Selasa, 28 Juli 2020


Teman Sehati * Best Friend Forever

Halaqah cinta

                Menghadiri agenda mentoring seperti menjadi kewajiban bagi Ama. Ia merasa menemukan oase di padang gersang. Banyak pertanyaan yang selama ini bergelayut dalam hati dan pikirannya serta hanya sebatas mengisi rongga dada, seperti mendapatkan celah untuk disalurkan. Ama yang punya banyak tanya akan selalu bersemangat untuk menghadiri kegiatan ROHIS terutama agenda mentoring.
                Setelah enam bulan mengikuti mentoring, kini para anggota halaqah cinta itu kian saling mengenal satu sama lain. Ada Zulfa, yang tegas dan irit bicara. Sari yang pandai dan cepat menghafal. Octia yang kalem. Eva dan Rahmi yang selalu nempel macam perangko. Erma yang rendah hati. Icha yang ceria. Nunun yang anggun dan sangat perhatian. Pupu yang cantik juga bijak bestari. Haryani yang imut dan menggemaskan. Rini yang  gaul. Ada Ita yang kaleeeeeeeem bagai putri keraton juga Yuyun yang selembut kapas. Ada Euis yang supeer duper cuek, juga Deni yang manja. Dan tentu saja ada Ama yang penuh rasa ingin tahu. Karakter yang lengkap dan sukses memebuat mba Erna sang pembina sering merasa pusing tujuh keliling dengan tingkah mereka.
                Keakraban terasa kian bertambah saat mereka berepakat untuk melangsungkan halaqah cinta dari rumah ke rumah secara bergilir. Dengan begitu, mereka bisa saling mengenal keluarga masing – masing. Seperti saat ini, halaqah akan berlangsung di rumah mba Erna di Rawamangun, di bilangan Timur kota Jakarta. Satu per satu peserta berdatangan. Hampir semua peserta hadir tepat waktu, mengingat ada konsekuensi bagi yang datang terlambat. Kali itu, Ama datang 5 menit sebelum acara dimulai. Tepat jam 10 pembawa acara mulai membuka acara dan membacakan rangkaian kegiatan. Dilanjutkan dengan tilawah secara bergantian, lalu kultum dan menyetorkan hafalan Qur’an atau hafalan hadits bagi yang sedang berhalangan. Setelah semua rangkaian acara dilalui, tibalah waktu mba Erna untuk menyampaikan taujih.
...
Ba’da tahmid dan sholawat.
“Masih ada tiga orang yang belum hadir ya ?” tanya mba Erna
“Iya, mba. Eva, Rahmi dan Euis yang belum hadir.” Nunun sang sekretaris halaqah menjawab dengan lugas.
“Ada kabar dari mereka, Nun ?” Mba Erna melanjutkan tanya. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Nunun.
“Yang lain apa ada yang tahu kabar yang belum hadir ?”
Hening. Beberapa yang hadir tampak saling berpandangan. Sepertinya tidak ada seorangpun yang mengetahui kabar teman – teman mereka yang belum hadir.
“Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan saja ya. Hari ini materinya tentang adab berpakaian untuk muslimah.”
                Mendengar judul materi yang akan disampaikan Mba Erna, di kepala Ama hadir bayangan dirinya yang belum menutup aurat dengan sempurna. Ia masih menghadiri halaqah dengan kemeja panjang yang dipadukan dengan celana kulot panjang. Sementara untuk penutup kepala ia hanya mengenakan selembar kerudung yang hanya dipakai saat halaqah, dan dibuka kembali saat perjalanan menuju rumahnya. Di kelompok itu, semua peserta sudah mengenakan jilbab lebar. Deni, Eva dan Rahmi yang jilbabnya masih pendek. Sementara Ama, sama sekali belum berjilbab. Ia masih membiarkan rambutnya terbuka, bahkan ia juga masih mengikuti kelas renang di sekolah. Astaghfirullah Ama ... hayu atuh taubat.
                Usai menyampaikan taujih, Mba Erna mengembalikan acara kepada MC untuk memandu tanya jawab. Biasanya Ama menjadi yang pertama bertanya, tapi kali ini ia hanya merunduk. Membayangkan betapa bahagianya jika ia bisa mengikuti jejak teman - teman halaqahnya untuk menutup aurat dengan sempurna. Ia berusaha melera kerinduannya untuk bisa memakai jilbab.
“Ma, ga nanya?”, ujar Pupu seraya mendaratkan sikunya di lenngan Ama.
Yang ditanya hanya menggeleng tak bersemangat.
“Tumben ?” tanya Sari.
Dijawab dengan senyuman oleh Ama.
“Ama...”
“Iya, mba ...”
“Jadi kapan nih rencananya mau mulai berjilbab?”
“Insya Allah secepatnya, mba. Ini masih nabung  buat beli seragam, jilbab dan pernak – pernik lainnya. Doain ya semoga bisa narik arisan, hehehe,”
 “Kalau kamu mau pakai secepatnya, pekan depan juga bisa, Ma. Kan kami bisa bantuin kamu menyiapkan segala sesuatunya ?”, Zulfa berkomentar.
“Eh iya sih, tapi terima kasih. Aku ingin melakukannya sendiri, supaya lebih berasa perjuangannya. Bukannya menolak rezeki, tapi aku ga biasa meminta bantuan.” Jawab Ama.
“Ya, biasain lah. Kita kan keluarga, sudah sewajarnya saling membantu, ya, kan teman – teman ?” Yuyun menimpali.
“Iyaaaa” jawab mereka kompak.
“Terima kasih teman – teman. Tapi aku berharap kalian bisa memahami keinginanku. Doa – doa yang kalian panjatkan saja sudah cukup buatku. Insya Allah, paling lama saat kenaikan kelas nanti aku akan mulai berjilbab. Doain yaaaa....”
“Aamiin. Insya Allah...” serempak semua mengaminkan.
                “Assalamu’alaikum ...” terdengar suara Euis beberapa saat sebelum MC mengakhiri acara. Tanpa ragu Euis memasuki ruangan setelah dipersilakan tentunya. Sambl senyam senyum ia duduk di tempat yang sudah disediakan.
“Mmmmmh, maaf ya Mba Erna, teman – teman ... Is telat, tadi ketiduran.” Ucapnya seraya menutupi wajah dengan ujung jilbab yang ia kenakan. Tingkahnya membuat emua yang hadir tersenyum penuh kegemasan.
“Bangun tidur ya, Is. Itu loh jilbabnya sampe kebalik gitu ...”
Grrrrrrr. Suasana halaqah mendadak ramai, menahan tawa melihat tingkah seorang saudari yang baru saja hadir.
“Sudah sudah sudah ... mari kita akhri dengan istighfar, hamdalah, doa robithoh dan kafaratul majlis. Sekian wasalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barakatuh.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar