SEJATI
CINTA (2)
Perlahan kami beranjak
meninggalkan taman yang kian ramai pengunjung. Semburat jingga mulai hadir di
langit. Awan kelabu berarak melukis nuansa sendu, seolah mewakili hatiku.
Syarief menghentikan langkah di sisi mobil silver yang tampak gagah dan terawat. Lembut ia membukakan pintu mobil dan
mempersilakanku. Aku hanya memandang dan membuka sendiri pintu tengah.
“Loh, ko di belakang duduknya?”
“Kalau ga boleh, aku pulang sendiri aja.”
“Oke Tuan Puteri”, jawabnya sigap dengan
seulas senyum getir.
Sepanjang perjalanan aku hanya menikmati
alunan murottal yang diputar Syarief. Ia terpaksa bertahan dalam hening setelah
usahanya mengajak bicara kandas. Beberapa kali ku dapati ia mencuri pandang
melalui spion.
“Lihat jalan, jaga pandangan”, terpaksa aku
menegurnya setelah beberapa kali ia nyaris menyeruduk trotoar.
“Iya, maaf Tuan Puteri”, jawabnya lembut.
“Namaku Asri, bukan Tuan Puteri.”
“Kalau Asri duduknya di depan, bukan di
belakang.”
“Terserahlah. Sedikit lagi kita sampai,
pastikan aman dan selamat sampai tujuan.”
“InsyaAllah tuan puteri. Saya lapar Tuan
Puteri, bisakah menepi untuk makan sebentar?”
“Modus. Jalan terus atau saya pulang
sendiri.”
“Wah gagal saya. Tuan Puteri masih galak
seperti dulu ya.”
Ku biarkan saja Syarief
berceloteh seoramng diri. Buatku yang terpenting aku bisa segera tiba dan
istirahat untuk melepas penat hari ini. Awan kelabu kian memekat, memenjara
sang surya yang sebentar lagi akan tenggelam. Ku lepaskan pandang menyusuri
trotoar yang kini tampak kian rapi tertata, memanjakan para pejalan kaki.
Tetiba dari spion aku lihat sebuah mobil berwarna putih tampak melaju sangat
kencang. Sepertinya Syarief tidak menyadarinya.
“Rief … kamu lihat mobil putih itu.
Sepertinya ada yang tidak beres. Lajunya sangat kencang dan tampak oleng.”
“Astaghfirullah. Kamu benar, Sri. Mobil itu
bisa membahayakan kita. Mana di depan padat sekali, aku tidak bisa menghindar
kalau mobil itu tetap melaju begitu.”
“Rief, Astaghfirullah…Aaaaa”
Brug.
Aku hanya mampu mendengar
sirine di kejauhan. Seketika semua menjadi gelap. Tak mampu merasa kecuali
sakit yang teramat. Ah, mungkinkah aku sudah mati?
***
“Aku
minta maaf, Sri. Aku tidak bisa melepasmu lagi. Aku akan memperbaiki
kesalahanku di masa lalu, aku akan memperjuangkanmu. Aku tahu kamu tidak
bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan, iya, kan ? Sri, jangan tipu
dirimu. Izinkan aku, tolong izinkan aku bahagia bersamamu. Aku yakin kita akan
bahagia bersama, seperti dulu.”
Aku
tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan, iya, kan ?
Aku
tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa sungkan.
Apa benar Asri hanya merasa sungkan padaku ?
Benarkah ia tidak bahagia bersamaku ?
Benarkah ?
Jarum pendek arlojiku
menunjuk angka 6. Sudah lebih empat puluh menit aku terduduk di sini. Merenungi
apa yang baru saja ku dengar dan saksikan.
Pria berkotak merah itu, siapa dia ? Sorot
matanya kuat berkata bahwa ia sangat mencinta Asri. Aku harus bertemu
dengannya. Tapi bagaimana ?
Asri. Seharusnya dia sudah tiba di rumah saat
ini. Aku akan menuju ke rumahnya sekarang.
***
“Loh, nak Lana sendiri aja? Asrinya mana?”,
tanya ibu padaku.
“Asri belum sampai rumah, Bu ? Tadi saya
tidak jemput Asri. Katanya dia mau ada pertemuan dengan kawan SMAnya dulu.”
“Oh iya, tadi ada izin sama ibu. Pulang kerja
mau ketemu Syarief katanya, tapi Asri bilang sebentar saja. Maghrib insyaAllah
sudah di rumah.”
Oh, jadi pria itu bernama Syarief, gumamku
dalam hati.
“Sekarang
sudah lepas Isya, Asri belum ada kabar.” Suara ibu terdengar mulai panik.
“Saya coba hubungi Asri ya, bu. Sebentar, ibu
tenang dulu ya.”
Tut
Tut Tut
Telepon
yang anda tuju sedang tidak aktif
…
“Sepertinya Handphone Asri tidak bisa
dihubungi, mungkin lowbat, Bu. Apa ibu punya nomor Syarief yang bisa dihubungi?”
“Tidak ada, Nak.” Mendung mulai menggelayuti
wajah itu.
“Ibu yang tenang, saya akan mencarinya, bu.
Saya pamit dulu. Assalamu ‘alaikum.”
Bersyukur
hari ini aku bawa kesayanganku sehingga mudah dan lincah, terbebas dari
kemacetan. Dua kali menyusuri jalan menuju taman juga tempat Asri bekerja. Nihil.
Tidak ada Asri di sana.
Apa yang harus aku lakukan ?
Mau mencari kemana, hubungi siapa ?
Ku lirik arlojiku. Sepuluh menit sudah lewat
jam Sembilan. Ya Allah, aku harus sholat Isya dulu.
Dingin
air wudhu membasuh wajahku. Segar rasanya. urat dan syaraf yang sejak tadi
terasa kencang kini mulai mengendur seiring basuhan air wudhu. Inilah saat –
saat yang sangat aku nikmati, Bismillah.
Lepas sholat aku sempatkan
beristirahat sejenak, duduk di selasar Masjid. Menatap kendaraan lalu lalang di
jalan seraya melangitkan doa, semoga aku
bisa menemukan Asri.
Sayup terdengar pembicaraan
marbot masjid tentang peristiwa tabrakan sore tadi. Ada tiga orang korbannya,
satu tewas di lokasi, dua lagi dibawa ke rumah sakit terdekat, satu di
antaranya perempuan berhijab, pingsan saat dikeluarkan dari mobil yang
ditumpanginya.
Dengan
Serta merta aku hampiri pak marbot dan menyela pembicaraannya.
“Maaf, pak, apakah bapak menyaksikan langsung
peristiwa tadi?”
“Iya, bang. Tadi saya mau siap Maghriban.”
“Apa bapak melihat wajah para korban?”
“Iya, terutama yang perempuan. Saya lihat
betul bagaimana dia dikeluarkan dari mobilnya dan dimasukkan ke dalam
ambulance.”
Segera ku buka HP dan mencari gambar Asri.
“Apakah seperti ini wajahnya, pak?”, tanyaku
berharap, semoga bukan pintaku.
“Bener, bang. Ini dia orangnya…”
Astaghfirullah.
Lututku terasa lepas dari tempatnya. Jantungku berderap sangat cepat. Asri.
Setelah mengucapkan terima kasih atas
keterangan pak Marbot yang aku lupa menanyakan siapa namanya, segera ku pacu
roda dua menuju rumah sakit yang disebut. Ya, Allah, semoga tidak terjadi
sesuatu yang serius dengan Asri. Syarief, kalau sampai ini semua karena
salahmu, aku akan menghajarmu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar