SEJATI
CINTA (5)
Detak jam dinding
membersamaiku di ruang bernuansa merah jambu, warna favorit Asri. Ku pandang
lekat wajah di hadapanku. Belasan tahun berbilang membuat wajah itu semakin
ayu. Garis wajah yang tegas tidak mampu menyembunyikan kekanakanmu, Sri,
gumamku.
“Tuh kaan tutup pulpen aku hilang, kamu sih.”,
kamu merajuk, dua bibirmu mengerucut.
“Besok – besok beli sendiri, ga usah pinjam
lagi.”
Ah,
layar itu terkembang lagi. Memutar episode demi episode saat aku mulai mengenalmu.
Akrab dan semakin dekat.
“Sri, pulang sekolah ada waktu ga?”
“Ada. Kenapa? Ada rapat OSIS ya?”
“Nggak. Aku mau curhat.”
“Oh, oke, di kelas aja ya ntar pulang
sekolah.”
Sri, andai kamu tahu. Apa
yang ku keluhkan padamu kala itu hanya karanganku saja. Bahwa sebenarnya aku
sedang menahan dirimu untuk terus bersamaku. Bahwa sebenarnya cerita yang aku
sampaikan itu adalah perasaanku sesungguhnya padamu. Kasus – kasus juga nama –
nama yang aku sebut itu hanya rekaan, supaya aku tahu bagaimana reaksimu
Sri, aku sempat kesal sama
kamu. Sejak kamu putuskan untuk memakai kerudung itu, kamu jadi tidak mau
bersentuhan lagi, bukan mahrom katamu. Padahal aku sangat ingin menyentuhmu
untuk menyampaikan perasaan yang tak terucap. Saat bicara pun kamu sudah tidak
menatap lagi. Beruntung sekali jajaran ubin atau langit – langit kelas berhias
debu mendapat perhatian dan tatapanmu. Kurang tampankah aku, pikirku kala itu.
Tapi kini aku bersyukur dan berterima kasih
padamu. Kamu berjasa mendekatkan aku pada Islam. Kamu ga pernah lelah menjawab tanya
dan mengingatkanku untuk sholat, mengaji, jaga pandangan. Seringkali kamu itu
lebih cerewet dari kakak – kakakku. Hehehe.
Kamu tahu Sri, aku sering
menelponmu menanyakan ini dan itu terkait pelaksanaan program dan lainnya.Itu
sebenarnya hanyalah caraku untuk bisa mendengar suaramu. Aku rindu. Apalagi
saat kamu memarahi aku, ngangenin.
Oh iya, kamu masih ingat kan kalau kamu
sering banget marahin aku.
“Kalau ga mau jadi pusat perhatian tuh ya ga
usah tebar pesona! Jangan mau dikasih hadiah sama member SFC. Terus itu surat –
surat mereka coba dibalas, jangan digantung, PHP!”, Serumu setengah berteriak
seraya menghempaskan beberapa amplop berwarna biru muda dan pink serta beberapa
kotak coklat.
“Kamu tahu ga sih, ngeliat kamu aja udah
bikin cewe – cewe itu baper, sampaikan dong sikapmu dengan tegas. Atau jangan –
jangan kamu menikmati semuanya, iya kan ? Ngaku…”, kejarmu tanpa jeda.
Aku hanya bisa mengiyakan
dan menikmati setiap kata yang kamu lontarkan. Di saat semua orang terasa
begitu mengistimewakan aku, tapi kamu bisa menganggap aku biasa saja, bukan apa
– apa. Kamu begitu leluasa untuk mengkritik, mencanda bahkan memarahi aku. Itu
yang aku suka, Sri. Kamu membangkitkan semangatku untuk mengejar, bukan
dikejar. Katamu waktu itu, lelaki adalah pemburu alami dan kamu tidak pernah
mau jadi buruan liar mereka. Kamu masih ingat itu, Sri?
Sri, aku tidak akan lelah
untuk terus bercerita di sampingmu, seperti saat ini. Sebulan sudah janji suci
itu ku ucapkan di hadapan kedua orang tuamu. Kita menikah di ruang ini. Ruang
yang sengaja aku siapkan sesuai arahan dokter. Dengan beragam pertimbangan, akhirnya
paramedis mengizinkan perawatanmu dilakukan di rumah, agar kedua orang tuamu
bisa turut membersamai, melewati detik demi detik bersamamu. Hari ini, beberapa
bulan sudah musibah itu berlalu, namun kau masih belum sadarkan diri. Sri, aku
takkan lelah. Aku percaya suatu saat nanti kan ku lihat lagi binar indah di
matamu.
Tak terasa jarum jam kini
telah menunjuk pukul 22.00. Kantuk mulai menyergap, ku rebahkan kepala di atas
pembaringan, di sisimu. Jemariku erat menggenggam jemarimu. Selamat tidur, Sri.
Kalau aku tertidur nanti, bangunkan untuk tahajud ya, aku yakin suatu saat nanti
kita akan bisa melakukan sholat bersama. I love you Sweety.
“Ya Allah izinkan hamba mengimaminya”,
pintaku dalam hati.
Samar terasa gerak lembut di
jemari. Kelopak mataku enggan digerakkan, berat rasanya untuk sekedar
membuatnya terbuka sesaat. Ku lihat dinding, jam 03.30. Kembali aku merasakan
gerak lembut yang sangat lemah, perlahan mengusap punggung tangan. Segera ku
alihkan pandang.
“Demi Allah, Sri, kamu bisa menggerakkan
tangan?”, aku terkaget, ada rasa bahagia menyelinap, hangat memenuhi dada. Ku
raih jemari itu dalam peluk.
“Sri, terima kasih kamu sudah membangunkan
aku. Kita sholat tahajud ya”, perlahan ku berbisik di telinganya, penuh haru.
Aku terhanyut dalam untaian
doa dan munajat. Rasa syukur panjang terlantunkan. Setiap bacaan dan gerakan
terasa sangat syahdu dan menghanyutkan. Sepertinya tahajud malam ini paling
nikmat terasa, enggan untuk menyudahinya dengan segera. Lepas sholat, ku raih mushaf
untuk kemudian membacanya disisi Asri, seperti biasa.
Rupanya kejutan dari Allah
terus berlanjut. Ba’da Shubuh, saat aku ingin menunjukkan pada ibu dan bapak
perihal perkembangan Asri, nyatanya Asri telah bisa membuka matanya. Masya Allah.
Ibu dan Bapak menangis haru. Seketika ibu
memeluk Asri, lisannya tak lepas memuji Allah. Pun dengan Bapak yang hanya bisa
menyaksikan semua dari kursi roda. Sementara aku, terhanyut dalam sujud
kesyukuran.
“Alhamdulillah, Ya, Allah…”, bisikku lirih.
Perawat
yang membantu menjaga Asri segera menghubungi Rumah Sakit untuk mengabarkan
perkembangan Asri. Beberapa jam kemudian tim paramedis tiba di rumah untuk
melakukan pemeriksaan. Kata dokter, jika kondisi Asri terus membaik dalam
sepekan ini, bisa dipastikan ia akan pulih seperti sedia kala.
“Insya Allah”, batinku menimpali.
Hatiku
kini seperti musim semi. Indah semerbak ditumbuhi aneka bunga. Asri terus
menunjukkan perkembangan positif dari hari ke hari. Sepertinya, ia mendengar
semua yang ku ceritakan saat koma. Ia tidak menolak saat ku sentuh, mungkin ia
mengerti bahwa saat ini aku adalah suaminya bukan sekedar Syarief yang hanya
teman SMAnya. Komunikasi bisa dilakukan melalui kedip mata dan sentuhan jemari.
Itu saja sudah membuat kami, aku terutama, merasa sangat bahagia. Setelah enam
purnama, akhirnya bisa juga ku pandangi binar itu.
Pagi
itu, kami tengah sibuk untuk menyiapkan acara syukuran, mengundang ibu – ibu pengajian
di sekitar rumah juga beberapa orang janda dan anak yatim untuk bersama – sama mendoakan
kesembuhan Asri. Suasana tampak riang, aura bahagia menghinggapi setiap hati di
sini. Seperti biasa tim paramedis datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.
“Dok, perhatikan monitor, tekanan darah dan
detak jantung pasien terlihat melemah.”, seru perawat berhati – hati.
Sejurus kemudian mereka tampak serius
memerhatikan kondisi Asri, memeriksa aneka selang yang menempel di tubuhnya.
“Pak Syarief”, dokter menyapaku.
“Ada tanda tidak baik. Sepertinya istri Anda
tidak akan bertahan. Mohon ditalkinkan syahadat di telinganya. Ibu Bapak, mohon
bersabar, serahkan semua pada Allah. Yang kuat ya, Pak, Bu. Pak Syarief, saya
yakin Anda tegar untuk melalui ini.”
Demi
Allah. Astaghfirullah. Apa yang baru saja ku dengar terasa bagai besi baja yang
keras menghantam kepalaku. Sakit. Terasa kosong. Air mata, nafas dan detak
jantung berlomba menderu. Tertatih ku dekati juwitaku. Ku kecup keningnya dan
ku bisikkan asma Allah di telinganya. Matanya, aku tidak sanggup menatap. Ia
seolah berkata terima kasih untuk setia.
Ibu terisak seraya memeluknya erat. Sementara
Bapak menangis tergugu.
Detak
jantung Asri tampak kian lemah di monitor.
“Asri, aku ikhlas. Aku ridho. Allah akan
memberi tempat terbaik untukmu, tempat yang indah, tempat kita akan bersama
kelak. Di jannahNya. InsyaAllah.”, tangisku pecah. Air mataku jatuh tepat di
pipinya. Ya Allah, ikhlaskan hamba. ***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar