SEJATI
CINTA (4)
Genap sepekan aku menginap
di Rumah sakit ini bersama Asri yang masih belum sadarkan diri. Balutan putih di
kepala yang setia menemani hariku, sejak kemarin sore sudah tak ada lagi. Dokter
mengizinkan aku untuk meninggalkan ruang perawatan pagi ini. Alhamdulillah.
Teringat aku akan janji pada
bang Kelana. janji untuk segera menghubunginya begitu aku dinyatakan pulih oleh
dokter. Ya, sekarang saatnya tiba.
Tuuuut
“Assalamu’alaikum.”, terdengar suara di ujung
telepon, terdengar berat dan parau.
“Assalamu’alaikum, Bang. Ini Syarief.”
“Iya.”
“Saya sudah siap untuk bicara, Bang.”
“Oke. Siang ini di taman tempat terakhir kau
bertemu Asri.”
“Baik, Bang”, jawabku dalam hati, sesaat
setelah terdengar suara tuuuut di ujung telepon.
Segera ku kemas barang dan
bergegas menuju hotel di sebrang rumah sakit ini. Setelah panjang berdiskusi
dengan Ambu juga Abah, akhirnya aku mendapat lampu hijau untuk tinggal di sana
selama Asri belum sadarkan diri. Alhamdulillah Allah mudahkan lisan ini untuk
menjawab semua kekhawatiran dan keberatan Ambu dan Abah. Tekadku sudah bulat,
menemani Asri dalam komanya, hingga ia pulih. Kondisi orang tua Asri tidak memungkinkan
mereka untuk mendampingi putri semata wayangnya. Bang Kelana juga tidak bisa
meninggalkan pekerjaan. Sementara aku bisa fleksibel memantau bisnisku dari
hotel, sesekali menghadiri rapat jika diperlukan.
***
Gerombolan awan nan kelabu
menahan terik sang mentari siang ini. Syukurlah, gumamku dalam hati. Degup
jantung dan hembusan nafas berpadu, mengalun melodi. Seolah memberi penghiburan
dan menenangkan hati dan pikiranku yang melesat enggan menunggu. Ayunan langkah kaki mengantarku pada bangku
taman yang sudah separuh terisi sosok yang belum lama aku kenal.
“Assalamu’alaikum, Bang”, pelan ku sapa sosok
itu.
“Wa’alaikum salam.”, terdengar jawaban dari
suara yang berat.
Sejurus kemudian, kami larut
dalam pembicaraan yang selama ini tertunda. Dialog antara dua hati yang sama
mencintakan Asri.
“Jadi Abang ada di sini sore itu?”, tanyaku
memastikan setelah Kelana bertanya tentang seberapa besar rasa cintaku, pada
Asri.
“Aku tahu kamu tidak bahagia dengannya, kamu
hanya merasa sungkan..”, Dia
mengulangi ucapanku kala itu.
“Katakan Syarief, bagaimana kau bisa sangat
yakin saat mengatakan itu ?”, lanjutnya seraya menjatuhkan pandangnya tepat di
bola mataku.
Ku alihkan pandang ke
barisan bunga yang tertata rapi, indah, simetris dan serasi dengan bantalan ban
yang dikreasikan sangat artistik. Layar pikirku membentang, tergambar di sana
secuplik peristiwa.
“Rief, aku ga bisa terima ini”, seru gadis
berkerudung putih dengan sorot mata yang teduh sekaligus tajam. Menatapku tanpa
jeda.
“Kenapa sih, Sri? Kamu menolak pemberianku,
selalu. Ini kan hanya pulpen dan teman – temannya, masa kamu ga mau terima?
Hadiah ulang tahun, dari aku.”, jawabku dengan memberondong tanya padanya.
“Rief, kamu sudah tahu jawabannya. Bahwa ..”,
seru si gadis yang telah merajai hatiku kini.
“Bahwa kamu tidak mau merasa
berhutang budi? Bahwa kamu tidak mau merasa sungkan saat suatu hari nanti harus
memutuskan menerima atau menolak perasaan istimewa yang mungkin akan hadir di
antara kita? Bahwa kamu ingin selalu menjadi orang yang merdeka tanpa
terbelenggu jasa?”, buruku seraya mencari jawab di dua bola matanya yang kini
berkaca mata.
“Ya,kamu benar. Bagus kalau kamu masih ingat
semua itu. Nih, ambil”, Juwita itu menyerahkan sekotak berwarna pink ke
genggamanku.
“Sri, ayolah. Aku kenal kamu dari dulu, dari
sebelum kamu pakai kerudung itu. Dari kamu cantik sampai sekarang makin cantik,
please … take this. It’s nothing.”
“Gombal. Sorry,I can’t. Bukan hanya
terhadapmu. Ini prinsip, aku tidak menerima pemberian dari laki – laki yang
bukan mahramku, kecuali sampai satu saat nanti aku sudah bersama pendamping
hidupku yang sejati.”, begitu saja dia tinggalkan aku yang masih ingin memuntahkan
rentetan kata.
“Dasar Asri mata empat!”, teriakku mengumpat
seraya memasang wajah jengkel, hanya berbalas kepal tangan yang dipukulkan ke
udara. Pintaku kala itu, semoga aku kelak yang akan menjadi pendamping hidupnya
yang sejati. Semoga.
“Syarief …”
Ah,
suara nan berat itu menggulung layar pikiran yang baru saja terbentang.
“Iya, bang. Jadi kenapa saya bisa yakin,
sangat yakin bahkan. Itu karena saya tahu bagaimana Asri. Dia itu sangat mudah
memberi, tapi sangat sulit untuk menerima pemberian, apalagi dari laki – laki,
pantang itu buat dia. Ga’ mau berhutang budi, gitu katanya. Nah, saat Abang
hadir dengan segala bantuan dan perhatian ketika ia ditimpa musibah…”, suaraku
tercekat di tenggorokan. Ada rasa bersalah menyelinap di relung hatiku.
Terbayang
kepingan hati wanita pujaanku saat sahabatku membatalkan pernikahan mereka
ketika mendekati hari H. Sakit membayangkan bagaimana ia berjuang melawan semua
cibiran, perih saat berusaha percaya bahwa semua ia lakukan demi menguatkan
kedua orang tuanya yang juga tersakiti, bahkan hingga saat ini membekas pada
guratan miring di wajah bapak, serta kursi roda yang setia mendampinginya. Rasa
bersalah hadir, merangsek dan menusuk hingga ke pori – pori kulit.
Dalam ku hirup udara taman, seperti
hendak memasukkan semuanya ke rongga paruku.
“Saat itu Asri tidak punya pilihan kecuali
menerima uluran tanganmu, Bang.” pelan ku lanjutkan penjelasanku.
“Lalu saat Abang sampaikan maksud untuk
serius padanya, Asri hanya punya jawaban iya.”, pungkasku.
Wajah
lelaki itu datar, tanpa ekspresi. Aku sulit untuk menterjemahkan apakah
penerimaan atau ketidaksetujuan yang hadir di situ.
“Jadi, kamu fikir kamu bisa membuat ia
bahagia ?”, tanyanya memecah kebekuan.
“Entah, Bang. Saya hanya merasa bahwa
sekarang adalah saat yang tepat bagi saya untuk menebus masa lalu. Seharusnya
saya berani memperjuangkan hatinya, bukan tenggelam dengan rasa malu dan takut
ditinggal.”
“Bang, kemarin dokter yang
menangani Asri bilang bahwa perhatian dan cinta bisa membantu kesembuhan pasien
koma. Bisikan cinta, sentuhan kasih bisa diberikan pada pasien meski ia tidak
bisa merespon.”
“Lalu?”
“Bang, izinkan saya untuk menikahi Asri
sekarang, supaya saya bisa merawat Asri.”, setengah meminta aku menatapnya,
penuh harap. Kelana menatapku kemudian melepaskan pandang ke langit. Berkali ia
lakukan, seolah menutupi badai yang berkecamuk di hatinya.
“Bang, saat nanti Asri pulih, saya janji akan
menyerahkannya kembali.”,
Entah apa yang baru saja ku katakan, yang
pasti aku hanya ingin meyakinkan Kelana.
“Apa maksudmu? Kau kira Asri itu barang yang
bisa seenaknya dipindahtangankan?”
“Maaf, Bang, bukan begitu maksud saya”.
“Dengar Syarief, matamu bercerita banyak
tentang rasamu pada Asri. Aku rela melepasnya. Tapi ingat, jika sekali kau
sakiti dia, kau akan langsung berhadapan denganku, ingat itu.”
Demi mendengar itu, aku
berhambur dalam pelukan Kelana. Aku tahu ia lelaki yang lembut di balik
wajahnya yang tegas. Di telinganya aku berbisik, “Saya janji, Bang. Terima kasih.”
Lama ku jabat erat tangannya, meluapkan rasa syukur yang menjalar hangat ke
seluruh tubuhku. Terima kasih Kelana, Alhamdulillah.*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar