Teman
Sehati * Best Friend Forever
Halaqah cinta
Menghadiri
agenda mentoring seperti menjadi kewajiban bagi Ama. Ia merasa menemukan oase
di padang gersang. Banyak pertanyaan yang selama ini bergelayut dalam hati dan
pikirannya serta hanya sebatas mengisi rongga dada, seperti mendapatkan celah
untuk disalurkan. Ama yang punya banyak tanya akan selalu bersemangat untuk
menghadiri kegiatan ROHIS terutama agenda mentoring.
Setelah
enam bulan mengikuti mentoring, kini para anggota halaqah cinta itu kian saling
mengenal satu sama lain. Ada Zulfa, yang tegas dan irit bicara. Sari yang
pandai dan cepat menghafal. Octia yang kalem. Eva dan Rahmi yang selalu nempel
macam perangko. Erma yang rendah hati. Icha yang ceria. Nunun yang anggun dan
sangat perhatian. Pupu yang cantik juga bijak bestari. Haryani yang imut dan
menggemaskan. Rini yang gaul. Ada Ita
yang kaleeeeeeeem bagai putri keraton juga Yuyun yang selembut kapas. Ada Euis
yang supeer duper cuek, juga Deni yang manja. Dan tentu saja ada Ama yang penuh
rasa ingin tahu. Karakter yang lengkap dan sukses memebuat mba Erna sang
pembina sering merasa pusing tujuh keliling dengan tingkah mereka.
Keakraban
terasa kian bertambah saat mereka berepakat untuk melangsungkan halaqah cinta
dari rumah ke rumah secara bergilir. Dengan begitu, mereka bisa saling mengenal
keluarga masing – masing. Seperti saat ini, halaqah akan berlangsung di rumah
mba Erna di Rawamangun, di bilangan Timur kota Jakarta. Satu per satu peserta
berdatangan. Hampir semua peserta hadir tepat waktu, mengingat ada konsekuensi
bagi yang datang terlambat. Kali itu, Ama datang 5 menit sebelum acara dimulai.
Tepat jam 10 pembawa acara mulai membuka acara dan membacakan rangkaian kegiatan.
Dilanjutkan dengan tilawah secara bergantian, lalu kultum dan menyetorkan
hafalan Qur’an atau hafalan hadits bagi yang sedang berhalangan. Setelah semua
rangkaian acara dilalui, tibalah waktu mba Erna untuk menyampaikan taujih.
...
Ba’da tahmid dan sholawat.
“Masih ada tiga orang yang belum hadir ya ?” tanya
mba Erna
“Iya, mba. Eva, Rahmi dan Euis yang belum hadir.”
Nunun sang sekretaris halaqah menjawab dengan lugas.
“Ada kabar dari mereka, Nun ?” Mba Erna melanjutkan
tanya. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Nunun.
“Yang lain apa ada yang tahu kabar yang belum hadir ?”
Hening. Beberapa yang hadir tampak saling
berpandangan. Sepertinya tidak ada seorangpun yang mengetahui kabar teman – teman
mereka yang belum hadir.
“Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan saja ya. Hari
ini materinya tentang adab berpakaian untuk muslimah.”
Mendengar
judul materi yang akan disampaikan Mba Erna, di kepala Ama hadir bayangan
dirinya yang belum menutup aurat dengan sempurna. Ia masih menghadiri halaqah
dengan kemeja panjang yang dipadukan dengan celana kulot panjang. Sementara
untuk penutup kepala ia hanya mengenakan selembar kerudung yang hanya dipakai
saat halaqah, dan dibuka kembali saat perjalanan menuju rumahnya. Di kelompok
itu, semua peserta sudah mengenakan jilbab lebar. Deni, Eva dan Rahmi yang
jilbabnya masih pendek. Sementara Ama, sama sekali belum berjilbab. Ia masih membiarkan
rambutnya terbuka, bahkan ia juga masih mengikuti kelas renang di sekolah.
Astaghfirullah Ama ... hayu atuh taubat.
Usai menyampaikan taujih, Mba
Erna mengembalikan acara kepada MC untuk memandu tanya jawab. Biasanya Ama
menjadi yang pertama bertanya, tapi kali ini ia hanya merunduk. Membayangkan
betapa bahagianya jika ia bisa mengikuti jejak teman - teman halaqahnya untuk
menutup aurat dengan sempurna. Ia berusaha melera kerinduannya untuk bisa
memakai jilbab.
“Ma, ga nanya?”, ujar Pupu seraya mendaratkan sikunya
di lenngan Ama.
Yang ditanya hanya menggeleng tak bersemangat.
“Tumben ?” tanya Sari.
Dijawab dengan senyuman oleh Ama.
“Ama...”
“Iya, mba ...”
“Jadi kapan nih rencananya mau mulai berjilbab?”
“Insya Allah secepatnya, mba. Ini masih nabung buat beli seragam, jilbab dan pernak – pernik
lainnya. Doain ya semoga bisa narik arisan, hehehe,”
“Kalau kamu
mau pakai secepatnya, pekan depan juga bisa, Ma. Kan kami bisa bantuin kamu
menyiapkan segala sesuatunya ?”, Zulfa berkomentar.
“Eh iya sih, tapi terima kasih. Aku ingin
melakukannya sendiri, supaya lebih berasa perjuangannya. Bukannya menolak
rezeki, tapi aku ga biasa meminta bantuan.” Jawab Ama.
“Ya, biasain lah. Kita kan keluarga, sudah sewajarnya
saling membantu, ya, kan teman – teman ?” Yuyun menimpali.
“Iyaaaa” jawab mereka kompak.
“Terima kasih teman – teman. Tapi aku berharap kalian
bisa memahami keinginanku. Doa – doa yang kalian panjatkan saja sudah cukup buatku.
Insya Allah, paling lama saat kenaikan kelas nanti aku akan mulai berjilbab.
Doain yaaaa....”
“Aamiin. Insya Allah...” serempak semua mengaminkan.
“Assalamu’alaikum
...” terdengar suara Euis beberapa saat sebelum MC mengakhiri acara. Tanpa ragu
Euis memasuki ruangan setelah dipersilakan tentunya. Sambl senyam senyum ia
duduk di tempat yang sudah disediakan.
“Mmmmmh, maaf ya Mba Erna, teman – teman ... Is telat,
tadi ketiduran.” Ucapnya seraya menutupi wajah dengan ujung jilbab yang ia
kenakan. Tingkahnya membuat emua yang hadir tersenyum penuh kegemasan.
“Bangun tidur ya, Is. Itu loh jilbabnya sampe kebalik
gitu ...”
Grrrrrrr. Suasana halaqah mendadak ramai, menahan
tawa melihat tingkah seorang saudari yang baru saja hadir.
“Sudah sudah sudah ... mari kita akhri dengan
istighfar, hamdalah, doa robithoh dan kafaratul majlis. Sekian wasalamu ‘alaikum
warohmatullohi wa barakatuh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar