Jumat, 26 Juni 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Ikhwan ganteng

                Seperti biasa, malam itu Ama berbaringsantai di kamarnya. Berteman suara penyiar radio Ama benar – benar tampak menikmati suasana. Dibacanya selembar kertas di tangannya. Formulir pendaftaran ROHIS. Tanda tangan persetujuan dari bapaknya sudah didapat. Semua item sudah terisi. Menyisakan duackolom saja. Ya masih ada dua pertanyaan yang belum dijawab oleh Ama.
Pertanyaan pertama, dari mana kamu mengenal ROHIS dan kenapa kamu memilih ROHIS ?
Pertanyaan kedua, apa harapanmu bergabung dengan ekskul ROHIS ?
                Di kepalanya berputar lagi penjelasan Farid tentang ROHIS. “Aha”, pekiknya. Ia lalu bangkit dan menyambar pulpen kemudian menuliskan jawabannya.
Dari mana kamu mengenal ROHIS dan kenapa kamu memilih ROHIS ?
Dari teman sekelas. Programnya keren.
“Eh, ko tiba – tiba aku ingat kata – kata ka Rio ya, masuk ROHIS pilihan bagus biar kamu jadi istri sholiha, ya kali aku tulis jawabannya begitu.” Gumam Ama.
“Jadi apa ya jawabannya, hmmm.”
Apa harapanmu bergabung dengan ekskul ROHIS ?
Menambah wawasan dan pertemanan.
Ama tersenyum puas melihat jawabannya. Dimasukkannya kertas itu dalam sebuah amplop coklat. Tak lupa ia menempelkan fotonya di tempat tersedia. Ucapan Ahmad tengiang di telinganya, Kalau buat saya ukuran 3R juga cukup buat di dompet.
“Ahmad, sebaiknya kamu tetap menjadi orang asing saat ini. Agar kelak aku bisa dengan mudah menerima perasaanmu.” Ama menghela nafasnya. Ada desir hangat menyelinap dalam dadanya. Deir yang benar – benar menghangatkan.
                Kembali Ama membaringkan tubuhnya. Celoteh sang penyar radio mengantarkan cuplikan obrolannya dengan Farid siang tadi.
“Emang ada apa aja di ROHIS ?”
“Ada banyak cowok ganteng, hahaha.”
“Lu bener Farid. Banyak bener cowok ganteng di ROHIS. Mungkin karena mereka rajin wudhu kali ya. Ya ampun, wajahnya bercahaya. Banyak mas Irin di ROHIS, hihihihi. Lo pasti ga tahu Farid kalau gue suka liatn cowok – cowok, eh ikhwan di ROHIS. Mereka kan so handsome, tapi bukan itu yang bikin gue tertarik. Melainkan style mereka yang cool abiz. Gilaaaaa... mereka bisa ngomong sambil nunduk. Padahal kan kebanyakan mata cowok tuh jelalatan kalo liat cewek. Tapi mereka lebih tertarik liatin sederet ubin sekolah yang ga selalu kinclong dan mengabaikan cewek bening di hadapan. Justru yang begitu kan yang bikin penasaran, bikin pengen cari perhatian sama mereka. Ga kaya Ahmad yang baru kenal dah sok akrab. Eh,, tapi dia kan calon ikhwan dan aku calon akhwat, ehemmm.”
Ama terus membatin dan memutar rekaman dalam memorinya. Ternyata ia punya kebiasan berdiri di depan teras kelasnya, mengamati apa saja yang bisa terlihat. Siswa yang bermain di lapangan, yang sedang hilir mudik menuju dan dari kantin, termasuk cara anak ROHIS bercakap – cakap dengan sesamanya.
                Biasanya mereka (anak ROHIS) berbicara dengan bergerombol, jarang ada ikhwan dan akhwat yang ngobrol berduaan saja. Mereka dekat tapi tidak saling menatap. Sama – sama menghadap ke arah lapangan, atau saling menyamping. Entah bagaimana bisa bicara tanpa menatap dalam suasana istirahat yang pasti ramai dengan riuh rendah suara para siswa.
                Meski ada senyum dan tawa kecil, biasanya mereka hanya bicara sebentar saja. Yang pasti menarik perhatian Ama adalah polah para ikhwan yang kharismatik. Bicara seperlunya, menjaga pandangan, menghormati perempuan plus penampilannya yang klimis, berjenggot tipis. Ah, sudahlah. Tidak salah kalau Farid menyebut banyak cowok ganteng di ROHIS.
                Jaminan ketulusan dalam hubungan pertemanan di ROHIS sangat menjanjikan. Selain ikhwan yang tampan, simpatik juga kharismatik, para akhwat juga tak kalah memesona. Jilbab lebar yang menebar pesona keanggunan selalu menarik perhatian Ama. Sudah lama Ama berfikir tentang mukena saat sholat dan pakaian terbuka yang iasa dikenakan wanita muslimah.
Banyak pertanyaan yang selama ini hanya berputar di kepalanya.
Kenapa saat sholat kita wajib menutup aurat pakai mukena, tapi dalam keseharian bebas terbuka ?
Apakah mukena, kerudung, baju tertutup hanya wajib dikenakan saat beribadah (sholat atau mengaji?)
Bagaimana sebenarnya aturan berpakaian bagi muslimah dalam Islam ?
“Kayanya bener gue harus masuk ROHIS. Mudah – mudahan pertanyaan gue bisa terjawab. Kata Farid kan kakak – kakak ROHIS sangat menerima para junior. Jadi gue bisa bebas nanya tanpa khawatir dimarahi, dianggap lancang, tdak punya adab dan seterusnya.” Mantap Ama memutuskan.
                Kantuk mulai menyergap. Ama melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jarum pendek jam berbentuk hati berwarna biru muda itu sudah menunjuk angka sembilan sementara jarum panjangnya menunjuk angka enam. “Wah tidak terasa. Sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal istirahatku. Pantesan ini radio udah sepi.” Ama berdialektika. Gegara fokus dengan ketampanan para ikhwan serta aneka daya tarik yang ada di ROHIS ia sampai tidak sadar kalau siaran radio favoritnya sudah berakhir. Dimatikannya radio juga lampu kamar.Kemudan beranjak ke peraduan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Have a nice dream Ama, jangan lupa berdoa.
                Sementara di sudut sebuah kamar, ada Ahmad yang tengah mencatat semua informasi yang disampaikan Farid tentang jurus jitu meraih hati Ama.
Ia tampak tersenyum puas menilik catatan yang baru saja diselesaikannya.
“Makasih banyak Farid. Mulai hari ini perjalanan cinta di mulai. Hehehehe. Dear Ama, aku akan berusaha menjadi asing buatmu, agar suatu saat nanti kamu siap menerima semua rasaku. Ya, Allah jadikanlah ia tempatku berlabuh. Aamiin.”  
 Diletakkannya buku catatan bersampul motif batik itu dalam tumpukkan buku yang tersusun rapi. Kemudian bersiap dengan ritual sebelum tidurnya. Sikat ggi, wudhu dan tak lupa, berpamitan pada ayah bundanya dengan mencium tangan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar