*Catatan
perjalanan 5
Cinta. Siapa yang ga
kenal dengan kata yang satu ini. Aku, kamu, dia, mereka, kita semua pasti punya
cerita tentang cinta, meski tidak selalu mirip dengan cerita cintanya Kahitna
(eh :-D).
Seperti kebanyakan anak
SD di jamanku, udah lazim saling menggoda dengan nama orang tua juga nama orang
yang katanya suka sama kita. Trus aku ? Mengalami juga masa itu, hanya saja
dengan perasaan yang flat semua biasa aja, ga penting juga untuk dijadikan
fokus hehehe.
Pernah ada satu momen
saat SMP, sahabatku yang sangat peduli mencoba menunjukkan perhatiannya dengan
mengajakku untuk melakukan hal yang biasa dikalangan remaja saat itu : pacaran.
Alih – alih berterima kasih, aku malah meradang karena merasa dijebak dalam
situasi harus berpasangan, situasi yang sangat tidak membuatku nyaman. Ku
tinggalkan “pesta” dengan geram seraya menegaskan pada sahabatku bahwa jangan
pernah mencoba hal seperti ini lagi. Dia paham, aku mencoba memahami maksud
baiknya, dan kami masih bersahabat sampai sekarang.
Ga ngerti juga kenapa
cinta mesti dinyatakan dalam bentuk berpacaran. Aku yang saat itu masih belum
tahu apa -apa tentang adab bergaul dalam Islam, hanya merasa bahwa ga ada
kaitan antara cinta dengan keharusan berpacaran. Terlebih lagi saat
memerhatikan aktivitas orang pacaran yang menurutku sia - sia, buang waktu.
Mending waktunya dipake buat mengulang pelajaran yang belum dipahami,
merangkum, baca buku cerita, nonton TV, leyeh – leyeh di kamar, dst
Saat SMA, yang katanya
penuh romansa bercinta dan takkan hilang begitu saja, ahhahahaha, juga datar
saja ku lalui. Apalagi saat itu aku mulai ikut kajian di ROHIS yang membahas
tentang adab bergaul dengan lawan jenis. Makin jauhlah rumus bercinta dan
pacaran dalam kamus hidupku. Di akhir kelas 3 SMA, ada seseorang dari masa lalu
yang datang untuk memulai jalinan katanya, uhuy. Langsung saja aku sampaikan
bahwa aku menganut manajemen cinta, cinta pertama dan utamakku adalah Allah,
lalu Rasulullah, setelah itu baru manusia seperti orang tua, keluarga, dll.
Karena jalinan yang kamu tawarkan tidak direstui Allah dan RasulNya, maka mohon
maaf aku tidak bisa.
Masa SMA itu disibukkan
dengan belajar tentunya dan juga berorganisasi. Nyaman, bisa berteman dengan
siapa saja baik laki atau perempuan, tanpa ada yang melarang dan mengawasi karena
cemburu (hahahaha, cerita teman – teman yang berpacaran dan dibatasi oleh
pacarnya).
#aJourneyToFourty
Tidak ada komentar:
Posting Komentar