Jumat, 11 Oktober 2019

SEJATI CINTA (2)

Perlahan kami beranjak meninggalkan taman yang kian ramai pengunjung. Semburat jingga mulai hadir di langit. Awan kelabu berarak melukis nuansa sendu, seolah mewakili hatiku. Syarief menghentikan langkah di sisi mobil silver yang tampak gagah dan terawat.  Lembut ia membukakan pintu mobil dan mempersilakanku. Aku hanya memandang dan membuka sendiri pintu tengah.
“Loh, ko di belakang duduknya?”
“Kalau ga boleh, aku pulang sendiri aja.”
“Oke Tuan Puteri”, jawabnya sigap dengan seulas senyum getir.
 Sepanjang perjalanan aku hanya menikmati alunan murottal yang diputar Syarief. Ia terpaksa bertahan dalam hening setelah usahanya mengajak bicara kandas. Beberapa kali ku dapati ia mencuri pandang melalui spion.
“Lihat jalan, jaga pandangan”, terpaksa aku menegurnya setelah beberapa kali ia nyaris menyeruduk trotoar.
“Iya, maaf Tuan Puteri”, jawabnya lembut.
“Namaku Asri, bukan Tuan Puteri.”
“Kalau Asri duduknya di depan, bukan di belakang.”
“Terserahlah. Sedikit lagi kita sampai, pastikan aman dan selamat sampai tujuan.”
“InsyaAllah tuan puteri. Saya lapar Tuan Puteri, bisakah menepi untuk makan sebentar?”
“Modus. Jalan terus atau saya pulang sendiri.”
“Wah gagal saya. Tuan Puteri masih galak seperti dulu ya.”  
Ku biarkan saja Syarief berceloteh seoramng diri. Buatku yang terpenting aku bisa segera tiba dan istirahat untuk melepas penat hari ini. Awan kelabu kian memekat, memenjara sang surya yang sebentar lagi akan tenggelam. Ku lepaskan pandang menyusuri trotoar yang kini tampak kian rapi tertata, memanjakan para pejalan kaki. Tetiba dari spion aku lihat sebuah mobil berwarna putih tampak melaju sangat kencang. Sepertinya Syarief tidak menyadarinya.
“Rief … kamu lihat mobil putih itu. Sepertinya ada yang tidak beres. Lajunya sangat kencang dan tampak oleng.”
“Astaghfirullah. Kamu benar, Sri. Mobil itu bisa membahayakan kita. Mana di depan padat sekali, aku tidak bisa menghindar kalau mobil itu tetap melaju begitu.”
“Rief, Astaghfirullah…Aaaaa”
Brug.
Aku hanya mampu mendengar sirine di kejauhan. Seketika semua menjadi gelap. Tak mampu merasa kecuali sakit yang teramat. Ah, mungkinkah aku sudah mati?

  ***

“Aku minta maaf, Sri. Aku tidak bisa melepasmu lagi. Aku akan memperbaiki kesalahanku di masa lalu, aku akan memperjuangkanmu. Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan, iya, kan ? Sri, jangan tipu dirimu. Izinkan aku, tolong izinkan aku bahagia bersamamu. Aku yakin kita akan bahagia bersama, seperti dulu.”
Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan, iya, kan ?
Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan.
Apa benar Asri hanya merasa sungkan padaku ?
Benarkah ia tidak bahagia bersamaku ?
Benarkah ?
Jarum pendek arlojiku menunjuk angka 6. Sudah lebih empat puluh menit aku terduduk di sini. Merenungi apa yang baru saja ku dengar dan saksikan.
Pria berkotak merah itu, siapa dia ? Sorot matanya kuat berkata bahwa ia sangat mencinta Asri. Aku harus bertemu dengannya. Tapi bagaimana ?
Asri. Seharusnya dia sudah tiba di rumah saat ini. Aku akan menuju ke rumahnya sekarang.

            ***

“Loh, nak Lana sendiri aja? Asrinya mana?”, tanya ibu padaku.
“Asri belum sampai rumah, Bu ? Tadi saya tidak jemput Asri. Katanya dia mau ada pertemuan dengan kawan SMAnya dulu.”
“Oh iya, tadi ada izin sama ibu. Pulang kerja mau ketemu Syarief katanya, tapi Asri bilang sebentar saja. Maghrib insyaAllah sudah di rumah.”
Oh, jadi pria itu bernama Syarief, gumamku dalam hati.
 “Sekarang sudah lepas Isya, Asri belum ada kabar.” Suara ibu terdengar mulai panik.
“Saya coba hubungi Asri ya, bu. Sebentar, ibu tenang dulu ya.”
Tut Tut Tut
Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif
“Sepertinya Handphone Asri tidak bisa dihubungi, mungkin lowbat, Bu. Apa ibu punya nomor Syarief yang bisa dihubungi?”
“Tidak ada, Nak.” Mendung mulai menggelayuti wajah itu.
“Ibu yang tenang, saya akan mencarinya, bu. Saya pamit dulu. Assalamu ‘alaikum.”
            Bersyukur hari ini aku bawa kesayanganku sehingga mudah dan lincah, terbebas dari kemacetan. Dua kali menyusuri jalan menuju taman juga tempat Asri bekerja. Nihil. Tidak ada Asri di sana.
Apa yang harus aku lakukan ?
Mau mencari kemana, hubungi siapa ?
Ku lirik arlojiku. Sepuluh menit sudah lewat jam Sembilan. Ya Allah, aku harus sholat Isya dulu.
            Dingin air wudhu membasuh wajahku. Segar rasanya. urat dan syaraf yang sejak tadi terasa kencang kini mulai mengendur seiring basuhan air wudhu. Inilah saat – saat yang sangat aku nikmati, Bismillah.
Lepas sholat aku sempatkan beristirahat sejenak, duduk di selasar Masjid. Menatap kendaraan lalu lalang di jalan seraya melangitkan doa,  semoga aku bisa menemukan Asri.
Sayup terdengar pembicaraan marbot masjid tentang peristiwa tabrakan sore tadi. Ada tiga orang korbannya, satu tewas di lokasi, dua lagi dibawa ke rumah sakit terdekat, satu di antaranya perempuan berhijab, pingsan saat dikeluarkan dari mobil yang ditumpanginya.
            Dengan Serta merta aku hampiri pak marbot dan menyela pembicaraannya.
“Maaf, pak, apakah bapak menyaksikan langsung peristiwa tadi?”
“Iya, bang. Tadi saya mau siap Maghriban.”
“Apa bapak melihat wajah para korban?”
“Iya, terutama yang perempuan. Saya lihat betul bagaimana dia dikeluarkan dari mobilnya dan dimasukkan ke dalam ambulance.”
Segera ku buka HP dan mencari gambar Asri.
“Apakah seperti ini wajahnya, pak?”, tanyaku berharap, semoga bukan pintaku.
“Bener, bang. Ini dia orangnya…”
            Astaghfirullah. Lututku terasa lepas dari tempatnya. Jantungku berderap sangat cepat. Asri.

Setelah mengucapkan terima kasih atas keterangan pak Marbot yang aku lupa menanyakan siapa namanya, segera ku pacu roda dua menuju rumah sakit yang disebut. Ya, Allah, semoga tidak terjadi sesuatu yang serius dengan Asri. Syarief, kalau sampai ini semua karena salahmu, aku akan menghajarmu! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar