Diari Seorang Rahma
‘Ka, ada waktu ga sore ini? Mau
konsul” seraut wajah dengan senyum yang indah bertanya padaku setelah
menempelkan jemari tangan kananku di pipinya.
“Bisa. jam istirahat ya?” jawabku singkat, dibalas
dengan anggukan kepala plus senyum yang masih indah.
Namaku
Rahma. Baru satu semester bergabung di bimbingan belajar yang bernuansa Islam
ini. Selain mengajar di kelas, tugasku juga memberikan layanan konsultasi
kepada siswa, mulai masalah belajar, masalah pribadi sampai masalah keluarga
mereka. Sebagai fresh graduate, tentu saja ini pekerjaan yang sangat menantang.
Sebagai alumni fakultas ilmu
pendidikan, aku hanya perlu waktu sebentar untuk menguasai teknik mengajar di
tempat ini. Namun untuk sesi konsultasi, rasanya aku perlu waktu belajar yang
cukup lama, hehehe. Bayangkan, satu semester mengajar, aku dah dapat banyak
kasus dari siswa di sini. Masalahnya beyond imagination, kadang eh seringkali lebih
drama dari sinetron azab,hahaha. Seperti kasus Leni, siswi kelas 9 yang janjian
konsul sore ini.
“Gimana, Len?” tanyaku setelah menyilakan Leni
duduk.
“Ka’, salah ga sih kalau aku cari tahu tentang jati
diri aku ?”
“Cari tahu tentang jati diri seperti apa yang kamu
maksud?”
“Iya,jadi gini, ka’ Aku kan lahir bulan Juni, nah
ortu aku nikah bulan Februari di tahun yang sama aku lahir. Masa iya aku cuma 4
bulan ada dalam kandungan Mama. Ya kali premature, ka”, wajahnya tampak serius
dan menegang. Lekuk alisnya penuh siaga, tatap matanya menyelidik.
“Kamu dah tanya Mama ?”
Yang ditanya hanya menganggukkan kepala.
“Trus…?”
Leni menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, “ga
ada jawaban, ka’. Ayah, nenek, semua yang aku tanya hanya diam, be te ga sih
ka?”
Aku
condongkan tubuh ke arah Leni dan sedikit berbisik, “Apa jawaban yang kamu
harapkan dari mereka?”
“Aku ingin kejujuran. Mereka menjawab apa adanya. Aku
bukan anak kecil, aku perlu tahu tentang diriku. Ga salah kan, ka’?”
Aku menggelengkan kepala,
“Menurut kamu, jawaban jujur versi mereka itu seperti
apa?”
Leni merapikan posisi duduk, matanya menerawang,
mencoba mencari jawaban di sela eternit. Kristal bening menggenang di dua bola
matanya, dan segera menganak sungai di pipinya dan kian menderas, bahunya mulai
bergoncang.
Pemandangan
ini ke sekian kali aku jumpai. Mengundang perih di cuping hidung dan panas di
kedua mata. Tanpa menunggu waktu ku raih Leni dalam dekapan. “It’s okay, Len.
Menangislah…” bisikku.
“Aku ki..ra. Ja ..wa.. bannya .. ma ..ma em..bi..e ka’ huhuhuuhu”, Leni berusaha
menjawab disela tangisnya.
“a..ku a..nak ha..ram ka….”
Leni terhanyut dalam tangis. Ia
baru bisa mengendalikan diri tepat sesaat sebelum bel tanda istirahat usai
berbunyi.
“Makasih ka’ dah mau dengerin aku. Rasanya lega.”
“iya, sama – sama sayang. Bismillah ya, kakak percaya
kamu tahu bagaimana harus bersikap selanjutnya.”, jawabku seraya mengusap
kepalanya yang terbalut jilbab. Setelah membasuh wajah dan mengeringkannya
dengan beberapa lembar tissue, ia kembali ke kelas. Begitupun dengan aku yang
mesti bergegas masuk kelas selanjutnya.
***
Dear diary, seringkali orang tua
bertindak angkuh. Menyembunyikan kebenaran tanpa alasan yang rasional tentang
apa dan bagaimana kisah anak – anak mereka. Alasannya demi kebaikan dan masa
depan. Kenyataannya, anak – anak malah tersiksa dan terus bertanya tentang diri
mereka sendiri.
Leni, siswi yang cerdas serta baik
menurutku. Beberapa bulan sebelum dia mulai konsul, pernah tertangkap tangan membawa
dan menghisap vape di lokasi bimbingan belajar. Alasannya mengusir suntuk,
ikutan teman.
Di ruang konsul baru aku pahami
apa yang menyebabkan ia sampai melakukan suatu hal yang sama sekali bukan
dirinya. Kecewa pada sikap orang tua yang cenderung menutupi dan menyalahkan
saat ia bertanya tentang kebenaran akan jati dirinya. Pertanyaan – pertanyaan yang
hanya akan dijawab dengan nasehat bahkan ancaman,
“Sudahlah, tugasmu kan belajar, ga usah urusi masa
lalu.”
“Ngapain sih nanya – nanya mulu, apa untungnya buat
kamu?”
“Maksud kamu apa tanya – tanya begitu? Mau nuduh kami
ga bener? Len,kami ini orang tuamu, ga mungkin nyakitin kamu. Kami Cuma ingin
yang tebaik buat kamu, mengertilah…”
Ya, ya, ya, orang tua memang
selalu minta untuk dimengerti tanpa mau mengerti sosok anak di hadapan mereka.
Hey orang tua, yang lebih dewasa itu kalian, bukan kami yang anak – anak.
Seharusnya kalian lebih mampu untuk mengerti, bukan sebaliknya, minta dimengerti!”
Di, moga kelak saat aku jadi orang
tua, aku bisa lebih memahami anak – anakku ya…. (Kejauhan mikirin anak, jodoh
aja belum kelihatan, uhuy,hihihi)
Dear Leni,moga Allah mendamaikan
hatimu dengan kasih dan sayangNya. Big hug ;-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar