Teman
Sehati * Best Friend Forever
Kamu pilih kampus mana ?
Kedatangan
Nyonya Wiguna yang adalah mamanya Rio membuat kehidupan Ama berubah. Kedatangan
tamu yang tak diduga itu berlanjut dengan kesepakatan antara Rio dengan Ama
bahwa Ama akan mengikuti permainan selama membawa pengaruh positif terhadap
kesehatan nyonya Wiguna. Permaia selesai jika dokter menyatakan nyonya Wiguna
sembuh dari sakitnya.
“Ama, terima kasih kamu mau mengikuti mama untuk menerima
cincin dariku.”
“Iya, ka. Semoga dengan ini mama akan jadi bahagia
dan kesehatannya bisa pulih kembali. Jadi aku bisa bebas dari semua ini.”
“Maafkan saya telah melibatkan kamu dalam masalah
saya.”
“Iya, ka. Tolong penuhi janji kakak untuk tidak masuk
dalam kehidupan saya setahun ke depan, karena saya ingin fokus belajar. Kelas 3
ka, waktunya ujian dan menentukan studi selanjutnya.”
“Iya, mama juga sudah tenang setelah cincin yang
sengaja ia desain dan dipesan khusus untuk Ama, telah melingkar indah di
jarimu. Insya Allah kaka juga akan bertolak ke Bandung satu sampai dua tahun ke
depan. Kita saling mendoakan ya, semoga sukses studi kita semuanya.”
“Aamiin. Aku juga doakan semoga ka Rio mendapat
kekasih eh calon istri beneran yang sesuai keinginan ka Rio, bukan atas desakan
mama.”
Aku ga perlu
lagi Ama, kan sudah ada kamu. Kamu ga ngerti ya, kalau aku ini beneran suka
sama kamu dan serius ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidup. Semoga cincin
itu tetap melingkar di jarimu hingga engkau tahu tentang semua rasaku.
“Ka, halo ?”
“Eh, iya. kalau soal itu ga usah risau. Pilihan mama
pasti baik untuk saya. Jadi doanya semoga kita beneran bisa disatukan dalam
janji suci suatu hari nanti.”
“Ka’ kita kan sudah pernah bahas hal ini ?”
“Iya saya tahu. Dan endingnya kamu mau menerima
cincin itu setelah sholat istikhoroh kan ? Ama, saya memang tidak sholih
seperti teman – teman ikhwanmu di ROHIS. Saya jauhlah kalau dibandingkan sama
Ahmad, Arif, Is...”
“Cukup, kak. Kita kan sudah sepakat untuk fokus pada
kesembuhan mama. Jadi ga usah melebar kemana – mana.”
“Tapi Ama, kamu kan pernah bilang untuk tidak
berpacaran, bahwa kamu hanya akan menerima laki – laki yang serius mengajakmu
menikah. Dan itu yang telah saya lakukan.”
“Iya tapi ga jual nama mama segala kali, ka.. udah
deh, kita tetap pada kesepakatan awal atau kita batalkan saja semuanya.”
“Oh, tidak, jangan Ama ... saya mohon maaf kalau
terlalu memaksa. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,”
‘Sama – sama. Ingat ya, kak perjajian kita. Permainan
selesai jika dalam setahun ke depan tidak ada hal yang mengganggu kesehatan
mama.”
“Oke”
“Assalamu’alaikum”
“Assalamu’alaikum Ama, selamat belajar ya, sukses
buatmu. Salam buat ibu.”
Tuuuuut.
Usai
meletakkan gaganng telepon, Ama segera berlalu menuju kamarya. Di raihnya buku
diari yang setia merekam segala cerita dan keluh kesah diri.
Dear diary,
Aku tuh ga nyangka banget bisa terjebak dalam situasi kaya gini. Benarkah
apa yang sudah aku lakukan ? Aku ga mau membohongi mama, tapi aku juga ga tega
kalau harus menolak permintaannya. Melihat binar di matanya, ah rasanya kejam
sekali kalau aku harus menghadirkan kabut di mata renta itu. Kenapa harus aku ?
Ka Rio, kenapa kamu harus menaruh rasa padaku ? Kenapa kau seberani itu
? Kenapa aku tidak menerima ka Rio, Di ? Tell me why ? Bukankah apa yang ka Rio
lakukan ga ada yang melanggar prinsipku selama ini ya ? Apakah hati ini sudah
terlanjur terisi dan mengharap yang lain ?
Kenapa bukan ka Rio ? Karena dia bukan anak ROHIS ? Bukankah dia sudah
mulai rajin ikut halaqah ? Untuk mengimbangi diriku, begitu katanya. Bahkan terakhir
aku mulai lihat ada jenggot yang mulai tumbuh di dagunya, menggantikan kumis
yang biasanya menghias bibirnya.
Tidakkah hatiku
bisa menerima kesungguhan yang ditunjukkan ka Rio ?
Duhai hati, apakah sudah ada yang mengisi setiap sudutmu ? Kamu tahu,
Di ? Tiba – tiba aku merasa ga enak sama Ahmad. Melihat kebaikan dan
ketulusannya selama ini, aku pernah berjanji untuk menjaga hati ini untuknya,
menutup rapat, tidak mengizinkan siapapun untuk masuk hingga Ahmad siap
menjadikanku sebagai pendampingnya. Apakah karena itu aku ga bisa menerima
kehadiran ka Rio ?
Tapi kenapa
saat Arif menyatakan bahwa usai memantaskan diri, pada saatnya nanti, ia akan
memintaku untuk menjadi pendampingnya, seperti ada bunga bermekaran di taman
hatiku ? Apakah kebersamaanku dengannya mengubah janjiku untuk Ahmad ? Astaghfirullah.
Oh iya kemarin waktu ngobrol di
kelas, Ahmad nanya aku mau pilih kampus mana. Jujur, aku belum punya pilihan. Ibu
tidak mengizinkan aku kuliah di luar Jakarta, jadi terbatas sekali pilihannya. Padahal
rasanya mau juga ngerasain jadi anak kos.
Teman – teman semua
sepertinya sudah punya jurusan yang akan dituju, aku aja yang masih belum
jelas. Entah, rasanya sekarang jadi malas untuk memikirkan kuliah, rasanya
ingin istirahat saja. Berharap setahun cepat berlalu, kondisi mama baik dan
sehat lalu aku bisa meraih kebebasanku lagi, hehehe.
Ah, sudahlah yang penting
berusaha lulus dengan baik dulu. Sudah ada teguran dari wali kelas tentang
nilai beberapa mata pelajaran yang sempat turun. Bersyukur amanah di OSIS
tinggal beberapa pekan lagi. Lepas LPJ dan serah terima plus pelantikan
pengurus baru, selesai sudah semuanya. Selesai ? wah, ga bisa sering – sering ngobrol
sama ketua lagi dong. Aduh, ko tiba – tiba jadi merasa kehilangan.
Astaghfirullah.
Amaaaaaaaa... jaga hati. Istighfar
Ada puisi nih,
simak ya.
SIKSA KARUNIA
Tuhanku,
Dalam
hening malam aku menghadapMU
Sendu,
sunyi sahdu
Tuhanku,
ada rasa terselip dalam dada
Begitu
saja tanpa suara
Rasa
yang menggelora namun membekukan jiwa
Tuhan,
jika rasa ini adalah karunia
Mengapa
lebih terasa sebagai siksa
Atau memang
apa yang terasa
Bukanlah
karunia ?
Dah ya, Di ...
lanjut ngerjain PR. Thanks and see you.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar