SEJATI
CINTA (3)
“Suster, maaf saya mau tanya
soal pasien yang dirawat karena kecelakaan, kejadiannya petang ini.”, tanyaku
dengan paduan deru jantung dan nafas yang tersengal.
“Atas nama siapa, pak ?”
“Asri Lestari”
“Pasien atas nama nona Asri Lestari benar ada
dirawat di sini, pak. Saat ini masih di ruang ICU dalam keadaan tak sadarkan
diri. Bapak dari pihak keluargakah?”
“Iya, eh, bukan. Maksud saya, saya temannya.
Apa saya boleh melihatnya, Sus?”
“Maaf bapak, sesuai prosedur, yang boleh
melihat pasien saat ini hanya pihak keluarga saja. Sebaiknya bapak membantu
kami menghubungi keluarga nona Asri, itu akan jauh lebih membantu. Tidak
ditemukan identitas Nona Asri selain pin nama yang tertempel di bajunya, pihak
kepolisian masih mencari tahu, pak.”
“Baik, saya mengerti. Terima kasih.”
Meski
merasa tidak puas, aku terima juga saran dari suster. Setelah mendapat
informasi yang cukup lengkap tentang Asri dan kecelakaan lalu lintas yang
menimpanya, ku putuskan untuk kembali ke rumah Asri. Menyampaikan semua
informasi yang baru saja ku dapat.
Sepanjang perjalanan aku
berusaha mengorek kemampuan berbahasaku. Mencoba menemukan kata yang tepat
untuk menyampaikan berita ini kepada Ibu dan Bapak. Sedih, marah, kesal, rasa
tidak berdaya bercampur aduk dalam hatiku. Ya, Tuhan, lancarkan lisanku,
lapangkan dadaku. Aamiin.
Pukul 23.30
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, Nak Lana. Asri belum
ketemu, ya?”
“Sudah, Bu. Alhamdulillah. Boleh saya duduk,
Bu ? Agak panjang ceritanya.”
“Eh, oh, iya, silakan. Mari duduk. Maafkan
Ibu sampai lupa mengajakmu duduk…”
“Iya, bu. Tidak apa – apa, saya paham.
Sebelum saya lanjutkan, saya minta Ibu dan Bapak menguatkan diri dan sabar,
ya.”
“Ini ada apa sih sebenarnya?”
“Ibu janji dulu, yang sabar.”
“Iya, ibu janji. Insya Allah.”
Ku
perhatikan seksama wajah renta di hadapanku. Ah, tak sanggup rasanya
membayangkan bagaimana respon mereka nanti. Ya, Allah, bantu hamba.
“Jadi begini, Bu, Pak. Asri mengalami
kecelakaan lalu lintas. Mobil yang dikendarai Syarief ditabrak dari belakang.”
“Astaghfirullah, Asri…”, Kristal bening mulai
membendung di pelupuk mata ibu yang menua. Bapak terlihat sangat cemas.
Setelah
merapikan posisi duduk, aku kuatkan diri untuk melanjutkan bercerita.
“Jadi, supir ugal – ugalan yang menabrak itu
tewas di lokasi kecelakaan.”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun”, ujar
Ibu dan Bapak hampir bersamaan.
“Keadaan Asri dan Syarief bagaimana, Nak?”,
tanya bapak dengan suara yang sedikit berat.
“Dari keterangan perawat di sana, menurut
informasi dokter yang menangani Syarief tidak ada luka serius yang dialami
Syarief. Ada trauma ringan di kepalanya serta memar di beberapa bagian tubuh,
lengan dan kakinya. Sementara Asri,
“Bagaimana Asri, Nak ?”, ibu memotong dengan
suara tercekat dan bergetar.
“Asri masih belum sadarkan diri sejak
kecelakaan terjadi, Bu, Pak. Maafkan saya.” Hampir tak kuasa aku selesaikan
cerita itu, berat rasanya. Mataku kian terasa perih dan tak sanggup melihat
Kristal bening membanjiri wajah Ibu dan sedih yang teramat yang berpadu dengan
sisa stroke di wajah bapak.
“Insya Allah besok pagi – pagi sekali saya
antar Ibu dan Bapak ke Rumah Sakit, ya. Sekarang istirahat dulu. Saya sudah
selesaikan masalah administrasi di sana dan menitipkan nomor telepon saya juga
nomor Ibu dan Bapak untukmengabarkan keadaan Asri, jika ada hal mendesak yang
perlu kita ketahui.”
“Baik, Nak. Te..rima ka..sihhhh...” Ibu tidak
bisa melanjutkan ucapannya, kesedihan sudah menguasai.
“Saya pamit, Bu, Pak.Assalamu’alaikum.”
Tuntas sudah ku ceritakan
semua informasi tentang Asri kepada Ibu dan Bapak. Harusnya hati ini terasa
lega. Namun tidak begitu adanya. Hati dan pikiranku terus bertanya tentang
Asri.
Tepat pukul 02.00 aku tiba di rumah. Sunyi.
Sepi. Sebelum tidur, aku sempatkan menghadap Robb-ku, memohon kesembuhan dan
perlindungan untuk Asri.
Malam yang sangat melelahkan.
Usai
Shubuh di masjid, aku bergegas pulang untuk kemudian menjemput Ibu dan Bapak
menuju rumah sakit, meninggalkan kajian Shubuh yang rutin di sana. Bismillah
tawakaltu ‘alallah.
Pukul 06.30
Perlahan ku damping ibu menyusuri lorong
rumah sakit seraya mendorong bapak di kursi roda. Beberapa saat kemudian
tibalah kami di ruang yang kami tuju. Dari jendela bening berukuran 3 x 2 meter
itu kami melihat Asri tergeletak dengan beberapa selang di tubuhnya. Detak
jantunya dipantau monitor di samping tempat ia berbaring, samar terdengar suara
pip pip pip.
Tetes air mata membasahi
wajah bapak, wajah yang mengguratkan kerasnya perjalanan hidup. Ibu tergugu,
aku tepat menyangga kala ibu tak kuasa menumpu berat tubuhnya, limbung.
“Ya, Allah, Bu. Istighfar. Ayo duduk di sini
dulu.”
Ibu terduduk lemah di
bangku, Bapak sibuk menenangkan Ibu, memijit tangannya dan melafadzkan
Istighfar. Aku hanya mampu menangis dalam hati, moga Allah memberikan kekuatan
dan kesabaran pada mereka.
Sejurus kemudian dari
kejauhan, aku melihat sosok berkotak merah dengan balutan perban di kepala. Selang
infus yang menempel di tangan tampak sedikit membatasi gerak langkahnya. Sepasang
paruh baya berpenampilan elegan berjalan mengiringi, sesekali membantu ia
berjalan. Syarief. Ingin rasanya segera ku hampiri ia dan meluapkan rasa kesal padanya.
Namun ku urungkan demi menjaga perasaan Ibu Bapak juga sepasang paruh baya itu.
Mereka berhenti tepat di
tempat semula kami berdiri. Di tatapnya Asri lekat.
“Itu Asri, Bu, Bah. Belum sadarkan diri sejak
kemarin. Kasihan Asri, ini semua salah Dede. Ambu, Abah, tolong segera kabari
keluarga Asri. Tolong jemput mereka kesini, ya.”, pintanya sangat berharap.
Pandangannya tetap diarahkan pada Asri.
“Iya, De, akan kami lakukan. Sekarang Dede
kembali ke kamar rawat ya, supaya kami tenang meninggalkan kamu bersama perawat
di sana.”, seru sang Abah dengan suaranya yang penuh kharisma.
“Maaf Abah, Dede akan terus di sini menunggu
Asri siuman. Nanti kalau orang tuanya sudah datang baru De kembali ke kamar.
Ya, Ambu ya … Dede mohon, please.”
“Ya sudah, nanti Ambu minta tolong perawat
untuk bisa mengawasi kamu di sini. Ayo Abah.”, seru sang Ambu dengan sangat
lembut.
Awalnya aku berniat untuk
mencegah sepasang paruh baya itu untuk pergi mencari orang tua Asri. Namun
urung ku lakukan. Aku ingin segera bisa bicara empat mata dengan Syarief. Setelah
meminta izin pada ibu dan Bapak, bergegas ku hampiri Syarief yang masih terpaku
memandangi Asri yang masih terbaring.
“Assalamu’alaikum”, sapaku.
“Wa’alaikum salam.”, Syarief menjawab serta
menatapku heran. Ia melihat lekat wajahku, seolah ingin memastikan bahwa ia
pernah mengenalku sebelumnya.
“Saya Kelana, ini kali pertama kita bertemu.”,
jawabku tegas.
“Oh, saya Syarief, Bang.”, jawabnya seraya mengulurkan
tangan berselang infus.
Ku jabat perlahan tangan itu sambil menata
hati dan kata agar jangan sampai keluar sikap kasarku padanya.
“Jadi, abang ini Kelana yang dua bulan lagi
akan melamar dan menikahi Asri ?”, dia melanjutkan dengan suara yang dibuat
tegar.
Hmm, jadi Asri sudah menceritakan rencana
kami.
“Rencananya begitu sebelum kamu hadir.”,
jawabku seraya tajam menusuk dua bola matanya. Dua mata itu membulat, meraba
maksud perkataanku barusan.
“Maksudnya, Bang ?”
“Syarief, kita harus bicara. Serius. Kamu
lihat di bangku sana? Ada Ibu dan Bapaknya Asri, aku tidak ingin pembicaraan
kita memperkeruh suasana. Kondisimu juga masih perlu perawatan. Sekarang kamu
temui Ibu dan Bapak, minta maaf pada mereka. Tapi sebelumnya hubungi orang
tuamu agar tidak usah pergi ke rumah Asri.”, begitu saja lisanku menderas
memberikan instruksi yang langsung dilakukan oleh Syarief. *)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar