Jumat, 01 November 2019

Diari Seorang Rahma

‘Ka, ada waktu ga sore ini? Mau konsul” seraut wajah dengan senyum yang indah bertanya padaku setelah menempelkan jemari tangan kananku di pipinya.
“Bisa. jam istirahat ya?” jawabku singkat, dibalas dengan anggukan kepala plus senyum yang masih indah.
                Namaku Rahma. Baru satu semester bergabung di bimbingan belajar yang bernuansa Islam ini. Selain mengajar di kelas, tugasku juga memberikan layanan konsultasi kepada siswa, mulai masalah belajar, masalah pribadi sampai masalah keluarga mereka. Sebagai fresh graduate, tentu saja ini pekerjaan yang sangat menantang.
Sebagai alumni fakultas ilmu pendidikan, aku hanya perlu waktu sebentar untuk menguasai teknik mengajar di tempat ini. Namun untuk sesi konsultasi, rasanya aku perlu waktu belajar yang cukup lama, hehehe. Bayangkan, satu semester mengajar, aku dah dapat banyak kasus dari siswa di sini. Masalahnya beyond imagination, kadang eh seringkali lebih drama dari sinetron azab,hahaha. Seperti kasus Leni, siswi kelas 9 yang janjian konsul sore ini.
 “Gimana, Len?” tanyaku setelah menyilakan Leni duduk.
“Ka’, salah ga sih kalau aku cari tahu tentang jati diri aku ?”
“Cari tahu tentang jati diri seperti apa yang kamu maksud?”
“Iya,jadi gini, ka’ Aku kan lahir bulan Juni, nah ortu aku nikah bulan Februari di tahun yang sama aku lahir. Masa iya aku cuma 4 bulan ada dalam kandungan Mama. Ya kali premature, ka”, wajahnya tampak serius dan menegang. Lekuk alisnya penuh siaga, tatap matanya menyelidik.
“Kamu dah tanya Mama ?”
Yang ditanya hanya menganggukkan kepala.
“Trus…?”
Leni menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, “ga ada jawaban, ka’. Ayah, nenek, semua yang aku tanya hanya diam, be te ga sih ka?”
                Aku condongkan tubuh ke arah Leni dan sedikit berbisik, “Apa jawaban yang kamu harapkan dari mereka?”
“Aku ingin kejujuran. Mereka menjawab apa adanya. Aku bukan anak kecil, aku perlu tahu tentang diriku. Ga salah kan, ka’?”
Aku menggelengkan kepala,
“Menurut kamu, jawaban jujur versi mereka itu seperti apa?”
Leni merapikan posisi duduk, matanya menerawang, mencoba mencari jawaban di sela eternit. Kristal bening menggenang di dua bola matanya, dan segera menganak sungai di pipinya dan kian menderas, bahunya mulai bergoncang.
                Pemandangan ini ke sekian kali aku jumpai. Mengundang perih di cuping hidung dan panas di kedua mata. Tanpa menunggu waktu ku raih Leni dalam dekapan. “It’s okay, Len. Menangislah…” bisikku.
“Aku ki..ra. Ja ..wa.. bannya .. ma ..ma  em..bi..e ka’ huhuhuuhu”, Leni berusaha menjawab disela tangisnya.
“a..ku a..nak ha..ram ka….”
Leni terhanyut dalam tangis. Ia baru bisa mengendalikan diri tepat sesaat sebelum bel tanda istirahat usai berbunyi.
“Makasih ka’ dah mau dengerin aku. Rasanya lega.”
“iya, sama – sama sayang. Bismillah ya, kakak percaya kamu tahu bagaimana harus bersikap selanjutnya.”, jawabku seraya mengusap kepalanya yang terbalut jilbab. Setelah membasuh wajah dan mengeringkannya dengan beberapa lembar tissue, ia kembali ke kelas. Begitupun dengan aku yang mesti bergegas masuk kelas selanjutnya.

***
Dear diary, seringkali orang tua bertindak angkuh. Menyembunyikan kebenaran tanpa alasan yang rasional tentang apa dan bagaimana kisah anak – anak mereka. Alasannya demi kebaikan dan masa depan. Kenyataannya, anak – anak malah tersiksa dan terus bertanya tentang diri mereka sendiri.
Leni, siswi yang cerdas serta baik menurutku. Beberapa bulan sebelum dia mulai konsul, pernah tertangkap tangan membawa dan menghisap vape di lokasi bimbingan belajar. Alasannya mengusir suntuk, ikutan teman.
Di ruang konsul baru aku pahami apa yang menyebabkan ia sampai melakukan suatu hal yang sama sekali bukan dirinya. Kecewa pada sikap orang tua yang cenderung menutupi dan menyalahkan saat ia bertanya tentang kebenaran akan jati dirinya. Pertanyaan – pertanyaan yang hanya akan dijawab dengan nasehat bahkan ancaman,
“Sudahlah, tugasmu kan belajar, ga usah urusi masa lalu.”
“Ngapain sih nanya – nanya mulu, apa untungnya buat kamu?”
“Maksud kamu apa tanya – tanya begitu? Mau nuduh kami ga bener? Len,kami ini orang tuamu, ga mungkin nyakitin kamu. Kami Cuma ingin yang tebaik buat kamu, mengertilah…”
Ya, ya, ya, orang tua memang selalu minta untuk dimengerti tanpa mau mengerti sosok anak di hadapan mereka. Hey orang tua, yang lebih dewasa itu kalian, bukan kami yang anak – anak. Seharusnya kalian lebih mampu untuk mengerti, bukan sebaliknya, minta dimengerti!”
Di, moga kelak saat aku jadi orang tua, aku bisa lebih memahami anak – anakku ya…. (Kejauhan mikirin anak, jodoh aja belum kelihatan, uhuy,hihihi)

Dear Leni,moga Allah mendamaikan hatimu dengan kasih dan sayangNya. Big hug ;-) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar