Sabtu, 29 Februari 2020

*Catatan perjalanan 5

Cinta. Siapa yang ga kenal dengan kata yang satu ini. Aku, kamu, dia, mereka, kita semua pasti punya cerita tentang cinta, meski tidak selalu mirip dengan cerita cintanya Kahitna (eh :-D).

Seperti kebanyakan anak SD di jamanku, udah lazim saling menggoda dengan nama orang tua juga nama orang yang katanya suka sama kita. Trus aku ? Mengalami juga masa itu, hanya saja dengan perasaan yang flat semua biasa aja, ga penting juga untuk dijadikan fokus hehehe.

Pernah ada satu momen saat SMP, sahabatku yang sangat peduli mencoba menunjukkan perhatiannya dengan mengajakku untuk melakukan hal yang biasa dikalangan remaja saat itu : pacaran. Alih – alih berterima kasih, aku malah meradang karena merasa dijebak dalam situasi harus berpasangan, situasi yang sangat tidak membuatku nyaman. Ku tinggalkan “pesta” dengan geram seraya menegaskan pada sahabatku bahwa jangan pernah mencoba hal seperti ini lagi. Dia paham, aku mencoba memahami maksud baiknya, dan kami masih bersahabat sampai sekarang.

Ga ngerti juga kenapa cinta mesti dinyatakan dalam bentuk berpacaran. Aku yang saat itu masih belum tahu apa -apa tentang adab bergaul dalam Islam, hanya merasa bahwa ga ada kaitan antara cinta dengan keharusan berpacaran. Terlebih lagi saat memerhatikan aktivitas orang pacaran yang menurutku sia - sia, buang waktu. Mending waktunya dipake buat mengulang pelajaran yang belum dipahami, merangkum, baca buku cerita, nonton TV, leyeh – leyeh di kamar, dst

Saat SMA, yang katanya penuh romansa bercinta dan takkan hilang begitu saja, ahhahahaha, juga datar saja ku lalui. Apalagi saat itu aku mulai ikut kajian di ROHIS yang membahas tentang adab bergaul dengan lawan jenis. Makin jauhlah rumus bercinta dan pacaran dalam kamus hidupku. Di akhir kelas 3 SMA, ada seseorang dari masa lalu yang datang untuk memulai jalinan katanya, uhuy. Langsung saja aku sampaikan bahwa aku menganut manajemen cinta, cinta pertama dan utamakku adalah Allah, lalu Rasulullah, setelah itu baru manusia seperti orang tua, keluarga, dll. Karena jalinan yang kamu tawarkan tidak direstui Allah dan RasulNya, maka mohon maaf aku tidak bisa.

Masa SMA itu disibukkan dengan belajar tentunya dan juga berorganisasi. Nyaman, bisa berteman dengan siapa saja baik laki atau perempuan, tanpa ada yang melarang dan mengawasi karena cemburu (hahahaha, cerita teman – teman yang berpacaran dan dibatasi oleh pacarnya).


#aJourneyToFourty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar