SEJATI
CINTA
“Syarief tunggu…”
Kali ini aku tidak akan membiarkan ia pergi
begitu saja. Diiringi tatapan beberapa
pasang mata, aku terus berlari kecil sambil
berteriak memanggil. Dia semakin mempercepat langkah, hanya kemeja kotak merah
terlihat menjauh.
“Rief, Syarief!”
Aku semakin tak peduli, tekadku bulat, hanya
satu. Mengejarnya kemanapun, sampai dapat..
Tepat di ujung taman aku berhasil menangkap lengannya.
Ia berhenti. Ku lepaskan genggaman dari lengan berkotak merah itu. Detak
jantung dan deru nafasku terasa berkejaran memburu waktu, Penuh waspada aku
berdiri mengawasi sosok itu. Perlahan ia membalikkan badannya.
Matanya lembut menatap, mengatakan banyak hal
dan seolah sedang mencari jawaban. Tatapan itu begitu akrab, hangat seperti yang
ku kenal.
“Aku minta maaf padamu Asri. Tidak seharusnya
aku mengatakan apa yang tadi kamu dengar.”
“Yang mana? Bahwa kau mencintaiku ?”
Tak ada suara. Hanya dua mata itu yang
nyaring bercerita.
“Jawab, Rief.”
Lama ia terdiam sebelum akhirnya mengajakku
duduk di bangku yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat kami berdiri.
“Baiklah, aku rasa sekarang saatnya aku
sampaikan semua padamu.”
“Sri.
Kamu wanita pertama yang ku kenal dan dekat di hatiku. Bahkan hingga kini aku
masih menyimpan rapi rasa untukmu.”
“Rasa apa?”
“Aku … Aku mencintaimu, Sri. Ya, aku
mencintamu.”
Ada harap di tatapnya.
“Tapi, kenapa baru sekarang kamu katakan ? 12
tahun, Rief. Aku tahu kita dekat sejak sekolah dulu. Tapi sikapmu padaku tidak
pernah menyampaikan rasamu.”
“Sri, aku bukannya tidak pernah berkata. Tapi
kamu tidak memberiku kesempatan. Sikap perhatianku padamu tidak pernah kau
anggap ada. Kamu pasti masih ingat pesan-pesan singkat yang ku kirim untukmu.
Hanya untukmu, karena saat itu kamu adalah duniaku.”
Sejenak ku arahkan pandang ke hijau dedaunan.
Sri
tahu ga tulisan di power bank ?
Nggak,
emang kenapa ?
Ya,
begitulah kondisi kita berdua, seperti tulisan dan power bank.
Maksudnya
?
Dirimu
mungkin tidak peka dan tidak memerhatikan tapi aku selalu ada saat kau lemah …
Ah,
masa? Serius?
Becanda,
Sri, eaaa
Huh
dasar gombal.
Sri,
jadilah princess di hatiku.
Beneran
?
Iya
Seriusan
?
Tapi
bohong
Jahat!
Sepotong kenangan bermain dalam pikiran.
Menghadirkan kekonyolan dan gombalan ala siswa SMA.
“Iya, aku ingat, Rief. Aku ingat semuanya.
Tapi kamu selalu mengatakan kalau itu hanya bercanda, tidak pernah serius. Jadi
aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan.”
“Itu masalahnya, aku tidak berani untuk
berterus terang. Aku malu dan takut kalau kamu akan menjauh saat tahu tentang
perasaanku. Setiap kau bercerita tentang SFC, aku berharap akan ditutup dengan
namamu, nyatanya tidak pernah ada. Kamu hanya sibuk menyebut deretan nama yang
tidak ingin aku dengar, nama yang aku tidak tahu siapa orang nya dan seperti
apa rupanya. Aku selalu berharap ada namamu di situ.”
Pikiranku memutar SFC, Syarief Fans Club.
Grup imajiner buatanku yang berisikan cewek- cewek di sekolah yang sering
histeris melihat Syarief, sering titip pesan hingga coklat untuk Syarief. Grup
yang membuat aku minder. Bahwa aku bukan siapa
siapa. Aku hanya beruntung bisa dekat sama Syarief, ketua OSIS yang
tenar seantero sekolah. Ga hanya teman seangkatan yang kenal, adik dan kakak
kelas juga sangat mengelukannya. Sementara aku?
Aku hanya newbie yang kebetulan sekelas
dengan Syarief sang idola. Bisa satu semester duduk persis di belakang kursi
nya.
“Kamu tahu, Sri ?”
Suaranya membuyarkan lamunanku.
“Beberapa tahun pasca lulus SMA, kelas kita
kan masih rutin kumpul. Aku masih ingat saat kau dengan riang mengumumkan bahwa
seorang pria telah melamarmu. Kamu tahu, saat itu aku putuskan untuk tidak lagi
menghadiri acara-acara seperti itu. Karena duniaku tidak lagi ada.”
Ada segores luka di tatapnya. Ada bening
tertahan di matanya.
“Sejak saat itu aku alihkan fokusku pada
studi dan pekerjaan. Lama aku tinggalkan Indonesia supaya aku bisa melupakanmu,
Sri. Aku tidak siap melihat bahagiamu bersama orang lain. Aku…”
“Kamu pengecut. Kamu egois, Rief. Setelah apa
yang aku alami selama ini. Setelah dua belas tahun kini baru kamu sampaikan
rasamu.”
“Di mana kamu saat lelaki itu, yang adalah
sahabatmu meninggalkanku sepekan sebelum pesta pernikahan digelar?”
“Di mana kamu saat lelaki itu mengatakan
bahwa dia tidak sanggup melanjutkan karena ia tahu bahwa sebenarnya kamu lebih mencintaiku,
lebih pantas menjadi pendampingku. Di mana kamu saat itu ?
Butir bening yang sedari tadi membendung di
mataku mengalir begitu saja. Menderas, menganak sungai di pipi. Membawa sesak
yang selama ini memenuhi dada. Ku tatap ia seksama, bening itu meleleh di
matanya.
“Apa kamu tahu bagaimana menghadapi semuanya
? Batalnya pernikahanku jadi aib buat keluarga kami. Orang tuaku sempat sakit
beberapa bulan karenanya. Aku memaksa diri untuk tetap tegar, demi mereka.
Semua aku hadapi sendiri, Rief. Kamu, yang biasa hadir menghiburku hilang bagai
ditelan bumi. Apa itu yang dinamakan cinta? Lalu sekarang, saat payah ku tata
hati ini dan dengan sisa kekuatan yang ada, kembali berusaha membangun puing –
puing cinta dengan lantang kau teriakkan cinta ? Beginikah caramu mencinta ?”
“Sri, aku…”
“Syarief, dengar. Kita bukan lagi anak SMA
yang riang berceloteh dan gembira atas nama cinta. Usia kita tidak lagi muda.”
“Asri … hingga kini aku masih berharap …”
“Maaf, Rief. Aku sudah pernah merasa
bagaimana sakitnya ditinggalkan di detik menuju ikrar jani suci. Meski merasa
tenang dan nyaman bersamamu, aku tidak tega jika harus melukai orang yang sudah
mau dan berani menerima lukaku. Dua bulan lagi rencananya kami akan menikah,
aku harap kamu bisa menerima putusanku.”
“Sri, aku mohon. Beri aku kesempatan. Masih
ada waktu untuk mengubah semuanya.”
“Rief, aku sudah memutuskan. Kalau dua belas
tahun ini kamu sanggup hidup tanpa hadirku, aku percaya kamu akan sanggup
melalui tahun – tahun berikutnya. Aku juga percaya, bahwa cinta tidak selalu
harus bersama. Bahwa cinta bukan memiliki. Bahwa cinta adalah bahagia saat
orang yang kita cinta merasakan bahagia.”
“Aku minta maaf, Sri. Aku tidak bisa
melepasmu lagi. Aku akan memperbaiki kesalahanku di masa lau, aku akan
memperjuangkanmu. Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu hanya merasa
sungkan, iya, kan ? Sri, jangan tipu dirimu. Izinkan aku, tolong izinkan aku
bahagia bersamamu. Aku yakin kita akan bahagia bersama, seperti dulu.”
Ah, Syarief. Entah apa yang harus ku katakan.
Dua bola mata itu tampak sangat serius. Tatapannya berubah tajam, namun tetap
lembut dan menghangatkan.
“Aku rasa sudah cukup kita bicara, Rief.
Sudah sore, aku mau pulang sekarang.”
“Baiklah, sepertinya kita perlu waktu untuk
berfikir dan menenangkan diri. Izinkan aku mengantarmu pulang.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar