kedip mata dan sentuhan jemari. Itu saja sudah membuat kami, aku terutama, merasa sangat bahagia. Setelah enam purnama, akhirnya bisa juga ku pandangi binar itu.
            Pagi itu, kami tengah sibuk untuk menyiapkan acara syukuran, mengundang ibu – ibu pengajian di sekitar rumah juga beberapa orang janda dan anak yatim untuk bersama – sama mendoakan kesembuhan Asri. Suasana tampak riang, aura bahagia menghinggapi setiap hati di sini. Seperti biasa tim paramedis datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.
“Dok, perhatikan monitor, tekanan darah dan detak jantung pasien terlihat melemah.”, seru perawat berhati – hati.
Sejurus kemudian mereka tampak serius memerhatikan kondisi Asri, memeriksa aneka selang yang menempel di tubuhnya.
“Pak Syarief”, dokter menyapaku.
“Ada tanda tidak baik. Sepertinya istri Anda tidak akan bertahan. Mohon ditalkinkan syahadat di telinganya. Ibu Bapak, mohon bersabar, serahkan semua pada Allah. Yang kuat ya, Pak, Bu. Pak Syarief, saya yakin Anda tegar untuk melalui ini.”
            Demi Allah. Astaghfirullah. Apa yang baru saja ku dengar terasa bagai besi baja yang keras menghantam kepalaku. Sakit. Terasa kosong. Air mata, nafas dan detak jantung berlomba menderu. Tertatih ku dekati juwitaku. Ku kecup keningnya dan ku bisikkan asma Allah di telinganya. Matanya, aku tidak sanggup menatap. Ia seolah berkata terima kasih untuk setia.
Ibu terisak seraya memeluknya erat. Sementara Bapak menangis tergugu.
            Detak jantung Asri tampak kian lemah di monitor.

“Asri, aku ikhlas. Aku ridho. Allah akan memberi tempat terbaik untukmu, tempat yang indah, tempat kita akan bersama kelak. Di jannahNya. InsyaAllah.”, tangisku pecah. Air mataku jatuh tepat di pipinya. Ya Allah, ikhlaskan hamba. ***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar